Wednesday, December 31, 2014

Say Good Bye For 2014

Swing....


Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun (lagi). Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan penuh cerita meskipun hanya di kepala. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan sehat dan tanpa kurang suatu apa. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan bahagia bersama dengan mereka yang dicinta. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan beberapa capaian target yang lumayan juga. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk merancang rencana 2015 dengan santai, enjoy, dan penuh tawa. Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah...

Meskipun masih miris jika melihat jumlah torehan kata, ah sudahlah.... Tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Seperti biasa, ada saja resolusi yang pada akhirnya menjadi resolusi menahun dan turun temurun dari tahun sebelumnya. Ah sudahlah.... Kita coba lagi tahun depan....

Di penghujung tahun 2014 ini, aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayangi dan menjagaku. Melalui berkah, rizki, kesehatan, kebahagiaan, anugerah, serta cobaan yang datang lengkap tanpa kurang suatu apapun, Dia memberikan nikmat-Nya kepadaku. Bersama dengan keluarga kecilku, kami songsong semua rizky yang sudah disiapkan oleh -Nya untuk kami. Dan aku kembali bersyukur tiada terkira ketika menatap orang-orang yang kucintai satu persatu. Nikmat Tuhan yang Mana Lagi yang Engkau Dustakan, Anak Muda :-)

Satu hal baru yang kami niat dan lakukan, dan mudah-mudahan bisa konsisten sampai nanti adalah celengan akhir tahun. Tahun 2014, celengan kami namanya Kodok Tasari. Seharusnya, Kodok Tasari ini berjalan, bermain, dan tumbuh bersama dengan tabel 52 weeks money challenge yang kutempel di meja kerjaku. Namun apa daya. Masalah konsistensi masih menjadi yang pertama. Gatot alias gagal total. Hanya 10% tingkat keberhasilan saja. Tapi, lumayan lah.... Daripada tidak sama sekali. Tahun depan, mudah-mudahan bisa lebih konsisten lagi. ^_^

Liburan akhir tahun 2014?

 

 

Rencana kami sedikit mundur karena ayahnya  Kirania mendadak harus ke luar kota. Jadi agenda diundur semua. Akhir tahun kami lalui di..... Pantai Anyer.... Whooaaaaa *kata Kirania.

Ya, kami pulang kampung lagi. Aku selalu semangat pulang kampung ke kampung ayahnya Kirania. Sudah pasti karena pantainya... hahaha. Pantai adalah tempat aku dengan rela menghabiskan waktu untuk sekedar leyeh-leyeh, duduk-duduk, ngobrol, bercengkerama dengan alam ataupun dengan orang, bermain pasir bersama Kirania, atau berenang-renang kecil ditepian.

Namun sayang sekali. Akhir tahun ini, rupanya hujan mendera seluruh daerah di Indonesia. Mengutip celotehan beberapa orang di dunia maya, katanya doa-doa para jombloers sedang dikabulkan oleh Tuhan. Hujan merata sehingga agenda menikmati pantai pun sedikit terganggu. Harus berlomba-lomba dengan waktu antara berteduh disaung ketika hujan dan berlari ke pantai ketika hujan sedikit reda. It was fun!


Oh iya, selain agenda memantai, ada juga agenda ngemoll karena nenek nya Kirania bosan dirumah dan pengen jalan-jalan ke kota. Akhirnya kami menghabiskan waktu di TimeZone. Sesuatu yang akhirnya kami pikir ulang karena Kirania terlalu menikmati permainan-permainan yang ada disana hingga ingin lagi dan lagi. :-p

Selamat menyongsong tahun baru untuk semuanya, mudah-mudahan apa yang direncanakan di tahun 2014 tercapai sesuai harapan, dan juga mudah-mudahan kita semua diberikan berkah dan nikmat Tuhan di tahun 2015.


Thursday, November 20, 2014

I Want to Go to Cambridge

Once upon a time (kesan nya tua sekali ya)... Kirania mendapatkan oleh-oleh dari Budhe Dessy yang di belinya di Cambridge. So sweeeettt... Thank you so much budhe...

Oleh-olehnya berupa kaos lengan panjang pake kupluk gitu. Yang paling membuatku senang adalah tulisan yang ada di kaos itu. Disitu tertulis "When I grow up, I want to go to Cambridge".

Kaos itu sebetulnya ukuran 3, dibeli waktu Kirania masih berumur sekian bulan. Dan baru pas dibadan Kirania sekarang ini. Alhamdulillah... Mengurangi jatah beli baju bulan ini :-)

Kembali ke tulisan tentang Cambridge. Duuuh, setiap kali melirik Kirania dan membaca tulisan itu, aku langsung mengucapkan Aamiin banyak2. Mudah2an tulisan yang merupakan doa itu, bisa di kabulkan oleh-Nya. Aamiin lagi.

Aim high dear Kirania... Cambridge, Oxford, Mayo clinic, MIT, UI, IPB, UGM, ISI, Akbid, Home Sweet Home, kemanapun atau dimanapun kamu nantinya, We will always there to catch you... :-)

"When I Grow Up, I Want to Go to Cambridge" T-shirt

Kata orang kan kalau berdoa harus spesifik, agar Tuhan tidak bingung mengabulkannya. Dan agar kita fokus juga mengejarnya. Meskipun masih jauh, tapi tidak ada salahnya di Bismillah-kan sekarang, di Aamiin kan setiap hari, agar di kabulkan pada saatnya nanti. Aamiin lagi :-)

Oh iya, info yang nggak penting banget. Sekarang kami sudah resmi menjadi warga Kota Bogor pemirsa. Soooo whatttt??? Nothing :-p

Monday, November 17, 2014

Sentuhan Maut dari Seorang Ibu

I only kid who playing as a kids....
Hari ini anakku manis sekali. Dia mau main sama tetehnya di garasi. Biasanya, dia maunya sama ibunya saja. Sepertinya dia sudah semakin akrab dan percaya pada tetehnya yang kesekian ini. Cerita panjang seputar per teteh-an. Kisah Klasik Untuk Ujian Iman katanya... :-p

Tak berapa lama anak ku main di garasi, terdengar tangisan tersedu2 anak kecil. Penasaran emak2 ini keluar, mengintiplah aku di jendela. Kubuat lubang dari sisi gorden sekecil2 nya agar tidak nampak oleh pihak yang di intip. Rupanya, tetangga depan. Anaknya yang laki2 menangis tersedu2 duduk dikursi teras, ibunya menghampiri dengan memunggungiku. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan melancarkan aksi cubitan ke anaknya yang sedang menangis. Bertubi2 hingga anakknya nampak kesakitan sekali. Duuuhh....

Entah karena aku sudah punya anak sendiri, atau entah karena aku jadi ingat masa2 itu. Masa ketika ibuku juga sering melancarkan aksi cubit2an. Cubit2an itu judulnya, agar terdengar sedikit manis. Karena pada kenyataannya, ada saja bekas biru yang tertinggal, dan rasa memarnya bertahan sampai cubitan selanjutnya datang. hehehee... Bukan untuk menjelek2an ibuku, karena memang seribu satu alasan beliau melakukannya. Sebagai pelajaran untukku, agar mengambil yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Itu saja :-)

Kembali kepada perasaanku melihat cubit2an itu. Hatiku tiba2 terasa... sriiittt...sriiittt... (sulit menggambarkan hati yang tersayat2). Karena tak tega, akupun keluar. Dalihnya sih bermain dengan anakku sendiri. Sambil hasil sampingannya adalah menghibur si anak yang menangis. Anak yang menangis itu akhirnya digendong oleh ibu2 yang biasa mengasuhnya, sambil terus menangis dan bilang sakit, memegangi pahanya... 

"Cup...cup... kakak... Jangan menangis... main sini aja... " Kataku membahasakan anakku. 

Si anak masih menangis, dan akhirnya di ajak kewarung untuk jajan. Sedih sekali rasanya.... 

Cubit2an adalah salah satu hal yang masuk dalam daftar hitamku. Daftar yang harus di hindari, dijauhi, dan jangan sampai dilakukan. Naudzubillah... 

Mudah2an, dalam perjalananku membantu, menemani, dan mendukung anak2ku tumbuh, tidak ada yang namanya cubit2 lebam dikamus anakku. Aamin...

Bagi anak kecil, yang terlahir tanpa bisa memilih, tanpa bisa mengajukan syarat, dan tanpa bisa menolak, mereka akan merasa bingung dan bertanya2, kenapa gerangan ibunya mencubitinya? Apa yang sudah kulakukan? Aku kan hanya bermain, dan beraktivitas layaknya anak kecil pada umumnya? *mungkin begitu perasaan mereka. 

Lesson Learn :
"Take the good, leave the bad"

Thursday, June 26, 2014

Anakku dan Ayahnya

I Love You Daddy!
Kalau kalian masih ingat dulu ada seorang anak yang membuat puisi tentang ibunya dan facebook? Kurang lebih begini bunyinya: "Ibuku dan facebook... Hubungannya, eraaat sekali..."

Nah, begitu juga aku. Ingin membuat puisi yang dipersembahkan pada Anak dan Suamiku. Mungkin bunyinya jadi begini *nyontek yaaa*

Anakku dan Ayahnya
Hubungannya errraaaatttt sekali...

Setiap Ayah nya ada, maka aku laksana tiada
Setiap Ayah nya ada, maka aku tak laku pula untuknya

Setiap pagi Anak ku membuka matanya,
Maka suara merdunya selalu berbunyi "Ayyyaaahhh...."

Setiap saat mendengar motor berbunyi,
Maka dengan semangatnya dia merangkak kepintu sambil meneriakkan yel2 "Ayyyaaahhhh"

Itulah dia... Anak ku...
Dan itu lah dia.... Suamiku...

******

Tidak penting sama sekali bukan? hehehe
Namanya juga sedang melatih kembali kemampuan menyusun kata demi kata. Jadi tidak mengapa jika tidak indah dan tidak penting. Karena pasangannya (indah dan penting) akan segera datang... Upsss.... Pasangan lagi... hehehhee...

Selamat Malam Jum'at bagi yang merayakan... :-)

Tuesday, June 24, 2014

Melepaskan Dengan Benar

Melepaskan sesuatu itu bukan dengan berontak, marah, meronta, sebal. Karena kalau begitu, namanya bukan melepaskan...

Melepaskan itu juga bukan dengan penolakan (dalam hati), tidak terima, mengeluh, kecewa. Karena kalau begitu, lagi2 namanya bukan melepaskan...

Melepaskan itu persis seperti penerimaan. Kayak kita tiba2 dikasih uang 1 milyar, bukankah kita terima dengan senang hati?

Demikianlah.

Let it go freely. Picture taken from here
Hari ini aku mengutip beberapa kalimat dari sebuah postingan Darwis Tere Liye di Faceb**k. Belakangan ini, aku senang sekali mengikuti postingan2 -nya di FB, baik yang lama maupun yang baru. Dari situ, muncul keinginan untuk membeli dan membaca bukunya.... Stop sampai disitu!!! Selesaikan dulu I am Malala, baru beli buku baru...!!! *Kata kepalaku :-p

Begitulah... Aku sangat setuju dengan isi dari tulisan Tere Liye yang ini, dan mulai mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari2. Sulit, tapi tidak berarti mustahil. Berat tapi bisa dicoba sedikit2. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selama kita mau mencoba bukan? :-)

Kenapa aku tertarik dengan kalimat Tere Liye ini?
Aku akan menyebut kalimat2 diatas dengan singkat melalui "Melepaskan dengan benar". Melepaskan dengan benar yang berarti benar2 melepaskan, dengan cara yang benar, dengan perasaan yang benar, dan dengan kesadaran yang benar. Karena menurutku, ketika kita bisa melepaskan sesuatu dengan benar, maka kita tidak akan merasa teramat sangat kehilangan. Merasa kehilangan, sedih, kosong, ada yang hilang, ada yang tidak biasa, dan lain2 itu wajar dan boleh saja. Yang tidak boleh adalah ketika semua menjadi berlebihan dan tak terkendali.

Aku? Pernahkah tidak terkendali? Wow... Sering...!
Tapi itu dulu... Skarang, aku mencoba mengurangi dan menjadi lebih baik dalam mengatasi emosi sehingga tidak semua hal aku tanggapi dengan berlebihan. Mungkin inilah salah satu bagian dari tumbuh menjadi dewasa. Mudah2an saja, dan mudah2an juga semakin dan semakin baik.

Dulu sekali, sebutlah ketika masih di tingkat SD.
Ketika aku merasa kecewa karena kehilangan predikat terpintar alias ranking 1. Aku sangat... sangat... sangat kecewa. Aku tidak pernah merasa sekecewa itu karena Ranking 1 adalah predikatKU. Dari kelas 1 hingga kelas 5 itu. Hingga akhirnya di Kelas 5 system pemberian ranking diubah dan setiap orang berhak mendapatkan ranking 1-10. Maka ranking diberikan dengan tanda koma (,) mengikuti dibelakanganya. Dan muncullah satu teman sekelasku yang menyaingi posisiku. Aku di Ranking 1.1 dan dia dirangking 1.2. Tetap saja, aku merasa sangat...sangat...sangat kecewa..!!!

Akupun pulang dengan menundukkan kepala dalam2, langsung tidur, galau, tidak nafsu makan dan main. Hampa gitu deeh... Semua penghiburan oleh teman dan keluargaku tidak mempan. Aku merasa lalai dan kurang maksimal dalam mengerjakan ujian (karena memang waktu SD aku sama sekali tidak suka belajar khusus). Itu dulu...

Atau ketika ditingkat SMU.
Ketika aku berada dititik brutal sebagai anak perempuan. Selalu membangkang dan melawan kehendak orang tua (esp: Bapak). Merasa bahwa dunia ini tidak adil dan merasa bahwa aku adalah anak paling malang sedunia. Menangis berhari2 sambil menyibukkan diri membaca text book dan mengerjakan LKS, nangis lagi, begitu seterusnya setiap hari sampai beberapa bulan. Yang sampai sekarang kalau aku pikir2 lagi masih kurang tau apa masalah pastinya. Itu juga dulu...

Sekarang? Tidak boleh begitu lagi...
Sudah punya suami, sudah punya sebutan istri, sudah punya anak, dan disebut ibu. Harus berbeda dengan yang dulu2. Kalau kecewa terhadap diri sendiri? Cukup baca2 berita di internet dan jejaring sosial, kepo sana sini, hingga kemudian menemukan penghiburan dari update status orang atau berita yang kadang suka lucu, lebay, dan menyadarkan bahwa kita jauh lebih beruntung dari mereka. Kalau kecewa dengan pasangan? Tinggal ajakin aja perang bantal bak buk bak buk sampai puas, dijamin tidak ada yang terluka, dan beban hilang semuanya. Kecewa sama lingkungan? halah... namanya hidup itu tidak ada yang sempurna. Jadi terima aja sambil tersenyum, diobrolkan sama suami sambil minum kopi dan nonton tipi. Indah kan? ;-p

Masih banyak yang perlu dipelajari agar bisa melepaskan sesuatu dengan benar. Karena sebagai manusia, terkadang kita memiliki sense of belonging yang sangat tinggi sekali. Sesuatu yang bukan milik kita saja terkadang kita balik namakan menjadi milik kita (jadi ingat beberapa baju semasa kuliah. hehehe), hadiah yang sebetulnya tidak dapatpun tidak apa2 juga terkadang kita paksakan menjadi milik kita, apalagi sesuatu yang memang sudah/pernah menjadi milik kita. Pasti akan sangaaaaaattt beerrrraaaaatttt melepasnya.

Tapi seperti yang sudah sering aku katakan.... Di Bismillah kan saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur semuanya... Kalau kata suaminya temenku beberapa waktu lalu kurang lebih adalah "Dulu kita pernah bahagia, sekarang ini saya lebih bahagia, dan yakinlah bahwa nanti kita akan lebih bahagia lagi...". Well said Pak!

Jadi, Nothing to lose lah yaaa :-)

Friday, June 20, 2014

Pasangan Kehidupan

"Dan setiap hal di dunia ini, tidak diciptakan sendirian oleh Tuhan. Seperti Laki2 yang dipasangkan dengan Perempuan, Siang dipasangkan dengan Malam, Senang dipasangkan dengan Susah, Hitam dipasangkan dengan Putih, Atas dipasangkan dengan Bawah... Maka tidaklah perlu terlalu bahagia atau terlalu khawatir akan satu hal, karena pasangannya akan segera tiba... #SubhanallahTeteh ~ Selamat siang menyambut malam temans ~  — feeling Nothing. "

Picture taken from here
Seperti biasa, selalu ada udah dibalik tahu :-p
Belakangan ini, entah kemana si semangadh bermain2. Sepertinya dia sedang menemukan tempat bermain yang sedikit jauh dari jangkauanku, sehingga aku seolah kehilangannya. cieee...cieee.... ~_~

Berbicara tentang semangadh, rupanya gampang2 susah untuk menumbuhkan dan memeliharanya ya. Namun aku melihatnya sebagai hal yang wajar2 saja. Bukan sesuatu yang istimewa. Buktinya hari ini. Aku berbincang dengan teman yang sedang berburu dan mencari semangadh juga. Akhirnya kamipun saling memberi semangadh satusama lain, hingga si semangadh tumbuh lagi di diri kami masing2. Tinggal bagaimana kami sebagai orang tua asuh si semangadh ini bisa menjaga dan merawatnya atau tidak. Dan seperti orang2 yang bekerja di perusahaan diluar sana, kamipun memasang target dan tenggat waktu. Bukan kenapa2, hanya untuk sedikit memotivasi dan mengukur seberapa konsisten kami dalam menjaga amanat si semangadh ini. September 2014 it is.... :-)

Aku yakin, permasalahan mengenai semangadh ini bukan hanya terjadi pada beberapa orang. Menurutku >90% manusia didunia ini pasti pernah merasakan yang namanya kehilangan semangadh. Yang berbeda adalah: 1) Pemicunya; 2) Derajat kehampaan karena hilangnya si semangadh ini; 3) Berapa lama waktu antara hilang hingga menemukan/menumbuhkan kembali si semangadh ini; 4) Bagaimana cara masing2 individu menyikapi kehilangan ini; dan 5) Bagaimana cara masing2 individu menemukan atau menghidupkan kembali bara api semangadh didirinya. Mungkin masih ada lagi yang lain, tapi baru 5 itu yang untuk saat ini in the top of my head...

Dan tak lupa, satu lagi semboyanku yang selama ini kupakai sebagai booster semangadh musti diteriakkan ke alam semesta, agar semesta ikut mendukung semua niat dan rencana kami. Mestakung gitu lho... Apa itu? "Di Bismillah kan saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur semuanya... Aamiin... "

Hilangnya semangadh ini adalah salah satu proses datangnya semangadh yang baru... Karena semua selalu ada pasangannya... ^_^

Sunday, June 15, 2014

Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau

Ini bukan seperti yang biasa kita kenal. Ketika biasanya kita lebih mengenal kalimat "Rumput tetangga lebih hijau" sebagai pepatah, maka disini kalimat ini berarti secara gamblang. Benar2 berarti bahwa rumput tetangga lebih hijau. :-)

Horeee.... Asyik sekali bermain di rumput Ayah... ! 
Suatu sore di Hari Minggu, seperti biasa Aku, Kirania dan Ayahnya berjalan2 mengisi waktu. Sekalian bertemu dengan orang yang akan memasang teralis di rumah kami. Namun sayang, karena terjadi miss communication, maka pemasangan teralis ditunda. Dan kamipun bertandang ke rumah Tante Sita yang persis dibelakang rumah kami. Halaman kamipun bergandengan... :-)

Saat itu Tante Sita sedang khusyuk memilah dan memilih batang sereh dihalamannya. Mendekatlah aku dan Kirania kepadanya. Akhirnya aku dan Mbak Sita bercengkerama sedangkan Kirania asyik sendiri merangkak kesana dan kesini dihalaman rumput yang sudah hijau rata dan penuh.

Skalian saja kita bilang ke Tante Sita "Nanti boleh ya tante kalau kita sering2 main kesini... Kirania nya seneng banget tuh kayaknya merangkak sana sini dirumput tante yang sudah hijau penuh. hehehehe... Selagi nunggu punya kita jadi bagus juga...." :-p

Begitulah... Waktu berlalu dengan cepat ketika digunakan untuk bercengkerama. Rasanya paduan yang cukup menggambambarkan kegembiraan dan kemerdekaan. Sore redup dengan angin semilir, duduk2 di rerumputan, memandangi anak yang ceria dan berbahagia merangkak kesana kesini, dan ayahnya yang memandangi kami dari kejauhan. Sekilas lalu kami berpandangan mata dan tersenyum simpul. Sama2 mengetahui dengan pasti apa yang terucap di hati... "Alhamdulillah..." Kata kami...


Cukup lelah setelah hilir mudik
Mudah2an tak berapa lama lagi, kami bisa merasakan kebahagiaan yang lebih lagi, ketika area main Kirania sudah bergeser ke rumput sebelah. Yang artinya, kami bisa melihat dia tumbuh besar, baik, bahagia, dan sesuai dengan apa yang dia mau di atas segala usaha Ayah dan Bundanya. Aamiin... Counting down the day dear... :-)

Saturday, June 14, 2014

Kirania Goes To The Jungle

Horray... !!!
Akhirnya kesampaian juga mengajak Kirania renang di The Jungle... :-)





Sebetulnya berenang ke The Jungle adalah hal yang aku sukai. Karena banyak Ban yang bisa dipakai disana. Tau maksudnya kan? Itu adalah kode untuk aku yang tidak bisa berenang ini. hehehee

Mengajak Kirania berenang di The Jungle? Hmmm... itu cerita lain. Tapi sama2 hal yang pengen banget aku lakukan. Masih ada hubungannya juga dengan ban. Karena dengan ban2 itu, aku bisa mengajak dia berputar berputar kolam mengikuti arus... Senaaang sekali rasanya.

Happy to be here... ! :-)
Sewaktu hamil, sayangnya tidak kesampaian berenang disana. Padahal udah pengen pake buanget. Tapi bapaknya anak2 kurang menyukai ideku untuk berenang disana, karena dia mencium aroma2 narsis yang kental sekali dibalik niat itu. Hahaha... He know me soooo well memang... Waktu itu memang niatanku pengen banyak photo2 gitu sambil naik ban... huhuhu. Jadilah kami langganan Kolam Renang Tirta di Balebak dekat kampus sana ketika itu. Say thanks to Kelang and Mbenks_ki yang selalu setia menemani ibu hamil yang bisanya cuma mlipir pinggir ini waktu itu. hwekekekke.  

Akhirnya kesempatan dan momentum nya ada untuk kami pergi ke The Jungle. Jadi ceritanya, Hari Minggu nanti tetehnya Kirania yang ke-3 (Pertama: Bi Lina (out), Kedua: Teh Nisa (out)) yang namanya Teh Ati mau pulang kampung karena segera menikah di minggu berikutnya. Teh Ati ini adalah tetehnya Kirania yang cukup super. Dia cukup sigap, cermat, kreatif, dan mumpuni dalam mengurus rumah dan juga mengasuh Kirania. Kelemahan dia menurutku hanya suka melamun sambil bekerja, dan kadang terlalu kreatif untuk mengeyel. Tapi kadang justru membuat bincang2 kami menarik tiap hari. Sebetulnya, kalau dia masih mau bertahan, aku akan dengan senang hati sekali memiliki dia untuk membantu kami mengurus rumah dan mengasuh Kirania. Namun apadaya... Niat tulus seorang lelaki untuk mempersuntingnya berhasil meluluhlantakkan hatinya. Namanya niat baik kan nggak bisa ditolak ya... Jadi, ketika dia sudah menyatakan bahwa si lelaki sudah datang melamar secara resmi dan tanggal pernikahan telah ditetapkan, maka aku hanya bisa berpesan seperti ini: "Baiklah teh... Namanya menikah kan tujuannya memang baik. Jadi didukung dan didoakan agar rencana lancar ya... Tapi kalau2 nanti ternyata gimana2 dan nggak jadi nikah, tetep disini aja yaa....". hahahhaa... Tetep... namanya juga usaha. :-p

Umi, Teh Nur, Bunda, Teh Ati, & Me
Tapi apadaya... Cinta sudah terlalu kuat, dan jadilah mereka menikah. Maka pada hari ini, kamipun mengadakan acara perpisahan kecil2an ke The Jungle. Niatnya sih agar pertemuan kami yang singkat dan berawal dengan baik ini bisa menjadi cerita indah nya si teteh yang bisa dikenang. Niat keduanya ya itu... Membawa Kirania berenang ke The Jungle...! hehehehe

Kami tiba di The Jungle sudah cukup sore. Hari Jum'at, dan sore hari. Ternyata The Jungle tetap saja penuh ramai. Rupanya liburan anak2 dari luar kota yang berombongan dengan menggunakan Bis2 itu yang membuah keriaan di sana. Wow... Ditambah lagi dengan Kirania yang tidur pulas dari sejak di mobil, menambah gundah hatiku. Ya sudah... Ayah, Teteh Ati dan Teteh Nur (Teteh ke - 4 Kirania, cerita menyusul) saya yang berenang... Aku, Kirania, dan Umi nya Kiran (ibu mertua eyke) jaga kandang alias jaga tas2 dan bekal saja. Rupanya si Teteh Ati sudah sangat kegirangan. Jadi begitu bilang "Bun, aku renang ya..." aku jawab dengan "Iya...", dia langsung melesat nyegur di busa2 itu, tidak peduli lagi dengan tas, baju, dan kami yang ngakak2 melihatnya... :-p

Oh iya, tentang Teteh No.4 nya Kirania.... Namanya Teh Nur. Mirip dengan namanya Teh Ati. Teh Ati nama lengkapnya Siti Nurhayati. Teh Nur nama lengkapnya Nurhayati. Untung Teteh No.2 namanya bukan Nisa Nurhayati, dan Bibi No.1 bukan Lina Nurhayati. hahaha. Nurhayati fans club nanti jadinya.

Si Teh Nur ini adalah hasil dari operasi militer yang dilancarkan sesaat setelah pengumuman lamarannya Teh Ati di terima. Operasi diluncurkan di Yogyakarta - Klaten dan Banten. Semua pihak dikerahkan untuk mencari penggantinya Teh Ati ini. Entah kenapa, pencarian berhasil nihil. Semua mengirimkan kabar duka yang mengatakan bahwa operasi gagal. Mereka tidak menemukan satupun orang yang mau bekerja menjaga anak kecil alias mengasuh. Sedihnya hatiku kala itu. Mulailah diskusi, bincang2, debat kusir, tukar pendapat, perang bantal, dan kontemplasi antara Ayahnya Kirania dan Aku.

Oh Bunda.... Have you notice my expression? :-p
Kami sama2 tau dan paham bahwa Kirania bukanlah sebuah pilihan. Jika ada pengasuh, itu adalah bonus yang bisa kami nikmati. Namun jika tidak, kami tidak boleh membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk mengatasi ketidaadaan pengasuh ini. Mendatangkan Nanny 911 alias salah satu dari Ibu kami tidak kami jadikan pilihan, karena itu berarti kami harus memisahkan dua orang tua yang sudah memiliki rytme hidup diusia senja mereka. Kami berpikir bahwa biarkan mereka menjalani masa tua mereka dengan tenang dan damai, dan menjenguk cucu adalah hiburan. Bukan beban dan pekerjaan. Maka, diskusi mengarah pada haruskah ada yang meninggalkan pekerjaan atau tidak. Meskipun jika menengok ke arah daftar pengeluaran bulanan, mata kami akan menjadi sayu dan lidah menjadi kelu... :-(

Rupanya, pasukan yang ditugaskan untuk beroperasi mencari bantuan masih bekerja. Namun lagi2 yang dari Jogja hanya bisa mendukung dengan doa dan berkata "Jogja - Klaten wes tak susuri tak goleki nanging tetep durung ketemu nduk... Waduh, iki aku karo ibumu malah melu sedih karo kepikiran terus nek nganti kowe ora entuk sik momong Gendhuk Kirania... Nek nganti kudu eneng sik ora kerjo, malah mesakke... Tak dongakke mugo2 simbah Banten iso oleh yo nduk..." Nggih mbaaaahhh.... :-)

Sementara si Teh Ati dengan kalimat jitunya menyemangati dan mendoakan (to make her feels lil better juga sih kayaknya. hehehe), "Tenang aja bun... Insya Allah dapet pengganti yang lebih baik dari Ati... Bunda sama A Yudi kan orang baik... Insya Allah ketemu sama yang baik juga....". Jadi seperti biasa, kami pasrah dan menjalani semua dengan santai... "Di Bismillah kan saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur...~ Wilis 2013" :-p

Dan Puji Syukur yang tiada terkira kami panjatkan pada Tuhan kami Allah SWT, yang selalu memberikan rahmat nya sesuai dengan yang kami perlukan disaat yang tepat. Berita bahwa mbah Banten nya Kirania berhasil menemukan Teh Nur adalah salah satu berita yang membahagiakan kami. Alhamdulillahirobil'alamin...

Dan 3 hari sebelum Teh Ati mudik, akhirnya Umi mengantarkan Teh Nur ke rumah. 3 hari dia ditraining oleh Teh Ati dan Umi. Mudah2an cocok dan jodoh dengan kami, dan Teh Nur betah dan bahagia bersama kami untuk waktu yang panjang. Aamiin. :-)

I feel safe with my Dad ! ^_^
Kembali lagi ke The Jungle dan Kirania. Setelah Ayah, dan kedua tetehnya nyegur ke air dan berputar2 atau berperosot2 ria, akhirnya Kirania pun bangun dengan senyum mahalnya. Segera saja aku ganti baju tempurnya. Smangadh...Smangadh... dan Byurr.... Akupun nyegur... Di susul dengan menggendong Kirania... Seperti biasa, takut, ragu, curiga, sedikit ehek2 mengiringi uji coba Kirania masuk ke air. Namun aku sudah tau jurus meluluhkan Kirania. Dengan menjadi PD terlebih dulu. Dia pun manut katut sama aku. Kamipun naik ban dan berputar mengikuti arus sambil didorong dan diarahkan agar ke tempat yang tidak terguyur air pancuran. Ketika dibawah jembatan dimana semua jalannya adalah pancuran, Kirania pun ber ehek2 karena kaget terkena pancuran air. Diapun di gendong Ayah melipir ke pinggir dan bermain di area yang dangkal.

Selesai bermain2 air dangkal, kamipun iseng melihat2 ke area burung. Ternyata, dari kali terakhir Aku dan mantan pacarku itu datang ke The Jungle, sudah banyak sekali jenis dan jumlah burung bertambah. Ada burung Cendrawasih juga lho... WOW. Bahkan sekarang ada pertunjukan/atraksi burung pula. Kirania sangat terpukau dengan atraksi burung nya. Dia sibuk memperhatikan burung, sedangkan emaknya sibuk minta diphoto2. :-p

Ada kejadian unik yang terjadi ketika kami bersiap pulang. Disaat kami sedang menghabiskan kopi dan mie yang kami pesan diwarung, ada sepasang Bapak dan Ibu Arab (mungkin Akhi dan Ukhti? :-) ) yang berjalan melalui kami, namun langsung berhenti didekat kami. Tiba2 dia mengucapkan sesuatu yang sama sekali kami tidak mengerti. Hanya 1 kalimat yang kami mengerti yaitu"Mosleem? Mosleem?" Setelah kami semua berpandangan sesaat, dengan PD nya aku menjawab "Yes, we are. Can I help you?" Si ibu nya menjawab dengan bahasa Arab lagi. "Waduh... mati deh gw... Jangan2 gw dikata2in pake Bahasa Arab yak..." Sisi buruk didalam hati usil berkata.

Sorry Dad, i am more interested with the bird... ;-p

Mungkin karena mereka melihat kebingungan kami, diapun langsung bertindak menyampaikan maksudnya. Dia merogoh kedalam tas tentengnya dan mengeluarkan seplastik Kurma. Hahahaha... Rupanya dia melihat mertua ku yang berkerudung, dan karena kami adalah Muslim, dia mau memberi kami Kurma Arab nya... Langsung saja aku sambung kembali ucapanku dengan "Syukron... Syukron..." Dan akhirnya mereka pun tertawa karena paham apa yang kami maksud. Kamipun tertawa karena paham apa mau mereka... Syukron yaa ukhti... Kurma nya enaaaaakkk sekali... Berbeda dengan yang biasa kami beli :-)

Till we meet again Teh Ati
Setelah warung2 tutup, kamipun beranjak keluar dari arena berenang. Melihat2 jualan orang2 diarea lobby, dan melihat keriaan yang ada didepan The Jungle. Setelah diskusi sebentar mengenai posisi menunggu jemputan yang enak, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki sebentar ke arah Orchad, dimana banyak sekali warung2 dan tempat makan dipinggir jalannya. Ikut nongkrong kami sambil bercengkerama, mengucap salam perpisahan, memperhatikan lalu lalang dan hiruk pikuk BNR, minum jus, teh hangat, dan juga makan Sate Padang. Sebuah perpisahan yang cukup berkesan untuk pertemuan yang singkat. Terima kasih banyak ya Teh Ati... Sudah memberikan sepenggal cerita untuk kami. Mudah2an acaranya lancar, dan menjadi keluarga samara bagahia sampai akhir hayat. Ingat obrolan2 mengenai pernikahan yang selama ini kita bicarakan disela2 Kirania tidur yaa...


Dan ingat juga kata Bos ku yang pernah kukatakan padamua:
"Rumah Tangga itu memang complicated, Kalau Sederhana itu Rumah Makan Padang" :-p

OK... I love selfie with my Mom :-p

Thursday, June 5, 2014

Jika Dunia Adalah Film, Mungkin Baby Boom Adalah yang Paling Dekat

Seperti judul yang aku tuliskan di atas "Jika Dunia Adalah Film, Mungkin Baby Boom Adalah yang Paling Dekat". Begitulah yang sedang terjadi....

Baby Boom


Tidak ingin menulis panjang lebar atau menjelaskan ini itu kenapa, mengapa, dan bagaimana bisa, aku hanya akan merekomendasikan kalian untuk menonton film itu. Trailer nya ada disini.

Atau, membaca resensinya di Wiki juga bisa saja. Bisa dibuka disini

Satu hal yang kemudian datang mengganjal, apakah kemudian akhirnya akan sama, berbeda, atau sedikit sama sedikit berbeda? Entahlah... Sedang difikirkan dengan keras beberapa waktu belakangan ini...

Saturday, January 25, 2014

Lawalata, Aku, dan Kalian

Hooaaaahhmmm....
Hari ini kami mengajak Kirania jalan2 ke Lawalata IPB. Tempat dimana semua cerita kami dimulai. Tempat dimana Tuhan memulai garis yang kemudian kami titi sejauh ini. Tempat dimana kisah2 datang dan pergi silih berganti. Lawalata IPB, means a lot to us. Ya... To Me, Him, and now to Her as well... :-)

It's too... Need to be rotate Bunda...! :-p
 Kami bertemu dengan Choki. Choki si anjing bodoh yang setia. Seperti yang ada di ceritaku semasa hamil, Choki ini juga bagian dari kisah kami. Dia merupakan teman setiaku meniti jalanan kampus setiap kali aku berjalan2 untuk olah raga dengan membawa perut yang cukup besar.

Iya betul... Ketika aku masih hamil Kirania, hampir setiap seminggu sekali aku berjalan2 memutari kampus IPB. Dan setiap aku berjalan2, Choki selalu ikut dan setia mendampingi. Melihatku datang dan bersiap jalan, dia pasti langsung mendekat dan menungguku siap. Terkadang dia menyusulku ketika aku sudah mulai berjalan terlebih dulu tanpanya.

Sepanjang jalan Aku dan Suami pasti tertawa terbahak2 melihat tingkah Choki. Dia seolah hendak mengatakan pada dunia bahwa dia adalah anjing yang paling berkuasa disitu. Sehingga setiap pohon, tiang listrik, dan patok2 yang ada selalu dia kencingi. Hahaha... Choki... Choki...

Bunda Gaptek iih... Nggak bisa rotate picture :-(
Choki ini juga terkadang lebih rajin menemaniku jalan2 daripada Suami. Kadang kalau suami sedang malas, dia lebih pengen nongkrong di warung, ngopi sambil ngobrol dengan teman2, maka Aku dan Choki akan tetap melaju berjalan2. Terima kasih banyak Choki...

Terus banyak juga kejadian lucu kalau kami sedang berjalan2 dengan Choki ini. Yaitu kalau ketemu orang2 yang ternyata takut dengan anjing. Hahahaha... Kocak sekali pokoknya. Banyak orang2 yang akhirnya lari tunggang langgang dan nyungsep2 ke pepohonan karena takut terhadap Choki. Suatu waktu, ada rombongan mahasiswa berjalan, dan mendadak mereka melihat Choki, spontan mereka terlonjak. Beberapa berlari menjauh, beberapa terjengkang, beberapa ngacir tanpa menengok lagi. Maaf ya temans... Bukan maksud menakuti kalian. Choki anjing baik dan jinak koq... kalau dia melihat kalian lari, dia akan mengejar kalian karena dia pikir kalian mengajaknya bercanda... :-)

Ketika akhirnya Kirania lahir, kami pertemukan kembali dengan Choki. Mungkin Choki masih mengenali kami ya... Hari ini dia anteng banget. Pengen main dengan Kirania... Mendekat, nyundul2, dan bertelekan didekat kami duduk. Duh, Choki... You're soooo sweeett... :-p

Kadang2, kasihan dan malang juga nasib si Choki ini. Dia sangat suka makan nasi putih dengan ikan kembung. Namun kadang tidak ada yang memberinya makan. Kadang juga dia tidak terurus. Tapi mau bagaimana lagi. Yang ada dikampus hanya para mahasiswa dan mahasiswi yang terkadang datang dan pergi, buru2 karena ada tugas, ujian, atau kolokium. Kadang juga kiriman uang dari orang tua tidak datang tepat waktu. Jadi ya nasibnya Choki untuk puasa sampai datang orang yang mau memberinya nasi dan ikan. Sabar ya Choki...
I like the sound of Nabati's :-p
Dan Kirania?
Hari ini sepertinya dia sangat2 menikmati perjalanan dan picnicnya di Lawalata. Dia bisa bersantai dibawah langit, melihat hijaunya pepohonan disekitar sekret, dan gulang-guling sesuka hatinya. Ini baru yang pertama nak... Masih banyak lagi kesempatan untuk menikmati Lawalata dan sekitarnya dimasa yang akan datang, karena kita akan sering bermain2 disini.

Kelak, aku akan ceritakan padamu semua hal tentang Lawalata, Aku, Ayahmu, dan Kamu. Semua berhubungan erat dan tak terpisahkan oleh waktu. Aku akan ceritakan juga mengenai indahnya dunia diluar sana, dan tantangan2 yang menyertai setiap keindahannya. Agar kamu tau, mengerti, dan tertarik untuk menjelajahinya dengan caramu sendiri.

Lawalata... Jaya!