Monday, December 22, 2025

I Wannabe A Microwave

Liburan... 

Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi menjadi suasana baru, yang konon katanya bisa menjadi penyembuh. Entah penyembuh apa, mungkin banyak yang di hari biasa merasa sakit, sehingga dengan mencari penyembuh saat libur, maka mereka akan sembuh dan siap kembali menghadapi rutinitas saat libur tlah usai. 

Begitupun dengan keluarga Nala ini, tak luput dengan rencana untuk mengadakan pergerakan. Namun, dikarenakan akhir tahun ini adalah masa di mana K harus mendaftar ke SMP, belum mendapat satupun kabar dari dua calon sekolah yang kami coba daftarkan, maka Emak tidak terlalu bernafsu untuk bergerak. 

Long short story, maka si Bapak yang bergerak naik Gunung Rinjani, si Anak akan di cemplungkan kembali ke Barak masa kini, dan Emak tetap menjadi kuli yang Qerja Bagai Quda. Hahaha....

Dan begitulah yang terjadi. Hingga saat tulisan ini di tulis, si Bapak baru turun dari Puncak Rinjani, si Anak baru pulang dari Barak 2 hari, dan Emak masih menjadi Kuli. 

Jujurly, hati emak ini rasanya penuh sekali setelah menjemput K dari Camp. Penuh karena bangga dan bahagia sama anak sendiri boleh kan ya? hehehehehe. Bahkan untuk merasa bangga pada anak sendiri aja, kadang saya merasa malu. Ah, katanya trauma masa kecil. Mbuhlah. Kita mulai dari sekarang deh kalau gitu :-p

Jadi ceritanya, sewaktu menjemput K ke Rumah Perubahan, kan ada sesi berbagi bersama orang tua, psikolog yang mendampingi camp, dan juga Prof RK. Sebagai pembuka acara, kami diperlihatkan video pendek mengenai aktifitas anak-anak selama 3 hari 2 malam di SDC. 

Saat muncul K di video, dan dia memegang mic, menyebutkan sesuatu (saya tidak terlalu dengar), saat itu Prof RK melihat ke arah video dan berbalik ke arah orang tua sambil bertanya, "Ini anak siapa?" Saya mengangkat tangan. Dan Prof RK mengacungkan jempolnya. 

Mungkin bagi orang lain hal ini terasa remeh. Tapi bagi emak mellow yang satu ini, it means the world. Hilang sudah lelah marah dan murka yang pernah terjadi di antara anak dan emak, langsung diputihkan saat itu juga. Hahahhahaa

Setelah itu, acara diskusi dengan menyenangkan, kalau kata anak sekarang, berdaging semua. Psikolog yang dipanggil Coach Ivana berbagi banyak hal, lalu Prof RK juga menyambung dengan insight yang sedikit banyak terasa seperti tamparan kecil di muka ini. Eheeemmmm... 

Coach Ivana mengatakan bahwa mereka sudah sering mengadakan camp ini untuk para executif, pekerja, CEO, dll. Dan beliau meyakinkan kami bahwa core ide untuk menyelesaikan masalah yang sama yang di miliki oleh para executif dll itu, tidak berbeda dengan yang keluar dari kepala anak2 kami. Jadi kami didorong untuk melanjutkan misi mengetok cangkang telur anak-anak kami, dan tidak mematikan setiap ide kreatif yang mereka utarakan. 

Coach Ivana menyebutkan bahwa bahkan ada anak yang mengatakan kalau Ia ingin menjadi Microwave. Kami semua ikut tertawa. Cita-cita unik, menandakan bahwa anak itu memiliki kepercayaan diri tinggi dan merasa aman untuk bisa mengatakan apapun yang ada dikepalanya, tanpa takut dihakimi orang lain, katanya. Saat itu saya berfikir, "Wow, kece juga anak itu". 

Lalu kami masuk di sesi diskusi, tanya jawab yang cair dan lagi-lagi berdaging. Setiap ada parents bertanya, coach Ivana akan menjawab, dan Prof RK akan menambahkan insight nya. Saya rasa, parents yang hadir di situ, sama-sama merasa cukup kenyang setelah acara selesai. Hahaha. 

Kemudian kami berfoto bersama, dan berfoto sendiri-sendiri dengan Prof RK bagi yang mau. Ya saya maulah tentunya. hahahaha. Dan lagi2 saat itu, Prof RK bilang pada saya, "Anak ibu hebat,". Terima kasih Prof, semoga dia bisa terus belajar untuk menjadi good driver, tanpa lupa caranya menjadi good passenger. Pengalaman 3 hari 2 malam di Rumah Perubahan ini, saya yakin akan menjadi bekal penting untuk memperkuat fondasi dirinya. Aamiin. 

Saat akhirnya saya bertemu dengan K di depan lobby kamar mereka menginap, K seperti biasa tak sabar berbagi cerita. Saya yang juga mendapat beberapa teman baru, kami bertukar nomor dan mengucapkan salam perpisahan. Sembari menunggu taksi online, kami berjalan ke arah Kafe Breezy, di mana Prof RK sedang melakukan foto bersama dengan beberapa parents. Tentu saja kami bergegas mengantri. Ya why noootttt... hahahahhaa

Mendengar cerita dari K, saya merasakan keseruan yang mereka alami. Dan karena saya sudah mendengarkan paparan dari Coach Ivana dan Prof RK, maka saya bisa melihat gambaran besar dari apa yang mereka lakukan, tujuan, serta harapan yang ingin disampaikan oleh SDC. Di situlah tugas saya untuk menjejalkan yang perlu di jejalkan, dengan cara semulus mungkin. kekekekekeke

Malamnya, saat kami menonton TV, saya teringat dengan cerita Coach Ivana tentang anak yang bilang kalau dia mau jadi Microwave. Tiba-tiba, K bilang "Jadi Bunda tahu donk kalau aku mau jadi Microwave?". Apalah yang bisa saya lakukan, selain daripada ngakak dan bilang, "Jadi kamu yang mau jadi Microwave? Ok, that's good." 

Untuk teman-teman yang memiliki anak usia sekolah, saya rasa cukup sepadan jika mau menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya, untuk mendaftarkan mereka ke Self Driving Camp ini. Memberikan pengalaman baru untuk anak, sukur-sukur banyak yang nempel di hati mereka. :-)

#SelfDrivingCamp

#RumahPerubahan

#HolidayActivity

Saturday, December 6, 2025

Again, It's Just A Thing lho Mbak

Dari Sini

Bulan November, bisa-bisa diusulkan sebagai bulan tumbler nasional, gara-gara se-Indonesia Raya membicarakan sebuah merek tumbler, dan ke-nganu-an yang punyanya. 

Saat saya membaca berita tentang beliau itu, saya jadi teringat cerita tentang kisah anak wedhok dan "her thing is only thing"-nya. Dan ternyata, saya pernah tuliskan di sini (asik banget nggak sih? hahahaha). Baca di sini tulisannya. 

Di satu sisi saya ikut prihatin dengan mbyak dan mas nya yang kemudian populer melalui jalur drama di negara ini. Tetapi juga jangan salahkan netizen dengan segenap kelihaian jemarinya, karena memang mbyaknya juga agak laen saya rasa. Komentar saya kala itu adalah, "Duh mbak, kalah sama anak saya kayaknya. Anak saya aja tahu kalau terlalu mendewakan barang, itu nggak ada gunanya." 

Memiliki barang yang kita rasa bagus dan "sesuatu" itu adalah hak masing-masing orang, beserta segala kemampuannya. Tapiiii, sepertinya kita semua perlu mulai mengukur, sebatas apa kita mampu merelakan sesuatu. Jadi, saat terjadi sesuatu pada benda atau hal tersebut, tidak perlu berlarut sakit hati, kecewa, marah, apalagi tantrum yang merugikan orang lain. 

Misalkan begini: 

Kita beli saja sesuatu yang kita mampu. Mampu di sini bukan berarti harus cash ya. Cash ya lebih bagus, tapi kredit juga tidak apa-apa, selama kita sudah punya budget untuk membayarnya. Ini banyak terjadi pada jama'ah gaji bulanan seperti saya. 

Nah, kalau kita beli sesuatu yang mampu kita beli, lalu putuskan, apakah benda ini ingin kita koleksi, atau ingin kita gunakan untuk keseharian. 

Jika untuk koleksi, maka sebaiknya di simpan saja di rumah/lemari, dan kalau harus dibawa/dipakai, sesekali saja saat ada acara yang tidak terlalu banyak orang. Jadi aman dari ancaman. 

Jika kita membeli karena ingin menggunakan, maka masukkan ke dalam kepala mantra saya ini, "It's just a thing, can be broke, and can be lost." Serta masukkan juga pemikiran bahwa saat kita keluar dari ruang pribadi kita, maka jutaan alasan bisa terjadi untuk melukai, mengganggu, atau merusak apa yang kita punya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Makanya, "it's just a thing, can be broke, can be lost". 

Saat mendengar ini dari mulut saya, salah satu teman berkomentar, "Udah kek sultan aja." Tentu segera saya sambar dengan mengiyakan, "Oh iya, kita harus punya itu mental sultan. Bedakan mental sultan dengan gaya sultan ya. Yang kita harus punya, itu Mental Sultan. Jadi tidak terlalu pokil, dan tidak perlu merana saat ada barang rusak/hilang. Karena bisa segera menghibur diri, ya udah nanti kalau punya uang beli lagi." Dengan begitu, kita tidak akan tantrum membabi buta, yang bisa merugikan kehidupan orang lain. Seperti yang viral-viral itu... 

Oh iya, satu lagi pikiran (kalau yang ini rada julit kayaknya ya) setelah mendengar kasus mbyak dan mas nya itu, "Ini kalau mereka punya anak dan sekolah, kayaknya mereka bakalan beliin alat sekolah yang viral setiap kenaikan kelas juga itu. Terus kalau barangnya lecet kesenggol temennya, mereka bakal tuntut orang tua atau sekalian." Kalian mikir gitu juga nggak? Jangan-jangan saya aja yang julita. hahahahha

Begitu sih kira-kira.

#TumblerViral

#Things

#ThingIsJustAThing


 

Saturday, August 23, 2025

This Is A Way


If you ask, this is my way to appreciate myself.

I appreciate myself for being me, keep being me, and trying to be better me day by day...

I feel it is not always easy...

Sometimes I feel it's far from what I capable to achieve... But it's okay... 

Me has been and still trying... Me still enjoying the process... And Me not regretting anything... Just keep her sanity... It's okay...

While Me can not counting on people, at least Me can count on herself, manage her priority and expectation, and started to accept the acknowledment, from me and others... It's a good start... Keep going...

If this thing can make Me more appreciate life, then leave her be...

The only one that probably Me thinks next should be better is, maybe next time Me should bring her Daughter and husband. Even if they say they don't want it, Drag them. Hahaha

Have a great weekend, Me, You, Her, Him, Them... And everyone of you! 

Love, 

Me


#PagelaranSabangMerauke

#HikayatNusantara

#TheIndonesianBroadway

Friday, August 15, 2025

It's Just a Thing

Pernah dengar nggak anak-anak kecil yang sudah sangat paham merek, brand, barang mahal, dll gitu? Bahkan dulu sewaktu K masih TK, pernah juga ada issue di kelasnya mengenaik sebuah brand. Ceritanya begini: 

Ibu dari Temennya K (Sebut saja MF): "Momies, apakah di kelas anak-anak benar ada geng yang hanya berteman dengan anak-anak yang pakai sepatu merek S*******s?"

Mama lain langsung penasaran: "Gimana maksudnya mam?" 

MF: "Iya, ini tadi anak saya cerita ke neneknya kalau dia mau dibeliin sepatu merek S, karena kalau nggak pake sepatu itu, nggak diajak main sama temen-temennya. Kalau iya, rasanya blablabla...." Panjang lah pokoknya, aku lupa tepatnya.  

MM: "Barusan saya tanya anak saya, katanya nggak main geng kok mam. Cuma yang pake sepatu samaan, terus bilang kita samaan ya... Gitu aja." 

Saat duduk santai dengan suami, saya ceritakan kejadian itu.  

Saya: "Menurut kamu, gimana kejadiannya itu?" 

Suami: "Paling juga bercandaan." kata beliau singkat.

Saya" "Kalau menurut penerawanganku ya, begini kejadiannya. Anak-anak itu lagi main. Terus beberapa anak udah tahu merek, terus bilang "eh kita sama ya sepatunya. Eh kamu juga sama. Eh si itu juga. Kita tim S! terus ada F datang, pengen ikut main, anak lain bilang "Kamu kok sepatunya nggak S? nggak samaan kita." gitu kali ya. Bukan karena main geng." 

Suami: Iya paling juga gitu. 

Jaman itu, memang sepatu S itu belum seperti sekarang yang menjamur dan mbladrah di mana-mana. 

Lalu ada lagi beberapa waktu (kayaknya setiap ajaran baru dink ya?) lalu, di linimasa terjadi kehebohan tentang tas merek S*****e yang ditulisi nama oleh gurunya. Sontak saja para netijen +62 bersabda macam-macam. Yang menarik diantara perdebatan itu adalah masalah terselip debat mengenai Barang Ori dan Barang KW. Yang berpegang pada Ori, ya udah tahu lah pasti karena uangnya ada. Tapi yang berpegang pada Barang KW, saya kurang sependapat dengan alasannya. Katanya "ya diukur dengan kemampuan donk. Kalau uangnya belum cukup beli yang Ori, ya nggak papa beli KW. Daripada Ori tapi ngutang atau nyicil." Lah buuuukkk... Kalau menurut saya sih mending Ori tapi nyicil daripada KW. hehee

*** 

Dari dua fenominil kecil itu, saya mencoba untuk menerapkan pada K, bahwa barang itu hanyalah barang. It's just a thing. Nggak peduli mahal atau murah, yang penting fungsinya. Tapiiiii, kita tidak boleh beli yang KW. Daripada beli yang KW, lebih baik kita pakai merek lokal saja, harganya terjangkau, kualitas juga tidak semua jelek. 

Untuk K, saya juga belikan beberapa barang yang suka bikin netijen bersabda itu, tapiiiii ada syaratnya. Seperti: 1) Sedang ada alokasi uangnya (baik cash maupun kredit, tidak masalah. Yang penting budgetnya ada); 2) Sedang ada tante2 kesayangan yang beredar di tempat barang2 itu diproduksi, sehingga bisa dapet a) barang lebih murah, atau b) barang yang unik dan tidak dijual di dalam negri. Nah, kalau kedua syarat itu terpenuhi, ya boleh saja beli barang rada mahal. Karena tidak bisa dipungkiri, barang yang lumayan mahal itu, memang lebih kuat juga sih bahannya. Asal digunakan sewajarnya (Catatan ini akan menjadi penting di cerita saya nanti). 

K punya sendal C****s ori, hadiah dia puasa penuh tahun lalu. Hasil negosiasi kita, boleh beli barang yang lebih mahal daripada biasanya, asal dengan kerja keras kamu sendiri. Seperti sendal ini, kamu boleh beli, asal dengan uang tabungan kamu sendiri, atau hadiah yang kamu relakan untuk beli. Deal. 

Tapi, K punya sepatu sekolah 120ribuan, beli di toko teman. Ketika teman saya posting di WA status jualannya, saya perlihatkan kepada K. Ternyata dia tertarik sekali dengan sepatunya, untuk sepatu sekolah dan sepatu main, hitam dan biru. Dia tidak masalah meskipun sepatu itu tidak bermerek, dan murah meriah. Deal! Komentarnya cuma satu "Untung logonya bukan logo N**e ya bunda, hampir mirip tapi beda. Jadi kan bukan KW nya N**e" hahahahahaa. Benaaarrrr... :-p

***

Yang tadi adalah cerita indah mengenai bagaimana anak itu sebetulnya nggak terlalu peduli dengan barang bermerek, asal kita juga nggak menanamkan bibitnya, apalagi merawatnya hari ke hari. 

Sekarang, adalah cerita bagian pahitnya. 

Masih ingat kan tadi di awal saya bilang ke K bahwa "Thing is just a thing" jadi nggak perlu sweat on a thing. Gitulah pokoknya. Ternyata, ajaran ini menjadi bumerang (nggak buruk-buruk juga sih) buat saya. 

Begini ceritanya: 

Cerita pertama: 

Adalah tentang sebuah tumbler termos keluaran dari merek yang bikin tantrum netijen setiap tahun ajaran baru itu. Kala itu, Tante Salmul kesayangan jalan-jalan ke Australia. Jadi mamak ini tergelitik juga untuk cek cek web nganu itu. Eeeeh, ndilalah ada 1 set backpack, tumbler termos, tempat pensil, dan lunch bag yang harganya jauuuuuhhhh di bawah harga di sini. Nggak sampe separonya gitu lah kalau dijomlah-jamleh. Dan temanya juga belom pernah lihat di sini (mungkin karena saya nggak main ke jakarta juga hahaha). 

Di hari pertama K sekolah setelah naik kelas, dia dengan bahagianya berangkat dengan semua yang baru-baru itu. Namanya bocil ya, kalau sekolah di hari pertama, pakai barang-barang baru hasil back to school shopping tuh, rasanya lebih PD gitu jalannya. hahahaha. Emaknya cuma berdoa, "semoga di kelas baru, ketemu teman-teman yang baik, dapet guru yang baik, dan sekolahnya lancar. Aamiin". 

Udah kan ya, kita menjalani hari sesuai fungsinya, hingga tiba waktunya menjemput si anak wedhok ke sekolah. Begitu dia melihat emaknya dari kejauhan, sambil tertawa-tawa dia mendekati emaknya dan berkata, "Bunda, jangan marah ya. Tumblernya tadi di lapangan kan aku tarok di pinggir. Kena bola basket yang dilempar teman. Terus pecah kepalanya.," Ngeeeekkkkkkk... 

Saya melihat-lihat kepala tumbler yang pecah dan nampak tak bakal bisa ditolong itu dengan kepala wesewesewesewedsdsfesfngeroi tmjeribnre. Lalu suara pelan K membuat saya kembali ke dunia nyata, "Kan kata bunda, it's just a thing. Jadi nggak papa kalau rusak nggak sengaja kan?" hahahaha. Baeklaaaahhhhh. "Iya, it's just a thing. Nggak jodoh aja kamu sama tumblernya, sehari aja nggak sampe kalian bersama." Dan kami tertawa2 sambil naik motor. K tidak tahu bahwa hati emaknya ini tertawa sembari menangis. :-p

Cerita yang kedua: 

Masih seputar botol minum juga ini. Botol minum yang dia beli untuk menghadiahi dirinya sendiri saat naik ke kelas 6. Botol montok bulet ginuk-ginuk yang saya juga naksir itu. hahhaa. Masih rada better sih ini, karena bukan hari pertama, tapi mungkin sekitar 1 minggulah. 

Pulang sekolah, saat saya jemput K di sekolah, dia laporan lagi, "Bunda, jangan marah ya. Tadi aku tarok botol minumku di meja kan. Tapi kayaknya terlalu pinggir. Terus J lewat, nggak sengaja botolnya kena J terus jatoh. Tapi kan it's just a thing, dan J nggak sengaja. Dia juga sudah minta maaf. Jadi nggak papa ya bunda." Lalu dia menunjukkan pada saya, salah satu bagian pantat botolnya penyok. Hahahaha. Hadeuuuuhhhhlah. Emak cuma bilang, "Ya udah, it's just a thing. Lain kali kalau narok botol minum, jangan terlalu pinggir ya." 

***

Dilemma ya sebetulnya. Saya nggak pengen juga sebetulnya ini bocah jadi menggampangkan barang-barang miliknya, tapi saya juga nggak pengen dia terlalu fokus dengan harga, uang, mahal murah, merek dan nggak merek, dll nya. Tapi ya begitu jadinya. 

Ada satu temannya yang saya cukup dekat dengannya. Suatu saat kami semobil ramai-ramai dengan teman2 K yang lain membicarakan masalah les yang sekarang rasanya kurang kondusif karena semakin banyak murid yang les bersama mereka. Mereka merasa lebih sulit konsentrasi karena anak-anak barunya sering berisik melebihi mereka yang (menganggap dirinya) senior. Tiba-tiba anak ini bilang "Padahal kan kita bayar ke tante itu nggak murah loh. Sebulan itu 500ribu lebih bayarnya. Masak kayak gitu". Katanya. Saya bilang padanya, "ya udah kalau gitu kalian kan udah lebih senior, jadi harus lebih bisa mandiri. Baca lebih banyak lagi biar lebih ngerti."

Di lain hari, saat K dan teman-temannya menginap di rumah, pas bersamaan saat saya harus belanja bulanan ke Day by Day supermarket, mereka semua mau ikut. Akhirnya saya jatah setiap anak boleh 1 makanan dan 1 minuman. Hebohnya sudah seperti game jaman dulu yang cepet-cepetan menghabiskan uang di supermarket itu loh. hahhaa. Saat membayar di kasir, si anak itu diam di samping saya, sedangkan teman-temannya berbincang seru tak jauh dari situ. Saya tanya, "Kamu ngapain? nggak ikutan temen-temen kamu?" Dia bilang, "Aku mau tahu habis berapa tante belanjanya." hahahhaa. Saya usir dia untuk bergabung dengan teman-temannya. "Kalian itu masih pre-teen, nggak usah pusing mikirin duit. Nanti aja kalau udah kerja baru mikir duit duit." Dia tertawa. 

Beberapa kali saya dengar dia menanyakan atau mengomentari baju/jaket K seperti, "Ini merek ini ya K? Aku tahu ini harganya kan segitu.." Dan lain-lainnya. 

Itu yang saya coba hindari untuk K. Thing is just a thing. Mahal murah itu bukan masalah, yang penting fungsi. 

Udahlah itu aja ngemeng hari ini. Tumben-tumben badan meriang kehujanan malah jadi bisa ngemeng di mari. :-p


Thursday, May 1, 2025

Angin Semilir Yang Merubah Arah Navigasi Kapal

Tahun ini, K naik ke kelas 6.

Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekolah online di kelas 1." atau, "Seperti baru kemarin masuk sekolah offline di kelas 3." atau juga, "kayak baru sehari di kelas 5 ya." dan sebagainya. 

Kenyataannya, sekarang anaknya kelas 6, tahun depan SMP. 

Untuk beberapa teman, mungkin masih ingat bagaimana yakinnya saya bahwa K akan bersekolah di tempat yang sama dari TK B sampai nanti lulus SMA. Ternyata, keyakinan itu beberapa bulan terakhir ini, terjadi goyangan oleh angin semilir. Dari yang awalnya hanya ada Plan A, kini muncul pilihan Plan B. Kenapa? 

Begini ceritanya... (elaaah)

Oh iya, kenapa sih dulu hanya ada Plan A? ya karena anaknya pun sudah yaqueen mau lanjut SMP di tempat yang sama, karena dia mengincar Ipad nya. Memang kalau sekolah di SMP ini, setiap anak wajib pakai Ipad. Dahlah nggak usah bahas kenapa, kok iya, dll nya. Udah kenyang denger dari mamak-mamak seperjuangan soalnya. haha. 

Karena anak sudah oke mantep paten dan yaqueen, ya Emak ini pun bahagia doooonk. Oke, visi misi kita sama mbak. Lanjoutkeun. 

Nggak tahu bagaimana awal juntrungan obrolan Bapake dan Anake, tetiba muncul diskusi kurang lebih begini: 

Bapake: "K, sekolah di tempat lain aja... Nggak usah di situ lagi?" (Emake denger santai aja, ini obrolan ringan biasa)

Anake: "Ih, Ayah! kan aku udah nunggu-nunggu buat ganti Ipad baru. Ipadku sudah jadul sekali, nggak bisa diupdate apa-apa!" Anake nge-gas kalau topik ini di angkat. 

Bapake: "Kalau cuma Ipad aja sih, Ayah beliin lah. Kamu sekolah di mana juga nanti ayah bisa beliin." Emake mulai berjengit, gawat ini.

Anake: "Bener? Serius? Nggak bohong?" Anake menyambut gayung bapake sambil menuntut dengan mata melotot.

Bapake: "Iya bener. Ayok mau ke mana?" Bapake nantangin.

Anake: "Bunda, ayo kita pindah sekolah aja. Aku nggak betah juga di sini. Mau sekolah di tempat lain aja." Anake ketularan semangat bapake. 

Emake melotot gantian ke bapake, dan merasa harus mengintervensi obrolan absurd ini. 

Emake: "Nggak papa sih kalau mau pindah. Tapi kalau mau pindah, pindah tinggal sekalian. Kalau cuma pindah sekolah, Bunda nggak mau. Sekolah di sini yang kayak sekolah kamu nggak banyak. Kalau masih sama2 aja, ngapain pindah? Kalau yang lebih bagus, muahalllll shayyyy." Emake tetap berusaha menjadi emak demokratis yang akomodatif. 

Bapake: "Ke B aja apa?" Muncul sedikit binar di mata Emake. 

Anake: "Ayok!!!!" Ternyata mata anaknya bukan berbinar lagi, tapi hampir meloncat mendengar ide Bapake. 

Emake: "Beneran? Kalau kalian berdua beneran sepakat, ayok aja kita coba. Mumpung tahun depan masuk SMP, ya sekarang waktunya memang kalau mau berpikir cari sekolah lain." Emaknya ketularan semangat. 

Singkat kata, Emake menanyakan beberapa kali tingkat kemantapan bapak beranak itu hingga beberapa kali, dan memutuskan untuk mengendapkan ide impulsif itu beberapa hari hingga adrenaline rush berkurang. 

*** 

Beberapa hari kemudian, di saat semua orang kembali bersantai di sofa di depan TV, diskusi terbuka mengenai kemungkinan sekolah di tempat lain, dimulai kembali oleh Emake. 

Emake: "Jadi gimana, lanjut enggak nih usahanya? Kalau kalian masih merasa perlu dan mau, Bunda musti mulai action ini." 

Ternyata Bapak-beranak masih yaqueen dengan jawaban mereka. Maka Emake pun memulai kembali perjalanan mencari informasi, bertanya sana-sini, berselancar kanan-kiri, hingga terkumpul beberapa literasi yang cukup mumpuni. 

Langkah kedua adalah menghubungi secara langsung pihak-pihak terkait dari calon-calon sekolah yang sepertinya memiliki peluang untuk dipilih, untuk mendapatkan informasi dasar yang valid. 

Langkah ketiga, adalah menghubungi teman yang mengenal situasi dan menanyakan beberapa pertanyaan basic printril seperlunya. 

Saat data sudah cukup mewakili, maka Emake maju ke Bapake untuk melaporkan situasi dan kondisi yang mungkin akan kami hadapi jika benar memilih langkah ini. Lengkap dengan proyeksi finansial, dan rekomendasi pilihan pertama agar Bapake mudah mengerti dan membayangkan sendiri. Di luar perkiraan BMKG, bapake ACC dan Ok-Ok saja ternyata. Bhaequelaaahhh!!!

Maka dikeluarkanlah Pakta Keluarga Umang kepada Anake:

"Ok. Mbak K, Ayah dan Bunda setuju untuk kita mencoba membuat rencana pilihan sekolah SMP kamu. Tapiii, kita hanya akan memasang target 1 sekolah saja. Kalau memang menurut Tuhan kita layak untuk menjalani rencana ini, maka kita akan berhasil. Jadi, if you really want to move and get into that school, then you prepare yourself. If you want that much, you'll try harder. Gimana, ok?" 

Dan seperti biasa, Anake menjawab, "Oke"

Seperti itu...


Saturday, January 4, 2025

Merayakan Tahun Baru 2025

 Mumpung masih hangat dari tagihan, dan nyecroll photonya belum terlalu jauh di galery, sebaiknya diceritakan saja di sini. Ini adalah cerita Keluarga Umang ini di libur pergantian Tahun Baru 2024 ke 2025 kemarin. 

Bapake K sudah lama mengemukakan niat untuk menyusuri jalur selatan yang ke arah barat, dengan tujuan menggenapi langkah di jalur selatan Pulau Jawa. Kan dari ujung Banyuwangi hingga Sukabumi sudah dilakukan, tinggal yang Sukabumi-Banten yang belum terjadi. Baru sampai Pantai Sepang aja waktu ikut pelantikan teman-teman Lawalata. 

Karenanya, saat Bapake K ngajakin tahun baruan di Banten tapi berangkatnya nyusur selatan, dengan senang hati juga saya menyetujui. Walaupun sedikit syulit meyakinkan dan mengajak K untuk setuju dengan rencana ini karena dia mulai seperti Ibuk yang mabok mobil, tapi akhirnya dia mau juga. Saya dan Bapake K hargai sekali usaha K dalam hal ini, dan kami merasa salut sekali pada anak gadis ini. Sepanjang jalan dia mabok, pusing, mual, tidur dan mengeluh. Tapi ya tetap menikmati perjalanan tanpa menyulitkan. Saat waktunya istirahat, dia minum teh panas dan menunggu muntah. Setelah muntah, dia makan mie. Lanjut perjalanan lagi, sampai akhirnya berhenti makan siang dia menunggu muntah. Saat tidak berhasil muntah, dia minum air kelapa dan mau dipijit sampai kentut-kentut, dan kami jalan lagi. Begitu saja terus, sampai akhirnya tiba di penginapan. Luar biasa Mbak K, We really appreciate your effort! Thank you for your understanding :-)

Ini adalah sebuah warung makan biasa di pinggir jalan, di puncak Bukit Habibi, Sukabumi. 

Seperti yang direncakan, kami makan siang di Bukit Habibi. Kami jatuh cinta pada warung pinggir jalan dengan pemandangan yang luar biasa cantik ini. Sudah beberapa kali kami duduk di kursi ini, memandangi pemandangan yang sama juga, tapi tetap ingin lagi dan lagi. Makanannya sih nasi ayam goreng lengkap dengan lalapan dan sambalnya saja seperti biasa, ditambah dengan minum sebutir kelapa muda. Tapi, dengan pemandangan yang ciamik itu, saya bisa menganggap diri saya berada di mana saja. Di Bali, di Lombok, di Danau Toba, bebas merdeka kan? :-p

Bersantai hingga matahari terbenam dengan lari, loncat, dan koprol di pantai

Setelah beristirahat di penginapan di daerah Sawarna, kami bersantai di Pantai Goa Langir. Tak jauh dari Little Hula-Hula homestay tempat kami menginap, pantai ini membuat kami rindu Bali. Hamparan pasir lembut yang luas sekali, memberi kenyamanan di mata dan hati, hanya dengan duduk berlama-lama di situ. K sibuk lari-larian, koprol kayang di pantai. Saya dan bapake duduk sambil ketawa ketiwi menikmati suasana. 

Mandi di Geyser Cisolok

Perjalanan Keluarga Umang ini, tak akan bisa lepas dari perjalanan mencari tempat-tempat yang out of the box. Jadi ingat kenangan saat kami di Bali, secara random kami melakukan perjalanan ke Bali Utara, daerah Singaraja hanya untuk mandi air panas. Begitu juga dengan perjalanan kali ini. Bapake membawa kami ke Pemandian Air Panas namanya Geyser Cisolok di Sukabumi. Beruntung sekali suasana tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Katanya orang-orang pada takut dengan berita longsor Ciletuh dan Banjir Pelabuhan Ratu beberapa hari sebelumnya, sehingga pariwisata di Libur Nataru itu sepi sekali. Memang sih, kami pun merasa sedikit aneh saat melihat sepanjang Pantai Pelabuhan Ratu hingga ke Sawarna pengunjungnya sedikit sekali. 

Malam Tahun Baruan dengan Kembang Api

Ada cerita lucu di malam tahun baru kemarin. Saya dan Bapake K selama ini memang sudah malas merayakan tahun baru, atau ikut keramaian yang merayakan. Sudah beberapa tahun pergantian tahun baru, kami hanya tidur saja. Selama ini, baik-baik saja. K pun juga begitu, tidak melakukan apa-apa saat tahun baru. Tapi, ada yang lain dengan tahun baru ini. 

Mungkin karena ini adalah tahun baru pertama sejak K menggunakan HP, dan berkomunikasi intens dengan teman-temannya. Jadi, saat ada temannya yang berbagi foto atau cerita tahun baruan, dan dia melihat keluarganya berleleran tidur, dia sedih dan menangis. Sekitar jam 10, dia menangis pada Bapake, bilang bahwa sedih karena teman2nya merayakan tahun baru dengan seru, sedangkan kami hanya tidur. Akhirnya kami semua termasuk tante2, sepupu, serta kakek-neneknya bangun semua. Ayahnya pergi membeli kembang api, Om-nya pergi membeli martabak. Untuk membuka mata para orang tua ini, ngemil martabak adalah pilihan yang bagus. Tengah malam, kami menemani K menyalakan kembang api di depan rumah. 

Sampai kembali ke Bogor, saya dan Bapake masih suka ketawa kalau ingat cerita ini. 

Mengawali Tahun Baru 2025 dengan Mandi di Citaman

Hari pertama di Tahun Baru 2025, kami pergi ke Pemandian Umum yang berasal dari Sumber Mata Air Pegunungan, yang tak jauh dari rumah Bapake. Namanya Pemandian Air Citaman. Airnya jernih, dingin, dan udaranya sejuk. Ada 3 kolam besar di Citaman, dengan kedalaman yang berbeda-beda. Banyak warung di sekitaran kolam, yang membuat saya mager untuk nyemplung ke kolam dan memilih untuk ngemil syantiek saja di warung. 

Semoga Tahun 2025 Better semuanya!

Tahun 2024 adalah tahun di mana saya banyak melarikan diri dan menyembunyikan pikiran melalui hobby. Menulis dan Merajut. Banyak pelajaran yang menjadi catatan saya untuk tahun ini. Mudah-mudahan Tuhan Allah SWT memberikan kesehatan untuk saya, keluarga, dan orang-orang terkasih di sekitar saya, memberikan kelancaran untuk semua rencana dan usaha kami semua, serta mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kami semua. Aamiin. 

Friday, January 3, 2025

Sayang Sudah Bayar Domainnya

Sudah masuk Bulan January 2025 saja tahu-tahu ya. Selamat Tahun Baru 2025, teman-teman!

Sumber dari sini

Kemarin saya mendapatkan tagihan dari penyedia domain dari blog ini, untuk memperpanjang masa service nya periode 2025-2026. Ada keragu-raguan dalam hati saya sebetulnya, antara melanjutkan atau tidak. Malam melanjutkan karena entah kenapa saraf kreatif bagian menulis saya rasanya mandeg dan mentok sekali di 2024 kemarin. Jadi kepikiran, "ah, ngapain sih bayar-bayar kalau nggak dipakai?". Tapi di satu sisi, ada juga pikiran, "kok sayang ya kalau nggak dibayar, webnya nggak bisa dibuka lagi, tulisan-tulisan yang receh itu bakalan hilang juga. Meskipun receh, tapi kan mereka itu receh-receh yang saling melengkapi dan menambal sulam luka di hatiku ini." Haiyaaaahhhh.... 

Jadi, ya sudah saya bayar saja. Demi semua perjalanan yang telah terlewati, demi rangkaian titik yang berdempetan membentuk garis kehidupan ini, demi ketiadaan tulisan yang menandakan banyaknya riuh ramai di hati dan pikiran, dan demi niat untuk menjadi lebih baik di masa depan. Demi-kian sehingga alamat blog ini akan tetap ada, kini dan untuk ke depannya. :-)

Selamat datang Tahun 2025, 

Seberapa banyak kisah yang bisa tertoreh di tahun ini, adalah rahasia yang hanya kita dan Tuhan yang tahu. Yang penting Semangadh-nya dulu yekaaan... :-)