Monday, December 19, 2011

It's About Working

Ketika kecil, kita selalu di tanya orang seputar 'nanti besar mau jadi apa?'. Dan sebagian besar dari kita (aku yakin) akan menjawab dengan jawaban 'dokter', atau 'presiden', atau 'pilot', atau 'astronot', dan lain2. Itu yang biasanya dibilang dengan 'cita-cita'...

Seiring dengan berjalannya waktu, maka cita-cita dan impian kita untuk jadi apa itu akan banyak yang berubah dan beralih ke bidang yang lain, yang mungkin dulu (ketika kecil) belum masuk ke ranah anak kecil. Anak kecil kan tidak pernah berfikir bahwa ada pekerjaan yang bernama peneliti, wartawan, photografer, bussinesman-bussiness woman, pekerja bank, sekretaris, bahkan mungkin anak kecil juga belum pernah berfikir bahwa ada pekerjaan yang bernama PNS. Anak kecil adalah dunia dengan pemikiran yang hebat2 sedunia, namun dunia yang masih terbatas ruang lingkupnya.

Terlebih lagi, ketika kita sudah benar2 memasuki dunia kerja, maka tidak jarang apa yang dulunya menjadi cita2 masa kecil kita itu, akan semakin jauh dan jauh saja. Hingga akhirnya realita dunia membawa kita pada apa yang ada di depan mata kita saat ini, di Hari Senin ini. Inilah kita sekarang.... Kalau aku tinjau lagi ke belakang sana, ketika aku masih bergelantungan di pohon jambu dikebun bapakku bersama dengan teman2ku, atau ketika aku dan teman2 SD ku berlompatan kesana kesini di miniatur Peta Indonesia di belakang sekolah kami, maka apa yang ada di depan mataku sekarang ini adalah dunia lain dari apa yang kami impikan kala itu. :p

Tapiii.... Aku menyadari betul kenapa, mengapa dan bagaimana bisa semua itu bisa berlalu. Aku menikmati semua proses yang terjadi, dan menyadari sepenuhnya setiap pilihan dan konsekuensi yang muncul setelah pilihan2 itu. Sehingga, semua yang pernah kami ungkapkan saat itu, menjadi kenangan indah yang tetap menjadi kenangan indah, tanpa terlukai oleh akhir yang tidak sejalan ini. Dan apa yang ada didepan mataku saat ini, adalah kenyataan yang indah, yang akan menjadi kenangan indah pula suatu saat nanti... ehehehe

Pekerjaan, bekerja, mengerjakan, dan dipekerjakan...

Menurutku adalah kata2 yang terpisah, namun menjadi satu paket ketika kita berada di dalamnya. Tidak bisa dipisahkan oleh perasaan, emosional, egoisme, ataupun idealisme.

Meninggalkan bangku kuliah (atau sebelumnya), membuat kebanyakan dari kita diharuskan menerima kenyataan bahwa tibalah saatnya kucuran dana dari pusat moneter keluarga di hentikan. Dan tiba saatnya pula bahwa kita harus segera membuka mata, telinga, dan pikiran untuk berdiri tegak, dan melangkah tegap kedepan, menyongsong hidup dengan tanggungjawab sendiri. Dan mau tidak mau, langkah pertama yang harus di ambil adalah mencari pekerjaan.

Banyak di antara kita yang beruntung dengan langsung mendapatkan pekerjaan, namun banyak juga di antara kita yang kurang beruntung dalam hal mencari pekerjaan ini. Keberuntungan dan ketidakberuntungan inipun masih saja bisa digolongkan kedalam berbagai macam tingkatan, tergantung dari bagaimana orang menikmati semua proses dalam memanen hasil kerjanya. hehehe...

Dan aku, alhamdulillah termasuk orang yang sangat-sangat beruntung dalam hal mencari pekerjaan. Alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan, dan terima kasih tiada terhingga untuk semesta atas apa yang aku lalui, yang aku dapat, dan yang aku jalani hingga saat ini. I am very lucky...

Untuk yang sudah mendapatkan pekerjaan, maka langkah yang kemudian dijalankan adalah bekerja. Kita bekerja di tempat kita mendapatkan pekerjaan. Di dalam bekerja ini, kita akan mengerjakan berbagai hal yang bermacam2 dan berbeda2 untuk setiap orang dan setiap tempat pekerjaan. Yang jelas, kita akan bekerja dan melakukan pekerjaan yang ada.

Terkadang, bagaimana kita mengerjakan pekerjaan juga menjadi sesuatu yang unik. Karena terkadang ada orang yang memang terbiasa dengan idealismenya, sehingga hanya mau mengerjakan apa yang tertulis di kontrak kerjanya, dan hanya mau berhubungan kerja dengan orang yang namanya ada di surat perjanjian kerjanya. Tidak dengan bagian2 yang lainnya.

Aku pernah berbincang dengan teman seperjuangan yang sudah bekerja dalam satu bidang pekerjaan. Sebut saja namanya "bunga". :)

Malam itu kami saling menceritakan pengalaman2 kami dalam bekerja di tempat pekerjaan kami, dan membicarakan apa yang kami kerjakan. Temanku menceritakan bahwa dia mendapatkan request pekerjaan dari beberapa atasannya akhir2 ini. Dan dia merasa tidak suka dengan itu, karena menurutnya dia hanya bertanggung jawab pada satu orang saja. Kamipun mendiskusikan perasaan terganggunya itu.

Menurutku, temanku itu berhak untuk merasa tidak suka di perintah atau diminta mengerjakan pekerjaan orang lain, jika dia sudah memiliki job description sendiri. Banyak orang melakukan hal yang sama dengannya, yaitu hanya akan mengerjakan apa yang menjadi bagiannya saja. Sah2 saja dan tidak melanggar peraturan koq. Hanya saja itu berbeda dengan paham yang aku anut. Aku yang menganut paham akan kukerjakan selagi bisa, dan akan aku kerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan tempat kerjaku, karena aku tidak hanya bekerja untuk orang, melainkan untuk tempat kerjaku. Secara otomatis aku menganggap semua pekerjaan orang2 di tempat kerjaku adalah untuk tempat kerjaku, jadi memang sudah sepantasnya aku mengerjakannya. Itu pahamku.... bagaimana dengan pahammu? Hehehehe.... korban iklan deeehhh.... :p

Belakangan ini aku menemui teman yang lebih berbeda dariku dan dari temanku yang sebelumnya. Temanku ini kelihatannya sangat tahu pasti apa yang di inginkan nya, tahu pasti bagaimana cara untuk meraih impiannya, dan tahu pasti apa yang harus di lakukan dan tidak dilakukan untuk membuat apa yang diimpikannya itu tercapai. Hanya saja dari kacamataku, dia melupakan kenyataan bahwa selalu ada kekuatan selain jabatan di suatu lingkungan kerja.

Sepertinya temanku ini memiliki cita2 yang lebih tinggi untuk perjalanan karirnya. Ya memang seharusnya begitu kan... Namun dia menjadi lepas kendali dan hanya bersedia mengerjakan sesuatu yang menurut dia menjadi porsinya, dan menolak mentah2 tugas lain, meskipun sebenarnya dilihat dari kaca mata kudapun adalah tanggung jawabnya. Temanku yang percaya diri ini justru menganggap harga dirinya akan turun jika dia mengerjakan tanggung jawabnya itu. *tepok jidat* Pelik sekali dunia pekerjaan bukan? Hahhahaa....

Yaaa.... seperti yang sudah aku bilang, semua itu hanya tergantung pada bagaimana kita merasakan, mencintai dan menjalankan roda kehidupan kita. Yang dipekerjakan tidak akan merasa dipekerjakan jika kita mencintai pekerjaan kita. Yang ada hanyalah kita yang mengerjakan pekerjaan yang kita cintai... hohohoho....

Jadi, antara cinta dan pekerjaan janganlah di kotak2an.... Betul? Betuuullll..... :p

Friday, December 16, 2011

Misscomunication

*Jedotin kepala ketembok*

Sepertinya, kelamaan bergaul dengan komputer, dan jarang bergaul dengan manusia nyata, membuat kemampuan berkomunikasiku semakin memburuk. Apa yang ada di kepalaku, aku sampaikan (rasa2nya) dengan cara biasanya, namun ternyata diterima dengan sudut pandang lain sama orang. Dduuhh....

Apa sense of humorku sudah menghilang ya? ck..ck..ck..

*buru2bongkarbukunya raditya dika*


Wednesday, December 7, 2011

Happy 5th Birthday SFP !!!

5th Birthday....
Become bigger and stronger...
Become homey to everybody...
Happy birthday SFP...!!! ^_^

******

Yuuhhuuu.....

Setiap tahun, umur selalu bertambah. Umur siapapun, dan umur apapun. Umurku, umur kita, dan umur SFP!!!. :)

Tahun lalu, perayaan SFP dilakukan di Bali, dan tahun ini dilakukan di Hawaii... Ppffiuuuhhh.... (Kalau melihat pemilihan kawasan yang mempunyai 'pantai yang indah dan terkenal', mudah2an tahun depan perayaannya dilakukan di Maldives). Let's cross our fingers friends... ^_*

Di ulang tahun yang kelima ini, rupanya terlihat bahwa kantorku tercinta ini sudah sangat berkembang dan beranak pinak. Pertambahan orangnya semakin cepat. Ciihhhuuyyy.... Senangnyaaa... :)

Acara ulang tahun pasti akan terasa sangat kurang kalau tidak ada potong kue atau potong tumpeng. Dan di Hawaii nampaknya sangat sulit menemukan toko tumpeng, karenanya kita akhirnya melakukan pemotongan kue. Assyiikk.... Eh ternyata, bukan hanya 1 kue yang harus dipotong, tetapi 5 kue. Astaga.... sedikit lebay dan alay nggak sih? Jangan2 nanti kalau ulang tahun ke seratus, kita akan potong 100 kue juga? Tapi nggak papa, kue nastar aja kalau gitu. hwekekeke.....

Pemotongan kue dilakukan di rumah pak bos besar yang elok sekali (hahaha, elok? kayak orang malaysia banget yaks). Rumahnya menghadap Diamond Head donks. huhuhu.... so envy... Pertama kali memasuki pekarangan rumahnya pak bos besar, yang terucap cuma satu kalimat... "Wah, rumahnya sangat Indonesia sekali...!!!" Tak lupa dengan mata berbinar dan takjub.

Kenapaaa? Karena halaman rumahnya pak bos besar ini ditanami tanaman2 tropis yang dulu ada di kampungku semua. Sebut saja yang namanya tetehan, kembang mangkok'an, keris2an, palem, kembang sepatu2an, dan masih banyak lagi tanaman2 Indonesia banget itu. Dan setelah masuk ke bagian dalam rumah? Hehhee.... berasa masuk ke mirota batik. Perabotannya dari kayu, taplak - gorden - sarung bantal kursi nya dari batik. Souvenir2nya dari kayu dan motif batik. Hiasan2 yang ada di lemari pajangan juga kebanyakan barang2 etnik dari Indonesia. Oohhh..... *Sing* It feels like home, to me.... it feels like home....


Dengan sibuknya kami (aku dan beberapa orang doank) main jepret sana jepret sini mengambil sudut2 rumah untuk dijadikan tempat berphoto. Background Diamonhead, birunya pantai, dan jernihnya langit membuat kenyamanan yang tak terhingga. Pantesan pak bos besar dan bos nyonyah ini membatalkan niatnya tinggal di Indonesia. Persaingan yang tidak terlalu sulit untuk di pilih kalau begitu. Indonesia dan Hawaii. Berasa hidup di surga dunia... syalala....lala...lala....


Sambil menunggu makanan siap dan orang2 berdatangan, kami berkeliling rumah, melihat sana-sini, mengobrol sana-sini, dan menjepret sana-sini. Aku sangat terobsesi untuk bisa mendapatkan photo yang bagus dengan background Diamond head. Karenanya aku banyak berphoto di bagian samping rumah pak bos besar. Tapi rasanya, sessi pemotretanku itu kurang maksimal karena aku jadi demam panggung. Lokasi pengambilan gambarnya berdampingan dengan lokasi pusat orang2 ngobrol. Jadinya aku mirip seperti topeng monyet yang sibuk berlenggak-lenggok yang ditonton gratis oleh masyarakat. Ck..ck..ck... Pasti dalam hati mereka berkata "penyakit macam apa ya yang diderita anak ini? photoooo melulu kerjaannya". hahahhaa.... Maaf pak, ini namanya penyakit noraknya orang Indonesiah... :))))

Makanan yang disediakan bos besar
dan bos nyonyah juga mantabs sekali. Makanan 4 sehat 5 sempurna plus 1 lagi perkasa deh. hahahaa. Semua makanan yang disuguhkan enak rasanya, kecuali 1. Lidahku rada susah menerima olahan ikan yang kurang berasa itu. Maklum, di rumah biasa dihajar pakai cabai dan bumbu2 yang rasanya luar biasa, terus musti makan makanan yang rasanya cuma bau ikan aja? *tepok jidat* addoohh....

Nah, untuk acara makan ini, ada lagi kisah klasik yang terjadi. Ck...ck...ck.... (*Guardian Angelku langsung bilang: Wils, bisa nggak lu menghindari sesuatu yang rada2 aneh? be safe, be nice, dan be cool gitu?) hehehe. Jadi kali ini ceritanya adalah seputar daging. Pengennya sih diceritakan detailnya, tapi menimbang dan memperhitungkan kelebihan dan kekurangan yang bisa terjadi sepertinya lebih baik di keep aja. Intinya adalah please, let me eat everything without regrets, don't speak anything about everything before eating. :)))))

Setelah lelah berphoto dan makan,
akupun bergabung dengan orang2 yang sibuk berbincang2 di sudut halaman. Spot yang sangat sempurna untuk mandi sinar matahari sore. Kami semua mentertawakan hobi berphoto orang2 narsis jaman sekarang, terutama kaum muda2 (seperti sayah...hueekk...cuiihh...).

Temanku Jack, yang juga bekerja sebagai pengajar, mengatakan bahwa dia juga punya mahasiswa bimbingan yang hobinya photo. Diapun menunjukkan beberapa photo yang pernah dikirimkan mahasiswanya itu. Oh no...

ternyata mahasiswanya itu sama narsisnya dengan anak2 Indonesia jaman sekarang. Hobinya photo di depan laptop dengan berbagai posisi dan raut muka. Yang membuat aku heran adalah, ngapain juga itu mahasiswa kirim2 photo begituan ke dosennya? hahaha, ada2 aja.

Semakin sore, semakin ramailah spot tempat kami berbincang2. Kejadian yang mengharubirukan hatikupun terjadi disitu. Kenapa? Karena tiba2 ada 1 teman kerjaku yang orang Russia, mendatangi kami dan berkata "Tolong dong, ambilkan photoku bersama dengan Wilis.." Gubrakkkk..... Rasa terharu yang mendayu2 langsung menyusup ke jantung hatiku. Tumben ada orang minta photo sama aku? Biasanya, aku yang sibuk minta photo sama orang... huhuhu... pengen ngurek2 tanah nih jadinya... hahahhahaa....

Dan ternyata, ada lagi satu orang Portugal yang datang dan minta photo juga sama aku. Addduuhhh..... mimpi apa aku yah.... kataku dalam hati. Mungkin mereka merasa sangat jarang ada kemungkinan dan kesempatan photo bersama orang gila tanpa takut diserang, dan yang bisa berkomunikasi dengan baik begini. hweekekkkekkekee.....

Oh iya, satu lagi kejadian mengharukan yang membuatku senang, masih berhubungan dengan photo. Akhirnya aku bisa photo bersama dia yang namanya tak boleh di sebut (halaaahh... lebay!!!). Keinginan untuk photo bareng sudah ada sejak awal, tapi malu dan ngeri dibilang norak membuatku undur diri. Eh ternyata, malam itu ada saja jalan menuju ketujuan yang muncul secara tak sengaja. :))))

Karena banyaknya orang yang pegang kamera, jadi memang acara makan malam itu dengan cepat segera berganti menjadi acara photo session. Siapa saja di photo, apa saja di photo, banyak yang minta diphoto begini, begitu, begini, begitu, okelah pokoknya. Daaaannn.... jerengjreeng.... Si Bos nyonyah mendadak muncul dan bilang ke whosoever yang pegang kamera "can you please take my picture with tttuuuutttt.....(sensor_red)". Ow...ow.... kesempatan nih.... kudu cepet disamber.... *kataku dalam hati. :p

"Ehm.... Wendi.... after you....(kataku sambil menunjukkan jari kadadaku sendiri dan ke arah dia yang namanya tak boleh di sebut)".
"Oh my god wilis.... again? ok then...."

Hahahhaa.... Dan setelah bos nyonyah selesai photo bersamanya, aku langsung maju mengambil posisi. Karena ini termasuk kesempatan yang rada langka, akupun bersiap untuk berpose semanis mungkin. Eeeehhh.... belum juga pose pertama selesai dilakukan, teriakan bergemuruh sudah terdengar dari dalam rumah. Seriously???? Walaahh, ternyata teman2ku yang mengetahui akal bulusku untuk berphoto dengan dia yang namanya tak boleh disebut, dengan semangadhnya menyorakiku....
"Hahahhaa.... wilis... ok... dasar.... bla...bla...bla..."

Pppffiiuuuhh..... Jadinya aku grogi dan ti dak lagi khusyuk melakukan sessi photo itu kan? ck..ck...ck... sayang sekali.... Ya sudahlah, tidak apa2. Masih ada beberapa photo bersama yang bisa aku crop bagianku bersamanya koq... heheehehhee.... :p

Akhirnya, sampailah pada penghujung waktu yang mengharuskan kami pulang kembali ke hotel di Kampus University of Hawaii. Tappiii.... dari sekian banyak photo yang dihasilkan, ada 2 photo yang paling terfavorit pilihanku sendiri. hehhehee.... Yaitu photoku bersama dengan beberapa board member yang sedang terjangkiti virus 'narsistis ala wilsss'... ^_*



Tuesday, December 6, 2011

The Place Is Doesn't Matter

Kalau kata sebuah iklan komersial di tipi :
"Apapun, kapanpun, dimanapun...."
"Apa saja, kapan saja, dimana saja...." ^_*


******

Selama kegiatan annual meeting waktu itu, sebetulnya aku merasa sangat sedikit bergerak. Terlebih bergerak dalam artian gerakan gaya ketika narsis. hehehe....

Berada di lingkungan orang2 serius, membuatku sedikit merinding disko dan sungkan bergerak. Meskipun terkadang masih saja rasa 'tidak tahu malu' ku lolos, berhasil kabur, dan menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang norak2 bergembira itu. :p

Kenyataannya, banyak di antara teman-temanku itu yang membawa gadget alias alat2 yang bisa mem-photo. Mulai dari kamera betuuull, kamera pocket-an, kamera hp, dan mungkin kamera2 yang lainnya. Namun banyak juga di antara mereka yang seolah2 malu untuk mulai membidik dan menjepretkannya. Atau mungkin memang begitulah seharusnya? Tidak terlalu mengumbar kenarsisan? Hehehe... bisa saja....


Tapi menurutku, itu disebabkan tidak adanya pemicu atau penyulut. Setiap orang merasa sungkan, jadinya sama2 diam dan tak beraksi. Ppffiiuuhh.... ppffiiuuhhhh....
Sulit sekali menerima keadaan ini, ditengah perasaan dan keinginan untuk banyak di photo. hwekekeke...

Salah satu waktu dimana aku kecolongan (sikap cool) adalah ketika tiba saatnya pengambilan photo group.
Adduuhh....

Seolah2 ada pemantik yang dinyalakan di dekat kompor bensin, meledaklah hasrat yang telah lama terpendam ini. Menggila dan pethakilan tiada tara.

Siang itu, sebuah pengumuman yang terdengar seperti nyanyian surga (lebayyyyy....) di lantunkan temanku Lani. Dia mengatakan bahwa "people... group picture after lunch... group picture after lunch.... ".

Dzing...dzing... rasanya, sel2 otak yang sudah beberapa lama membeku ini, kembali diserbu aliran darah dengan cepatnya. Segaaarrrrr.... :)))

Dan long short story, group picture pun segera dilaksanakan. Pengambilan gambar ini dilakukan di taman belakang bangunan Lincoln Hall. University of Hawaii ini ternyata memiliki banyak sekali taman, yang mengangkat tema berbagai negara. Taman Korea, Taman Cina, Taman Jepang, dan lain2.

Nah, taman yang kami gunakan untuk pengambilan photo group adalah taman Jepang. Entah mengapa taman tersebut disebut taman Jepang. Karena aku tidak menemukan bunga sakura, patung orang2 sipit, ataupun hal2 lain yang berbau jepang2an.

Yang aku temukan di taman itu hanyalah kolam dengan ikan hias yang cukup besar, dialiri air yang mengucur dari bebatuan, dan dinaungi pepohonan kamboja. Berasa di Gunung Bunder gitu deh.... :p

Setelah beberapa kali jepret, akhirnya kami semua bubar. Beberapa orang di antara mereka masih saja berdiskusi. *Tepok jidat* Adddooohh.... Orang2 ini, nggak ada kerjaan lain apa ya selain membicarakan pekerjaan? Hehehe...

Dan diantara sekian banyak orang itu, terlihatlah 2 orang bocah perempuan (Bocah??? kakakkaa...) yang kasak-kusuk, terlihat sedang menggoda seorang bocah lelaki.

Ouch...ouch... ternyata kedua bocah itu sedang berusaha membujuk si bocah lelaki untuk mem-photo mereka. Udah tau kan siapa kedua bocah perempuan itu? :)))))


Yuppss... Siapa lagi kedua orang yang pethakilan dan narsisnya minta ampun itu selain Wilis dan mbak Dessy? hhahaha.... Nggak ada lagi. Mereka doank lah pastinyah. Daaann.... siapa lagi orang yang bisa diminta sebagai korban untuk menuruti keinginan kedua orang itu selain Jack? hehehe... Nggak ada juga. Cuma Jack yang mau dan pasrah harus mau kayaknya.... :p

Dengan semangadh, merekapun segera mendaki bukit kecil di belakang dan sibuk berlenggak-lenggok dengan banyak gaya. Laksana berada di catwalk saja. Tengak sana - tengok sini, geleng kanan - geleng kiri, angkat tangan,
menawarkan perdamaian, bungkuk, miring, nungging, dan masih banyak lagi gaya2 yang 'sesuatu banget...'. :)))

Sebetulnya, photo group ini dilakukan 2 kali dalam 2 minggu masa annual meeting. Hal itu dikarenakan ada satu teman yang baru datang beberapa hari setelah annual meeting di mulai, dan beberapa teman yang akan pulang ketika annual meeting belum selesai.

Namun karena satu dan lain hal (yang sangat tidak bisa aku ceritakan) aku harus alpa pada sessi photo kedua. Hikss.... sedihnyaaa....

Yang aku ingat dengan pasti adalah bahwa saat itu pikiran dan hatiku menjadi bulat sebulat2nya mengenai pernikahan. Aku bakalan menikah, aku akan menjadi orang yang menikah dan berbahagia dengan pernikahanku nantinya. Amin. Memang benar kata orang bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Karenanya aku cukup mendapatkan pelajaran dari pengalaman2 yang kudapatkan. Mari kita menikah!!!!. Huuuyyeaaahhhh.... ^_^


Hanya satu peringatan yang bisa aku berikan untuk kalian, setelah belajar dari pengalaman ini. "Don't try this at home....!!!!!!" ^_^

Friday, December 2, 2011

Meet And Greet, Working, and Make a Story

Senang sekali rasanya diberi kesempatan untuk bisa jalan2. Meskipun jalan2 dalam rangka pekerjaan, tetapi rasanya lebih ke jalan2 betulan. Dan yang lebih membuat senang adalah kesempatan untuk kembali bertemu dengan teman2 kerja yang (kebanyakan) hanya bisa bertemu setahun sekali ini. Waahh.... Bisa ketemu sama mas2 yang itu lagi? hahahaha.... (eitz.... nakal sekali...) :p



Disiplin yang sangat tinggi....

Itulah satu hal yang sangat aku rasakan ketika berada di University of Hawaii. Sangat berbeda dengan Indonesia. Bukan berarti Indonesia memiliki semua keburukan di dunia ini, namun untuk hal kedisiplinan, Indonesia memang kalah jauh. Namun begitu, jika kita lihat dari sisi positifnya (see, selalu saja ada keuntungan di balik ketidakuntungan), akan terasa banyak sekali keuntungan tinggal di Indonesia dengan segala ketidak disiplinannya lho....

Salah satunya ketika kita harus memulai acara (meeting) jam 8 pagi. Kalau di Indonesia, meeting Jam 8 pagi, kita bisa mulai masuk ruangan jam 7 bahkan kurang. Tinggal bilang ke bapak2 yang pegang kunci, dan jreng2.... Kapanpun kita mau, kita bisa pakai ruangan itu. Begitupun dengan waktu pulangnya. Kalau kita masih perlu ruangan, kita tinggal bilang aja mau pakai sampai larut. Note : Tinggal bilang = Uang rokok dan senyum paling lebar nan menawan.

Di Amerika ???

Hahaha.... It's not gonna happen. Bisa sih terjadi, tapi invoice tambahan yang angka hitungnya dimulai tepat 1 detik sebelum jam buka atau 1 detik setelah jam tutup akan segera dikirim ke bagian admin/logistik kita. Setiap kelebihan detik atau menit, akan menjadi tagihan kelebihan 1 jam kita. Tidak ada kata 'toleransi' untuk ini. Awalnya, aku yang harus bersiap2 dan mempersiapkan beberapa logistik untuk keperluan meeting tidak menyadari hal itu. Dan ketika petugas kebersihan/cleaning service membuka pintu dan melakukan pekerjaannya di ruangan, aku ikut masuk dan langsung setting ini-itu saja. Tapi sore harinya, aku mendapat teguran dari bagian logistik "Kamu tadi pagi masuk sebelum jam 8 ya? Kita jadi dapat tagihan lebih untuk penggunaan ruangan... "

Hehehe.... ya maap. Maklum, saya sangat Indonesia sekali dalam hal ini. hahhahahaa

Akhirnya, untuk waktu2 setelahnya, aku memilih untuk mencicil setting ini/itu di lorong saja. Lumayan juga. Paling tidak bisa menyalakan laptop dan memastikan pekerjaan2 yang kecil2 bisa selesai duluan, atau paling tidak bisa segera siap digunakan ketika waktu menunjukkan 'saatnya masuk'. :)


Seperti biasa, bukan wilis namanya jika tidak melakukan sesuatu yang konyol dalam tanda kutip norak. Scara kan salah satu semboyanku yang cukup terkenal adalah "norak-norak bergembira alias biar norak asalkan gembira selamanya". Hahaha....

Salah satunya adalah ini.... Kejadian norak-norak bergembira ini terjadi disebuah sore yang seharusnya khusyuk dan syahdu. Ketika Bos Besar sedang mengadakan presentasi penutupan yang mengutarakan perkembangan dan keberhasilan organisasi, aku sedang berusaha keras mendapatkan photo seluas mungkin di ruangan itu. Kenapa? karena aku dan salah satu rekan kerjaku baru menyadari bahwa koleksi photo 'yang benar2 meeting' kami sangat sedikit. Karenanya aku berusaha mengambil photo sebisa mungkin.

Di saat aku sedang khusyuk2nya cari angle dan posisi yang ok untuk menjepret, aku lihat dari kamera yang sedang ku bidik semua orang bertepuk tangan. Kemudian mereka semua memalingkan mukanya kearahku, sambil masih bertepuk tangan. Dan telingaku dengan salah dan seenaknya saja mendengar suara Big Boss bilang "....Clapping to Willis.... take a photo.... ". Jadi secara reflek, aku langsung menurunkan kameraku dan bergaya seperti orang dari Kerajaan korea yang memberi hormat. Tau kan? Posisi dua telapak tangan membuka di samping kepala, dan bergerak menunduk-berdiri beberapa kali? Plus tidak lupa mulutku mengeluarkan kalimat ajaib "thank you.... thank you..... " (hahaha... Pinterrrrr.....)

Dan semua orang dengan semangatnya langsung tertawa terbahak2 sambil terus bertepuk tangan. Ouw....ouw.... Baru deh aku sadar kalau 'something wrong' dengan telingaku. Rupanya pak Big Boss memintaku mengambil photo mereka semua yang sedang bertepuk tangan.... hwekekekeke..... Amazing kan? ck..ck...ck... Untung rasa maluku sudah terkebiri dari jauh2 hari, jadi semua tetap merasa happy... hwakakkaa. Dan ternyata photo yang aku dapat justru lebih lumayan lho.... semua orang bertepuk tangan sambil tertawa... Nah, terlihat semakin meriah kan? :p


Satu lagi cerita konyol yang terjadi adalah yang mengenai kegiatan download pelem illegal. Tapi cerita itu sudah pernah aku ceritakan sebelumnya. Jadi aku tidak akan menceritakannya lagi. Hanya akan menguak duka lama saja... hwekekekkee..... :p

Begitulah ceritaku dalam edisi pekerjaan. Banyak hal menarik, namun belum terungkapkan. Beberapa mungkin hanya akan menjadi kisahku sendiri, beberapa di antaranya akan mucul ke permukaan suatu saat. Believe me or not... :)

I wanna thank to Mbak Amal yang sudah dengan gigih mendorong dan memaksaku untuk berphoto di phodium. Salah satu adegan yang membuat aku terharu, disamping beberapa adegan yang lainnya. Hehehe.... Mengingat jarang sekali ada orang yang mendesak dan memaksaku untuk di photo dengan kamera profesionalnya. Kebanyakan dari cerita yang ada, akulah yang biasanya memaksa para photografer untuk memoto diriku ini. Ppffiiuuhhh.... Mbak Amal, engkau membuatku terharu sampai2 kepengen garuk2 tanah saja.... :)))


Mudah2an suatu saat nanti aku bisa kembali lagi ke ruangan itu (atau ruangan yang mirip dengan itu tetapi berada di negara yang sama) untuk benar2 bersuara. Bukan sekedar bergaya memonyongkan bibir, memegang mic, tersenyum, atau berteriak merdeka saja. Insya Allah, Amin ^_^


It was a great time in my life.... :)
Thanks for the opportunity....