Sunday, December 14, 2008
Dead Line itu indah...
"aduh....besok deadline kerjaanku nih..."
Yang kayak gini nih, yang kadang membuatku harus kehilangan beberapa moment.
yang kayak gini juga yang akhirnya membuat aku harus ngiler ketika hanya bisa mnedengar cerita2 manis temen2..
Pokoke, yang kayak gini akhirnya membuat aku susah..
Contoh :
sekarang ini, aku lagi dikasih kapercayanan (kepercayaan_red) dari seorang teman yang baik hati untuk mengerjakan sesuatu yang tak boleh disebut (halah...)
jatah waktunya sampai tanggal 12 Desember 2008.
eh, dasar si wilis ini memang tukang molor (waktu maksud'e),
maka lobby tingkat tinggi dilancarkan. hehehe...hari senin inilah deadline-nya (15 des)
padahal sampai dengan tulisan iki dibuat,
masih belum 50%. hwahahahah
tapi ya itu, seperti lagunya thukul : "yoooo....wis ben..."
nih sekarang baru mau ngerjain lagi.
hehehe
Berubah???
yo pasti pengen tho...
meskipun pelan, tapi aku sih yakin iso..
biar nanti kalau ditanya orang udah nggak harus bilang :
"ya...masih gini-gini aja mbah..."
Monday, July 28, 2008
Mereka Menunggu Untuk Berkata Akhirnya....
Hari ini aku kembali menginjakkan kakiku di wilayah kampusku, tepatnya fakultas teknik-ku. Untuk apa?? Untuk mengurus penundaan SPP.
Selama setahun belakangan ini, kedatanganku kesana bisa dihitung dengan jari. Hal itu merupakan salah satu bagian dari kebodohan dan kelalaianku. Menyesal??sedikit. selebihnya aku menikmati setiap detik yang pernah aku buang. Kalaupun aku menyesal, aku dapat apa?”sakit hati pastinya”
Memang dalam sebulan terakhir aku mulai membangkitkan rasa cintaku pada kampusku, sebagai bentuk dari niatku memperbaiki diri. Namun masih belum memasuki wilayah fakultasku, dan hanya sekedar di perpustakaan.
Kembali pada kisahku hari ini…
Ketika aku memasuki ruang TU, aku hanya melihat Pak ………….. sedangkan ibu-ibu yang biasanya melayani mahasiswa ruanya sedang keluar.
Aku bertanya kepada bapak itu, “pak, apa kabar??” dengan diikuti senyuman lebarku tentunya. Si bapak yang memang masih ingat padaku juga tersenyum lebar.
“kenapa?” tanyanya.
“mau ngurus penundaan SPP pak…gimana caranya ya?” tanyaku
“ udah ngisi formulis belum?” tanyanya lagi.
“belum pak” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“nih, baca dulu petunjuknya. Nanti minta formulirnya ke bu Ros.” Katanya sambil menyerahkan 1 bendel kertas yang berisi 3 halaman.
“pinjem dulu ya pak mu dibaca disini.” Aku langsung duduk di kursi yang ada di ruangan itu dan membaca isi formulir itu.
Isinya mengenai penjelasan bagi mahasiswa yang ingin mengurus penundaan SPP dan yang ingin membayar SPP.
Aku hanya mencari deadline-nya saja (rupanya udah mendarah daging kegiatanku mencari deadline lomba beberapa hari terakhir ini).
Ternyata kalau aku mengurus penundaan SPP, berarti aku harus siding paling lambat tgl 25 Agustus 2008 yang berarti sebulan lagi. Wuih….
Ya Allah….mampukah aku??
Akhirnya oleh bu Ros aku disuruh fotokopi formulir itu.
Sebelum aku pergi, bu ros menakan beberapa hal padaku :
“gimana lis, udah selesai belum?” tanyanya.
Dan seperti jawabanku padanya beberapa bulan yang lalu, aku hanya bisa berkata :
“sedang diselesaikan bu…”
“ masih kerja kamu?”
”enggak lagi bu, mau beres dulu aja”
“mendingan gitu lis, beresin dulu. Kamu tuh sering ditanyain bu nora. Wilis masih sering ke kampus gak ya bu, katanya.” Begitu penjelasan bu Ros.
“trus saya bilang beberapa waktu ini sih enggak bu…”lanjutnya
“anak itu masih kerja nggak ya…koq nggak pernah lagi ngadep saya” lanjut bu ros lagi.
“hehehe…udah nggak kerja lagi bu, tapi juga udah lama nggak ngadep bu nora.” Jawabku.
“kamu tuh harus sering-sering ngadep bu nora. Nanya apa aja gitu ama bu nora. Nanti di carekan lho…” kata bu ros.
“iya bu…makasih ya bu..”
“ya udah, smangadh ya ngerjainnya. Buruan diberesin biar bisa ikut yang oktober.”
“iya bu, doakan saya ya…” kataku sambil pamitan.
Ketika berjalan keluar, aku sedikit berpikir…
Ya Allah…banyak sekali orang yang mendoakanku, banyak sekali orang yang menghawatirkan aku, banyak sekali orang yang mengharapkan keberhasilanku. Kenapa selama ini aku lalai yang Allah…
Akankah aku harus mengecewakan mereka lagi?
Haruskah aku kehilangan semua perhatian itu ya Allah??
TIDAK….
Aku tidak boleh melakukan itu
Aku akan berusaha keras untuk bisa memutus rantai kebodohanku ini
Aku akan berjuang untuk bisa membuatku terutama dan membuat mereka semua bernafas lega…
Ingin aku bisa melihat semua orang berkata “ akhirnya….”
Berkati aku ya Allah…
Sunday, July 27, 2008
Ketakutan....
Aku berjalan sendiri di jalanan kayu yang disusun rapi menjadi sebuah jembatan panjang. Samping kanan kiri jalan adalah rumput alang-alang setinggi pinggang yang mulai menguning, dengan latar belakang gunung tinggi yang menjulang. Bayangan sinar matahari yang tertutup awan menimbukan kesan cantik yang berselang-seling. Ingin rasanya aku abadikan pesona alam itu banyak-banyak dalam kameraku. Namun sayang, aku baru menyadari kalau aku tidak membawa kamera kesayanganku itu.
Aku terus berjalan menyusuri jalanan itu. Jalanan yang seolah tidak asing dimataku. Serasa déjà vu, aku berusaha mengingat dimana kiranya aku pernah melihat pemandangan seindah ini. Aku juga tidak memahami kenapa jalanan seindah ini sepi dari orang. Kuikuti terus titian kayu ini, karena aku merasa penasaran dengan ujung dari jalan ini. Akan dibawa kemana aku jika terus mengikuti jalanan ini??
Lama berjalan, akhirnya aku melihat ada orang lain didepan
Ternyata di depan
Karena tak satupun dari mereka mau berbicara denganku, maka aku ikuti saja arus kemana mereka berjalan. Semakin lama semakin banyak orang yang bergabung dibarisan itu. Disela-sela orang yang tidak aku kenal, aku bisa melihat beberapa orang yang sangat aku kenal. Ketiga sahabatku dari SMU, teman-teman kuliahku, dan beberapa orang dari masa laluku.
“Kenapa mereka ada disini??apakah mereka saling mengenal??”tanyaku dalam hati.
Aku berteriak memanggil mereka, namun mereka sepertinya tenggelam termakan barisan orang-orang itu. Sekuat tenaga aku berusaha bergerak ke arah mereka. Begitu aku sudah mencapai ketiga sahabatku, aku bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka di tempat ini. Bukan menjawab, mereka malah menatapku dengan tatapan yang sama dengan orang-orang yang pertama tadi aku temui. Salah satu sahabatku memegang pundakku sambil berusaha tersenyum. Namun hanya senyum kesedihan yang aku temui disana.
Namun sebuah suara dalam kepalaku mengatakan, ikuti saja kemana mereka berjalan. Mungkin mereka hanya berusaha memberikan kejutan padaku. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, akupun mengikuti arus itu.
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup musik jawa dimainkan. Aku mengenal sekali musik itu sebagai musik pengiring pernikahan adat jawa. Rasa penasaranku kembali memuncak, siapakah yang menikah hari ini?apakah saudaraku, temanku, atau siapa?ataukan aku lupa untuk membaca undangan temanku?
Barisan yang awalnya berantakan itu mulai merapikan diri dengan antrian satu-satu. Rupanya didepan ada acara salaman dengan penerima tamu. Benarlah dugaanku bahwa aku sedang mendatangi pesta pernikahan, hanya saja aku belum mengetahui pernikahan siapa. Sepertinya giliranku untuk bersalaman dengan penerima tamu sudah dekat, namun karena orang-orang didepanku tinggi-tinggi, aku tidak bisa melihat kea rah depan.
Betapa kagetnya aku ketika aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan penerima tamu yang pertama. Dia adalah kakak perempuan Dimas. Dia juga tampak terkejut melihatku di depannya. Aku bersalaman sambil bertanya,
“mbak, siapa yang menikah ini?”tanyaku.
Namun dia tidak menjawab, justru dia tersenyum sedih dengan mata berkaca-kaca menatapku. Melihat mbak nita yang seperti itu, aku jadi ingin melihat penerima tamu yang lain. Kupalingkan kepalaku menuju para penerima tamu yang lainnya. Rupanya mereka adalah kakak ipar, ibu, dan ayah Dimas. Aku semakin penasaran. Semua orang itu menatapku dengan tatapan sedih.
Dengan terburu-buru aku menyibakkan barisan dan mendahului untuk sampai ke depan pelaminan. Serasa jantungku lepas dari tangkainya manakala aku melihat siapa yang duduk di pelaminan itu. Rupanya Dimas yang telah menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal. Aku tidak bisa berkata-kata, dan dimaspun terkejut melihat aku.
Tanpa sadar aku melangkah ke depan menuju pelaminan. Aku yakin semua mata sedang mengarah pada kami. Perlahan aku melangkah sambil terus menatap Dimas dan pasangannya yang telah berdiri. Setelah aku berhadap-hadapan dengannya, aku hanya mampu mengucapkan sepatah kata,
“kenapa?”tanyaku. Perlahan namun jelas terdengar di telingaku Dimas berkata,
“Maafkan aku…”. Tiba-tiba semua berputar seolah aku sedang melewati lorong waktu. Lalu dunia terasa gelap, dan aku tak sadarkan diri.
Kubuka mataku perlahan-lahan karena rasanya seluruh tubuhku baru saja dihimpit batu besar, sakit sekali. Entah bagian mana yang sakit, namun sungguh terasa sakit sekali. Setelah terbiasa dengan keadaan di sekelilingku, aku kembali terheran-heran. Aku merasa sangat mengenal ruangan tempat aku berbaring, dan kemana perginya orang-orang tadi?kemana Dimas?
Aku meraih gelas yang di sediakan di meja dan buru-buru aku reguk semua isinya. Rupanya dingin air putih yang masuk ke tenggorokanku mampu menyadarkan aku dari kelinglungan. Aku kembali menyadari bahwa aku masih berada dikamarku tercinta. Dan aku mengerti bahwa yang baru saja aku alami adalah sebuah mimpi buruk. Badanku terasa dingin sekali. Rupanya peluh sudah benar-benar menghabiskan ruangan kering pada baju yang aku pakai.
Langsung saja aku mengambil gagang telpon yang ada di atas meja. Ku teka nomor yang selama 4 tahun ini selalu berada di urutan pertama dalam daftar otakku. Lama tak ada yang mengangkatnya. Aku coba lagi sampai beberapa kali, masih juga tak ada yang mengangkat. Sampai berkali-kali aku menekan tombol redial, tapi tetap saja dering telpon diseberang sana nyaring mengambang.
Aku merenung di pinggir ranjang, memikirkan apa yang baru saja aku alami. Apa gerangan arti mimpi itu? Benarkah Dimas menikah dengan wanita lain? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Apakah dia memang sudah menjadi milik orang lain?Kulirik jam dinding dan rupanya baru pukul 4 pagi. Ku ambil handuk dan baju ganti, lalu aku mandi sambil memikirkan dan mengira-ira apa arti dari mimpi burukku tadi.
Tulisan ini adalah salah satu bagian tulisanku untuk salah satu sisterku yang suka berpetualang dalam urusan hati
Friday, July 25, 2008
Otak Ini....
Otak ini....
Setiap detik selalu menelurkan beberapa ide..
Beberapa gagasan..dan beberapa keinginan
Ingin hati mewujudkan semua itu
Melakukan semua itu
Tapi...
Haruskah???
Haruskah aku turuti semua itu??
Haruskah aku lakukan semua itu??
Ingin aku mengabaikannya
Tapi hati ini tak ingin semua itu lewat begitu saja
Akhirnya...
Aku hanya bisa menyimpannya dalam mimpi..
Mimpi yang aku tulis satu-persatu
Hingga mungkin suatu saat aku bisa..
Menandainya dengan tinta warna satu persatu
Dengan tanda sudut bawah “done”
Kalau saja aku mau menghitung...
Berapa catatan mimpiku yg muncul begitu saja dalam otakku..
Baik yang berulang, ataupun yang baru
Namun aku tak akan melakukannya
Tak perlu dihitung
Menghitung hanya akan membuat keterbatasan
Menghitung hanya akan membuatku berbangga dini
Biarlah semua tertutup dalam lembaran buku mimpiku
Dengan berjalannya waktu...
Semoga semakin banyak tinta warna yang aku goreskan dibuku mimpiku
Sebagai tanda bahwa mimpiku itu “done”
Thursday, July 24, 2008
Kisah Sepanjang Sungai Lenggang??
Hari ini aku mendapatkan sebuah pesan sms dari seorang teman yang berusaha memberikan semangat padaku. Dia bilang padaku : “Wilz, sekarang aku lagi baca Sang Pemimpi. Bab Sungai Lenggang. Coba lu baca lagi, barangkali bisa menginspirasimu untuk sebulan kedepan.” Katanya.
Aku memang sudah membaca buku Andrea Hirata mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Dan saat ini aku masih menunggu keluarnya buku ke empat Andrea yang berjudul Maryamah Karpov. Namun aku tidak ingat betul secara detail isi dari buku-buku itu. Karena rasa penasaran, maka aku segera membuka lemari kaca tempat aku menyimpan koleksi buku-ku dan meraih buku berwarna abu-abu itu. Aku buka daftar isi dan mencari Bagian Sungai Lenggang. Ternyata Bagian Sungai Lenggang ada pada Halaman 141.
Perlahan aku mulai membaca kembali cerita itu.
Aku selalu berlari. Aku menyukai berlari. para kuli ngambat……
Perlahan aku mulai membaca untaian kata yang cukup membutuhkan pemahaman dari para pembacanya itu. Sampai dengan paragraph 5 aku masih biasa saja. Tak ada yang bisa aku anggap sebagai motivasi atau pendorongku menyelesaikan semua targetku.
Namun ketika aku membaca paragraph 6, aku mulai sedikit lupa dengan tujuanku membaca cerita ini. Aku merasa mulai akrab dengan kisah didalamnya.
Aku sendiri, jimbron, dan arai yang kusaksikan membersihkan meja restoran…………..tak lain adalah manifestasi dari sikapku yang telah bisa realistis………………..kini aku sadar…………nasibku akan sama saja……..yang cerdas malah tak sempat menyelesaikan SMP……….
Berada dalam pergaulan melayu yang seharian membanting tulang……………...mempengaruhiku untuk menilai situasiku secara realistis. Namun tak pernah kusadari sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.
Sekarang………………………………melongok kedalam kaleng celenganku…………………..tak akan pernah mampu membawaku keluar………………………pungguk merindukan dipeluk purnama…………………..orang yang menggadaikan seluruh kesenangan masa muda pada kehidupan darmaga yang keras…………..
Kini aku telah menjadi pribadi yang pesimistis. Malas belajar……………….tak mampu melanjutkan…………………ceritakan mimpimu, agar Tuhan bisa tertawa.
Tapi sebaliknya, demi Tuhan, sahabatku…………………memang makhluk yang luar biasa………………tapi ia sangat optimis.
Paragraph demi paragraph tentang jimbron dan 2 celengan kudanya……………..
“Meskipun kaupenuhi celengan sebesar kuda sungguhan, sahabatku jimbron, tak’kan pernah uang-uang receh itu mampu membiayaimu sekolah diperancis….demikian kata hatiku. Dan dengarlah itu kawan. Siratan kalimat sinis dari orang yang pesimis. Sungguh berbisa sengatan sikap pesimis. Ia adalah hantu yang beracun……………..memuatku menjadi pribadi yang gelap dan picik…………………
Cerita berlanjut tentang kemerosotan prestasi haikal….disalah satu kalimat dalam kemarahan pak bustar kepada ikal, ada kalimat “ pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedy terbesar dalam hidup manusia.” Sungguh kata-kata yang dalam dan mampu menusuk pori-pori ikal, dan juga aku.
Sikap pesimis juga telah mengkhianatiku bulat-bulat. Sepertinya aku juga masuk dalam kategori anak yang tak mampu memenuhi harapan orang tua. Yang terbaik dari orang tuaku hanya diberikan untukku seorang, tidak kepada orang lain.
Aku lanjutkan membaca cerita itu sederet demi sederet kalimat. Bagaimana ikal sangat menyesali apa yang sudah dilakukannya dan menyesali karena dia tidak bisa lagi memutar waktu untuk memperbaiki kesalahannya.
Beberapa kalimat arai yang sempat nyangkut dalam hatiku adalah :” orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu”.
“tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”
Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.
Seketika mataku terbuka untuk melihat harapan besar yang tersembunyi di dalam hati ayahku. Ayahku yang selalu diam, tak pernah menuntut apapun……………………….ayahku yang pendiam, ayah juara satu seluruh dunia………………mengandung tenaga mistis, dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.
Akhirnya aku menyelesaikan satu cerita Andrea Hirata yaitu Bagian Sungai Lenggang. Setelah membaca cerita itu, aku mengerti kenapa temanku itu menganjurkanku untuk membaca kembali guna mencari inspirasi. Sebagian besar memang aku resapi sebagai inspirasi dalam hari-hariku kedepan. Karena sedikit banyak perjalananku tak jauh beda dengan perjalanan ikal.
Satu hal kunci yang akhirnya beberapa hari lalu berhasil aku ungkap secara lisan dari hatiku yang paling dalam adalah :
Ketakutanku terhadap kemungkinan yang belum tentu terjadi itu terlalu berlebihan, dan akan aku coba hentikan mulai sekarang (20 Juli 2008). Tuhan mengerti mana yang terbaik untukku dan untuk orang-orang yang aku sayangi disekitarku, karena itu semua aku pasrahkan pada-Nya. Saat ini aku hanya sedang menguatkan hati bahwa tidak akan pernah ada yang di ambil Tuhan dariku.
# Kubenahi lembaran yang mulai terserak…. .#
# Untukmu….orang-orang yang mencintaiku… #
-
The second thing, is song about change... This is art Quotes, poem, paint, and then song (dance sometimes) This song is good We can see on t...
-
You have your own responsibility to be happy, to make your life happy, to make your body happy, to make your days happy, and to make you...
-
Tahun ini, K naik ke kelas 6. Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekol...