Sunday, April 26, 2009

Masalah Etika Yang Kadang Kita Lupa

Hari ini aku melakukan sedikit perjalanan ketengah-tengah keramaian ibu kota Indonesia. Jakarta. Sekedar jalan-jalan, cuci mata, dan mencari beberapa barang elektronik. Aku berangkat dengan kereta cepat jurusan Bogor-Jakarta. Begitupun pulangnya.

Ada sedikit kejadian yang kurang atau bahkan tidak enak didengar ataupun dirasakan ketika aku berada di dalam kereta ekspress menuju Bogor. Suatu kejadian yang menegurku, mengingatkanku, dan sedikit mencoreng nama baik generasiku. Berikut adalah runtutan peristiwa dalam perjalananku sore ini.

Setelah mendapatkan alat elektronik yang aku cari, maka aku dan dia memutuskan untuk makan sebentar di restoran cepat saji yang ada di lantai dasar pusat belanja terbesar di Jakarta itu. kurang lebih setengah jam kemudian, kami sudah berlarian menuju loket kereta api untuk membeli tiket kereta ekspress yang sudah hampir berangkat. Dengan setengah berlari, kamipun berusaha menaiki kereta dari pintu yang masih terbuka. Melintasi satu gerbong, akhirnya kami menemukan bangku kosong, dan memutuskan duduk disana. Satu persatu penumpang memasuki dan mulai memadati gerbong kereta. Sekitar 15 menit kemudian, kereta mulai menutup pintunya, dan perlahan bergerak meninggalkan keramaian ibu kota. Syukurlah, kondisi dalam gerbong kereta tidak terlalu padat seperti hari-hari kerja biasa.

Karena sudah sore, maka kereta ekspress itu berhenti di setiap stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Aku dan dia mendiskusikan beberapa hal seperti biasa, untuk mengisi waktu. Di salah satu stasiun, obrolan kami berhenti manakala pintu kereta terbuka. Seorang lelaki berpostur tinggi dan berkulit putih (keturunan Arab sepertinya_red) memasuki gerbong tempat kami duduk, dan bertanya kepada orang yang duduk di pinggir pintu : “ ini kereta ke depok ya pak?? Di stasiun Depok berhenti kan??” tanyanya. Dan bapak yang ada di samping pintu masuk itupun mengiyakan. Lalu si laki-laki itu menghadap keluar kea rah beberapa orang remaja putrid : “ ayo…naik ini aja. Berenti di Depok koq.” Katanya. Akhirnya naiklah 3 orang remaja putrid yang tadi menunggu di luar. Mereka berdiri didekat pintu karena memang kursi telah terisi semua.

Beberapa waktu kemudian, para petugas pengecekan karcispun berjalan menyusuri gerbong sambil memeriksa karcis setiap penumpang. Ketika mas-mas yang meminta karcis kami selesai melubangi 2 karcis kami, dia tak kunjung pergi. Rupanya di bagian orang-orang yang berdiri, ada sedikit masalah karena aku bisa mendengar perdebatan kecil. Selidik punya selidik, rupanya pak petugas kereta api menemukan bahwa ke 3 remaja putrid tadi salah menaiki kereta. Mereka membeli tiket kereta AC ekonomi, tetapi naik di kereta ekspress. Bapak petugas menjelaskan peraturan dan segala macam mengenai perkereta apian. Nampaknya salah satu dari 3 remaja itu bersikap ngeyel dan memilih untuk mendebat bapak petugas itu. Dia menyalahkan petugas kereta api yang tidak memberikan peringatan bahwa kereta yang kami naiki ini bukanlah kereta mereka. Sedangkan pak petugas mengatakan bahwa sudah ada pengumuman, baik di bagian loket, ataupun di ruang tunggu kereta api. Rupanya mbaknya itu tetap ngeyel dan membantah pak petugas. Mas yang masuk pertama tadipun berusaha menengahi dan mengatakan : “ ya sudah pak, mbaknya ini bayar aja kurangannya berapa..kasian mereka ini kan mahasiswa pak..” katanya. Bapak petugas justru mendebat lagi upaya mas itu menengahi mereka dengan menjelaskan kesalahan 3 remaja itu dan peraturan perkereta apian. Ketika pak petugas sedang menjelaskan peraturan2 itu kepada mas-nya, remaja itu kembali ngeyel, sehingga pak petugas menjadi emosi. Bapak yang duduk di sampingku selang 1 orang, berusaha mencolek remaja itu untuk sekedar menenangkan dan mengingatkan agar mengalah saja, namun tidak di gubris. Beberapa orang di barisan kursi depanku mulai geleng-geleng kepala dan bergumam, : “ya ampun mbak, bayar sajalah…11 ribu ini kan??”

Entah bagaimana akhir dari perdebatan antara remaja putri dan pak petugas itu, akhirnya pak petugaspun berjalan kembali meneruskan pemeriksaan tiket. Ternyata ibu-ibu yang tepat berada didepanku juga mengalami hal yang sama, yaitu salah menaiki kereta. Namun karena sudah melihat kejadian tadi dan diperingatkan oleh ibu-ibu disampingnya untuk berdamai dan membayar saja, maka dia langsung mengatakan pada pak petugas : “ pak, saya juga salah naik kereta pak. Tapi saya bayar saja disini…beneran pak. Saya nggak tau kalau saya salah naik kereta.” Kata ibu itu bersungguh-sungguh. Si bapak petugas sepertinya masih geram dan kembali mengatakan bahwa ibu itu melanggar peraturan dan bla..bla..bla…

Saat itulah, si remaja yang tadi kembali nyolot dengan kata-kata : “ambil tuh duitnya..” dan entah bagaimana pula ceritanya, si pak petugas mendengarnya, sehingga pak petugas makin emosi saja. Dia melabrak remaja tadi dengan mengatakan bahwa dia itu tidak sopan kepada orang tua, dan dia mengatakan kata2 yang nadanya menyakitkan hati, bla…bla…bla….

Setelah puas mengeluarkan uneg-uneg, si bapak berjalan mennggalkan mereka. Karena melihat ibu-ibu dei depanku simpati dengannya, maka si bapak mengeluhkan sikap para remaja itu kepada ibu-ibu itu. rupanya remaja yang lain kembali tidak menyukai sikap pak petugas dan berteriak, : bapak apa-apaan sih??orang anaknya aja udah diem, koq malah bapak ngadu-ngaduin gitu sama orang?? Beraninya ama perempuan ya pak??” teriak remaja itu. akhirnya pak petugas memutuskan untuk pergi saja. Si ibu yang nampaknya udah gemas dengan sikap anak-anak itu, langsung bilang : “mbak, mbok ini nya itu dijaga (katanya sambil menunjuk mulutnya sendiri_red). Sama orang itu mbok omongnya ati-ati. Sekarang ini nyari kerjaan susah lho…jangan menjatuhkan orang kayak gitu. Nanti kualat lho..” kata ibu itu menggebu-nggebu dan diteruskan dengan membahasnya dengan anak muda yang duduk disampingnya. Dalam hati, aku mengacungi jempol 4 ke ibu itu. hehehe

Setelah panasnya hawa karena kejadian itu, aku dan dia membahas kejadian ini. Aku lalu berkata kepadanya. “ susah ya, yang muda menganggap bahwa fasilitas ini kurang memenuhi kebutuhan pengguna jasa, tapi yang bertugas menganggap ini sebagai professional. Jadi serba salah gitu deh. “ terus katanya : “ kalo pak petugas itu pasti juga dimarahin atasannya kali ya kalo nggak menegur dengan benar..?” dan akupun berkata : “ bisa jadi. Selain itu juga di Indonesia ini kan suka serba salah. Mungkin saja si ibu yang didepan kita ini adalah salah satu orang yang memang benar-benar nggak tau bahwa kereta yang dinaikinya salah. Tapi kan sering juga ada orang yang sengaja salah kereta agar bayar murah, tapi enak. Nah, mungkin saja pak petugas sering melihat yang seperti iitu. Mangkanya tadi rada emosi. “ terus dia berkata lagi : “iya juga sih…Cuma bapak itu juga terlalu emosi sih. Harusnya mungkin dia lebih kalem aja. Kan biasanya yang naik kereta ekspress ini kan orang2 yg rata2 pinter, dan mereka lebih seneng berdebat daripada membayar. Hehehhe” hehehhe…mungkin juga ya…kataku dalam hati.

Akupun kembali terpikirkan sesuatu dan mengatakan padanya : “ tapi ya…diluar bahwa memang fasilitas kuran dan professional, ada juga masalah etika kan. Etikanya antara anak muda dengan orang tua. Itu yang sepertinya hilang dari kejadian tadi. Harusnya paling nggak kan kita bisa menganggap bahwa tidak sopan mengatakan dan bersikap seperti itu dengan orang tua. Kita bolehlah kesal dan nggak suka dengan orang tua, tetapi kan lebih baik kalau ditahan, dan tidak diungkapkan didepannya langsung begitu. “ dan dia menyetujui pernyataan ini. “ iya, betul itu. aduh…jadi makin susah nih ya, mikir bagaimana cara kita dididik dan akan mendidik anak cucu kita nantinya.”

Mendengar kata-kata itu, akupun terdiam dan mulai bermain dengan otakku. Iya ya…yang paling berat adalah bagaimana kita akan mendidik anak-anak kita nanti agar tidak melupakan sisi etika berhubungan dengan orang lain. Thanks to my family yang meskipun dikampung, tapi justru memberikan banyak kesempatan untuk belajar etika, meskipun tak ada yang sempurana di dunia ini.

Goes To Eropa

Saat ini, kesibukan tengah melanda lingkungan rumah. Tidak berhubungan bermasalahnya pemilu legislative awal April 2009 kemarin, dan tidak berhubungan pula dengan pemilu presiden Juni nanti. Kali ini hanyalah kesibukan keluarga, yang sedang mempersiapkan keberangkatan sang ibu ke Eropa. Eropa???? Wooowww…..

Si Ibu harus pergi ke Eropa selama 2 minggu untuk menjalankan tugasnya dari kantor. Dengan berat hati, meninggalkan si Anak yang masih berumur 3 tahun itu dirumah bersama Ayah, Kakek, dan Neneknya. Selama beberapa hari terakhir, Ibu dan Ayah berusaha menjelaskan kepergian Ibu itu kepada si Anak. Dalam setiap kegiatan persiapan (packing) si Anak senantiasa di libatkan, dengan harapan agar si Anak mengerti pelan-pelan.

Selama 1 tahun terakhir, si Ibu sudah jarang meninggalkan rumah untuk waktu yang lama, terlebih lagi ke luar negri, yang otomatis membuatnya semakin dan semakin dekat dengan si Anak. Tentunya, hal itu akan semakin membuat hati menjadi berat untuk meninggalkan si Anak. Tetapi Nenek mengatakan bahwa : “ Kalau anak kecil itu ditinggal, satu dua hari pasti nangis dan nyariin. Tetapi setelahnya masih mudah lupa.” Entahlah….semoga saja begitu.

Kembali tentang Eropa…..

Sebuah benua yang namanya tak asing di telingaku, karena sejak SD pun dipelajaran sejarah telah disebut-sebut. Sepanjang perjalanan sekolah, nama Eropa semakin sering didengarkan. Belum lagi kenyataan bahwa teman-temanku pun ada yang sekolah disana, dan bercita-cita tinggal disana. Apa yang terbayang ketika mengatakan Eropa??? Bagiku, masih sama dengan membayangkan bagaimana itu Bulan. Karena memang kita mendapat banyak informasi tentangnya, tanpa sekalipun menginjakkan kaki disana.

Belanda, Paris, Rusia, Austria, Britania raya, Italia, Irlandia, Jerman, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Yunani…..adalah beberapa Negara yang sering atau terlampau sering melintasi benak ini. Kenapa??? Karena terlalu banyak tempat-tempat yang konon katanya indah, bersejarah, atau penting untuk dikunjungi ketika kita mendapat kesempatan keliling Eropa. Negara sepak bola….salah satu julukan untuk Negara Eropa bukan??? Hehehe….scara atlet-atlet pesepakbolanya banyak yang ganteng-ganteng booossss….

Salah satu teman pernah bertemu dengan pelatih sepak bola klub mana gitu…(lupa_red) dan sempat berfoto. Hehehe….dan si Ibu yang sekarang mau berangkat ke Eropa ini, berharap dapat bertemu dan sempat berfoto dengan Christiano Ronaldo yang ganteng itu. hehehhe…semoga terwujud. Amin

Eropa…sekarang ini masih menjadi mimpi untukku. Tetapi aku harus punya keyakinan untuk dapat menuju kesana. Menginjakkan kakiku di tanah Eropa masuk sebagai daftar mimpiku yang nomor sekian. Hope my dreams come true…. amin

Seperti cerita lascar pelangi bukan??? Bahwa kita tidak perlu takut untuk bermimpi, karena mimpi itu akan mencarikan kita jalan menuju nyata. Kalau lagu Nidji menyebutkan “ Mimpi….Adalah kunci….untuk kita….Menaklukkan dunia….”

Seperti cerita yang beberapa waktu belakangan ini banyak mendatangi emailku mengenai istri dari mantan petinggi Indonesia Bpk. Hoegeng. Ibu Hoegeng (lupa namanya, Irma atau siapa gitu_red), sudah lama mendirikan klub Hawaian Senior yang mempopulerkan lagu-lagu Hawai, dan memiliki sahabat sejati di Hawai. Satu hal yang beliau impikan adalah untuk dapat pergi ke Hawai. Akan tetapi karena permasalahan politik lama yang membelit Bapak hoegeng, maka upaya keberangkatan beliau yang telah dengan susah payah mengumpulkan uang, ditolak atau dipersulit oleh pihak Indonesia dan Amerika Serikat. Namun beliau tidak pernah berhenti bermimpi untuk dapat pergi ke Hawai. Hingga akhirnya teman dan keluarganya memberikan kejutan yang sangat besar padanya. Bukan hanya dapat pergi ke Hawai, akan tetapi beliau juga dipertemukan dengan sahabat lamanya yang tinggal di Hawai. Sungguh akhir yang membahagiakan.

Itulah….akupun selalu berusaha menempatkan mimpi-mimpi itu didepan dahiku sejauh 5 cm (mengambil kata-kata dari buku 5 cm_red). Yang seperti dituliskan dalam buku 5 cm itu, bahwa kita selayaknya meletakkan mimpi atau impian itu 5 cm didepan dahi, agar selalu dapat dilihat dan tak terlupakan.

Wish de dreams come true….

Saturday, April 25, 2009

Benarkah Mereka Suka Ikut Campur ????

Dalam waktu sekitar 2 bulan ini, sudah tak terhitung berapa banyak teman, saudara, keluarga, ataupun orang yang baru kukenal menanyakan hal yang sama temanya. Semua itu berhubungan dengan apa yang telah terjadi di bulan Februari 2009 kemarin. Seberapa besar pengaruh bulan Februari dalam hidupku ini?? Sepertinya menjadi cukup besar karena memang disanalah status baru dipaksa berikan untukku.

Apa yang mereka tanyakan??? Merupakan pertanyaan yang wajar, lazim, dan lumrah untuk ditanyakan bagi penyandang status baru sepertiku. Setahun yang lalupun aku mendapatkan pertanyaan yang wajar, lazim dan lumrah ditanyakan kepada orang setingkatku. Waktu itu mereka akan dan sudah menanyakan : kapan kamu lulus??? Dan saat ini mereka sudah dan mungkin akan menanyakan : kamu kerja dimana???

Ada salah seorang temanku yang cukup dekat denganku, dan mengalami apa yang aku alami sekarang ini lebih dulu. Dia sangat terganggu dengan pertanyaan2 semacam itu. bahkan dalam tulisannya didalam blognya, dia mengatakan bahwa orang yang bertanya seperti itu adalah orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Apakah memang seperti itu???

Kalau menurutku pernyataan temanku yang satu itu tak sepenuhnya benar. Aku kurang setuju juga dengan pernyataan itu. kenapa?? Karena bagiku itu hanyalah sebuh bentuk interaksi social dengan lingkungan sekitar kita. Dengan saling bertanya, menanyakan, dan mendiskusikan sesuatu dengan orang lain, aku rasa itu adalah sebuah komunikasi biasa dan bahkan menurutku perlu dilakukan. Karena jika tidak ada yang saling peduli, atau jika semua orang didunia ini sudah bersikap seperti temanku itu, maka hidup ini akan sangat sepi. Bagaimana tidak, orang akan hidup dengan individualis, dan tidak peduli. Dalam setiap kegiatannya, orang akan mengenakan earphone di kupingnya yang entah untuk mendengar lagu atau radio seperti keseharian temanku itu. hhhwwaaaa……parah sekali.

Kembali kepada apa yang mereka tanyakan padaku. Kelulusankupun tak lepas dari keberadaan pertanyaan-pertanyaan itu. mungkin 40 % kelulusanku berdasarkan banyaknya pertanyaan yang semakin lama semakin membuatku terpacu menyelesaikan skripsi yang sempat molor 1,5 tahun itu. mereka dengan rajin menanyakan padaku : hayoo…kapan lulus??, koq nggak lulus2 sih??? Dan sebagainya.

Dan akhirnya, bulan Februari kemaren adalah titik dimana mereka harus membuat, mengarang, menciptakan, dan mempersiapkan pertanyaan baru untukku. Sekarang masalahnya adalah kapan kamu kerja??? Kerja dimana??? ngapain aja kerjanya??? Dan sebagainya, dan sebagainya…

Semoga saja dengan semakin dipertanyakan, maka garis pekerjaanku semakin jelas dan rejeki itu tetap mengalir. Amin.

Oh iya, ada satu lagi pertanyaan yang mengikuti kebiasaan pertanyaan mengenai pekerjaan setelah seorang mahasiswa lulus kuliah. Kapan kamu menikah??? Hallllaaaahhhh…..:P

Friday, April 24, 2009

Mobil ini sudah terbiasa sakit

Kembali pada masalah mobil, dan mobil ku sayang. Mobil ini sepertinya sudah terbiasa sakit, bahkan sepertinya sudah sangat menikmati rasa sakit itu. kecenderungannya, saat ini bukan hanya telah mampu menikmati rasa sakit itu, namun telah menganggap bahwa sakit itu adalah bagian dari dirinya.

Dahulu kala, ketika hama penyakit, borok dan pengganggu dari luar datang untuk yang pertama kali dan kedua kalinya, mobil itu meronta dan berusaha melepaskan diri. Dia menganggap bahwa semua penyakit itu aadalah ancaman. Dia berteriak ke kanan dan kekiri untuk mencari dan meminta bantuan. Sampai dengan penyakit itu pergipun, rasa sakit dan penderitaan itu masih membekas di dalam hati mobil ini. Sampai ada niat untuk memberontak dan memboikot saja para penyakit itu agar tidak berani lagi mendekatinya. Sungguh suatu semangat yang luar biasa dan meledak-ledak. Semangat yang mampu mempengaruhi sekitarnya, karena memang itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup mobil itu kedepannya.


Setelah wabah penyakit yang pertama berlalu, kondisi mobil ini membaik dan semakin stabil. Diapun mulai beraktivitas seperti sedia kala. Dia juga mulai merancang dan menyusun rencana-rencana perjalanan jauh menaklukkan dunia. Jiwa mudanya kembali berkobar dan membara.

Namun malang tak dapat ditolak, dan untung tak dapat di raih. Beberapa waktu terakhir ini, si mobil ini mengalami penyakit yang beruntun. Memang tidak bersamaan, tetapi beruntun dan tanpa henti. Sembuh penyakit yang satu, maka muncul penyakit yang lain. Baru beberapa hari sembuh, penyakit lain sudah membayangi. Sungguh malang nasib mobil ini belakangan ini.

Setelah runtutan penyakit ini menghilang, seakan muncul ketidakpercayaan diri terhadap jiwa mobil ini. Pernah muncul satu opsi, apakah perlu kita ruwat/mandi kembangkan sang supir karena mobilnya selalu bermasalah ??? atau dia perlu membuang kolornya ke pantai selatan agar semua kesialan ini berlalu dan selesai??? Entahlah….tak ada yang punya solusi pasti untuk 6 penyakit yang beruntun menimpa mobil ini.

Yang terbaru dan aku yakin bukan yang terakhir, adalah kambuhnya penyakit lama mobil ini. Penyakit yang gejalanya muncul pada saat penyakit pertama menyerang, rupanya kembali lagi mendatangi tubuh mobil ini. Penyakit yang datang dari lingkungan dekat si mobil yang memberikan efek merasa terintimidasi dan dipaksa untuk bergerak. Mobil ini merasa ada yang berusaha menggerakkan dia, padahal sebenarnya dia tidak ingin bergerak demikian. Penyakit yang datang pelan-pelan, tidak berbau/seolah-olah menyamarkan bau, dan datang dengan santun. Sayangnya, saat ini si mobil tidak begitu merasakan bahwa dia sedang dalam ancaman suatu penyakit. Mungkin karena terlalu sering terjangkit penyakit, maka rasa peka itu semakin berkurang. Karenanya, dia tak lagi merasakan ini sebagai ancaman yang berbahaya. Parahnya, saat ini, ketika penyakit itu mengarahkannya untuk bergerak kekanan, dia justru menganggap bahwa dia memang seharusnya kekanan. Ketika penyakit itu mengarahkannya ke sungai, maka dia menganggap bahwa memang dia seharusnya ke sungai. Saat penyakit menggerakkannya ke gedung, maka dia menganggap bahwa memang seharusnya dia kegedung.

Bagaimana nasibnya mobil ini kedepan??? Entahlah…semakin tidak ada kejelasan dan samar-samar.

Friday, April 17, 2009

Mulutmu....Harimaumu.....

Tuhan…..please forgive me…

Hari ini aku udah melakukan tindakan bodoh karena sikap dan perkataanku yang ceplas ceplos…

Hope it doesn’t make some problem for them….

Now….i was feel very-very guilty…

Hwa……

Once more : I’m very-very sorry sis…

Manuver hari-hariku

Sekitar 2 bulan ini, aku melakukan hal baru yang selama ini jarang aku lakukan. Melakukan aktivitas di tempat yang sama dalam jangka waktu cukup lama…

Mulai dari melek mata, sampai merem mata, aku masih ditempat yang sama. Hahahhaa……percaya nggak percaya sebenarnya. Scara aku yang dalam 1 tahun terakhir ini hidup nomaden, tiba-tiba hidup dengan cukup teratur. Apa kata dunia????

Sekitar 2 bulan yang lalu, aku bertemu dengan mantan teman kerjaku dulu yang nampak sangat kuyu… seperti biasa, akupun berbincang-bincang sebentar dengannya. Dia mengungkapkan keluh kesahnya. Rupanya hari itu dia baru selesai meeting dengan klien di luar kota, yang dimulai dari subuh hari. Karena jarak jauh, maka dia terpaksa menginap di kantor temanku itu. Dia mengatakan kepadaku : “aduh…begini ni kalau orang yang udah berumah tangga lama. Biasa hidup teratur, jadi sekalinya tinggal dirumah orang, hidupku jadi serasa berantakan”.

Aku langsung menimpali keluh kesahnya dengan tawa sehingga dia merasa bingung. “kamu ini di certain koq malah tertawa”. Protesnya.

Setelah selesai dengan tertawaku, akupun menjawabnya : “kalau aku ini sekarang malah kebalikan dari nasibmu mas…aku ini biasa hidup nomaden dan tidak teratur. Jadinya giliran tinggal di rumah (meskipun rumah orang) dan mencoba hidup teratur, aku jadi merasa berantakan”.

Hahahaha….. Memang begitulah adanya…

Saat ini aku sedang membenahi diri dari kebiasaan hidup yang nggak jelas.

Sampai dengan beberapa waktu lalu, aku masih menggunakan rutinitas harian yang kalang kabut. Pagi aku banging tidur, cuci muka atau mandi di tempat A, lalu pergi ke tempat B untuk ambil/berganti baju, lalu pergi lagi ke tempat C untuk mengerjakan sesuatu, lalu pergi lagi ke tempat D untuk nongkrong dan bertemu dengan teman-teman, dan kembali lagi ke tempat A untuk tidur dimalam yang telah larut. Kegiatan dan tempat yang sama, meskipun dengan rute yang berbeda-beda. Unik sih…tapi lama-lama banyak ruginya, karena baju-baju mulai berkurang atau hilang, lupa ditinggal dimana, malas ganti baju, capek, dll.

Ketika akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran tinggal dengan salah satu keluarga (my boss actually_red), akupun berusaha memperbaiki rutinitas hidupku. Niat aku kuatkan, usaha juga aku tingkatkan.

Dimulai dari bangun pagi yang merupakan bagian sulit dari rutinitasku. Aku berusaha bangun pagi, meskipun sampai hari inipun aku masih belum bisa konsisten. Bisa bangun jam 6 adalah hebat untuk tarafku saat ini…ehehhee…karena sering bangun seputaran jam 7. Tapi itu sudah bisa dikatakan mendingan daripada ketika aku masih nomaden. Dalam niatku, aku ingin setelah bangun langsung mandi biar seger dan bersemangat kerja. Selain itu juga aku ingin membiasakan diri bersiap-siap kerja sebelum jam 8. Khawatir nantinya kalau-kalau aku sudah tidak membantu mbak’e yang sekarang ini, aku udah terlanjur ke’enakan. Huhuhu…

Tapi namanya juga usaha…ya memang nggak bisa instan. Kadang ok, kadang juga kurang ok. But, its ok. Tomorrow will be better than yesterday….:)

Meskipun semua aktifitas (pekerjaan_red) aku lakukan dalam 1 rumah (1 kamar malah), tetapi aku masih wajib keluar rumah untuk bergaul. Hehehe…jangan sampai nanti aku Cuma berhubungan dengan teman-temanku lewat dunia maya. Meskipun saat ini sahabat paling dekatku adalah si leno (laptop yg udah terlanjur sayang ini), kopi, bantal, guling, dan kasur. Huhuhuhu….

Intinya, saat ini aku berbahagia….its hard to write my feeling….

Thanks to everybody….especially this family…

Monday, April 13, 2009

Jadikanlah Ini Layaknya Ombak dan Pantai

Bila kulihat awan di birunya langit
Berarak searah tiupan angin pagi
Hatiku selalu bertanya
Kemanakah mereka lalu pergi nanti


Kala kupandang ombak di birunya langit
Berkejar-kejaran tak henti s’panjang waktu
Apakah yang mereka cari
Sesampainya di tepi pantai pasir


Begitu adanya diriku dan dirimu
Seiring bersama memadu kisah kasih
Selalu ada saja tanya
Akankah semua kan berakhir indah

Kau bagai awan yang berarak di langit biru
Ku bagai ombak berkejaran di lautan
Yang seolah dapat berpadu
Di cakrawala senja

Kenyataannya kini jauhlah adanya
Jarak antara kita terlalu berarti
Kau melayang tinggi di sana
Dan aku mengharapkanmu di sini

(Agnes monica ft. Yana Yulio - Awan dan Ombak)

Dari pagi aku mendengarkan beberapa lagu yang hari-hari belakangan ini selalu aku putar ulang dan putar lagi. Lumayan sambil melotoin tulisan2 dengan bahasa asing ini. Entah kenapa aku baru sadar kalau lagu2 yang aku putar itu sebagian besar adalah lagu yang sangat mellow….hehehe…just like my heart now…


But, it’s ok…I like it…

Sewaktu mataku sedang melototin satu kotak yang mesti aku baca dan koreksi beberapa kesalahannya, tiba2 otakku terdiam dan memaksa semua anggota tubuhku berhenti beraktivitas pula. Beberapa saat kemudian, aku baru sadar bahwa otakku mendorong telingaku untuk focus pada lagu yang sedang mengalun merdu. Lagu lama, tapi tetap bagus untukku. Lagunya Agnes monica featuring Yana Yulio yang judulnya Awan dan Ombak.


Lagu ini sepertinya sedang tepat mewakili apa yang aku rasakan saat ini. Diatas semua perbedaan dan kendala yang ada, maka aku tak ubahnya sebuah awan dan ombak. Awan dan ombak yang memiliki kodrat untuk tinggal dan menghabiskan waktu di tempat yang berbeda dan sepertinya takkan pernah bertemu nyata dalam satu tempat. Awan dan ombak yang berjuang keras untuk bisa bertemu dan bersatu.


Orang lain akan melihat awan dan ombak bersatu dan bersama, yaitu di garis batas cakrawala. Namun semua itu tetaplah sesuatu yang semu. Setiap orang akan berkata bahwa jika kita selalu berusaha, berdoa, dan bertawakal, maka apapun keinginan kita pasti dapat terwujud. Tetapi apakah memang awan dan ombak itu mampu bersatu???


Semoga saja saat ini aku mengalami kesalahan dalam menilai. Semoga saja yang saat ini ada bukanlah sebuah awan dan ombak. Tetapi ombak dan pantai. Jika ini adalah ombak dan pantai, maka suatu saat memang akan ada titik temu itu.



Friday, April 10, 2009

Aku Tahu Aku Salah.....


Aku tahu aku salah….

Tetapi entah kenapa aku senang melakukannya. Aku merasa senang ketika merasakan tanda-tanda kehidupannya, dan aku cukup bahagia ketika merasakan kedekatannya mmeskipun semu. Entah sejak kapan aku selalu berharap dapat melihat bahwa dia di seberang sana, sedang melakukan hal yang sama, memikirkan hal yang sama, meskipun tidak saling menyapa.

Sepertinya aku menyukainya…menyukai perasaan ini. Rasa penasaran, rasa ingin tahu, rasa ingin diperhatikan, dan rasa ingin dibutuhkan. Aku menikmati ini semua.

Perlukah aku peduli dengan larangan, halangan, rintangan, ataupun tantangan yang membentang di depanku?? Entahlah….

Aku hanya ingin bicara, aku hanya ingin bercanda, aku hanya ingin bertukar cerita…tidak lebih.

Atau lebih tepatnya, tidak lebih untuk saat ini.

Aku tidak berniat lebih, namun aku tidak bisa menjanjikan bahwa ini cukup. Terkadang, apa yang aku inginkan, menjauhiku. Sedangkan apa yang tidak aku inginkan justru bergerak mendekatiku. Tetapi aku tidak akan menolaknya. Kubiarkan semua mengalir seperti air…dan mendesir seperti angin.

Jika ini salah, aku tidak ingin cepat-cepat mengembalikannya ke jalan yang benar. Akan ku biarkan saja kesalahan ini berjalan, hingga akhirnya menemukan sendiri pintu kebenaran itu.

Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Tetapi aku juga tidak akan mampu menjaga semua perasaan orang yang ada disekitarku. Rasa sakit adalah hal yang lumrah dan wajar dirasakan oleh setiap insan, bahkan hanya untuk sekedar memastikan bahwa kita tidak bermimpi. Biarkan yang tersakiti merasa sakit, dan biarkan aku menikmati perasaan yang tidak jelas ini.

Pada akhirnya, aku meyakini satu hal bahwa semua akan kembali seperti semula. Rumput akan kembali menghijau, bungan akan kembali mekar, awan akan kembali berarakan, angin akan kembali berhembus, dan air akan kembali mengalir.

Rasa yang tak dapat terucapkan,

10 April 2009

Tuesday, April 7, 2009

Just A Little Guilty

Bukan masalah besar ketika kita memutuskan untuk mencoba sesuatu
Bukan masalah juga ketika kita mengungkapkan apa yang ada di otak dan hati kita kepada orang lain.
Bukan masalah juga ketika orang mendengarkan kita.
Bukan masalah juga ketika orang menawarkan bantuan kepada kita untuk mewujudkan keinginan kita.
Bukan masalah juga ketika kita berusaha menyanggupi apa yang mereka tawarkan.
Bukan masalah juga ketika kita mengajak orang lain untuk bergabung dalam mimpi kita.
Bukan masalah juga ketika kita membangun semang at untuk dapat mewujudkan mimpi yang semakin nyata.
Bukan masalah juga ketika kita dihadapkan pada pilihan kepentingan.
Bukan masalah juga ketika kita memperoleh cara untuk mengatasi segala kendala.
Bukan masalah ketika kita bisa membagi peran, tugas, dan tanggung jawab.
Tetapi…
Menjadi masalah ketika kita ingkar pada semua itu
Menjadi masalah ketika kita tidak mampu menjalin komunikasi satu sama lain
Menjadi masalah ketika kita menemukan hal yang lebih menyenangkan
Menjadi masalah ketika lebih memilih hal baru yang menyenangkan itu
Menjadi masalah ketika kita mulai melupakan apa yang pernah disepakati bersama
Menjadi masalah ketika semangat yang awalnya penuh menjadi loyo
Dan…
Menjadi masalah ketika tidak mampu menjaga hubungan baik
Dengan orang yang memberikan kita peluang untuk maju.
Dan….
Menjadi masalah ketika alasan demi alasan dimunculkan hanya untuk menyelamatkan diri…
Semoga….
Apa yang pernah aku, dia, dan mereka impikan dapat menjadi kenyataan
Jika satu mimpi ini dapat terwujud,
Aku yakin mimpi-mimpi selanjutnya akan bermunculan dan terlaksana…
Sedikit kecewa,
Tapi lebih pada rasa bersalah karena aku tidak bisa menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa…

Untuk Enggano yang terlantar….

07 april 09