Monday, May 25, 2020

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Untuk semua orang yang sedang berjuang membersamai waktu,
Untuk semua orang yang sedang berjuang untuk yang terkasih,
Untuk semua orang yang sedang berjuang untuk melanjutkan hidup,
Untuk semua orang yang sedang menjalani ketidakpastian...

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H,
Minal Aidin Wal Fa'idzin,
Mohon Maaf Lahir Dan Batin



Semoga ibadah kita selama Bulan Ramadhan, diterima oleh Allah SWT.
Semoga upaya kita untuk bertahan dalam ketidakpastian,
Dirahmati Allah SWT.
Sehingga kiranya ujian dan cobaan segera berlalu...
Dan kita semua bisa kembali berjalan dengan tegap,
Bisa menjalani kehidupan normal kembali...

Aamiin.

Manusia...

Adalah kumpulan dari daging, darah, dan cairan lainnya, yang ditopang oleh tulang belulang dan diikat oleh otot. Semuanya bisa membusuk dengan mudahnya ketika ditimbun dengan tanah dalam jangka waktu lama.

Ketika hidup, manusia bebas bergerak kemana saja, bebas berpikir apa saja, bebas melakukan apa saja, bebas merasakan apa saja.

Hanya ada akal, pikiran, dan hati nurani yang bisa membatasi semua pergerakan dan aktivitas itu. Namun, kadar penggunaan akal, pikiran, dan hati nurani itu sering nya berbeda-beda untuk masing-masing orang. Tidak mengapa, karena semua itu adalah bagian dari proses bertumbuhnya kita sebagai manusia. Banyak juga yang hingga akhir masanya didunia, manusia tidak menggunakan setiap karunia Allah SWT dengan maksimal. Banyak.

Mencoba menjadi lebih baik.
Itu adalah semboyan yang sangat baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berlomba dengan diri kita sendiri hari kemarin.

Bersinggungan, berselisih, bertengkar, ataupun kemudian saling membenci, adalah buah pikiran manusia yang terlalu banyak menggunakan hati, dan kurang menggunakan akal. Dingin, ansos, terlalu logis, dan lain-lain adalah buah dari kebanyakan akal kurang hati. Mungkin tidak ada manusia yang sempurna dalam menggunakan setiap karunia Tuhan YME, hanya manusia pilihan yang sempurna. Tapi tetaplah menjadi tugas kita selaku manusia yang hidup didunia, memiliki kewajiban untuk bersosialisasi antar manusia, dan berusaha memaksimalkan kegunaannya.

Ingin menjadi manusia seperti apa, itu adalah sepenuhnya hak kita untuk memilih dan menentukan. Tidak ada yang bisa mengatur atau memaksakan. Silakan saja, asal tidak saling merugikan. :-)

Mumpung masih Bulan Syawal, jikalau ada yang merasa pernah tersakiti oleh kami sekeluarga, mohon di maafkan lahir dan batin. Jika ada kesalah pahaman yang mungkin kami tidak sadari, monggo kita luruskan. Kami selalu dengan senang hati menerima kritikan dan saran serta nasihat dari semua orang. Karena dengan itu semua, kami bertumbuh ke dalam.

Wednesday, May 13, 2020

It's Gr8 Nala Day




Dari mulai mendaki gunung, lewati lembah,
Menyeberangi sungai dan lautan,
Sampai kondisi terkapar tak berdaya
Karena encok menggerogoti tulang belulang...
Hari ini hanyalah jeda dari setiap dinamika,
Sebagai pengingat, dan sebagai penanda...
Bahwa kita pernah sampai sini, sampai saat ini...
Esok dan seterusnya adalah bagian dari perjalanan panjang,
yang mau tak mau harus kita lewati...

Kita bisa sejauh ini, saat ini...
Sesuatu yang layak disyukuri
Kita bisa seperti sekarang ini...
Sesuatu sepantasnya kita syukuri.
Tuhan begitu baik pada kita
Masya Allah

Masih banyak esok hari
Masih banyak hari nanti
Masih banyak kisah yang tertulis untuk kita
Masih banyak percabangan yang harus kita putuskan

Selamat!
7 tahun ditambah 8 tahun sudah kita bisa saling membersamai
Selama itu pula pertahanan diri kita masing-masing bertumbuh
Selama itu pula imun kita satu sama lain meningkat
Selama itu pula penerimaan kita satu sama lain meluas

Terima kasih :-)


Friday, May 8, 2020

Kutitipkan Rinduku Pada Bulan, Sekali Lagi

Soh... Atau Suh...

Adakah yang pernah mengenal kata ini? Untuk orang-orang di Jawa sana, sepertinya tidak asing lagi ya. Namun untuk yang belum pernah mendengar kata ini, saya beritahu sedikit.

Suh Sapu Lidi

Soh atau ada yang menyebut Suh, adalah pengikat sapu lidi. Bayangkan, lidi adalah benda kecil panjang dan mudah patah. Jika dia sendirian, apalah yang bisa dilakukannya? Mungkin hanya sebatas untuk menusuk bungkusan dari daun pisang, atau menusuk sate, atau untuk mainan anak-anak (dulu saya suka pakai lidi untuk mencari jaring laba-laba guna menangkap capung. Terkadang juga untuk menjebak ayam dengan daun pisang dan jagung. Atau mainan yang lainnya). Tapi jika dia disatukan oleh sebuah tali, maka ratusan batang lidi akan dapat membersihkan seberapapun luasan area yang kita ingin. Juga dapat digunakan untuk menggebuk kasur atau sofa yang berdebu. Juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk, lalat, kecoa, cicak, atau segala jenis binatang yang kita tidak inginkan keberadaannya.

Kenapa saya menceritakan tentang Suh ini hari ini?

Karena saya sedang rindu... Saya rindu Ibu saya... Ibuk...

Mungkin karena efek PMS (Post Menstruation Syndrome) saya, entah juga mungkin karena efek fullmoon tadi malam, entah karena gabungan keduanya. Hari ini saya rindu sekali pada Ibuk.

Apa hubungannya antara Ibuk dengan Soh/Suh?

Saya dan kakak saya selalu menjadikan ini sebagai bahan obrolan ketika kami mengenang Ibuk. Menurut kami, Ibuk adalah sosok yang sangat penting dalam keluarga kami. Tak hanya keluarga kecil kami, namun keluarga besar baik dari kanan maupun kiri. Beliau adalah Soh/Suh kami semua. Keberadaan Ibuk membuat kami semua bisa bersatu, bisa berdekatan, dan bisa saling berbagi bersama tanpa ada rasa lain selain bahagia sebagai keluarga. Karena kami semua melihat Ibuk...

Sekarang Ibuk telah pergi... Mengikuti jalan ketenangan dan kedamaian yang disiapkan Tuhan Allah SWT untuknya. Untuk melihat kami semua dari tempat tertinggi di Sisi-Nya. Bagaimana dengan kami yang ditinggalkannya?

Sebagaimana sapu lidi yang dilepaskan dari Soh/Suh nya, kami semua ambyar... Iya betul. Ambyar... Se-ambyar-ambyarnya...

Bagaimana kami ambyar, tidak lah perlu dituliskan, cukup kami rasakan dan kami jadikan bahan obrolan didunia nyata saja. Saya lebih ingin berbagi bagaimana peran Ibuk dalam hal menjadi Soh/Suh keluarga kami...

Ibuk akan selalu berkata:

1) Yang sabar... Jangan terlalu diambil hati... --> Ketika kami, anak-anaknya mendapat perlakuan yang tidak baik atau tidak menyenangkan dari siapapun. Baik dari keluarga ataupun dari orang lain. Itu secara tidak langsung membuat kami cepat lupa pada apa yang orang lakukan pada kami. Kami cepat move on.

2) Biarin aja, sudah ada yang mencatatnya sendiri... --> Ketika kami mengungkapkan kekesalan akan apa yang orang lain lakukan pada Ibuk ataupun pada kami, dan berniat untuk membalas mereka. Ini membuat kami mudah memaafkan. Ada malaikat yang siap siaga mencatat amal manusia.

3) Nggak papa, memang orangnya sudah begitu dari dulu... --> Ketika kami menggebu-gebu mengadu bahwa ada yang berusaha mengadu domba kami. Hal ini membuat kami merasa aman dan dipercaya oleh Ibuk.

4) Ibuk tidak pernah berubah sikap pada siapapun, meskipun beliau tahu bahwa orang itu berbuat tidak baik dibelakangnya --> Ini membuat banyak orang disekitar Ibuk merasa nyaman, tidak merasa dinilai, dan tetap saling menyayangi.

Aaahhh... Banyak yang ingin saya bagi sebetulnya, tapi rindu yang membuncah didada saya membuat saya kehilangan kata-kata.

Saya dan kakak saya sering membercandai Ibuk semasa hidupnya, "Buk, Ibuk niku kados Ibu Tin nek kangge anak-anake... " Dan Ibuk hanya akan tertawa tersipu sambil bilang "Mbok ra do edan cah..."

Beberapa bulan lalu, saya dan kakak saya naik odong-odong keliling Taman Mini Indonesia Indah bersama dengan keluarga besar kami dari Ibuk. Taman Mini Indonesia Indah adalah mahakarya Bu Tin pada masa itu. Di atas odong-odong itu, saya dan kakak saya saling lihat, dan saling lempar canda sesaat.

"Kangen Bu Tin kita ya..." Kataku.
"Iya banget... " Kakak saya mengiyakan.
"Bu Tin tindak, Pak Harto ambyar..." Kataku.
"Bubar ambyar..." Kata Kakak saya.

Kamipun tertawa terbahak-bahak.

Hanya kami berdua yang bisa memahami tawa kami waktu itu. Karena kami sama-sama merindukan Ibuk.

Hari ini, saya rindu Ibuk...

Mantra: Jangan dengarkan lagunya andmesh... :-p


Alfathihah untuk Ibuk, Samiyem Binti Admowiyono

Bulan dan Kerinduan

Bulan tadi malam...



Bagaikan mata seorang ibu yang memandang sendu pada anaknya... Penuh doa yang penuh harapan dan kebaikan... Penuh restu untuk segala upaya dan ikhtiar anaknya... Dan bagai mata yang merindu pada detik detik penuh cerita yang biasa mereka bagi bersama... Ibuk... Kutitipkan rinduku pula kepada Bulan... Kusertakan doa dan harapan yang selama ini kubisikkan padamu, untuk kau peluk dan kau sampaikan pada Allah SWT... Ketiadaanmu di dunia ini, membuat duniaku berada diantara terang bulan yang tenggelam, dan silaunya matahari yang belum terbit... Ada cakrawalamu di ujung pandangan mataku... Aku rindu... 😘😘😘

Thursday, May 7, 2020

Nostalgia Rasa

Saya punya pekerjaan rumah yang sangat berat untuk dilakukan, jika dibayangkan. Yaitu merombak total uraian benang kusut dari kepala saya, yang sudah bertransformasi menjadi kata demi kata.

Selama kurang lebih setahun terakhir ini, kepala saya dipenuhi dengan jalinan benang kusut yang entah bagaimana hidup, berlanjut, sambung menyambung, berkembang, dan terkadang menguras emosi saya saya sendiri. Beruntung waktu ini semua dimulai, saya langsung menggoreskan semuanya di note handphone saya. Dan lihat, setah hampir satu tahun, ceritanya masih berlanjut. Seperti kehidupan kedua saya didunia berbeda.

Namun sayang, semua yang mengalir itu adalah layaknya obrolan antar manusia. Jadi sayapun mengabadikan semuanya sebagaimana mereka lahir dari kepala saya. Dimana sebagian besar adalah dialog.

Setelah mengikuti Kaizen I, saya menjadi berpikir ulang. Sepertinya semua dialogktu, harus dirubah menjadi narasi agar bisa lebih bagus, terarah, berisi, dan mengundang orang untuk terhanyut bersama karakter yang ada. Saya berpikir... Sangat keras...

Kemarin saya mencoba untuk merubah satu halaman dialog menjadi lembar narasi, dan gagal. Hari ini saya akan coba lagi. Tapi tunggu... Sepertinya saya perlu amunusi untuk bisa mulai bergerak. Saya kepikiran dengan Perahu Kertas. Buku yang pada masa itu mampu membuat saya memandangi lautan dengan sepenuh hati, hingga mengacuhkan segala disekitaran. Selama beberapa jam diatas kapal penyeberangan.

Saya akan membaca kembali buku itu, sebagai bahan mencari ide dalam mentransformasikan cerita saya menjadi sebuah cerita yang layak dibaca... Selanjutnya, apakah bisa saya merombak tulisan saya, ah itu proses. One step ahead dulu ya...



Selamat Hari Raya Waisak bagi teman-teman yang merayakan...

Note: Tulisan ini juga saya posting di blog saya yang satunya di asmarantiku.blogspot.com

Tuesday, May 5, 2020

Penguasaan Area Kerja Selama Suami WFH


Di masa PSBB dengan Mas Bojo WFH dan Anak SFH begini, secara tidak langsung menimbulkan perebutan kekuasaan terhadap area rumah yang sudah minimalis ini.

Mas Bojo

Mas Bojo saya ini sulit ditebak kemana arah angin meniup mood nya. Seringkali ketika saya sudah duduk manis di meja kerja, beliau datang dengan laptopnya, dan manyun "yah, keduluan..." katanya.
Kalau sudah begitu, saya pasti tertawa-tawa. Namun keesokan harinya saya memulai kerja lebih siang, beliau sudah nangkring di meja dapur. Saya minta pindah ke meja kerja, bilangnya "Nggak usah, enakan disini" Baiquelah...

Denok K

Mbak sis yang satu ini ternyata badannya boleh kecil, tapi jangkauan areanya paling luas. Setiap hari dia mengakuisisi ruang keluarga sebagai area mainnya. Belum lagi masih ditambah dengan teras dan kadang kebun. Kalau dia sedang bermain dan memutuskan bahwa tempat itu adalah arena bermainnya, maka yang lain musti menyingkir... Baiquelah...

Emak

Saya sebetulnya tidak punya preferensi dalam memilih tempat kerja. Saya bisa kerja dimana saja. Dan WFH kali ini juga bukan masalah besar untuk saya dari sisi pekerjaan. Karena saya sudah 10 tahun lebih WFH juga yekaaan.

Masalah saya hanya 2, yaitu back pain jika duduk lesehan, dan perlu tempat sepi jika ada call meeting. Karena semenjak Sabbatical Leave kemarin saya menjadi lebih rajin bangun pagi, dan setelah Kaizen I saya jadi rajin mandi pagi, maka saya mempunyai kebebasan lebih untuk memilih tempat kerja. Dan saya lebih sering memilih di dapur. Kecuali jika ada call meeting dari pagi hari, baru saya memilih di ruang kerja.

Bekerja didapur ini membuat saya lebih rileks sebetulnya. Karena udara dari luar banyak, cahaya dari matahari alami, dan juga suaru air terjun yang membuat kemeriahan terasa natural. Ini membantu saya untuk lebih sering membiasakan memanggil dan menangkap ide lewat lebih sering. Eeeaaa

So, bagimana dengan kalian?
Kalian juga pasti punya spot favorit yang bisa kalian gunakan untuk melewati hari dimasa-masa sulit ini kan?

Tetap sehat yaaaa

#dirumahaja

Monday, May 4, 2020

Berlatih Menjadi Penyiar Radio

Ceritanya, sekolah Mbak K kali ini mengangkat tema Radio.

Ibu Guru memberikan video pengantar pendek seperti biasa mengenai radio, bentuknya dan juga fungsinya. Setelah itu, Bu Guru memberikan tugas kepada anak-anak untuk membaca selembar kertas, dengan gaya dan intonasi seperti seorang penyiar radio.

Emak semangadh untuk merekam K, bapak semangadh mengedit karena memang sedang gandrung podcast, tapi ternyata anak sedang kurang semangadh efek dari pencabutan 2 gigi kemarin sore. Jadi yaaaa, gitu deh. Kurang bergairah, seolah terpotong, dan banyak suku kata yang terasa 'hilang'. Tapi yasudahlahyaaa... Namanya juga belajar :-)

Selamat menikmati...


#TKBRecisBogor
#dirumahaja

Sunday, May 3, 2020

Demam Kaizen Batch 1


Pagi ink sepertinya saya masih terjangkit yang namanya "demam kaizen batch 1". Apaan tuh?

Iya, ini adalah semangadh yang masih hangat dan dan menggebu dari hasil mengikuti 3 kelas online nya Dee Lestari, Kaizen. Tadi malam adlaah malam terakhir dari kelas online Batch 1. Bagaimana jalannya kelas, bagaimana perasaan saya, bagaimana serunya, bagaimana kesan saya, akan saya ceritakan di lain bab. Khususon untuk Kaizen Batch 1. I'm In Love :-p

Disini, saya cuma ingin mengabadikan seauatu yang menjadi salah satu waktu terbaik saya. Disaat semua masih terasa hangat dipikiran, masih bergemuruh didada, dan masih ada kegelisahan jika belum melakukan. Ini yang biasa saya sebut "gairah". Mumpung masih bergairah...

Pagi ini saya bergelantungan di pohon di hammock. Diam. Melamun (Yaelaaahhh). Eits, jangan salah. Melamun adalah salah satu hal yang diminta untuk dilakukan masing-masing peserta setiap harinya, meskipun hanya sebentar. Jadi saya lakukan dengan senang hati. Saya melamun, memandang awan, menilik dedaunan, melihat burung yang datang memakan buah mulberry kami, dan burung yang membangun sarangnya. Tak lama, saya menuliskan satu kalimat di kertas corat coret saya:

"Dalam pencarian solusi atas setiap masalah saya, seringnya saya tidak menemukannya. Tapi tidak mengapa. Karena pencarian dalam diam dan berpikir seperti ini, membuat saya "selalu merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya" ~Juharini, Mei 2020 [dalam ayunan hammock]

#selamathariminggu