Tuesday, January 12, 2021

Bisa Karena Kepepet, Lama-Lama Jadi Biasa

Kali ini saya hanya ingin berbagi hal kecil (tapi sangat besar untuk saya, Mas Bojo, dan K) yang terjadi minggu lalu. Tepatnya di Mall yang letaknya selangkah di depan perumahan kami. 

Jadi waktu itu, kami sedikit belanja karena ada beberapa kebutuhan yang harus kami beli. Setelah selesai dengan semua barang yang kami perlukan, kami berjalan ke kasir. K ingin membeli cokelat yang bungkusnya berwarna biru (atau ungu deh?) itu, yang mana sekarang diletakkan didalam kaca. Jadi harus menghubungi penjaganya untuk bisa mengambil. 

K: "Bunda, aku mau coklat yang biasa aku beli itu lho" Katanya

Saya: "Boleh, kamu bilang ke mbak nya, nanti diambilin sama mbaknya" Kata saya. 

K: "Bunda aja... Kan Bunda bisa..." 

Beberapa kali K meminta saya untuk mengambilkan, namun saya menolak dan memintanya untuk mencari mbak penjaga. Mas Bojo, seperti biasa. Tidak tahan dengan rengekan anaknya, terus mencoba berjalan ke arah coklat itu. 

Saya: "Ayah, no. Biar K minta ke mbak nya sendiri. Itu nggak bisa kita ambil langsung. Harus sama mbak nya" Kata saya. K marah mengetahui saya melarang ayahnya. 

K: "Bunda kenapa sih? Biasanya kan juga ayah yang ambilin aku. Kenapa sekarang dilarang?" 

Saya: "Karena sudah saatnya kamu belajar untuk berani mbak. You want it, you earn it"

Setelah itu, adegan K berputar-putar dari gang ke gang berjalan cukup lama. Saya sangat memahami perasaannya, dimana dia sangat menginginkan sesuatu, namun juga sangat malu dan tidak berani memanggil penjaganya. Dulu waktu kecil pun, saya seperti dia. Persis. Sering saya menginginkan sesuatu, namun saya terlalu malu untuk bertanya atau meminta. Sehingga jatuhnya hanyalah berupa rengekan, dan berbalas dengan cubitan manjah dari alm ibuk saya tercinta :-)

Saya ingin K lebih baik daripada saya. Dia yang memang termasuk anak yang sedikit pemalu itu, harus mencoba untuk mulai berani. Saya yakin jika sekali ini dia berhasil mengalahkan rasa malunya, kedepan dia tidak akan pernah malu atau takut lagi untuk melakukan hal yang sama. Level PD nya akan meningkat pesat, saya yakin sekali. 

Beberapa kali K kembali kepada saya dan Mas Bojo yang menunggu didekat kasir, namun saya tak bergeming. Ayahnya mulai tidak sabar, namun saya masih bisa meyakinkannya. K berputar-putar tak tentu arah selama beberapa lama lagi. Kami pura-pura tidak melihat. 

K: "Bunda, bunda aja yang bilang mbak nya..." Kata K kembali mendekat pada saya. 

Saya: "Kamu nggak terlalu mau coklat itu?" 

K: "Aku mau bangettt bunda..." 

Saya: "Kalau kamu mau banget, go find mbak nya, bilang kalau kamu mau beli coklat yang didalam kaca. Yuk. Bunda sudah mau bayar ini" Saya mengajak ayahnya berjalan mengantri di kasir. 

Saya dan Mas Bojo mulai mengantri di kasir, sedangkan K kembali lagi berputar-putar mengitari gang yang ada coklatnya. Ketika keranjang kami tepat berada didepan kasir, Mas Bojo mengerling ke arah rak coklat. Saya melirik sedikit dan melihat K bersama dengan mbak penjaga berjalan menuju rak coklat. Saya tersenyum. Saya tahu beberapa saat lagi K akan berlari ke arah kami dengan senyum yang sangat lebar, rasa bangga dan percaya diri yang membubung tinggi. Dan benar saja. 

Dia berlari mendekati kami dengan senyum penuh gigi lebar sekali. Saya memeluknya dan mengatakan bahwa saya sangat bangga menjadi bundanya.

Saya: "Coba lihat dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat pasti ya?" Tanya saya.

K: "Iya, aku deg-degan banget. Tapi aku bisa" Katanya.

Saya: "Tentu saja kamu bisa. Kamu kan hebat" 

Dan acara belanja sore itu, menjadi acara keluarga yang menyenangkan sekali. 

No comments: