Tuesday, August 25, 2009
Today is My Knock Out Day
Telpon berdering bertubi-tubi menghancurkan mimpi burukku. thanks god....it was very bad dream for me....dan akupun menerima telpon sambil terkantuk-kantuk. rupanya alarm yang membangunkan ku secara rutin untuk bersahur kalah saing dengan tuan yang satu ini. dia membangunku dengan gigihnya, hingga aku benar-benar terbangun. benar2 pahlawan tanpa tanda jasa....:P
aku pun ber-sahur dengan nasi, ayam sayur (dari warung padang di kampus), daun singkong, nata de coco, dan pastinya teh manis hangat. enaaaakkk..... aku menyantap makanan sahurku sambil menonton aksi Opera Van Java kesayanganku. setelah makan selesai, akupun melanjutkan tidurku. hendak menyalakan laptop, tapi koq ngantuk berat. akupun tidur kembali dan baru bangun sekitar jam 8 pagi.
sebuah kejutan manis di pagi hari di bulan puasa ini. rupanya tamu bulananku berdatangan, hingga akhirnya aku tak bisa melanjutkan puasa. maka minumlah aku. rencana yang aku susun kemarin adalah bahwa hari ini aku akan ke Pasar Minggu mencari sebuah sekolah tinggi yang khusus untuk perikanan. aku berniat memporakporandakan perpustakaannya demi untuk mendapatkan data mengenai pernak-pernik rajungan. namun sayang disayang, rupanya aku kemarin terlalu terlena sehingga ada tugas yang masih menunggak padahal sudah ditunggu oleh seseorang di negri lain sana....hiks...
walhasil, aku hari ini hanya di rumah, merapikan data, melengkapi literature, dan upload data ke sebuah situs yang memang ditujukan untuk mengirimkan file dalam ukuran besar. thanks for technology...
setelah lewat zuhur, akupun pergi ke perpustakaan kampus lagi untuk sekedar meng-copy beberapa abstract dari penelitian2 rajungan. siapa tahu ada yang sudah berbahasa inggris, maka akupun ngacir kesana. tetapi rupanya keberuntungan belum berpihak padaku kali ini. dari kesekian banyak judul skripsi yang aku ambil, rupanya tak satupun abstract-nya berbahasa inggris. wuih.... ya sudah..tidak apa-apa. nanti aku akan mencari orang untuk bisa menterjemahkannya. Mbak Yuni yang bertugas menjaga perpustakaan, mengatakan bahwa hasil fotokopian baru bisa di ambil besok pagi. aduh....tetapi dengan jurus maut dan rayuan gombal, akhirnya aku di ijinkannya meng-copy sendiri laporan2 itu ke bawah. asyik....
sepulang dari perpustakaan, aku menuju tempat dimana aku bisa nongkrong berlama-lama yaitu sekret tercinta. disana ada beberapa orang anggota. setelah berusaha mencurahkan isi hatiku pada bujur lawalata, akupun mengajak salah seorang anggota aktif untuk membantuku menterjemahkan abstract2 itu ke dalam bahasa inggris. akhrinya dengan kesepakatan bahwa dia membantu aku dan aku akan mengajaknya serta ketika aku pulang sehingga dia bisa main ke tempat temen dengan gratis. :)
kamipun bahu membahu menterjemahkan abstract-abstract itu ke dalam bahasa inggris. sampai pukul 5 sore, kami hanya berhasil menterjemahkan 3 lembar abstract. tapi, itu sudah merupakan hasil maksimal kami. its our good job..:)
setelah selesai menterjemahkan, si mpinx bilang "mbak, tunggu bentar ya aku mandi dulu."
kataku : "aduh, mandi aja lu di kosan tempat lu main nanti."
katanya : "kalo gitu anterin gw aja ke kosan ambil baju ya..."
kataku " yaelah, daripada gw anter lu pulang, mendingan lu aja sendiri sono ambil baju pake motor gw."
dan akhirnya, dia pulang kosan dengan "si black" my lovely motorcycle.
aku menunggu di sekret sambil internetan. :) waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa sudah jam 6 saja. namun si mpinx belum juga kembali. aku mulai khawatir sebab aku belum menyelesaikan upload data ke email Jimely. dan hari ini, aku baru bekerja separuh hari. waduh....dan juga, aku khawatir my boss already at home....:(
waktu terus berjalan dan aku terus menunggu dengan gelisah. mulailah aku berteriak2 nggak jelas. marah-marah, ngomel2, as ussual i'm...sms, telpon sudah dijalankan, namun ternyata handphone anak itu tertinggal di sekret. akhirnya aku merasa tidak sabar, dan ketika si mbeum datang dengan motornya, akupun meminjamnya dan pergi ke kosan mpinx. namun sayang disayang karena aku baru sekali pergi ke kosan mpinx, maka aku lupa tepatnya kosan dia yang mana, scara perumahan dosen semua rumah nampak sama. alhasil aku keliling semua kompleks dan berusaha mendeteksi keberadaan si black. tapi tidak berhasil aku temukan. akupun kembali ke sekretariat dengan dongkol.
sampai di depan pintu sekret, ada bucok yang mau mengantar ke laundry bajunya se-trash bag. dan dia bilang dia tahu kosan si mpinx, dan bersedia mengantarkanku kesana. akupun ikut kesana bersama bucok. bucok bilang mpinx ne-kost di APD, padahal seingatku di perumdos. but its ok, we try to check APD. namun sesampainya di tengah jalan, rupanya si bucok baru ingat bahwa yang kost di APD adalah teman si mpinx, sedangkan si mpinx masih nge-kost di perumdos. oh lord....what next?????
pulanglah lagi kami ke sekretariat. aku sudah putus asa dan memasrahkan semua keadaan kepada dewa dan memilih untuk tiduran di ruang TV belakang tempat jubir, mbeum dan bronk. kudiamkan diri sejenak, dan kemudian aku baru mendapat ide...(rada lama sih ide ini datang, bukannya dari awal-awal gitu ya...:( ). dan idenya adalah aku pulang saja naik ojek. ya...benar...lebih baik aku naik ojek saja. biar saja si black di sekret, pasti juga ada yang mengurusnya. :) dan akupun segera pamitan ke anak2 untuk naik ojek saja pulang.
aku berjalan ke depan GOR lama. saat hampir memanggil ojek, aku melihat dari arah perumdos ada motor yang berjalan pelan sekali. aku curiga bahwa itu adalah si mpinx, dan ternyata kecurigaanku benar adanya. mpinx datang dengan santainya dan bertanya :
Katanya : "lho, kakak koq udah nunggu disini, sejak kapan?"
Kataku : "lu jadi ke tempat mbak dian nggak?"
Katanya : "emm...jadi nggak ya?"
Kataku : "aduh...cepetan. minggir...minggir....terserah lu jadi apa nggak." kataku sambil mengusirnya dari kursi supir si black.
Katanya : "jadi aja deh..."
Kataku : "ya udah..." dan membiarkan dia naik di belakang, lalu tancaaaaapppp.......
diperjalanan aku mendiamkan mpinx karena aku sedang kesal sekali. semua kekesalan berkumpul di ubun-ubun dan keluar sebagai dengusan nafas. mpinx sempat bertanya padaku :
Katanya : "buru-buru banget ya kak?"
Kataku : "iya" pendek dan hanya dibarengi dengan anggukan kepala. entahlah dia melihat atau tidak, aku tidak peduli.
di jalan, aku mengatakan pada mpinx bahwa aku tidak akan mengantarnya ke dalam kompleks.
Kataku : "gw nggak nganterin lu ke dalem ya...gw turunin lu di lampu merah aja"
Katanya : "yah, kakak aku nggak tau tempatnya."
Kataku : "ntar lu telpon mbak dian aja."
Katanya : "aku kan nggak bawa hp kakak.."
Kataku : "Yang jelas gw nggak sempet nganterin lu. lu jalan aja lurus, belokan kedua belok kiri, jalan terus ketemu mesjid. setelah ketemu mesjid belok kanan terus langsung belok kiri. abis itu belok kanan lagi. rumahnya nomor 1 dikanan jalan. " dan kamipun diam.
sesampainya di lampu merah Bubulak, aku menurunkan dia dan mengulangi rute belak-beloknya. dan langsung tancaaaaaaapppp......dengan terburu-buru pula aku memulangkan si black kepada tuannya di gecko dan minta antar pulang. finally, i've arrived at home savely. karena hati masih panas, akupun ke kamar mandi dan mengambil minum. thanks oma for your "kolak" that make me cooling down...:)
setelah hati mendingin, akupun mengirimkan pesan kepada semua orang yang terlibat dalam proses sore tadi. maaf untuk yang kena semprot dan juga yang udah minjemin motornya, tengkyu. hahahhahhaa.....benar-benar my knock out day....dan ternyata aku juga merasa tidak tega sama si mpinx. takut anak itu ilang di perumahan orang. kutelponlah nomor yang punya rumah untuk menanyakan apakah anak itu sudah sampai. dan ternyata sudah. wuih....lega...
so, i can do my task again....:) yeah, with smile to remember our stupidity friend...hohohohohoho.
I luv u all...muah-muah-muah
best regards,
wilis
Monday, August 24, 2009
Khotbah Tarawih Hari Ini
sesaat aku ingat obrolanku dengan teman2 kuliahku semalam dimobil sepulangnya dari rumah ojan. kita sedang membicarakan masalah pembuatan nomor rekening bank. menurut Abon yang bekerja di Bank pemerintah, aku bisa membuka rekning ditempatnya dengan syarat KTP beralamatkan Bogor. waduh....
atau pilihan kedua, adalah menggunakan surat keterangan tinggal dari pak RT. kontak aku menggumam, "tapi pak RT ku yang mana ya....kan aku tinggalnya nomaden..". hwakakkaka....dan tertawalah kami semua.
begitulah, aku masih saja tinggal nomaden dan merepotkan keluarga ini. kalau memang ada yang bertanya : kamu mau di situ terus??? pasti aku jawab "mau donk". hwakakakkaka...tapi kan nggak sesimple itu. Masalah yang akhirnya kusadari sebagai penyakit bawaan dari jawa, yaitu "penyakit nggak enak hati" selalu saja membayangiku. aku takut merepotkan meskipun sekarang inipun pasti sudah sangat merepotkan. tapi terlalu sayang juga untuk kutinggalkan kehangatan keluarga ini.
walah, malah jadi ngelantur ceritanya. intinya adalah, ramadhan ini aku masih tinggal disini. dan akhirnya akupu mengikuti rutinitas ramadhan di wilayah ini juga. salah satunya adalah tarawih di masjid sebelah. tiap saat tarawih, pasti suara anak2 yang berangkat ke masjid riuh rendah dijalanan depan rumah. sampai2 muncul niatku untuk membentuk geng bersama mereka. hahahaha...
seperti malam ini, aku pun berangkat ke masjid setelah rombongan yang berisik itu berangkat. pertama adalah shlat isya pastinya. setelah selesai sholat isya, rasanya aku bersemangat sekali, karena ternyata imam yang memimpin sholat sangat bersahabat dengan jamaah dengan caranya senndiri. dia membaca doa yang pendek2 dan juga cara membacanya sedikit dengan kecepatan lebih tinggi.
setelah selesai sholat isya, maka ada orang yang berkhotbah. khotbah kali ini temanya tentang membiasakan diri dengan 3 hal. memuji, berterima kasih, dan meminta maaf....
enggak tahu kenapa, aku khusyuk banget tuh mendengarkan khotbah dari pak kyai. adem banget di hati. heheheh
Sunday, August 23, 2009
Too Full To Write
i have many story to tell you all, from everything i do in this month.....
but, i don't know why...
its hard to start....
because i don't know, which one must be placed at the first line.....
i just have a promise,
that all of my story will create in this blog sometimes....
Saturday, August 8, 2009
Atas Nama Cinta

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad."
Sebuah kalimat dari seorang kahlil gibran yang baru aku temukan pagi ini manakala aku secara iseng mencari dan membuka lembar sastra di internet.
Jika kalimat ini keluar dari mulut mereka yang aku kenal, aku hanya akan menanggapinya dengan tertawa. atau bahkan akan ku debat dengan segala tetek bengek yang aku sendiri tidak tahu artinya. karena pada dasarnya aku selama ini selalu memberlakukan pernyataan yang berlawanan dengan kalimat ini. tetapi sekarang aku menjadi harus berfikir ulang tentang ini.
Bukan hanya karena Kahlil Gibran yang menulis, tetapi lebih karena kekhawatiran akan kebodohan yang kemungkinan aku lakukan sendirian. jangan-jangan, hanya aku saja yang berfikir seperti aku. jadi, mana yang harus disalahkan dan mana yang harus di benarkan??? aku sendiri tidak tahu. yang aku tahu hanyalah, bahwa kalimat ini nampak lebih masuk akal saja, sedangkan kalimatku yang lalu tidak lebih dari suatu penyangkalan atas kenyataan yang berlaku.
selama ini aku sering mendengar pertanyaan seputar hubunganku dengan "Dia", dan hubungan "Dia" denganku.
"Koq bisa??"
"Bagaimana bisa??"
"Bagaimana mungking??"
"Kenapa harus dia??"
"Kenapa jadi??"
Dan aku hanya bisa dan hanya ingin mengatakan bahwa :
"Setelah usahanya sekian lama (......Bulan), rasanya semuanya menjadi mungkin bagiku."
Dan jawaban-jawaban serupa itu saja yang aku gunakan untuk memangkas apa yang mereka ingin tahu.
Sekarang aku berfikir, apakah semua itu benar adanya??? aku menjadi ragu tentu saja.Terlebih lagi memang banyak teori yang membenarkan keraguanku itu. satu lagi tulisan dari Kahlil Gibran :

"Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau berabad-abad."
Ya....jauh lebih bisa di terima oleh pikiran, hati, dan gengsiku. Rupanya, pendapatku tak 100% salah, walaupun tidak pula 100% benar. semua bisa jadi pete-pete. Mungkin saja waktu yang sekian lama itu adalah proses pematangan biji, dimana kemudian ditengah-tengah proses yang lama itu bersemilah sebuah tunas dari biji tadi.
Apapun itu, yang aku tahu saat ini hanyalah bahwa saat ini, tunas itu masih saja tumbuh subur. Dia tumbuh dan tumbuh setiap waktu dan tak terganggu oleh panas, terik, hujan, angin, ataupun goncangan yang menerpa. Sampai saat ini, tunas itu masih bertahan ditengah ketidakjelasan nasibnya akan masa depan. Sampai saat ini, tunas itu masih juga tumbuh subur di atas lahan yang mulai mengering. Entahlah mana yang akan menjadi benalu. Apakah tunas itu akan berlaku menjadi penyerap ketahanan lahan ini, ataukah lahan ini yang akan membuat si tunas layu dan mati.
Wednesday, August 5, 2009
Mereka Mengakhiri Hidupku Dengan Kejam….
Aku terpaku ditempat ini sendirian. Ibuku baru saja pergi meninggalkanku untuk mencari makan. Sedangkan ayahku sedang mengajak adikku menengok keluargaku yang lain. Aku takut….belum pernah aku sendirian di tempat seperti ini. Beberapa kali aku mendengar ada suara-suara yang bergerak mendekat, namun kemudian hilang lagi. Aku takut….sungguh-sungguh aku takut. Akupun bergerak merangsek mundur dan meringkuk di sebuah sudut. Aku diam seribu bahasa.
Gemetar badanku kian menjadi manakala pintu besar di ujung lain tempatku berada berderit dan terbuka. Aku semakin mengkerut dan merepet di pojokan ini. Ibu…cepatlah kembali, aku takut…batinku.
Aku lihat dengan jelas seorang anak laki-laki bertubuh besar dan berambut keriting melemparkan pandangan ke segala penjulu ruangan tempatku berada. Entah dia melihatku atau tidak, aku tidak yakin. Aku berusaha menahan nafas agar anak itu tidak dapat merasakan kehadiranku disini. Namun makin lama, aku merasa tercekik dan dengan tiba-tiba aku terbatuk akibat terlalu lama menahan nafas.
Badanku tiba-tiba lemas karena setelah aku terbatuk, anak itu nampaknya melihat kearahku dengan muka penasaran. Dia memiringkan kepalanya dan berusaha melihatku dengan jelas.
Aku pasrah kepada tuhan, dan dalam hatiku aku memangggil-manggil ibuku.
“Ibu….dimanakah engkau ibu…aku takut sekali…”
Tetapi entah karena apa, anak itu tidak melanjutkan rasa penasarannya padaku. Dia masuk ke ruangan ini hanya untuk mengambil mainannya dari dalam rak yang ada di samping kananku. Setelah semua mainan dia pegang, sekali lagi dia menatapku, namun kemudian langsung berlalu begitu saja meninggalkan ruangan. Huh….lega rasanya.
“Ibu…..kapan engkau kembali kesini….aku tidak tahan lagi kalau harus sendirian seperti ini…aku takut ibu….” teriakku.
Aku berjalan kesana-kesini karena gelisah. Aku ketakutan. Aku takut anak itu datang lagi dan menggangguku karena aku melihat ada yang aneh dari sorot matanya sewaktu melihatku. Ingin rasanya aku berlari dan mencari ibuku, tapi aku tidak tahu dia pergi kemana. Lagipula, badanku belum sekuat badan ibu.
“Tuhan…tolong aku….”
Tiba-tiba pintu kembali terbuka dengan tiba-tiba. Jantungku serasa mau copot. Rupanya sekarang yang masuk adalah orang yang berbeda. Dia adalah seorang anak perempuan remaja. Dia masuk dengan terburu-buru, dan langsung melihat-lihat ke segala arah seolah sedang mencari sesuatu. Dia membolak-balik kardus yang bertumpukan di sudut ruangan dan membuka lemari yang ada diruangan itu. tetapi nampaknya dia tidak menemukan apa yang dia cari.
Diapun berteriak memanggil orang lain dengan kencangnya.
“Adaaaammm…..lu liat tas kecil gw yang warna hijau nggak???” teriak anak itu.
Lama tidak ada sahutan, dan dia tetap mencari disemua penjuru ruangan, termasuk di kolong tempat tidur. Dia berteriak lagi.
“Adaaaaammm……Liat tas gw ngga sih??”
Kali ini aku mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat dan suara sahutan dari anak laki-laki.
“aduh…berisik banget sih….tas yang mana???” begitu kata-kata anak laki-laki yang belum sampai dikamar itu.
Aku melihat kesibukan anak perempuan itu dalam mencari tasnya. Aku tetap diam tak bergerak di sudut tempatku bersembunyi. Tiba-tiba ekor mataku menangkap warna hijau berada tak jauh dari tempatku bersembunyi. Dan benar saja, rupanya itu tas hijau yang anak perempuan itu cari. Kontan jantungku kembali berdetak kencang. Karena jika anak perempuan itu melihat keberadaan tas hijau itu dan mengambilnya, maka dia pasti akan melihatku. Karena saat ini dari arah anak itu, aku tidak terhalang apapun selain oleh tas hijau itu.
Suara langkah kaki anak laki-laki yang mungkin saja anak laki-laki yang tadi semakin dekat, dan anak perempuan itu hampir mengetahui keberadaan tas itu. aku semakin gemetar dan ketakutan.
Tamatlah riwayatku hari ini. Semua akan berakhir dan aku akan tertangkap oleh mereka. Aku ingat ibu pernah berkata bahwa keluarga yang tinggal dirumah ini sama sekali tidak menyukai aku dan keluargaku. Mereka memusuhi kami. Pernah beberapa anggota keluarga kami dipukuli oleh mereka dengan menggunakan sapu. Oleh karena itu, ibu selalu menyuruh kami anak-anaknya untuk bersembunyi jika keluarga itu ada. Kami tidak diperbolehkan menampakkan diri. Dan rupanya, hari ini aku yang terkena sial. Aku yang tidak bisa bergerak kemana-mana ini akan tertangkap oleh mereka. Tiddaaaakkk……
Ditengah kepanikanku, muncullah anak laki-laki yang tadi sudah datang itu sambil berkacak pinggang. Dia bertanya pada anak perempuan.
“udah ketemu belum???” tanyanya.
“belum…” kata anak perempuan itu sambil mengedarkan pandangan dan berjalan mendekati tempatku bersembunyi.
“eh, sudah dink. Ini kayaknya tasku. Tapi koq warnanya berubah ya???jadi ke abu2an??pasti banyak debu yang nempel. “ katanya sambil mejulurkan tangannya kearah tas yang ada di depanku.
Aku gemetar bukan main. Dan nampaknya aku sudah berkeringat dingin. Keringat dingin itu membuat kaki dan tanganku licin sekali. Dan tiba-tiba saja aku terjatuh dari tempatku bersembunyi. Aku berteriak karena kaget, takut, dan pasrah. Badanku melayang dan jatuh berdebam di lantai. Sakit sekali rasanya tulang-tulangku. Aku menggelepar tak berdaya.
Nasib malang rupanya memang sedang mengarah padaku. Saat aku jatuh berdebam, nampaknya si anak laki-laki dan perempuan sama-sama mendengar atau melihatnya. Mereka kontan berteriak sambil menampakkan raut muka benci dan jijik padaku. Aku hanya bisa melihat mereka dengan pasrah karena badanku tidak bisa aku gerakkan. Sakit semua. Dengan mataku aku mengikuti gerakan mereka yang sangat cepat sambil masih berteriak-teriak. Mereka masing-masing mengambil senjata untuk melawanku.
Anak laki-laki itu mengambil sapu yang ada di balik pintu, sedangkan anak perempuan itu mengambil Koran yang berserakan di samping lemari. Mereka berdua berlari kearahku. Menghadapi dua orang manusia yang berbadan besar-besar itu, aku tak berdaya. Aku hanya diam dan menangis sambil berdoa semoga ibu masih bisa melihatku dan semoga keluargaku bisa selamat dan tidak tertangkap.
Akhirnya sapu dan Koran yang dibawa kedua anak itu menghujami tubuhku dengan keras dan bertubi-tubi. Badanku dilempar kesana dan kesini, dipukul, dirajam, dan terus menerus di hentak-hentak. Dalam kesakitanku, aku masih sempat melihat ibuku di atas sana, dibalik teralis menatapku dengan berlinangan air mata. Sayup-sayup kudengar dia berteriak memanggil namaku. Aku berusaha berteriak menjawab, namun sudah tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Badanku semakin lemah, dan air mata ibuku semakin deras. Disamping ibuku, kulihat ayah dan adikku juga ikut mengintip dengan mata berduka. Sedapat mungkin aku mengatakan agar mereka secepatnya pergi agar tidak tertangkap oleh orang-orang jahat ini. Dan merekapun bergerak menjauh, pergi.
Aku sudah tidak sanggup meronta dan melawan. Aku hanya diam, tak bergerak. Badanku semakin lemah, sepertinya ajal sudah siap menjemputku. Demi melihat aku tak lagi bergerak, kedua anak itu berhenti menyiksaku. Mereka mengambil Koran dan menutupi badanku dengan Koran itu. kurasakan badanku melayang, mungkin mereka membopongku. Terpikir olehku bahwa mereka akan membuangku ke sungai didepan rumah itu, atau ke tempat lain yang sama mengerikannya. Sebelum kututup mataku untuk selamanya, masih sempat aku mendengar mereka bercakap-cakap.
“dasar cicak sialan…bikin gw jantungan ajah…”
“iya, untung kita berdua, jadi bisa kerjasama. Coba kl gw sendirian, udah pingsan kali gw…”
Tuesday, August 4, 2009
Ketika Buntu, ya Badai Pasti Berlalu….
Beberapa hari tidak punya selera untuk menuliskan apapun. Banyak yang berputar-putar di kepala, tetapi tidak mampu untuk menuliskannya. Huh…ya sudahlah…cuap-cuap sedikit nggak papa…hehehe
Akhirnya buku badai pasti berlalu rampung juga kubaca. Meskipun isinya sedikit aneh untuk dibaca pada masa sekarang, tetapi buku itu tetap demikian adanya. Buku tua dengan cerita masa lalu,
Setting waktu dan tempat yang lama sekali berselang. Dari halaman depan buku itu, dapat diketahui bahwasannya buku itu pertama kali terbit pada tahun 1974. Wow….jadul banget kan???
Gaya bahasa yang masih lampau, penggambaran tempat yang detail membuatku mudah mengikuti alurnya. Mau nggak mau memang aku harus membayangkan bagaimana keadaan dahulu kala antara Bogor-Jakarta.
Aku sendiri menemukan buku itu beberapa bulan yang lalu disebuah pameran buku di salah satu mall besar di Bogor sana. Bukan karena aku menyukai cerita lama atau alasan yang lainnya maka aku memutuskan untuk membeli buku itu. tetapi lebih karena buku-buku yang lain kurang menarik dan mumpung harganya Cuma Rp. 10.000,-
Untuk yang ingin mendalami makna dari kesetiaan, buku ini lumayan juga. Selebihnya sih biasa aja. Standar novel tulisan Marga T dan Mira W gitu lah…J
Saturday, August 1, 2009
Candu itu enak yang membuat keenakan
Hari ini aku kembali menyadari bahwa sesuatu yang menjadi candu itu memang dahsyat akibatnya. Candu bisa membuat kita menjadi orang lain dan bisa pula membuat kita berlebihan.
Hari ini aku terkena imbas candu yang merasuk dalam darah dagingku, yaitu candu dengan motor kesayanganku “si black”. Terbiasa selalu bepergian dan melewatkan waktu dengannya, membuatku goyah dan galau ketika harus berpisah dengannya. Dan hari inipun begitu adanya.
Si black harus menempuh perjalanan jauh dengan majikannya yang satu lagi, ke daerah di ujung barat pulau jawa sana. Ke rumah majikan yang satu itu. dan akibat sedemikian dahsyatnya candu itu merasuk dalam darahku, akupun hanya bisa merenung, gelisah, dan mati gaya.
Rencana ingin hunting gambar dengan kamera pinjaman yang baru ke kampus, dan mencari inspirasi untuk sekedar menambah sebaris dua baris tulisanku di tempat terbuka, akhirnya harus rela bergelendotan di sofa dengan buku Badai Pasti Berlalu yang hanya ku buka dan ku tutup tanpa masuk dalam otakku.
Semoga besok keadaan membaik dan tidak lagi mati gaya seperti ini. Sulit sekali menghilangkan kebiasaan yang telah menjadi candu ini. Semoga tidak berkepanjangan. J
-
I dedicated this story to my buddy, one of my partner in crime, and my lucky friends, Ijah. She is the one who gave me this big challeng...
-
Alhamdulillah.... Million thanks to Allah SWT ... Untuk semua hal yang sudah diberikan-Nya kepadaku, kepada orang2 disekelilingku. Duu...
-
And again..... One year has gone.... :) I still on the way... I still on my way... :p There is a lotta love, Coz everybody needs a lotta lov...