Friday, May 28, 2010

Stop... !!!

Semua berawal dari sebuah kata, Stop...!!!

Satu kata yang cukup membuatku banyak berfikir, bercermin, menilai, dan mengerti.

Orang lain adalah orang lain... Orang lain adalah orang yang seharusnya berada d luar garis batas permainan... Orang lain adalah orang yang seharusnya hanya berhak menjadi penonton... Orang lain adalah orang yang tidak berhak ikut campur... Orang lain adalah orang lain...

Ketika aku mendengar sebuah kalimat yang mengandung unsur 'orang lain' itu, aku hanya bisa diam. Seperti biasa, dian dan menunggu semuanya berlalu... Menunggu dan berharap agar semuanya benar2 bisa berlalu. Ternyata semua memang berlalu di sekitarku, namun tidak di dalam sini...

Masih ada yang bertahan dan membandel... Tapi aku hanya bisa tersenyum dan meringis sedikit... Biarkan saja...

'Stop melibatkan semua orang lain dalam kehidupan kita'


Tuesday, May 25, 2010

Rest In Peace Ibu Ainun Habibie

Gugur Bunga ::: Lirik Lagu Wajib Nasional Musik Perjuangan / Patriotik Nasional Republik Indonesia

Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira

Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

******

Indonesia menangis lagi. Salah satu putri bangsanya pergi dalam damai menuju peristirahatan terakhirnya. Mantan Ibu Negara Ibu Ainun Habibie.

Hari ini aku melihat prosesi pemakaman yang di lakukan secara militer di TMP Kalibata, sebagai wujud penghormatan terakhir bangsa ini kepada salah satu putri terbaiknya. Kembali aku merasakan haru yang teramat sangat.

Entah mengapa, pemakaman dengan upacara militer ini selalu saja membuatku merasa merinding. Suasana yang (di buat khidmat), urutan acara yang membuat semua proses terlihat nyata, suara tembakan pelepasan yang seolah ditujukan agar kita bangun dari mimpi, dan kumandang lagu gugur bunga yang menambah haru biru.

Aku mengikuti upacara militer beberapa pemakaman orang2 nomor 1 di negri ini, (semuanya) melalui televisi. Pemakaman Ibu Tien Suharto, pemakaman Bapak Suharto, dan sekarang, pemakaman Ibu Ainun Habibie. Semuanya meninggalkan kesan yang sama, terharu.

Di pemakaman Alm. Ibu Ainun Habibie ini, ada satu bagian yang membuatku ingin ikut menitikkan air mata. Yaitu ketika sampai pada acara tabur bunga yang di lakukan oleh pihak keluarga, di awali oleh Bapak Habibie sendiri. Aku melihat Pak Habibie menangis deras dan menyayat hati. Beliau memperlihatkan dengan jelas betapa beliau merasa sangat kehilangan. Tangisannya membuatku terhenyak, karena ikut merasakan besarnya cinta yang dimiliki oleh sepasang suami istri itu. Tangis Pak Habibie ketika melepas belahan jiwanya ke alam lain, tangis Pak Habibie ketika melihat istri tercintanya diam tak bergerak di liang kubur, dan tangis Pak Habibie karena kehilangan yang teramat sangat. Sedih.....

Pak Habibie yang pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia sebagai bapak presiden, terkulai lemas di kursinya. Menyaksikan anak, cucu, saudara, dan presidennya menaburkan bunga ke liang kubur istrinya. Semoga Tuhan memberikan tempat yang layak untuk Ibu Habibie, dan semoga semua yang di tinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan yang selapang2nya.

Rest In Peace Ibu Ainun Habibie.....
Do'a kami semua menyertaimu


Thursday, May 20, 2010

One Thousand Islands - Boy Scouts Islands

Minggu lalu, aku menjadikan hari Sabtu-Minggu ku sebagai waktu liburan. Tentu saja aku yang menganggap dan meyakinkan diri bahwa hari itu aku libur. Bersamaan dengan semakin mendekatnya hari Sabtu, rupanya datang pula satu alasan yang memperkuat tujuanku untuk pergi berlibur, yaitu sebuah tawaran untuk survey. Survey ini adalah survey pendahuluan untuk salah satu cabang usaha The Diva's Co. Akhirnya, aku, Ijah, Salmul, dan Pet berangkat bersama. :p
Pulau Seribu, tepatnya Pulau Pramuka adalah pulau yang akan kami tuju untuk pertama kali. Alasannya adalah karena aksesnya yang mudah. Dengan berbekal informasi yang menyebutkan bahwa kapal penyeberangan akan berangkat setiap 2 kali sehari, maka kamipun berniat mengambil jadwal penyeberangan sore hari. Rupanya, keberuntungan kali ini berkata lain. Informasi yang kami bawa dari rumah langsung di mentahkan oleh bapak2 operator kapal di Muara Angke.
"Kalau hari biasa, memang jadwalnya 2 kali sehari neng, Tapi kalau Sabtu semua berangkat pagi" katanya.

Dengan pasrah dan masih berharap Dewi Fortuna melompat dari khayangan untuk membantu kami, kamipun duduk2 di sebuah warung sambil ngobrol dan bersantai. Tak berapa lama kemudian, dari kejauhan kami melihat ada 2 perempuan turis mancanegara. Secara iseng kami mengamanatkan pada bule yang bersama kami untuk menyapa kedua perempuan itu, dengan obrolan sesama bule. Hasilnya, bergabunglah mereka di warung kami untuk mengobrol, karena rupanya mereka tidak terlalu memaksakan diri untuk berangkat hari itu. :p

Michelle dan Brenda. 2 perempuan dari Amerika, yang tinggal me-ngontrak di Jakarta, daerah Slipi. Mereka adalah 2 bersaudara yang terlahir kembar. Michelle bekerja di sebuah lembaga bahasa yang namanya American Conversational English. Kalau aku tidak salah tangkap, dia menerima jasa layanan bimbingan untuk para dosen2 pengajar yang berasal dari program lintas negara. Sedangkan Brenda sedang dalam masa penyelesaian Tugas Akhirnya. Michelle sudah cukup pandai berbahasa Indonesia. Dia selalu berkata "Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit" yang membuat kami tersenyum lebar.

Aku, dan yang lainnya rasanya langsung suka dengan gaya mereka berdua yang sangat terbuka. Mereka mengundang kami untuk menginap di rumahnya, agar dapat berfikir apakah besok kami akan kembali ke Muara Angke atau akan kembali ke Bogor. Mereka meyakinkan bahwa pilihan untuk menginap di pelabuhan ini bukanlah pilihan yang bagus. Mereka mengontrak 1 rumah yang memiliki 2 kamar tidur, dan salah satunya boleh kami gunakan. :)

Beberapa waktu kemudian, 2 ojek yang sudah menjadi langganan Michelle dan Brenda datang. Merekapun pulang terlebih dahulu, dan tetap membuka kesempatan pada kami untuk datang ke rumahnya. Kami yang masih belum memiliki keputusan, meyakinkan mereka bahwa kami akan menghubungi mereka secepatnya, ketika kami sudah memutuskan. Dan kamipun kembali luntang-lantung di Muara Angke.

Setelah puas menikmati aroma dan suasana Muara Angke, kamipun memutuskan untuk bertandang ke rumah Michelle dan Brenda. Mereka akhirnya mengirimkan alamat menuju rumah mereka, yang terletak di belakang Menara Peninsula. Kamipun segera mencari kendaraan yang menuju ke sana.

Masalah kembali muncul ketika terjadi kesalahpahaman antara aku, salmul, dan mbak2 yang ada di dalam sebuah minibus. Karena tempatku, Salmu, Ijah dan Pet berdiri terpisah, maka kami (aku dan salmul) yang buta peta Jakarta mencoba peruntungan dengan orang2 yang ada di sekitar kami. Seorang mbak2 berkerudung yang sedikit judes nampaknya lebih mending daripada bapak2 yang lainnya, karena kondektur bis nya pun tidak tahu lokasi Hotel Menara Peninsula.

"Mbak, bis ini lewat menara peninsulla bukan?" tanyaku
"Oh iya, saya juga mau kesana koq" kata mbak2 itu.

Aku dan Salmulpun merasa lega karena rupanya tidak perlu bersusah2 lagi. Tinggal mengikuti kapan mbak2nya itu turun, kamipun ikut turun. Ternyata eh ternyata, si mbaknya-pun salah. hahahaha.... dan kamipun duduk2 sebentar di pinggir jalan, sambil melihat Jembatan besi yang menjadi tanda bahwa lokasi Menara Peninsula tinggal sekitar setengah kilometer lagi.

Kebingungan di mulai, antara berjalan kaki, ataukah naik taksi. Pilihan kedua nampak lebih menggiurkan dan memang menjadi yang terpilih. Namun sayang, 2 taksi yang kami berhentikan menolak kami dengan alasan yang berbeda. Taksi yang pertama mengatakan bahwa jaraknya terlalu dekat, sedangkan taksi yang kedua mengatakan bahwa dia tidak mengetahui lokasi Hotel Menara Peninsulla yang sebenarnya sudah ada di depan mata. :p

Kami beruntung pada taksi yang ketiga, yang mau menerima kami apa adanya. Kamipun melaju menuju alamat yang telah di tunjukkan Michelle. Taksi masuk ke sebuah gang yang sempit dan menyusuri rumah demi rumah. Pada awalnya, kami menemukan alamat dengan nomor yang mendekati alamat rumah mereka. Namun lama kelamaan, nomor rumah semakin menjauh dan berbeda Rt/Rw nya. Sempurna sudah permasalahan dengan jalan yang merupakan jalur satu arah di dalam kompleks itu, sehingga kami tidak bisa mundur. Setelah beberapa kali bertanya pada orang, kamipun memutuskan untuk turun dan berjalan kaki saja mencari rumah mereka.

Petualangan di tengah komplek di Jakarta, menjadi acara kami dalam melewatkan Sabtu sore itu. Beberapa kali kami bertanya pada orang, dan beberapa kali pula kami nyasar tak tentu arah. Pengalaman city tour itu membuat kami semua merasa semakin yakin dan mantab untuk berdoa kepada Tuhan, agar di berikan jalan rizki di kota selain Jakarta. Pusing, panas, gerah, ribet, dan menyesatkan. "Siapa suruh dateng Jakarta?"

Setelah sekian lama kami berputar2 dan mblasak-mblusuk di perkampungan orang, kamipun sampai kembali di jalan utama. Kami berpencar untuk mencari nomor rumah yang sesuai dengan nomor rumah Michelle dan Brenda, namun tak kunjung ketemu jua. Rasa lapar dan panas membuat emosi kami mudah terpancing. Akhirnya kamipun memutuskan untuk berhenti sejenak dan mengisi perut di sebuah warung kopi. Ngadem istilah jawanya...

Aku akhirnya mengusulkan untuk mencari rumah Michelle dan Brenda sendirian dengan menggunakan jasa ojek. Setelah rumahnya ketemu, aku akan menjemput yang lainnya di warkop itu. Akupun berjalan ke pangkalan ojek, dan sedikit memberikan petunjuk kepada tukang ojek yang berniat mengantarkan aku.

"Pak, tolong antarkan saya mencari alamat rumah ini pak." kataku
"Rumah siapa neng?" tanya salah seorang diantaranya
"Rumah 2 orang bule Amerika itu lho pak..." kataku sok tau
"Yang ngajar Bahasa Inggris bukan?" tanya si bapak lagi
"Iyap...betul sekali pak... Saya sudah mencari muter2 di kompleks ini tapi nggak nemu juga pak."
"Sini...sini... saya antarkan. Nggak usah pake motor." kata salah satu tukang ojek itu
"Lho, memangnya dekat to pak?" tanyaku lagi
"Ya sini aja dulu...." katanya.

Aku hanya bisa berharap agar si pak tukang ojek memang baik, dan bukan sedang berniat jahat membawaku ke suatu tempat sepi dan merampokku. hahahaha

Di depan sebuah gang, si bapak menunjukkan rumah si bule, dan aku mengucapkan terima kasih padanya. Akupun berjalan ke rumah yang di tunjuk si bapak, dan pada saat bersamaan, Michelle dan Brenda berjalan ke luar rumah.

"hai... finally, i found you..." kataku
"where is your friend?" tanya Michelle
"hahahaha... we had a long story. We get lost, and then they wait in warkop now. I said if i found you, i will pick them later." kataku

"Oh... poor you... come on, enter here.." kata Michelle
"No Michelle, Maybe better if i pick them first, and then we will come here again together. how?" kataku
"Oh, its okay... looks good. See you later yaa" kata mereka berdua
"yeah, see you soon. bye"

Akupun kembali berjalan menuju jalan utama, melewati kumpulan tukang ojek itu lagi.
"Gimana neng, ketemu nggak?" tanya si bapak tukang ojek
"iya pak, ketemu. Saya mau jemput yang lainnya dulu yaaa... makasih pak" kataku

Pppfffiiuuuhh...... Akhirnya akupun kembali bergabung dengan mereka di warkop itu. Lega karena sebentar lagi kami bisa merebahkan badan di kasur empuk nampaknya. hehehehhe....
Setelah kami selesai dengan urusan isi mengisi perut, kamipun segera bergerak menuju rumah Michelle dan Brenda bersama2. Seperti pawai saja... :)

Kami di terima dengan baik oleh mereka berdua. Benar2 teman baru yang menyenangkan dan luar biasa. Yang lebih menyenangkan adalah, mereka berdua senang sekali berbagi cerita, seperti layaknya kami. Michelle sudah jago masak makanan Indonesia, karenanya kami di berikan layanan makan malam nasi, tempe dan tahu goreng, tumis kangkung, dan sambal. Muantabs.... ^_*

Brenda sibuk menerangkan kepada kami mengenai photo dan juga prakarya yang ada di ruang tamu mereka. Karena mereka kembar, jadi banyak sekali photo2 mereka semasa masih kecil. Lucu2 dengan baju yang seragam dan pipi kemerah2an. Brenda memberi tahu kami "This is Michelle, and this is Brenda..... This is Michelle and this is Brenda.... This is Brenda and this is Michelle...." begitu seterusnya. :)

Setelah puas makan dan juga puas ngobrol, kamipun segera menempati kamar Michelle yang ukurannya lebih besar daripada kamar Brenda. Michelle terpaksa harus tidur bersama dengan Brenda, sedangkan kamarnya aku gunakan bersama dengan Ijah dan Salmul. Pet tidur di kursi bambu yang ada di ruang tamu. Michelle berpesan kepada kami untuk memasak nasi goreng sendiri sebagai sarapan keesokan harinya, dan kami mengiyakannya. Aku tidak tahu pasti jam berapa kami semua terlelap, karena lelah setelah seharian berputar2 di sebuah kompleks di Bilangan Jakarta. :p

Jam 4 pagi buta, aku sudah dibangunkan oleh deru alarm dari handphoneku yang selalu setia. Akupun segera membangunkan Ijah dan Salmul untuk segera mandi dan juga memasak sarapan. Ketika aku berjalan ke ruangan depan tempat si Pet tidur, rupanya ada tambahan personel lagi di kursi di seberangnya. Mbak2 yang membantu Michelle dan Brenda mengurus rumah tangganya. Aku lupa namanya, tetapi yang aku ingat adalah mbak itu berasal dari Solo. Tepatnya daerah Sragentina. hehehe

Selama aku, Ijah, Salmul, dan Pet bersiap2, rupanya si mbak itu memasakkan kami nasi goreng. Aduuuhh.... jadi kepengen malu deh serba di layani semua-muanya. Dan kamipun dengan susah payah berusaha menelan nasi goreng itu. Aku, Ijah dan Pet hanya bisa makan sedikit, karena tidak terbiasa sarapan terlalu pagi. Kata Pet, Its too early to breakfast... Namun tidak begitu halnya dengan Salmul. Dia tetap saja melahap nasi goreng itu, bahkan sempat nambah lagi. :p

Setelah sarapan selesai, kamipun berpamitan kepada mbak, dan berpesan untuk di pamitkan kepada Michelle dan Brenda yang masih tidur. Kami akan mengirimkan sms kepada mereka nanti. Tak lupa aku mengambil beberapa foto dari ruangan itu, sebagai kenang2an atas sosok kedua teman baru kami. Thanks a lot Michelle and Brenda.... Nice to see both of you and looking forward to see you again sooner :)

Hari masih gelap ketika kami berempat berjalan menuju jalan raya dan mencegat 1 taksi yang lewat. Karena hari yang masih pagi itu, maka kami tidak perlu berurusan dengan macetnya Jakarta yang sangat terkenal di seantero jagat raya ini (lebay*mode on). Sekitar jam 6 lebih kami tiba kembali di Muara Angke. Berasa Deja Vu karena kami datang dengan personel yang sama, dengan pakaian yang sama, dan dengan tujuan yang sama.

Di Darmaga yang sama dengan hari sebelumnya, kami segera menaiki kapal yang telah bersandar dari hari sebelumnya, dan berfoto2 sebentar. Sekedar pelengkap diary kalau nantinya aku berniat menuliskannya di blog (seperti yang sekarang ini aku lakukan). Matahari mulai menampakkan sinar keemasan di belakangku, di antara gedung apartemen yang menjulang dan kapal2 tua yang bersandar di seberang pelabuhan.


Aku, Ijah, Salmul, dan Pet segera mencari tempat yang sesuai dengan selera kami, yaitu di dek atas, dan di bagian depan. Posisi yang enak untuk menikmati perjalanan, meskipun akan segera menjadi lahan yang tepat untuk berjemur. Yaaa... Panas datang dengan cepat bossss. Beruntunglah kami adalah anggota mapala yang gaul dan trendy, jadi selalu menyediakan payung cantik untuk mengantisipasi panas dan hujan. Halaaaahh..... :p

Penumpang semakin bertambah banyak saja, termasuk juga sebuah motor besar yang di ikat di bagian depan kapal. Akhirnya, kapal mulai bergerak, mencari celah untuk keluar dari persandaran, dan melaju membelah laut. Perjalanan yang cukup panjang akan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam, dengan cukup membayar biaya Rp. 30.000 di atas kapal. Aku sangat suuuukkkaaaa.... Norak-ku jika bertemu dengan laut kumat lagi... hehehe

Beberapa ombak besar sempat kami rasakan, namun untungnya tidak sampai membuat kami terusir dari dek atas. Jumlah asupan makanan yang masuk ke perut rupanya cukup berpengaruh terhadap reaksi dari ombak yang meliuk2. Aku sedikit merasa mual karena memang nasi goreng yang aku makan saat sarapan sangat sedikit. Namun semua berlalu begitu saja karena aku berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan rasa mual itu. :)

3 jam kemudian, kapal kami merapat di sebuah pulau, yang pada awalnya disangka Pulau Untung Jawa oleh Ijah. Namun yang benar adalah Pulau Pramuka. Pulau inilah yang menjadi tempat tujuan kami, oleh karenanya, kami bergabung dengan para penumpang yang turun. Setelah turun dari kapal, kami berjalan ke arah kiri menuju sebuah darmaga kecil yang ada di ujung pulau. Rupanya, saat itu sedang ada rombongan yang melakukan persiapan selam di sana, sehingga kami mengurungkan diri untuk menuju kesana. Kamipun beristirahat di halaman sebuah villa. Teduh dan nyaman untuk berkemping nampaknya. hehehehe

Kemudian, datanglah seorang bapak2 yang mendekat dan menebarkan senyuman yang (kelewat) ramah. Awalnya, si bapak sepertinya mengira bahwa kami adalah anak2 muda yang sudah membuat janji dengannya (sepertinya lho).

"Lho, sudah lama atau baru datang nih?" tanyanya (sok) akrab. Kami bingung... :p
"Baru datang pak.... tapi kami belum bikin janji lho sama bapak..." kata kami. hehehhe
"Ya nggak papa...." katanya
"Ya sudah kalau nggak papa.... kita ngobrol aja kalau gitu." kata kami hingga membuat si bapak duduk bergabung bersama kami. :p

Kamipun berkenalan dengan beliau. Namanya Pak Jamal. Beliau adalah salah satu orang yang menjaga villa di Pulau Pramuka itu. Beliau memberitahu bahwa Bapak Rahmat (kenalan si Ijah) sedang membawa rombongan Ringgo Agus Rahman. Yang artis itu lho..... Mereka pergi menyelam. Si Pak Jamal ini adalah orang yang suenaang sekali bercerita. Saking banyaknya, kami hanya menangkapnya separo2. Cukup untuk menggali informasi seputar kegiatan wisata di Pulau Pramuka itu. Untuk info tambahan mengenai siapa dan sepenting apa beliau, sudah aku skip karena kurang penting sepertinya. hehehehe *ngumpet dulu aaaahhh*

Kami sekaligus meminta ijin untuk mendirikan dome di tempat kami mengobrol itu kepada Pak Jamal. Beliau merekomendasikan kepada bapak2 yang bersih2 tempat itu, dan ipada akhirnya kami boleh mendirikan tenda di situ. good.... :0

Sore itu, kami berencana akan melakukan kegiatan snorkling di sekitar darmaga saja, sekedar menyenangkan hati Salmul. Salmul tidak akan tinggal dan menginap bersama kami di Pulau Pramuka malam itu, karena dia sudah berjanji pada temannya yang lain untuk bertemu di rumahnya. Sayang sekali bukan?

Dan kamipun segera menitipkan barang ke villa yang di gunakan oleh Pak Jamal dan teman2nya beristirahat dan berkumpul. Sekaligus kami juga menyewa 2 buah life jacket untuk berjaga2 karena kami belum mahir berenang dan snorkling-an. Kamipun segera berjalan meniti jembatan kayu yang menghubungkan daratan dan darmaga. Rupanya saat itu rombongan Ringgo sedang bersiap untuk keberangkatan menyelam yang kedua. Memang Ringgo itu artis yang kocak..cak...cak... :p

Setelah perahu yang membawa Ringgo dkk menjauh, kamipun segera melepas dan memakai dresscode yang di perlukan untuk kegiatan kami. Tentunya, tujuan utama Salmul adalah untuk berfoto ria. Jauh2 datang dari Bogor, menghabiskan beberapa lembar rupiah, melewati waktu di pulau dengan sangat sebentar, hanyalah untuk mendapatkan beberapa jepret foto dengan phose snorkling. hahahhaa.... Biar semakin eksis ceunah... :p

Setelah semua kostum selesai di pasang, kamipun segera menceburkan diri di seputar darmaga kecil itu. Tempat yang dangkal dan sering di gunakan pengunjung untuk meng-kamuflasekan diri saat pipis. hahahhaa.... Tidak heran kalau pada akhirnya wilayah itu kehilangan terumbu karang, dan penghuninya berganti dengan bulu babi semata. hiiiiiii...... Musti banyak2 sedia air kencing nih, siapa tahu ada yang menyentuh dan menginjak bulu babi yang jumlahnya bejibun itu.

Kami hanya membawa 2 set alat snorkling. Karenanya, kami menggunakannya secara bergantian. Meskipun tidak ada terumbu karang yang indah2 di sekitar darmaga itu, kami cukup senang berenang2, berputar2, dan berfoto2 pastinya. Sebenarnya, tidak tega juga membiarkan Salmul kembali pulang ke darat hari itu juga. Karenanya, Aku dan Ijah berusaha untuk membujuk dan merayu (lebih tepatnya sih meracuni) Salmul untuk tetap tinggal di pulau bersama kami. Untuk acara trainingnya, kami membujuk dia untuk segera mengajukan ijin karena sakit kepada supervisornya (kebiasaan mahasiswa untuk melarikan diri). hahhahaa...

Namun sayang, kali ini Salmul tidak tergoda ataupun tergiur dengan rayuan maut kami. Dia tetap keukeuh dengan niatnya untuk pulang. Dia mengaku sudah cukup puas dengan waktu yang singkat dan foto yang sedikit itu. Dia memutuskan akan tetap pulang dengan kapal yang datang siang itu juga. Hiks...hiks.... Salmul.... We will miss you honey... ihikihikihik :p

Sekitar jam 1 siang, kapal yang akan membawa para penumpang dari Pulau Pramuka menuju Muara Angke tiba di pelabuhan Pulau Pramuka. Kamipun bergegas menuju pelabuhan untuk mengantarkan Salmul. Salmul yang masih menggunakan kostum snorkling, lengkap dengan google dan snorkle di kepalanya, melenggang kangkung mencari kamar mandi untuk berganti kostum. Aku, Ijah, dan Pet yang merasa lapar, menunggu Salmul sambil makan bakso di dekat pelabuhan. Di situ kami sempat bertemu dan ngobrol sebentar dengan Pak Jamal (again).

"Does she will go to Bogor with that clothes?" tanya Pet
"Hahahha.... I dunno... maybe.." kataku sambil tertawa melihat Salmul yang kesana kemari mencari toilet.

Salmul kurang beruntung dan tidak menemukan kamar mandi untuk berganti baju. Akhirnya benar sudah tebakan Pet, bahwa Salmul akan pulang ke darat dengan kostum snorkling-an itu. Meskipun dikurangi google dan snorkle dari kepalanya, namun tetap saja kombinasi antara celana legging dan kaus hitam di tambah celana pendek bunga2 dan kerudung itu akan menjadi kostum yang sangat2 istimewa. Si Ratu Pede pun beraksi. hahahaha :p

Setelah Salmul berangkat dengan kapalnya, kamipun melanjutkan perjalanan mengelilingi Pulau Pramuka itu. Menurut kabar dari orang, di pulau ini kan ada tempat penangkaran mangrove dan penangkaran penyu, jadi kami akan membuktikan kebenaran kabar itu.

Dalam perjalanan, kami menemukan sebuah rumah kecil di pinggir jalan yang cukup menarik perhatian. Di bagian depannya, ada tulisan "Rumah Daur Ulang". Sepertinya ini adalah rumah yang di buat oleh kelompok masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat pesisir di pulau ini.

Setelah mengamati tulisan dan bangunan itu beberapa saat, kami baru menyadari bahwa ada seseorang yang kami kenali di dalam rumah itu. Orang itu memanggil2 kami untuk mendekat. Rupanya tak lain dan tak bukan beliau adalah Pak Jamal. hahahha.... Dimana2 sepertinya kami akan tetap dan terus bertemu dengan Pak Jamal. Betapa sempitnya Pulau Pramuka ini, meskipun hanya sekedar untuk bersembunyi dari Bapak Jamal. :p

Kamipun tertawa dan bergabung dengan Pak Jamal yang sudah duduk manis di salah satu kursi di dalam rumah itu. Selain Pak Jamal, aku melihat di dalam rumah itu ada 2 orang ibu2 yang sedang sibuk bekerja. Ibu yang satu sedang sibuk di sudut merapikan dan memotong2 plastik, Sedangkan si ibu yang satunya sedang sibuk menjahit dan menyatukan plastik2 itu menjadi tas.

Rupanya, rumah daur ulang itu adalah rumah yang di gunakan untuk mendaur ulang sampah plastik dari limbah rumah tangga, menjadi barang2 yang bisa di pakai kembali seperti tas, dompet, tempat hp, dll. Aku melihat banyak sekali barang2 yang di tampilkan di sana. Di gantung rapi dengan banyak sekali model. Bahan2nyapun beraneka ragam, mulai dari bungkus kopi, bungkus detergen, bungkus pewangi pakaian, bungkus panganan kecil, dll. Harganya juga tidak terlalu mahal, mulai dari Rp. 20.000-an. Woowww...

Berdasarkan keterangan si ibu yang menjahit, bahan dasar yang digunakan untuk daur ulang awalnya berasal dari Jakarta. Namun belakangan ini, bahan2 itu sudah bisa di peroleh dari Pulau Pramuka sendiri. Setiap Hari Minggu, anak2 SD di pulau itu juga melakukan kerja bakti di sepanjang pantai dan mengumpulkan sampah2 plastik untuk kemudian di berikan pada kelompok daur ulang ini.

Selain itu, ibu2 rumah tangga di Pulau Pramuka juga sudah mau memisahkan sampah2 rumah tangga mereka, sehingga lebih mudah lagi mendapatkan plastik bahan daur ulang.

Setelah dari tempat daur ulang sampah plastik, kamipun bergerak menuju ujung lain dari pulau itu. Ternyata, Pulau Pramuka memang tidak terlalu luas yaaa.... Baru sebentar berjalan, kami sudah sampai di pinggir pantai lagi. hahaha... Jadi pengen muterin pantainya. Oh iya, menurut si ibu yang menjahit di tempat daur ulang tadi, katanya akan segera di bangun jalan lingkar luar di sepanjang pantai Pulau Pramuka itu. Waduh.... alamat pantainya bakalan banyak berubah donk. Selalu saja ada konsekuensi yang harus di terima untuk membuat sebuah kemajuan... ck..ck..ck...

Beberapa waktu kemudian, kami melihat ada Kapal yang sudah lapuk dan dimakan makhluk2 kecil2. Aku menunggu Ijah dan Pet yang pergi ke Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu untuk menyelesaikan beberapa urusan. Aku menikmati pemandangan pantai yang banyak di tanami mangrove. Di depanku, sepertinya merupakan lahan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi pantai. Ya, Kepulauan Seribu memang banyak mendapat ancaman dari abrasi pantai.

Disamping karena permukaan tanahnya semakin menurun, permukaan laut juga semakin lama semakin naik. Keberadaan mangrove di sepanjang pantai sangat di perlukan untuk menahan gerusan ombak. Meskipun itu artinya kita harus merelakan pantai yang bisa kita gunakan untuk bermain ombak, berubah menjadi tanaman mangrove. :)

Puas melihat2 kondisi pantai dengan mangrovenya, kamipun berjalan menuju menara yang ada di pantai itu. Menara yang terbuat dari semen itu, digunakan wisatawan untuk menikmati pemandangan laut hingga sejauh mata memandang. Lumayan juga. Kami sempat berfikir untuk mendirikan tenda di atas menara itu saja malam harinya. Sepertinya akan lebih nyaman daripada di pantai yang banyak nyamuknya. :p

Aku segera turun dan menyusuri jalanan kembali. Dari keterangan seorang bapak yang sedang mendorong gerobak yang berisi tanaman mangrove, beberapa meter kedepan adalah tempat penangkaran penyu. Akupun berjalan menuju kesana. Namun sayang sekali, penjaga yang membawa kunci untuk memasuki ruangan penangkaran sedang tidak ada. Karenanya, kami hanya bisa melihat dari luar ruangan. Di dalam ruangan itu, banyak sekali bak2 yang berisi penyu sisik dengan berbagai ukuran. Ada yang masih berupa tukik, hingga yang sudah berukuran besar.

Di bagian depan, terdapat meja yang memuat botol dan tabung2 berisi alkohol. Rupanya itu adalah media yang digunakan untuk mengawetkan tukik dan telur yang gagal menetas. Hiks.... baunya lumayan mengena, tapi lebih kena perasaan kasihannya. :p

Di sekeliling tempat penangkaran penyu itu, ada bedeng2 yang digunakan untuk persemaian mangrove. Mulai dari Mangrove yang baru saja di stek, hingga mangrove yang sudah tumbuh subur. Mungkin setelah cukup umur dari lokasi persemaian itu, baru kemudian mangrove2 tersebut di tanam di pantai. Masih menurut keterangan si ibu penjahit, katanya penangkaran mangrove di Pulau Pramuka ini adalah termasuk salah satu penangkaran yang paling besar.

Selain persemaian yang ada di areal penangkaran penyu, rupanya masih ada lagi satu bedeng persemaian mangrove yang terletak di seberang jalan. Di sana tertera keterangan yang menyebutkan bahwa persemaian itu dilakukan oleh sekelompok pengunjung yang sedang mengadakan aksi peduli lingkungan.

Karena aku sudah cukup puas melihat2 penangkaran penyu sedangkan Ijah dan Pet belum, maka akupun berdiri di pinggir jalan, melihat kesibukan masyarakat Pulau Pramuka di sepanjang jalan itu. Tiba2 ada bapak2 yang sedang bersepeda, yang jika di tilik dari raut mukanya adalah orang yang ramah dan mudah di ajak bicara. Prosedur standarpun di lancarkan. Senyum, sedikit menyapa, dan kemudian beliau berhenti. Obrolanpun di mulai.

Pak Zakariya alias Pak Zak. Itulah nama beliau. Bukan kepala balai, namun merupakan salah satu orang yang berpengaruh di Balai Taman Nasional Pulau Seribu (begitu menurutnya). Kami berempat ngobrol sambil berdiri, masih di depan penangkaran penyu. Banyak hal yang di bicarakan, namun bagian yang terpenting dari obrolan panjang itu adalah bahwa si Pak Zak menawarkan kepada kami untuk snorkling bersamanya. Terlihat sekali bahwa beliau senang mengobrol dan berbagi ilmu, terlebih lagi dengan Pet. Ow..ow...

"Memang kalian beneran mau snorkling?"
"Mau donk pak..."
"Kalau begitu, saya bisa mengantarkan kalian snorkling dengan kapal balai"
"Eh, serius pak? gratis nih?"
"Iya, gratis....."
"Asyiiikk.... mau donk pak... terima kasih ya pak..."
"Kalau gitu nanti kalo sudah siap, telpon saya saja"
"Siap pak... kita mau makan dulu sebentar"

Transaksi selesai dengan hasil memuaskan. Kamipun makan siang dengan tenang dan gembira. Bayangan untuk bisa snorkling-an di tempat yang benar2 layak untuk snorkling sudah membayang di pelupuk mata. Yang lebih menyenangkan lagi adalah aroma gratis yang sudah sedemikian kuatnya melekat di otak. Dewi fortuna sudah rela loncat dari puri kahyangan untuk membantu kami yang lemah ini. hahahaha

Selesai makan, kamipun menghubungi Pak Zak untuk memastikan waktu dan tempat bertemu. Kami akan bertemu di dermaga kecil tempat kami berenang siang harinya. Tak lupa, terlebih dahulu kami menitipan barang2 kepada Pak Rahmat di villa tempat mereka beristirahat. Beliau sempat heran dan bertanya2 ketika kami mengatakan bahwa kami akan di ajak ber-snorkling ria dengan Pak Zak. Mungkin dalam hatinya beliau bertanya2, ini anak2 muda nemplak-nemplok sama orang2 seenaknya sendiri.... hehehehhe

Tak berapa lama kemudian, Pak Zak sudah datang dengan perahunya yang lucu. Perahu balai taman nasional yang mungil. Di bagian pinggirnya terdapat tulisan "Acropora echinata". Acropora echinata adalah nama ilmiah dari salah satu coral yang ada di Kepulauan Seribu. Kamipun dengan bersemangat 45 menaiki kapal tersebut. Pak Zak mengendarai kapal tersebut dengan lihai.

Dalam perjalanan menuju tempat snorkling, kami melewati sebuah kolam renang. Kolam renang lengkap dengan anjungan untuk lompat indah. Setelah kolam renang, kami melewati sebuah penangkaran ikan. Aku lupa tepatnya ikan apa, kalau tidak salah itu adakah penangkara ikan bandeng. Entahlah... ingatanku mulai memburuk lagi. Di tempat penangkaran ikan itu, banyak sekali bertengger burung2 laut. Diantaranya burung Pecuk. Tentu saja mereka betah berada di situ, karena persediaan makanan untuk mereka pasti lebih sustainable. :p

Selain penangkaran ikan, ada juga pabrik pengalengan di tengah laut. Wow... pasti ikan2 yang di kalengkan disana sangatlah segar. Lokasinya saja langsung di tengah lautan. Kemudian kami melihat ada beberapa perahu mewah beserta dengan beberapa orang yang (nampaknya) merupakan orang2 Cina/Jepang. Menurut keterangan Pak Zak, kapal2 yang mewah itu adalah kepunyaan mereka sendiri, yang diberangkatkan dari Pelabuhan Marina. ooohh.... orang2 kaya... Kata kami (dengan sedikit nyinyir) hahaha...

Beberapa saat kemudian, kami melihat sebuah bangunan(masih di tengah laut) yang nampaknya adalah restoran. Hmmm.... restoran di atas laut rupanya. (Masih menurut Pak Zak), restoran itu merupakan tempat makan yang banyak di kunjungi oleh wisatawan2 berduit. Intinya, harganya jauh lebih mahal daripada makanan di darat lah yaw.... Setelah restoran, kami juga melihat sebuah bangunan mungil yang terpisah dari restoran tadi. Nampaknya itu adalah sebuah villa mungil. Waaahhh.... Keren ya villa di atas laut itu. Romantis sekali kalau bulan madu di tempat itu. :p

Kami sempat melihat satu ekor penyu sisik yang sedang berenang di lautan. Pet berniat untuk mengabadikannya melalui kameranya, namun tidak terburu waktu. Penyu itu segera kabur dan tidak menampakkan diri lagi. Kami berharap semoga nantinya kami masih bisa melihat penyu2 yang lainnya. :)

Tak lama kemudian, kami sampai di tempat yang kami tuju sebagai lahan snorkling-an. Perahupun di tambatkan. Tak jauh dari kami, ada satu gubuk apung yang memang terapung2. Rupanya itu adalah gubuk untuk para penggemar fishing atau memancing. Suatu saat aku pengen juga merasakan memancing sambil di goyang2 ombak begitu. Kalaupun tidak memancing, mungkin bisa juga membaca buku di tempat itu. Pasti waktu akan berlalu dengan cepatnya. :p

Kamipun bersiap2 untuk turun ke air dan menikmati keindahan bawah laut kepulauan ini. Pet sudah dengan lihainya berenang kesana-kesini. Pak Zak sudah menyiapkan satu buah lifevest untuk antisipasi bagi kami yang kurang bisa beranang ini. Aku dan Ijah mencoba alat snorkling yang kami bawa. Aku segera turun dan melihat bahwa di bawah sana pemandangan sangat indah. Banyak terumbu karang warna-warni yang masih tampak baru, hasil transplantasi.

Percobaan snorkling pertama menjadi sesuatu yang lucu karena aku dan Ijah sama2 belum menyadari bahwa kami dengan mudahnya terbawa arus. Akupun berpegangan pada lifevest yang telah di pegang Ijah terlebih dahulu. Karena perbedaan berat badan dan juga posisi, kami menjadi bergulat bersama naik turun bergantian. Aku tertawa terbahak2, masih dengan peralatan snorkling di mulutku.

Aku meminta Ijah untuk mengantarkanku kembali ke kapal untuk sekedar membenahi posisi alat snorkle-ku. Ijah dengan sekuat tenaga mendorong lifevest itu menuju kapal. Namun lama sekali rasanya, kami tidak bertambah maju. Rupanya, arus melawan usaha kami lebih kuat. hahahhaa..... Aku dan Ijah pun bergelut bersama sambil terus tertawa mentertawakan diri kami sendiri. Pada akhirnya, setelah sekian lama berusaha, akupun bisa di selamatkan ke kapal. Wuidih.... Banyak energi terkuras untuk "me-rescue" perjalananku yang pertama. hahahahha

Pak Zak menunjukkan bahwa tidak jauh dari kami, ada sebuah coral masif yang sangat besar dan bisa kami gunakan untuk berdiri. Ijah dan Pet terlebih dulu sampai di coral itu, baru kemudian aku menyusul. Aku sudah bisa snorkling-an sendiri tanpa bantuan lifevest pada akhirnya. Menyenangkan sekali. Thanks for the opportunity ya Pak Zak.... ^_^

Aku melihat di bawah sana banyak sekali terumbu karang hasil transplantasi yang sedang tumbuh. Hal itu dapat dilihat dari batu2 yang berasal dari semen, yang di gunakan sebagai media tumbuhnya. Pak Zak menceritakan bahwa coral2 itu usianya sekitar 2 tahun-an. Beliau juga menceritakan banyak hal mengenai pulau2 di Kepulauan Seribu beserta dengan potensi2 yang di miliki. Ini baru merupakan salah satu dari sekian banyaknya kekayaan Bangsa Indonesia. ^_^

Pak Zak sempat bercerita mengenai privatisasi pulau yang di lakukan oleh beberapa orang kaya dari dalam dan luar negri Indonesia. Selain itu, pak Zak juga menceritakan mengenai suka duka bekerja di pulau seperti itu. Tak terasa, haripun beranjak malam. Gelap datang dengan cepat, dan kami di anjurkan untuk segera naik ke kapal untuk kembali ke Darmaga. Permintaan Pet untuk berenang menyusul kapal di tolak oleh Pak Zak. "Sudah malam" katanya. Sekali lagi, terima kasih banyak Pak Zak...

Kamipun di turunkan di darmaga tempat kami naik sebelumnya. Pak Zak langsung pulang, Pet dan Ijah melanjutkan berenang, dan aku memilih pergi ke warung untuk membeli air minum dan sedikit makanan. Logistik kami rupanya teramat sangat kurang, di ikuti dengan semakin berkurangnya persediaan uang cash kami. Pelajaran untuk yang akan berwisata ke pulau, untuk membawa uang cash sebanyak2nya. :p

Akupun berjalan menyusuri darmaga sambil menikmati angin pantai yang lembab. Aku sempat berhenti sebentar dan mengamati aktivitas beberapa orang yang sedang sibuk mengangkut tanaman mangrove. Sepertinya mereka akan membawa bibit2 mangrove itu ke pulau lain. Aku lupa menanyakan pulau mana yang akan di tuju kapal itu.

Akhirnya aku menemukan warung kecil yang menjual beberapa kebutuhan pokok rumah tangga. Bahan2 utama yang aku butuhkan sudah kudapatkan, lalu aku memilih beberapa snack untuk cemilah di darmaga. Sayang sekali, persediaan snack di warung itu sangat minim sekali. Selain jumlah pilihannya sedikit sekali, snack yang adapun sepertinya sudah hampir kadaluarsa. Pelajaran lagi untukk yang akan berwisata ke pulau adalah membawa sebanyak2nya snack atau penganan dari darat agar tidak kelaparan.

Bekal untuk melewatkan malam yang teramat sangat minimalis, sudah di pelukan. Akupun kembali menyusuri gelapnya pantai yang benar2 sepi. Mengingatkanku pada pengalaman ketika aku berjalan di pulau Karimun Jawa untuk tujuan yang sama. Hanya saja Karimun Jawa memiliki lebih banyak pilihan cemilan di bandingkan di pulau ini.

Sesampainya di darmaga, aktivitas berenang sudah selesai. Kamipun mendirikan tenda yang akan kami gunakan untuk bermalam. Entah kenapa dalam perjalanan ini aku merasa sangat bodoh dan kurang persiapan sekali. Banyak hal2 yang aku lupakan dan tidak aku bawa sehingga menjadi masalah kemudian. Contohnya, pisau multiguna C*****n ku. Sangat sulit mengatasi keteledoran ini. :p

Malam itu langit terang bersama bintang2 nya, meskipun nampaknya bulan sedang absen. Jutaan bintang bersinar terang di atas sana, menemani kami yang bergelimpangan di dermaga. Kami bercerita ngalor-ngidul mengenai banyak hal. Tidak perduli apakah materi yang kami bicarakan saling bisa dipahami atau tidak. Scara pembicaraan 3 bahasa gitu lho. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, plus Bahasa Tubuh. hahahahhaa.....

Isi pembicaraanpun beraneka ragam. Mulai dari bintang, pekerjaan, hingga masalah cinta. Prikitiew.... prikitiew....

Sayangnya, pesona bintang yang cukup melenakan itu tidak bertahan lama. Bersamaan dengan malam yang semakin kelam, mendungpun datang tanpa perlu di undang. Perlahan namun pasti langitpun menggelap. Dan tak berapa lama kemudian, mulai turun rintik hujan yang semakin menderas. Kamipun bergegas memasuki tenda, dan bersiap tidur.

Sepertinya aku sudah terlelap ketika sayup2 kudengar Ijah atau Pet berkata,
"Someones coming"
"Wah.... so scary...."

Mau tidak mau, kesadarankupun menjadi terpanggil dan aku mulai terbangun. Akupun ikut melongokkan kepalaku ke luar tenda. Rupanya ada seorang bapak2 tua yang memakai sarung dan baju koko, berdiri di ujung dermaga. Dia berdiri dengan tenang sambil menghadap ke laut, membelakangi kami. Sekilas, aku melihatnya menggerak2an tangannya yang memegang benda seperti bakul kecil. Benda itu dia putar2kan secara perlahan dan kontinyu.
"What is he doing?"
"I don't know... Maybe he just make some ceremony or ritual"
"What kind of ceremony?"
"I dunno...."

Dan akupun kembali menempati tempat tidurku dengan perasaan sedikit was-was. Khawatir juga kalau misalkan ternyata si bapak itu memang sedang ritual. Jangan2 nanti dia kesurupan terus membabi buta ke tenda kami, atau mungkin saja dia adalah orang jahat. Hhiiiiyyyy..... Parno....

Lama kelamaan, aku mendengar suara dari luar tenda. Nampaknya dari tempat si bapak itu berdiri. "Seerrrrr..... seerrrr..... " Pikiranku langsung berkelana dengan liarnya. Aku pikir si bapak itu pasti sedang melakukan ritual mengumpulkan tenaga atau energi dari laut. Itulah mengapa dia menggerakkan tangannya secara memutar seperti tadi. Pasti suara itu adalah suara energi yang datang dari laut dan mulai terkumpul sedikit demi sedikit di tangannya. Waduh, kalau energinya semakin besar, bagaimana nasib kami? tanyaku dalam hati.

Lamunan liarku berhenti mendadak ketika si Pet tiba2 bilang,
"I know what he did..... He just fishing...." Katanya
"What... ?" tanyaku langsung duduk lagi
"Ya.... he just fishing. And the voices come from his equipment."

Dan kamipun mengamati si bapak. Setelah beberapa saat, si bapak tampak melempar tali ke tengah laut, dan kemudian muncul kembali bunyi2an itu. Maka yakinlah aku kalau si bapak hanya sedang memancing. hahahahhaa..... Maklum, otak sudah terlanjur berkhayal. :p
"Pak, sedang mancing apa pak?" tanyaku, dan si bapak tidak mendengarnya.
"Maaf pak, bapak sedang mancing apa ya?" tanyaku sedikit lebih keras.
"Oh, saya sedang mencari cumi. maaf kalau mengganggu ya" kata si bapak sambil menengok ke arah kami.

Akhirnya aku dan Pet tertarik untuk mendekati, melihat dan menemani si bapak memancing cumi. Nama beliau adalah Pak Umar. Beliau tinggal di Pulau Pramuka, dekat dengan tower (nggak tau tower mana). Beliau memang sering memancing cumi di darmaga ini. Menurut beliau, setelah hari hujan, ketika bintang mulai bermunculan, maka cumi2 akan datang ke darmaga ini karena tertarik dengan cahaya lampunya.

Pak Umar yang bekerja di perhotelan sewaktu masih muda, bisa berbicara bahasa inggris dengan cukup baik. Beliau senang sekali bisa bertukar cerita dengan Pet tentang cumi (sepia), alat pancing cumi, laut, perikanan, pemerintah, dan lain sebagainya. Beberapa percobaan yang di lakukan Pak Umar gagal dan tidak membuahkan cumi. Salah satu lemparan kail Pak Umar sempat nyangkut di dekapan cumi, namun terlepas kembali ketika di tarik. Pak Umarpun menyerah dan tidak ingin melanjutkan lagi.

Si Pet akhirnya tertarik untuk mencoba memancing cumi. Dan rupanya, rejeki Pak Umar ada di tangan Pet malam itu. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Pet berhasil menangkap 1 cumi. Dengan sangat bernafsu dia segera mengeluarkan kamera dan menjeprat-jepret sana-sini. Dia terlihat terlalu antusias untuk ukuran bule bertemu dengan cumi. Akhirnya diapun berphoto bertiga dengan sahabat barunya, Pak Umar dan si cumi. Sayangnya si cumi yang rentan terhadap kekeringan itu cepat sekali meninggal dunia. Usaha Pet menyelamatkan dengan cara memberikan air laut pada plastiknya gagal. Karenanya, cumi itu langsung di berikan saja pada Pak Umar untuk di bawa pulang. Pak Umarpun pulang, kami berpisah dengan Pak Umar, dan kami kembali tidur, menyusul Ijah yang sudah bablas sampai papua. :p

Paginya, kami bangun cukup siang. Aku terbangun karena aku merasa lapar. Beruntung masih ada indomie yang bisa aku masak dan aku makan meskipun tanpa sendok. Pak Zak sempat mendatangi kami, namun karena baru aku seorang yang bangun dan tidak tau mau ngobrol apa, akhirnya beliau pergi lagi. So sorry pak... nyawa saya belum ngumpul benar. hehehehhe

Mendekati waktu kapal datang, barulah kami semua benar2 bangun. Dengan segera kami membenahi tenda dan semua peralatan agar bisa mengejar kapal. Si Pet sempat berkata, kenapa kita tidak menunggu kapal yang siang hari saja sehingga kita tidak perlu stress dengan persiapan yang mendadak ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul? Namun akhirnya dia menyerah juga, karena menghadapi kenyataan bahwa kami sudah hampir kehabisan uang cash. Semakin lama kami tinggal di pulau, maka keuangan kami yang telah di landa krisis moneter itu akan semakin parah. Dan kamipun pulang bersama dengan penumpang kapal pagi yang lainnya.

Selamat tinggal Pulau Pramuka, sampai bertemu lagi secepatnya.... :)

Gambar adalah koleksi pribadi :p

Addicted to Edward, Bella, and Jacob

Stephenie meyer dengan buku tetraloginya twilight saga, adalah hal yang aku hindari tahun2 belakangan ini. Bukan karena aku memiliki dendam pribadi kepadanya, karena sejatinya aku juga belum pernah bertemu dengannya sekalipun. Bukan pula karena aku iri atas keberhasilannya menghebohkan panggung per-novelan di dunia ini. Bukan....

Mulai dari pertama kali novel Twilight muncul, aku sudah rajin membaca resensi dan reviewnya. Dan itu semakin membuatku menguatkan niat untuk "tidak menyukainya". Jangan.... Jangan sampai aku menyukainya. Atau paling tidak, jangan sekarang....*membatin*
Apa sebab?

Novel Twilight bagus !!!!

Yep.... I know that....
Aku tahu kalau novel Twilight itu bagus. Paling tidak menurutku, novel itu sesuai dengan seleraku. Lebay, memancing imajinasi tingkat tinggi, dan melegalkan dunia khayalan. hehehhee
Justru karena aku tahu kalau novel ini bagus, maka aku berusaha sekuat tenaga menghindarinya.

Novel Twilight bagus, dan aku yakin novel2 selanjutnya akan sama bagusnya menurutku. Paling tidak aku tahu kalau aku menyukainya. Dan novel2 itu tebal2.... wuidiiiihhh.... Tebal+Bagus=Mahal bukan? hahahaha

Itulah alasan mengapa aku berusaha sekuat tenaga menghindarinya. Mahal bo.... Belum ada budjet untuk menuruti nafsuku memburu edward, bella, dan jacob. Selain karena faktor ekonomi, ada juga faktor emosional. Aku khawatir akan menjadi kecanduan dan sulit dihentikan dalam menyelesaikan buku2 itu (dan terbukti pada akhirnya). Tetapi aku yakin suatu saat nanti akan ada edisi lengkap dari tetralogi ini di rak bukuku. :p

Namun rupanya, semua keyakinanku runtuh gara2 sebuah rayuan maut. Rayuan dari seorang teman yang dengan setengah memaksa untuk meminjamkan bukunya padaku. Hiks.... Entah kenapa aku yang keras dan sering brutal ini selalu saja luluh lantak ketika menghadapi sebuah kasus yang berhubungan erat dengan "Pinjaman" dan "Gratisan". Terlebih lagi di tambah unsur "Paksaan". hehehhehe

Akhirnya aku meminjam salah satu bukunya, Twilight saja. Temanku yang lain juga meminjam buku yang lain. Aku pikir, mungkin nanti aku bisa bertukar dengan temanku itu. Namun rupanya temanku itu meminjam buku yang ketiga, Eclipse. Jadilah aku membaca Tetralogi Twilight Saga dengan urutan acak2an. Twilight dan kemudian Eclipse.

Rasa penasaran membuatku belingsatan untuk segera membaca seri kedua, New Moon. Karenanya aku bergerilya mencari siapa yang punya edisi New Moon yang paling mudah di raih dari tempatku berada. Hampir saja aku kolaps dan memacu motorku ke toko buku kalau saja tidak mendapatkan secercah harapan dari seorang teman. Dia punya edisi New Moon. Aasyiiikk....
Dan Edisi New Moon pun selesai dalam waktu 1 hari 1 malam, sebagai akibat ngadatnya keyboard laptopku. Rupanya penasaran yang aku khawatirkan dari awal memang benar2 terjadi dan menderaku. Aku mulai berfikir bagaimana cara mendapatkan edisi terakhir dari tetralogi itu, Breaking Dawn. Dan karena aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya pertahananku jebol dan aku membelinya dari toko buku. Buku yang paling tebal dari ke tiga buku sebelumnya.

Setelah membaca kisah Bella, Edward, dan Jacob, aku semakin yakin bahwa aku akan segera memiliki edisi lengkapnya. Namun saat ini aku masih sedikit galau mengenai sumber dan caraku mendapatkannya. Aku sedang memikirkan untuk pergi ke Pasar Senen atau Stasiun untuk bisa menghemat beberapa lembar rupiahku, daripada harus membeli di toko buku yang menawarkan harga beberapa kali lipat. Semoga saja nanti aku bisa menemukan cetakan yang bagus dengan harga miring itu. Toh isinya aku sudah tahu, tapi tetap saja tidak boleh tertiipu oleh pembajak bukan? hahahahha

Tuesday, May 11, 2010

Kind of Mistaken Diplomat

"Pak, Mendingan bapak banyak2 doa aja deh dari pada sok tau kayak gitu..... hehehehhehe"

Mungkin seharusnya kemarin kata2 itu perlu di sampaikan kepada seorang bapak yang aneh tapi nyata keberadaannya di depanku. Ya, karena kelakuan si bapak yang baik hati tapi terlalu sok tau itu, aku, Ijah, dan Patrick harus tertawa all day long. Itu juga menyebabkan rasa lapar kami menjadi semakin cepat datang, padahal keuangan kami sedang berada pada limited edition.

Cerita itu terjadi kemarin siang, di Stasiun Kota Jakarta. Ketika kami sedang dalam masa penantian kereta kelas AC-Ekonomi menuju Bogor. Aku, Ijah dan Patrick baru selesai melewati weekend di Pulau Seribu, tepatnya pulau Pramuka. Tujuan bisnis dan wisata yang di gabung. :)

Kami menunggu kereta di peron sambil duduk dan ngobrol ngalor ngidul dengan bahasa campur aduk ala gado2. Maklum, Bule di bawa sama 2 makhluk aneh dari pribumi. Jadilah sebuah perjalanan aneh yang sarat makna dan pengalaman. hahahhaa.....lebay.

Karena baru datang dari pulau, kami semua sibuk dengan kepentingan pribadi masing2. Ijah sibuk mencari toilet untuk segera membuang "sampah2" nya, Patrick sibuk mencari sumber penghidupan yang bernama makanan karena dia sudah sangat kelaparan, sedangkan aku sibuk menikmati lalu lalang orang yang memadati stasiun (malas bergerak dan memilih menjaga barang2 saja). Nampaknya karena kemarin itu adalah hari Senin, maka suasana stasiun sangat ramai sekali.

Beberapa waktu kemudian, Patrick kembali tanpa hasil karena dia tidak menemukan makanan yang dapat mengganjal perutnya. Minimarket yang ada di stasiun itu terlalu padat orangnya sehingga dia malas berdesak2an mencari makanan. Dia malah asik memperhatikan bapak2 yang memakai seragam PNS, menggunakan kopian, menyandang sajadah, dan berteriak2 di seberang tempat kami duduk.
"Wilis, what is he doing?" tanyanya
"Hahahha..... i think he just crazy."
"ya... i think so...." katanya.

Memang bapak2 itu kelihatan sekali kalau gila koq. Dia bergaya khotbah dan membacakan haditz atau wejangan2 pada orang2 yang ada di sana, sambil berkeliling2 dan bergerak kesana kemari. Atau mungkin si bapak itu korban audisi jadi ustadz yang gagal. Who knows? :p

Beberapa waktu kemudian, giliran Ijah datang sambil tertawa2. Rupanya sudah ada koleksi cerita lucu baru yang siap meluncur dari kepala dan mulutnya. Yaaa.... seprti biasa. Ketika kami pergi bersama, selalu saja ada banyak kejadian yang menghibur dan menjadi bahan tertawaan kami. Toh pada dasarnya kami memang hobi mentertawakan sesuatu atau seseorang. :p

"Kenapa lagi?" tanyaku
"Mbak, lu tau nggak sih. Waktu gw ngantri di toilet. Kan ada nenek2 yang ngantri di depan pintu. Di belakang dia itu ada anak muda. Gw nggak tau sih ya...siapa yang dateng duluan disana. Cuma waktu orang yang di dalam toilet keluar, di anak muda langsung nyalip nenek2 itu dan masuk ke toilet. Nah, si nenek2 yang udah nggak kuat nahan kebeletnya itu ngomel2. Dasar anak muda, nggak tau apa ini orang tua udah ngantri karena nggak tahan. hahahhahah
"hahahhaha..... Tapi terus nenek2 itu tetep ngantri atau gimana?"
"hahaa.... nggak tau deh akhirnya. Yang jelas si nenek2 itu ampe angkat2 roknya gitu. Mungkin dia kencing di sana kali. hahhahaa"
"Dasar anak muda jaman sekarang...." kata kami berdua.

Ya.... tambah lagi masalah anak muda jaman sekarang. Selama perjalanan, kami banyak membicarakan pengalaman2 seputar penilaian orang tua kepada anak muda jaman sekarang, dalam beberapa kasus.

Si Ijah pernah di tegur secara tidak langsung oleh orang tua, manakala dia sedang dalam perjalanan ke pulau seribu beberapa waktu yang lalu. Kala itu, dia pergi bersama dengan beberapa anak Lawalata dalam rangka liburan juga. Rupanya, saat kapal menyeberang, mereka mendapatkan serangan ombak besar, sehingga semua penumpang yang ada di atas geladak di haruskan turun ke dalam kapal.

Ijah dan anak lawalata yang lainnya, seperti biasa merasa bahwa lenggak2 kapal yang di hempas ombak itu adalah keadaan yang menyenangkan. Karenanya mereka ber-whaaa.....whaaaa ria sambil tertawa2. Tiba2 ada ibu2 yang berkata,
"Dasar anak muda jaman sekarang. Ada ombak besar bukannya doa malahan seneng....."
Dan merekapun hanya bisa tersenyum semanis mungkin.... :)

Lain lagi pengalaman Salmul. Dia juga pernah mendapatkan teguran secara tidak langsung ketika sedang berada dalam sebuah perjalanan. Namun, suara tegurannya berbeda,
"Dasar anak muda jaman sekarang, Bukannya berdzikir, malah sibuk update status facebook...."

Hwakakaakkaa..... Memang yang namanya anak muda itu memang luar biasa ya.... Selalu saja melakukan hal2 yang menurut orang tua adalah aneh dan tidak pada tempatnya. Ya... Namanya juga beda zaman, dan beda trend. Meskipun nggak semua trend itu bener juga ya.... Namanya juga anak muda bu.... ^_^

Tapi jangan salah juga. Orang tuapun sering melakukan hal2 aneh dan nggak lazim koq. Dan itu menjadi ceritaku, Ijah, dan Patrick kemarin juga. Cerita yang mampu membuat kami tertawa sepanjang perjalanan dari Stasiun Kota menuju Stasiun Bogor. Tertawa hingga membuat perjalanan berasa sangat cepat, padahal lebih lama dari biasanya. hahahha

Begini ceritanya. Setelah bosan menunggu kereta dengan cara duduk, kamipun berjalan menuju peron stasiun bertiga. Masih juga sambil bercanda2. Kami berdiri di garis batas penunggu kereta. Aku dan Ijah berdiri berdekatan, sedangkan Patrick seperti biasa akan menjelma menjadi sosok autis yang bergerak kesana kemari. hahahaha

Ketika Patrick bergerak menjauh dari kami, Ijah berkata,
"Patrick.... honey.... where do you go?" Patrick hanya menengok saja
"Its ok... go...go... go far away ya..." kataku pula.

Keadaan menjadi sangat sempurna karena Patrick hanya menengok ke arah kami dan mengernyitkan muka, tanpa membalas perkataan kami. Keretapun datang mendekat, dan kami bersiap untuk naik.

Tiba2 aku melihat ada bapak2 yang penampakannya seperti pegawai kantoran atau mungkin dosen yang bergerak mendekati Patrick. Dia nampak berkata sesuatu sambil menggerak2kan tangannya. Dari gerakan tangannya, aku melihat bahwa bapak itu menunjuk ke arah aku dan Ijah. Dan si Bapakpun bergerak menuju pintu kereta yang berada di belakang kami. Aku melihat Patrick hanya sedikit tersenyum2. Tuing...tuing.... curiga...curiga....

"Patrick, what's he talking about?" Tanyaku ketika berada di pintu setelah berkumpul bertiga lagi.
"He said, Maybe they just tried to practise their English" Kata Patrick
"Is "They" refers to me and Wilis?" tanya Ijah
"Ya..... " kata Patrick sambil senyum2.

Dan kamipun masuk dan memilih tempat duduk. Baru kemudian melanjutkan topik diskusi yang nampaknya akan menjadi kocak itu.
"Maybe he think that we aren't together" Kataku
"Yaaa... Exactly.." Kata Patrick yakin

Yaa..... Rupanya si Bapak2 hanya melihat sepotong dari adegan kami di stasiun. Jadi, dia hanya melihat bagaimana seorang bule (Patrick) berjalan di peron stasiun, dan kemudia ada 2 anak perempuan yang penampakannya kucel karena baru pulang dari pulau berusaha memanggil2 dan berbicara pada bule itu. Padahal ketika 2 anak perempuan itu memanggil2, si bule hanya bersikap sok acuh dan tidak peduli. Jadilah aku dan Ijah seolah gagal menggoda si bule, di mata si bapak2 itu.

Kamipun menjadikan kasus ini sebagai bahan obrolan yang menarik sepanjang sisa perjalanan yang baru saja di mulai.
"So, honey... maybe we need to go to him, and than introduce ourself now. Tell him that we are team." kata Ijah.
"No... maybe we need to tell him that i am your bodyguard and Ijah is your household." Kataku
hwaakakkaakkakaa..... Ngakak terus berkelanjutan.

"Or just tell him that we slept together on tent lastnight and i've been kiss ones of you" Kata Patrick.

Kamipun menyimpulkan bahwa Bapak2 itu adalah contoh bapak yang sok tahu. Mungkin saja Bapak2 itu sering bertemu dan berinteraksi dengan bule, dan berfikir bahwa nggak mungkin kalau bule bisa berteman dekat dengan orang2 sekucel aku dan Ijah. hahhahaha.... Kacaw... :p

"Gw koq pengen banget ya ke tempat bapak itu dan ngasih tau siapa kita" Kata Ijah
"Ya ampun jaah.... yang sabar ya... Kita ini di mata dia nggak layak jadi teman Patrick. Apa jadinya kalau dia tau kalau lu pacarnya Patrick? bisa sakit jantung nanti dia..." kataku
"Gw sih pengen banget kasih tau kalau kita semua ini temenan lho... Sok tau banget sih ya dia..." kata Ijah lagi

"Patrick, i think i will write this story. What do you suggest for the tittle?" Tanyaku
"Kind of mistaken diplomat" kata Partick

Ijah.... yang sabar ya.... Ini bisa jadi pengalaman berharga buat kita. Kita bisa kasih tau temen2 yang sama kucelnya kayak kita (Kalau pulang dari lapang) dan sedang sama bule, bahwa ada kemungkinan hal2 seperti ini terjadi. Biar teman2 kita nggak pada syok dan menangis darah.... hahahahahahhahaha

Thursday, May 6, 2010

Ada yang Datang dan Ada yang Pergi

Dalam kehidupan manusia, selalu saja dikatakan bahwa Lahir, jodoh, rejeki, dan mati ada di tangan Tuhan. Dan akupun meyakini bahwa 100% itu benar. Karena kalau kita berani2 tidak yakin pada hal2 itu, maka jaminan neraka di depan mata. Naudzubillahimindzalik.

Kelahiran-Kematian. Pertemuan-Perpisahan. Adalah sesuatu yang pasti dan sangat berhubungan erat. Hanya jarak yang tidak bisa kita perkirakan. Ini adalah kata2 yang aku kutip dari tulisan saudara tuaku.

Hari ini, aku sedikit merasakan pertemuan dan juga perpisahan dalam satu waktu. Sesuatu yang sangat bertolak belakang, namun hadir dan aku alami dalam satu waktu. Sedih, dan senang. Menimbulkan effect yang kurang bagus pada muka dan juga hatiku jika mereka datang bersamaan seperti itu.

Tadi siang, aku merasa bahwa aku sedang kehilangan sesuatu yang menurutku cukup penting. Sebuah anyaman. Sebuah anyaman yang sudah kumulai kerjakan perlahan2, hati2, dan teliti dari beberapa bulan yang lalu. Tiba2 saja hari ini anyaman itu terburai begitu saja. Terburai di beberapa bagian yang membuatnya tak lagi nampak sebagai anyaman. Menyedihkan...

Untuk mengalihkan perhatian dari rasa sedih yang menggelayutiku tentang anyaman itu, akupun diam menatap monitor. Dengan kesadaran setengah lebih sedikit, jari2 nakalku bergerak kesana-kesini dan menghasilkan beberapa lembar tuangan ide. Tuangan ide yang mendadak dangdut mampir di kepalaku yang sedang sedih. Tuangan ide yang mendukung salah satu mimpiku. Fantastic...

Semua serba seimbang nampaknya. Aku kehilangan anyaman yang selama ini selalu kujaga dan kurawat serta ku pelihara, namun aku mendapatkan pencerahan untuk satu mimpiku. Ada yang datang, dan ada yang pergi. Sebanding...

Apapun yang terjadi di dunia ini, kita tidak perlu mendramatisasi dan menilainya sebagai sesuatu yang berlebihan. Semua masih selalu saja normal untuk ukuran duniawi, jadi tidak perlu berfikir terlalu jauh. Hanya akan menambah kerutan di dahi dan juga menambah mancung bibir beberapa senti. hehehehe

Gambar di ambil dari sini dan sini

Tuesday, May 4, 2010

Friends and Enemy

Sepertinya, belakangan ini aku di paksa untuk bersahabat dan sekaligus bermusuhan dengan beberapa hal baru. Beberapa hal yang beraneka rupa dan beraneka warna wujudnya. Beberapa hal yang membuatku cukup kewalahan, namun tidak bisa di hindari.

Memang enak kalau kita punya sahabat. Semakin banyak sahabat, maka akan semakin indah hidup ini berlalu. Itu jika dan hanya jika sahabat yang di maksud adalah teman yang selalu ada dan selalu mendukung kita dalam suka dan duka. Selain itu juga betapa tidak enak memiliki musuh. Kalau kata orang tua dari jaman dulu "Seribu teman masih saja kurang, namun satu musuh terlalu banyak sudah".

Sahabat baruku adalah panas, gerah, dan keringat. Entah kenapa belakangan ini bumi rasanya sedang di panggang di sebuah oven raksasa. Suhu meningkat dengan tajamnya, hingga panas selalu hadir dimana2 dan kapanpun. Pagi, siang, malam. Panas datang bersamaan dengan gerah dan keringat. Yyaaiiyy..... Lengket adalah hasil akhirku setelah seharian bergumul dengan sahabat baruku ini.

Sebuah kipas angin yang sudah di setel maksimal di pojok kamar itu, nampaknya kalah eksis di bandingkan dengan serangan panas dan gerah yang datang dari segala penjuru ini. Sepertinya, Matahari sedang betah berada di dekat bumi. Mungkin sekarang sudah mencapai titik terdekat dengan bumi. Inginnya aku berteriak pada matahari,
"Hey dewa matahari, di Bumi sekarang sedang banyak terjadi bencana, kekacauan, dan perang... Sebaiknya kamu jangan dekat2 dengan bumi... Hush...hush...hush..."

Namun sayang, Matahari tidak akan mendengar teriakanku, apalagi sampai mengikuti perintahku. (Memang kamu ini siapa?? main nyuruh2 gw?? *Kata matahari). Dan di sinilah kita bertahan dengan segala panas, gerah, dan keringat. Semoga saja biang keringat tidak ikut2an bergabung dan memaksaku untuk menjadi sahabatnya juga. Tiddakkk...... :p

Cuaca dan udara yang panas ini juga menimbulkan dilema untukku dalam menentukan saat2 mandi. Pada awalnya, aku memilih untuk mandi sepagi mungkin. Siapa tahu dengan mandi sepagi mungkin, maka rasa panas dan gerah bisa berkurang. Namun apa yang terjadi? Rasa panas dan gerah tetap saja muncul dengan cepatnya. Ketika aku mencoba untuk mandi setelah siang, wuiihhh... panasnya nggak ketulungan soddara-soddara... :(

Akhirnya aku memutuskan untuk mandi sesuka hati, tanpa memikirkan tentang sahabatku itu. Kalau mau mandi, ya mandi saja. Kalau enggak, ya buset deh.... Mana tahaannn... hahahaha (Pada dasarnya malas mandi, selalu saja ada alasan untuk membenarkan) :p

Beralih pada musuhku. Nyamuk. Bhwakakakakakka... Musuhku yang satu ini juga tidak kalah dahsyat dalam memaksaku. Belakangan ini dia sering datang dan mencoba untuk berperang denganku. Padahal, kamarku setiap hari di sapu dan dipel. Selain itu, barang2 yang ada di dalam kamar juga jumlahnya terbatas. Karenanya, sepertinya lagu anak2 jaman dulu yang berkisah tentang nyamuk sudah expired dan perlu revisi lagi. Kalau tidak salah, bunyi lagunya,
"Banyak nyamuk di rumahmu...uu..uu... Gara2 kamu..uu... malas bersih2...."

Lagunya perlu di up to date-kan sepertinya. Jaman sekarang nyamuk datang bukan hanya di tempat yang kotor saja. Bahkan konon katanya nyamuk Aidesh Aygepthy yang pembawa penyakit demam berdarahpun sudah bermutasi dan tahan hidup di tempat yang kotor... Oh tiddaaakkk... :(

Sebenarnya, kalau misalkan dia datang sendirian sih bukan masalah buatku. Namun sayang, nyamuknya memang hanya satu, tapi... temannya banyak sekali... :p

Dulu, kalau siang hari kamar di semprot dengan racun nyamuk yang banyak di iklankan di tipi2 itu, maka malam hari kamar pasti bebas nyamuk. Namun sekarang, entah kenapa hukum itu sudah tidak berlaku di kamarku. Siang di semprot, malam nyamuk tetap datang bersama dengan teman2nya.

Beberapa malam terakhir, tidurku selalu saja tidak nyenyak karena musuhku yang satu ini. Tengah malam, si nyamuk dan teman2nya pasti akan mendekatiku dan membunyikan sinyalnya yang berbunyi 'ngiiinngg.....ngiiinnnggg', dan dengan mulus mereka akan mendarat dengan di pipi, tangan, kaki, atau di tempat2 yang mungkin mereka anggap sebagai tempat mendarat yang tepat.

Dan perangpun akan dimulai. Awalnya, aku hanya melawan dengan tangan kosong saja. Atau dengan kata lain, aku hanya melawan mereka dengan tepokan tangan. Namun lama2, si nyamuk dan teman2nya mulai bisa membaca gerakan tanganku. Sehingga mau tidak mau aku harus berganti jurus.

Akhirnya aku memilih untuk angkat senjata dalam melawan nyamuk beserta teman2nya itu. Raket nyamuk. Yaaa... Aku menggunakan raket nyamuk untuk melawan barisan nyamuk yang siap menyerang itu. Selain menggunakan raket nyamuk, aku juga berusaha membaca arah gerak nyamuk dan teman2nya.

Aku mempelajari arah datang, dan beberapa tempat sembunyi yang menjadi favorit mereka. Semua benda yang berwarna hitam, akan menjadi tempat nangkring mereka yang utama. Selain itu, kolong meja yang di selimuti dengan taplak itu juga menjadi tempat latihan perang mereka. Daypack-ku yang berwarna hitam, serta rak buku yang ada di samping tempat tidur.

Beberapa malam terakhir ini, selalu terdengar bunyi2 yang berasal dari kamarku. Bunyi2an yang sangat seru, yang berasal dari pertempuranku dengan nyamuk dan teman2nya. Bunyi "pletak-pletek" yang timbul dari raket beraliran listrik dengan tubuh2 kecil nyamuk yang licik dan nakal itu. Hiyaaaahhh.....

Aku akan terus memperjuangkan hak-ku untuk terbebas dari bentol dan rasa gatal. Meskipun itu berarti aku harus kehilangan hak untuk tidur nyenyak. Tidak apa2 teman... Semua memang membutuhkan perjuangan... Aku yakin, malam ini si nyamuk akan datang lagi dengan membawa teman2nya. Namun semoga saja jumlahnya tidak sebanyak biasanya, karena salah satu pintu masuknya sudah aku tutup permanen. :p

Begitulah ceritanya... Sahabat dan musuh datang bersamaan kepadaku. Dan mungkin juga kepada orang2 lain. Kedatangan sahabat dan musuh yang bersamaan itu, membuat kita terkadang salah kaprah dan di lema. Ketika kita mencoba mempererat persahabatan dengan panas dan gerah, maka kita tidak perlu menggunakan selimut di kala tidur. Namun itu berarti kita mengundang musuh kita (nyamuk) untuk berpesta pora. Ketika kita berselimut ria demi menghindari serangan musuh, maka panas dan gerah akan menggila... Sungguh... sebuah dilema yang sangat berat sekali saudara-saudara... ^_^

Gambar di ambil dari sini, sini, dan sini.

Saturday, May 1, 2010

It Isn't Only About .....

"It isn't Only about you, yourself, and yours" Buddy....

Aku punya beberapa ekor peliharaan dari jenis makhluk lain bernama kucing. Jumlahnya ada beberapa. Cukup banyak terkadang, namun terkadang lebih banyak lagi. Namun suatu saat, bisa jadi tidak satupun. Kenapa sedemikian cepat fluktuasinya berubah? Karena kucing2 itu adalah benda bergerak, dan mereka adalah kucing yang memiliki dunia mereka sendiri2. Dunia sesama kucing, atau juga dunia kucing2ku itu dengan manusia2 yang lain. Who knows? Namanya juga kucing.....

Aku mengenal baik beberapa dari sekian banyak kucing yang aku punya. Aku mengenal beberapa dari mereka dengan sangat baik sekali. Aku punya satu kucing yang sangat mandiri dan keras kepala. Aku memanggilnya Si Mandiri dan Keras Kepala. Dia akan melakukan sesuatu hal kalau memang dia mau, dan yakin bisa melakukannya. Apa saja. Tidak ada satu kucing lainnya ataupun manusia yang bisa menghentikan niatnya, ketika dia sudah memutuskan.

Namun kucing (Si Mandiri dan Keras Kepala) ini juga tidak pernah terlihat menyesali apa yang telah di lakukannya. Termasuk ketika dia menggoda kucing tetangga, yang jelas2 sudah punya pasangan di rumahnya. Tindakan yang sangat berani bukan? Aku sebagai manusia yang dekat dengan kucing itu, bisa sedikit berbangga hati dengan kelakuan kucing itu. :p

Beberapa kali kucingku itu melakukan hal yang sama, yaitu mengganggu kucing2 tetangga yang sudah punya pasangan. Ku biarkan saja dia, selama dia tidak mengganggu kucing yang sedang beranak. Bisa menimbulkan pertumpahan darah nantinya bukan? :)

Toh pada akhirnya kucingku itu melenggang pulang dengan sendirinya. Akhirnya dia mulai mengurangi aktivitasnya dalam mengganggu kucing2 tetanggaku itu. Entah kenapa dan atas dasar apa, belakangan ini dia lebih suka diam dan menjaga celenganku. Sepertinya dia ingin menjaga harta yang tidak banyak itu. Jangan2, dia berfikir bahwa dia adalah seekor anjing penjaga? Hadduuhhh.... Entahlah... Aku kurang mengerti kenapa dan mengapa.

Salah satu kucing yang aku kenal benar tabiatnya adalah si Bengal dan Bebal. Kucing ini hampir sama namun juga berbeda dengan kucing yang pertama. Si Bengal dan Bebal ini adalah kucing yang keras kepala juga. Dia selalu melakukan apa yang menurut dia menyenangkan, tanpa memperdulikan resiko ataupun akibat yang bisa terjadi. Sayangnya, kucing ini seringkali tidak memperhitungkan dengan benar dampak dari perbuatannya. Karena kurangnya perhitungan dalam melangkah, kucing ini seringkali jatuh dan terjerembab.

Dia seringkali membuat keributan, tanpa menyadari bahwa keributan itu timbul karenanya. Itulah mengapa dia diberi nama Si Bengal dan Bebal. Dia senang menjadi pusat perhatian, dimanapun dia berada. Karenanya, dia juga senang sekali mengeong paling keras untuk mengambil perhatian kucing2 di sekitarnya.

Sayangnya, kucing ini sangat mudah terpancing oleh lingkungan sekitarnya. Ketika kucing2 dilingkungan sekitarnya sedang menggemari permainan bola, maka dia akan segera menyempil ditengah2 mereka untuk bermain bola. Ketika kucing2 di lingkungannya sedang senang bernyanyi ngeang-ngeong, maka dia akan dengan lantang mengeong. Begitu juga ketika dia melihat Si Mandiri dan Keras Kepala sibuk dengan kucing2 tetangga, diapun segera beraksi dan menyainginya.

Namun sayangnya, kembali lagi pada sifat dasarnya yang tidak pernah memperhitungkan sebab akibatnya, dia seringkali terkena sial. Kalau si Mandiri dan Keras Kepala bisa melenggang pulang dengan santai dan seringai lebar, si Bengal dan Bebal ini pasti pulang dengan kepala di tekuk dan kuyu. Pernah sekalinya waktu, dia sedang menggoda kucing tetangga di ujung jalan, namun dia harus pulang dengan malu karena aksinya terlalu norak dan dia di tertawakan oleh kucing2 yang lain di kompleks itu. Di waktu yang lain, ketika dia sedang menggoda kucing di kompleks lainnya, ternyata dia tidak sadar tengah di manfaatkan oleh kucing yang di godanya, hingga akhirnya dia di campakkan di pinggir jalan dengan iringan tawa sinis dari kucing di kompleks itu. Poor you.... :(

Satu lagi kucing yang belakangan ini sedang sering aku perhatikan. Namanya si Belia. Kucing yang satu ini adalah kucing yang masih tergolong muda. Bisa di bilang masihlah berupa anak kucing. Namanya juga anak kucing, mungkin juga seperti anak manusia. Suka bermain, suka mencoba hal baru, suka dengan sesuatu yang serba baru. Namanya juga anak2....

Ketika aku memperhatikan si Belia ini, aku pasti harus susah payah kalau tidak ingin tertawa. Kucing ini sangat lucu, dan sering sekali bertingkah laku yang mengundang tawa. Banyak sekali perbuatannya yang membuat aku harus selalu memegangi perutku sambil terpingkal2. Salah satunya ketika aku melihatnya menggoda salah satu kucing tetangga. Dia tidak perduli apakah kucing itu sedang ingin bercanda atau tidak, yang jelas dia mulai bergerak2, menari2, dan bertingkah aneh di sekeliling kucing incarannya itu. PPhhhiiiuuuhhh.... Lagi2, namanya juga anak2.... :)

Terkadang, selain ketiga kucing itu, sering pula sekawanan kucing berkumpul di rumahku. Mereka berkumpul dan bermain bersamaku. Menyenangkan sekali ketika sedang berkumpul dengan mereka, karena aku bisa melakukan banyak hal. Terkadang, aku banyak menghabiskan waktu hanya untuk sekedar melihat tingkah polah mereka dan tersenyum, kemudian tertawa.....

Untuk kalian..... Kucing2ku yang lucu....
Ingatlah selalu bahwa kebersamaan dan keceriaan yang selama ini kita punya adalah penting. Kita harus selalu saling menjaga, mengingatkan, dan juga saling mendukung. Manusia, kucing, dan juga semua makhluk di bumi ini, sudah selayaknya seperti itu.

Setiap apa yang kita lakukan, akan saling mempengaruhi yang lainnya. Karenanya, berlaku dan bersikaplah sesuai dengan kodrat kita masing2. Perhatikan dan pertimbangkan pula apa dan siapa yang ada di sekeliling kalian, karena mereka juga sangat penting untuk kita.

Live....
"It Isn't Only About You, Yourself, and Yours....."


I Love All of You Buddy.....

We Must Always be Happy, Wherever We Are.... :)


Gambar di ambil dari sini dan sini