Saturday, December 31, 2022

Last Day of The Year 2022

Fffiiiuuuhhh... Hari terakhir di Tahun 2022 gaesss... 

Tidak terasa ya waktu di Tahun 2022 ini terasa sangat cepat berlalu. Kalau teman saya bilang, 2022 ini pak pik puk banget. Kalau saya bilang, 2022 ini waktu saya terlalu lahap dimakan oleh rutinitas. Sehingga seolah hari berganti hanya dalam kedipan mata. 

Kali ini saya belum ingin berbagi mengenai resolusi apa yang sukses dicapai di Tahun 2022, atau harapan untuk 2023, atau list-list yang lain yang biasanya saya buat sebelum tahun berganti. Nanti saya buat postingan sendiri untuk itu. 

Saya hanya ingin mengunggah beberapa kegiatan yang kami jalani menuju penghujung tahun ini saja dulu ya. Tidak banyak, tetapi cukup membuat segar semangat menyambut tahun berganti. 

Diantaranya adalah: 

1. Movie days. Maklum ya, setelah kembali dari Banten, kami praktis tidak kemana-mana. Di sekitar rumah saja. Saya jadi memindahkan bibit cabai dan kenari Maluku saya ke polibag, serta mengerjakan dollhouse nya K. Walaupun Dollhouse nya belum selesai sempurna, tetapi sudah bisa digunakan. Lumayan. 

Selebihnya, kami bertiga bermarathon menonton acara TV. Bergantian acara favorit kami bertiga, kadang rebutan karena tidak mau mengalah (ini sih K sama bapaknya aja). :-)

2. Saya memenuhi janji saya untuk membelikan K komik Saint Seiya yang belakangan ini sedang Ia gandrungi. Setelah komiknya tiba, dia senang sekali. Selain dari komiknya, ada juga 3 buku Enid blyton hasil jastipan BBW saya juga datang. Ahhhh senangnya. 2023 reading activity should be better than 2022 yesss mbak :-)

3. Drakor & diamond Painting. Seperti emak-emak jaman now, Drakor tetap nomer sathuuuu yekaaan. Di akhir tahun ini saya nonton School 2013, karena ada Kim Wo Bin. Hahahahha

Nah, sambil nonton drakor, seperti biasa tangan saya tidak bisa diam. Mulai dari main game, merajut, hingga akhirnya ingat kalau masih punya 1 diamond painting dari Mr. D*Y tahun kemarin yang belum di kerjakan. Saya kerjakan hingga selesai. Aseeekkk... 

Yuks siapa yang mau adopsi karya mini dan sederhana ini. Gratissss... Beli frame sendiri tapi ya 30x30 cm. :-)

Friday, December 30, 2022

The Culture of Looking Perfect

Sebelum mulai menuliskan apa yang ingin saya tuliskan, saya perlu menggaris bawahi beberapa hal. Yang pertama adalah, saya menulis ini tidak karena perasaan saya terhadap sikap orang lain pada saya. Yang kedua, saya menulis ini bukan berarti saya tidak suka terhadap kebiasaan/orang yang melakukan hal-hal terkait. Dan yang ketiga, saya menulis ini hanya karena saat ini saya sedang membaca buku "Raising A Screen-Smart Kid" - nya Julianna Miner. Dan kebetulan ada beberapa bab yang membuat saya ingin menulis di sini. Beberapa hal yang tidak saya unggah di sini, saya simpan di catatan agar suatu saat saya perlu, mudah mencarinya. Begitu yaaa :-)

Membaca buku ini sekarang-sekarang (tanggal 30 Desember 2022), memiliki cerita tersendiri. Rasanya otak saya tidak cepat memuat informasi, banyak godaan untuk tidak melanjutkan, terlebih lagi karena K tiba-tiba demam seharian. Namun, rasa penasaran tetap menyeret saya tertatih untuk maju. Bhaiquelaaah... 

Nah, bagian yang ingin saya bagi kali ini adalah bagian yang ada di tangkapan layar di bawah ini:

Tidak bisa di pungkiri, saat kita berfoto baik sendiri maupun bersama teman, hal pertama yang kita lakukan setelah selesai adalah mereview foto yang diambil. Sayapun demikian. Beberapa pertanyaan bisa jadi kemudian mengikuti, seperti: 
- Bagaimana hasilnya? Bagus nggak?
- Bagaimana penampakanku? 
- Aku kelihatan gendut nggak? 
- Apakah perutku kelihatan besar? 
- Apakah mataku merem?
- Apakah aku kelihatan pendek? 
- Aku keliatan masih muda kan? 

And the list go on and go on....

Semua itu wajar kok saudara-saudara, bahkan banyak penelitian dan juga buku/jurnalnya. :-)

Untuk saya sendiri, seringkali pertanyaan berhenti di pertanyaan pertama saja. Gimana? Bagus? Namun kadang saat teman-teman mulai membahas pertanyaan yang lain, saya ikut menyimak sambil senyum-senyum. Kadang saya juga bilang "eh buset, gw gendut banget ya". Tapi, bukan berarti saya tidak rela atau bahkan menolak kenyataan hingga ingin fotonya di delete saja. Saya juga tidak pernah mempermasalahkan orang mau upload foto (yang ada sayanya) manapun dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu saya sempat merasa geli ketika suatu waktu berfoto bersama dengan teman, setelah beberapa kali take foto, teman saya bilang "gw tutupin perut lo pake ini ya" katanya. 

Saya tertawa dan bilang "santai aja, gw nggak masalah kok perut keliatan gendut..." Namun, mungkin untuk beberapa orang, ada perut menonjol itu membuat pemandangan kurang nyaman. Which is normal juga. Seperti itu. 

Hubungan dengan buku ini, saya sedikit concern mengenai Culture Of Looking Perfect ini, sebetulnya lebih ke anak saya nantinya. Saat nanti dia mengenal media sosial, bukan tidak mungkin diapun akan mengalami hal yang sama. Fokus pada penampakan, untuk diperlihatkan kepada khalayak online. Tidak apa-apa sih. Hanya saja kalau bisa, saya ingin membuatnya sedikit kurang fokus pada hal tersebut. Mungkin saja nanti ada teman-temannya yang kemudian minder atau tidak nyaman hanya karena hal yang kurang prinsipil? Kan sayang sekali. Tapi ya nanti semua itu kembali pada diri K sih. Saya hanya bisa berharap sambil sedikit banyak membisikkan mantra-mantra padanya, berharap bisa mujarab pada masanya. Aamiin :-)

Saya tidak antipati pada media sosial. Hanya saja, karena alasan tahu diri sendiri - yang sering kehilangan kendali kalau sudah mulai memainkan jari ke atas ke bawah melihat-lihat keseruan dunia maya -, saya memilih untuk sangat membatasi penggunaannya. Saya tidak meng-install media sosial di ponsel saya, kecuali saat saya mengikuti acara-acara tertentu, atau saat saya ingin membagikan karya tulisan saya. Saya juga sangat jarang sekali masuk ke media sosial melalui browser laptop/ponsel, hanya jika perlu melakukan sesuatu yang mendesak saja. 

Satu kutipan dari tulisan di atas yang sangat seirama dengan prinsis saya dalam ber-media sosial adalah "What you choose to share about yourself on your social media feeds, says a lot about what matters to you." 

Suatu saat, mungkin itu juga yang akan saya tanamkan pada anak saya, jika waktunya tiba. :-)

Selamat menyambut Tahun Baru 2023, temans!!! 

Tuesday, December 27, 2022

To The Most West of West Java

Karena liburan Natal & Tahun Baru kali ini kami tidak membuat rencana ke mana-mana, maka saya nurut saja saat Mas Bojo mengajak pulang ke Banten. Akhirnya, sekalian saja kami main ke lahannya temen kantor yang letaknya berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon. 

Berada di pelosok Ujung Kulon, tidak menjadi masalah saat kami pergi bersama dengan keluarga Banten. Adek ipar dan istrinya adalah guru sekolah negri, begitu pula tante-tante dari suami yang juga pengawas sekolah. Mereka punya banyak rekanan di kawasan itu. Belum lagi mantan anak2 asuh mertua yang dulu belajar di pondok pesantren di dekat rumah dan menjadi langganan nasi uduknya. Masih terasa dekat hingga saat ini. 

Dan akhirnya hari ini kami sampai ke Taman Jaya. Cuaca sedang tidak mendukung untuk camping ataupun menyeberang ke Pulau Peucang, sehingga kami hanya berniat untuk pulang hari saja. 

Setelah silaturahmi ke rumah teman adek ipar dan juga kerabat mertua, kami melipir ke lahan nya Mbak G yang terletak di pinggir pantai. Asik sekali lokasinya. Kami bersantai bakar2 ikan asin yang diberi oleh kerabat mertua, dan makan bersama bekal dari rumah. 

Oh iya, tadi kami melihat ada banyak ibu-ibu dan anak kecil berkumpul di pantai di kejauhan. Saya penasaran akhirnya berjalan mendekati mereka diikuti Mas Bojo dan K. Rupanya mereka sedang mengumpulkan haremis atau kerang kecil-kecil gitu. Saya dan K ikut mengorek-ngorek, rupanya tak mudah. Pengalaman yang menyenangkan ya K!

Lalu kami bersilaturahmi dengan teman Mbak G yang mengelola lahannya selama ini. Kapan2 kami akan kembali dan camping di situ. 

Jalanan menuju Taman Jaya ini mantab sekali. Mengingatkan saya saat masih di Kampung di Lereng Merapi. Berlubang dengan air banjir ke jalanan. Seru deh... 

Pulangnya kami mampir di Baso Ikan Sumur, langganan setiap ke daerah sana. K sampai nambah. Hahaha

Monday, December 26, 2022

Namiko 2022 Concert Performance

Hari Sabtu, 17 Desember 2022. Adalah hari yang sibuk untuk saya. Diantara nganu dan nganu, ina dan inu, ita dan itu, ada Performance Namiko Tahun 2022. Seperti biasa, di Botani Square Mall.

Saya fokus untuk menceritakan acara performance K saja ya...

Seperti biasa, sebagai acara tahunan dari tempat les Gambar Manga dan Piano Kiran, kembali Kiran tampil di Botani Square. Karena alasan ina dan inu, saya minta agar K tampil pertama di sessi nya, dan dikabulkan. Resikonya, penontonnya belum banyak sehingga dia merasa yang tepuk tangan untuknya hanya sedikit sekali. Sedih dia. Hehehe

Karena K ikut les gambar dan piano, maka ada gambar yang dipajang di layar, dan juga penampilan piano bersama Kak Hansen. Seperti biasa. Kali ini K memainkan lagu ABC Song. Lancar kok, alhamdulillah. 

Udah itu aja ya, saya unggah video dan fotonya saja untuk mewakili... :-) 

It's about Comparison of Teacher, Ayah, & Bunda Raging

Cuacanya benar-benar mendukung kegiatan meditasi pant*t ya, alias mager. Kalau magernya sendirian, biasanya paling enak kalau main game atau nonton drakor yekaaan... 

Nah, kalau magernya bareng sama anak wedhok, saya yuh nggak bisa mingkem. Penasaran sama banyak hal sampai kadang membuat dia erosi jiwa dan bilang "udah deh bunda. Stop asking me question!" Hahahaha. Ya BundaPiaraAkanDaku ini kan suka kepo mbak sis... Maklumi ya. :-p

Saya mau sharing hasil mager bersama anak wedhok yang terbaru boleh yaaa. Sayang kalau hilang atau lupa. (karepmu) 😅

Saya: "K, kenapa anak-anak itu, lebih takut sama guru dibandingkan ayah atau bundanya?" 
Nak Wedhok: "Karena kalau teacher' raging (guru murka) itu kayak bisa sampai ke surga gitu. Kalau Ayah's raging kayak sampai tempat paling tinggi pesawat jet terbang. Nah, kalau Bunda's raging itu kayak sampai di atas pohon gitu lah... "  (Setelah itu K buru-buru bilang, "tapi Bunda don't get the idea to rage higher to the heaven ya

Mungkin kesimpulannya adalah, guru sangat jarang murka tetapi kalau sampai murka bisa mengerikan. Ayah kalau murka sesekali aja, tapi serem juga. Bunda keseringan murka, jadi ya biasa aja. Bhaiquelaaahhh... 

Pertanyaan saya yang kedua kepadanya,
Saya: "Sekarang pertanyaannya ini. Menurut kamu sebagai anak, kenapa anak cenderung membantah perintah orang tua tetapi menurut sama perintah gurunya. 
Nak Wedhok: Karena, kalau dirumah tuh kita kan punya feeling that we will long life together kan. Jadi kita masih bisa do it later. Kalau di sekolah itu kan cuma sebentar, on that certain period. Jadi ya kita harus do, can not wait.
Saya: "Jadi, menurut kamu apa yang orang tua harus lakukan untuk mengatasi itu? Maunya kalian anak-anak tuh gimana biar kalian bisa lebih nurut sama orang tua?" 
Nak wedhok: "Orang tua itu harus kasih time period. Like you can say -10 menit lagi ya- gitu." 
Saya: "Iya juga ya..." 

Hahahha. Begitulah mager berfaedah kami berdua. Semoga bisa bermanfaat, buat saya tentunya. :-)

#CelotehAnak

Sunday, December 25, 2022

Lion's 7th Years With Us

Happy Birthday, Lion!!!

Kalau yang nggak kenal K dan keluarga kami, mungkin berfikir bahwa kami punya peliharaan singa. Hahaha

Nggak 100% salah sih. Cuma kurang tepat aja. Ini bukan peliharaan hewan singa, tetapi boneka singa. Boneka ulang tahun? 

Jangan khawatir, kalau kalian bertanya begitu, kalian bukan orang pertama. Welcome to my family! Kekekeke

Jadi, Lion ini adalah boneka kesayangan K dari umur 2 tahun. Kami membelikannya di Toko merch nya TSI Bogor saat kami berkesempatan menginap di sana. Sebagai pengingat. Saat dibeli, dan setahun dua tahun pertama memiliki Lion, seingat saya dia masih satu level dengan boneka K yang lain statusnya. Saya sendiri tidak terlalu ingat kapan dan bagaimana Lion bisa menjadi 'sesuatu' untuk K. Kalau saya tanya, 

Saya : "K, do you remember how Lion become your very favorite doll?" 
K: "Of course I do. When I was in Preschooler, we open the dolls box. And when I saw Lion, suddenly I felt like - WOW, this is awesome! - kind of feelings..." jawabnya diplomatic. Fineee... Batin saya. 

Yang jelas, sejak K merasakan WOW feelings nya itu, dia tidak pernah lalai memperingati hari ulang tahun yang dia tetapkan sendiri. 25 Desember 2015, adalah hari kelahiran Lion. Saya masih curiga bahwa K memilih 25 Des sebagai tanggal ulang tahun Lion, semata karena dia ingin ikut merasakan festive holiday seperti teman-teman yang merayakan natal. Hahahah

Ayah dan Bunda nya saja, tidak selalu dirayakan atau dibelikan cake kalau ulang tahun. Namun, the best buddies Lion's birthday never forgotten. Kalau saya bilang, "nggak usah lah mbak", K langsung manyun dan bilang, "Bunda nggak sayang aku, nggak sayang Lion". Fineee...

Banyak kejadian seru sih memang yang terjadi antara kami sekeluarga dan Lion. Menambah cerita asik juga sebetulnya. Seperti saat rambut Lion yang dulunya Masai bagus menjadi brindil karena terlaundry, saat Lion tertinggal di Pantai Mulia-Mengiat, Bali, saat Lion tertinggal di rumah salah satu temannya, atau saat Lion tertindih saya atau ayahnya, atau kalau tidak sengaja Lion jatuh, dll. Lion selalu menjadi pelarian K saat kami sedang bersitegang. Biasanya dia akan memeluk Lion hingga suasana hatinya membaik dan kami bisa bicara. Saya juga masih ingat tahun lalu (atau tahun sebelumnya lagi ya?) Saat sepupunya yang masih usia 3 tahun melempar Lion hingga hidung plastiknya pecah. Prahara terjadi. Antara ingin tertawa tetapi juga iba melihat K yang berduka, dan melihat Lion yang wujudnya semakin renta... hahahha

Saat kami berbincang ngalor ngidul tentang boarding school, K sempat bertanya,
K: "Kalau boarding school itu, boleh bawa boneka nggak sih?" tanyanya.
Saya: "Ya boleh aja. Paling nanti kamu di ledek sama temen-temen aja karena sudah besar masih bawa boneka." 
K: "Nggak papa diledek. Aku nggak mau ninggalin Lion sendiri. Nanti Lion sedih." Saya dan ayahnya saling lihat dan tersenyum. 

Oh iya, setelah pandemi berakhir, dan K harus sekolah offline, beberapa bulan pertama dia punya rutinitas. Setiap K mau berangkat sekolah, dia akan berlari ke kamar, pamitan pada Lion, dan memposisikan Lion dengan baik. Tak lupa dia berpesan, "Mbak sekolah dulu ya, kamu jaga kamar. Nanti kita ketemu lagi siang." So sweet kan? Namun, lama kelamaan kami sering terburu-buru kalau mau berangkat sekolah, jadi kebiasaan manis itu luntur. Salahkan orang tuanya!!! Hahahha.

Apakah kalian mulai berpikir kami keluarga lebay? Bisa saja, tetapi tidak masalah... :-p

Mungkin bisa saya mematahkan kesenangan K dengan bilang, "Ngapain sih sama boneka segitunya.", atau "Nggak. Nggak perlu. Lion cuma boneka doank." Namun saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya tidak ingin imaginasi K harus mandek atau pupus hanya karena orang tuanya malas meladeni sesuatu yang terdengar kekanakan atau aneh. Menurut saya, manusia bisa kaya atau miskin dalam hitungan detik. Namun, mereka yang memiliki imajinasi, adalah mereka yang akan tetap bahagia walaupun sedang diberi miskin. Let their imagination wild and be creative, katanya... 

So, happy birthday Lion!!! Thanks for your charming that gave a WOW moment for K 7th years ago... You comfort her, when her parents couldn't... Thank You!!!


Love, 
K & The Gang


Thursday, December 22, 2022

Belajar dari si Bunga Cantik yang Ditelantarkan

Sebelumnya mulai ngemeng ngalor-ngidul, saya bilang dulu ya. Bunga ini saya foto hari ini, Kamis 22 Desember 2022. Pas Hari Ibu ya. Nggak ada hubungannya, tapi nggak papa. Eh ada dink. Alm Ibuk saya sangat suka bunga yang cantik-cantik. Tangannya juga dingin sehingga tanamanya sering tumbuh subur. 

So, here is for you... Happy Mothers Day! Aku yakin Tuhan memberimu taman bunga yang super indah hari ini di surga. ^_^

Baiklah... Saya akan bercerita seperti yang saya tuliskan di judul unggahan ini. 

"Belajar dari si Bunga Cantik yang Ditelantarkan"

Sekitar Tahun 2017an (saya lupa persisnya), kami sering berbelanja keperluan bulanan di sebuah swalayan di bilangan Kota. Swalayan itu terkenal cukup lengkap dan harganya lebih miring. Karenanya kami rela berkendara cukup jauh untuk membeli keperluan bulanan kami di sana. 

Saya masih ingat saat itu, saya membeli beberapa bumbu dapur, dan melihat 1 buah rimpang gendut yang dibungkus plastik. Saya tidak bisa memanggil memori saya, apakah saat itu ada tulisannya atau tidak. Intinya saya beli satu, dibawa pulang, tidak tahu untuk apa, saya tanam di halaman samping. 

Jreng!!! Rupanya rimpang itu mudah sekali tumbuhnya. Tanamannya cepat menjulang tinggi dengan daun lebar-lebar. Cocok dengan tanahnya mungkin ya. Singkat kata, kami merasa tanamannya terlalu besar dan tidak tau harus diapakan. Kami cabut dan buang. 

Rupanya masih ada rimpang yang tertinggal di situ, dan tumbuh lagi. Kami biarkan karena tanamannya tidak sebesar saat tumbuh pertama. Namun, saat kami melakukan sedikit renovasi rumah, kami harus membongkar area bertanam saya, termasuk si tanaman ini. Saya buang tanamannya ke lubang pembuangan sampah basah kami. Ternyata dia tumbuh lagi. Hahahha

Awalnya kami biarkan. Tetapi mungkin karena bersama sampah, terlalu subur dan daunnya besar-besar lagi. Kami timbun dengan sampah-sampah. Benar-benar tidak ada usaha untuk mencari tau atau memanfaatkannya. Duh.

Hingga tahun berganti, si tanaman ini juga berpindah ke sana dan ke sini sesuka hati kami. Ajaib memang, dia terus dan tetap bertahan. 

Akhir tahun 2021 kemarin, untuk kesekian kali kami melakukan bongkar pasang rumah tumbuh kami ini karena alasan bocor. Imbasnya, lubang sampah saya ditutup sama mamang tukang, saya lupa minta dibuatkan lagi. Si tanaman liar, entah bagaimana memberi 1 anakan kecil yang menurut saya bagus. Jadi saya pertahankan 1 yang kecil itu, dan membuang yang besar. Bersama dengan 1 tanaman keladi yang tak kalah uniknya karena setiap dipindah ke pot mati, tapi dibuang hidup subur, mereka berdua akhirnya tumbuh di bawah pohon jeruk purut kami. 

Sekitar 2 minggu lalu, saya sudah melihat tanda-tanda bahwa tanaman ini mengeluarkan bakal bunga. Namun, karena masih abai dan cukup sibuk, saya hanya melihat sekilas setiap lewat. Meskipun saya tahu kalau bunganya sudah mekar berwarna ungu pink beberapa hari terakhir ini. 

Tadi sore, K menarik tangan saya dengan sayang bersemangat. Dia menarik saya ke pintu belakang, dan berhenti di teras samping sambil menunjuk, "Bunda, see. That is a beautiful flower. Very pretty!" Katanya. Saat itu, saya bilang sudah tahu. Tapi dengan segera mengambil ponsel untuk mengabadikannya. Saya memperhatikan beberapa lama bunga itu, memang sangat cantik sekali. Dan melihatnya, membuat saya kembali mengingat perjalanan hidupnya yang sebagian besar ditelantarkan oleh saya. Saya sedih. Maaf ya. 

Setelah ambil foto dan puas mengagumi kecantikan bunga itu, saya kirimkan ke WAG kecil  tetangga saya untuk menanyakan barangkali ada yang tahu tanaman apa. Salah satu tetangga saya mengirimkan tangkapan layar dari laman pencarian, menunjukkan beberapa nama latin dari tanaman ini. Saya cari yang paling mirip, dan mencari ulang informasi detailnya. Saat itu saya baru tahu, bahwa ini ternyata adalah tanaman Temulawak. Hahahahahahahhahahahahhaha

Saya betul-betul tertawa ngakak mengetahui bahwa ini adalah tanaman temulawak. Karena kan temulawak banyak manfaatnya. Sejak hari ini, saya niatkan untuk tidak lagi menelantarkan tanaman temulawak ini. 

Dari temulawak ini saya belajar, bahwa selagi kita yakin pada kemampuan kita, yakin pada kualitas diri kita, tak perlu takut, minder, sedih atau putus asa jikapun ditelantarkan atau harus hidup terlantar. Tetaplah hidup, tetap mengeluarkan versi terbaik dari kita, makan pada saat yang tepat, kita akan menjadi sesuatu juga. 

Bunga ini cantik, saya persembahkan untuk almarhum Ibuk saya. Beliau senang sekali dengan bunga-bunga cantik. Setiap tanaman bunganya, pasti tumbuh dengan cantik juga. Bahkan jauh sebelum beliau sakit dan meninggal, beliau sering berpesan pada kami, anak-anaknya, untuk membeli 7 tenggok bunga dan menebarkannya di makamnya kalau beliau meninggal. Saya lakukan. Mudah-mudahan Ibuk senang dan tenang. Pastinya bahagia karena tanaman bunga di Surga pasti jauh lebih indah. Kami merindukanmu ibuk...  ^_^

  

Monday, December 19, 2022

Count The Bless

I'd like to share a photo... 
Just to remind my self about last couple of days...
A pictures tells a million more stories...
A picture tells a treasure... 

I learnt a lot during my life
All the good become an achievement, 
And all the bad become a lesson to grow
Nothing is too good and nothing is too bad. 
Nothing is just good and nothing is just bad.

Wish you all have a very happy holiday, love!!! 

Tuesday, October 18, 2022

Dilemma Orang Tua dan Les Anak

 Hari ini, di tempat saya numpang kerja sembari menunggu K les, saya memperhatikan sekeliling. Saya melihat seorang ibu dan anak perempuannya (kalau saya tidak salah tafsir, mungkin usia preschool). 

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, hanya terlihat mata sekilas lalu saja. Namun, setelah beberapa saat, mereka berdua menyita perhatian saya. Nampaknya si anak tidak mau berangkat les, dan ibunya kesal. Si anak, sebut saja namanya Lili, dan si Ibu, sebut saja namanya Mami. Lili menatap Mami dengan sedih, Mami berjalan menjauh sambil menunjuk-nunjuk arah tempat les anak saya (ini dan juga back pack yang digunakan Lili yang membuat saya berasumsi bahwa dia les di tempat K les). Beberapa kali Lili mengulurkan kedua tangannya kepada Mami, Mami berjalan semakin jauh sambil mengatakan sesuatu pada pak satpam yang berjaga di pintu. 

Lili berjalan mendekati Mami, mami mengibaskan tangannya sambil berkata sesuatu, Lili menangis. Mungkin karena kesal, Mami berjalan keluar area lobby. Lili berlari mengejar Mami. Mami mendorong Lili dan menunjuk serta mengatakan sesuatu pada Pak Satpam lagi. Saat Mami berjalan menjauh, Lili berlari menyusulnya. Mereka berdua akhirnya pergi ke tempat parkir mobil. Dari tempat saya duduk, hanya terlihat kaki mereka saja. Mungkin mereka sedang beradu argumen atau saling merayu. Lalu mereka menghilang ke belakang mobil, hingga saya tidak bisa lagi melihatnya. Dan saya meluncur ke sini. 

Melihat Lili dengan kedua tangan terulur, saya berfikir bahwa uluran tangannya mengharapkan balasan pelukan dari Mami. Tapi Mami tidak memberikannya pelukan. Mami berjalan menjauhinya. Saya merasa sedih untuk Lili. Dan mendadak saya ingin memeluk anak saya. Saya berjanji akan segera memeluknya erat saat selesai les nanti. 

Saat ini sudah pukul 2.30 WIB. Mungkin Lili sedang tidak mood untuk les, atau Lili lelah dari sekolah, atau memang Lili ngeyel dan tidak ingin berangkat les. Mungkin Mami tadi terkena macet, mungkin Mami lelah karena tidak fit, mungkin Mami ada urusan lain hingga harus buru-buru, mungkin Mami memang tidak ingin Lili membolos les. Semua hal bisa terjadi, dan hal itu banyak dialami oleh para keluarga. 

Saya ingin berjanji pada diri ini, untuk sebisa mungkin tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mami, tetapi saya juga sadar mungkin beberapa kali saya melakukannya pada K juga. Meskipun bukan karena Les. Biasanya sih karena K merengek meminta untuk dibelikan sesuatu atau ngambek karena bad mood. Membuat saya juga melakukan aksi 'berjalan menjauh' seperti Mami. Duh Tuhan, maafkanlah saya. 

Les, atau pelajaran tambahan. 

Adalah suatu dilemma untuk kebanyakan keluarga, termasuk saya juga. Mengikutkan anak ke lembaga les atau pelajaran tambahan, artinya meminta komitmen dari anak kita, dan juga kita sendiri. Kalau orang tua menetapkan standar output dari kegiatan-kegiatan tersebuat, beban yang hadir diantara kedua pihak (orang tua dan anak) akan menjadi lebih besar juga. 

K termasuk banyak les nya, hingga memancing komentar dari teman-teman saya "K padet banget sih les nya? Kasian amat". Karena memang kenyataannya begitu, ya saya tidak bisa mengelak dan hanya bisa bilang "Iya, padet banget. Gw juga sampai bingung mau gemana". Dua les yang dia jalani adalah hasil dari pandemi, tetapi sekarang syulit di akhiri. hahahaha

Setiap akan berangkat Les, saya selalu menanyakan pada K "Hari ini kita les nganu ya... " Atau "Nanti pulang sekolah langsung berangkat les nganu ya". Sejauh ini, protes yang dilakukan K hanyalah "Tanganku ini lemes banget bunda. Di sekolah nulis terus. Nanti les Piano sama Gambar, jari-jari aku kayaknya nggak kuat lagi". Karena les piano dan gambarnya jatuh di Hari Selasa, di mana jadwal sekolahnya memang padat karena ada olah raga dan pramuka bersamaan. Selama ini, saya menyemangatinya masih sebatas "Sekarang kamu istirahat dulu aja. Nanti kita kan masih ada waktu makan siang, bisa sambil istirahat melemaskan jari. Kamu mau makan siang apa sekarang?'. Rayuannya sebatas sogokan makan, alhamdulillah masih berjalan. 

Selama ini saya menggunakan keyakinan bahwa selagi anak masih semangat berangkat les, masih tidak merasa terpaksa atau tertekan, maka saya akan ikutkan dia les. Harapan saya adalah tidak perlu ada kejadian seperti Lili & Mami tadi di antara kami berdua. Saya tidak ingin les menjadi tambahan bahan untuk kami bertengkar. Saat ini saja sudah cukup banyak bahan untuk kami perdebatkan. Hahahaha

Yang sabar ya ibu-ibu, jika anaknya sedang tidak mood les, tidak apa-apa. Mungkin karena dia fokus sekali belajar di sekolah, sehingga energinya habis dan ingin beristirahat dulu di rumah. Untuk anak-anak yang semangat ya. Les bukan berarti harus stress kok. Banyak teman, kegiatan dan juga hal menyenangkan yang bisa kalian lakukan bersama. Mengurangi beberapa jam waktu untuk dimarahi Ayah-Bunda atau Mama-Papa yekaaan :-)






Tuesday, September 13, 2022

Hari Rekonsiliasi

Today is the Day!

Hari Rekonsiliasi bagi dua anak manusia yang baru mulai belajar mengenai nilai-nilai Compassion. Lucu juga kalau saya perhatikan bagaimana anak-anak mensikapi dunia dan masalahnya. 

Hari ini, karena ada pengumuman akan ada Demo, maka sekolahan di pulangkan lebih cepat. Meskipun waktu belajar menjadi lebih pendek, tapi saya tetap keukeuh ingin menjemput K. Ayahnya yang juga ingin menjemput akhirnya mengalah, setelah saya katakan bahwa saya penasaran dengan cerita dari K hari ini. Kalau ayahnya yang jemput, pasti tidak ditanya-tanya cerita hari ini. 

Akhirnya seperti biasa, setelah di panggil namanya, saya gandeng anak saya sambil bertanya pertanyaan standar: 

S: "Gimana hari ini? menyenangkan?" tanya saya. 

K: "Lumayan. Nggak ada Pramuka ya?" tanyanya balik. 

S: "Iya, nggak ada. Katanya mau ada demo, jadi pulang cepet dan nggak ada pramuka." Kami berjalan menuju pintu keluar. 

Di dekat pintu keluar, saya melihat murid yang sedang memakai jaket, dibantu oleh ibunya. Saat kami mendekat, anak itu melambaikan tangan dan memanggil nama K. K membalas lambaian tangannya dan menyebut namanya. A. 

Saya yang masih sedikit terkejut, jadi kehilangan kata-kata. Terlebih karena posisi saya sudah di pintu keluar, jadi tanggung kalau mau berbicara lebih banyak. Jadi saya hanya bisa bilang, "Eeeh, halooo temannya K. Kami duluan yaaa..." Saya mengangguk ke arah ibunya A. 

Di luar, sembari berjalan ke arah parkiran motor, saya kepo mania seperti biasa. 

S: "Jadi gimana tadi?" tanya saya.

K: "Tadi tuh kita cuma cepet gitu bunda. Aku cuma bilang - A, ya udah deh daripada kamu dimarahin mama kamu terus, dan aku disuruh maaf-maafin kamu terus sama Bunda aku, kita maafan aja deh- terus dia diem aja tapi ngulurin tangan salaman gitu. Ya udah kita salaman." Ceritanya nyerucus membuat saya tersenyum lebar. 

S: "Waaah... Itu bagus sekali. Syukurlah kalau kalian sudah baikan dan berteman lagi sekarang. Besok-besok udah bisa main bareng lagi kan," kata saya. 

K: "Terus bunda, kalau girls itu kadang suka lucu memang ya." Katanya. 

S: "Kenapa lucu memangnya?" tanya saya heran. 

K: "Iya, tadi SMT kan lihat aku sama A salaman, terus kayaknya dia ngomong sesuatu sama ABL, tapi aku nggak denger dia bilang apa. Tangannya kayak nunjuk ke aku sama A gitu." Ujarnya. 

S: "Ooo... Iya memang kadang girls itu unik. Kalau Bunda tebak, mungkin SMT bilang ke ABL -Eh, lihat itu. K sama A udah baikan sekarang- gitu mungkin ya?" tanya saya.

K: "Mungkin. Bisa jadi." Pungkas K. 

Saya lega mendengar cerita K. Saya juga merasa bangga dengan anak-anak ini. Ke depan, masih banyak yang akan anak saya dan juga anak-anak lain pelajari, baik itu disadari ataupun tidak. 

Dari kisahnya K selama satu mingguan ini, saya belajar banyak darinya. Saya belajar bagaimana menjadi orang tua saat anaknya mendapatkan masalah. Mungkin cara yang saya ambil bukanlah yang terbaik atau terideal. Namun, semua cara itu adalah cara yang saya dan anak saya percaya adalah yang terbaik yang dapat kami lakukan. Dengan bantuan Allah SWT, maka tidak ada yang tidak mungkin. Tidak apa-apa memilih cara yang bukan yang terbaik, selama kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT bersama kita, maka semua akan baik-baik saja. Aamiin

Monday, September 12, 2022

Bocah Mungil Yang Iseng

Halooo... Had a good weekend? Great!!!

Saya kepengen sharing lagi cerita hari ini. Tidak ada lagi drama, tidak ada lagi incident, tidak ada lagi gesekan anak-anak. Yang ada tinggalah keisengan si anak wedhok. Eeerrr... Duh Mbak, kamu nyontoh siapa itu siiih... ~_~

Jadi, seperti biasa saat namanya di panggil, saya ke depan mengambilnya dan bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?"

K: "Fun..."

S: "Nggak ada tragedy? Nggak ada insiden? Nothing whatsoever?"

K: "Enggak... Cuma, tadi kan A deketin aku terus bilang -K, kamu harus maafin aku pokoknya- Terus aku tanya, - Kamu dimarahin mama kamu ya?- Dia bilang iya. Terus aku bilang lagi - Nggak mau ah kalau minta maafnya maksa gitu- gitu aja, terus aku pergi." Kisahnya. 

S: "ooo... Tapi setelah itu kamu maafin dia kan? Sekarang udah maafan?" tanya saya. 

K: "Ya belum lah. Kan dia maksa minta maafnya. Aku males kalau dia maksa gitu." jawabnya. 

Hadeuuuhh... Memang sih ya, kalau di rumah, antara saya, ayahnya, dan K, kalau cara minta maafnya memaksa, kami segan menerima dan memberi maaf. Kami akan menunggu sampai yang minta maaf, benar-benar terlihat minta maaf. Tapi kan berbeda rumah, berbeda tata cara minta maaf mbak'eee... Batin saya. 

Setelah K mengulangi beberapa kali lagu Tanah Air untuk keperluan PTS Seni Musik Hari Kamis nanti, saya mulai mengajak K berbicara lagi. 

S: "Mbak, Bunda rasa, A sudah cukup mendapat pelajaran. Sudah di tegur wali kelas, sudah dimarahi mamanya. Jadi sudah saatnya kamu memaafkan dia juga. Kan dia sudah minta maaf, jadi dia pasti sudah banyak belajar dan mengerti," kata saya. 

K: "Iya," jawabnya pendek.

S: "Gimana kalau besok, kamu datangi A, dan bilang -Setelah aku pikir lagi, ya sudah kita maafan aja. Aku maafin kamu. Tapi jangan diulangi lagi ya, kan waktu pelajaran BK sudah diajarin untuk nggak gitu. Dan lain kali kalau mau minta maaf, jangan maksa. Tapi bilang maafin aku yaaa... gitu." Usul saya. 

K: "Iya deh..." 

Dua anak sudah banyak belajar tentang nilai pertemanan dua minggu ini. Semoga besok, anak wedhok ini bisa benar-benar berjiwa besar dan mengulurkan tangannya untuk memaafkan temannya. Aamiin :-)

Selain daripada itu, hari ini dia menceritakan pengalamannya mengenai umur dan ukuran badan. K bercerita kalau teman-temannya menyangka dia berumur 6 atau 7 tahun karena badannya mungil. K bilang dia tidak suka dibilang mungil. Saya bilang dibilang mungil itu bagus. Saya saya kepengen di bilang lebih muda dari umur sebenarnya, 27 tahun gitu. ahhahahaa #curhat :-p

Sunday, September 11, 2022

Mengisi Kembali Baterai Energi

Namanya manusia yang menjalankan kegiatan rutin setiap Senin - Jum'at, maka akhir pekan adalah surga dunia. 

Hari Senin hingga Jum'at, acapkali menjadi hari-hari yang berlalu seperti petir. Datang dengan cepat, cukup memberikan kejutan, tapi lekas berlalu begitu saja tanpa meninggalkan tanda. Kecuali jika petirnya berhasil menyambar sesuatu, maka bukan tidak mungkin ada efek lain setelahnya. 

Begitu pula dengan saya. Hari Senin - Jum'at adalah hari di mana kemampuan untuk berpindah tempat baik fisik maupun fikiran diperlukan dalam kecepatan tinggi. Jam sekian sampai sekian, melakukan ini, jam sekian sampai sekian di sini, dan seterusnya. Jeda yang saya punya memiliki jendela waktu yang tidak banyak. Jam 8 malam hingga 4 pagi. Cukup sebetulnya untuk ukuran orang dewasa. Kalau itu hanya digunakan untuk tidur saja. Tapi kan saya juga perlu me time seperti nonton, menyeruput kopi dengan santai alih-alih menenggaknya seperti arak, atau sekedar membaca buku dengan fokus hingga alur ceritanya tidak porak poranda. Maka waktu tidur mungkin hanya tersisa dari pukul 10.30 - 3.30 pagi.  

Jadi, saya sekarang tidak berbeda dengan tante salmul kesayangan, yang kalau akhir pekan hanya punya dua pilihan, mager sepenuhnya atau pergi sejauh-jauhnya. Hahahaha

Berhubung Pakne sedang jalan-jalan cantik ke Dieng bersama dengan geng ladies nya, jadi Hari Sabtu kemarin K dan saya menghabiskan waktu bersama dengan halan-halan ke Mr.D*Y. Mbak Sis sudah punya list panjang karena (merasa kalau saya berhutang banyak padanya, dan ) dia memiliki piutang pada saya. Eeerrr

Long short story, K mendapatkan beberapa yang dia mau (beberapa lainnya tidak saya approved karena kebanyakan) dan kami pulang ke rumah. Sore harinya, bersama dengan tetangga kanan kiri depan belakang dan juga tetangga yang biasa kumpul makan-makan, kami makan Cuangki di rumah kami. Alhamdulillah ramai. Sudah lama tidak berkumpul bersama mereka, jadi lumayan membuat alasan untuk bertemu :-)

Hari ini, K dan saya bersama dengan 2 orang tetangga dan 1 anaknya, kami menjajal nongkrong di pinggir Danau Situgede. Menikmati area yang telah di rombak menjadi tempat yang jauh lebih baik daripada sebelum pandemi. Sekarang sudah ada jogging track yang lebar mengitari danau, dan ada kafe baru juga. Jogging track keren, kafe not so much. Kami datang jam 7.45, memesan es coklat, es kopi, dan kopi panas, serta cemilan-cemilan. Lebih dari setengah jam (atau hampir sejam ya) kami menunggu, baru es coklat, es kopi dan cemilan yang datang. Setelah menunggu lama lagi, pelayannya baru datang dan memberi tahu bahwa mungkin kopi panasnya baru bisa siap sekitar 20 menit lagi. Eheeemmm

Akhirnya teman saya mengusulkan untuk diganti dengan es kopi dengan harga yang sama. Fineee... 

Rupanya lama lagi juga pesanan ini datang. Akhirnya saya mendekati kasir (kalem kok, nggak pakai tanduk) dan berkata, 

Saya: "Mbak, yang tadi katanya mau di ganti es kopi mana ya? Saya sudah mau setengah hari lho di sini, belum turun juga. Kalau tadi saya dapet kopi panas, sekarang sudah bisa jadi es kopi juga..." 

Mbaknya: "Oh iya ini kak, sedang di seal. Maaf ya kak lama." Dua cup es kopi di letakkan di depan saya, dan saya ambil keduanya dan bersiap pergi. 

Masnya: "Oh, nggak dianter aja kak?" 

Saya: "Nggak usah mas, nanti lama lagi saya nunggunya." Saya tersenyum. 

Jadi, kami malah mendapatkan ide untuk kembali ke area danau kapan-kapan, tapi piknik saja di area hutannya. Nggak usah di kafe. Bawa kopi dari rumah sajaaa :-)

It's a Very Well Spent Weekend, tetep ^_^











Friday, September 9, 2022

Titik Baik Mulai Nampak

 Jadiii... (eeeaaa, penasaran kaaan gimana hari ini?)

Hari ini, Saya yang bertugas mengantar dan menjemput K dikarenakan ada janji temu dengan 2 orang teman 1 grup WAG yang syulit sekali untuk ketemuan. Tadi malam tiba-tiba MedMed nulis di WAG "Ini kapan kita teh mau ngopi-ngopi gitu ketemuan? Jangan sampai kita ketemuannya nanti 2023 pas nonton Indonesia Master doank nih!" 

Saya dan FefFef tertawa membenarkan. Long short story, jadilah kami janjian dadakan harus jadi pagi ini. Berkumpul di tempat yang rupanya sudah buka dari jam 7. Enak banget kan buat emak-emak drive thru kayak kita-kita ini. Hahahaha. 

Setelah mengantar K sampai depan lobby, saya duduk dulu di pos. Menyadari bahwa ponsel saya tertinggal di rumah. Ya sudah lah ya, mau gimana. Saat akan meninggalkan lingkungan sekolah, tiba-tiba mama nya teman K datang dan kami ngobrol dulu. Long short story, tanpa ditanya, beliau bercerita mengenai cerita yang disampaikan anaknya, I. Beliau bilang I bercerita, kalau ada teman laki-laki mereka di kelas yang mencubiti K, tetapi K diam saja dan tidak ingin lapor. Saya tersenyum dan mengatakan bahwa saya merasa lega. Lega karena ternyata ada saksi mata yang melihat perlakuan kurang baik teman K kepadanya. Kamipun bertukar cerita mengenai pengalaman anak-anak di sekolah. 

I juga mengalami keisengan temannya, dan Mama I rupanya sudah lebih dulu bercerita kepada wali kelasnya. Saya jadi merasa sedikit lebih baik lagi karena ada teman seperjuangan. heheheee. 

Lalu, saya undur diri untuk bertemu dengan kedua teman saya. Ngeeeeng... Ngeeeng... 

Pertemuan singkat yang cukup menghibur ya man-teman... Coba kita lihat apakah Senin pagi minggu depan kita bisa benar-benar menggebuk kok bersama, atau hanya akan menjadi wacana seperti biasa :-p

*

 Saya seperti biasa menjemput K dengan perasaan penasaran. Ketika namanya di panggil, saya menjemputnya dan segera bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?" tanya saya. 

K: "Fine..." jawabnya pendek.

S: "No incident, no tragedy, no crumpled paper flying?" tanya saya.

K: "Nggak ada. Oh iya, aku tadi tanya ke A - Mana, kamu nggak gambar babi lagi buat aku? Aku kirain kamu mau gambar aku babi lagi?- gitu," cerita K. Saya heran dengan pertanyaannya dia.

S: "Memangnya kenapa kamu mau dia kasih gambar kamu lagi? Kalau gambarnya nggak baik lagi gimana?" tanya saya.

K: "Kan aku mau tempel di dinding buat kenang-kenangan gitu." Sayapun tertawa mendengar alasan K. Attagirl! 

S: "Terus A gimana pas kamu tanya gitu?" emak kepo yekaaan.

K: "Dia kayak mikir bingung gitu, terus tanya aku - "Emangnya kamu mau?- gitu. Aku bilang aja mau. Terus dia bilang -Tapi kamu jangan bilang-bilang Pak Ridwan lagi ya-." pungkasnya. 

S: "Tuh kaaan bener, kalau kamu keep nice to him, dia akhirnya jadi bingung kenapa dia nggak baik sama kamu kan?" kata saya. Dalam hati saya bersyukur, sepertinya Pak R sudah menegur A dan A tidak ingin lagi berbuat yang tidak baik pada K. Legaaa kaaan, emak :-)

Kemudian, saya menceritakan pada K mengenai kejadian yang menimpa I, temannya. 

K: "Aku juga gitu bunda...," Katanya. 

S: "Tangan kamu digituin juga?" tanya saya penasaran. 

K: "Iya, sampai sakit gitu," katanya.

S: "Kamu lapor Pak R nggak?" 

K: "Enggak. Karena kan aku masih bisa tahan rasa sakitnya gitu." 

S: "Eeehhh... Nggak boleh dooonk. Kalau kamu mulai sakit, harus lapor sama wali kelas. Takutnya kalau kamu menahan sakit, ternyata tangan patah gimana? Memangnya kamu ngapain sampai digituin?" 

K: "Kan dia challenge aku bunda. Nantangin aku?" emaknya mulai mencium aroma-aroma sesuatu. 

S: "Coba sini praktekin sama bunda, gimana kalian pas lagi kejadian!" pinta saya. K maju dan mengambil tangan saya, lalu menggenggam telapak tangan saya dan menindihnya di meja. Sayapun tertawa menyadari bahwa misteri tragedi jepit tangan hari pertama terpecahkan. 

K: "Mbak, itu sih namanya kalian adu panco! Kalau kata orang jawa, itu namanya engkol. Itu kan consent kalian berdua, jadi bukan attack. Beda sama yang kamu di dorong kemaren itu." Kata saya. 

Saat saya tanya alasan kenapa dia mau di ajak adu panco dengan A, K menjawab bahwa dia ingin mencoba dirinya sendiri. Apakah bisa menahan A yang badannya besar, lebih tua, suka nakal, dan ketua kelas itu. Kemudian saya menjelaskan bagaimana membedakan serangan dan permainan semacam tantangan adu panco. Saya anjurkan K untuk tidak lagi menerima tantangan fisik dengan teman, terlebih dari yang jelas-jelas ukuran badannya lebih besar. Berbahaya. 

Fffiiiuuuhhh... Akhirnya hari ini tak ada drama di antara kita ya kakak... :-p

Have a good weekend, teman-teman!!!

Thursday, September 8, 2022

3rd Bad Day at School

Hari ini, saya menjemput K dengan H2C. Penasaran juga sih alias kepo ala emak-emak. hehehe

Setelah anaknya muncul di pintu dan namanya dipanggil oleh wali kelasnya, saya menjemputnya dan langsung bertanya seperti biasa. 

S: "Hai, gimana hari ini? Fun?" Dia tertawa dan menggandeng saya. Kamipun berjalan menuju pintu keluar hall. 

K: "Today is funny lho bunda..., " katanya. Saya penasaran. Hmmm... Sounds good, right? 

Karena hari ini hujan cukup lebat, saya mengajak K untuk duduk lesehan di depan Hall dulu sembari mendengarkan ceritanya. 

S: "Kita di sini dulu aja. Kamu cerita dulu. Kan setelah kamu cerita, nanti bunda perlu mikir apa jadi ke wali kelas kamu atau enggak." Kata saya. 

K: "Jadi, tadi kan aku jalan di kelas. Terus A berdiri di depanku gitu. Dia bilang - Hey K! Item jelek! Ngapain kamu? - gitu, terus dia dorong aku sampe aku mundur gitu," ceritanya. Saya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Lagi-lagi ya bocah itu, hahaha. 

S: "Terus kamu ngapain?" 

K: "Ya aku diem aja pergi. Terus dia gambar sesuatu gitu kan. Habis itu dia crumple terus di lempar ke aku gitu. Pas aku buka ada gambar babi nya. Terus ada tulisannya K = B**i G****l gitu. Aku sobek2 aja kertasnya, aku buang di tempat sampah." Ceritanya. 

S: "Lhooo, jangan di sobek donk. Lain kali kalau dia bikin sesuatu lagi, masukin aja ke tas ya biar bunda bisa lihat," saya kepo, hahahha. 

K: "Ini ada nih satu lagi (dia mengeluarkan dua gumpalan kertas dari kantongnya dan saya mengambil salah satu yang menggelinding) jangan yang itu, itu aku yang bikin." Katanya. 

S: "Lho kamu bikin juga? Sama jeleknya jangan2 kayak bikinan dia?" tanya saya.

K: "Tapi itu cuma buat aku aja kok. Karena kan aku kesel jadi need to draw it," hmm, make sense kata saya dalam hati. 

S: "Apa itu tulisannya?" Saya melihat gambar yang telah di uwel-uwel itu dan geleng-geleng kepala. Sebuah gambar Babi, dengan tulisan "K = Jeruk Babi"

Saya bilang kepada K bahwa kami perlu menghadap wali kelas, karena sudah 3 hari berturut-turut A melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Apalagi sudah pakai mendorong. Saya khawatir kalau kontak fisik seperti itu dibiarkan, akan semakin menjadi. 

Maka kami berdua mencari wali kelasnya, dan duduk bertiga saling curhat. Kenapa saling curhat? Karena pada akhir sesi konsultasi saya, si bapak gantian curhat mengenai anak-anak yang ikut pelajaran tambahan. Heuheuheu.

Intinya, saya merasa lega telah menyampaikan uneg-uneg dan kekhawatiran saya, dan berharap wali kelas bisa menyelipkan lebih banyak nilai-nilai pertemanan pada anak-anak. 

Dalam perjalanan pulang, di atas motor seperti biasa, saya ngobrol dengan K. Kadang harus berteriak-teriak untuk mengalahkan suara hujan. 

S: "Bunda masih berfikir kalau A itu sebetulnya pengen main aja sama K, jadi dia caper gitu. Cuma dia nggak tau harus bagaimana, jadi dia choose to be bad boy aja." Kata saya.

K: "Maybe...," dia sepertinya mengedikkan bahunya. 

S: "Kan kayak di Petualangan Sherina itu, Sherina sama Saddam kan juga gitu. Awalnya berantem melulu, lama-lama berteman. Kamu nyanyiin lagu Sherina aja kalau gitu ke A, yang - Dia pikir, dia yang paling hebat...-" kata saya. 

K: "Itu dulu aku udah nyanyi buat J Bunda." Katanya. 

S: "Lho, memangnya J juga nakalin kamu?" Saya kaget.

K: "Dulu. Sekarang udah temenan sama aku." Katanya. 

S: "Banyak amat yang nakalin kamu?" saya kepo.

K: "Dulu bunda, sekarang nggak lagi. Dulu pas aku nyanyi gitu ke J, dia ketawa terus bilang -Memangnya dia ayam jago?- gitu." Kamipun tertawa. 

S: "Tapi you see the point right? At the end, everything will be just fine, you all will be good friend. Seperti yang di film Sherina itu. Meskipun sekarang you feel hurt, tapi nggak papa. It will be fine." Saya berusaha menghibur K dan saya sendiri. Mengaminkan kalimat saya sendiri dengan keras di hati. 

K: "Iya."

S: "Nanti kalau A bikin gambar lagi pakai jeruk babi, kamu bilang aja -Kamu tuh mau nulis Jeruk Bali ya A? Kalau jeruk bali aku tau, kalau jeruk babi aku nggak tau. Pasti dia kesel." K tertawa terbahak-bahak di jok belakang saya.

K: "Pasti bunda dulu di bully juga ya pas sekolah?" giliran saya yang tertawa. 

S: "Haha, iya. Kayaknya kalau kita pengen biasa-biasa aja di sekolah, malah suka kena bully gitu ya. Oh iya K, bunda mau tanya. Kalau A berbuat tidak baik gitu, ada temennya nggak sih? Atau dia sendirian aja?" tanya saya.

K: " Ada. Si E. Kan bunda tau kan, kayak di film-film juga kalau ada bad boy, pasti ada helper nya gitu kan. Nah E itu helpernya A," kata K. 

S: "Atau kamu ngomong aja kali mbak sama A, Hey A, kamu tuh kenapa sih? Mau temenan sama aku? Kalau mau temenan jangan gitu. Kalau dia bilang nggak mau temenan, kamu bilang aja, kalau nggak mau temenan juga jangan kayak gitu. Pokoknya jangan kayak gitu aja." 

K tertawa mendengar saran absurd saya. 

Rasa penasaran saya terobati, dan sisa perjalanan kami habiskan dengan bercandaan mengenai film Petualangan Sherina dan kejadian yang menimpa K. Saya menggoda K bahwa jika nanti saya bertemu dengan A dan K, saya akan meminta mereka berdua berfoto dengan gaya Sherina dan Saddam di film itu. Untuk kenang-kenangan kalau sudah besar nanti. 

It still beautiful day, isn't it K? :-)



Wednesday, September 7, 2022

2nd Bad Day at School of K

Well, what can I say... Selain daripada sebuah disclaimer bahwa "Tulisan ini adalah berdasarkan satu sisi anak saya, belum di konfirmasi dengan pihak lain".

Rupanya, hari ini masih menjadi bad day untuk K di sekolah. Walaupun tanpa ada air mata lagi, karena K sudah lebih siap dan kuat hatinya. Tapi saya sedih dan hampir menangis mendengarnya. Maklum bendungan air mata saya ini suka ambrol kalau mendengar sesuatu yang sensitif. 

Begini cerita K saat saya menjemputnya di sekolah: 

S: "Gimana hari ini?" Pertanyaan standar saya setiap kali menjemputnya di Hall. 

K: "Hari ini even worst bunda..." Heee??? Saya deg-degan mendengarnya, tetapi berusaha untuk tidak kelihatan kaget. 

S: "What is the story?" 

K: " Tapi bunda don't say a word sebelum aku finish cerita. ok? Not a word." Yaelah, bikin emak makin was-was aja. 

S: "Iyaaa... Janji," jawab saya.

K: "Jadi, tadi A ngomong sama aku gini - Heh kamu anak m*s**m, ngapain kamu di sini? Ini kan tempat anak K***t*n sama K***l*k doank- gitu coba bunda." Saya yang mendengar cerita K, benar-benar sedih. 

Hal ini sudah saya duga akan terjadi, tetapi saya tidak menyangka secepat ini dia bertemu dengan teman yang 'begini'. Saya perhatikan raut wajah K saat dia bercerita, hati saya menghangat karena dia tidak sedih ataupun tertekan. Dia bercerita dengan ceria. 

S: "Masak sih dia ngomong gitu? Kok mean sekali temen kamu?" Saya sambil sedikit tertawa menutupi kesal di hati. 

K: "Terus dia bilang lagi gini, coba K kamu ngaca. Eh jangan deh nanti kacanya pecah. Soalnya wajah kamu kan jelek banget." Kekagetan saya belum berhenti.

S: "Hah? Beneran dia bilang gitu?" 

K: "Iya."

S: "Kamu bilang Pak R nggak?" tanya saya.

K: "Enggak." Katanya. 

S: "Terus pas dia bilang kayak gitu, kamu gimana? Aku dance floss aja di depan dia sambil bilang oke... oke... gitu"

S: "Kok gitu ya A..." kata saya. 

K: "Tapi bunda... The funny thing is... Kan tadi hasil ulangan Bahasa Indonesia dibagiin. Aku nilainya nggak remed sih, tapi passs banget sama KKM (eeeaaa... pembuukaan yang ciamik). Tapiii, A nilainya berapa coba? 31 donk. Kayaknya Tuhan menegur dia karena kemarin dia mean sama aku ya bunda," saya terkekeh mendengar kata-katanya dan mengangguk-angguk saja. 

S: "Tapi so sad juga ya ada temen kamu yang masih ngebeda-bedain teman karena agama. Poor A...," kata saya. 

K: "Kok poor A? kenapa bunda kasihan sama dia?" tanyanya nge-gas.

S: "Ya maksudnya berarti dia nggak open minded gitu. Sama hatinya juga nggak terbuka. Kan kasihan. Dia perlu bimbingan lebih dari orang tua atau gurunya." Kata saya.

K: "Padahal kan di pelajaran BK susternya udah ngasih tau. Kayaknya A nggak dengerin susternya pas BK. Jadi kayak gitu." Sungutnya. 

S: "Iya, makanya kasihan dia ya... Nggak papa deh. Kan kamu sudah maafkan tadi malam. Nanti malam pas berdoa kamu maafkan juga aja. Biar Tuhan kasih jalan ke A untuk jadi lebih baik." kata saya. 

Kamipun berkendara motor menuju salah satu resto makanan cepat saji sebelum ke tempat K les. Hari ini, pilihannya berbeda dengan yang kemarin, tapi yang lokasinya di seberangnya. Makan ayam goreng. Eeeaaa. 

Sungguh hari ini hati saya pun masih gemassshhh... Rencanya, kalau besok masih ada kejadian lagi dengan anak yang sama, maka saya akan mengambil tindakan dengan memberitahu wali kelasnya. Supaya beliau lebih memantau anak tersebut, jika saja ada yang perlu dikhawatirkan. 

Life is not always rainbows and butterflies ya Mbak K... But it's still sad to know that you have to start this early year :-)

Tuesday, September 6, 2022

Today is K's 1st Bad Day at School

Hari ini, saya ingin menceritakan cerita anak saya, K, saat saya menjemputnya di sekolah tadi siang dan juga malam ini saat dia bersiap tidur. 

Seperti biasa, saya menunggu giliran dipanggil untuk mengambil K dari wali kelasnya. Saya melihat K yang berada di baris ke-3,  menatap saya dengan sayu. Kelelahan sepertinya, pikir saya. 

Setelah nama K di sebut, saya bergerak maju menggandeng tangannya. Saat itu dia langsung menubruk saya, dan menangis. Saya tunggu sejenak sebelum menanyakan kenapa dia menangis. Rupanya, ada kejadian tidak menyenangkan di kelasnya tadi. Katanya, temannya yang bernama A menjepit tangannya di meja. Saya menenangkan dan mengajaknya berjalan keluar dari Hall sekolah menuju pinggiran lapangan basket. 

Setelah duduk dengan nyaman, saya minta dia yang masih terus menangis menceritakan apa yang terjadi, dan meluncurlah cerita dari bibir mungilnya. 

Saya: "Jadi apa yang terjadi mbak?"

K: "Jadi, tadi kan aku lagi main sama temen-temen aku. Terus aku bercanda ambil penggaris A gitu kan, tapi aku kembalikan kok bunda. Tapi A langsung pegang tangan aku gini (dia peragakan dengan tangan) terus tanganku di tindih pakai tangannya gini di meja. Sakit banget bunda. Tadi warnanya sampai biru gitu" katanya. 

S: "Ya ampun, sakit banget ya? Coba telapaknya diginiin, bisa nggak?" tanya saya sambil memperagakan buka tutup telapak tangan. 

K: "Bisa tapi masih sedikit sakit" katanya lagi. 

S: "Duh, kasihan kamu mbak. Nggak papa, yang penting sekarang udah nggak terlalu sakit ya?"

K: "Terus ada lagi bunda. Dia blaming aku mencuri penggarisnya gitu. Padahal kan udah aku balikin. Malah dia blaming aku mencuri." Tangisnya semakin deras, membuat saya ikut bersedih merasakan patah hatinya K dibilang pencuri. Duh, anakku yang halus hatinya... 

S: "I am sorry to hear that. Bunda tahu kamu nggak bakal mencuri kok. Dan kan sudah dikembalikan. It's okay. Jangan sedih lagi ya. Temen-temen kamu lihat nggak pas kejadian itu?" tanya saya. 

K: "Lihat. Terus WP yang temennya A aja, jadi males main sama A gitu." Katanya lagi. 

S: "Tuh kan, berarti kamu nggak usah sedih lagi. Karena temen kamu juga tahu kan kalau kamu anak baik, dan A berbuat tidak baik sama kamu. Nanti Tuhan yang kasih teguran sama dia ya." Kata saya. 

Akhirnya K berhenti menangis dan bisa tersenyum lagi. Meskipun mengalami hari yang panjang, melelahkan (Pelajaran Olahraga dan Ekskul Pramuka di hari yang sama), dan juga patah hati, K masih mau berangkat les. Sebagai hiburan, dia makan siang di salah satu restoran cepat saji yang terkenal dengan burger nya. Good Job K!

*** 

Tadi sore, K mengulangi kembali cerita sedihnya pada ayahnya. Dari suaranya, dia tidak lagi sesedih tadi siang, bisa menceritakan pengalamannya dengan tertawa-tawa. 

Sebelum tidur, seperti biasa dia minta dibacakan cerita dan berdoa bersama. Saat berdoa, sepertinya K kembali merasa kesal dan marah saat saya minta dia mengikuti kalimat saya setelah berdoa Bismika Allahumma Ahya Wabismika Wa'ammut. 

S: "..... Ya Allah, saya maafkan A... " hening... K tidak mau mengikuti saya. Saya ulang beberapa kali, K tetap tidak mau mengikuti saya. 

S: "K, kalau misalkan A minta maaf sama kamu, dan kamu memaafkan dia, point dia 1, point dia juga 1. Kalau A nggak minta maaf tapi kamu memaafkan, itu dia nggak dapet point, tapi kamu dapet point. Malaikat di pundak kanan kamu mencatat itu. Jadi nanti Tuhan mudah untuk memutuskan, konsekuensi apa yang layak A dapetin" 

K tetap tidak mau berdoa untuk memaafkan A. Akhirnya saya ganti kalimatnya,

S: "Ya Allah... Saya maafkan semua teman yang berbuat tidak baik pada saya hari ini. Semoga saya bisa tidur dengan hati yang lebih damai malam ini. Aamiin." K mengikuti doanya, dan Ia pun tidur. 

Saya mengerti perasaan K hari ini. Semoga besok, hari-hari di sekolahnya lebih lancar, ringan, dan menyenangkan untuknya. Aamiin. 

Saturday, July 23, 2022

Dilemma Twibbon

 Sebetulnya saya sudah lama ingin menuliskan kegelisahan saya akan hal ini, di sini. Tapi belum menemukan semangat yang cukup. Hari ini, saya ngobrol ngalor-ngidul bersama teman saya yang sedang merantau di salah satu pulau cantik di timur sana, hingga berujung pada topik yang satu ini. Mumpung masih ada semangatnya, jadi saya bagi sekalian di sini ya. 

Twibbon

Saat saya memasukkan kata "Twibbon adalah" di laman pencarian G****e, maka yang muncul paling atas adalah kalimat ini: 

Singkatnya, Twibbon adalah sebuah gambar yang bersifat overlay dan dapat dipasang pada foto profil akun sosial media, termasuk Twitter untuk menunjukkan dukungan terhadap sesuatu. Twibbon pastinya hadir dengan format PNG (Portable Network Graphic).

Saya sering juga menggunakan twibbon, untuk mendukung kegiatan-kegiatan tertentu. Desain nya lucu-lucu dan menarik. Membuat orang mudah menyukainya. 

Lalu, kenapa saya merasa dilemma dengan twibbon? 

Jawaban saya adalah karena twibbon menjadi salah satu ajang promosi sekolah yang (memang) bagus dan efisien, tetapi saya termasuk orang tua yang tidak ingin terlalu banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti kita tahu, sekali lihat twibbon, pasti langsung bisa diketahui di mana anak kita sekolah yekan?

Selama ini, saya membatasi (inginnya menghindari, tetapi kadang masih suka kelepasan) berbagi informasi mengenai sekolah anak saya di media-media online selain blog. Bahkan jika menampilkan foto saat anak saya menggunakan seragam khusus sekolahnya yang sangat mudah dikenali itu, saya biasanya mensensor dengan stiker. Hanya orang-orang yang memang sensitif dan mengenal baik motif seragam sekolah itu yang mengerti. Namun, jika bertemu muka, saya dengan senang hati berbagi informasi karena saya tidak bermaksud menyembunyikannya juga.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak ingin banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti yang hari ini saya bagi pada teman saya tadi.

Yang pertama adalah keamanan. Sebagaimana kita tahu semakin ke sini, ancaman kejahatan anak semakin beragam dan juga semakin parah. Beberapa artikel menyebutkan bahwa banyak orang jahat mulai mengancam di sekitaran sekolah anak. Dan dari artikel-artikel juga saya kemudian mengikuti paham untuk tidak terlalu vulgar membagi tempat sekolah anak. 

Alasan yang ke dua adalah karena saya terlalu banyak mikir. Mungkin kalau orang tua lain santai dengan hal ini, saya kurang bisa santai. Tapi tidak apa-apa, karena sepertinya paham saya ini tidak akan melukai orang lain juga. hehee. Saya berpikir bahwa bisa bersekolah, apalagi memilih sekolah seperti yang kita inginkan karena alasan A, B, C, dst adalah sebuah privilege. Privilege yang tidak semua orang punya. Saya yakin banyak orang di luar sana yang ingin bersekolah di sekolah pilihannya tetapi tidak bisa karena berbagai alasan. Bahkan mungkin banyak juga yang ingin bersekolah, tetapi tidak bisa karena banyak alasan. Jadi saya memilih untuk mensyukuri nikmat "anak bisa sekolah," titik, sampai di situ saja. 

Teman saya memberikan komentar mengenai alasan ke dua saya ini, begini: "Kamu beda banget sama orang tua yang anaknya les sama aku mbak. Anaknya sekolah di sekolah favorit, dan dia update terus gitu di medsos". Saya tertawa dan menjawab, "Itu adalah 1000% alasanku untuk melakukan sebaliknya. Dunia ini sudah terlalu sedih dengan iri, dengki, pamer kemewahan & previllege, dan juga pretending2 - an itu. Nggak usah nambah2i."

Alasan lainnya adalah karena saya ingin menghindari perasaan jumawa. Jika ada orang yang melihat atau membaca tempat anak saya, mungkin beberapa yang mengenal akan berkata "Wah, anakmu sekolah di situ ya". Ini beberapa kali terjadi. Dan mau tidak mau, sebagai manusia normal ada perasaan senang yang lebih dari sekedar senang biasa saat mendengarnya. Saat saya menjawab "Iya", mungkin ada berbagai intonasi di belakangnya. Saya tidak ingin lebih banyak mengalami hal itu. Karena semakin banyak saya merasa 'iya' dengan sedikit berbeda, ditambah sedikit lagi, dan lagi, lama-lama tanpa saya sadari saya akan menjadi jumawa. Saya takut juga, di saat saya menjadi jumawa, ada orang lain yang kemudian memiliki perasaan 'tidak nyaman'. You know what I mean... 

Sekolah anak saya bukan sekolah yang luar biasa, bukan sekolah yang mahal-mahal itu. Sekolah anak saya hanyalah sekolah yang saya lihat sudah sangat matang kurikulumnya. Melahirkan banyak alumni yang sering terdengar gaungnya. Saya harap anak saya bisa bertumbuh baik dan mengikuti jejak baik para alumninya, dengan membawa semangat cinta kasih yang ditanamkan oleh pendidiknya. Aamiin. Itu yang terpenting menurut saya. 

Jadiii... 

Saya memutuskan tidak menggunakan twibbon yang selalu dibagikan oleh para guru. Mohon maaf ya pak, bu. Saya selalu mempromosikan sekolah kita, tetapi dengan cara yang lain. :-)

Semoga anak-anak bisa segera mendapatkan kesempatan belajar, bermain, dan bertumbuh bersama dengan situasi yang seharusnya mereka jalani di usia sekolah dasar. Aamiin. 

Selamat Hari Anak Internasional, Nak!!!

Thursday, July 21, 2022

Mbak K, I need your opinion

Mungkin saya ini salah satu emak-emak yang lebay. Mas Bojo saya juga kadang melihat saya dengan pandangan aneh, seperti melihat makhluk luar angkasa. Tapi ya mau bagaimana, saya ya beginilah adanya... #eeeaaa 

Saya senang sekali memancing anak saya dengan obrolan, diskusi, dan hal-hal kecil yang memancing jawaban. Hal yang menurut Mas Bojo remah-remah receh, sehingga dia menganggap saya kurang kerjaan. Tapi kan yang penting anaknya senang, emaknya juga riang. 

Saya pernah cerita belum ya tentang pengalaman berkeliling naik motor bersama K, dengan obrolan dari Sabang sampai Merauke? Duh, kalau belum, sayang sekali. Saya suka obrolan kami saat itu, tetapi sudah tidak terlalu ingat persis detailnya. :-p 

 Kali ini saya cerita yang pendek saja ya. Biar nggak lupa dan berlalu begitu saja. 

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu salah satu teman kami memberikan goodie bag dari ulang tahun cucunya. Sebagai emak-emak, tentunya jiwa ekonomisnya bekerja yekan. hahaha. Saya tanya teman yang lain: 

 Saya: "Sis, beliin kado buat cucunya Mbak ****** nggak?" 

 Dan berdasarkan obrolan kami yang demi menjaga privacy tidak perlu saya tulis ulang di sini, maka saya mengikut beliau saja. Tidak membelikan kado. 

 Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa saya haha hihi dengan K dulu. Tiba-tiba saya iseng nanya: 

Saya : "Mbak K, I need your opinion" 
K : "About what?" 
Saya : "If someone give you goodie bag from their birthday, do you think we should give them gift? Even if it small gift?" 
K : ...Diam sejenak sebelum akhirnya menjawab "I think we should." 
Saya : "Why?" K : "Because like you always said, when people give you something, we should give things back to them. Specially because that is their birthday." 
Saya : "Point taken." 

 Rasanya saya sedikit meleleh tadi malam. Tidak menyangka rupanya si anak wedhok itu mengingat satu dari sekian juta haha hihi yang saya semburkan padanya. Dan Dia menggunakan hatinya untuk mengolah setiap informasi. Aaahhh Mbak K, I am sooo blessed to be your mother!!! 

Tetaplah memegang tegung kasih dan juga empathy mu di sepanjang langkahmu ya nak. Hanya itu yang bisa orang tuamu berikan sebagai bekal :-) 

Love, 
Bunda Yang Mudah Meleleh Hatinya

Sunday, June 12, 2022

Indonesia Master 2022

Ini adalah pengalaman pertama saya mendukung pemain-pemain hebat kita dalam cabang olah raga Bulutangkis di Istora Senayan. Juni 2022.

Jadi ceritanya, saya punya sebuah WA grup yang isinya hanya 3 orang. Saya, Fefi, dan Medi. WAG ini dulunya kami buat dengan tujuan mulia, untuk belajar bisnis. Fefi dan Saya adalah mamak-mamak yang kebanyakan maunya tapi kurang nganu nya, sedangkan Medi adalah mamak yang sudah banyak usahanya tapi nggak kalah banyak maunya. hahahahaa. Judul WAG nya adalah "Mo Usaha Apaaa".

Seiring berjalannya waktu, pembicaraan mengenai mau usaha apa selalu mentok dengan modal dan nyali yang tipis dari Saya dan Fefi. Mungkin Medi sudah mual juga mendengar pertanyaan retorik kami "Usaha apa ya?" hahahaha. 

Jadi ke sini- ke sini obrolan kami semakin random, bervariasi, dan melebar sana sini tergantung musim. WAG akan terasa Hurricane Ike saat menyinggung masalah Drama Korea, dan jeng jeng... Bulutangkis. Dua orang itu, kalau udah ngomongin dua hal itu bisa jadi 200 chat hanya dalam sekali hembusan nafas. hahahahha. Lebay ya saya, enggak emang bener. Yang namanya Medi? uuggghhh, kalau udah ngeluarin kitab nama-nama DraKor dan artisnya dalam nama asli dan nama di dramanya, sukses membuat saya kliyengan. Nggak paham. kekekeke

Saat break lebaran kemarin, saya mudik ke Yogya. You know lah yekan, kalau di Yogya itu saya lebih jarang membuka chat. Saat saya buka chat sudah ratusan dan ternyata mereka sudah membelikan tiket nonton #IndonesiaMaster2022 untuk #QuarterFinal . Jadi saya dengan senang hati ikut nonton, itung-itung jagain mereka kali-kali mereka nanti lupa diri kalau ketemu atlit idola. hahahaha. Saya selalu senang kalau di ajak nonton live. Musik, teater, olah raga. Suka pokoknya.

Dan ini adalah titik di mana saya mulai menyukai Bulutangkis. Saya mulai ingin mengenali pemainnya, mulai follow beberapa IG pemain yang sudah saya tonton, dan mulai nyambung dengan obrolan dua teman fanatik saya itu. Cerita lebih lanjut yang menyangkut detail, perasaan, dan lain-lainnya kapan-kapan saya bagi. Unggahan ini hanya untuk menyimpan foto-foto dulu agar tidak hilang, karena saya tidak nitip di medsos :-p





































Untuk Video, sepertinya harus di unggahan yang lain. Terlalu banyak yekaaan... :-p