Saturday, December 31, 2022

Last Day of The Year 2022

Fffiiiuuuhhh... Hari terakhir di Tahun 2022 gaesss... 

Tidak terasa ya waktu di Tahun 2022 ini terasa sangat cepat berlalu. Kalau teman saya bilang, 2022 ini pak pik puk banget. Kalau saya bilang, 2022 ini waktu saya terlalu lahap dimakan oleh rutinitas. Sehingga seolah hari berganti hanya dalam kedipan mata. 

Kali ini saya belum ingin berbagi mengenai resolusi apa yang sukses dicapai di Tahun 2022, atau harapan untuk 2023, atau list-list yang lain yang biasanya saya buat sebelum tahun berganti. Nanti saya buat postingan sendiri untuk itu. 

Saya hanya ingin mengunggah beberapa kegiatan yang kami jalani menuju penghujung tahun ini saja dulu ya. Tidak banyak, tetapi cukup membuat segar semangat menyambut tahun berganti. 

Diantaranya adalah: 

1. Movie days. Maklum ya, setelah kembali dari Banten, kami praktis tidak kemana-mana. Di sekitar rumah saja. Saya jadi memindahkan bibit cabai dan kenari Maluku saya ke polibag, serta mengerjakan dollhouse nya K. Walaupun Dollhouse nya belum selesai sempurna, tetapi sudah bisa digunakan. Lumayan. 

Selebihnya, kami bertiga bermarathon menonton acara TV. Bergantian acara favorit kami bertiga, kadang rebutan karena tidak mau mengalah (ini sih K sama bapaknya aja). :-)

2. Saya memenuhi janji saya untuk membelikan K komik Saint Seiya yang belakangan ini sedang Ia gandrungi. Setelah komiknya tiba, dia senang sekali. Selain dari komiknya, ada juga 3 buku Enid blyton hasil jastipan BBW saya juga datang. Ahhhh senangnya. 2023 reading activity should be better than 2022 yesss mbak :-)

3. Drakor & diamond Painting. Seperti emak-emak jaman now, Drakor tetap nomer sathuuuu yekaaan. Di akhir tahun ini saya nonton School 2013, karena ada Kim Wo Bin. Hahahahha

Nah, sambil nonton drakor, seperti biasa tangan saya tidak bisa diam. Mulai dari main game, merajut, hingga akhirnya ingat kalau masih punya 1 diamond painting dari Mr. D*Y tahun kemarin yang belum di kerjakan. Saya kerjakan hingga selesai. Aseeekkk... 

Yuks siapa yang mau adopsi karya mini dan sederhana ini. Gratissss... Beli frame sendiri tapi ya 30x30 cm. :-)

Friday, December 30, 2022

The Culture of Looking Perfect

Sebelum mulai menuliskan apa yang ingin saya tuliskan, saya perlu menggaris bawahi beberapa hal. Yang pertama adalah, saya menulis ini tidak karena perasaan saya terhadap sikap orang lain pada saya. Yang kedua, saya menulis ini bukan berarti saya tidak suka terhadap kebiasaan/orang yang melakukan hal-hal terkait. Dan yang ketiga, saya menulis ini hanya karena saat ini saya sedang membaca buku "Raising A Screen-Smart Kid" - nya Julianna Miner. Dan kebetulan ada beberapa bab yang membuat saya ingin menulis di sini. Beberapa hal yang tidak saya unggah di sini, saya simpan di catatan agar suatu saat saya perlu, mudah mencarinya. Begitu yaaa :-)

Membaca buku ini sekarang-sekarang (tanggal 30 Desember 2022), memiliki cerita tersendiri. Rasanya otak saya tidak cepat memuat informasi, banyak godaan untuk tidak melanjutkan, terlebih lagi karena K tiba-tiba demam seharian. Namun, rasa penasaran tetap menyeret saya tertatih untuk maju. Bhaiquelaaah... 

Nah, bagian yang ingin saya bagi kali ini adalah bagian yang ada di tangkapan layar di bawah ini:

Tidak bisa di pungkiri, saat kita berfoto baik sendiri maupun bersama teman, hal pertama yang kita lakukan setelah selesai adalah mereview foto yang diambil. Sayapun demikian. Beberapa pertanyaan bisa jadi kemudian mengikuti, seperti: 
- Bagaimana hasilnya? Bagus nggak?
- Bagaimana penampakanku? 
- Aku kelihatan gendut nggak? 
- Apakah perutku kelihatan besar? 
- Apakah mataku merem?
- Apakah aku kelihatan pendek? 
- Aku keliatan masih muda kan? 

And the list go on and go on....

Semua itu wajar kok saudara-saudara, bahkan banyak penelitian dan juga buku/jurnalnya. :-)

Untuk saya sendiri, seringkali pertanyaan berhenti di pertanyaan pertama saja. Gimana? Bagus? Namun kadang saat teman-teman mulai membahas pertanyaan yang lain, saya ikut menyimak sambil senyum-senyum. Kadang saya juga bilang "eh buset, gw gendut banget ya". Tapi, bukan berarti saya tidak rela atau bahkan menolak kenyataan hingga ingin fotonya di delete saja. Saya juga tidak pernah mempermasalahkan orang mau upload foto (yang ada sayanya) manapun dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu saya sempat merasa geli ketika suatu waktu berfoto bersama dengan teman, setelah beberapa kali take foto, teman saya bilang "gw tutupin perut lo pake ini ya" katanya. 

Saya tertawa dan bilang "santai aja, gw nggak masalah kok perut keliatan gendut..." Namun, mungkin untuk beberapa orang, ada perut menonjol itu membuat pemandangan kurang nyaman. Which is normal juga. Seperti itu. 

Hubungan dengan buku ini, saya sedikit concern mengenai Culture Of Looking Perfect ini, sebetulnya lebih ke anak saya nantinya. Saat nanti dia mengenal media sosial, bukan tidak mungkin diapun akan mengalami hal yang sama. Fokus pada penampakan, untuk diperlihatkan kepada khalayak online. Tidak apa-apa sih. Hanya saja kalau bisa, saya ingin membuatnya sedikit kurang fokus pada hal tersebut. Mungkin saja nanti ada teman-temannya yang kemudian minder atau tidak nyaman hanya karena hal yang kurang prinsipil? Kan sayang sekali. Tapi ya nanti semua itu kembali pada diri K sih. Saya hanya bisa berharap sambil sedikit banyak membisikkan mantra-mantra padanya, berharap bisa mujarab pada masanya. Aamiin :-)

Saya tidak antipati pada media sosial. Hanya saja, karena alasan tahu diri sendiri - yang sering kehilangan kendali kalau sudah mulai memainkan jari ke atas ke bawah melihat-lihat keseruan dunia maya -, saya memilih untuk sangat membatasi penggunaannya. Saya tidak meng-install media sosial di ponsel saya, kecuali saat saya mengikuti acara-acara tertentu, atau saat saya ingin membagikan karya tulisan saya. Saya juga sangat jarang sekali masuk ke media sosial melalui browser laptop/ponsel, hanya jika perlu melakukan sesuatu yang mendesak saja. 

Satu kutipan dari tulisan di atas yang sangat seirama dengan prinsis saya dalam ber-media sosial adalah "What you choose to share about yourself on your social media feeds, says a lot about what matters to you." 

Suatu saat, mungkin itu juga yang akan saya tanamkan pada anak saya, jika waktunya tiba. :-)

Selamat menyambut Tahun Baru 2023, temans!!! 

Tuesday, December 27, 2022

To The Most West of West Java

Karena liburan Natal & Tahun Baru kali ini kami tidak membuat rencana ke mana-mana, maka saya nurut saja saat Mas Bojo mengajak pulang ke Banten. Akhirnya, sekalian saja kami main ke lahannya temen kantor yang letaknya berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon. 

Berada di pelosok Ujung Kulon, tidak menjadi masalah saat kami pergi bersama dengan keluarga Banten. Adek ipar dan istrinya adalah guru sekolah negri, begitu pula tante-tante dari suami yang juga pengawas sekolah. Mereka punya banyak rekanan di kawasan itu. Belum lagi mantan anak2 asuh mertua yang dulu belajar di pondok pesantren di dekat rumah dan menjadi langganan nasi uduknya. Masih terasa dekat hingga saat ini. 

Dan akhirnya hari ini kami sampai ke Taman Jaya. Cuaca sedang tidak mendukung untuk camping ataupun menyeberang ke Pulau Peucang, sehingga kami hanya berniat untuk pulang hari saja. 

Setelah silaturahmi ke rumah teman adek ipar dan juga kerabat mertua, kami melipir ke lahan nya Mbak G yang terletak di pinggir pantai. Asik sekali lokasinya. Kami bersantai bakar2 ikan asin yang diberi oleh kerabat mertua, dan makan bersama bekal dari rumah. 

Oh iya, tadi kami melihat ada banyak ibu-ibu dan anak kecil berkumpul di pantai di kejauhan. Saya penasaran akhirnya berjalan mendekati mereka diikuti Mas Bojo dan K. Rupanya mereka sedang mengumpulkan haremis atau kerang kecil-kecil gitu. Saya dan K ikut mengorek-ngorek, rupanya tak mudah. Pengalaman yang menyenangkan ya K!

Lalu kami bersilaturahmi dengan teman Mbak G yang mengelola lahannya selama ini. Kapan2 kami akan kembali dan camping di situ. 

Jalanan menuju Taman Jaya ini mantab sekali. Mengingatkan saya saat masih di Kampung di Lereng Merapi. Berlubang dengan air banjir ke jalanan. Seru deh... 

Pulangnya kami mampir di Baso Ikan Sumur, langganan setiap ke daerah sana. K sampai nambah. Hahaha

Monday, December 26, 2022

Namiko 2022 Concert Performance

Hari Sabtu, 17 Desember 2022. Adalah hari yang sibuk untuk saya. Diantara nganu dan nganu, ina dan inu, ita dan itu, ada Performance Namiko Tahun 2022. Seperti biasa, di Botani Square Mall.

Saya fokus untuk menceritakan acara performance K saja ya...

Seperti biasa, sebagai acara tahunan dari tempat les Gambar Manga dan Piano Kiran, kembali Kiran tampil di Botani Square. Karena alasan ina dan inu, saya minta agar K tampil pertama di sessi nya, dan dikabulkan. Resikonya, penontonnya belum banyak sehingga dia merasa yang tepuk tangan untuknya hanya sedikit sekali. Sedih dia. Hehehe

Karena K ikut les gambar dan piano, maka ada gambar yang dipajang di layar, dan juga penampilan piano bersama Kak Hansen. Seperti biasa. Kali ini K memainkan lagu ABC Song. Lancar kok, alhamdulillah. 

Udah itu aja ya, saya unggah video dan fotonya saja untuk mewakili... :-) 

It's about Comparison of Teacher, Ayah, & Bunda Raging

Cuacanya benar-benar mendukung kegiatan meditasi pant*t ya, alias mager. Kalau magernya sendirian, biasanya paling enak kalau main game atau nonton drakor yekaaan... 

Nah, kalau magernya bareng sama anak wedhok, saya yuh nggak bisa mingkem. Penasaran sama banyak hal sampai kadang membuat dia erosi jiwa dan bilang "udah deh bunda. Stop asking me question!" Hahahaha. Ya BundaPiaraAkanDaku ini kan suka kepo mbak sis... Maklumi ya. :-p

Saya mau sharing hasil mager bersama anak wedhok yang terbaru boleh yaaa. Sayang kalau hilang atau lupa. (karepmu) 😅

Saya: "K, kenapa anak-anak itu, lebih takut sama guru dibandingkan ayah atau bundanya?" 
Nak Wedhok: "Karena kalau teacher' raging (guru murka) itu kayak bisa sampai ke surga gitu. Kalau Ayah's raging kayak sampai tempat paling tinggi pesawat jet terbang. Nah, kalau Bunda's raging itu kayak sampai di atas pohon gitu lah... "  (Setelah itu K buru-buru bilang, "tapi Bunda don't get the idea to rage higher to the heaven ya

Mungkin kesimpulannya adalah, guru sangat jarang murka tetapi kalau sampai murka bisa mengerikan. Ayah kalau murka sesekali aja, tapi serem juga. Bunda keseringan murka, jadi ya biasa aja. Bhaiquelaaahhh... 

Pertanyaan saya yang kedua kepadanya,
Saya: "Sekarang pertanyaannya ini. Menurut kamu sebagai anak, kenapa anak cenderung membantah perintah orang tua tetapi menurut sama perintah gurunya. 
Nak Wedhok: Karena, kalau dirumah tuh kita kan punya feeling that we will long life together kan. Jadi kita masih bisa do it later. Kalau di sekolah itu kan cuma sebentar, on that certain period. Jadi ya kita harus do, can not wait.
Saya: "Jadi, menurut kamu apa yang orang tua harus lakukan untuk mengatasi itu? Maunya kalian anak-anak tuh gimana biar kalian bisa lebih nurut sama orang tua?" 
Nak wedhok: "Orang tua itu harus kasih time period. Like you can say -10 menit lagi ya- gitu." 
Saya: "Iya juga ya..." 

Hahahha. Begitulah mager berfaedah kami berdua. Semoga bisa bermanfaat, buat saya tentunya. :-)

#CelotehAnak

Sunday, December 25, 2022

Lion's 7th Years With Us

Happy Birthday, Lion!!!

Kalau yang nggak kenal K dan keluarga kami, mungkin berfikir bahwa kami punya peliharaan singa. Hahaha

Nggak 100% salah sih. Cuma kurang tepat aja. Ini bukan peliharaan hewan singa, tetapi boneka singa. Boneka ulang tahun? 

Jangan khawatir, kalau kalian bertanya begitu, kalian bukan orang pertama. Welcome to my family! Kekekeke

Jadi, Lion ini adalah boneka kesayangan K dari umur 2 tahun. Kami membelikannya di Toko merch nya TSI Bogor saat kami berkesempatan menginap di sana. Sebagai pengingat. Saat dibeli, dan setahun dua tahun pertama memiliki Lion, seingat saya dia masih satu level dengan boneka K yang lain statusnya. Saya sendiri tidak terlalu ingat kapan dan bagaimana Lion bisa menjadi 'sesuatu' untuk K. Kalau saya tanya, 

Saya : "K, do you remember how Lion become your very favorite doll?" 
K: "Of course I do. When I was in Preschooler, we open the dolls box. And when I saw Lion, suddenly I felt like - WOW, this is awesome! - kind of feelings..." jawabnya diplomatic. Fineee... Batin saya. 

Yang jelas, sejak K merasakan WOW feelings nya itu, dia tidak pernah lalai memperingati hari ulang tahun yang dia tetapkan sendiri. 25 Desember 2015, adalah hari kelahiran Lion. Saya masih curiga bahwa K memilih 25 Des sebagai tanggal ulang tahun Lion, semata karena dia ingin ikut merasakan festive holiday seperti teman-teman yang merayakan natal. Hahahah

Ayah dan Bunda nya saja, tidak selalu dirayakan atau dibelikan cake kalau ulang tahun. Namun, the best buddies Lion's birthday never forgotten. Kalau saya bilang, "nggak usah lah mbak", K langsung manyun dan bilang, "Bunda nggak sayang aku, nggak sayang Lion". Fineee...

Banyak kejadian seru sih memang yang terjadi antara kami sekeluarga dan Lion. Menambah cerita asik juga sebetulnya. Seperti saat rambut Lion yang dulunya Masai bagus menjadi brindil karena terlaundry, saat Lion tertinggal di Pantai Mulia-Mengiat, Bali, saat Lion tertinggal di rumah salah satu temannya, atau saat Lion tertindih saya atau ayahnya, atau kalau tidak sengaja Lion jatuh, dll. Lion selalu menjadi pelarian K saat kami sedang bersitegang. Biasanya dia akan memeluk Lion hingga suasana hatinya membaik dan kami bisa bicara. Saya juga masih ingat tahun lalu (atau tahun sebelumnya lagi ya?) Saat sepupunya yang masih usia 3 tahun melempar Lion hingga hidung plastiknya pecah. Prahara terjadi. Antara ingin tertawa tetapi juga iba melihat K yang berduka, dan melihat Lion yang wujudnya semakin renta... hahahha

Saat kami berbincang ngalor ngidul tentang boarding school, K sempat bertanya,
K: "Kalau boarding school itu, boleh bawa boneka nggak sih?" tanyanya.
Saya: "Ya boleh aja. Paling nanti kamu di ledek sama temen-temen aja karena sudah besar masih bawa boneka." 
K: "Nggak papa diledek. Aku nggak mau ninggalin Lion sendiri. Nanti Lion sedih." Saya dan ayahnya saling lihat dan tersenyum. 

Oh iya, setelah pandemi berakhir, dan K harus sekolah offline, beberapa bulan pertama dia punya rutinitas. Setiap K mau berangkat sekolah, dia akan berlari ke kamar, pamitan pada Lion, dan memposisikan Lion dengan baik. Tak lupa dia berpesan, "Mbak sekolah dulu ya, kamu jaga kamar. Nanti kita ketemu lagi siang." So sweet kan? Namun, lama kelamaan kami sering terburu-buru kalau mau berangkat sekolah, jadi kebiasaan manis itu luntur. Salahkan orang tuanya!!! Hahahha.

Apakah kalian mulai berpikir kami keluarga lebay? Bisa saja, tetapi tidak masalah... :-p

Mungkin bisa saya mematahkan kesenangan K dengan bilang, "Ngapain sih sama boneka segitunya.", atau "Nggak. Nggak perlu. Lion cuma boneka doank." Namun saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya tidak ingin imaginasi K harus mandek atau pupus hanya karena orang tuanya malas meladeni sesuatu yang terdengar kekanakan atau aneh. Menurut saya, manusia bisa kaya atau miskin dalam hitungan detik. Namun, mereka yang memiliki imajinasi, adalah mereka yang akan tetap bahagia walaupun sedang diberi miskin. Let their imagination wild and be creative, katanya... 

So, happy birthday Lion!!! Thanks for your charming that gave a WOW moment for K 7th years ago... You comfort her, when her parents couldn't... Thank You!!!


Love, 
K & The Gang


Thursday, December 22, 2022

Belajar dari si Bunga Cantik yang Ditelantarkan

Sebelumnya mulai ngemeng ngalor-ngidul, saya bilang dulu ya. Bunga ini saya foto hari ini, Kamis 22 Desember 2022. Pas Hari Ibu ya. Nggak ada hubungannya, tapi nggak papa. Eh ada dink. Alm Ibuk saya sangat suka bunga yang cantik-cantik. Tangannya juga dingin sehingga tanamanya sering tumbuh subur. 

So, here is for you... Happy Mothers Day! Aku yakin Tuhan memberimu taman bunga yang super indah hari ini di surga. ^_^

Baiklah... Saya akan bercerita seperti yang saya tuliskan di judul unggahan ini. 

"Belajar dari si Bunga Cantik yang Ditelantarkan"

Sekitar Tahun 2017an (saya lupa persisnya), kami sering berbelanja keperluan bulanan di sebuah swalayan di bilangan Kota. Swalayan itu terkenal cukup lengkap dan harganya lebih miring. Karenanya kami rela berkendara cukup jauh untuk membeli keperluan bulanan kami di sana. 

Saya masih ingat saat itu, saya membeli beberapa bumbu dapur, dan melihat 1 buah rimpang gendut yang dibungkus plastik. Saya tidak bisa memanggil memori saya, apakah saat itu ada tulisannya atau tidak. Intinya saya beli satu, dibawa pulang, tidak tahu untuk apa, saya tanam di halaman samping. 

Jreng!!! Rupanya rimpang itu mudah sekali tumbuhnya. Tanamannya cepat menjulang tinggi dengan daun lebar-lebar. Cocok dengan tanahnya mungkin ya. Singkat kata, kami merasa tanamannya terlalu besar dan tidak tau harus diapakan. Kami cabut dan buang. 

Rupanya masih ada rimpang yang tertinggal di situ, dan tumbuh lagi. Kami biarkan karena tanamannya tidak sebesar saat tumbuh pertama. Namun, saat kami melakukan sedikit renovasi rumah, kami harus membongkar area bertanam saya, termasuk si tanaman ini. Saya buang tanamannya ke lubang pembuangan sampah basah kami. Ternyata dia tumbuh lagi. Hahahha

Awalnya kami biarkan. Tetapi mungkin karena bersama sampah, terlalu subur dan daunnya besar-besar lagi. Kami timbun dengan sampah-sampah. Benar-benar tidak ada usaha untuk mencari tau atau memanfaatkannya. Duh.

Hingga tahun berganti, si tanaman ini juga berpindah ke sana dan ke sini sesuka hati kami. Ajaib memang, dia terus dan tetap bertahan. 

Akhir tahun 2021 kemarin, untuk kesekian kali kami melakukan bongkar pasang rumah tumbuh kami ini karena alasan bocor. Imbasnya, lubang sampah saya ditutup sama mamang tukang, saya lupa minta dibuatkan lagi. Si tanaman liar, entah bagaimana memberi 1 anakan kecil yang menurut saya bagus. Jadi saya pertahankan 1 yang kecil itu, dan membuang yang besar. Bersama dengan 1 tanaman keladi yang tak kalah uniknya karena setiap dipindah ke pot mati, tapi dibuang hidup subur, mereka berdua akhirnya tumbuh di bawah pohon jeruk purut kami. 

Sekitar 2 minggu lalu, saya sudah melihat tanda-tanda bahwa tanaman ini mengeluarkan bakal bunga. Namun, karena masih abai dan cukup sibuk, saya hanya melihat sekilas setiap lewat. Meskipun saya tahu kalau bunganya sudah mekar berwarna ungu pink beberapa hari terakhir ini. 

Tadi sore, K menarik tangan saya dengan sayang bersemangat. Dia menarik saya ke pintu belakang, dan berhenti di teras samping sambil menunjuk, "Bunda, see. That is a beautiful flower. Very pretty!" Katanya. Saat itu, saya bilang sudah tahu. Tapi dengan segera mengambil ponsel untuk mengabadikannya. Saya memperhatikan beberapa lama bunga itu, memang sangat cantik sekali. Dan melihatnya, membuat saya kembali mengingat perjalanan hidupnya yang sebagian besar ditelantarkan oleh saya. Saya sedih. Maaf ya. 

Setelah ambil foto dan puas mengagumi kecantikan bunga itu, saya kirimkan ke WAG kecil  tetangga saya untuk menanyakan barangkali ada yang tahu tanaman apa. Salah satu tetangga saya mengirimkan tangkapan layar dari laman pencarian, menunjukkan beberapa nama latin dari tanaman ini. Saya cari yang paling mirip, dan mencari ulang informasi detailnya. Saat itu saya baru tahu, bahwa ini ternyata adalah tanaman Temulawak. Hahahahahahahhahahahahhaha

Saya betul-betul tertawa ngakak mengetahui bahwa ini adalah tanaman temulawak. Karena kan temulawak banyak manfaatnya. Sejak hari ini, saya niatkan untuk tidak lagi menelantarkan tanaman temulawak ini. 

Dari temulawak ini saya belajar, bahwa selagi kita yakin pada kemampuan kita, yakin pada kualitas diri kita, tak perlu takut, minder, sedih atau putus asa jikapun ditelantarkan atau harus hidup terlantar. Tetaplah hidup, tetap mengeluarkan versi terbaik dari kita, makan pada saat yang tepat, kita akan menjadi sesuatu juga. 

Bunga ini cantik, saya persembahkan untuk almarhum Ibuk saya. Beliau senang sekali dengan bunga-bunga cantik. Setiap tanaman bunganya, pasti tumbuh dengan cantik juga. Bahkan jauh sebelum beliau sakit dan meninggal, beliau sering berpesan pada kami, anak-anaknya, untuk membeli 7 tenggok bunga dan menebarkannya di makamnya kalau beliau meninggal. Saya lakukan. Mudah-mudahan Ibuk senang dan tenang. Pastinya bahagia karena tanaman bunga di Surga pasti jauh lebih indah. Kami merindukanmu ibuk...  ^_^

  

Monday, December 19, 2022

Count The Bless

I'd like to share a photo... 
Just to remind my self about last couple of days...
A pictures tells a million more stories...
A picture tells a treasure... 

I learnt a lot during my life
All the good become an achievement, 
And all the bad become a lesson to grow
Nothing is too good and nothing is too bad. 
Nothing is just good and nothing is just bad.

Wish you all have a very happy holiday, love!!!