Sebetulnya saya sudah lama ingin menuliskan kegelisahan saya akan hal ini, di sini. Tapi belum menemukan semangat yang cukup. Hari ini, saya ngobrol ngalor-ngidul bersama teman saya yang sedang merantau di salah satu pulau cantik di timur sana, hingga berujung pada topik yang satu ini. Mumpung masih ada semangatnya, jadi saya bagi sekalian di sini ya.
Twibbon
Saat saya memasukkan kata "Twibbon adalah" di laman pencarian G****e, maka yang muncul paling atas adalah kalimat ini:
Singkatnya, Twibbon adalah sebuah gambar yang bersifat overlay dan dapat dipasang pada foto profil akun sosial media, termasuk Twitter untuk menunjukkan dukungan terhadap sesuatu. Twibbon pastinya hadir dengan format PNG (Portable Network Graphic).
Saya sering juga menggunakan twibbon, untuk mendukung kegiatan-kegiatan tertentu. Desain nya lucu-lucu dan menarik. Membuat orang mudah menyukainya.
Lalu, kenapa saya merasa dilemma dengan twibbon?
Jawaban saya adalah karena twibbon menjadi salah satu ajang promosi sekolah yang (memang) bagus dan efisien, tetapi saya termasuk orang tua yang tidak ingin terlalu banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti kita tahu, sekali lihat twibbon, pasti langsung bisa diketahui di mana anak kita sekolah yekan?
Selama ini, saya membatasi (inginnya menghindari, tetapi kadang masih suka kelepasan) berbagi informasi mengenai sekolah anak saya di media-media online selain blog. Bahkan jika menampilkan foto saat anak saya menggunakan seragam khusus sekolahnya yang sangat mudah dikenali itu, saya biasanya mensensor dengan stiker. Hanya orang-orang yang memang sensitif dan mengenal baik motif seragam sekolah itu yang mengerti. Namun, jika bertemu muka, saya dengan senang hati berbagi informasi karena saya tidak bermaksud menyembunyikannya juga.
Ada beberapa alasan mengapa saya tidak ingin banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti yang hari ini saya bagi pada teman saya tadi.
Yang pertama adalah keamanan. Sebagaimana kita tahu semakin ke sini, ancaman kejahatan anak semakin beragam dan juga semakin parah. Beberapa artikel menyebutkan bahwa banyak orang jahat mulai mengancam di sekitaran sekolah anak. Dan dari artikel-artikel juga saya kemudian mengikuti paham untuk tidak terlalu vulgar membagi tempat sekolah anak.
Alasan yang ke dua adalah karena saya terlalu banyak mikir. Mungkin kalau orang tua lain santai dengan hal ini, saya kurang bisa santai. Tapi tidak apa-apa, karena sepertinya paham saya ini tidak akan melukai orang lain juga. hehee. Saya berpikir bahwa bisa bersekolah, apalagi memilih sekolah seperti yang kita inginkan karena alasan A, B, C, dst adalah sebuah privilege. Privilege yang tidak semua orang punya. Saya yakin banyak orang di luar sana yang ingin bersekolah di sekolah pilihannya tetapi tidak bisa karena berbagai alasan. Bahkan mungkin banyak juga yang ingin bersekolah, tetapi tidak bisa karena banyak alasan. Jadi saya memilih untuk mensyukuri nikmat "anak bisa sekolah," titik, sampai di situ saja.
Teman saya memberikan komentar mengenai alasan ke dua saya ini, begini: "Kamu beda banget sama orang tua yang anaknya les sama aku mbak. Anaknya sekolah di sekolah favorit, dan dia update terus gitu di medsos". Saya tertawa dan menjawab, "Itu adalah 1000% alasanku untuk melakukan sebaliknya. Dunia ini sudah terlalu sedih dengan iri, dengki, pamer kemewahan & previllege, dan juga pretending2 - an itu. Nggak usah nambah2i."
Alasan lainnya adalah karena saya ingin menghindari perasaan jumawa. Jika ada orang yang melihat atau membaca tempat anak saya, mungkin beberapa yang mengenal akan berkata "Wah, anakmu sekolah di situ ya". Ini beberapa kali terjadi. Dan mau tidak mau, sebagai manusia normal ada perasaan senang yang lebih dari sekedar senang biasa saat mendengarnya. Saat saya menjawab "Iya", mungkin ada berbagai intonasi di belakangnya. Saya tidak ingin lebih banyak mengalami hal itu. Karena semakin banyak saya merasa 'iya' dengan sedikit berbeda, ditambah sedikit lagi, dan lagi, lama-lama tanpa saya sadari saya akan menjadi jumawa. Saya takut juga, di saat saya menjadi jumawa, ada orang lain yang kemudian memiliki perasaan 'tidak nyaman'. You know what I mean...
Sekolah anak saya bukan sekolah yang luar biasa, bukan sekolah yang mahal-mahal itu. Sekolah anak saya hanyalah sekolah yang saya lihat sudah sangat matang kurikulumnya. Melahirkan banyak alumni yang sering terdengar gaungnya. Saya harap anak saya bisa bertumbuh baik dan mengikuti jejak baik para alumninya, dengan membawa semangat cinta kasih yang ditanamkan oleh pendidiknya. Aamiin. Itu yang terpenting menurut saya.
Jadiii...
Saya memutuskan tidak menggunakan twibbon yang selalu dibagikan oleh para guru. Mohon maaf ya pak, bu. Saya selalu mempromosikan sekolah kita, tetapi dengan cara yang lain. :-)
Semoga anak-anak bisa segera mendapatkan kesempatan belajar, bermain, dan bertumbuh bersama dengan situasi yang seharusnya mereka jalani di usia sekolah dasar. Aamiin.
Selamat Hari Anak Internasional, Nak!!!