Tuesday, December 1, 2020

31 Days Journaling Challenge - December 2020

Dengan semangat untuk memperbaiki kekonsistenan menulis, maka saya bergabung kembali dalam tantangan menulis sebulan penuh di Bulan Desember 2020 ini. Berikut ini adalah daftar topik yang sudah dikirimkan oleh 'suhu' journalling yang tidak lain adalah Ci' Inge. hehehe

Seperti biasa, tulisannya bisa dilihat di sini: https://kemarinkoe.blogspot.com/ 

Bismillah... 

*******


1: What do you want to do this month? Write your goals for the month, and think about what you need to do to accomplish them.

2: Look back through your planner, journal, and/ or bullet journal for the past year. What stands out to you? Were there significant events, strong emotions, big changes, happiness, determination? Write what stands out to you most from looking back over your year.

3: Think about what your life was like at the beginning of the year. How is your life different now from how it was in January?

4: Is your life now how you expected it was going to be at the beginning of the year? If not, how is it different than you expected?

5: Who were the most important people in your life this year?

6: Who did you spend the most time with this year? Are these the same people in your answer to the question above? Why or why not?

7: How did your relationships change this year? Which relationships grew? Which deteriorated? Why?

8: Are there any relationships you wish could be different from how they are now? In what way?

9: Look back at your progress in work/ school this year. How have you developed?

10: Have your work/ school goals and priorities changed this year? In what way?

11: In what ways have you improved at work/ school this year?

12: What could you have done better in work/ school this year?

13: How has your health/ fitness changed this year? Has it improved or declined? Why?

14: What did you do to try to improve or maintain your health/ fitness this year? How successful were you in these efforts?

15: Mid-month review! How are your goals coming along? What can you accomplish in the remainder of this month?

16: Did you have any setbacks to your health/ fitness this year? If so what were they? What did you do to overcome/ improve them?

17: Look back at what your goals were for this year. What did you hope to accomplish?

18: What were your biggest accomplishments this year? How many of these were part of your original goals, and how many were unexpected?

19: Looking at your 2020 goals again: which of these goals did you complete? Congratulate yourself on a job well done!

20: For the goals you did not complete, why? What were your roadblocks? What kept you from accomplishing your goals?

21: Think about the roadblocks that kept you from accomplishing your goals. What can you do to overcome these in the upcoming year?

22: How did your goals change during the year? Did any of your goals become irrelevant? Did any change direction, timing, or magnitude? (For example maybe you planned to run a marathon in the spring, but had to change plans due to an injury and ran a 10k in the autumn instead. Your overall goal of running a race stayed the same, just the timing and magnitude changed. The success is you came back from injury to accomplish your goal of running a race!)

23: Looking back over your year, what were some blessings in disguise? What happened that seemed undesirable at the time but ended up being good?

24: Describe a time from this year when you overcame difficulty.

25: What are your happiest memories from this year?

26: What risks did you take this year? How did they turn out?

27: What are you most grateful for this year?

28: What will you remember most about this year 10 years from now?

29: Write five words or one sentence to sum up this year.

30: What good things happened this month? What were your favorite moments this month?

31: Month review! How did this month go? Which goals did you complete? What do you still need to work on?



Sunday, November 29, 2020

Journaling Challenge - November 2020

 Helooo... 

Seperti Bulan October kemarin, Bulan November ini pun saya berniat mengikuti writing challenge untuk 30 hari penuh. List topic nya seperti ditampilkan pada gambar dibawah ini. Awalnya saya istiqomah, namun ternyata Bulan November saya hanya rajin sampai dengan hari ke - 6. Setelahnya saya mabal dan tak kembali. Monmap yaaa... 

Bulan Desember saya akan mencoba lebih tertib dan konsisten. Aamiin. 

Seperti kata Bu RT kita tercinta, bahwa untuk menjadi konsisten dan semangat mengejar target, kita bisa meminta bantuan orang lain untuk memberi tekanan. Tertarik menjadi tukang tagih tulisan saya ketika saya tak lagi konsisten? Boleh bangettt lhooo... 

Tulisan nya ada disini: https://kemarinkoe.blogspot.com/ 

Terima kasih,

WJ

Thursday, October 1, 2020

31 Days Journaling Challenge

 Hello there... 

Di Bulan Oktober ini saya bersama dengan teman-teman Kaizen Semut Merah menantang diri sendiri untuk melakukan kegiatan menulis rutin selama 31 hari. Temanya sudah ditentukan, kita tinggal mengikuti dengan cerita kita sendiri. Saya bersemangat sekali mengikuti tantangan ini. Karena menulis rutin itu adalah kegiatan susah-susah gampang dan gampang-gampang susah. Gampang kalau kita sudah memulai dengan 1 kalimat, namun susah untuk mencari kalimat pertama itu apa. 

Yang seru dari tantangan ini juga adalah kita bebas menulis dimana saja, dengan media apa saja, dan apakah mau di share ke orang lain atau tidak. Kalau kalian mau nulis di diary juga boleh. Tantangan ini lebih untuk refleksi kita sendiri kok. 

Mulanya saya juga ragu, apakah saya akan menuliskannya dan membaginya ke jagat dunia maya, atau hanya saya simpan di draft untuk saya baca sendiri? Namun akhirnya saya memilih yang pertama. Saya share saja dengan orang lain yang kebetulan atau memang niat mampir ke tulisan saya. 

Kalau ada yang ingin membaca-baca jurnal saya, bisa ditilik disini ya: https://kemarinkoe.blogspot.com/ 

Smangadh!

Tuesday, September 29, 2020

Cinta Pada Kenangan

  


Untuk yang telah pergi,

Untuk yang memilih untuk berlalu, 

Dan untuk yang berbaik hati meninggalkan jejaknya, namun akhirnya menghilang jua... 


Semua tetap ada tanpa cela... 

Karena selalu ada masa, 

Ketika kenangan membuat kita kembali jatuh cinta... 


#Relationship #Friend #Family #Love ❤️❤️❤️

Sunday, September 27, 2020

Untukmu Suatu Saat Nanti

 



Setiap waktu yang berlalu, adalah detik yang menghilang

Setiap jauh kaki melangkah, adalah jejak yang kian menjauh

Setiap barisan pengalaman, adalah titik yang meliuk


Setiap kita ingin pergi, menjauh semakin jauh

Setiap kita ingin melihat, yang belum terlihat

Setiap kita ingin merdeka, sebebas merpati


Pergilah, pergi sejauh engkau ingin

Lihatlah, dengan mata yang tak terlihat

Bertumbuhlah, dengan apa yang tumbuh dalam relungmu


Satu yang tak lekang oleh waktu, 

Adalah rindu 

Rindukan kami yang tak pernah hengkang dari hatimu

Adalah kami, 

Rumah dengan pintu selalu terbuka untukmu pulang… 


#UntukmuSuatuSaatNanti

#AllMyLoveInOnePicture 

Saturday, July 4, 2020

Gelas Baru Kosong atau Menunggu Isi



Jangan menatapku
Apalagi dengan keibaanmu
Karena sesungguhnya itu tak perlu

Mungkin kau lihat aku tak berisi
Mungkin kau liat aku terabai
Tapi sejatinya tidak

Aku membuat diriku sendiri dan kosong
Agar cukup banyak udara dapat mengisi
Untuk memberi nyala pada sumbu api

Tak perlu takut terlihat sendiri
Karena sendiri membuatmu berisi
Sendiri memberimu ruang
Untuk menakar dan menakir

Ketika keriuhan tak lagi menjadi pecut
Ketika keriaan tak lagi berarah
Saatnya untuk sendiri dan mengosongkan diri
Pilih dan pilah
Apa dan mana yang berfaedah
Dan membuatmu maju

Lippo Carita,
04 July 2020

Menjadi Manusia



Lembut ditelapak kakiku
Sejuk menerpa rambut tipisku
Hangat mengaliri kerongkonganku
Sepi mengisi pikiranku

Siang tak lagi terik
Matahari seolah enggan berlaku
Ombak terdengar pilu
Angin bernyanyi mendayu

Karena aku adalah manusia
Maka aku merasa

Bilamana aku adalah pasir, angin, secangkir kopi, atau rasa...
Maka aku hanya berada pada masa dan tempatnya...

Ah, manusia...
Membuat semua menjadi terasa...

#Rasa
#MenjadiManusia

Siang di Lippo Carita,
4 Juli 2020


Saturday, June 27, 2020

Saatnya Mengistirahatkan Jiwa

Tatkala jiwa meronta,
Raga bicara
Tatkala jiwa meminta,
Raga terhina

Lepaskan,
Letakkan,

Tiada guna kita meronta
Tiada guna kita mencerca
Karena yang ada hanya kita
Karena yang rasa hanya kita

Istirahatlah,
Tidurlah,
Esok kita akan bercengkerama lagi dengan alam alam
Dengan gembira dan suka cita


Friday, June 26, 2020

Mimpi Yang Tak Pernah Mati


Saya tidak pernah takut bermimpi, dan saya tidak pernah takut mengatakan seperti apa mimpi saya pada siapa saja yang tertarik. Banyak yang bilang bahwa mimpi ketinggian itu namanya halu, dan saya setuju. Memang yang namanya mimpi ya pasti halu. Halusinasi. Halusinasi yang membayangi otak kita, sehingga kita membayangkan yang indah-indah, yang menyenangkan, dan memberikan kita kepuasan. Itu memang benar. 

Mungkin yang membedakan adalah, apakah kemudian kehaluan itu hanya akan berhenti pada kesenangan sesaat manakala sedang ber halu ria, ataukah kita mencatat kehaluan kita dan menjadikan itu sebagai mimpi yang ingin kita wujudkan suatu saat nanti? 

Bagi partner hidup saya, mungkin yang namanya mimpi dan kehaluan saya itu sudah tidak bisa dihitung lagi. Sejak saya berpacaran dengannya, hingga saat ini kami sudah punya anak yang sudah masuk SD, saya masih memiliki hobby yang sama, yang itu mimpi. Dan sayangnya, Mas Bojo saya ini bukanlah tipe yang supportive pada mimpi istrinya. Bahkan dia lebih cenderung pesimis menurut saya. Setiap mimpi yang saya ceritakan padanya, dia akan menanggapi dengan dingin, atau justru memicingkan mata dan berkata "apaa sih, nggak jelas". Dan itu bukan sekali dua kali. Hampir di semua mimpi yang saya ungkapkan padanya, mendapat respon yang seperti itu. 

Tapi saya tidak menyerah. Saya sakit hati, saya kecewa, dan saya lontarkan kekecewaan saya padanya, namun tidak merubah apapun. Cibiran dan picingan mata juga yang saya dapat ketika saya menyampaikan mimpi saya. Tidak apa-apa. Namanya manusia, tidak akan ada yang terlahir sama. Bahkan cenderung berbeda untuk saling melengkapi, teorinya sih gitu. 

Apakah saya hanya memelihara mimpi saja? 
Tentu tidak ferguso... 
Saya juga mengupayakannya untuk menjadi nyata. Saya memulai dengan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan mimpi saya, mencari sebanyak-banyaknya referensi, dan lain sebagainya. Setelah itu saya membuat jalan saya menuju mimpi saya dengan bagan. Entah sudah berapa banyak saya punya yang seperti ini. Namun sudah banyak sekali juga yang hilang lenyap entah kemana. Tidak masalah. Seperti itulah mimpi di kehidupan. 



Beberapa waktu belakangan ini saya juga sedang menjalani salah satu mimpi saya. Mimpi saya yang ini sih sudah mulai ketika masih SD. Entah sudah berapa banyak yang hilang sejak saat itu. Tapi saya tetap memelihara mimpi saya hingga saat ini. Karena saya percaya, mimpi yang dipelihara dan dirawat itu, akan menemukan jalannya sendiri suatu saat nanti.

Terbukti dengan dimulainya tahun ini. Secercah harapan dari mimpi saya mulai menampakkan diri. Perlahan semakin menerang dan benderang. Saya ikuti dengan senang hati. Apakah mimpi saya akan jadi kenyataan? Mimpi saya selalu menajdi kenyataan, ketika saya merawatnya sedikit lebih maju, sedikit lagi, sedikit lagi. Semua proses itu adalah mimpi saya. Hasilnya adalah bonus dan berkah.

Sunday, June 14, 2020

Seize The Day

Selamat Hari Minggu!

Pict by: Mas Bojo
Akhir pekan... Adalah dua hari (terkadang 2,5 hari jika menyertakan Jum'at Sore, atau 3 hari jika pula menambahkan Senin pagi) yang selalu berlalu dengan lebih cepat. Lebih cepat dari hari-hari biasanya. Menurut saya.

Meskipun bekerja dari rumah bukanlah hal yang baru untuk saya, namun tetap saja mengatur waktu untuk "Me Time" dihari kerja itu tidak mudah. Terkadang memang saya bisa produktif jika sedang semangadh bangun pagi, atau sedang bisa melek hingga malam. Namun seringnya saya membiarkan alarm pagi saya terus menerus berteriak hingga matahari hadir terlebih dahulu. Dan sering pula saya ikut terlelap mengejar kisah yang saya bacakan untuk anak saya, bahkan ketika anak saya belum mulai tidur. 

Tapi, sebisa mungkin saya masih mengusahakan agar akhir pekan saya tidak berlalu begitu saja tanpa bekas. Seperti banyak akhir pekan di beberapa tahun yang telah berlalu. Saat dimana otak kanan saya sedang hibernasi jangka panjang. Saat-saat itu saya melewati akhir pekan saya dengan kurang bermanfaat. Ada manfaatnya, tapi masih kurang dan belum cukup banyak sepertinya. 

Sekarang-sekarang ini, terlebih dengan banyak bergabung dengan komunitas kreatif, ditambah lagi dengan situasi pandemic yang membuat kita semua harus anteng-anteng dirumah, membuat saya semakin berusaha memaksimalkan akhir pekan saya. Saya perbanyak agenda membaca saya, dengan harapan saudara kembarnya (menulis) bisa mengikuti dibelakang. Saya sesekali merajut lagi, untuk memenuhi tantangan dari group yang isinya orang-orang ahli Craft di Kota Hujan ini. Luar biasa. Saya merasa lebih bersemangat. 

Ternyata, badan kita memang mengikuti niat dan semangat kita. Semakin banyak melakukan sesuatu, semakin semangat dan prima raga kita. Dan ketika lelah datang, saya merasa lelah dengan puas dan lebih bahagia. Saya ingat bagaimana seringnya saya mengeluh lelah, meskipun saya tidak mengerjakan apapun dulu. Badan saya rasanya sakit-sakit semua, walaupun seharian saya hanya duduk, sesekali mengobrol dengan tetangga, scrolling up dan scrolling down hidup orang di media sosial. Jiwa dan raga saya justru lebih sering memberontak. 

Seringkali terbersit dalam benak saya, bahwa bagaimana kita menikmati waktu kita sendiri (ketika sedang sendiri), adalah yang menentukan kulitas hidup kita. Saya bicara mengenai kualitas hidup dilihat dari sisi inti diri kita ya. Maksudnya, akan sangat berbeda sepertinya apabila orang menjalani waktu "sendirinya" untuk dirinya sendiri, dengan orang yang menjalani waktu "sendirinya" dengan melibatkan orang lain. Membaca, membuat prakarya, berkesenian, bermain musik, menyanyi, jogging, mendaki gunung, yoga, kontemplasi, dll adalah jenis spending time untuk diri kita sendiri. Kita melakukan sesuatu untuk diri kita, dan kita yang menikmati setiap detiknya. Bahkan yang menikmati hasilnya juga. Nonton, mengikuti media sosial orang lain, mengobrol dengan teman, mengobrolkan tentang teman, dll adalah bentung spending time yang melibatkan orang lain. Hasilnya terkadang justru tidak memberi ketenangan pada jiwa kita. Dan cenderung menguras energi yang seharusnya diisi. Tapi mungkin ini relatif ya. Hanya pandangan saya saja.

Semoga ikhtiar saya untuk meningkatkan kualitas hidup khususnya di akhir pekan, bisa terus berlanjut dan seterusnya. Aamiin. 

Akhir pekan ini, saya menyelesaikan bacaan saya dari Mitch Albom yang "Five people you meet in heaven", dan saat ini sudah mulai membaca yang "Tuesdays with Morrie" yang juga dari Mitch Albom. Semoga ada semangat untuk menulis review nya juga. Melatih mentransfer apa yang saya baca (meskipun perjuangan sekali membaca, mentranslete, dan menceritakan kembali) kedalam tulisan saya sendiri. Ciayo!!!

Oh iya, hari ini saya sudah berhasil mengirimkan cerita pendek yang nantinya akan menjadi bagian dari Antologi Rasa milik para Alumni Kaizen. Semoga tulisan saya layak dibaca dan banyak yang menikmatinya. Tunggu yaaa... :-)

Love, 
WJ

#WeekendActivity
#AkhirPekanYangProduktif
#QualityTime
#MeTime
#MitchAlbom
#FivePeopleYouMeetInHeaven
#TuesdayWithMorrie

Sunday, June 7, 2020

Hai!!! Apa Kabar?

"Hai!!! Apa Kabar Icha?"


Baik. Sebelum berpanjang dan berlebar, maka perlu digarisbawahi keadaan yang menjadikan error dari segala error ini bermula. Bahkan sampai detik inipun (lebih dari 24 jam dari muncratnya ide random ini), saya masih tidak percaya dengan perbuatan saya sendiri. Halu tingkat dewa...

Begini ceritanya...

Semua berawal dari suasana hening diantara saya dan suami saya, di Jum'at Sore, kemarin. Kami yang duduk terpisahkan oleh meja makan, disatukan dalam diam dan pikiran yang sama-sama mengembara selaras dengan gemericik air terjun kecil kami.

Saya berandai-andai, melanjutkan banyak pengandaian yang telah subur dalam beberapa bulan terakhir ini. Dalam kondisi pandemi seperti, dorongan untuk bisa berbuat banyak, membantu sebanyak-banyak nya orang, meskipun dengan sekecil-kecil pun bentuk bantuan, semakin membuncah. Apa yang bisa saya lakukan dengan keterbatasan sumberdaya seperti ini? Bagaimana bisa menjadi lebih bermanfaat bagi orang yang kita kenal, tanpa harus banyak upaya? Bisakah saya menjadi lebih bermanfaat bagi lingkungan? Adakah cara yang bisa membuat orang-orang merasakan manfaat dan mendapat nilai lebih sari adanya saya didunia?

Entah mendapat dorongan atau kekuatan dari mana, tetiba saya berucap, "Aku mau live IG ah... " Kata saya. Dan suami saya menjawab ringan "Ya udah live aja..." Katanya.
Sayapun mengambil handphone saya, menscroll up scroll down barisan WA status teman-teman saya, tanpa tahu apa yang saya cari. Tetiba pula mata saya melebar dan jemari saya berhenti nye-croll ketika saya baca nama "L Icha Pantera". Seperti sebuah balon pecah didekat saya dengan suara plop nya, disusul dengan bohlam yang mendadak menyala, lengkap dengan sebuah suara didalam kepala "Aha!". Saya menangkap ide.

Saya buka WA status Icha, dan melihat sebuah foto persiapan foto session. Dimana banyak sekali properti foto yang ada didalam frame foto itu. Saya kirimkan pesan "masteeerrr". Dan dibalas oleh Icha dengan "master limbad...". Ahhahaa. Sa ae si Icha. Tanpa pikir panjang atau bertele-tele, saya todong dengan "sharing ilmu donk cha... Live instagram yuk..." #eeeaaa

Dan meskipun awalnya si Icha bingung mau saya apa, akhirnya gayung bersambut, dia setuju. Curhat aja laaah... Ngobrol ngalor ngidul ajaaa... Kata saya saat itu. Deal. Live IG bersama Icha.

"Yah, jadi. Live IG sama Icha besok" kata saya kepada Mas Bojo.
"Ok. Nanti tak buatin flyernya" saya iyain aja padahal nggak tau flyer kek mana yang dia mau buat.
"Paling nanti isinya kamu doank ya..." Kata saya yang disusul dengan tawa bersama.
"Tagline nya -Hai!!! Apa Kabar?" -Aja..." Kata saya.

Entah kenapa saya tetiba mikir, "Hai!!! Apa Kabar?" Adalah tag line nya. Saya merasa, itu adalah ciri khas saya aja. Setiap mencoba berkomunikasi dengan teman-teman, saya pasti menggunakan kata itu. "Hai!!! Apa Kabar?" Sampai pernah ada teman saya heran dan bertanya "gw koq ngerasa kayak ditunggu-tunggu banget gitu sama elu, kayak udah lama nggak ketemu gitu. Terus ngerasa di perhatiin gitu ditanyain kabar". Katanya. Saya bilang "masak sih? Gw setiap ketemu orang begitu memang nyapanya lhooo..."
Heheheee... Dan juga, saya merasa live IG saya ini memang tujuannya  adalah untuk menyapa teman-teman lama saya yang sudah lama tak bersua. Beberapa mungkin masih bersua sesekali, atau masih bersua secara daring. Tapi tetap, menanyakan kabar rasanya sangat pas dalam situasi seperti sekarang ini. Dan suami saya setuju.

Sayapun melanjutkan memasak, dan Mas Bojo mandi lalu membuatkan saya Flyer.

Setelah flyer jadi dan dikirim ke saya, saya termenung. Seolah saya dibeturkan ke keran hingga baru menyadari bahwa saya ini pernah amnesia. Berbuat sesuatu diluar nalar saya. Beneran ini? Dih, demi apa ya?Aku kan nggak pernah berani ngomong didepan orang? Pake IG aja jarang. Sok-sokan mau live. Ngomongin apaaa? Hwaaa... Mas Bojo tertawa, dan berkata menenangkan saya "Selow aja... Ngobrol biasa aja..." Katanya.

Dan saya mulai terlihat errornya. "Gimana sih caranya Live IG?" Mas bojo saya gemas dan menunjukkan caranya pada saya. "Terus kalau mau live berdua gimana?" Tanya saya lagi. Kali ini mas bojo tidak bisa membantu. Akhirnya saya gugling. Saya rasa, saya mengerti. Teorinya :-p

Tapi karena masih nerveous, akhirnya saya colek salah satu teman saya yang 'sepertinya pernah live'. Dan dengan baiknya dia langsung membuat live dadakan untuknya sendiri hanya demi membuatkan saya screenshot. Aaah, baiknya kamu Dew... Makasih banyak yaaa. Kapan-kapan lo yang akan muncul di acara "Hai!!! Apa Kabar?" gw yaaa :-)

Sayapun mulai dengan ragu dan malu, men-share flyer dari Mas Bojo ke beberapa teman saya. Mereka bersemangadh ikut. Bukan karena materinya, tapi karena rindu pada ceriwisnya saya semata. Eeerrr... Saya teruskan flyer nya ke beberapa grup WA yang jumlahnya kecil dulu... Sambutannya positif. Salah satu teman nge-host zoomie land saya, bersemangadh sekali menyemangati saya. Mungkin karena dia juga sudah ikut berbagi host bersama saya, jadi rada PD saya akan bisa bertahan selama satu jam. Nge-host zoomie land untuk alumni angkatan kami saja, bisa tahan sampai 9 jam yekaaan. Hahaha

Saya perluas peredaran flyernya ke grup yang lebih besar. Beberapa japri mulai masuk dan bilang "Insya Allah aku join...". Uhuk... Mulai grogi. Kirain bakalan cuma saya, Icha, Mas Bojo, dan beberapa teman yang juga rindu Icha aja yang bakal join. Baiquelah... Endak mashalah... Paling juga 10 orang lah yess...

Kata Mas Bojo "udah aku share ke grup L, pada semangadh tuh... Mantuls mantabs katanya..." Eeeaaa... Grup L itu adalah grup organisasi dimana saya, Icha, mas bojo, dan beberapa teman yang sudah konfirmasi alan join tadi bernaung semasa mahasiswa. Ya ndak heran lah kalau nambah seorang dua orang dari grup itu, karena Icha masih banyak di kenal juga. Mereka pasti rindu Icha (iya, Icha, bukan saya hahaha).

"Share laaah ke status sama IG stories... Sekalian orang udah ke grup-grup" kata suami saya memanasi. Dan seperti biasa, pinternya saya koq ya nurut. Saya post di WA status dan IG stories.... Wadidaw... Beberapa teman yang saya tidak sangka-sangka mulai menjapri. "Waaah, aku mau join yaaa, lagi mulai usaha makanan juga nih. Pengen belajar food potography..." Atau "Aku join ya, penasaran banget food photography" atau yang lain-lainnya sejenisnya... Duh

Saya jadi grogi beneran. Jadi musti nanya apa donk besok ke Icha biar manfaatnya buat audience lebih maksimal? Ahahahha... No idea.

Bismillah... Semoga diberi kelancaran pikiran dan juga lisan untuk kegiatan berbagi ilmu esok hari. Aamiin.

Selamat malam semuanya.

Monday, June 1, 2020

Lubang Dalam Sebuah Cerita



Apakah kalian termasuk penggemar sinetron, drama, atau film? Atau membaca buku deh? Sama. Saya juga. Saya suka semuanya itu.

Pernah nggak ketika sedang asik menikmati ceritanya, tetiba kita merasa "eh?", "Loh, koq?", "Lho, aneh banget ya", "ahahaha... Koq gitu banget ya?", "mustinya nggak gitu kali ya?", Atau bahkan "jiah, nggak masuk akal banget..." Atau sejenisnya yang lain?

Saya beberapa kali menemukan hal-hal tersebut diatas. Terkadang samar, terkadang perlu sedikit mikir untuk menemukannya, namun terkadang jelas sekali dengan gamblang bahwa ada lubang dalam alur cerita itu.

Berhubung saya adalah orang yang suka penasaran, maka saya mengikuti beberapa kursus penulisan skenario. Dan juga beberapa kursus penulisan novel. Saya ingin tahu dari dalam. Bagaimana sebuah cerita itu dibangun, dikisahkan, dan disajikan dengan apik kepada para audience. Harapan saya adalah untuk bisa merasakan sensasi dan pergumulan batin para penulis, ketika mencurahkan isi kepalanya kedalam cerita. Sehingga saya bisa mengerti, bagaimana lubang cerita itu bisa terjadi.

Dari beberapa kursus yang saya ikuti, saya jadi tahu. Bahwa lubang cerita itu namanya adalah plot hole. Plot hole bisa terjadi karena penulis lengah atau terlena dalam menuturkan kisahnya. Sehingga tidak mengecek ulang logika alurnya.

Untuk beberapa orang, mungkin plot hole tidak menjadi masalah. Namun bagi beberapa yang lain, adanya plot hole bisa mengganggu. Bahkan kadang membuat kegelian tersendiri yang terngiang-ngiang dikepala. Kan sayang kalau ceritanya bagus, tapi tetiba ditengah-tengah muncul wakwaw nya yekaaan...

Nah, begitu pula dengan cerita yang mungkin bisa atau biasa kita sampaikan dikehidupan nyata. Sudah takdirnya manusia sebagai makhluk pencerita, untuk membuat cerita masing-masing. Terkadang kita ditempatkan pada situasi dimana kita harus menciptakan sebuah plot cerita, untuk berbagai tujuan. Untuk meyakinkan orang lain, untuk membujuk orang lain, atau untuk mengelabui orang lain. Atau alasan yang lainnya.

Ternyata untuk itupun, kita harus berhati-hati dan memastikan tidak ada plot hole yang membuat pendengar kita berpikir "wakwaw...". Karena jika itu terjadi, sudah barang tentu pendengar kita lantas tidak lagi mempercayai keseluruhan cerita yang telah susah payah kita bangun.

Jadi, sebelum kita membuat cerita, pastikan kita tidak meletakkan plot hole ditengah cerita kita. Atau jika belum mampu, sebaiknya tidak perlu mengarang cerita. Kisahkan saja cerita yang sebenarnya terjadi. Rasanya itu lebih elegan dan meyakinkan. Dan juga tidak meninggalkan kesan "yaelah, ketahuan banget ngibulnya" yekaaan

#menuliscerita
#ceritamanusia





Dari Sebuah Ruang Kaca



Hampir dua jam aku duduk disudut ini. Menunggu. Banyak hal kulakukan sedari tadi, untuk membunuh waktu. Telah kurampungkan buku setebal 160 halaman tentang Visual Aids for Mindfulness, menarik. Telah kutandaskan kopi classic yang kuseduh dari rumah dan kubawa dalam tumbler starbuck Spanyol. Entah berapa banyak pesan WA yang telah kubaca dan kubalas diantaranya. Selain dari kesibukanku ke toilet, dan menyeka hidung yang mendadak gatal berair.

Selepas halaman terakhir dari buku yang judulnya "Calm" itu, aku diam sesaat dan baru sempat mengamati sekelilingku. Ada beberapa orang selain aku yang juga menunggu. Satu orang sudah ada di kursi itu ketika aku datang, dan dua orang lagi baru saja datang. Kamu semua menunggu antrian.

Kulihat acara TV yang disiarkan, acara yang sama ketika dua minggu lalu aku datang ke tempat ini. Acara dakwah. Lebih tepatnya kontes dakwah anak-anak. Puluhan (mungkin ratusan) anak-anak sholeh dan sholehah yang pintar menghafal dan melafalkan alquran, berkumpul ditempat itu. Beberapa diantaranya maju bergantian dan mengikuti kontes menjadi hafidz/hafidzah terbaik. Luar biasa. Sesekali aku merasa merinding.

Tak lama acara kontes tersebut selesai. Berganti dengan acara dakwah orang tua. Segala macam dakwah dengan beberapa topik disampaikan oleh beberapa orang yang berbeda. Aku mendengar sekilas lalu, karena mataku nyalang ke cahaya terang dibawah TV itu. Pintu kaca.

Dari pintu kaca itu, aku bisa melihat aktifitas kesibukan diluar sana. Mobil bergantian parkir, datang dan pergi. Mobil, motor, sepeda, becak, berseliweran silih berganti. Sesekali orang yang berjalan kaki.
Seorang pengendara motor nampak berusaha berputar didepan area parkir klinik ini. Dia nampak kesulitan. Dia majukan motor sedikit, dan mundurkan sedikit lagi. Hingga akhirnya motornya berbalik 160 derajat. Namun dia tak kunjung melajut, dan masih terlihat kesulitan. Setelah lama kucermati dan kuperhatikan, ternyata motornya ditautkan dengan sebuah gerobak. Gerobak kayu berisi aneka barang perabot rumah tangga. Eh tunggu. Ada sayur mayur juga.

Rupanya dia adalah pedagang kelontong sekaligus sayur mayur keliling. Menilik jumlah dagangannya, tak lagi banyak tersisa. Mungkin dia sudah mulai berdagang dari pagi hari sehingga belum tengah hari, dagangannya sudah banyak laku. Tapi bisa jadi dia memang tidak memiliki banyak barang untuk dijual? Entahlah. Ketika motor dan gerobaknya akhirnya menghadap kearah yang sama, raut ceria dan puas tergambar diwajah si bapak. Dan diapun menarik setang kanannya dan melaju. Melanjutkan perjalanan yang aku tak tahu. Mungkin pulang, mungkin lanjut berdagang.

Tetiba, aku diam. Berusaha merangkai setiap kejadian dengan keadaanku dan sekitarku saat ini. Saat manusia melihat dunia, dari sebuah kotak kaca.

Acapkali kita sibuk melihat, mengamati, dan menilai apa yang terjadi didepan mata kita. Kita berasumsi pada setiap hal yang terjadi. Kita mengira-ira, kita turut merencanakan strategi, kita menyayangkan, kita menyemangati, kita menyalahkan, hingga akhirnya entah memuji atau mencaci. Kita melakukan sesuatu yang menguras energi dan waktu kita, untuk sesuatu yang terjadi diluar arena kita. Sesuatu yang berada jauh dari jangkauan kita. Sesuatu yang bukan ranah kita. Dan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kita.

Acapkali pula kita melakukan semua itu sambil tekun mendengarkan dakwah dari TV maupun dari acara-acara secara langsung. Otak kita diisi dengan dakwah mengenai keadaan ideal yang sebaiknya manusia lakukan dan kehidupan yang semestinya manusia jalani, dari sisi satu agama. Namun mata, hati, pikiran kita terfokus pada orang lain diluar sana. Bagaimana bisa? Itulah uniknya manusia.

Ingatanku kembali pada isi buku yang tadi kubaca.



Kusadari bahwa beberapa waktu belakangan ini, ada kegelisahan tersendiri yang bergejolak dalam diri ini. Ada gelitik-gelitik dari ringan sampai berat yang memancing kegelian dan kegelisahan, yang belum ketemu sebabnya. Analisa dini berdasarkan kesotoy an ku mengatakan bahwa mungkin aku sedang berada ditahap jenuh.

Tapi satu sisi jiwa yang lain mengatakan ini lebih dari itu. Bagaimana jika ini adalah proses bertumbuh kedalam ku? Aku lebih sering mempertanyai diri sendiri, apa yang sebetulnya kuinginkan. Apa yang sebetulnya sedang terjadi? Bagaimana aku bisa mengurai semua kesemrawutan yang rasanya bagaikan benang kusut carut marut didalam kepala yang terkadang muncrat ke hati?

Jika benar begitu, pun tak mengapa. Aku rasa baik kiranya kita menyadari saat-saat sesuatu terjadi, dari dalam. Agar kemudian kita bisa pula mengetahui apa kebutuhan yang harus dipenuhi. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu. Dan sejauh apa kita harus bekerja sama dengan semua gejolak dari dalam itu.

Kembali lagi pada jeda yang sering kuungkapkan dalam tulisan-tulisan sebelum ini. Aku sering berkata "manusia memerlukan jeda". Kini, aku sampaikan bahwa "aku memerlukan jeda".

Sekali lagi ini mengingatkanku pada semboyan atau tagline yang dulu selalu dimiliki oleh almarhum senior yang (sampai saat saat inipun tidak berhenti) saya kagumi. "Sumuk Ra Kringeten" 




Monday, May 25, 2020

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Untuk semua orang yang sedang berjuang membersamai waktu,
Untuk semua orang yang sedang berjuang untuk yang terkasih,
Untuk semua orang yang sedang berjuang untuk melanjutkan hidup,
Untuk semua orang yang sedang menjalani ketidakpastian...

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H,
Minal Aidin Wal Fa'idzin,
Mohon Maaf Lahir Dan Batin



Semoga ibadah kita selama Bulan Ramadhan, diterima oleh Allah SWT.
Semoga upaya kita untuk bertahan dalam ketidakpastian,
Dirahmati Allah SWT.
Sehingga kiranya ujian dan cobaan segera berlalu...
Dan kita semua bisa kembali berjalan dengan tegap,
Bisa menjalani kehidupan normal kembali...

Aamiin.

Manusia...

Adalah kumpulan dari daging, darah, dan cairan lainnya, yang ditopang oleh tulang belulang dan diikat oleh otot. Semuanya bisa membusuk dengan mudahnya ketika ditimbun dengan tanah dalam jangka waktu lama.

Ketika hidup, manusia bebas bergerak kemana saja, bebas berpikir apa saja, bebas melakukan apa saja, bebas merasakan apa saja.

Hanya ada akal, pikiran, dan hati nurani yang bisa membatasi semua pergerakan dan aktivitas itu. Namun, kadar penggunaan akal, pikiran, dan hati nurani itu sering nya berbeda-beda untuk masing-masing orang. Tidak mengapa, karena semua itu adalah bagian dari proses bertumbuhnya kita sebagai manusia. Banyak juga yang hingga akhir masanya didunia, manusia tidak menggunakan setiap karunia Allah SWT dengan maksimal. Banyak.

Mencoba menjadi lebih baik.
Itu adalah semboyan yang sangat baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berlomba dengan diri kita sendiri hari kemarin.

Bersinggungan, berselisih, bertengkar, ataupun kemudian saling membenci, adalah buah pikiran manusia yang terlalu banyak menggunakan hati, dan kurang menggunakan akal. Dingin, ansos, terlalu logis, dan lain-lain adalah buah dari kebanyakan akal kurang hati. Mungkin tidak ada manusia yang sempurna dalam menggunakan setiap karunia Tuhan YME, hanya manusia pilihan yang sempurna. Tapi tetaplah menjadi tugas kita selaku manusia yang hidup didunia, memiliki kewajiban untuk bersosialisasi antar manusia, dan berusaha memaksimalkan kegunaannya.

Ingin menjadi manusia seperti apa, itu adalah sepenuhnya hak kita untuk memilih dan menentukan. Tidak ada yang bisa mengatur atau memaksakan. Silakan saja, asal tidak saling merugikan. :-)

Mumpung masih Bulan Syawal, jikalau ada yang merasa pernah tersakiti oleh kami sekeluarga, mohon di maafkan lahir dan batin. Jika ada kesalah pahaman yang mungkin kami tidak sadari, monggo kita luruskan. Kami selalu dengan senang hati menerima kritikan dan saran serta nasihat dari semua orang. Karena dengan itu semua, kami bertumbuh ke dalam.

Wednesday, May 13, 2020

It's Gr8 Nala Day




Dari mulai mendaki gunung, lewati lembah,
Menyeberangi sungai dan lautan,
Sampai kondisi terkapar tak berdaya
Karena encok menggerogoti tulang belulang...
Hari ini hanyalah jeda dari setiap dinamika,
Sebagai pengingat, dan sebagai penanda...
Bahwa kita pernah sampai sini, sampai saat ini...
Esok dan seterusnya adalah bagian dari perjalanan panjang,
yang mau tak mau harus kita lewati...

Kita bisa sejauh ini, saat ini...
Sesuatu yang layak disyukuri
Kita bisa seperti sekarang ini...
Sesuatu sepantasnya kita syukuri.
Tuhan begitu baik pada kita
Masya Allah

Masih banyak esok hari
Masih banyak hari nanti
Masih banyak kisah yang tertulis untuk kita
Masih banyak percabangan yang harus kita putuskan

Selamat!
7 tahun ditambah 8 tahun sudah kita bisa saling membersamai
Selama itu pula pertahanan diri kita masing-masing bertumbuh
Selama itu pula imun kita satu sama lain meningkat
Selama itu pula penerimaan kita satu sama lain meluas

Terima kasih :-)


Friday, May 8, 2020

Kutitipkan Rinduku Pada Bulan, Sekali Lagi

Soh... Atau Suh...

Adakah yang pernah mengenal kata ini? Untuk orang-orang di Jawa sana, sepertinya tidak asing lagi ya. Namun untuk yang belum pernah mendengar kata ini, saya beritahu sedikit.

Suh Sapu Lidi

Soh atau ada yang menyebut Suh, adalah pengikat sapu lidi. Bayangkan, lidi adalah benda kecil panjang dan mudah patah. Jika dia sendirian, apalah yang bisa dilakukannya? Mungkin hanya sebatas untuk menusuk bungkusan dari daun pisang, atau menusuk sate, atau untuk mainan anak-anak (dulu saya suka pakai lidi untuk mencari jaring laba-laba guna menangkap capung. Terkadang juga untuk menjebak ayam dengan daun pisang dan jagung. Atau mainan yang lainnya). Tapi jika dia disatukan oleh sebuah tali, maka ratusan batang lidi akan dapat membersihkan seberapapun luasan area yang kita ingin. Juga dapat digunakan untuk menggebuk kasur atau sofa yang berdebu. Juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk, lalat, kecoa, cicak, atau segala jenis binatang yang kita tidak inginkan keberadaannya.

Kenapa saya menceritakan tentang Suh ini hari ini?

Karena saya sedang rindu... Saya rindu Ibu saya... Ibuk...

Mungkin karena efek PMS (Post Menstruation Syndrome) saya, entah juga mungkin karena efek fullmoon tadi malam, entah karena gabungan keduanya. Hari ini saya rindu sekali pada Ibuk.

Apa hubungannya antara Ibuk dengan Soh/Suh?

Saya dan kakak saya selalu menjadikan ini sebagai bahan obrolan ketika kami mengenang Ibuk. Menurut kami, Ibuk adalah sosok yang sangat penting dalam keluarga kami. Tak hanya keluarga kecil kami, namun keluarga besar baik dari kanan maupun kiri. Beliau adalah Soh/Suh kami semua. Keberadaan Ibuk membuat kami semua bisa bersatu, bisa berdekatan, dan bisa saling berbagi bersama tanpa ada rasa lain selain bahagia sebagai keluarga. Karena kami semua melihat Ibuk...

Sekarang Ibuk telah pergi... Mengikuti jalan ketenangan dan kedamaian yang disiapkan Tuhan Allah SWT untuknya. Untuk melihat kami semua dari tempat tertinggi di Sisi-Nya. Bagaimana dengan kami yang ditinggalkannya?

Sebagaimana sapu lidi yang dilepaskan dari Soh/Suh nya, kami semua ambyar... Iya betul. Ambyar... Se-ambyar-ambyarnya...

Bagaimana kami ambyar, tidak lah perlu dituliskan, cukup kami rasakan dan kami jadikan bahan obrolan didunia nyata saja. Saya lebih ingin berbagi bagaimana peran Ibuk dalam hal menjadi Soh/Suh keluarga kami...

Ibuk akan selalu berkata:

1) Yang sabar... Jangan terlalu diambil hati... --> Ketika kami, anak-anaknya mendapat perlakuan yang tidak baik atau tidak menyenangkan dari siapapun. Baik dari keluarga ataupun dari orang lain. Itu secara tidak langsung membuat kami cepat lupa pada apa yang orang lakukan pada kami. Kami cepat move on.

2) Biarin aja, sudah ada yang mencatatnya sendiri... --> Ketika kami mengungkapkan kekesalan akan apa yang orang lain lakukan pada Ibuk ataupun pada kami, dan berniat untuk membalas mereka. Ini membuat kami mudah memaafkan. Ada malaikat yang siap siaga mencatat amal manusia.

3) Nggak papa, memang orangnya sudah begitu dari dulu... --> Ketika kami menggebu-gebu mengadu bahwa ada yang berusaha mengadu domba kami. Hal ini membuat kami merasa aman dan dipercaya oleh Ibuk.

4) Ibuk tidak pernah berubah sikap pada siapapun, meskipun beliau tahu bahwa orang itu berbuat tidak baik dibelakangnya --> Ini membuat banyak orang disekitar Ibuk merasa nyaman, tidak merasa dinilai, dan tetap saling menyayangi.

Aaahhh... Banyak yang ingin saya bagi sebetulnya, tapi rindu yang membuncah didada saya membuat saya kehilangan kata-kata.

Saya dan kakak saya sering membercandai Ibuk semasa hidupnya, "Buk, Ibuk niku kados Ibu Tin nek kangge anak-anake... " Dan Ibuk hanya akan tertawa tersipu sambil bilang "Mbok ra do edan cah..."

Beberapa bulan lalu, saya dan kakak saya naik odong-odong keliling Taman Mini Indonesia Indah bersama dengan keluarga besar kami dari Ibuk. Taman Mini Indonesia Indah adalah mahakarya Bu Tin pada masa itu. Di atas odong-odong itu, saya dan kakak saya saling lihat, dan saling lempar canda sesaat.

"Kangen Bu Tin kita ya..." Kataku.
"Iya banget... " Kakak saya mengiyakan.
"Bu Tin tindak, Pak Harto ambyar..." Kataku.
"Bubar ambyar..." Kata Kakak saya.

Kamipun tertawa terbahak-bahak.

Hanya kami berdua yang bisa memahami tawa kami waktu itu. Karena kami sama-sama merindukan Ibuk.

Hari ini, saya rindu Ibuk...

Mantra: Jangan dengarkan lagunya andmesh... :-p


Alfathihah untuk Ibuk, Samiyem Binti Admowiyono

Bulan dan Kerinduan

Bulan tadi malam...



Bagaikan mata seorang ibu yang memandang sendu pada anaknya... Penuh doa yang penuh harapan dan kebaikan... Penuh restu untuk segala upaya dan ikhtiar anaknya... Dan bagai mata yang merindu pada detik detik penuh cerita yang biasa mereka bagi bersama... Ibuk... Kutitipkan rinduku pula kepada Bulan... Kusertakan doa dan harapan yang selama ini kubisikkan padamu, untuk kau peluk dan kau sampaikan pada Allah SWT... Ketiadaanmu di dunia ini, membuat duniaku berada diantara terang bulan yang tenggelam, dan silaunya matahari yang belum terbit... Ada cakrawalamu di ujung pandangan mataku... Aku rindu... 😘😘😘

Thursday, May 7, 2020

Nostalgia Rasa

Saya punya pekerjaan rumah yang sangat berat untuk dilakukan, jika dibayangkan. Yaitu merombak total uraian benang kusut dari kepala saya, yang sudah bertransformasi menjadi kata demi kata.

Selama kurang lebih setahun terakhir ini, kepala saya dipenuhi dengan jalinan benang kusut yang entah bagaimana hidup, berlanjut, sambung menyambung, berkembang, dan terkadang menguras emosi saya saya sendiri. Beruntung waktu ini semua dimulai, saya langsung menggoreskan semuanya di note handphone saya. Dan lihat, setah hampir satu tahun, ceritanya masih berlanjut. Seperti kehidupan kedua saya didunia berbeda.

Namun sayang, semua yang mengalir itu adalah layaknya obrolan antar manusia. Jadi sayapun mengabadikan semuanya sebagaimana mereka lahir dari kepala saya. Dimana sebagian besar adalah dialog.

Setelah mengikuti Kaizen I, saya menjadi berpikir ulang. Sepertinya semua dialogktu, harus dirubah menjadi narasi agar bisa lebih bagus, terarah, berisi, dan mengundang orang untuk terhanyut bersama karakter yang ada. Saya berpikir... Sangat keras...

Kemarin saya mencoba untuk merubah satu halaman dialog menjadi lembar narasi, dan gagal. Hari ini saya akan coba lagi. Tapi tunggu... Sepertinya saya perlu amunusi untuk bisa mulai bergerak. Saya kepikiran dengan Perahu Kertas. Buku yang pada masa itu mampu membuat saya memandangi lautan dengan sepenuh hati, hingga mengacuhkan segala disekitaran. Selama beberapa jam diatas kapal penyeberangan.

Saya akan membaca kembali buku itu, sebagai bahan mencari ide dalam mentransformasikan cerita saya menjadi sebuah cerita yang layak dibaca... Selanjutnya, apakah bisa saya merombak tulisan saya, ah itu proses. One step ahead dulu ya...



Selamat Hari Raya Waisak bagi teman-teman yang merayakan...

Note: Tulisan ini juga saya posting di blog saya yang satunya di asmarantiku.blogspot.com

Tuesday, May 5, 2020

Penguasaan Area Kerja Selama Suami WFH


Di masa PSBB dengan Mas Bojo WFH dan Anak SFH begini, secara tidak langsung menimbulkan perebutan kekuasaan terhadap area rumah yang sudah minimalis ini.

Mas Bojo

Mas Bojo saya ini sulit ditebak kemana arah angin meniup mood nya. Seringkali ketika saya sudah duduk manis di meja kerja, beliau datang dengan laptopnya, dan manyun "yah, keduluan..." katanya.
Kalau sudah begitu, saya pasti tertawa-tawa. Namun keesokan harinya saya memulai kerja lebih siang, beliau sudah nangkring di meja dapur. Saya minta pindah ke meja kerja, bilangnya "Nggak usah, enakan disini" Baiquelah...

Denok K

Mbak sis yang satu ini ternyata badannya boleh kecil, tapi jangkauan areanya paling luas. Setiap hari dia mengakuisisi ruang keluarga sebagai area mainnya. Belum lagi masih ditambah dengan teras dan kadang kebun. Kalau dia sedang bermain dan memutuskan bahwa tempat itu adalah arena bermainnya, maka yang lain musti menyingkir... Baiquelah...

Emak

Saya sebetulnya tidak punya preferensi dalam memilih tempat kerja. Saya bisa kerja dimana saja. Dan WFH kali ini juga bukan masalah besar untuk saya dari sisi pekerjaan. Karena saya sudah 10 tahun lebih WFH juga yekaaan.

Masalah saya hanya 2, yaitu back pain jika duduk lesehan, dan perlu tempat sepi jika ada call meeting. Karena semenjak Sabbatical Leave kemarin saya menjadi lebih rajin bangun pagi, dan setelah Kaizen I saya jadi rajin mandi pagi, maka saya mempunyai kebebasan lebih untuk memilih tempat kerja. Dan saya lebih sering memilih di dapur. Kecuali jika ada call meeting dari pagi hari, baru saya memilih di ruang kerja.

Bekerja didapur ini membuat saya lebih rileks sebetulnya. Karena udara dari luar banyak, cahaya dari matahari alami, dan juga suaru air terjun yang membuat kemeriahan terasa natural. Ini membantu saya untuk lebih sering membiasakan memanggil dan menangkap ide lewat lebih sering. Eeeaaa

So, bagimana dengan kalian?
Kalian juga pasti punya spot favorit yang bisa kalian gunakan untuk melewati hari dimasa-masa sulit ini kan?

Tetap sehat yaaaa

#dirumahaja

Monday, May 4, 2020

Berlatih Menjadi Penyiar Radio

Ceritanya, sekolah Mbak K kali ini mengangkat tema Radio.

Ibu Guru memberikan video pengantar pendek seperti biasa mengenai radio, bentuknya dan juga fungsinya. Setelah itu, Bu Guru memberikan tugas kepada anak-anak untuk membaca selembar kertas, dengan gaya dan intonasi seperti seorang penyiar radio.

Emak semangadh untuk merekam K, bapak semangadh mengedit karena memang sedang gandrung podcast, tapi ternyata anak sedang kurang semangadh efek dari pencabutan 2 gigi kemarin sore. Jadi yaaaa, gitu deh. Kurang bergairah, seolah terpotong, dan banyak suku kata yang terasa 'hilang'. Tapi yasudahlahyaaa... Namanya juga belajar :-)

Selamat menikmati...


#TKBRecisBogor
#dirumahaja

Sunday, May 3, 2020

Demam Kaizen Batch 1


Pagi ink sepertinya saya masih terjangkit yang namanya "demam kaizen batch 1". Apaan tuh?

Iya, ini adalah semangadh yang masih hangat dan dan menggebu dari hasil mengikuti 3 kelas online nya Dee Lestari, Kaizen. Tadi malam adlaah malam terakhir dari kelas online Batch 1. Bagaimana jalannya kelas, bagaimana perasaan saya, bagaimana serunya, bagaimana kesan saya, akan saya ceritakan di lain bab. Khususon untuk Kaizen Batch 1. I'm In Love :-p

Disini, saya cuma ingin mengabadikan seauatu yang menjadi salah satu waktu terbaik saya. Disaat semua masih terasa hangat dipikiran, masih bergemuruh didada, dan masih ada kegelisahan jika belum melakukan. Ini yang biasa saya sebut "gairah". Mumpung masih bergairah...

Pagi ini saya bergelantungan di pohon di hammock. Diam. Melamun (Yaelaaahhh). Eits, jangan salah. Melamun adalah salah satu hal yang diminta untuk dilakukan masing-masing peserta setiap harinya, meskipun hanya sebentar. Jadi saya lakukan dengan senang hati. Saya melamun, memandang awan, menilik dedaunan, melihat burung yang datang memakan buah mulberry kami, dan burung yang membangun sarangnya. Tak lama, saya menuliskan satu kalimat di kertas corat coret saya:

"Dalam pencarian solusi atas setiap masalah saya, seringnya saya tidak menemukannya. Tapi tidak mengapa. Karena pencarian dalam diam dan berpikir seperti ini, membuat saya "selalu merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya" ~Juharini, Mei 2020 [dalam ayunan hammock]

#selamathariminggu

Tuesday, April 28, 2020

I Need Something That I Can Control

Situasi dunia dan semesta kali ini, sungguh luar biasa. Kita semua sedang disadarkan dengan keras betapa perlunya kerjasama, saling menjaga, empati, dan kerja keras demi kepentingan bersama. Semua adalah karena hal yang diluar kontrol kita, Pandemic Covid 19.

Pandemic Covid 19 memaksa kita semua untuk berada dirumah jika tidak ada hal super urgent, membuat suami, istri, anak, saudara, dll beraktifitas di rumah. Ini juga di luar kontrol kita.

Setiap pagi emak harus menemani anak-anak mengerjakan tugas, mengajari, mendorong, mendesak, memaksa, hingga akhir nya mengancam anak-anak mereka karena anak-anak mulai malas. Belum lagi anak menjadi tantrum dan ngamuk-ngamuk karena alasan kurang sebab. Atau dalam kasus anak saya, dia kurang lelah disiang hari hingga akhirnya jam tidur malamnya pendek sekali. Selepas tengah malam, dia pasti terbangun. Mengajak saya untuk bangun juga. Melek jam 1. Untuk bisa tidur lagi tetapi dengan catatan bangun jam 3 untuk memasak sahur, bukan hal yang mudah. Saya lebih memilih langsung bangun saja. Dan masak sahur. Diluar kendali kita.

Ketika semua hal yang berada diluar kendali kita seolah menekan dan mendesak saya, saya merasa sempit. Saya membutuhkan sesuatu yang bisa saya kontrol, saya kendalikan. Dan saya memilih menyupir motor untuk melepaskan nya. Menyetir motor adalah kegiatan yang bisa saya kendalikan. Sepenuhnya kontrol ada disaya. Jadi saya merasa waras kembali.

#salamwaras

Saturday, April 25, 2020

This Apple Does Fall Far From The Tree

Kalau biasanya orang selalu bilang bahwa an apple doesn't fall far from the tree, maka ada hal yang sangat out of the box untuk apple di rumah ini. K maksud nya. 

Dalam hal apa? 

Dalam hal feminim, fashion, dan per make up an. Oh yess. It's true. 

Denok deblong semata wayang ini memang sudah menunjukkan kelihaiannya dalam berdandan ketika usianya masih sangat dini. Kalau tidak salah sekitar umur 1,6 tahunan. Ketika bicara saja masih banyak terbata-bata, dia fasih sekali memegang cermin, lipstik, dan brush. 

Ya Ampun Sis... Belom Juga 2 Tahun lhooo...

Hari berganti, waktu berselang, hobinya yang semakin ke-incess-incess-an ini semakin banyak membuat orang bertanya-tanya. Koq bisa? 

Iya, saya dan suami juga sudah sering bertanya-tanya koq bisa sih? Belajar dari mana? 

Jika orang tua atau keluarga atau penghuni rumah yang memang hobby dandan, berpakaian feminin, atau semacamnya, mungkin kami tak akan heran. Ini enggaaaaaaak... ahhaaa. 

Yo wes lah mbuh... Yang penting kamu senang ya nduk... Bahagia... Jadi anak baik, pinter, berbakti, dan berkurang marah-marahnya gitu... Aaaaaamiiiiiiiinnnnn.... (Panjang banget aminnya). 

Berasa Mau Main Salju
Foto diatas ini bukan pas kami di daerah salju (karena memang belum pernah bersama ke negara bersalju), ataupun ketika camping. Bukan. Ini hanya costu menjelang tidur. Duh!

Jadi ada masanya ketika Mbak K ini hobinya memakai baju tidur. Nggak peduli pas tidur, atau pas main siang. Pokoknya pakai piyamaaaaa terus. Atau dasteeeeerrrr terus. Dan pernah ada masanya dia hanya mau pakai 2 piyama. Karena gambarnya Unicorn favoritnya. Benar-benar nggak mau pakai yang lain. Alhasil bajunya benar-benar cuci kering pakai. Akhirnya saya bilang ke tetehnya, dicucinya kalau udah 2 hari pakai aja teh. Malah ambyar nanti itu baju tiap hari dicuci. ahahahaha

Dan kemudian, sepertinya terjadi goyangan internal dalam dirinya. Trend berubah. Dia tidak lagi mau pakai piyama/daster kalau tidur. Maunya baju main. Mau tidur, nggak tidur, baju main pokoknya. Dan baju mainnya, hanya dia yang boleh milih. From head to toe. No one can decide for her. Kalaupun boleh decide, hanya celana dalam. Pun karena dia tidak perduli mau pakai celana dalam yang mana aja. Asal nggak pakai kaos dalam. Duh! Duh!

Dan sering malam dari beribu malam, itulah pilihan baju tidurnya. Ketjeh kan?
Saya sering menggodanya "Emang kamu khawatir nanti ketemu handsome prince gitu ya di dream land K? Koq pake bajunya cantik banget mau tidur aja?" Dan dia akan mengeluarkan jurus mesam-mesem cah jowonya...

Watch Out, MUA... New Junior MUA is on the making! 

Nah, kalau pemandangan seperti pada foto diatas ini, adalah pemandangan biasa yang kami lihat setelah mandi pagi, dan kadang mandi sore. Seolah belum afdhol untuk menjalani hari, jika belum melakukan touching kepada muka imutnya, maka setiap selesai sisiran, dia akan mengambil cermin dan perlengkapan make up nya. 

Temanya pun berganti. Dia sendiri yang memilih dan menentukan. Herannya, it's all suit her best! ahahaha. Hasilnya selalu membuat dia tampil kece, seolah didandani orang dewasa lho. Beneran.... Dan dari umur 3 tahun seperti yang saya sebutkan diatas itu, dia sudah sangat fasih menggunakan eyeshadow, blush on, bedak, lipstik. Duuuuh mbaaaak... 

Oh iya, itu kacamata sangat-sangat maksa banget sebetulnya. Kacamata dari bayi. Dan kacanya sudah tidak ada. ahahaha. Seriusan. Itu bolong melompong dua-duanya karena kacanya lepas sudah lama sekali. Tapi dia masih suka pakai untuk aksesories. And it looks good to her. ahahahaha. 

Sudah berapa banyak make up set mainan yang dia beli dan gunakan, dan berapa banyak kutek yang dia pakai sampai dengan umur 6 tahun 8 bulan ini. Kalau memang dia passion nya disitu, ya nggak papa. Saya mendukung saja :-)

Oh iya, mungkin karena saya juga suka iseng, maka melihat anak saya senang dandan begitu, saya suka juga beliin dia mainan make up. Saya pernah bela-belain beli dari A****n online, make up set untuk anak. Memang lucu-lucu bangetttttt siiiiih.... ahahaha. MonMaklum yaaaaa :-p

#udahgituaja
#receh

Thursday, April 23, 2020

Ketika Kebencian Merasuk di Dada

Well...

Maju mundur sebetulnya mau menulis ini. Antara iya dan tidak. Setelah iya, antara dipublish atau tidak. Tapi gemash nya semakin meningkat hari ke hari. Mari kita draft kan terlebih dahulu...

Sebelum mulai menulis, mungkin pembukaannya sebaiknya "Mungkin saya yang bermasalah". Fair enough? :-)

Ini masalah orang-orang pintar, dan grup whatsApp.

Saya bukanlah orang yang banyak memiliki Grup WA di HP saya. Group saya sangat sedikit. Hanya grup lingkungan, grup sekolah anak, grup kantor, beberapa grup alumni, dan beberapa grup arisan. Beberapa grup temporary ada juga, tapi biasanya langsung bubar setelah kegiatan selesai.

Karena saya hanya ikut beberapa grup ini, mungkin jadi saya sering menyempatkan diri membaca isinya ketika senggang. Manatau ada yang penting dan perlu dijadikan periksa. Lama kelamaan, koq sepertinya saya bisa memetakan pemanasan lokal maupun global yang terjadi dimasing-masing grup. Masing-masing grup memiliki pola tersendiri, jenis anggota yang bervariasi, namun selalu memiliki peta yang serupa.

Contoh yang saya rasakan:

1. Grup Kantor: ini grup favorit saya karena dari sini saya hidup juga sih. ahahaa. No, I mean grup ini memang jarang sekali membicarakan hal-hal diluar pekerjaan atau hal-hal menyangkut rekan-rekan sekantor. Ulang tahun, kondisi prihatin (sakit, kedukaan, dll), lahiran, makan-makan, meet up, meeting, dan seterusnya.

2. Grup Lingkungan: Grup ini akan memanas suhunya ketika ada masalah yang menimbulkan benturan antar tetangga. Misalkan saja sampah, petugas kebersihan, keamanan, dan gangguan berisik. Pemanasan lokal biasanya meningkat jika ada benturan dengan logika, seperti misalnya masalah perkucingan. Ini pemanasan lokal yang akan mencapai titik kulminasi dan mendingin sendiri, tapi tidak terselesaikan. Karena logika orang-orang nya berbeda.

3. Grup Sekolah Anak : Sekolah anak saya yang baru ini, grupnya anteng bahkan tergolong sepi. Karena saya anak baru banget, dan nggak bisa ikut serta berkumpul bersama para orang tua lainnya yang sehari-hari bersama disekolah. Jadi nyaris tidak ada kenaikan suhu.

4. Grup arisan : Grup ini suhunya netral sekali. Aktifitasnya juga hanya terjadi disekitaran tanggal pembayaran dan pengocokan arisan malahan. Peserta arisan nya juga Masya Allah manis-manis nggak aneh-aneh. :-)

5. Grup Alumni:
Nah, grup alumni ini ada beberapa pola. Grup alumni SMP saya, anteng sangat. Mungkin karena sudah pada lupa juga sama orang-orangnya. Secara dulu belum banyak foto, kegiatan, medsos, dll gitu. Ketika MukaBuku baru in dulu, sudah sampai habis dibabat semua kenangan lama. Jadi sekarang selow aja. Ramai sesekali. Sedihnya, beberapa kali ramai karena ada teman yang berpulang lebih dulu ke sisi Allah SWT. :-(

Alumni SMU: Grup ini adalah penyelamat saya dari keedanan dunia. Setiap teman-teman SMU saya berlomba posting, ngobrol, bercanda, dan saling goda, saya serasa kembali lagi ke Jaman SMU. Tidak ada yang berubah dari cara mereka bercanda dan bercengkerama. Dan mereka tidak pernah posting hal-hal yang mainstream yang dishare oleh grup2 lain. Kita semua tidak ingin membuat grup menjadi suram. Terima kasih teman-teman SMU ku... Kalian semua luar biasa!!!

Alumni Kuliah: Ini adalah grup yang menurut saya ajaib. Kesemuanya. Saya tergabung dalam 4 grup alumni kuliah (2 grup yang lain tidak ikut disini karena mereka grup sayap-sayap patah dan berbeda dari yang 3 grup ini). Saya bagikan 3 grup yang alumni banget dulu ya. Maksudnya yang anggotanya mulai dari angkatan lama sampai dengan angkatan baru. Saya tahu anggotanya itu banyak sekali orang-orang hebatnya. Orang hebat yang title nya mungkin panjang sejuta depa, pengalaman hidupnya bagaikan warna pelangi dan permen nano-nano. Saya tahu tidak ada yang tidak hebat lah. Saya yakin itu. Namun, saya heran. Grup ini seringkali mengalami pemanasan global. Apalagi jika sudah menjelang Pilkada/Pilpres/ngomentari masalah politik. Mereka tidak takut membagikan info-info hoax, asal, provokatif, bahkan yang tak berdasar sekalipun. Mereka sering bersuara keras mengungkapkan kejelekan pemerintah, bahkan sering dengan cara tidak santun. Heran saja saya.

Alumni yang isinya seangkatan dengan saya? Well... Grup ini sih sebetulnya anget-anget tahi ayam. Orangnya sudah bisa dipetakan, siapa yang benci sekali kepada pemerintah hingga terbutakan, siapa yang senang memancing keributan dan pergi, siapa yang senang mengomentari semua postingan, siapa yang senang memelencengkan topik, dan siapa yang bodo amat.

Dari semua grup alumni diatas, sehubungan dengan adanya Pandemic Covid 19, saya bisa katakan bahwa mereka-mereka yang memang sudah terbiasa memelihara kebencian pada pemerintahan saat ini, tidak bisa membedakan mana Pandemic, dengan Pilkada/Pilpres. Itu saja.

Untuk kita semua, semoga kita dijauhkan dari kebencian, kedengkian, dan nafsu angkara murka yang mengeraskan hati kita. Hingga suara hati nurani menjadi kecil sekali dan tak terdengar. Semoga kita semua menjadi manusia yang penuh kasih, welas asih, empati, dan kasih sayang. Semoga kita menjadi manusia yang jauh dari sifat tinggi hati, ingin terlihat benar sendiri, dan senang menyalahkan. Aamiin.

Menyambut datangnya Bulan Ramadhan 2020 ini, saya memohonkan maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah dan khilaf yang melukai. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Ibadah Puasa kita lancar dan diterima oleh Allah SWT. Ditengah musibah wabah Virus Covid 19 ini, semoga semakin banyak waktu kita gunakan untuk hal yang manfaat, dan bermuhasabah diri. Aamiin Aamiin Aamiin.


Sunday, April 19, 2020

Expectation Vs Realita (Sabbatical)



Setelah satu minggu menggunakan waktu untuk mengurusi segala macam administrasi seperti SIM, dan perbankan, minggu kedua saat nya sedikit menilik kembali niatan dan rencana Sabbatical yang ideal. 

Niat mulia nya sih menghabiskan semua barisan buku yang masih menunggu, menyelesaikan semua rajutan yang terbengkalai ataupun benang-benang yang masih utuh dengan plastik nya, membersihkan setiap rak hingga gudang dari barang-barang yang tak lagi punya kepentingan, berkebun agar halaman tak hanya penuh oleh rumput dan krokot, menyelesaikan semua niatan yang berhubungan dengan PKK RT di komplek, Ikut kursus apalah apalah biar ada peningkatan skill, dan masih banyak lagi lah niat niat mulia yang lainnya yang masih otewe ke pikiran. 

Sekarang, setelah Sabbatical officially over, adalah saatnya mengevaluasi dan melihat sejauh mana rencana dan hasil tercipta. Apakah wacana yang hanya tinggal wacana masih sama, ataukah wacana berubah menjadi nyata? 

1. Membaca Buku
    
    Well, sebetulnya ya masih buruk sih skornya. Karena dalam waktu 7 minggu, tidak sampai 7 buku terselesaikan. Dan waktu membaca bukunya pun, hanya ketika nongkrong di kamar mandi. What a shame... Buku cetak yang selesai hanyalah Into The Water dan Eleanor & Park. Tapi kedua buku ini bagus juga isinya. Recommended lah untuk dibaca. Di bagian ebook, ada bukunya Mamba Mentality yang rela-rela dibeli karena merasa sangat kehilangan sekali atas meninggalnya Kobe Bryant dan Gigi Bryant. Udah. Itu aja kayaknya. Tapi kalau waktu untuk hunting bukunya Kobe dihitung, banyak juga waktu yang terpakai sehubungan dengan Buku. Sayang, Covid 19 membuat pengiriman Am***n ke Indonesia terhenti. Buku barunya Kobe belum bisa dibeli. 
    Oh iya, kalau buku anak di hitung, tetep banyak koq. Karena hampir setiap malam Kiran pasti minta dibacain buku. Meskipun ya itu lagi itu lagi. Dr Seuss lagi, Curious George lagi. Sampai gemasssshhhh.... Ada satu tambahan yang belum berhasil dimasukkan dalam agenda baca buku malam nya K, yaitu Peddington. Hasil belanja lewat jastip dari BBW kemarin. Tapi kalau siang dan K tidak tahu harus apa, dia sudah mulai membuka-buka sendiri sih bukunya itu. mayan laaaah.... 

Mamba Mentality Ebook

Dedek Park & Dedek Eleanor ini ucuk-ucuk emesh

Serius tapi santai

Ensiklopedi Anak

Warga H9/19 yang Baru


2. Merajut

    Ini termasuk proyek yang berhasil karena hasil karyanya lumayan banyak. Ya meskipun belum cukup banyak mungkin untuk yang sudah pro. Dan hasilnya juga belum terlalu bagus. Karena targetnya hanya menghabiskan benang yang sudah lama dibeli dan belum dikerjakan. Jadi ya cenderung sekadarnya. hiks... Should be better next. Berikut adalah beberapa karya yang dibuat selama Sabbatical. Oh iya, masih ada sekitar 5 tas lagi yang belum difoto karena masih menunggu finalisasi furing nya... Jadi belum ditetapkan sebagai barang yang selesai dikerjakan :-)

Bergeser ke Basket-Basketan

Belum selesai di Furing siiih, tapi Gemash
"Me" - Made for our lovely Budhe Sari

Mini

It's the Perfect One_MenurutSaya

Big One

Warnanya emesh Pink-Coklat

RadaGagal

Kindle Cover

Tempat Charger

Kurang Benang

Kurang Handle

Easy Go

Semoga semakin semangadh menggunakan waktu luang untuk menemukan fokus nya kemana... Aamiin. 

3. Deep Cleaning House

   Ini juga lumayan sih. Rak buku sudah dirapikan kembali, rak Kiran sudah dibersihkan meskipun hanya bisa mengosongkan satu rak setelah seleksi yang alot sekali. Lumayan. Gudang sudah 75% terbersihkan dari barang-barang yang sangat tidak berfaedah. Beberapa mainan lama Kiran yang masih bagus sudah dicuci dan dipinjamkan ke bayi dirumah sebelah. Agar lebih bermanfaat. Sampah, kardus, kabel, sepatu, dan semua benda-benda purbakala sudah diangkut oleh Bi Enih untuk disatukan dengan Bank Sampah nya beliau. Aaaaaah... legaaaaa...

Bongkar-Bongkar Box

Bongkar Koper


4. Berkebun
(menyusul)

5. RT Komplek
Rapat Emak-Emak

Taman Selamat Datang Jadew


6. Kursus
    
    Karena adanya Virus Covid19, jadi kelas SAE Batch 2 dirumahkan juga. Jadi tidak ada lagi kumpul rutin Hari Senin di Imah Kreasi. Tapi ada Mbak Fa yang dengan baik hari memberikan pelatihan gratis tentang PixelLab. Lumayan banget  ini buat memper-ciamik perpoto dan periklanan. Masih harus belajar lagi dan lagi dari materi yang sudah diberikan. 

   Satu kursus lagi yang daftarnya pas Sabbatical period, tetapi kursusnya pas sudah balik kerja. Malam hari sih jadi aman. Kursus pelatihan menulis bersama Dee Lestari. Ini saya semangadh banget daftarnya. Meskipun dibelakang disemprot dikit sama suami gegara main daftar main bayar saja. Tapi namanya sudah menunggu lama jadi ya gimana yakaaan bapaaaak... :-)

Bismillah... Semoga hasilnya menyenangkan, dan meningkatkan motivasi untuk mengeluarkan uneg-uneg kepala dengan lebih ciamik lagi. Karena uneg-uneg kepala itu, jika dikeluarkan dengan ciamik akan lebih menghibur, tetapi jika dikeluarkan sembarangan, bisa membuat ambyarrrrr.... Itu aja misinya sih :-p

See You Soon, Mbak Dee


7. Lain-Lain
(menyusul)