Sunday, January 3, 2021

Happy New Year, 2021!

Selamat Tahun Baru 2021!!!

Meskipun tidak pas tahun berganti banget, tapi ndak masalah lah ya. Better late than never, ceunah. 

Tahun Baru, Semangadh Baru!!! <-- Adalah motto saya tahun ini. Diucapkan dengan menggebu-gebu, dari dalam hati, kalau perlu sambil muncrat. Biar lebih terasa gregetnya. 

Tahun ini, saya tidak banyak membuat resolusi. Tapi saya sangat-sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan saya dan keluarga saya kesehatan dan kesempatan untuk bisa sampai di tahun baru ini. Karena seperti yang kita tahu, bisa melewati Tahun 2020 dengan selamat dan tetap waras saja, sudah merupakan anugerah yang tak terhingga. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?

Tahun 2021 ini saya buka dengan sebuah semangadh untuk mengalahkan diri saya sendiri. Mengalahkan ketakutan, rasa malu, ego, tidak percaya diri, dan juga idealisme dalam diri ini. Hal ini saya ejawantahkan melalui kelahiran buku cerita (novel) saya melalui platform online, Wattpad. Ini adalah ejawantah dari perenungan yang cukup lama, dan tarik ulur. Saya akan menceritakan kisahnya dibawah ini. Mungkin alurnya maju mundur, loncat-loncat, atau mungkin kurang nyambung disana dan disini. Karena masih terlalu banyak rasa yang membuncah di dalam dada ini sampai saat ini. - Lebay

Kisah yang saya beri judul 'Mencari Pelangi di Ujung Senja" ini sebetulnya berawal dari cerita pendek saja. Kalau penulis sekelas Dee Lestari menyebutnya manuscript, saya hanya cukup PD dengan menyebutnya sebagai coret-coretan. Cerita pendek ini sudah sangat lama saya tuliskan, kalau tidak salah sekitar tahun 2008 atau 2009. Saya lupa tepatnya. Cerita pendek yang terinspirasi dari kisah hidup teman saya kala itu. Namun ceritanya berdiam di hard disk saja. 

Sampai tahun 2020 kemarin saya menunjukkannya pada salah seorang teman yang pekerjaannya adalah menulis. Sebut saja namanya E K A. Saya masih ingat saat itu teman saya ini bertanya setelah membaca "Cerita kamu ini, bisa banget dibikin panjang. Kayak masih banyak yang bisa terjadi gitu di balik cerita kamu ini. Coba aja panjangin" Katanya. Dan kebetulan saat itu Gramedia Pustaka Utama sedang membuka kompetisi penulisan novel. Entah bagaimana saya kemudian mengikutkan diri dalam kompetisi itu. Saat itu saya sedang mengambil Sabbatical dari pekerjaan selama 6 minggu. Dan di saat itu, entah bagaimana rasanya ide begitu mudahnya mengalir membersamai perjalanan Siwi menjadi pelangi selepas senja. Hingga akhirnya kisahnya berakhir dengan kata T A M A T yang sangat saya banggakan. 

Awalnya saya dan Eka berniat membedah satu persatu bab yang ada. Saya membedah cerita, dan Eka membedah dari sisi penulisan, EYD, dll. Namun karena dia sibuk, akhirnya saya main hajar bleh semua cerita yang ada dikepala saja. Saya sempat meminta sepupu saya yang berinisial V I F I dan juga teman saya yang berinisial U P I , untuk membaca buku saya. Saya ingin mendapatkan feedback dari orang-orang yang dekat dengan saya terlebih dahulu. Namun sepertinya mereka adalah member #PasukanHalu yang sangat militan, sehingga mereka memuji tulisan saya dan berkata bagus. Vifi bahkan dengan rajin menanyakan pada saya "terusannya mana?" blah. Oh iya, #PasukanHalu itu adalah julukan saya pada teman maupun saudara yang berkenan ikut sedikit halu membaca cerita saya. Member terakhir yang bergabung adalah suami saya, saat dia mau melakukan checking di bagian Bahasa Sunda. hahaha

Pada akhirnya novel saya tidak terpilih, beberapa teman saya lolos. Tapi buat saya, saya sudah lolos terlebih dahulu ketika akhirnya bisa benar-benar punya cerita panjang yang tamat. Aaahhh... Bahagianya itu rasanya teramat sangat manis. Terima kasih untuk Eka yang telah menemukan satu kalimat yang hilang dari saya, yang kemudian memantik semua ini hingga sekarang. Juga terima kasih untuk #PasukanHalu yang dengan kata-kata indah alias sweet lips nya mampu membuat saya semakin halu dan menyelesaikan cerita dengan percaya diri. :-p

Tergambar dipelupuk mata saya, novel saya akan bertengger manis di rak buku saya, dan juga rak buku teman-teman saya. Terbayang saya akan dengan semangat mengiklankan buku saya pada teman-teman melalui medsos, WA, ataupun japri satu-satu. 

Pertengahan tahun 2020 hingga awal tahun 2021 adalah saat-saat yang sangat unik. Pandemi membuat semua keadaan diluar kendali. Anak sekolah di rumah, suami bekerja dari rumah, membuat rytme hidup saya berubah sedemikian drastis. Dari situ juga, banyak pertumbuhan yang saya mungkin kurang sadari. 

Saya berniat untuk mengurangi buku di rak-rak dan box-box, baik yang sudah pernah dibaca, ataupun yang sepertinya tidak akan saya baca. Namun misi ini selalu gagal. Karena setiap saya menurunkan semua buku untuk di pilah, pada akhirnya hampir semua yang menurut saya menarik akan kembali lagi nangkring manis di rak itu. Diam menjadi pajangan, namun enggan untuk direlakan. 

Dua teman saya yang sudah berhasil melewati fase kegalauan memilah buku, justru menawarkan buku-bukunya yang sudah tak memiliki tempat baik dirumahnya maupun dihatinya. Dan saya seperti biasa, dengan senang hati menerimanya. Lah?

Dua hal ini membuat saya berfikir. Jika buku sekelas bukunya Dee Lestari sampai Nora Robert saja bisa orang relakan untuk diberikan ke orang, apakah buku saya yang baru belajar ini akan menjadi pilihan bagi orang untuk mempertahankan? Mempertahankan dalam artian untuk dibaca karena senang, bukan karena rasa tidak enak karena kami berteman. Saya sendiri selama ini sering membeli buku karena "wah, temen bikin buku. Ya udah gw beli juga lah", namun tak harus menunggu tahun berganti, buku-buku tersebut (jika genre nya bukan yang saya senangi) pasti sudah lenyap dari pandangan. 

Selain itu, pengalaman saya dalam memasarkan buku Antologi Cerita Saat Jeda yang ditulis oleh 27 orang alumni Kaizen Semut Merah, yang di Ampu oleh Dee Lestari, juga membuat saya berfikir. Menjual karya sendiri, terlebih lagi buku, ternyata tidak mudah. Saya pernah jumawa bahwa teman-teman saya banyak, dan rata-rata mereka senang membaca. Kalau aku nulis dan cetak buku, mereka pasti belilah. Kan teman. Ternyata Cerita Saat Jeda membuka mata saya, bahwa tidak semudah itu Jendral!

Semangadh menggebu saya sedikit surut, melihat kenyataan bahwa mengajak teman atau saudara untuk membeli buku kita, tak semudah mengajak mereka untuk ngopi atau nongkrong. Meskipun biayanya sama. Meskipun mereka yang kita tahu senang membaca, belum tentu mereka mau membeli buku kita. For whatever reason for sure. :-p

Akhir tahun 2020, karena situasi masih pandemi, pergerakan masih dibatasi, saya banyak menghabiskan waktu dengan melihat-lihat lagi coretan-coretan lama saya. Ternyata, saat saya melakukan itu, muncul pertanyaan di kepala saya. "Aku menulis, untuk mencari uang, dikenal orang atau karena hobby dan menyalurkan isi kepala yang sering jalan-jalan sendiri?". Pertanyaan ini datang berulang-ulang setiap saya menilik kembali coretan saya. 

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti arah keinginan saya. Yang tadinya ingin mencetak buku-buku saya dan menjualnya sendiri, akhirnya saya niatkan untuk melahirkannya melalui platform membaca online. Dan untuk yang pertama (dan sepertinya yang kedua juga) ini, saya menggunakan Wattpad sebagai wadahnya. Tapi saya tidak mengubur keinginan untuk bisa mencetaknya menjadi buku yang bisa dipegang dan dipajang di rak buku, hanya tidak sekarang. Mungkin saat saya sudah punya satu atau dua buku lainnya, saya bisa mencetaknya bersama-sama. 

Dengan melahirkannya melalui platform online ini, hanya mereka yang benar-benar ingin membaca cerita saya lah yang mungkin akan mengikuti kisahnya. Namun tak mengapa. Bukankah itu salah satu tujuan kita menulis? Untuk dibaca, bukan sekedar di pajang, atau bahkan berakhir di tukang loak. 

Dulu, setidaknya sampai dengan awal Tahun 2020, saya masih befikir "mungkin kita bisa mencari uang dari menulis?" Namun kondisi pandemi 2020 membuat saya banyak mengikuti cerita para penulis. Dan akhirnya legowo dengan kenyataan "Kalau belum sebagus Dee Lestari atau Jodi Picoult atau JK Rowling, sebaiknya menulis lebih karena hobby saja" haha. 

Perjalanan di atas, menentukan arah Tahun 2021 untuk saya. Selain meneruskan resolusi turun temurun ini, saya akan work my ass so hard dengan pekerjaan kantor saya sehingga saya tetap bisa mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan saya akan work my ass so hard juga untuk menggunakan waktu luang dengan lebih baik lagi. Mungkin menulis sebanyak-banyaknya, mungkin merajut sebanyak-banyaknya, mungkin belajar sebanyak-banyaknya. Apapun itu, membuat waktu berlalu dengan lebih berisi sehingga hidup kita lebih berarti. 

Selamat Datang 2021, Bring It On!

No comments: