Titik Hitam
Ceritanya, saya yang nyalinya tipis ini kan belum juga bisa menyetir mobil. Jadi kemana-mana, saat Mas Bojo tidak ada, ya naik motor ngeng ngeng saja.
Alhamdulillah sepertinya sudah lebih dari satu dekade saya ber-ngeng-ngeng motor, tidak pernah jatuh. Masya Allah Gusti Allah.
Tapiii, namanya manusia yang merupakan tempatnya lupa dan riya, akhirnya saya kena tegur. Bulan lalu saya jatuh. Tidak tabrakan, tidak serempetan, tidak ini dan itu. Hanya jatuh gedubrak sreeettt, ngesot di aspal bersama dengan motor tercinta saya. Beruntungnya semua parapihak yang berkendara dibelakang saya, dengan sigap menghentikan kendaraan mereka sehingga tidak menggilas saya yang berserosotan mesra dengan aspal dan motor saya.
Sepertinya mendadak saya black out selama beberapa detik dan berakibat jatuh. Saya hanya cidera ringan yaitu lecet-lecet tangan, dan bagian kaki kanan dekat jempol tercukil sedikit kulit dan dagingnya. Kecil, tapi dalem. Seperti orang patah hati, sakitnya terasa cukup lama, dan bekasnya seperti tak terhapuskan. Eeeaaa.
Tangan kanan saya terkilir lumayan hingga sulit untuk diangkat atau digunakan memegang sesuatu. Tapi saya masih bisa pulang sendiri. Yang sedih adalah, ketika saya sampai di garasi, berteriak memanggil Mas Bojo dan mengatakan bahwa saya jatuh, yang pertama dia lakukan adalah berjalan ke belakang untuk mencari obeng.
Saya: "Kalau orang normal, tahu kalau istrinya jatuh itu yang pertama dilakukan adalah bertanya dan melihat, apa yang sakit, gimana kondisinya, diambilin minum dan lain-lain lho... Bukan nyari obeng dan ngecek motornya" Saya berlalu ke belakang untuk mencuci tangan.
Mas Bojo dengan cengengesan mengikuti saya ke belakang dan mengambil beberapa obat dari kotaknya.
Long short story, pertolongan pertama pada kecelakaan sudah dilakukan. Setelah semalaman tidur, ternyata esok harinya tangan saya semakin sakit. Saya memanggil ibu yang biasa melakukan pijat keseleo. Saya menangis ketika pijatannya sampai ke bagian pundak. Hiks...
Setelah dipijat, saya merasa enakan. Namun sayang hanya untuk semalam saja. Esok harinya, saya merasa lebih sakit. Akhirnya diantar oleh teman, saya ditemani Mas Bojo untuk pergi ke ahli pijat tulang Cimande cabang Cilebut. Haji Ghoni.
Mau tahu rasanya bagaimana saya ditangani oleh ahli tulang nya Cimande cabang Cilebut ini? Subhanallah sekali kakak. Saya merasa seperti di KDRT oleh si akang pijat. Pergelangan tangan saya yang terkilir, di kepret (literally) atau digampar dengan telapak tangannya bolak balik, sampai si akang lelah. Dan saya hanya bisa pasrah sambil berpikir "Si akang ini punya istri apa enggak ya? Kalau punya, berantem sedikit terus nggampar istrinya bisa langsung koprol pasti".
Si akang nya sih bilang pada saya bahwa saya dipersilakan untuk berteriak jika merasa sakit. Tapi oh ya please, itu tempat rame banget. Malu kakak kalau mau nangis. Padahal, saya ini kan lumayan bisa dan biasa menahan rasa sakit, level tahan sakit saya cukup tinggi. Namun kepretan Cimande ini luar biasa sekali deh pokoknya. Tetapi semua pedih perih panas dan nyeri akibat kepretan itu semua terbayar dengan sangat-sangat berkurangnya sakit ditangan saya. Saat pulang, dengan rasa sakit memar, bukan lagi sakit keseleo. Alhamdulillah
Meski hingga kini rasa nyeri masih sering muncul ketika saya mengangkat beban sedikit berat, namun saya bisa melakukan banyak hal hampir normal. How blessed I am...
Nah,
Sekarang beranjak mengenai judul yang saya pilih untuk ocehan saya hari ini. Dark Spot. Titik Gelap.
Entah bagaimana dengan orang lain dalam menghadapi 'sesuatu yang pernah terjadi dimasa lalu dan meninggalkan nyeri'. Mungkin ini yang biasa disebut dengan trauma? Mungkin.
Yang jelas, untuk saya, kecelakaan saya sebulan lalu itu meninggalkan sebuah titik gelap atau remang-remang untuk saya. Selama ini saya tidak pernah merasa takut naik motor di jalanan. Namun setelah kecelakaan itu, setiap kali mendekati atau melewati lokasi kecelakaan itu, secara otomatis tubuh saya bereaksi. Dengan sendirinya tangan saya akan menekan rem lebih dalam dari sebelumnya dan kecepatan saya turunkan sedemikian rupa. Fokus dan perhatian saya mendadak tersedot pada jalanan itu, berusaha untuk tetap waspada.
Saya merasa sedikit terganggu dengan kondisi ini, namun jika dilihat dari sisi cerahnya, maka mungkin bisa dibilang saya belajar dari pengelaman lalu. Dan mencoba menjadi driver yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Meskipun hanya diwilayah itu saja. Hahaha...
Anyway...
Be careful and mindful ketika berkendara ya temans... Stay safe...
#UdahItuAja
#KepanjanganIntronya
#SelamatMenyambutImlek
#HaveALongWeekend
No comments:
Post a Comment