Tahun ini, K naik ke kelas 6.
Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekolah online di kelas 1." atau, "Seperti baru kemarin masuk sekolah offline di kelas 3." atau juga, "kayak baru sehari di kelas 5 ya." dan sebagainya.
Kenyataannya, sekarang anaknya kelas 6, tahun depan SMP.
Untuk beberapa teman, mungkin masih ingat bagaimana yakinnya saya bahwa K akan bersekolah di tempat yang sama dari TK B sampai nanti lulus SMA. Ternyata, keyakinan itu beberapa bulan terakhir ini, terjadi goyangan oleh angin semilir. Dari yang awalnya hanya ada Plan A, kini muncul pilihan Plan B. Kenapa?
Begini ceritanya... (elaaah)
Oh iya, kenapa sih dulu hanya ada Plan A? ya karena anaknya pun sudah yaqueen mau lanjut SMP di tempat yang sama, karena dia mengincar Ipad nya. Memang kalau sekolah di SMP ini, setiap anak wajib pakai Ipad. Dahlah nggak usah bahas kenapa, kok iya, dll nya. Udah kenyang denger dari mamak-mamak seperjuangan soalnya. haha.
Karena anak sudah oke mantep paten dan yaqueen, ya Emak ini pun bahagia doooonk. Oke, visi misi kita sama mbak. Lanjoutkeun.
Nggak tahu bagaimana awal juntrungan obrolan Bapake dan Anake, tetiba muncul diskusi kurang lebih begini:
Bapake: "K, sekolah di tempat lain aja... Nggak usah di situ lagi?" (Emake denger santai aja, ini obrolan ringan biasa)
Anake: "Ih, Ayah! kan aku udah nunggu-nunggu buat ganti Ipad baru. Ipadku sudah jadul sekali, nggak bisa diupdate apa-apa!" Anake nge-gas kalau topik ini di angkat.
Bapake: "Kalau cuma Ipad aja sih, Ayah beliin lah. Kamu sekolah di mana juga nanti ayah bisa beliin." Emake mulai berjengit, gawat ini.
Anake: "Bener? Serius? Nggak bohong?" Anake menyambut gayung bapake sambil menuntut dengan mata melotot.
Bapake: "Iya bener. Ayok mau ke mana?" Bapake nantangin.
Anake: "Bunda, ayo kita pindah sekolah aja. Aku nggak betah juga di sini. Mau sekolah di tempat lain aja." Anake ketularan semangat bapake.
Emake melotot gantian ke bapake, dan merasa harus mengintervensi obrolan absurd ini.
Emake: "Nggak papa sih kalau mau pindah. Tapi kalau mau pindah, pindah tinggal sekalian. Kalau cuma pindah sekolah, Bunda nggak mau. Sekolah di sini yang kayak sekolah kamu nggak banyak. Kalau masih sama2 aja, ngapain pindah? Kalau yang lebih bagus, muahalllll shayyyy." Emake tetap berusaha menjadi emak demokratis yang akomodatif.
Bapake: "Ke B aja apa?" Muncul sedikit binar di mata Emake.
Anake: "Ayok!!!!" Ternyata mata anaknya bukan berbinar lagi, tapi hampir meloncat mendengar ide Bapake.
Emake: "Beneran? Kalau kalian berdua beneran sepakat, ayok aja kita coba. Mumpung tahun depan masuk SMP, ya sekarang waktunya memang kalau mau berpikir cari sekolah lain." Emaknya ketularan semangat.
Singkat kata, Emake menanyakan beberapa kali tingkat kemantapan bapak beranak itu hingga beberapa kali, dan memutuskan untuk mengendapkan ide impulsif itu beberapa hari hingga adrenaline rush berkurang.
***
Beberapa hari kemudian, di saat semua orang kembali bersantai di sofa di depan TV, diskusi terbuka mengenai kemungkinan sekolah di tempat lain, dimulai kembali oleh Emake.
Emake: "Jadi gimana, lanjut enggak nih usahanya? Kalau kalian masih merasa perlu dan mau, Bunda musti mulai action ini."
Ternyata Bapak-beranak masih yaqueen dengan jawaban mereka. Maka Emake pun memulai kembali perjalanan mencari informasi, bertanya sana-sini, berselancar kanan-kiri, hingga terkumpul beberapa literasi yang cukup mumpuni.
Langkah kedua adalah menghubungi secara langsung pihak-pihak terkait dari calon-calon sekolah yang sepertinya memiliki peluang untuk dipilih, untuk mendapatkan informasi dasar yang valid.
Langkah ketiga, adalah menghubungi teman yang mengenal situasi dan menanyakan beberapa pertanyaan basic printril seperlunya.
Saat data sudah cukup mewakili, maka Emake maju ke Bapake untuk melaporkan situasi dan kondisi yang mungkin akan kami hadapi jika benar memilih langkah ini. Lengkap dengan proyeksi finansial, dan rekomendasi pilihan pertama agar Bapake mudah mengerti dan membayangkan sendiri. Di luar perkiraan BMKG, bapake ACC dan Ok-Ok saja ternyata. Bhaequelaaahhh!!!
Maka dikeluarkanlah Pakta Keluarga Umang kepada Anake:
"Ok. Mbak K, Ayah dan Bunda setuju untuk kita mencoba membuat rencana pilihan sekolah SMP kamu. Tapiii, kita hanya akan memasang target 1 sekolah saja. Kalau memang menurut Tuhan kita layak untuk menjalani rencana ini, maka kita akan berhasil. Jadi, if you really want to move and get into that school, then you prepare yourself. If you want that much, you'll try harder. Gimana, ok?"
Dan seperti biasa, Anake menjawab, "Oke"
Seperti itu...

No comments:
Post a Comment