Monday, September 28, 2009

Still and Always

Seperti biasa.....

Selalu tak tertuliskan satupun ketika teramat sangat banyak hal yang layak, hendak dan ingin dituliskan disini. but, its okay....no worry be happy.
Semua terlukis jelas di depan mataku dan tersimpan rapi dalam memori di kepalaku.

sayanganya, semua keindahan dan kedahsyatan cerita yang kupunya, harus ditutup dengan ketidak jelasan dan rasa galau.

Saat ini, hanya satu kalimat yang bisa mendefinisikan apa yang sedang aku rasakan.

"Ketika kotak ini terisi penuh dengan berbagai macam hal, tiba2 terenggut paksa sebagian isinya hingga aku merasa hampa."

Tapi aku masih dan akan selalu percaya bahwa ini akan terasa indah pada waktunya.... :)

Tuesday, September 8, 2009

Dia yang Memilih Melangkah Bersama Orang Itu

Aku memiliki seorang teman, seorang sahabat. Kami cukup dekat untuk dikatakan sebagai teman, tetapi masih kurang dekat untuk dikatakan sahabat sejati. Bukan hal yang penting apakah dia teman biasa, teman dekat, sahabat, ataupun sahabat dekat. Yang lebih penting adalah bahwa kami sama2 peduli dan saling menyayangi.

Dulu, kami sempat berpisah untuk beberapa lama, dikarenakan sebuah kesalahan yang telah diperbuatnya. Meskipun setahuku dia hanya melakukan satu kesalahan. Menurutku, kesalahan yang dia lakukan hanyalah karena dia terlalu percaya atau percaya 100% kepada laki2 itu. karena dia terlalu percaya pada laki2 itu, maka dia terperosok ked alam lubang yang cukup dalam dan gelap. Dan dia harus membayar kesalahan yang semata wayang itu untuk waktu yang lama.


Waktu itu, dia kembali. Saat dia kembali, aku dan mereka tidak pernah bertanya padanya “kenapa, bagaimana bisa, bagaimana ceritanya, koq kamu bisa begitu”. Kami diam dan menerima dia apa adanya. Kami merasa tak perlu menanyakan sesuatu yang pernah melukainya. Biarkan saja luka dan kesalahan itu disimpannya rapat2 dalam kotak pandoranya. Kami menerima dia seperti layaknya dia tidak pernah pergi. Welcome back my sister…. J


Rupanya, saat itu dia kembali dengan luka yang baru. Dia pergi meninggalkan kami untuk menyembuhkan luka lama, dan rupanya ketika luka itu telah terobati, dia harus menelan pil pahit dengan munculnya luka baru. Dia kembali terluka karena lelaki itu. lelaki itu tidak peduli padanya. Lelaki itu tidak menganggapnya sebagai sebuah berkah anugrah, dan mencampakkannya begitu saja. Berita mengenai lukanya yang baru itu, kami dengar bukan dari dia awalnya, namun pada akhirnya dia mengatakannya juga.


Kami berusaha menambal luka yang sudah terkoyak itu perlahan2, sampai dia kembali sehat seperti semula nampaknya. Saat dia kembali tegar, diapun mulai membuka hatinya kepada lelaki lain. sebuah langkah yang bagus untuk penyembuhan sempurna luka itu. beberapa saat di awal kedekatanya dengan lelaki kedua itu, terjadi beberapa hal yang membuat kami merasa ada keanehan. Mulai dari usaha penghilangan jejak, pengaburan fakta, pengingkaran, dan lain2. Kami berusaha mengingatkan, tetapi hanya sebatas kami boleh mengingatkannya. Tidak berani kami untuk melewati batas itu.


Setelah sekian lama berjalan dengan keanehan, akhirnya mereka bisa menjalin hubungan yang normal dan seperti layaknya relationship with someone. :P kamipun ikut berbahagia mendengarnya. Namun kemudian kebahagiaan kami kembali kami pertanyakan. Benarkah kebahagiaan kami ini adalah kebahagiaan pada tempatnya? Ataukah ini adalah kebahagiaan yang salah tempat dan justru tidak mencerminkan kebahagiaan sebagai seorang teman?


Pertanyaan itu muncul manakala dia memilih jalan hidup sendiri dan mulai memberikan jarak berupa sudut sekian derajat dari kami. Dia memilih untuk berjalan bersama dengan lelaki kedua itu sedemikian sehingga, bukan cara yang biasa kami ambil. Mereka bersama. Bagus memang untuk bersama, tetapi akan selalu ada konsekuensi dan tantangan didepan sana. Dan bukan tidak mungkin masalah akan timbul dari sana. Tetapi seperti yang aku bilang tadi, bahwa setiap pilihan memang selalu ada konsekuensinya, dan masalah itu berada di wilayah mereka yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak juga kami.


Suatu saat, ada orang lain yang mempertanyakan dia sebagai teman kami. Kami bingung harus berkata bagaimana. Karena dia tidak pernah menjelaskan ataupun memberitahukan kepada kami, maka kami hanya mengatakan apa yang bisa kami katakan. That’s it….


Dan belakangan ini, terdengar lagi pertanyaan2 dari parapihak yang mengabarkan kabar burung. Oh my god….i hope this is not really did. Hope it just a gossip. Wish Allah keep bless you my sister… amin

Monday, September 7, 2009

Kekompakan di Dalam Kesenangan

cuma ingin berpendapat saja sebenernya...

terhadap sebuah gerombolan yang hobi mengatakan diri mereka :
"paling kompak, paling jago, paling keren, paling hebat"

memang sih, kompak.
tapi koq cuma kompak pas seneng2 aja sih...
liburan kesana kesini....
makan disana disini...
ngejilat kesono kesini....
ketika ada satu yang dirundung duka, pada kemana?????
ketika satu hampir terperosok jurang, pada kemana?????

emang sih jago.
tapi koq jago ngejilat aja sih....
jila sana sini
nyolot sana sini
nempel sono sini
pengen nampang sana sini
ketika rumahnya membutuhkan mereka, pada kemana?????
ketika rumahnya dihina dina, membela siapa?????

emang sih paling keren.
tapi koq penampilannya doank yang keren....
biasa hidup keren kali ya...
biasa sama yang keren2 ya....
ati2 lho buat yang nggak biasa...bisa terbawa2 juga...

emang sih hebat.
tapi koq hebat kalau urusan cari muka sih....
kalau yang mentereng, ditebeng2
kalau yang borju, dirayu2
kalau yang berkuasa, dihamba2

hahahahahhahahahhahahahahahhahahaha

puas deh bisa nyolot disini gw...hehehe

salam,
wilis

Seminggu Dalam Karantina

Selama ini aku hanya mendengar istilah karantina untuk audisi2 di TV, serta untuk hewan yang unik, berpenyakit aneh, atau hendak dikirim ke daerah lain. tapi sekarang aku tahu bahwa karantina bukan hanya untuk hal-hal di atas. tepatnya, aku merasakan betul bagaimana rasanya di karantina.

berawal dari rasa lemas pada tubuhku yang menyebabkan aku malas pulang dan memilih tidur di sekret saja bersama anak2 pada hari jum'at, seminggu yang lalu. waktu itu, aku merasakan badanku panas dan aku menggigil. demam seperti biasa sepertinya. mungkin karena dua hari sebelumnya aku bolak-balik jakarta dengan naik kereta yang kebetulan dengan jadwal penumpang yang padat. sampai-sampai aku tak perlu berpegangan pada apapun saat berdiri, karena badan ikut terdorong ke kanan dan ke kiri tak menentu.

hari sabtu, badanku masih saja terasa lemas. bahkan diikuti dengan rasa ngilu pada sendi-sendi tulangku. aduh....mau bergerak saja rasanya sudah seperti orang mau melahirkan saja...:P

akhirnya sabtu malam aku tetap diam ditempat dan bergolek ke kanan dan kekiri bersama dengan keriuhan sekret. anak-anak yang lain sudah banyak yang mulai bertanya "kenapa, bagaimana, apa yang terjadi" padaku karena konon katanya mukaku sudah mulai memucat. namun aku tetap diam saja karena memang linu, ngilu, dan lemas ini masih saja bercokol di badan. saat sore hari aku memutuskan untuk berjalan2 keliling kampung di belakang kampus dengan-nya, aku melihat ada benjolan melepuh di sela jari tangan ku antara kelingking dan jari manis tangan kananku. aku bilang padanya :
"lho, koq muncul kayak gini ya?"tanyaku
"oh, kamu kayaknya panas dalam" katanya.

ya...mungkin saja aku kena panas dalam. soalnya tenggorokan ini memang berasa panas2 gimanaaa gitu. maka setelah puas keliling, aku kembali ke sekret dan bersantai. saat aku secara tidak sengaja meraba muka dan rambutku, entah kenapa aku menangkap sesuatu yang lembek dan pecah mencair. ada beberapa bagian seperti itu. aku langsung berdiri dan berjalan ke arah kaca sambil melihat2 bagian yang tadi seperti terkelupas. anak2 yang melihat perbuatanku kembali bertanya "kenapa, ada apa, apa itu". sedangkan akupun belum tahu.

lalu ada seorang anak yang rupanya si mpinx yang berkata padaku.
"wah, jangan2 kamu kena cacar air mbak..." toeeng....mungkin juga ya...
ok. diagnosa amatir selanjutnya adalah cacar air. dan hebohlah kami membahas tentang cacar air. ada banyak pendapat megenai tindakan selanjutnya setelah (kalau memang) aku terkena cacar air.
"kalau kamu kena cacar air mbak, kamu jangan kesini dulu."
"kalau kamu kena cacar air mbak, aku nggak mau deket2 kamu."
dan berbagai macam vonis mengerikan lainnya bermunculan setelah itu. hwaaaa.....mengerikan sekali jika memang cacar air itu muncul padaku.

dan Hari minggu pagi, badanku tetap saja belum menjadi enak, dan benjolan lepuh bertambah lagi di dadaku. hwaaa.....sepertinya memang something wrong with my body. minggu pagi itu, aku putuskan untuk mampir ke klinik dokter Katili dulu sebelum pulang. disana aku ditangani oleh seorang perawat sebelum akhirnya dokter turun tangan.

kata perawat : "kenapa mbak?"
Kataku : "nggak tahu nih mbak, badan 2 hari ini nggak enak banget, linu2. terus dari kemaren muncul ini (kataku sambil menunjukkan lepuhan yang pertama muncul di jari)"
Katanya : wah, ini sih cacar air...
(oh my god. sekarang diagnosa semi professional cacar air. what next?)
dan ketika dokter laki2 yang lucu dan ramah itu menanyakan hal yang sama dengan suster tadi aku menjawab dan melakukan hal yang sama. dokter itu langsung bilang :
Katanya : "oh, ini sih alergi" sambil menimang2 jariku. (walah, sekarang jadi alergi)
Kataku :" alergi apa cacar air dok? di dada juga ada nih..."
Katanya : " boleh liat yang didada?"
Kataku : "boleh aja"
Katanya : "oh iya dink...ini sih cacar air...ini bagian ininya...bla..bla...bla..."
(dan akhirnya diagnosa final dan profesional menyebutkan bahwa aku kena cacar air sodara2).
setelah urusan periksa, administrasi, obat selesai, akupun langsung menelpon induk semangku dan mengabarkan berita heboh abad ini.
Kataku : " mbak'e, aku kena cacar air nih..."
Katanya : "waduh...jangan deket2 donk kalau gitu.."
kataku : " makanya itu...gimana ya mbak..kalau rumah samping boleh aku pakai nggak mbak?"
Katanya : " oh, mau gitu aja?boleh aja. biar dibersihin dulu kalau gitu. nanti di antar2 ajah gitu ya.."
Kataku : " oh, itu sih gampang mbak. biarin aku aja yang bersihin mbak..."

dan bla..bla...bla...

akhirnya sampai dengan hari ini aku masih tinggal dirumah sebelah itu sendirian. ijin untuk ditemani orang itu sih ada, tetapi tidak aku gunakan karena mengingat etika terhadap tetangga. hehehe...nggak enak dilihat tetangga...hohohoho...

sendirian dirumah kosong, ditemani TV, lenny(laptop), soery(handphone), dan supplay makanan yang tiada henti membuatku nyaman. hehehe...keenakan malahan. seminggu pertama cacar aku nggak puasa karena obatnya banyak sekali. padahal 2 hari puasa di awal aku dapet tamu bulanan. jadi total hutang puasaku sampai saat ini adalah 11 hari. hwakakakkaka

meskipun enak, tapi bosan juga lama2...makanya begitu ada kesempatan keluar, aku pasti keluar. kabur....kalau tidak memikirkan nasib orang lain, sebenarnya aku pengen berlama2 diluar dan bergabung dengan manusia yang lainnya. tetapi aku tiada sanggup membayangkan banyak orang yang harus merasakan pegel, linu, ngilu, lemes, dan plenthingen kayak aku ini nantinya. huah...tidak...makanya aku harus bersabar sampai benar2 sembuh dari si cacar air ini.

semoga lekas sembuh wilis....amin