Monday, December 6, 2021

List to Read, December - Week 1

 Yeay!!!

I'ts almost a week since I got the premium access of Gramedia Digital. I've downloaded many books, put it in my wish list. So far, I've read 4 and half books. I considered my self as "good enough" lah ya... Kekekeke

Beberapa buku worth to read tapi kurang worth to buy, jadi rejeki banget bisa membaca di platform ini. Thank you Gramedia Digital! Semoga beberapa minggu ke depan, rencana menyedot dan membaca buku-bukumu, lancar sesuai rencana. Aamiin :-)

Ada yang punya rekomendasi buku untuk di baca? Siapa tahu ada di Gramedia Digital, yekaaan... hehehe



Wednesday, December 1, 2021

Selalu Ada Untung, Jika Kita Menikmati Prosesnya

  Seperti judul tulisan ini, selalu ada untungnya jika kita menikmati proses dengan baik. Tentang apa ini?

Jadi begini... 

Pertengahan tahun ini, Gramedia membuka kembali kompetisi menulisnya yang biasa di kenal dengan GWP. Dan seperti biasa, saya ikut. Menantang diri sendiri untuk menyelesaikan satu buku, memiliki satu lagi cerita yang ada kata TAMAT nya. Itu saja tujuannya. 

Singkat kata, saya memilih satu dari beberapa draft yang berasal dari kucuran ide entah kapan itu. Saat itu, masih sekitar 100ribuan kata (Whattt???). Jangan panik. Itu bentuknya dialog semua. Saya pun bingung mau bagaimana dengan naskah itu. 

Pelan-pelan akhirnya saya bongkar ulang naskah, mencoba memasukkan unsur Save The Cat yang selama ini banyak saya pelajari dari Jessica Brody, Mbak Jia, dan dari artikel-artikel di internet. Susah sekali rasanya. Saya belum terbiasa. 

Cerita ini judulnya "[Bukan] Cinta Monyet" dengan tanda kurung. Receh sekali. Cerita cinta anak SMA. Terinspirasi pertama kali saat saya mengantar jemput anak saya yang masih SD. Saat menunggu dia keluar dari kelasnya, biasanya saya duduk di pinggir lapangan basket. Di situlah ide lewat saya tangkap. 

Singkatnya lagi, setelah melibatkan teman Eka dan juga konsultasi tema dengan Mbak Jia, dari ratusan ribu kata itu, hanya tersisa 35ribuan kata. Sehingga minggu-minggu terakhir sebelum penutupan, saya berjibaku mencari tambahan 6ribuan kata yang akhirnya saya selipkan di sini dan di sana. Banyak maksa, tapi ya nggak papa ya. Monmaklum. Dan saat hari penutupan kompetisi, saya berhasil mengikutkan satu cerita yang tamat. Alhamdulillah. 

Dan seperti juga tahun lalu, tidak ada harapan untuk bisa memenangi kompetisi. Yang ada hanya senang bisa benar-benar tamat ceritanya. Sudah cukup yekaaan :-p

*

Kali ini cerita saya tentang novel karya Ilana Tan. 

Entah dari tahun berapa, saya mulai mengikuti novel-novel Ilana Tan. Berawal dari Mbak Elmi yang mengenalkan saya dengan satu ceritanya (saya lupa yang mana), saya baca, dan akhirnya saya mengorek semua novel karangannya. Tetralogi 4 musim nya membuat saya semakin suka, begitupun dengan kisah lainnya. Cerita ringan, setting yang selalu apik, dan plot twist yang tidak terlalu berat tapi ciamik, membuat saya pencinta drama cinta-cintaan semakin suka. 

Namun, meskipun saya sangat menyukai novel Ilana Tan, saya tidak punya keinginan menonton film nya. Buat saya, cerita seperti novel Ilana Tan, indah untuk dibaca dan diciptakan didunia khayal sendiri. Saya tidak ingin menonton film nya, khawatir kehidupan fiksi di kepala saya ambyar jika ceritanya tidak sesuai yang saya harapkan. 

Ini sudah terjadi pada buku All the boys I love before. Saya sangat menyukai cerita di bukunya, tetapi merasa wakwaw dengan filmnya. Ambyarrr. 

Bulan lalu, saya iseng memasukkan nama Ilana Tan di kotak pencarian aplikasi Ipusnas. Jreng! Rupanya semua buku Ilana Tan ada disitu. Saya senang sekali. Saya sudah pernah membaca yang Blue Moon dan The Sunshine Become You. Tetapi akhirnya saya membaca ulang mereka, setelah berdesakan dan berebutan dengan para pengantri lainnya di Ipusnas. Nah, tinggal satu buku yang saya belum berhasil dapatkan di Ipusnas, yaitu The Star and I. Ngantrinya semakin lama semakin banyak, tetapi tidak juga saya mendapat giliran. Emeshhh...

*

Nah, di sinilah benang merah antara GWP dan The Star & I... 

Sebuah pesan WA dari teman (aka Andien) saya baca pagi ini. Dia menanyakan perihal email dari Gramedia. Bunyi emailnya adalah memberitahu bahwa mereka memberikan reward akses premium ke platform Gramedia Digital mereka selama 1 bulan. Sebagai hadiah telah menyelesaikan karya sesuai tenggat waktu kompetisi GWP. Wadidaw!

Tak sabar saya pun langsung mencek email saya, dan rupanya sayapun mendapatkan email yang sama. Segera saya ikuti langkah yang mereka tunjukkan untuk mengaktivkan voucher nya. Saya belum tahu mau membaca apa dari Gramedia Digital. Namun, salah satu langkah untuk bisa mengaktifkan voucher adalah dengan memilih buku yang ingin di baca. Ya sudah, saya iseng cari The Star & I saja. Siapa tahu ada. Daaaaan, adaaaa!!!

Begitulah... 

Akhirnya keikutsertaan saya di GWP 2021, membuahkan hasil yang menggembirakan. Memotong rantai antrian saya di Ipusnas untuk bisa segera membaca buku The Star & I. 

Terima kasih GWP! 

Semoga setiap kompetisi dimulai, saya bisa ikut serta balapan mengejar tamat bersama dengan peserta-peserta lainnya. 

Oh iya, sekedar sharing update. Naskah yang saya ikutkan kompetisi GWP, akhirnya dengan (ke) pede (an) saya kirim ke Mbak Jia untuk di review. Dan feedback nya membuat jantung saya berdebar kencang seperti saat bertemu pacar. Bunyinya "... Sebetulnya, sejak halaman 30an sudah pengen tak tinggalin rasanya... " Hahahaha. Namun, banyak sekali masukan Mbak Jia yang menjadi PR untuk saya memperbaiki naskah ini. Will do... Soon!!! 

Sekian.

Tuesday, November 23, 2021

Baik, Saya Akan Mulai Yoga Lagi

Ada saat di mana pikiran, perasaan, dan juga anggota badan merasa lelah satu sama lain. Benarkah? 

Memang jika dilihat lagi, selalu ada masa seperti itu untuk saya. Khususnya setelah selesai masa haid. Jika orang sering mengatakan bahwa mereka PMS menjelang haid, maka saya sebaliknya. PMS saya adalah Post. Setelah selesai haid, saya baru mulai PMS. 

Di saat PMS, seperti yang saya bilang. Seolah pikiran, perasaan, dan anggota badan saling merasa lelah satu sama lain. Bagaimana caranya agar mereka bisa saling beristirahat dan mendapatkan hak sehat mereka sendiri-sendiri? Entahlah...

Mungkin seharusnya saya melakukan yoga kembali. Saat yoga, bukankah kita akan mendapatkan ketiganya kembali sehat? 

Yoga membuat kita mengistirahatkan pikiran yang hobinya jalan-jalan jauh. Mereka akan kita tarik dan paksa kembali untuk fokus pada nafas saja. Tentunya sudah bukan hal baru juga dengan peluh mengucur setelah yoga bukan? Di situ artinya anggota badan kita bekerja, direntangkan dan dilemaskan hingga kemudian bisa di istirahatkan dengan sempurna. Saat pikiran dan anggota badan dapat dikondisikan, maka tentunya perasaan akan mengikuti? Mustinya begitu...

Baik, saya akan mulai yoga... Besok... :-)

Monday, November 22, 2021

It Is Not That Easy

You might say that I am lebay... Maybe I am... 

Tapi gimana donk. Tidak bisa serta merta begitu saja terjadi. 

Jadi ceritanya, minggu lalu dari sekolah K untuk mata pelajaran agama, semua murid di minta melakukan satu hal yang intinya berbagi dan memberi bagi yang membutuhkan. Orang tua diminta mengambil foto dan mengunggahnya di Google Classroom. That's it! Simple kan? 

Nah, untuk hal simpel itu, rupanya tidak serta merta menjadi simpel untuk saya. Saat membaca tugas di google classroom, saya sudah bisa membayangkan bahwa saya akan membelikan K makanan atau gorengan untuk Pak Satpam komplek, atau para petugas kebersihan di komplek. Sekali jepret, upload, selesai. Batas waktunya satu minggu. Ah, sehari juga cukup kalau cuma gitu aja sih. Batin saya waktu itu. 

A week passed by... 

Rupanya tugas belum juga terkerjakan. Tadi pagi, saat ada acara google meet dengan guru mata pelajaran, K bilang pada saya: 

"Bunda, cuma aku yang belum ngumpulin tugas agama. Tapi Bu Martha nice, aku di beri second chance untuk mengerjakan, tapi harus segera" katanya. Saya hanya tersenyum tipis mengiyakan.  

Apakah saya malas? Atau saya berlindung pada banyaknya pekerjaan seperti yang selama ini saya lakukan? Tidak. Kali ini bukan seperti itu. Ada alasan lain yang membuat saya menunda tugas ini. 

Sedari minggu lalu, hampir setiap hari saya membeli makanan atau cemilan tambahan. Dengan niat untuk diberikan kepada orang, sekaligus untuk mengerjakan tugas K. Tapi, saat mendekati target (orang yang akan kami beri_red), mendadak bibir saya kelu. Tidak mampu mengatakan "maaf saya foto dulu ya, untuk tugas sekolah". Jadi, makanannya saya berikan begitu saja. Keesokan harinya juga begitu, dan seterusnya. 

Entah kenapa nyali saya ciut sekali. Saya merasa tidak mampu mengalahkan rasa tidak enak hati saya. Bahkan hanya untuk tugas sekolah sekalipun. :-(

Beberapa waktu lalu, saat sedang di atas motor menuju tempat les nya K, saya berbicara mengenai tugas ini padanya. Kira-kira begini: 

B(unda) : Mbak, kamu tahu nggak kenapa tugas agama kamu belum bunda kumpulkan?

K : Kenapa?

B : I doesn't feels right aja gitu. Bunda nggak bisa bilang minta foto setelah ngasih sesuatu ke orang. Do you get that?

K : Ya, short of. It feels weird memang ya. 

B : You know why?

K : Ya kan kalau kita mau give things to others, we just give it. Kalau pakai foto-foto itu jadi weird kan?

B : Exactly... Karena kan sebetulnya kalau kita mau give things to people, ya you give aja. Bahkan katanya kan if you give by your right hand, don't let your left hand know.

K : So now you understand my feelings when you ask me untuk mengerjakan tugas kan? (hahaha, totally melenceng from the subject). 

B : What do you think I should do?

K : I don't know... Tell Bu Martha maybe?

B : Tapi nanti kita kayak chicken out gitu nggak? 

K : Hahahahhaa... That's sounds funny

B : Besok kita coba lagi sama Bi Enih aja yuk. Kan kalau sama Bi Enih kita bisa sambil bercanda gitu kan? 

K : Iya bisa. That's good idea...

OK. Deal. Besok kami akan coba dengan Bi Enih. Kalau masih tidak juga bisa keluar dari mulut ini permintaan untuk foto, K saya titip aja ke Bu Tedjo. Biar ngerjain tugas sama beliau. hahahaha


I know it should be simple... 

Just say "This is for school assignment". 

Everyone would understand. 

But still... 

It's hard to do... 

My mouth simply can not be opened to say so...

Monday, November 15, 2021

The Hate You Plant

Hanya soal rasa... 

Hanya soal rasa... 

Hanya soal rasa...


Setelah mengendap, akan menghilang

Setelah menguap, akan melayang


Telan

Telan

Telan


Tak akan ada yang berubah

Hanya hatimu yang akan berubah

Dari peduli, menjadi blah


Kamu tidak sendiri, 

Walaupun tidak ada siapapun di sampingmu

Ada Dia di atas sana, 

Di hati... 

Wednesday, October 27, 2021

Airo Menyusul FeetThree ke Surga


Petang hari ini, suasana duka menyelimuti diri Mbak K...


Berawal dari sebuah unggahan di WAG komplek, yang mengumumkan berita kucing tertabrak mobil. Disertai dengan foto kucing tergeletak dengan darah menggenang di bawah kepalanya, dan seekor kucing lain terlihat menunggui disampingnya. Terbayang rasanya menjadi si kucing coklat. Melihat saudaranya mati tertabrak di depan mata kepalanya sendiri.

Saya seperti sering melihat kucing itu berkeliaran. Saya tanyakan kepada Mbak K, "Mbak, kamu tahu ini kucing siapa?"

Dengan terkejut dia setengah berteriak, "Itu Airo!!!"

Dia menjelaskan pada saya bahwa kucing yang meninggal namanya Airo. Yang menunggui di dekat kucing mati namanya Aiko, saudaranya. Mereka masih memiliki satu saudara lagi bernama Aiki. Sebetulnya ada satu lagi saudara tertua mereka yang sudah meninggal terlebih dahulu, namanya Kitty. Tetapi Mbak k tidak sempet mengenalnya, karena saat mereka lahir, kami masih di Bali. Dan semua kucing-kucing itu adalah milik temannya, Kirana.

Setelah menjelaskan silsilah keluarga Airo, Mbak K mulai terlihat digelayuti duka. Wajahnya mulai murung, bibir tipisnya tertarik ke bawah. Dan tak lama kemudian, dua bola air bening menetes di ke dua pipinya. Sudah saya duga...

Segera saya peluk tubuh mungilnya, namun suara tangisnya semakin keras dan meraung. Dia sedih untuk kematian kucing temannya. Kesedihan yang teramat pilu, dari seorang anak berhati sensitif (seperti emaknya).

Sabar ya Mbak K...

Turut berduka cita untuk berpulangnya Airo. Airo pergi menyusul FeetThree, menemani Ibuk di surga...

God bless your heart, my little sweetpie... 

Wednesday, October 20, 2021

Ketika Hati Memilih Menjadi Peduli


Sudah 2 tahun rupanya... 2 tahun lalu, bertemu dengan 2 orang baik hati yang bahkan nama pun tak sempat kita saling tahu... I just knew they're living in Pisa. Their big heart and thoughtful, kept me warm all the way Europe to home, till now... Wish you both well!!! T H A N K Y O U!!! #JacketRescuer 🥰🥰🥰


***

Mungkin bagi beberapa orang, ini terasa lebay. Hanya karena bertemu irang yang mengembalikan jaket saja, sampai harus dikoar-koar, digembar-gembor, atau dibuat status dan postingan...

Benar. Saya memang lebay, dan senang melebay-lebaykan kisah ini.

Karena, di jaman di mana orang semakin apatis, anti sosial, acuh, dan sedikit peduli dengan orang lain, ternyata masih ada mereka. Yang dengan hatinya, bersusah payah menanyakan pada awak pesawat daerah tujuan saya, bersabar mencari dan menunggu saya selama lebih dari satu jam di gate saya (saat saya di pintu lain sedang berburu waktu bersama awak darat airlines saya), dan tersenyum lebar saat akhirnya saya berjalan lunglai mendekat.

Saya akan selalu mengingat momen itu, semoga selamanya.

Dari mereka, saya yang terkadang mulai menumpul nuraninya, berusaha mencoba untuk mengasah lagi nurani itu, sedikit demi sedikit. Di saat saya merasa ragu untuk berbuat sesuatu untuk orang lain di tempat asing ataupun tidak asing, untuk orang asing maupun orang yang saya kenal, maka saya mengingat mereka. Dua orang anak muda yang sangat asing, yang bahkan keberadaannya di samping saya selama penerbangan, saya acuhkan karena mata saya memilih lengket dan terpejam, yang tersenyum lega karena berhasil menemukan saya. Sehingga saya memilih untuk melakukan sesuatu juga...

Belakangan saya membaca sebuah artikel mengenai seorang perempuan, di perkosa di gerbong kereta. Sedih sekali membaca beritanya. Dan yang lebih menyedihkan adalah karena dia tidak sendirian saat perbuatan keji itu dilakukan padanya. Ada beberapa orang lain yang berada di gerbong yang sama, mengetahui bahwa dia sedang di perkosa, tetapi memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Hati saya menangis membaca artikel-artikel itu. Dan kembali, ingatan saya melayang kepada dua orang baik hati dari Pisa. Bersyukur saya pernah di pertemukan dengan mereka.

Bagaimana bisa mereka yang berada di gerbong yang sama, mengacuhkan orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan? Mungkin mereka memiliki alasan dan pertimbangan sendiri. Namun, tetap tidak habis pikir bagaimana itu bisa terjadi.

Saya selalu berfikir, jika saja saat itu dua orang baik itu memilih untuk acuh saat melihat jaket saya tertinggal, sangat wajar. Atau jika mereka memilih mengambil jaket saya, dan memberikan kepada awak pesawat, bisa juga dan itupun sudah membuat mereka menjadi orang baik. Atau bahkan jika mereka memilih menjadi orang jahat, mengambil jaket saya dan membawanya pulang karena di tempat mereka tinggal, udara juga sangat dingin? Sangat bisa.

Tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Mereka memilih untuk menggunakan nuraninya, membawa jaket saya, mencari arah tujuan saya, menunggu saya sekian lama, dan dengan senyum penuh kelegaan menyerahkan jaket saya. Jaket yang memang sangat saya butuhkan untuk melanjutkan perjalanan panjang saya. Karena hati mereka tergerak, maka saya bisa merasa hangat sepanjang perjalanan. Dan karena hati mereka tergerak, saya terhindar dari amukan massa si pemilik jaket (baca: salmul). Karena mereka...

Dunia membutuhkan lebih banyak orang-orang seperti mereka. Orang yang lebih memilih untuk menjadi baik. Orang yang dengan tulus hati memikirkan orang lain. Orang yang may bersusah karena mereka tahu jika mereka acuh, akan ada yang lebih susah lagi hidupnya. Dunia membutuhkan orang baik seperti mereka, lebih banyak lagi.

Lagi dan lagi, saya bersyukur kepada Allah SWT, karena dipertemukan dengan mereka. Mereka bukan hanya sekedar penyelamat jaket dan juga diri saya. Namun, mereka adalah pahlawan pembangkit nurani bagi saya. Di saat saya ragu, saya akan mengingat mereka.

Ya Allah, keterbatasanku sebagai manusia yang banyak alpa, membuatku bahkan tak menanyakan nama mereka. Pun tak terpikir menanyakan email ataupun cara untuk menghubungi mereka. Tetapi, melalui tanganmu alu yakin tidak ada yang tidak mungkin. Jaga mereka, berikan kelancaran dalam setiap rencana dan upaya mereka. Mudahkanlah urusan mereka, sebagaimana mereka memudahkan urusanku dan orang lain. Jika menurut-Mu kami seharusnya bertemu kembali, maka akan terjadi.

Terima kasih, dua hati baik dari Pisa...
You warm my heart,
All the way Doha to Europe to home...
Till now and then...
I wish you well,
Thank you!!!

#BigHeart
#GoodPeopleFromPisa
#ChooseToBeGood
#Doha
#QatarAirlines

Saturday, October 16, 2021

Bunda Biasa Saja

Saya senang membaca, dan ingin anak saya menyukai kegiatan favorit saya ini. Namun misi untuk mensukseskan keinginan saya tersebut, belum berhasil sejauh ini. K selalu saja ngeles kalau saya minta membaca, atau untuk lebih banyak membaca. Dia akan segera menjawab: "That's not my thing Bunda. That's your thing" Bhaique... 

Saya pernah bertanya kepada almarhumah Ibuk, bagaimana beliau membuat saya senang membaca. Karena saya ingat, sejak saya bisa membaca di usia TK, saya senang sekali membaca semua hal yang bisa di baca. Mulai dari buku-buku PKK ibu saya, majalah jawa bapak saya, koran-koran yang ada di rumah, bahkan kadang koran bekas bungkus tempe yang di beli Ibu. Semua saya baca. 

Anak saya, dari sebelum lahir sudah mulai saya belikan buku, setiap mau tidur saya bacakan buku, setiap BBW mulai saya tidak pernah ketinggalan ikut berjubel ngantri, tetapi akhirnya tetap saya "That's not my thing, Bunda" Bhaiquelah!

Saya sering menyelipkan dalam setiap kesempatan, bagaimana pentingnya membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca membuat kita pintar, membuat kita lebih tahu daripada teman yang tidak membaca. Dan orang yang pintar, akan banyak dibutuhkan, akan banyak dicari, dan banyak bisa membantu orang yang membutuhkan. Dan lain sebagainya. 

Ya sudahlah... Mungkin memang belum waktunya. Saat nanti dia menemukan kesenangan dan kenikmatan membaca, maka dia akan membaca dengan sendirinya. Aamiin. 

Sampai pada akhirnya hari ini, saya hampir tersedak risoles saat sedang sarapan. Saya sedang makan risoles sambil membaca buku "The secret library - Bibbi Boken" di handphone. K rupanya memperhatikan saya, dan mengeluarkan komentar terbaiknya... (ehem).

Seperti berikut:

👧: "Bunda..."

🧑: "Ya"

👧: "Bunda kan bilang, katanya the more you read, the more you clever. Bisa jadi cantik dari hati karena pinter."

🧑: "Yak betul"

👧: "Bunda sering baca, tapi kok biasa aja?"

🧑: "Makasih 😌😌😌😌😌"


Ya sudah ya sudah... Kalau memang belum ada pencerahan untukmu, tak mengapa... :-p


#CelotehAnak

#ObrolanEmakDanAnak

Saturday, September 25, 2021

Rindu yang Tersimpan di Dalam

Sepulang kami dari Bali, hampir setiap hari saya merindukan Ngetis dan setiap sudut Bali. Saat saya berbagi kerinduan saya kepada Bojo dan Anak, mereka selalu kompak bilang: 

"Enggak ah... Nggak kangen ah... Biasa aja" seperti layaknya paduan suara. Bhaiquelah!

Saya merindukan bangun tidur, berjalan kaki menyusuri jalanan Sanur untuk membeli Croissant kesukaan, berbelok ke Jalan Duyung untuk kemudian menyusuri pantai pagi hari. Perjalanan pendek berputar yang lumayan menyenangkan bersama K. Seperti biasa, kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon yang sayangnya tidak terdokumentasikan dalam catatan. My Bad!

Saya merindukan langit biru cerah nya Bali yang sangat-sangat jarang bisa dilihat di Bogor. Bahkan sepertinya belum pernah saya lihat sepulang dari Bali. Hiks... 

Namun, sore ini rasanya berbeda. Saat saya merasa bosan bekerja seharian, saya mengajak K untuk muter-muter naik motor. Cuma sekedar berputar dari rumah, ke Jalan Dramaga, pulang lewat sawah Batuhulung aja. Lumayan lah. Dan K mengungkapkan perasaan hatinya yang membuat saya tertawa. 

Obrolan di atas motor hari ini: 

K(iran) : "Bunda, mau denger nggak rahasiaku?"

B(unda) : Mau donk. Apaan?

K : "Aku kangen Bali."

B : "Katanya nggak kangen?"

K : "Iya itu tuh cuma luarnya gitu lho. Jadi aku bilang ke orang kalau aku nggak kangen. Padahal di dalam hati aku kangen banget."

B : (Sambil ngekek dalam hati) "Kenapa kamu kangen Bali?"

K : "Beda aja Bali sama Bogor. Lebih nyaman... "


Eeeaaa... So the three of us started missing the island. What should we do? 


#CelotehAnak
#ObrolanEmakDanAnak

Saturday, August 21, 2021

I Am Not Simple Kids

Setelah memiliki K, rasanya setiap tahun selalu ada masa di mana kami melakukan obrolan menarik dan penuh tantangan. Tetapi juga berseni dan penuh lika-liku. #lebay

Apalagi kalau bukan seputar masalah kue ulang tahun. Yak betul. Mbak K ini rupanya sangat terobsesi dengan yang namanya memotong kue saat hari ulang tahun. Siapapun anggota keluarga kami yang berulang tahun, maka Mbak K lah yang paling sibuk. Sudah seperti seorang EO tapi yang punya spesialisasi bidang ribet aja gitu. 

Seperti ulang tahun kali ini, yang ribetnya lebih ribet dari sebelum-sebelumnya. Kenapa hayo? 

Jadi, tahun ini kan saat ulang tahun K, kami masih akan berada di Bali. Tadinya emak merasa aman tentram karena kan di Bali, jadi ya dirayakan saja dengan makan siang bersama, mentok-mentok beli kue slice red velvel di Grand Lucky juga udah oke yekaaan... 

Tapi rupanya tak semudah itu kisanak. Dia tak begitu saja lupa bahwa emak belum menyinggung masalah kue ulang tahunnya, sampai mendekati Bulan Agustus. Begini obrolan kami beberapa waktu lalu:


Anak : "Bunda, udah pesen kue ulang tahun aku belum?"

Emak : "Tahun ini tema kue ulang tahunnya mau apa?"

Anak : "Mermaid, tapi pesen di Mama Vino"

Emak : "Kan kita di Bali, nggak bisa pesen di Mama Vino. Kita beli red velvet yang di Grand Lucky aja ya"

Anak : (manyun) "Untuk sementara oke, tapi nanti setelah pulang ke Bogor tetep harus pesen ke Mama Vino" 

Emak : "Kita lihat modelnya di google dulu yuk" (Emak tak mau bertengkar_mode on)

Anak : "ok"

..... 


Setelah beberapa lama kami mencari contoh gambar di internet, saya menunjukkan pada K contoh kue yang lucu-lucu dengan tema mermaid. Apa yang terjadi? Seperti ini:


Emak : "Ini aja nih keren? Simpel nggak ribet tapi bagus?"

Anak : "Ih bunda ini jahat banget sama aku. Bunda nggak sayang aku ya? Aku kan the only child in this family, masak kuenya simpel gitu? Aku nggak mau. Sini aku cari sendiri" (emak manyun)

Emak : "Ya bukan gitu, maksudnya kalau simpel tapi keren kan bagus juga"

Anak : "No. Aku nggak mau simpel. Harus special. Karena aku spesial"

Emak: "eeefffaaaaiiinnneee"


***



Jadi begitulah cerita si anak yang spesial dengan kue ulang tahun untuk tahun 2021 nya... 

Kuenya lucu sih memang. Sampai dibuatkan Instagram reel sama baker favorite nya K, Ci' Rina: 

https://www.instagram.com/p/CUBdFiChsCN/ 


Saturday, July 3, 2021

Rambut dan Laki-Laki

Bojo saya memang senang memelihara rambut hingga panjang. Biasanya setelah bosan atau lelah, dia akan segera memangkas habis rambutnya hingga gundul. Begitu seterusnya, dan saya santai saja. Namanya juga selera. Berbeda dengan saya yang lebih menyukai rambut pendek, kami sering menjadi pasangan yang terbalik. Suami berambut panjang, dan istri berambut cepak. 

Tetapi, menjadi berbeda saat rambut panjang suami saya itu memberikan efek tipis nyaris tak kentara pada cara anak saya memandang rambut. Saya juga baru menyadari belakangan ini sih. Saat saya melakukan hair do untuk rambut anak saya di pagi hari. 

Begini obrolan kami:


Emak: "Kuncir satu apa dua?"

Anak: "Yang gampang apa bunda?"

Emak: "Kuncir satu"

Anak: "Ya udah satu aja. Tapi di samping ya biar keliatan"

Emak: "Nggak di belakang aja?"

Anak: "Enggak. Nggak disamping banget nggak papa kalau susah, tapi yang penting harus kelihatan dari depan"

Emak: "Kenapa memangnya?"

Anak: "Aku nggak mau keliatan kayak cowok"

Emak: "😂😂😂"


***

#CelotehAnak

#ObrolanEmakDanAnak

Thursday, June 3, 2021

Tempat Kita Berkumpul, Rumah Kita

 Selingan untuk kisah #TheJourneyOfKeluargaUmang


Rumah Kita

Sebelum berangkat ke Bali, kami singgah di Yogyakarta. Sudah 2 tahun lebih sejak pandemi, saya tidak ke Yogyakarta. 

Dahulu kala, pernah ada masanya ketika saya berkata bahwa Yogyakarta adalah masa tua saya. Setiap hal yang terjadi di Yogyakarta, selalu bagaikan magnet kuat yang menarik saya menujunya. Bahkan sempat menjadi perdebatan dengan Mas Bojo saya, bahwa mungkin sebaiknya kami dikubur di Yogyakarta saja jika meninggal nanti. 

Namun rupanya hal itu adalah sesuaty yang ada masa kadaluarsanya. Saat sampai pada tanggal kadaluarsanya, maka bergantilah dengan sesuatu yang baru. Belum tahu apa dan bagaimana, namun tidak lagi sama. 

Hari itu kita kembali datang dengan penuh cinta. Membawa warna-warni bunga yang selalu engkau minta dan tak pernah kami lupa. Saat berkumpul mengelilingimu, hati kami semua bersatu, padamu. 

Tak perduli berapa jauh kaki kami melangkah, 

Tak perduli berapa likuan yang harus kami lalui, 

Tak perduli bagaimanapun nanti jalan hidup membawa kami, 

Tak perduli seperti apa ujung perjalanan ini, 


Ke tempatmu lah kami akan berkumpul kembali

Ke tempatmu beristirahat, 

Melingkat dengan hati yang hangat, 

Karena kami bersamamu untuk mengingat


Sampai kita berkumpul kembali suatu saat


Peluk & Cium kami untukmu di Surga

Sunday, May 30, 2021

The Last Song


 The Last Song, by Nicholas Spark

Jadi, tema klab baca SMK bulan Mei 2021 adalah Sweet Romance. Iya betul, sayalah pengusul nya. Tahu kan ya kalau selera saya ini yang drama-drama romantis ringan-ringan tanpa beban gitu? ahaha

Beruntungnya anggota Klab Baca SMK itu baik-baik semua. Meski mungkin tema ini bukan genre favorit mereka, namun mereka berbaik hati mengikuti. Dan beberapa buku yang mereka pilih, adalah buku-buku yang pernah saya baca. Yeay!!! Nggak sabar mendengarkan mereka mengulas buku-buku itu. 

Saya sendiri, akhirnya memilih bukunya Nicholas Spark. Ini terinspirasi dari obrolan di grup juga sih, bahwa konon katanya Mas Nicholas (bukan saputra) ini bukunya selalu menggelitik hati penggemar drama cinta-cinta remaja. Setelah melakukan sedikit pencarian info di Goo, baru ngeuh ternyata Nicholas Spark ini adalah pengarang buku nya Notebook, The Best of Me, A Walk to Remember, Dear John, dan lain-lain. Duh, kalau itu kan film nya saya sudah nonton berkali-kali dan berulang-ulang. #JedugJedug

Ya sudah, akhirnya secara random saya memilih buku yang judulnya The Last Song. Beli bukunya di Google Playstore saja. Belakangan ini saya sedang tersadarkan (dan menghindari lirikan maut mas bojo kalau harus membuka paket yang isinya buku) sehingga memilih membeli ebook. Disamping untuk membinasakan pesona Candy Crush, Zuma, dan Sudoku di handphone juga sih. Haha

Sebetulnya oleh PJ Klab Baca, sudah dibuatkan form untuk mengulas novel yang kita semua baca. Tapi saya kok amatir sekali dalam membuat review/ulasan. Setelah membaca ulasannya Gard di Slack, saya langsung insekyur dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Kok nggak bisa ya saya baca soal dan mengerjakan sesuai dengan yang seharusnya? haahhaa #nangis.

Jadi, saya berniat membuat ulasan kembali di sini, setidaknya untuk diri saya sendiri dalam rangka belajar mengulas buku. Siapa tahu lama-lama juga bisa membuat ulasan yang bagus. Yekaaan...  


*** 

(Template ulasan: Nyontek Gardin)

Bulan : Mei

Tema : Sweet Romance

Judul : The Last Song

Penulis : Nicholas Spark

Halaman : 368 halaman

Ringkasan:

Kisah tentang perlawanan, jiwa muda, pencarian jati diri, penemuan cinta, dan kasih sayang (compassion). 

Seperti halnya novel Nicholas Spark yang lainnya, buku ini tidak jauh dari hubungan asmara dan keluarga. Tokoh utama dari cerita ini adalah Ronnie, seorang perempuan usia remaja yang menyimpan amarah terhadap ayahnya. Ayahnya yang dia tahu telah meninggalkan dia, adik dan juga ibunya untuk mengejar karir sebagai pemain piano, hingga melupakan mereka semua. Beberapa tahun Ronnie tidak mau berbicara dengan ayahnya. Ronnie kecil yang sangat pandai bermain piano mengikuti ayahnya, menjadi Ronnie remaja yang membenci piano. 

Hingga pada suatu liburan musim panas, Ibunya (Kim) memaksa dia dan adiknya (Jonah) untuk menghabiskan waktu liburnya bersama dengan ayahnya. Tidak seperti biasanya, kali ini ibunya tidak menerima penolakan ataupun negoisasi. Hingga mau tak mau Ronnie dan Jonnah menurut dan tinggal bersama ayahnya di rumah pantai, North Carolina. 

Sejak hari pertama kedatangannya, Ronnie tidak ingin dekat ataupun berbicara dengan ayahnya. Alih-alih dia memilih pergi ke daerah ramai disekitar pantai. Dia menonton pertandingan volley pantai dan tak sengaja bertabrakan dengan Will dan membuat minumannya tumpah. Kemudian disana juga dia bertemu dengan teman baru (Blaze) yang juga banyak menghadapi banyak masalah keluarga. Blaze memperkenalkan dia dengan Marcus dan dua teman lainnya. Dia tidak perduli ayahnya dan juga adiknya kebingungan mencarinya. Singkat kata, di malam pertamanya di NC, Ronnie akhirnya berhasil ditemukan oleh polisi yang juga teman ayahnya, dan diantarkan pulang. Satu alasan lagi untuk membenci ayahnya. 

Steve (Ayah Ronnie) memiliki piano di rumahnya, dan sering memainkannya. Ronnie yang membenci piano sebagaimana dia membenci ayahnya, menyampaikan ketidaksukaannya dan melarang ayahnya bermain piano. Dia merasa, ayahnya bermain piano demi memancing Ronnie untuk memainkannya juga. Akhirnya Steve yang sangat menyayangi Ronnie dan ingin bisa kembali dekat dengannya, membangun dinding penyekat untuk menyembunyikan pianonya, agar Ronnie tidak merasa terganggu setiap kali melihat benda itu. Dan sebagai gantinya, Steve diam-diam pergi ke gereja yang sedang direnovasi, untuk bermain piano atas seijin Pastor Harris, temannya.

Beberapa hari pertama Ronnie, dia habiskan bersama dengan Blaze dan teman-temannya, hingga akhirnya Blaze cemburu karena Marcus menunjukkan ketertarikannya pada Ronnie. Disatu sisi Ronnie mulai dekat dengan Will, yang bekerja di bengkel dan juga adalah volunteer di aquarium pusat. Suatu hari mereka berkemping bersama menjaga telur penyu dari serangan rakun, dan membuat hubungan mereka semakin dekat. Hal ini membuat Marcus tidak suka, dan karena dia memiliki rahasia hitam mengenai Will dan temannya (Scott), dia mulai sering mengganggu mereka. Blaze semakin tidak suka dan menjebak Ronnie dengan memasukkan beberapa koleksi kaset klasik ke dalam tasnya, hingga Ronnie terancam persidangan dan penjara. 

Banyaknya masalah yang dihadapi Ronnie, secara tidak langsung membuat hubungannya dengan Steve membaik. Mereka mulai sering berbincang, sering bertukar cerita, memasak bersama. Sedangkan Jonah lebih sering menghabiskan waktu bersama Steve dengan membuat jendela untuk gereja di workshop nya. 

Ketika akhirnya Ronnie dan Will semakin serius dengan hubungan mereka, Ronnie mengundang Will makan malam bersama dengan Steve dan Jonah, dan begitu juga sebaliknya. Saat itu, Ronnie baru menyadari bahwa Will rupanya anak orang kaya yang memiliki perusahaan otomotif besar di NC. Saat kakak Will menikah, Ronnie hadir. Rupanya Marcus yang menyimpan dendam terhadap Will dan Scott, tersulut dengan Ronnie yang lebih memilih Will, berniat jahat dengan merusak pesta kakak Will. Ibu Will yang awalnya tidak menyukai Ronnie, semakin membencinya. Dengan patah hari, Ronnie pergi meninggalkan rumah Will. 

Untuk menghadapi kasusnya sendiri di toko kaset, Ronnie berusaha berbicara dengan Blaze, dan setelah lama membujuknya, akhirnya Blaze mau mencabut laporannya ke polisi, dan bahkan dia bersaksi mengenai kejahatan-kejahatan Marcus, termasuk saat pesta pernikahan kakak Will, dan juga tentang kejahatannya membakar gereja beberapa tahun lalu yang mengakibatkan Pastor Harris cidera hingga nyaris meninggal. 

Di saat yang sama, Ronnie baru mengetahui bahwa ternyata ayahnya sakit kanker yang sangat parah. Rupanya karena sakitnya tidak lagi bisa disembuhkan, Steve meminta anak-anaknya untuk melewati musim panas bersamanya. Ronnie juga baru mengetahui bahwa Steve memainkan piano bukan untuk membuat Ronnie bermain lagi, melainkan untuk mengurangi sakit yang dirasakannya, hingga dia rela menyelinap ke gereja untuk memainkannya. Bagi Steve, bermain piano adalah saat dimana semua sakitnya hilang. Ronnie menyesal dan mulai memainkan piano ayahnya lagi setelah ayahnya keluar dari rumah sakit. Dia berusaha menyelesaikan lagu yang dibuat ayahnya, yang tidak kunjung selesai. 

Saat akhirnya liburan musim panas selesai, Ronnie memilih untuk tetap tinggal bersama ayahnya, sedangkan Jonah harus kembali ke New York bersama dengan ibunya. Dan Will, sudah harus mulai masuk ke kampus baru pilihan keluarganya. Ronnie merawat ayahnya dengan baik, terus bermain piano dan merampungkan lagu ayahnya. Ketika lagunya selesai, ayahnya meninggal. 

Ronnie akhirnya kembali ke New York bersama dengan Ibunya, dan memilih untuk masuk ke akademi musik untuk melanjutkan belajar piano. Rupanya, Will akhirnya mampu meyakinkan keluarganya untuk kuliah ditempat pilihannya sendiri, Columbia University. Satu kota dengan Ronnie. 

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang kisah cinta semata, namun banyak memperlihatkan gejolak hubungan keluarga, dan pergolakan batin yang biasa dialami para remaja. Ronnie yang awalnya penuh kebencian akibat perceraian orang tuanya, akhirnya berbalik menjadi penuh kasih sayang terhadap ayahnya. Blaze yang awalnya menyiksa dirinya akibat perceraian orang tuanya, banyak berbuat hal buruk bersama dengan Marcus dan teman-temannya hingga mencelakakan Ronnie, akhirnya bertobat dan kembali kepada ibunya, dan berusaha menebus kesalahannya pada Ronnie. Will yang selalu berusaha menjaga perasaan ibunya akibat meninggalnya adiknya, akhirnya bisa menemukan ketegaran dan memilih apa yang terbaik untuknya sendiri. Steve yang awalnya selalu mempertanyakan keberadaan Tuhan, meragukan jawaban atas semua doanya, akhirnya menyadari bahwa musim panas bersama dengan anak-anaknya adalah jawaban dari semua doa yang pernah dia sampaikan pada Tuhan. 

Adegan Favorit: 

Ketika Ronnie dan Will menjaga telur Penyu Tempayan di belakang rumah Steve selama beberapa malam, karena petugas penyelamat belum bisa memasang sekat perlindungan dari rakun. 

***


Update setelah call bersama: 

Mendengar teman-teman yang lain membacakan ulasan buku mereka, saya pengen pingsan. Ya ampun, kok pada keren-keren ya bikin ulasannya. Haissshhh... Wilis, semangadhlah!!! Next musti lebih baik lagi. ahahahah

Pe-Er untuk ulasan (saya) bulan depan: 

- Nyeritain isi bukunya sedikit saja

- Nuansa/feeling/perasaan ketika membaca buku nya

- Inti dari bukunya apa

- Konflik terberat nya apa

- Suka atau nggak suka? 

- Sebutkan plus minus buku

Saturday, May 1, 2021

Membudidayakan Harapan

 


1 Year of raising hopes... 

Sudah satu tahun berlalu rupanya. 1 tahun dari momen ketika semangadh, niat, dan harapan melambung tinggi meraih ide-ide yang berserakan di langit. Eeeaaa

Selamat Ulang Tahun yang pertama Kaizen Writing Alumni aka Alumni Semut Merah Kaizen. Semoga kebersamaan yang dilandasi dengan semangadh bertumbuh dan berkarya bersama ini, akan tetap tumbuh subur dan terus melahirkan karya. 

Seperti halnya ide yang melayang bagai awan putih di angkasa biru, 1001 cerita dibalik gambar akan selalu menjadi kenangan tersendiri... Dance it out :-)

Monday, April 5, 2021

Rumah Guguk Bandung, April 2021

Liburan Paskah, 2021

Akhirnya Nala Family mengadakan trip dadakan. Si Ayah ingin membayar waktunya yang hilang untuk bersama dengan Si Anak akibat mulai aktif perjalanan kerja ke lapang, sehingga membisikkan janji manis yang sulit untuk di tolak. Malam terakhir sebelum long weekend, Si Ayah bersabda: 

"Kita long weekend ke Bandung aja..." Dan malam itu kami berdua berusaha mencari penginapan. Namanya juga Bandung dan Long Weekend, apa yang bisa diharapkan? Akhirnya Si Emak menyerah dan tidur, menyerahkan perpenginapan kepada Si Ayah. Tahu beres besok pagi berangkat. T I T I K

Dan pagi pun datang. Meskipun rencana berangkat jam 3 pagi gagal dan baru beranjak dari rumah Jam 5 pagi, namun perjalanan terhitung lancar. Perkiraan sampai di Bandung Jam 8 pagi, kamipun memutuskan untuk langsung ke Rumah Guguk sebelum check in ke penginapan. Cekidot foto-fotonya di bawah ini ya. 

Rumah Guguk ini terletak di kawasan Dago. Ada 2 jenis penawaran yang bisa kita pilih, ataupun kita ambil semuanya. Taman Guguk dan Secret Garden. Kalau membayar satu-satu, biayanya adalah Rp. 50,000. Jika ambil kedua-duanya, maka harganya menjadi Rp. 80,000. 

Kalau Taman Guguk, kita bisa bermain dan berfoto dengan anjing-anjing lucuk di beberapa spot, kucing 1 spot, kafe juga tersedia. Bermain dan berfoto dengan anjing saja, kita tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi jika kita ingin berfoto dengan anjing-anjing duduk manis rapi jali berbaris tertib, kita musti beli makanan anjing ke mas-mas penjaganya Rp. 15,000. Well, meskipun hanya mendapat beberapa butir makanan, tapi melihat dan mendapati anjing-anjing itu duduk manis bersama kita dan anteng saat di foto, rasanya sepadan :-)

Setelah K menjelajah setiap area dan berfoto, dia kembali lagi masuk ke area anjing-anjing besar dan bermain sepuasnya. Si Emak dan Si Bapak duduk manis saja di kursi kafe menunggu. 

Ketika masuk ke area Secret Garden, areanya jauh lebih luas. Para anjing berkumpul di 3 spot saja, tapi ada hewan-hewan lain yang bisa dilihat dan diberi makan disana. Ada Angsa, Ikan, Kelinci, Kambing, Ayam, dan burung. Banyak tempat untuk bersantai dengan bean bag, ayunan tali, maupun ayunan kayu. Pohon besar menaungi hingga dinginnya Kota Bandung sangat terasa sekali. 

Rumah Guguk sepertinya akan menjadi tempat yang dikunjungi lagi dan lagi ketika kami ke Bandung. K semakin ingin bisa memelihara anjing. Dan saya dengan semangat mengucapkan mantra: 

"Nanti kalau kamu besar dan ternyata ingin menjadi Vet yang hebat, kamu bisa bikin tempat seperti ini sendiri. Punya banyak anjing sebanyak yang kamu mau" :-)


















Semoga kalian juga menikmati jeda sesaat ketika Liburan Paskah kemarin ya temans... :-)

Monday, March 29, 2021

Maret Yang Seperti Mungkret

Dan terjadi lagi...

Kisah lama yang terulang kembali...

Tek teretek dung dung tek teretek dung dung


***

Mari kita tilik kembali beberapa targetan yang lain. Apakah senasib dengan writing challenge yang hanya konsisten selama 5 hari itu? #malu

1. Writing Challeng: Failed

2. Writing Story: Cuma bisa ngedit dan post berapa bab? Kalau tidak salah 4 bab saja. Ide baru? Nggak ada! Terlele!!! 

3. Berkebun: Itu Tomat mati semua. Padahal yang dikasih sama tetangga, katanya sudah berbuah. Terlele!!!

4. Merajut: Lumayan sih berhasil mengusir beberapa barang buatan jaman lawas. Alhamdulillah ada yang mau. Terima kasih marketing ku yang baik hati, Tante Sita! :-)

5. Kelas Online Siberkreasi untuk Podcast Pemula sih berhasil tuntas. Dan sudah submit editan 1 untuk ulasan. Minggu ini harus bisa selesai ngedit yang Monolog. Siberkreasi Masterclass daftar tapi belum masuk kelas. hehehee. Gagal maning son. Terlele!!!

6. Kelas Online Udemy: Materinya Jesika yang kedua ini belum selesai didengarkan. Terkena imbas dari Kelas Siberkreasi yang mengharuskan download aplikasi Telegram, ditambah info2 gosokan2 cantik dari teman2 tentang Drakor, akhirnya malah saya nonton ulang serial #Bones dari Season 1 sampai 12 setiap malam. Baru tahu kalau di Telegram itu, nonton lebih cihuy. Setelah taman Bones, nyari NCIS cuma ada yang dubbing Bahasa Latin. Jadi pindah Greys Anatomy. Duuuuh... Kapan belajarnya Ni Sanak? Terlele!!!

7. Hobi Baru - Diamond Painting: Nah ini nih. Ini hobby baru yang ternyata cukup menyita waktu tapi menyenangkan sekali. Cuma kok ya masih cukup mahal kalau beli sendiri. Buka jasa pasang, belum ada yang pesan karena memang belum banyak yang kenal/suka dengan Diamond Painting ini. Jadi beli yang semampunya aja dulu. Kabar baiknya, pas beli ke mantan tetangga, dapet diskon 50% plus dikasih bonus pula 1 yang tulisannya "I Love Indonesia". Masya Allah, Patriotik sekali yekan? hahahaha

8. Membaca: Nah, ini juga yang menarik di Bulan Maret 2021 ini. Salah satu hal positif yang membuat saya semakin cinta dan bersyukur bergabung dalam komunitas alumni kelasnya Dee Lestari, Semut Merah Kaizen ini adalah karena anggotanya. Bertemu dengan mereka-mereka yang selalu adaaa aja idenya untuk melakukan sesuatu. Sangat gayung bersambut dengan saya yang adaaa aja maunya ini. Hehehe. Salah satunya adalah Klab Baca SMK ini. Bulan Maret 2021, kami membaca buku yang temanya Hewan. Judulnya bebas. Saya sendiri memilih Buku yang judulnya "The Art of Dancing in The Rain". Review dan kesan pesannya nanti saya upload di Blog satunya saja ya. Biar ada isinya. Kekekeke. Intinya, cerita ini bagus bangettt... Membaca cerita yang di kisahkan dari sudut pandang Enzo (seekor anjing setia). Membuat saya yang ingin sekali punya tapi belum bisa ini, semakin cinta pada para anjing. Worth to read!

Apa lagi ya....

Yang lain sih ya nitty gritty routin dan incidental banyak terjadi juga di Bulan Maret ini. Alhamdulillah, Masya Allah. 

So, meskipun gagal disana kurang disini, Bulan Maret 2021 ini tetap menjadi bulan yang indah untuk saya. Terima Kasih, Maret! 

Monday, February 8, 2021

Dark Spot

Titik Hitam


Ceritanya, saya yang nyalinya tipis ini kan belum juga bisa menyetir mobil. Jadi kemana-mana, saat Mas Bojo tidak ada, ya naik motor ngeng ngeng saja. 

Alhamdulillah sepertinya sudah lebih dari satu dekade saya ber-ngeng-ngeng motor, tidak pernah jatuh. Masya Allah Gusti Allah.

Tapiii, namanya manusia yang merupakan tempatnya lupa dan riya, akhirnya saya kena tegur. Bulan lalu saya jatuh. Tidak tabrakan, tidak serempetan, tidak ini dan itu. Hanya jatuh gedubrak sreeettt, ngesot di aspal bersama dengan motor tercinta saya. Beruntungnya semua parapihak yang berkendara dibelakang saya, dengan sigap menghentikan kendaraan mereka sehingga tidak menggilas saya yang berserosotan mesra dengan aspal dan motor saya. 

Sepertinya mendadak saya black out selama beberapa detik dan berakibat jatuh. Saya hanya cidera ringan yaitu lecet-lecet tangan, dan bagian kaki kanan dekat jempol tercukil sedikit kulit dan dagingnya. Kecil, tapi dalem. Seperti orang patah hati, sakitnya terasa cukup lama, dan bekasnya seperti tak terhapuskan. Eeeaaa.

Tangan kanan saya terkilir lumayan hingga sulit untuk diangkat atau digunakan memegang sesuatu. Tapi saya masih bisa pulang sendiri. Yang sedih adalah, ketika saya sampai di garasi, berteriak memanggil Mas Bojo dan mengatakan bahwa saya jatuh, yang pertama dia lakukan adalah berjalan ke belakang untuk mencari obeng. 

Saya: "Kalau orang normal, tahu kalau istrinya jatuh itu yang pertama dilakukan adalah bertanya dan melihat, apa yang sakit, gimana kondisinya, diambilin minum dan lain-lain lho... Bukan nyari obeng dan ngecek motornya" Saya berlalu ke belakang untuk mencuci tangan. 

Mas Bojo dengan cengengesan mengikuti saya ke belakang dan mengambil beberapa obat dari kotaknya. 

Long short story, pertolongan pertama pada kecelakaan sudah dilakukan. Setelah semalaman tidur, ternyata esok harinya tangan saya semakin sakit. Saya memanggil ibu yang biasa melakukan pijat keseleo. Saya menangis ketika pijatannya sampai ke bagian pundak. Hiks... 

Setelah dipijat, saya merasa enakan. Namun sayang hanya untuk semalam saja. Esok harinya, saya merasa lebih sakit. Akhirnya diantar oleh teman, saya ditemani Mas Bojo untuk pergi ke ahli pijat tulang Cimande cabang Cilebut. Haji Ghoni. 

Mau tahu rasanya bagaimana saya ditangani oleh ahli tulang nya Cimande cabang Cilebut ini? Subhanallah sekali kakak. Saya merasa seperti di KDRT oleh si akang pijat. Pergelangan tangan saya yang terkilir, di kepret (literally) atau digampar dengan telapak tangannya bolak balik, sampai si akang lelah. Dan saya hanya bisa pasrah sambil berpikir "Si akang ini punya istri apa enggak ya? Kalau punya, berantem sedikit terus nggampar istrinya bisa langsung koprol pasti". 

Si akang nya sih bilang pada saya bahwa saya dipersilakan untuk berteriak jika merasa sakit. Tapi oh ya please, itu tempat rame banget. Malu kakak kalau mau nangis. Padahal, saya ini kan lumayan bisa dan biasa menahan rasa sakit, level tahan sakit saya cukup tinggi. Namun kepretan Cimande ini luar biasa sekali deh pokoknya. Tetapi semua pedih perih panas dan nyeri akibat kepretan itu semua terbayar dengan sangat-sangat berkurangnya sakit ditangan saya. Saat pulang, dengan rasa sakit memar, bukan lagi sakit keseleo. Alhamdulillah

Meski hingga kini rasa nyeri masih sering muncul ketika saya mengangkat beban sedikit berat, namun saya bisa melakukan banyak hal hampir normal. How blessed I am... 

Nah, 

Sekarang beranjak mengenai judul yang saya pilih untuk ocehan saya hari ini. Dark Spot. Titik Gelap. 

Entah bagaimana dengan orang lain dalam menghadapi 'sesuatu yang pernah terjadi dimasa lalu dan meninggalkan nyeri'. Mungkin ini yang biasa disebut dengan trauma? Mungkin. 

Yang jelas, untuk saya, kecelakaan saya sebulan lalu itu meninggalkan sebuah titik gelap atau remang-remang untuk saya. Selama ini saya tidak pernah merasa takut naik motor di jalanan. Namun setelah kecelakaan itu, setiap kali mendekati atau melewati lokasi kecelakaan itu, secara otomatis tubuh saya bereaksi. Dengan sendirinya tangan saya akan menekan rem lebih dalam dari sebelumnya dan kecepatan saya turunkan sedemikian rupa. Fokus dan perhatian saya mendadak tersedot pada jalanan itu, berusaha untuk tetap waspada. 

Saya merasa sedikit terganggu dengan kondisi ini, namun jika dilihat dari sisi cerahnya, maka mungkin bisa dibilang saya belajar dari pengelaman lalu. Dan mencoba menjadi driver yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Meskipun hanya diwilayah itu saja. Hahaha... 

Anyway...

Be careful and mindful ketika berkendara ya temans... Stay safe...

#UdahItuAja

#KepanjanganIntronya

#SelamatMenyambutImlek

#HaveALongWeekend

Friday, January 29, 2021

Untitled Bad Day

Well, today is just another (bad) day... I Guess

Sepertinya saya PMS. 

Nafsu untuk memamah (bukan biak) manusia memenuhi dada dan kepala. Tapi on the bright side, ini membuat saya menambah deretan dunia khayal saya. Jikalau suatu saat saya kebanjiran uang dan peluang, saya akan mengumpulkan teman-teman yang pintar berbahasa inggris dan ingin mengajar bahasa inggris, ataupun merekrut orang yang ingin mengajar bahasa inggris. Syaratnya cuma satu (selain daripada kemampuan bahasa inggrisnya pastinya), yaitu mengedepankan pelayanan dan memiliki mental melayani. 

Dalam kegemasan saya hari ini, saya semakin memahami ke-masuk akal-an biaya sekolah yang nilainya bisa membuat kita geleng-geleng kepala di jaman now. Apalagi kalau sekolahnya sudah menggunakan tagline "International school" atau "English as a daily language" nya. Kenapa? Karena anak-anak akan mendapatkan pelajaran dan praktek bahasa inggris lebih banyak, dilingkungan yang menyenangkan (setidaknya mostly menyenangkan). Bukan di lingkungan yang kadang terasa diskriminasi atau mengecilkan orang lain, entah dengan pertimbangan apa. 

Long short story, akhirnya K, Saya, dan Mas Bojo memutuskan untuk bergabung dengan sebuah lembaga bahasa inggris yang konon katanya cukup melegenda dengan pengalamannya yang lebih dari 40 tahunan itu. Long story nya sangat long, jadi saya simpan untuk kapan-kapan (kalau mau) ya. 

Sebetulnya saya ingin bercerita panjang lebar mengenai pengalaman yang menggemaskan hari ini, namun saya kok malas membuang lebih banyak energi untuk itu. Tapi saya juga tidak ingin memendam kesal karena PMS hari ini didalam hati. Jadi, saya keluarkan banyak-banyak, namun sedikit saja tulisan disini. Sekedar pengingat mengenai konsekuensi yang pernah kami ambil bersama. Seperti sebuah kata bijak yang berbunyi, "Tidak ada kesalahan, yang ada hanyalah sebuah keputusan dan konsekuensi yang harus kita terima dan jalani". Exactly. 

Obrolan saya hari ini bersama teman yang anaknya ikut kelas bahasa yang sama, namun ditempat yang lain: 

Saya: "Hei, selama ini, komunikasi tentang kelasnya M di situ, pakai apa? WA? lancar?"

Teman 1: "Halo, iya pake WA. Lancar. Selalu dibalas cepet. Aku punya 3 nomer, 3-3 nya selalu fast respond"

Saya : hhh... okay, catet dulu. 


Kemudian saya bertanya pada teman yang anaknya ikut kelas di tempat yang sama dengan K, hanya berbeda level: 

Saya: "Hei, lo komunikasi sama itu, via WA juga? Lancar?" 

Teman 2: "Enggak bangettt... Nggak lancar... bla bla bla bla... Cuma karena gw udah bayar sekaligus aja ini jadi mau nggak mau terus... Bingung mau pindah kemana... Males kalau blah blah blah..." 

Curhatnya lebih panjang dari saya. Catet dulu. 

Sayapun bertanya pada tetangga yang anaknya juga ikut kelas di tempat yang sama, berbeda level juga. 

Saya: "Tante, komunikasi sama itu pake apa? WA? Lancar?"

Teman 3: "Enggak mbak. Nggak lancar blasss. Awalnya saya pikir karena beda level sama murid lain. Maklum yang lain dijemput pake alphard atau mercy. Tapi setelah online kok ya sama aja"

Saya tertawa mendengar alasan tetangga saya. Mas Bojo yang mendengar alasan tetangga saya, mengiyakan karena dia banyak mendengar berita tentang diskriminasi yang terjadi di lembaga itu. Catet lagi. 

Mau tahu obrolan saya dengan mereka? It's be like:

(Ini setelah sebelumnya pernah kejadian juga, pesan tidak dibaca sampai dengan waktunya trial. Ketika selesai trial, Mbak nya bilang "Nanti kalau ada pertanyaan, silakan di WA saja bu". Dan saya langsung menjawab "Oh, ok. Tapi mungkin WA saya kemarin dibaca dulu kali ya mbak?" eeerrr) 

Date: 27 January 2021 - 10 pagi

Saya: Pagi, maaf mau nanya kalau buku les K ready kapan ya?

.

.

.

08.30 malam

Mereka: Baru dibaca dan dibalas, mengatakan bahwa akan mengecek dengan finance.


Date: 29 January 2021 - 1 siang

Saya: Udah ada hasil ngeceknya belum ya? (Sudah malas bermanis-manis rasanya)

Jam 2 siang dibalas (cepet hitungannya ini yekaaan)

Mereka: Siang ibu, bukunya baru ready di hari ini, maaf baru mengabari kembali. Sudah dapat diambil ya mama K. Terima kasih. 

Saya: Ok. Saya kirim gojek. 


Setelah buku tiba, saya melihat benar-benar hanya 2 buah buku tanpa petunjuk apapun. Jadi saya WA lagi mereka. Sangking malasnya basa-basi, saya WA: 

Saya: "Would you mind to give us guidance on how to join the class next week, please? "

Ajaib!!!

Langsung dibuka, langsung dibalas. Amazing, huh? 

Saya: "Nice to hear your quick respond. finally. for once. Thank you. 

Dan ternyata ketika saya log in ke web nya, jadwalnya belum ada. Aaarrrggghhh... Malas banget sebenernya balik lagi nanya. Apbolbu lah ya. Apa boleh buat... 

Saya: "One more question please. When will the schedule of the class available in the website?"

Dan amazingly, langsung dibuka, dan dibalas. 


Well, it is what it is...

Sudah bayar, sudah komitmen ikut kelas selama kurang lebih 4 bulan, jadi ya Suck It Up, Wilis!!! 


Sekian curahan erosi jiwa emak-emak yang lagi PMS ini. You guys have a good weekend! :-)

Monday, January 18, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day6

 January School From Home - Writing Challenge #Day6


Challenge hari ini sebetulnya membuat saya pengen tertawa, tapi juga ikut prihatin. 

Pelajaran pertama adalah pelajaran Agama. 

K: "Bu M***** kalau di video suaranya pelan, halus. Kok kalau google meet jadi galak?" 

Saya: "Bukan galak, tapi suaranya nadanya tinggi aja. Kan nada suara macam-macam. Ada sopran, dll"

Saat tanya jawab, 

K: "Aku kok nggak pernah dipanggil sih? Ibunya nggak suka sama aku jadi aku nggak dipanggil"

Saya: "Bukan nggak suka, tapi muridnya kan banyak. Jadi nggak semua dipanggil" 

Dan beberapa menit kemudian, drama rengekan dan tangisan karena K merasa tidak diperhatikan gurunya berlanjut. 

Saya: "Nggak usah sedih, nanti Bunda tanya Bu T****. Siapa tahu karena ini pelajaran Agama Katolik, jadi cuma yang agamanya Katolik saja yang dipanggil" 

Drama 1 selesai. 

Pelajaran kedua adalah pelajaran Olah Raga, tidak ada drama yang berarti. Good girl! 

Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran BK. Ada guru baru, jadi perkenalan. Karena perkenalan, jadi mic lebih banyak menyala. Seperti biasa, drama per-berisik-an mulai.

K: "Berisik banget bunda, aku nggak denger apa-apa gurunya bilang. Sakit kepalaku... "Dan seterusnya, mantra yang diucapkan K. #eeerrr

Pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris. Ini adalah puncak drama hari ini. Karena K tidak juga disebut namanya. 

K: "Aku itu uselesss banget makanya nggak dipanggil sama gurunya" nangis. 

Saya: "Enggak donk sayang. Bukan useless. Tapi belum aja. Nanti juga dipanggil"

1 menit, 2 menit, 3 menit...

K: "Tuh kan, I am so weak jadi gurunya nggak mau panggil aku" nangis semakin keras, dan saya sedih.

Saya: "K, muridnya kan ada 36 enam, waktunya sedikit banget... Jadi nggak semua anak dipanggil. Terus kan itu belum selesai. Siapa tahu nanti di panggil, jadi harus tetap menyimak penjelasan biar nanti kalau ditanya bisa" 

1 menit, 2 menit, 3 menit 

K: "Aku memang weak banget, useless banget. Gurunya nggak mau manggil aku. Itu D***** dipanggil 2 kali" nangis kejer.

Saya: "Gurunya nggak bikin list ini mungkin ya. Jadi lupa kalau tadi dia udah dipanggil. Tuh dengerin, yang dipanggil kan anak-anak yang nggak nyimak, yang malah main. You're so great in english, jadi gurunya nggak khawatir sama kemampuan nya kamu..." Mulai kehilangan stok penjelasan. 

K: "Tapi kan aku juga mau dipanggil. Aku nggak mau sekolah lagi kalau gitu. Useless banget nggak dipanggil juga" Menghadap jendela.

Saya: "Nanti bunda kasih masukan ke bu guru biar dibikinin abses jadi semua dapet giliran ya... Next time will be better". 

Google meet end. Drama end. 

#Smangadh









Saturday, January 16, 2021

It Is Time To Be Leh Leh Luweh

Hellow... 

Selamat pagiii... Cuma mau berbagi cerita sedikit sih pagi ini. Karena rasanya semangadh sedang muncul, jadi pengen meninggalkan jejak disini. 

Sepertinya, energi perpindahan tahun 2020 ke 2021 memang berbeda ya. Atau hanya saya saja yang merasakannya? 

Rasa optimis, semangadh, lebih legowo, semeleh, dan leh leh luweh beriringan mengiringi hari demi hari yang berganti di tahun yang baru ini. 

Untuk beberapa teman yang sudah tahu, bukan hal yang baru kan kalau saya ngomong tentang rajut merajut. Untuk saya yang berpedoman pada kalimat "Karena Merajut Tak Hanya Untuk Yang Berusia Lanjut" ini, merajut banyak sekali gunanya. Sudah banyak saya ceritakan juga di postingan sebelum-sebelumnya. 

Nah, sudah cukup lama juga sebetulnya saya membuat akun IG jualan untuk barang-barang rajutan saja. Well, sebetulnya bukan khususon untuk jualan sih. Lebih tepatnya untuk pamer alias show room barang yang pernah saya bikin saja. Selama ini saya selalu malu kalau ingin menjual hasil karya saya, karena sepertinya belum ada yang sempurna gitu hasilnya. Jadi kebanyakan barang-barang tersebut jadi hadiah untuk orang-orang tersayang, ataupun untuk doorprize acara saja. Malu bo'! :-)

Namun tahun ini saya tidak ingin malu lagi. Saya terinspirasi dari Kakak Ayunda yang sekarang sedang tinggal di Belanda, dia bekerja, banyak membaca, banyak menulis, banyak merajut, dan membuat toko online untuk produk-produknya. Saya juga jadi ketularan semangadh nya. Semoga segera sehat pulih ya kakak! 

Salah satu manfaat dari medsos walking yang dilakukan sesekali, adalah mencari suntikan semangadh yang kadang stoknya menipis dalam diri. Asal kita mencari pada sudut-sudut yang benar. Jangan malah terjebak pada sudut yang menguras habis semangadh kita yang tinggal digaris merah itu yekaaan :-)

Nah, kembali pada leh leh luweh yang saya rasakan di tahun ini, akhirnya saya dengan bangga memasang nama "kaena.ku" di bio IG saya. Mencatatkan diri saya sebagai owner dari sebuah usaha kecil yang masih berdasar hobi. Tapi saya bangga. Saya merasa senyum saya bertambah satu cm ke kanan dan satu cm kekiri setiap melihat rajutan saya selesai. Entah apakah akan dibeli orang ataukah berakhir untuk hadiah. Doesn't matter. I am owner of my own business line. Yeayyy!!! 

Ini juga salah satu bentuk ikhtiar untuk mengisi waktu dengan hal yang lebih berarti. Wish it goes well yaaa ^_^

Itu saja sih sharing weekend ini. Have a nice and productive weekend dear good people! 

Wednesday, January 13, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day3

January School From Home - Writing Challenge #Day3


Whatsapp Group PJJ: "Besok, Rabu 13 January 2021 materi PJJ adalah Matematika" 


Selasa malam menjelang tidur: 

Saya: "Mbak K, besok kita sekolahnya belajar Matematika"

K: "Asik, I love Matematika" Katanya. 

Saya: "I know. Jadi besok kita kerjasama yang baik ya sekolahnya biar lanca, selesai cepat, dan semua happy. Ok?" Kata saya dengan yakin, untuk meyakinkan diri sendiri.


 Rabu, 13 January 2021

06.00 WIB

Saya: "K, Ayok bangun kan mau sekolah" 

K: "Sebentar Bunda... Aku masih ngantuk bangettt...." 

Setelah berkali-kali dibangunkan dan mendapat jawaban yang sama, akhirnya dia bangun jam 06.40 WIB.


06.45 WIB

Saya: "K, ayok kita sarapan dulu terus mandi. Udah mau masuk ini sekolahnya" Kata saya.

K: "Sebentar Bunda... Aku kan baru banguuun.." 

Setelah berkali-kali diajak, baru berhasil bersiap jam 07.40 WIB.


08.00 WIB

Saya: "K, Ayok kita mulai sekolah. Matematika. Sudah terlambat ini kita" Kata saya.

K: "Iyaaa... Sabaaarrr..." 

Saya: "Berdoa dulu yuk..." 

K: "!@##$$%%^" Berdoa dengan nada tidak jelas.

Saya: "Yang betul berdoanya biar Tuhan mudah mengabulkan" Kata saya mulai pasang kuda-kuda, K berdoa dengan benar. 

Saya: "Kita belajar dari Power Point nya dulu ya... Baru nanti menonton video nya biar lebih mengerti... Sekarang kita belajar penempatan bilangan, penjumlahan bersusun. Penempatan bilangan itu..." Belum selesai saya menjelaskan, K menyahut...

K: " Iyaaa... Aku udah tahu. Ini gampil. Aku udah belajar di TK" Katanya

Saya: "Kita belajar lagi biar lebih mengerti ya"

K:" Ish, Bunda nih... Aku udah tahuuu.... Lanjut aja" Saya mulai menghela nafas sedikit lebih banyak.

Saya: "Ya udah, bener ya udah bisa. Kalau gitu kita belajar penjumlahan bersusun saja. Nih, bentuknya begini.... Yang ini, kan angkanya 16. Berarti 1 puluhan ditambah 6 satuan. Yang ini angkanya 3, berarti 3 satuan. 6 ditambah 3 sama dengan 9, ditulis dibawahnya. Yang angka 1 puluhan... " Lagi-lagi, belum selesai saya menjelaskan, K memotong kalimat saya...

K: "Haduh bunda, I don't understand banget itu apa... I can not think..." Nafas saya 3 detik lebih panjang dari biasanya. 

Saya: "Ya udah kalau gitu nonton video nya Bu Guru saja. Siapa tahu kamu jadi lebih paham" Saya putarkan video yang disiapkan oleh ibu guru nya, dan dia nampak menyimak. 


Saat video tutorial nya selesai, sampailah dihalaman yang memuat halaman tugas yang harus dikerjakan. 

Saya: "Sudah selesai kan? Yuk kita kerjakan tugasnya" Saya menyiapkan bukunya. 

K: "Aku kok mulai ngantuk lagi ya bunda" Katanya sambil menguap. 

Saya: "Nanti malam tidurnya jangan malam lagi. Tidur sore lagi biar pagi semangat" 

K: "Aku memang nggak semangat kalau sekolah" Otak saya sudah mulai menghangat. 

Saya: "Nih, yang halaman pertama gampil banget. Kamu pasti bisa" Kata saya menunjukkan halaman buku yang dimaksud.

K: "Iya, ini sih gampang banget. Easy peasy lemon squeesy" Katanya sambil mengerjakan. 


Saya duduk di sofa dibelakang kursi K, dan memilih untuk merajut. Jaga-jaga kalau ternyata butuh pengalihan. 


K: "Kalau aku bilang ping ping... Berarti I need help ya Bunda... Jadi Bunda kesini" Kata K. Saya tertawa dan mengiyakan. 

K: "Ping ping" Katanya

Saya: "I am coming"

K: "Ini banyak banget gambarnya. Kalau aku tambahkan semuanya ini sama ini sama ini, udah banyak banget aku menghitungnya..." Katanya. 

Saya: "Ya kan nggak disuruh menghitung semua. Mana sekarang yang belum bisa? Eh udah semua yang ini. Ok kita ke halaman selanjutnya ya... " 

K: "Sebentar Bunda, aku mau ambil minum dulu" K beranjak ke dapur dan saya menyiapkan halaman selanjutnya. 

Lamat-lamat saya mendengar suara ayahnya K ngobrol dengan K. 

Ayah: "Sudah selesai sekolahnya?" Tanya Ayahnya

K: "Belum, aku mau ambil minum dulu" Suara K.

Ayah: "Ambil minum kok malah tiduran di kursi?" Suara Ayahnya. Saya yang mendengar, langsung keluar. 

Saya: "Katanya ambil minum, kok malah tiduran?" 

K: "Iiih... Ayah nih spoiler. Aku nggak mau belajar lagi kalau ayah spoiler gitu..." 

Dan drama pertama pagi ini (kalau yang sebelumnya masih belum termasuk drama), dimulai. K ngambek dan lari ke balkon sambil bilang bahwa dia tidak mau belajar lagi karena ayahnya spoiler. 

Baiquelah... Setelah beberapa menit berlalu hanya untuk membujuk anak wedhok, akhirnya dia mau duduk manis kembali untuk sekolah. 

Saya: "Yuk kerjain yang ini. Ini tadi yang bunda jelasin itu. Tulis dulu berapa puluhan dan berapa satuan, baru ditulis angka hasilnya" Kata saya kemudian merajut untuk mengurai emosi yang mulai bangkit. 

K (baru selesai 1 nomer): "Aduh bunda... Aku headache banget ini... Bentar aku minum dulu..." 

Dia ke dapur untuk minum (menolak membawa cangkirnya ke tempat sekolah), dan kembali duduk meneruskan pekerjaannya. Setelah beberapa nomor selesai, dia kembali lagi berkata.

K: "Bunda, aku beneran headache ini sekarang. Kenapa ya?" Tanyanya. 

Saya: "Karena kemarin-kemarin otaknya kebanyakan istirahat. Sekarang diajakin mikir jadi terasa sedikit sakit. Bunda juga kalau lagi banyak pekerjaan begitu. Yuk lanjutin masih banyak ini tugasnya" Kata saya. 

K: "Sebentar, aku stretching dulu ya... Mungkin nanti headache aku hilang" Dan dia bergerak-gerak pemanasan kecil, baru kemudian melanjutkan tugasnya. 

Saya: "K, kalau kamu ngerjainnya banyak selingan begitu, malah nggak selesai-selesai lho. Jadi lama" 

K: "Bunda ini nggak sabaran banget. Sabar donk Bunda. Coba saja Bunda yang ngerjain. Memang nya dulu Bunda juga mengerjakan begini?" 

Emosi yang sempat mereda dengan rajutan, kembali terusik. Namun seolah mendapat angin segar untuk memompa semangat K, saya mulai bernostalgia. 

Saya: "Iya donk... Dulu tuh ya, Bunda kalau ada tugas begini, semangat banget ngerjainnya. Pengen cepet selesai karena kalau sudah selesai, kan tinggal main nggak mikir tugas lagi. Terus kalau ada buku begini, Bunda seneng banget, karena bisa buat latihan sendiri" Kata saya panjang lebar. 

K: "Pameeerrr... Sombooong... Bunda ini senengannya pamer deh" Bah! Gimana ini ceritanya. Saya diam. 

Dan beberapa obrolan/diskusi/perdebatan/drama diatas, berulang dan berulang beberapa kali. Hingga akhirnya tugasnya benar-benar selesai. 

Hari ini saya cukup senang, karena ternyata sambil merajut, saya bisa meredam emosi yang kemarin sempat meledak-ledak hingga saya nyaris menangis. 


*** 


Dear Covid, please hear my voice from deep down of my heart. 

You are so mean

You make million people suffer. 

Suffer from the lost of loved one, suffer from being isolated with very limited access, suffer for having double triple job in the same time as Mother/Wife, worker, teacher, and many other things. 

Please, go away. Aamiin

#DramaSFH #DramaPJJ #WhenMomBecomeAnEnemy

Tuesday, January 12, 2021

Bisa Karena Kepepet, Lama-Lama Jadi Biasa

Kali ini saya hanya ingin berbagi hal kecil (tapi sangat besar untuk saya, Mas Bojo, dan K) yang terjadi minggu lalu. Tepatnya di Mall yang letaknya selangkah di depan perumahan kami. 

Jadi waktu itu, kami sedikit belanja karena ada beberapa kebutuhan yang harus kami beli. Setelah selesai dengan semua barang yang kami perlukan, kami berjalan ke kasir. K ingin membeli cokelat yang bungkusnya berwarna biru (atau ungu deh?) itu, yang mana sekarang diletakkan didalam kaca. Jadi harus menghubungi penjaganya untuk bisa mengambil. 

K: "Bunda, aku mau coklat yang biasa aku beli itu lho" Katanya

Saya: "Boleh, kamu bilang ke mbak nya, nanti diambilin sama mbaknya" Kata saya. 

K: "Bunda aja... Kan Bunda bisa..." 

Beberapa kali K meminta saya untuk mengambilkan, namun saya menolak dan memintanya untuk mencari mbak penjaga. Mas Bojo, seperti biasa. Tidak tahan dengan rengekan anaknya, terus mencoba berjalan ke arah coklat itu. 

Saya: "Ayah, no. Biar K minta ke mbak nya sendiri. Itu nggak bisa kita ambil langsung. Harus sama mbak nya" Kata saya. K marah mengetahui saya melarang ayahnya. 

K: "Bunda kenapa sih? Biasanya kan juga ayah yang ambilin aku. Kenapa sekarang dilarang?" 

Saya: "Karena sudah saatnya kamu belajar untuk berani mbak. You want it, you earn it"

Setelah itu, adegan K berputar-putar dari gang ke gang berjalan cukup lama. Saya sangat memahami perasaannya, dimana dia sangat menginginkan sesuatu, namun juga sangat malu dan tidak berani memanggil penjaganya. Dulu waktu kecil pun, saya seperti dia. Persis. Sering saya menginginkan sesuatu, namun saya terlalu malu untuk bertanya atau meminta. Sehingga jatuhnya hanyalah berupa rengekan, dan berbalas dengan cubitan manjah dari alm ibuk saya tercinta :-)

Saya ingin K lebih baik daripada saya. Dia yang memang termasuk anak yang sedikit pemalu itu, harus mencoba untuk mulai berani. Saya yakin jika sekali ini dia berhasil mengalahkan rasa malunya, kedepan dia tidak akan pernah malu atau takut lagi untuk melakukan hal yang sama. Level PD nya akan meningkat pesat, saya yakin sekali. 

Beberapa kali K kembali kepada saya dan Mas Bojo yang menunggu didekat kasir, namun saya tak bergeming. Ayahnya mulai tidak sabar, namun saya masih bisa meyakinkannya. K berputar-putar tak tentu arah selama beberapa lama lagi. Kami pura-pura tidak melihat. 

K: "Bunda, bunda aja yang bilang mbak nya..." Kata K kembali mendekat pada saya. 

Saya: "Kamu nggak terlalu mau coklat itu?" 

K: "Aku mau bangettt bunda..." 

Saya: "Kalau kamu mau banget, go find mbak nya, bilang kalau kamu mau beli coklat yang didalam kaca. Yuk. Bunda sudah mau bayar ini" Saya mengajak ayahnya berjalan mengantri di kasir. 

Saya dan Mas Bojo mulai mengantri di kasir, sedangkan K kembali lagi berputar-putar mengitari gang yang ada coklatnya. Ketika keranjang kami tepat berada didepan kasir, Mas Bojo mengerling ke arah rak coklat. Saya melirik sedikit dan melihat K bersama dengan mbak penjaga berjalan menuju rak coklat. Saya tersenyum. Saya tahu beberapa saat lagi K akan berlari ke arah kami dengan senyum yang sangat lebar, rasa bangga dan percaya diri yang membubung tinggi. Dan benar saja. 

Dia berlari mendekati kami dengan senyum penuh gigi lebar sekali. Saya memeluknya dan mengatakan bahwa saya sangat bangga menjadi bundanya.

Saya: "Coba lihat dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat pasti ya?" Tanya saya.

K: "Iya, aku deg-degan banget. Tapi aku bisa" Katanya.

Saya: "Tentu saja kamu bisa. Kamu kan hebat" 

Dan acara belanja sore itu, menjadi acara keluarga yang menyenangkan sekali. 

Sunday, January 3, 2021

Happy New Year, 2021!

Selamat Tahun Baru 2021!!!

Meskipun tidak pas tahun berganti banget, tapi ndak masalah lah ya. Better late than never, ceunah. 

Tahun Baru, Semangadh Baru!!! <-- Adalah motto saya tahun ini. Diucapkan dengan menggebu-gebu, dari dalam hati, kalau perlu sambil muncrat. Biar lebih terasa gregetnya. 

Tahun ini, saya tidak banyak membuat resolusi. Tapi saya sangat-sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan saya dan keluarga saya kesehatan dan kesempatan untuk bisa sampai di tahun baru ini. Karena seperti yang kita tahu, bisa melewati Tahun 2020 dengan selamat dan tetap waras saja, sudah merupakan anugerah yang tak terhingga. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?

Tahun 2021 ini saya buka dengan sebuah semangadh untuk mengalahkan diri saya sendiri. Mengalahkan ketakutan, rasa malu, ego, tidak percaya diri, dan juga idealisme dalam diri ini. Hal ini saya ejawantahkan melalui kelahiran buku cerita (novel) saya melalui platform online, Wattpad. Ini adalah ejawantah dari perenungan yang cukup lama, dan tarik ulur. Saya akan menceritakan kisahnya dibawah ini. Mungkin alurnya maju mundur, loncat-loncat, atau mungkin kurang nyambung disana dan disini. Karena masih terlalu banyak rasa yang membuncah di dalam dada ini sampai saat ini. - Lebay

Kisah yang saya beri judul 'Mencari Pelangi di Ujung Senja" ini sebetulnya berawal dari cerita pendek saja. Kalau penulis sekelas Dee Lestari menyebutnya manuscript, saya hanya cukup PD dengan menyebutnya sebagai coret-coretan. Cerita pendek ini sudah sangat lama saya tuliskan, kalau tidak salah sekitar tahun 2008 atau 2009. Saya lupa tepatnya. Cerita pendek yang terinspirasi dari kisah hidup teman saya kala itu. Namun ceritanya berdiam di hard disk saja. 

Sampai tahun 2020 kemarin saya menunjukkannya pada salah seorang teman yang pekerjaannya adalah menulis. Sebut saja namanya E K A. Saya masih ingat saat itu teman saya ini bertanya setelah membaca "Cerita kamu ini, bisa banget dibikin panjang. Kayak masih banyak yang bisa terjadi gitu di balik cerita kamu ini. Coba aja panjangin" Katanya. Dan kebetulan saat itu Gramedia Pustaka Utama sedang membuka kompetisi penulisan novel. Entah bagaimana saya kemudian mengikutkan diri dalam kompetisi itu. Saat itu saya sedang mengambil Sabbatical dari pekerjaan selama 6 minggu. Dan di saat itu, entah bagaimana rasanya ide begitu mudahnya mengalir membersamai perjalanan Siwi menjadi pelangi selepas senja. Hingga akhirnya kisahnya berakhir dengan kata T A M A T yang sangat saya banggakan. 

Awalnya saya dan Eka berniat membedah satu persatu bab yang ada. Saya membedah cerita, dan Eka membedah dari sisi penulisan, EYD, dll. Namun karena dia sibuk, akhirnya saya main hajar bleh semua cerita yang ada dikepala saja. Saya sempat meminta sepupu saya yang berinisial V I F I dan juga teman saya yang berinisial U P I , untuk membaca buku saya. Saya ingin mendapatkan feedback dari orang-orang yang dekat dengan saya terlebih dahulu. Namun sepertinya mereka adalah member #PasukanHalu yang sangat militan, sehingga mereka memuji tulisan saya dan berkata bagus. Vifi bahkan dengan rajin menanyakan pada saya "terusannya mana?" blah. Oh iya, #PasukanHalu itu adalah julukan saya pada teman maupun saudara yang berkenan ikut sedikit halu membaca cerita saya. Member terakhir yang bergabung adalah suami saya, saat dia mau melakukan checking di bagian Bahasa Sunda. hahaha

Pada akhirnya novel saya tidak terpilih, beberapa teman saya lolos. Tapi buat saya, saya sudah lolos terlebih dahulu ketika akhirnya bisa benar-benar punya cerita panjang yang tamat. Aaahhh... Bahagianya itu rasanya teramat sangat manis. Terima kasih untuk Eka yang telah menemukan satu kalimat yang hilang dari saya, yang kemudian memantik semua ini hingga sekarang. Juga terima kasih untuk #PasukanHalu yang dengan kata-kata indah alias sweet lips nya mampu membuat saya semakin halu dan menyelesaikan cerita dengan percaya diri. :-p

Tergambar dipelupuk mata saya, novel saya akan bertengger manis di rak buku saya, dan juga rak buku teman-teman saya. Terbayang saya akan dengan semangat mengiklankan buku saya pada teman-teman melalui medsos, WA, ataupun japri satu-satu. 

Pertengahan tahun 2020 hingga awal tahun 2021 adalah saat-saat yang sangat unik. Pandemi membuat semua keadaan diluar kendali. Anak sekolah di rumah, suami bekerja dari rumah, membuat rytme hidup saya berubah sedemikian drastis. Dari situ juga, banyak pertumbuhan yang saya mungkin kurang sadari. 

Saya berniat untuk mengurangi buku di rak-rak dan box-box, baik yang sudah pernah dibaca, ataupun yang sepertinya tidak akan saya baca. Namun misi ini selalu gagal. Karena setiap saya menurunkan semua buku untuk di pilah, pada akhirnya hampir semua yang menurut saya menarik akan kembali lagi nangkring manis di rak itu. Diam menjadi pajangan, namun enggan untuk direlakan. 

Dua teman saya yang sudah berhasil melewati fase kegalauan memilah buku, justru menawarkan buku-bukunya yang sudah tak memiliki tempat baik dirumahnya maupun dihatinya. Dan saya seperti biasa, dengan senang hati menerimanya. Lah?

Dua hal ini membuat saya berfikir. Jika buku sekelas bukunya Dee Lestari sampai Nora Robert saja bisa orang relakan untuk diberikan ke orang, apakah buku saya yang baru belajar ini akan menjadi pilihan bagi orang untuk mempertahankan? Mempertahankan dalam artian untuk dibaca karena senang, bukan karena rasa tidak enak karena kami berteman. Saya sendiri selama ini sering membeli buku karena "wah, temen bikin buku. Ya udah gw beli juga lah", namun tak harus menunggu tahun berganti, buku-buku tersebut (jika genre nya bukan yang saya senangi) pasti sudah lenyap dari pandangan. 

Selain itu, pengalaman saya dalam memasarkan buku Antologi Cerita Saat Jeda yang ditulis oleh 27 orang alumni Kaizen Semut Merah, yang di Ampu oleh Dee Lestari, juga membuat saya berfikir. Menjual karya sendiri, terlebih lagi buku, ternyata tidak mudah. Saya pernah jumawa bahwa teman-teman saya banyak, dan rata-rata mereka senang membaca. Kalau aku nulis dan cetak buku, mereka pasti belilah. Kan teman. Ternyata Cerita Saat Jeda membuka mata saya, bahwa tidak semudah itu Jendral!

Semangadh menggebu saya sedikit surut, melihat kenyataan bahwa mengajak teman atau saudara untuk membeli buku kita, tak semudah mengajak mereka untuk ngopi atau nongkrong. Meskipun biayanya sama. Meskipun mereka yang kita tahu senang membaca, belum tentu mereka mau membeli buku kita. For whatever reason for sure. :-p

Akhir tahun 2020, karena situasi masih pandemi, pergerakan masih dibatasi, saya banyak menghabiskan waktu dengan melihat-lihat lagi coretan-coretan lama saya. Ternyata, saat saya melakukan itu, muncul pertanyaan di kepala saya. "Aku menulis, untuk mencari uang, dikenal orang atau karena hobby dan menyalurkan isi kepala yang sering jalan-jalan sendiri?". Pertanyaan ini datang berulang-ulang setiap saya menilik kembali coretan saya. 

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti arah keinginan saya. Yang tadinya ingin mencetak buku-buku saya dan menjualnya sendiri, akhirnya saya niatkan untuk melahirkannya melalui platform membaca online. Dan untuk yang pertama (dan sepertinya yang kedua juga) ini, saya menggunakan Wattpad sebagai wadahnya. Tapi saya tidak mengubur keinginan untuk bisa mencetaknya menjadi buku yang bisa dipegang dan dipajang di rak buku, hanya tidak sekarang. Mungkin saat saya sudah punya satu atau dua buku lainnya, saya bisa mencetaknya bersama-sama. 

Dengan melahirkannya melalui platform online ini, hanya mereka yang benar-benar ingin membaca cerita saya lah yang mungkin akan mengikuti kisahnya. Namun tak mengapa. Bukankah itu salah satu tujuan kita menulis? Untuk dibaca, bukan sekedar di pajang, atau bahkan berakhir di tukang loak. 

Dulu, setidaknya sampai dengan awal Tahun 2020, saya masih befikir "mungkin kita bisa mencari uang dari menulis?" Namun kondisi pandemi 2020 membuat saya banyak mengikuti cerita para penulis. Dan akhirnya legowo dengan kenyataan "Kalau belum sebagus Dee Lestari atau Jodi Picoult atau JK Rowling, sebaiknya menulis lebih karena hobby saja" haha. 

Perjalanan di atas, menentukan arah Tahun 2021 untuk saya. Selain meneruskan resolusi turun temurun ini, saya akan work my ass so hard dengan pekerjaan kantor saya sehingga saya tetap bisa mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan saya akan work my ass so hard juga untuk menggunakan waktu luang dengan lebih baik lagi. Mungkin menulis sebanyak-banyaknya, mungkin merajut sebanyak-banyaknya, mungkin belajar sebanyak-banyaknya. Apapun itu, membuat waktu berlalu dengan lebih berisi sehingga hidup kita lebih berarti. 

Selamat Datang 2021, Bring It On!