Sunday, December 27, 2009

Semua Tertinggal di Stasiun Pasar Minggu

Beberapa hari ini adalah waktu dimana semua orang menyusun dan menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Berkumpul bersama untuk menghabiskan liburan, merayakan natal, dan menyambut tahun baru 2010 yang diharapkan menjadi tahun yang gemilang. Ya….akhir tahun ini ada cukup banyak waktu untuk liburan. Libur natal yang bisa dilanjutkan dengan libur tahun baru. Bagaimana dengan aku?


Awal liburan aku jalani dengan sebuah kepahitan. Pahit dan cukup sakit. Luka kembali tertoreh di atas luka lama yang belum juga mengering. Hinaan, hujatan, dan sikap merendahkan itu muncul kembali dari seorang yang lemah lembut dan penyayang. Entah apa yang menjadi pemicunya. Aku hanya bisa bilang “akulah yang telah memicu semuanya”. Sikap tak peduli dan acuh menjadi kelanjutan episodenya. Betapa tidak terasa ketiadaanku di sampingnya di dalam sebuah gerbong kereta Jakarta Bogor.


Aku menghabiskan waktu di sore itu sendirian di stasiun Pasar Minggu, menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke tempat asal kami datang. Aku hanya bisa melihat ke ujung batas kemampuanku melihat, untuk sekedar mengalihkan mataku dari sebuah pandangan kosong. Aku melihat ke arah kereta dari keberangkatanku. Hanya satu yang tersirat di benakku saat itu “tiga jam yang lalu, semua masih terasa normal”. Dan segurat senyum tipis ku sungginggkan dari bibirku, senyuman miris yang di iringi dengan merebaknya suatu zat cair di kedua mataku. Bergegas akupun mengalihkan pandanganku ke atap peron stasiun. Bukan pada tempatnya wilis…..kataku dalam hati.


Satu kereta berhenti di depanku, kuacuhkan saja. Ibu yang duduk di sampingku mulai berdiri dan berkata “dik, mau naik yang ini?” dan akupun menjawab dengan sebuah senyum yang entah wajar atau tidak “terima kasih bu, saya nanti saja. Silakan ibu duluan. Hati2 ya bu..”. dan kereta itu berlalu membawa si ibu dan ratusan orang yang lainnya. Aku kembali melihat pantat kereta yang semakin menjauh dari stasiun itu. Kupandangi saja sampai dia benar2 tidak terlihat. Setelah dia menghilang dan aku merasa yakin dia tidak akan bergerak mundur, ku alihkan pandanganku kea rah yang berlawanan.


Seorang ibu yang lain mengisi bangku kosong di sampingku. Sambil tersenyum, aku bertanya “ ke bogor bu?” dan si ibu dengan ramah menjawab “iya mbak…baru lewat ya keretanya? Penuh bukan?” dan akupun berkata “iya bu, penuh sesak. Sampai di atas2 juga penuh”. Kulanjutkan acara mengamati rel, kereta api yang bergantian masuk stasiun, dan juga calon2 penumpang di sekitar tempatku duduk. Ramai…penuh dengan orang yang sedang menunggu. Menunggu kereta yang entah kapan datangnya, dan entah dapat membawa mereka atau tidak.


Di seberang rel sana, di bangku yang cukup tersinari lampu, kulihat dua orang muda-mudi seumuran SMU sedang berpacaran. Tangan si cowok memeluk mesra pinggang si cewek dan si cewek duduk menghadap kea rah cowoknya. Mereka bercanda, bercengkerama, dan juga saling menyentuh…romantic, tapi terlalu berani…. Peduli amat dengan orang2 di sekitar (termasuk aku), mereka terus bermanja2an dan saling bergelayutan. Entah kenapa terasa ada yang sakit didalam sini (kusentuh dadaku perlahan). Sakit…dan bergetar…. (bukan mupeng tapi ya…hahaha).


Tiga atau empat jam yang lalu aku menuruni pintu kereta dan menjejakkan kakiku di lantai ini dengan masih tertawa dan tersenyum. Karena aku tidak sendiri. Aku datang beramai2, yaitu dengan dia, dengan harapan, dengan keceriaan, dengan doa, dan dengan impian. Tapi sayang….sekarang aku hanya sendiri, paling2 berdua dengan sepi. Dia dan semuanya pergi begitu saja tanpa menengok ke belakang, dimana aku masih memilih untuk duduk diam. Sakit….


Sebuah kereta yang padat hingga ke atap kembali lewat, dan akupun masih membiarkannya dengan acuh. Si ibu yang duduk di sampingku bergerak berdiri untuk bergabung dengan para penumpang yang lain, tetapi tidak dengan aku. “saya mau pulang sekarang saja mbak, saya sudah tidak tahan. Terlalu malam dan lelah” katanya. “iya bu, lebih baik ibu pulang saja. Angin malam semakin kencang” kataku. Dan diapun tenggelam dalam penuh sesaknya pintu kereta. Aku? Masih saja duduk dan terdiam.


Para calon penumpang datang, peron penuh, kereta lewat, dan peron kembali kosong. Beberapa kali rutinitas itu berjalan, namun aku tetap di tempat yang sama. Duduk, diam, hanya sesekali menengokkan kepala ke arah tertentu. Menunggu. Apa yang sebenarnya aku tunggu? Entahlah….


Sepertinya aku hanya menunggu sampai saat di mana semua penat, sesak, pedih, dan gerah itu luruh di perons stasiun itu. Aku tidak ingin membawanya pulang lagi ke tempatku tinggal, karena hanya akan membuat kotor dan membuat keadaan semakin buruk. Setelah semuanya luruh dan aku kembali merasa ringan tanpa beban, akupun berjalan memasuki pintu kereta yang telah terbuka menyambutku. Meskipun semua sudah kulepaskan di peron stasiun itu, rupanya ada setitik sedih yang masih bergelayut mesra di pundakku. Kubiarkan saja dia menemani perjalanan pulangku.


Tuesday, December 22, 2009

Kasihmu Tiada Tara Kepada Beta


Kasih ibu....Kepada Beta....Tak Terhingga Sepanjang Masa....
Hanya Memberi....Tak Harap Kembali....Bagai Sang Surya....
Menyinari Dunia....

***

Di waktu ku masih kecil, gembira dan senang

Tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi….ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut

Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku ku dengar, ada namaku disebut

Sering ini kukenang, di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar…. Namaku disebut

Di sore hari nan sepi… ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut….
Ada namaku di sebut

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang tenang
Namun kasihnya padaku selalu ku kenang
Kulintas gambar ibuku sewaktu berteduh
Kembali sayup kudengar … namaku disebut..

***

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Nada-nada yang indah
S’lalu terurai darimu
Tangisan nakal bibirku
Tak ‘kan jadi deritamu

Tangan halus dan suci
T’lah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku…

***

Hari ini, banyak sekali orang berkata, menulis, dan mengucapkan ucapan "selamat hari ibu". Doa, gembira, dan suka cita di bagikan melalui berbagai cara. Apa yang aku lakukan? Tidak ada sesuatu yang istimewa yang aku lakukan. Hanya menuliskan satu kalimat di satu situs jejaring sosial, tulisan seperti ini :

"Ikut Berbahagia Dengan Dirayakannya Hari Ibu....Semoga Semua Ibu Di Dunia Mendapat Berkah Yang Maha Kuasa....Ibuku Tidak Pernah Merayakan Hari Ibu, Dan Mungkin Juga Tidak Tahu Makna Hari Ibu....Tapi, Tetap ku Doakan Semoga Ibuku Sehat Selalu, Bahagia Selalu, Dan Memaklumi Aku Demikian Adanya...hweehehhehehe (Maksa*mode on)"

Yaaa.... aku juga ingin ibuku yang ada di kampung, yang tidak mengerti makna dirayakannya hari ibu itu tetap sehat, tetap bahagia, dan tetap menikmati hari2 nya bersama dengan bapakku. Aku ingin beliau melepaskan semua beban yang ada di pikirannya saat ini. Dari jauh aku hanya bisa berkata bahwa aku baik2 saja, dan akan selalu baik2 saja dibawah lindungan do'amu. Aku mencintaimu ibu, dan akupun mencintaimu bapak...Semua yang aku lakukan saat ini, semua karena apa yang kalian lakukan selama ini. Berdoa kepada-Nya....

Monday, December 21, 2009

Berjalan Mundur Untuk Bisa Maju dengan Semangat Baru


Majuuu....Jalan....!!!!

Sebuah aba2 yang sering kita dengar mulai dari kecil hingga saat ini. Banyak di ucapkan ketika kita sedang mengikuti upacara bendera atau baris berbaris. Sebuah aba2 agar kita melangkahkan kaki ke depan selangkah demi selangkah. ya....aba2 agar kita berjalan maju...

Saat ini, aku sedang berusaha untuk tetap berjalan juga....Hanya saja, aku sedang mencoba berjalan mundur. Berjalan mundur dengan harapan dapat lebih bersemangat dan dapat menemukan angin baru untuk bergerak maju. Semangat baru, energi baru, niat baru, dan hasil yang baru pula.

Rupanya, 5 tahun sudah aku bergerak maju dengan cepat, secepat geraknya sang waktu. Maju terus, melihat ke depan, dan berusaha mengejar sekelebat bayangan yang timbul tenggelam. Aku berjalan bahkan berlari untuk mengejar bayang2 semu itu. Berlari...dan Berlari...

Tanpa kusadari, aku telah melupakan hakikat perjalananku sendiri. aku tidak menikmati apa yang ada di sekitarku. Aku tidak pula mempersiapkan bekal untuk perjalananku ini. Semua tidak pernah aku pikirkan hingga beberapa waktu belakangan ini. Ternyata aku terlalu cepat berlari....Banyak hal yang tertinggal di belakang, dan banyak pula hal yang aku lewati begitu saja.

Beberapa waktu yang lalu, aku menghentikan langkahku tiba2. Aku berhenti, dan diam. Aku diam untuk beberapa lama di suatu titik. Diam...dan berpikir. Aku berusaha merenungi mengapa perjalanan yang telah aku tempuh sekian lama ini terasa ada yang kurang. Serasa ada yang terlupakan dan terlewatkan. Aku diam untuk beberapa lama di titik itu. Kubiarkan orang di sekitarku bertanya2 dengan kediamanku itu. Kubiarkan orang2 di sekitarku terpana dan curiga dengan kediamanku itu. Karena aku memang hanya ingin diam...dan berpikir...

Setelah aku memilih dan melakukan aksi diam beberapa waktu, aku memutuskan untuk mengambil sikap saat itu juga. Aku memutuskan untuk kembali melangkahkan kakiku, dengan keyakinanku yang baru. Aku melangkahkan kakiku untuk menambal kisah yang berlubang, dan untuk mengisi ruang yang kosong. Dan yang pasti, aku kembali melangkah untuk menuju sesuatu yang lebih besar, lebih nyata, dan memang seharusnya....

Aku melangkahkan kakiku kembali, namun tidak lagi ke depan. Saat ini, aku memilih untuk melangkah mundur. Jauh memang untuk bisa mengulang dan melakukan upaya tambal sulam, namun setidaknya aku telah mengusahakannya. Aku yakin bahwa Tuhan ada dimana2 dan akan memberikan petunjuk padaku, kapan dan bagaimana aku harus memulai melangkah maju lagi. Suatu saat nanti....

Membuat langkah mundur bukan berarti buruk. Hanya berusaha melepaskan diri dari sikap naif saja. Melihat realita, dan melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai seorang saudara seiman dan saudara se umat manusia.

Tidak ada yang salah atas keharusan langkah mundur ini. Hanya saja, banyak sekali pelajaran yang seharusnya bisa aku petik, agar tidak terulang lagi suatu saat kelak. Semoga saja, ini adalah kali pertama dan sekaligus terakhir untukku harus berjalan mundur. Karena sesungguhnya semua ini menyakitkan dan meninggalkan torehan luka yang cukup dalam....

Thursday, December 17, 2009

Manusia DO dari Psikiater

Hari ini, aku baru mendapatkan sebuah update berita dari salah satu rumah singgahku.
berita mengenai kambuhnya penyakit orang, yang nampaknya pernah DO dari penanganan psikiater. Sungguh sebuah cerita memilukan karena orang itu bukanlah orang idiot, bukan orang yang tidak berpendidikan. Bahkan saat inipun dia sedang menjalankan studi masternya....wuih...memprihatinkan....

Salah satu anggota keluarga kami (mbak X) sedang berbahagia karena kembali mendapatkan amanah dari Tuhan untuk merawat dan mendidik kembali seorang bayi. ya...mengandung. Anak kedua tepatnya. Anak pertamanya sudah duduk di kelas 2 SD (si Y) Sungguh berbahagia nampaknya dapat merasakan pergerakan2 sang jabang bayi, meskipun harus hidup jauh dari suaminya, yang berada di Pulau Sumatera.

Namun, di tengah kebahagiaannya itu, mbak x harus merasakan kesedihan sekaligus. Si X harus dirawat di rumah sakit karena di deteksi terkena penyakit demam berdarah (DB) setelah sebelumnya terjadi salah deteksi (disangka thypus) oleh dokter. Si X harus di rawat di sebuah kamar di lantai 3, sebuah rumah sakit ibu dan anak di Bogor.

Si Ibu (mbak X) yang sedang mengandungpun tidak ada pilihan lain selain menemani dan menunggui salah satu buah hatinya itu. Sayangnya, semua terjadi begitu tiba-tiba dan tidak terkontrol oleh saudara2 kami yang lain. Sehingga tidak ada saudara kami yang lain yang bisa menemani dan membawakan keperluannya di hari pertama masuk rumah sakit.

***

Selain berisikan dengan penghuni yang sama2 telah menganggap diri masing2 sebagai teman dan saudara, rumah singgah kami juga berisi dengan satu orang yang bergabung kesana hampir bersamaan denganku. Dia (Si Z) sedang menyelesaikan kuliahnya untuk jenjang S2 di sebuah perguruan tinggi negri di bogor juga.

Dia adalah orang yang berbeda. Entah kenapa, dari mula bergabung di rumah singgah kami (kata penghuni lama) dia sudah tidak bisa dekat dengan para penghuni lama. Begitu aku masuk kesanapun, begitu pula yang aku rasakan. Sulit untuk bisa bergaul dan bergabung dengannya. Dalam setiap pembicaraan, dia selalu menempatkan dirinya di atas awang. Mungkin hal itu yang membuat teman2ku merasakan kesulitan yang sama.

Pada awalnya dia memang tidak menyulitkan orang lain, hanya sekedar merasa lebih penting dari yang lain. Sehingga kamipun tidak merasa di rugikan dan merasa biasa saja. Tetapi, lama kelamaan rupanya tiba pula saatnya dimana gesekan2 mulai muncul karenanya. Semakin lama, semakin banyak kasus yang timbul karena keangkuhan dan ke aroganan dia, yang membuat hampir semua penghuni lebih memilih menghindari dia.

***

Dan update yang baru aku dengan hari ini adalah benturan antara banyak pihak dengan si Z yang berlaku semakin menjadi2 dan semakin ngelunjak. Entah ada angin apa, hingga orang itu bisa berbuat begitu lancang dan tidak menggunakan hati nuraninya sebagai seorang teman, ataupun juga seorang manusia.

Ketika Mbak X sedang menunggui si Y di rumah sakit, suami Mbak X (Mas A) menelpon ke rumah singgah kami. Dengan harapan ingin meminta tolong kepada teman serumahnya, yang mungkin di anggap paling mungkin untuk menolong istri dan anaknya karena dia ada di tempat yang jauh.
Rupanya ketidak beruntungan memang telah di gariskan oleh yang berkuasa atas alam ini, sehingga ketika telpon berdering, si Z lah yang mengangkatnya.

Mas A : "Selamat siang mbak...saya suaminya X. Sekarang Z sedang di rawat di rumah sakit H karena sakit DBD. Tolong ya mbak...tolong bantu istri saya karena dia kan sedang mengandung. tolong catat rumah sakit dan kamarnya. siapa tahu mbak bisa kesana."

si Y : "Oh, maaf saya tidak bisa menolong anda..."

Mas A : " Mbak, tolong sekali mbak...Istri saya kan sekarang sedang hamil. Tolong sekali mbak. Mungkin istri saya memang tidak gaul dengan teman2 rumahnya, mungkin istri saya memang tidak ramah. Tapi tolong lah mbak... Dia kan sedang hamil, tolong bantu dia menjaga Z.."

Suami mbak X sampai memohon2 untuk bisa mendapatkan pertolongan demi istri dan anak pertamanya. Namun Z tetap tidak mau menolong, bahkan dia sampai menjelek2an mbak X di depan suaminya. oh my god...

Si Y : "Maaf, saya tidak bisa menolong anda. Istri anda jutek sama saya, jadi saya tidak kenal sama dia. Saya tidak berteman dengannya. Kalau mau minta tolong, sama yang lain saja..nih..."

Dengan kasarnya si Y menyerahkan telponnya kepada rekan kami yang lain yang saat itu ada di rumah. Untungnya, di rumah itu tidak ada lagi orang yang berhati batu seperti dia. Jadi, oleh teman yang satu itu, segera di perhatikan permintaan dari suami mbak X. Dan akhirnya, beberapa teman yang memang bisa menemani mbak X dan bergantian menjaga Z segera meluncur ke rumah sakit itu.

Mengherankan..... Bagaimana bisa dia yang mengaku seorang muslimah, dan bahkan pernah mengaku sebagai anak ketua adat (belum di kroscek keabsahan datanya) bisa sedemikian teganya. Dia tega berkata begitu kepada orang yang benar2 membutuhkan pertolongan. Tega mengabaikan permohonan seorang lelaki (yg sering gengsi memohon sama org lain apalagi cewek). Dan dia tega melakukan itu pada teman satu rumahnya sendiri.

Sungguh mengherankan dan sulit di bayangkan bagaimana dia bisa menjalani kehidupan yang seperti itu. Masih muda, belum menikah, sedang bersekolah, masih panjang perjalanan hidupnya, namun tidak memiliki hubungan sosial yang baik dengan orang2 di sekitarnya. Bagaimana dia sanggup bertahan di lingkungan yang semakin keras ini tanpa adanya teman, sahabat dan saudara?

Hidup di perantauan sangatlah berat apabila kita tidak bisa membawa diri dan mencari teman sebanyak2nya. Memang dia sering berkata dengan semua keangkuhannya bahwa dia akan tetap bisa hidup dengan caranya sendiri. Dia memang tidak suka dengan orang yang bla..bla...bla....Tapi? come on gals.... This is live....realita...fakta...bahwa kita butuh teman. Kalau dia memang menggunakan otaknya dengan baik, seharusnya dia ingat bagaimana sengsaranya ketika dia sakit dan tak ada seorangpun yang memperhatikan dia, menolong dia, ataupun memanjakan dia. Bahkan saat itupun dia protes tentang itu. Kenapa tak ada seorangpun yang memperhatikan dia....hahahha...jadi tertawa miris aku di buatnya...

Selidik punya selidik, rupanya dia pindah dari rumah singgahnya yang dulu dengan meninggalkan kasus yang tak kalah mencengangkan. Hal2 yang akan membuat kita berdecak kagum manakala membayangkannya. Dan ternyata juga, dia menceritakan kepada salah seorang penghuni rumah singgah kami bahwa dulu dia sering berobat ke psikiater. hhhaaahhh?????

Dalam bercandaanku dengan teman2 tadi siang, kami membuat kesimpulan konyol bahwa mungkin saja dia korban DO (Drop Out) dari pengobatannya di psikiater dulu. Sehingga sakitnya belum sembuh secara total. Lebih parah lagi kesimpulan konyol yang di buat oleh salah satu teman kami si I. Dia berkata kemungkinan psikiater nya nggak sanggup menanganinya dan bahkan ikut menjadi stress dan frustasi gara2 penyakit si Y yang sedemikian parahnya. hahahha

Entahlah...Rasa emosiku terpancing ketika mendengar semua kisah itu. Dan kembali miris ketika melihat kondisi mbak X yang sedang hamil hanya sendirian menunggui Z di rumah sakit. Semoga semua orang mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah masing2 lakukan dalam kehidupannya. Yang baik dan yang buruk akan selalu di perhitungkan dengan adil seadil-adilnya... Cepat sembuh ya Z....

Satu pertanyaan yang masih dan selalu terngiang2 dalam benakku :
"Bagaimana bisa dia menjalani hidupnya seperti itu????"

Wednesday, December 16, 2009

Cute Gift


Hari ini, aku mendapatkan oleh2 dari teman dan sekaligus big boss ku. Hehehe….dapet apa coba? Ya…dapet Hand and Body Lotion. Plus kaos tentunya…. Aku pengen sedikit berbagi tentang lotion-nya saja ya….


Sewaktu lotion dan kaosnya di berikan, aku hanya bisa berkata “thanks a lot mbak…”. Dan begitu sampai rumah, aku langsung mencobanya. Maaakkk….wangi buanget boo….seger deh. Iseng2 aku browsing di internet merek ini barang. Weeekkk….dia ini rupanya termasuk produk yang branded gitu deh..hahaha


Dasar aku ini memang katro untuk urusan kosmetik, jadi ya mikirnya datar2 ajah…hahaha…payah memang… rupanya, brand dari barang ini memang terkenal untuk orang yang memang ber-Gaol akrab dengan dunia kecantikan. ^_^


Alhamdulillah…. Emang sepertinya ini sudah waktunya untukku untuk mulai menjamah dunia yang dulu aku anggap tabu itu (hahah…lebay). Kalau kata orang mah, udah tuntutan umur… hehehhe


Again, thanks a lot mbak…


Wish all de best for you… ^_^

Refleksi Diri Untuk-Q Sendiri

Sebenarnya malu untuk mengakui aib yang dimiliki diri sendiri. Namun, aku memberanikan diri untuk mulai mengungkapkan satu aibku sekarang. Aibku yang sudah di buka juga oleh Saykoji dengan lagunya. Dalam lagunya ini, Saykoji benar2 membongkar semua aibku, dan mungkin juga aib sebagian besar orang saat ini. Mengenai betapa addicted-nya manusia2 pada kemajuan teknologi yang bernama facebook, friendster, twitter, YM, Skype, dll…… yuk mari kita Online-Online…Online-Online…^_^

Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online-online-online-online

Tidur telat bangun pagi pagi, nyalain komputer online lagi
bukan mau ngetik kerjaan, email tugas diserahkan
tapi malah buka facebook, padahal face masih ngantuk
beler kaya orang mabuk, pala naik turun ngangguk ngangguk

sambil ngedownload empitri, colok iPod USB kiri
ngecekin postingan forum, ape ade balesannye? Belum

biar belum sikat gigi belum mandi tapi kalo belum online paling anti
liat friendster, myspace, youtube, me and HIM, everybody you too


reff:
siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online-online-online-online
jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu aku online-online-online-online


Nah uda mandi siap berangkat, langsung cabut takut terlambat
tak lupa flashdisk gantung di leher, malah lupa sepatu jadi nyeker

flashdisk isinya bokep ato lagu, kalo ada kerjaan pun gue ragu
kalo emang berani coba pada ngaku, cek isi foldernya satu satu

Di kantor online pake proxy, walau diblok server bisa dilolosi
namanya udah ketagihan internet, produktifitaspun kepepet
Jam kerja malah chatting YM, ngobrol online sama ehehem
atasan lewat langsung klik data pura pura kerja didepan mata


Reff:
Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online-online-online-online
Jari dan keyboard beradu, pasang earphone denger lagu aku online-online-online-online


Makan siang pun aku cari sinyal wi – fi, Mengapa ku kecanduan oh why why
kadang terasa bagai tak berdaya, ingin ku berubaah... Eh, ada email uda dulu ya

cek email spam semua, email benerannya cuma dua
yang satu email lama yang satu forwardan yang sama

Ngarep komentar buka friendser, loading gua tinggal beser
pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server
Yauda download lagu, bajakan gratis gak pake ragu
Saykoji satu album, setengah jam bisa rampung
Sore sore bosen hambar, ide nakal cari cari gambar
download video dengan sabar ketauan pacar digampar


Note :

God, Please tell her to save my life……to escape from this “Sustainable Stupidity”…….. to become a better person with more and more experience…..^_^ Beri aku lagi...dan lagi....(ngarep*mode on)