Tuesday, March 7, 2023

Mengenang Ibuk Melalui Siniar SMK - Kematian

Memasuki Bulan Februry - Maret, selalu membawa suasana sendu bagi saya. Karena bulan-bulan ini di tahun 2019 lalu adalah keadaan yang sangat tidak bisa dilupakan. Saat kami harus kehilangan Ibuk untuk selama-lamanya. 

Luka yang menganga akibat kehilangan beliau, belum juga kering sempurna hingga saat ini. Masih banyak ganjalan-ganjalan yang mengganggu nafasku terkadang. Namun hidup terus berjalan bagi yang ditinggalkan. Jadi, ya jalani saja... 

Bersyukur saya pernah mengabadikan semua perasaan ke dalam cerita ini. Podcast SMK memberi wadah bagi saya menyimpan kenangan pada Ibuk. 

Barangkali ada yang ingin menyimak, monggo di sini ya...

Podcast Kematian - by Wilis J

Makasih!

Tuesday, February 28, 2023

Siniar SMK - Dusun Fiksi Febuari 2023

 Sekedar ingin berbagi di sini, barangkali ada yang ingin mendengarkan suara merdu sumbang saya di Siniar SMK yang legendary itu. hahahaa

Bulan Febuari 2023 adalah giliran Dusun Fiksi dari Komunitas Semut Merah Kaizen yang unjuk gigi dalam tantangan paling spektakulernya Tim Siniar SMK #365HariBersuara. 

Dan seperti biasa mbak sis ini juga nggak mau ketinggalan, ikut mendaftar buat numpang nampang yekaaan. 

Karya terbaru saya yang terbit bersama dengan team Antologi Sastra Anak, judulnya Rapundress, ikut mejeng di Siniar SMK. Lumayan lah pokoknya. 

Kalau ada yang berminat mendengarkan, atau ketinggalan pas waktu tayangnya bulan ini, bisa di simak di sini yaaa...

Rapundress by Wilis J

Makasih!


Tuesday, February 14, 2023

Saat Anak 9 tahun Valentin-an

Hello February!


Kata orang, Febuari adalah bulan penuh cinta, serba pink-pink, serba manis semanis coklat. Banyak di antara kita yang ikut merayakan Hari Valentine dengan berbagai cara, sesuai dengan kesenangannya masing-masing. 

Saya sendiri, tidak merayakan Valentine, dan tidak ikut memakai baju pink atau memberi/menerima coklat. Bukan karena anti, lebih karena nggak punya waktu dan nggak punya duit buat dialokasikan ke sana. hahahahaa. 

Tetapi saya selalu ikut berbahagia menikmati keriuh-ramaian Bulan Februari. Senang melihat di minimarket banyak dipajang coklat dengan tema Valentine, melihat orang membeli coklat-coklat itu, dan melihat orang mendapatkan buket-buket cantik dari kesayangan masing-masing. Dan yang paling seru menurut saya dan suami adalah saat melihat di pinggir-pinggir jalan, anak-anak sekolah (terutama laki-laki), membawa setangkai mawar merah. Saya dan suami sering tertawa karena menskenariokan bagaimana mereka akan memberikan setangkai bunga itu pada orang yang mereka sayangi. Mungkin Ibu, mungkin juga kekasih hati. Menghangatkan hati bukan? 

Tahun ini, selain dari cerita-cerita yang berulang dari tahun ke tahun di atas, saya ketambahan cerita yang 'close to home' banget. Siapa lagi kalau bukan gendhuk cah ayu adol gendruk ra payu semata wayang yang sedang berusia 9 tahun itu. Tahu kan siapa?

Tahun ini K melewati Hari Valentine di kelas 3. Sekitar 2 minggu yang lalu, di tengah obrolan random kami, dia tiba-tiba berkata:

K: "Bunda, Hari Valentine itu kapan ya?" tanyanya.

Saya: "14 Febuary. Pas ulang tahunnya Tante Lucy," kata saya.

K: "Oh, okay." Saya curiga dengan tanggapan pendeknya, karena seringnya mengandung perkataan yang tidak diucapkan. 

Saya: "Kenapa?" saya penasaran yekan.

K: "I think I'm gonna confess my feelings," jawabannya yang diucapkan dengan kalimat lempeng tanpa ekspresi tambahan, membuat saya hampir menanggapi dengan lebay. Tapi saya tahan.

Saya: "Wow. To who?" Dalam hati saya sudah terngakak-ngakak, tapi berusaha memasang tampang lempeng juga.

K: "I am not gonna tell you. Nanti Bunda kebanyakan tanya-tanya kalau aku bilangin." Serius, dia bilang begini juga dengan ekspresi yang sangat lempeng. 

Saya: "Bukannya kita janji untuk selalu berbagi cerita apapun itu?" pancing saya masih penasaran.

K: "Soalnya nanti Bunda itu jadinya nanya terus kalau aku bilangin. Tapi nggak papa sih sebenernya. Aku tuh punya banyak temen cowok. Kalau Bunda tahu yang satu, aku tinggal ganti aja." Di sini saya tak lagi bisa memasang tampang lempeng. Jadi saya tertawa ngakak beneran.

Saya: "Okay. Go for it, K!" hanya itu yang bisa saya katakan, sebagai ikhtiar menjadi Ibu yang Cool. 

Untuk sejenak saya tidak menanyai K lagi tentang obrolan kami saat itu. Saya berlagak itu hanya obrolan biasa yang tidak terlalu membuat saya kepo. Walaupun sebetulnya saya sudah muncrat-muncrat ke ayahnya, dan juga ke beberapa teman. Saya butuh teman untuk mentertawai kepolosan anak-anak kecil jaman now ini. 

Minggu lalu, saat kami sedang berkendara di atas motor, secara iseng saya tanyai K:

Saya: "So, K about the boy that you want to confess to. Is he from school, or from the course?" 

K: "School." 

Saya: "Okay." Sependek itu pertanyaan dan jawaban emak dan anak ini. 

Beberapa hari kemudian, saya bertanya lagi saat kami bersiap tidur:

Saya: "Mbak, is there any plan for Valentine? Related to your mission to confess your feelings?" 

K: "I think it'll be coklat, candy, notes, and talk." Fineeeee... Banyak ya siiiiissss... hahahaha

2 hari kemarin, K minta diantarkan ke minimarket di depan komplek untuk membeli coklat. Saya diam tidak bertanya karena sudah tahu rencananya dengan Valentine's day. Dia membeli coklat yang berisi 2 dalam 1 kemasan. Saat di rumah, baru saya tanya:

Saya: "K, kamu mau kasih 2 ke temen kamu?" 

K: "Enggak, 1 aja." 

Saya: "Oh, yang 1 buat ayah atau bunda ya?" 

K: "Enggak donk, buat aku. Kan aku suka coklat." Saya dan ayahnya hanya berpandangan sambil mesam-mesem. Memang K adalah pelahap coklat, jadi walaupun pesona Hari Valentine cukup membuatnya tergerak memberi temannya, tetapi tidak tergerak berbagi dengan Ayah atau Bundanya. Efffaaaiiiineee mbaaak :-p

Hari ini, pulang sekolah K menceritakan bahwa teman-temannya juga berbagi coklat kepada teman lain dan juga gurunya. Saat saya tanya kenapa dia tidak memberi gurunya coklat, dia menjawab bahwa dia tidak terpikirkan. Sepertinya pikirannya hanya kepada temannya yang ingin dia beri coklat saja. Menurut cerita K, proses dia memberi coklat tidak berjalan selancar rencananya, karena akhirnya hanya coklat saja yang dia berikan, tanpa permen, tanpa ucapan ataupun notes seperti yang sudah dia bayangkan. Sepertinya dia grogi, karena katanya teman-temannya sempat menyorakinya. That's the fun part, mbak! :-p

Untuk beberapa orang, mungkin mendukung anaknya untuk memaknai Hari Valentine, dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Bagi saya dan juga suami, rasanya perlu. Bukan untuk membuat anak meyakini hal-hal diluar ajaran agama kita, melainkan agar mereka tumbuh organik dalam merespon hal yang terjadi dilingkungannya. Saya tidak mengenalkan dia tentang Hari Valentine, dia mengenalnya melalui teman-teman dan iklan yang dia temui di berbagai tempat. Saat dia bertanya mengenai Valentine, saya jelaskan bagaimana tradisi Valentine masuk ke dalam kehidupan kita. 

Saya dan suami menggunakan lirik lagu 'The Night" nya Avicii sebagai gambaran kehidupan, mencangkoknya untuk kami mengenalkan dunia nyata pada anak kami. Bagian favorit kami adalah: 

"He said, - One day, you'll leave this world behind... So live a life you will remember..."

Mbak K, live your life!

Love, 

Bunda & Ayah

Friday, January 6, 2023

The Things You Can See Only When You Slow Down

Kali ini saya ingin menceritakan betapa senangnya saya saat melihat kalender masih menunjukkan angka 6. Artinya, Bulan Januari 2023 belum habis separuh, dan saya sudah masuk ke Buku Ke-2 saya. Ini di luar buku cerita yang saya bacakan untuk K tentunya ya. Yuhuuu... Coba setiap bulan bisa istikomah begini, pasti rekor tahunan membaca saya bisa semakin baik. Bismillah aja dulu yekan... :-p

Buku yang kedua ini adalah buku dari Haemin Sunim yang judulnya The Things You Can See Only When You Slow Down. 



Buku ini sudah ada di wishlist bacaan saya di Google Playbook dari lama sekali. Namun, baru akhir tahun kemarin saya beli. Karena ada diskon besar-besaran pastinya. ahhahaa. Monmaklum ya emak-emak banyak nganunya ini memamng nganu lah pokoknya. 

Buku ini sebetulnya adalah kumpulan tulisan-tulisan pendek yang Haemin Sunim tulis di media sosialnya. Karena banyak yang suka, akhirnya dibukukan. Setelah membaca beberapa halaman, saya jatuh cinta. Tidak hanya pada tulisannya yang ringan, penuh isi, dan penuh ajaran bagus, tetapi saya juga jatuh cinta pada gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalamnya. 



Gambar-gambar nya sederhana, menenangkan, penuh makna, tapi masih tetap menghibur menurut saya. Satu aura dengan tulisannya. Memberikan rasa nyaman. Konon pembuat ilustrasinya adalah Younacheol Lee. Kapan-kapan saya mau kepoin juga beliau. Siapa tahu lebih banyak lagi gambar-gambar ciamiknya. 

Oh iya, kenapa sih saya bisa mendarat di buku ini, hingga akhirnya suka sekali? 

Jadi, beberapa tahun terakhir ini saya memang merasa betapa waktu berlalu sangat cepat. Cepat sekali malahan. Sehingga saya sering sekali keteteran menuntaskan tanggung jawab atau target-target saya. Pada akhirnya, saya akan selalu merasa "haduh, belum sempet ini itu udah akhir tahun lagi", dan sebagainya. Saya paham betul bahwa waktu kita didunia itu sama saja 24 jam dalam 1 hari. Yang tidak sama adalah kegiatan yang kita lakukan, kecepatan badan kita menjalankan, serta kecepatan pikiran kita merencanakan. dan memikirkan. 

Saat waktu berlalu begitu cepat, saya mengerti bahwa semua itu terjadi karena aktifitas saya yang banyak melakukan kegiatan rutin dan perpindahan ke banyak tempat dalam satu hari. Sehingga tak terasa hari sudah petang atau malam saat saya mengistirahatkan badan di rumah. Keesokan harinya, semua berulang, lagi, dan terus-terusan. 

Saya banyak membaca artikel dan mencari tahu bagaimana cara agar kita tidak terlalu termakan oleh rutinitas harian ini. Setidaknya, meskipun kegiatannya banyak berpindah-pindah, tetapi hati dan pikiran kita tidak menjadi lelah ataupun merasa kehilangan waktu. 

Saat mencari itulah saya mendarat di buku ini. Menurut banyak artikel yang saya baca, buku ini layak dibaca saat kita merasa terlalu sibuk. Buku ini diyakini dapat membantu kita lebih rileks dan membumi. Nanti saya bagikan lebih lanjut mengenai isinya ya. Sekarang lebih kepada latarbelakang kenapa saya membaca buki ini dulu saja. :-)

Meskipun anak saya bilang kalau saya tetap biasa saja walaupun senang membaca buku, bukan berarti saya harus berhenti membaca buku kan.  hahaha. Jadi yuks kita mulai lagi baca-baca buku. Lumayan buat mengisi waktu, kalau sedang jenuh dengan drakor ^_^