Tuesday, August 11, 2015

When You're Not With Us Anymore

Hari ini adalah jadwal kontrol Rutin bulanan ke dokter kandungan. Aku dan mas bojo berangkat ke rumah sakit seperti biasa. Tidak ada keluhan yang berarti, selain catatan bahwa kami baru saja melakukan mudik yang panjang. Banten dan Jogja seperti marathon. 

Seperti biasa. Opa dokter tidak datang tepat waktu. Kamipun menunggu sambil mengobrol ngalor ngidul, salah satunya mengenai nama calon baby yang ada di perut. Kami sepakat bahwa nama tengah tetap akan menggunakan Nala, dan nama akhir adalah nama Jawa. Aku dan mas bojo memang jatuh cinta pada Jawa. 

Akhirnya opa dokter datang dan pasien dipanggil satu persatu untuk konsultasi. Ketika tiba giliranku, kami berdua masuk. Setelah ngobrol dan menyampaikan kondisi sebentar, kami melakukan usg. Disitulah saat-saat yang cukup mencekam terjadi. Aku mengamati layar yang tergantung diatas, belum juga pas posisi baby nya. Opa dokter juga masih sibuk mencari kesana dan kemari dengan alatnya. Sesuatu yang belum pernah terjadi, baik dalam kehamilan kali ini ataupun kehamilan Mbak K. 

Setelah dirasa posisinya maksimal, opa dokter men-zoom layar untuk memperjelas si dedek bayinya. Sesuatu yang juga belum pernah dilakukan. Detai jantung yang biasanya muncul dengan gerakan berdenyut, tidak ditemukan. Saat diukur lingkar kepala, muncul angka 11 week. Deeeggg... Aku mulai panik. Terakhir kali kami memeriksakan kandungan 3 minggu yang lalu, saat itu baby nya sudah berumur 11 week. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi. Dan aku mulai mempersering tarikan nafasku, untuk mengendalikan mata yang mulai lepas kendali. 

Kamipun melanjutkan diskusi di meja kerja opa dokter. Rupanya baby kami sudah berhenti tumbuh dan tidak mengalami perkembangan. Kami membucarakan kemungkinan-kemungkinan, penyebab, kemungkinan terburuk, hingga batas waktu . 

Opa dokter menenNgkan kami dengan memberi tahu bahwa kami bukanlah satu-nya yang mengalami hal ini. Lebih dari 30% kehamilan saat ini,mengalami gagal tumbuh. Dan memang, aku merasa sedikit membaik. Kami diberikan waktu untuk menunggu sampai seminggu. Jika dalam waktu seminggu tidak ada perubahan, maka kami harus melakukan tindakan untuk mengeluarkannya. Namun jika sebelum seminggu terjadi pendarahan, maka aku harus segera ke rumah sakit untuk diberikan tindakan saat itu juga. 

Kamipun pamit dan menyelesaikan administrasi. Saat itu aku masih merasa baik-baik saja. Namun ketika sedang mengantri vitamin, aku dan mas bojo duduk bersama dan saling menguatkan. Tiba-tiba aku ingat K yang sudah sangat senang ketika tahu akan punya adik. Dan aku mulai menangis... Hiks... Sediiiihhh.... 

Kamipun pulang dan bersiap untuk memulai memberi pengertiN pada K tentang kemungkinan tidak jadi punya adik sekarang. 

Ya Allah... Aku pasrahkan semua kepada-Mu. Berilah kami yang terbaik untuk kami menurut-Mu. 

Monday, June 29, 2015

What a Wonderful Weekend!

Seperti judul cerita kali ini, What a Wonderful Weekend!

Weekend kemarin adalah weekend istimewa. Penuh dengan kejutan yang mengejutkan, mencengangkan, dan membahagiakan pastinya.

Ceritanya, sekitar hari Rabu itu aku merasa tidak enak badan. Badanku rasanya penuh angin sehingga tulang serasa linu dan perut begah sekali. Akupun memanggil tukang pijat langganan. Pijatan yang melenturkan otot-otot tegang.... Ooooohhh...

Tapi rupanya pijatan yang 2 jam itu tidak mampu 100% mengusir angin2 yang tinggal di badanku. Akhirnya malamnya, tato ikan digambarkan oleh bapaknya Denok K di punggungku. Hitam legam...

Entah kenapa keesokan harinya tetap saja badanku rasanya tidak nyaman. Dan masih begitu sehari setelahnya. Akhirnya kembali aku memanggil tukang pijit, tapi tukang pijit yang lainnya. Badan ini rasanya seperti di gilas dengan penggilas cucian. Dan kembali lagi punggungku di kerok mania. Merah membara....

Aku heran, berapa banyak angin yang bercokol di badan ini, sampai2 segala rupa treatment tidak mempan. Hingga akhirnya Sabtu pagi aku putuskan untuk mengunjungi Dokter umum di salah satu rumah sakit swasta dekat rumah.

Long short story, aku masuk ke rumah sakit itu melalui pintu ruangan dokter umum, namun aku pulang melalui pintu Obgyn... Olallaaaa....
Picture taken from here
Selamat datang dear...
Maafkan aku yang tidak menyadari keberadaanmu sejak dini. Semoga engkau kuat, sehat, dan tumbuh sempurna didalam sana. Maaf atas treatment yang buruk beberapa minggu ini karena ketidak tahuanku.

Be strong, be healthy, be happy, dan be ready....

Mbak K, Bunda, dan Ayah menunggumu dengan bahagia....

Love,
Nala Family



Monday, June 22, 2015

Ketika Dia Pintar Menghibur Dan Menenangkan Kami

Belakangan ini, aku sering meleleh rasanya.

Bukan karena sedang puasa dan panasnya Bogor sedang cetar membahenol, tetapi karena tingkah laku si Denok K yang kadang menurutku sok dewasa istimewa.

Yang paling membuatku meleleh adalah kebiasaan Denok K yang selalu berusaha menenangkan hati Bunda dan Ayahnya. Dia selalu berusaha tampak kuat dan baik-baik saja, meskipun dia sedang kesakitan. duuuhh... Sweet banget sih kamu deekk....

Contohnya:

Kejadian 1:
Suatu malam dia sudah tertidur lelap. Saat aku memasuki kamar untuk mengeceknya, aku melihat seekor nyamuk hinggap dengan nyamannya di tangan dia. Akupun meneok nyamuk itu sampai mecedhel tidak berkutik lagi. Dia dengan mata sayu karena bangun kaget, mengusap2 tangannya yang gatal.
Aku: "Gatel ya dek? Digigit nyamuk ya? Nyamuknya nakal ya gigitin dedek? " kataku sambil mengusap2 bekas gigitan nyamuknya.
Denok K: "Nggak papa.... Nggak papa...." dan diapun berbalik badan dan tidur lagi.

Kejadian 2:
Ketika kami mendatangi Book Fair di salah satu mall di Bogor, dia aku turunkan didekat pintu masuk arena book fair. Sementara ayahnya membayar beberapa buku sudoku, aku berniat meluruskan punggung. Menggendong Denok K beberapa menit saja, sudah membuat lenganku lunglai.
Belum satu menit kulepaskan dia, dia sibuk memegang ini itu. Dan tanpa kusadari, dia memegang lampu sorot kuning yang aku yakin panas sekali karena menyala sepanjang waktu. Kontan saja dia menangis. Sedikit panik aku langsung mencuci tangannya dengan air minumnya. Kulihat semburat merah di jari telunjuk kanannya, tempat yang sama dengan lokasi terbakar knalpot tahun lalu. Hiks... Sedih sekali rasanya. Berkali-kali aku bilang maaf karena lalai padanya. Setelah beberapa saat, tangisnya mereda.
Aku: "Sakit ya dek? Maaf ya... Bunda teledor nggak jagain kamu..." Diapun terisak-isak.

Setelah selesai agenda di bookfair, kamipun pulang. Di perjalanan, dia aku dudukkan di tengah dengan selimut menempel. Sesekali aku dengar dia mendesah:
Denok K: "sshhh... sakiit..."
Aku: "Sakit ya dek? Mana bunda lihat tangannya..." Kataku sambil meraih tangannya dari balik selimut. Namun dia menolak untuk menunjukkan tangannya, dan malah menyembunyikannya lebih dalam.
Denok K: "Nggak papa... Nggak papa...." begitu terus beberapa kali.

Dan aku sedih sekali sampai berkaca2 sepanjang jalan. Anakku...anakku....

Kejadian 3:
Karena aku sedang ada janji call dengan rekan kerjaku, maka sore itu Denok K mandi dibantu tetehnya. Aku dari ruang kerjaku yang letaknya bersebelahan dengan kamar mandi bisa mendengar jelas perbincangan mereka.
Dari diskusinya, sepertinya teteh menyiramkan air sampai terkena matanya Denok K.
Teteh : "Aduh, dek... pedes ya dek?"
Denok K: "Nggak papa... Nggak papa..."
Teteh: "Nggak papa ya... dedek pinter ya... nggak nangis ya..."
Denok K: "Nggak papa... nggak papa...."

Bundanya yang sedang melototin laptop tiba2 pandangan matanya kabur.... hiks... Bijak sekali kamu dekk....

Dan masih banyak lagi kejadian yang berujung dengan "Nggak papa... Nggak papa....". Baiklah miss nggak papa... Thank you so much for making me feel so much better.

Stay health and be happy always ya dear denok K...

We love you to the max and back and forth back and forth pokoknya :-)


Friday, June 19, 2015

Huru - Hara Buka Puasa Pertama

Lagi-lagi nafsu jepret jepret lenyap entah kemana.... Semoga si mood lekas kembali. Aamiin.

Alhamdulillah, kita sudah melewati 1.5 hari puasa. Berbuka dengan apa teman? Mudah2an semua saudara yang berpuasa dapat merasakan manisnya berbuka. Aamiin.

Aku mau sedikit bercerita mengenai huru-hara yang terjadi di dapurnya Denok K kemarin, ketika menyiapkan masakan untuk berbuka. Begini ceritanya:

Jam 11 siang...

Aku: "Teh, kacang merahnya kita rendem sekarang aja. Biar nanti empuk pas direbus sorean. Kan kita mau bikin es kacang merah"
Teteh: "Baik bu..."

Jam 3 Sore...

Aku: "Teh, kita mulai rebus daging aja yuk. Biar nanti empuk. Kan nanti aku musti potong-potong kecil2. Biar nggak panas banget."
Teteh: " Sekalian perkedel kentangnya bu?"
Aku: "Oh iya. Sekalian aja kita mulai goreng kentangnya. Nyicil biar nggak buru2. Aku ada telpon nanti jam 4."

Kamipun khusyuk menyiapkan ini itu sesuai job description masing2.

Saat daging mulai empuk, akupun memotong2nya kecil2 untuk dimasih bumbu rawon.
Aku: "Teh, kacangnya direbus sekarang aja deh. Nanti kalau udah empuk, tinggal kita tambahin pandan sama gula jawa. Santan nya kita pakai separo aja, separonya lagi buat sayur."
Teteh: "iya bu..."

Ditengah asik memotong2 daging sambil ngobrol dengan bapake Denok K, aku mencium aroma wangi pandan. Hmmm... wangiii....

Tak lama kemudian teteh di depan kompor sedikit heboh mematikan kompor.
Aku: "Kenapa teh?"
Teteh: "Santan nya meluap bu..."

tetottt.... Sinyal menyala dikepalaku...

Aku: "Lho, koq santan nya udah di masukin? Kan harusnya nanti direbus terpisah teh? Lah, ini santan nya 1 bungkus semua?"
Teteh: " Iya bu... semuanya...."
Aku: "Lha teh, kan tadi aku bilang setengah aja..." sambil mengaduk santan di panci. Aku merasa ada yang janggal disini.

Aku: "Lho teh, ini koq kacang hijau?"
Teteh: "Iya bu... lha bukannya mau bikin bubur kacang hijau?"
Aku: "Lho, terus kacang merah yang udah direndem dari siang mana?"
Teteh: "Itu di meja..."

Astaga dragon... Aku ketawa ngakak2 sambil geleng2 kepala...

Aku: "teteh...teteh... koq bisa double kuadrat gini sih salahnya? Kenapa teh? laper ya jadi nggak konsen? hahaha. Lha kita ngerendem kacang merah dari tadi siang koq malah yang direbus kacang hijau? Dapat ide dari mana coba?"

Dan akhirnya dengan setengah buru2, aku melanjutkan agenda memasak kacang merah. Bubur kacang hijau akan diteruskan teteh setelah berbuka.

Masih belum ketemu jawabannya, bagaimana bisa kami merendam kacang merah setengah hari, tapi yang masuk panci adalah kacang hijau? Ullaalllaaa.... :-p

Selamat menjalankan puasa hari kedua kawans....

Tuesday, June 16, 2015

Selamat Datang (Lagi) Ramadhan

Ramadhan sudah di depan mata....

Jaraknya hanya tinggal seruangan rapat penentuan Hilal di Jakarta sana. Setelah keputusan diumumkan, maka kita semua akan memasuki Bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan.

Kemeriahan Ramadhan selalu saja tidak bisa dielakkan. Mulai dari iklan sirup yang mulai berseliweran di televisi, undangan untuk cucurag (makan bersama sebelum memulai puasa), dan beredarnya broadcast minta maaf lahir batin dari keluarga dan teman kita.

Picture taken from here
Banyak hal baru yang aku rasakan menuju Ramadhan kali ini. Salah satunya adalah Ramadhan kali ini kami akan jalani di rumah kami sendiri. Dirumah teko kopi kami. Alhamdulillah... Ramadhan kali ini juga terasa berbeda untukku karena ini adalah kali pertama aku akan kembali berpuasa setelah 2 tahun absen karena hamil dan menyusui. Rasanya sedikit mendebarkan dan menyenangkan. Selain itu Ramadhan kali ini kami jalani di lingkungan baru dengan orang-orang dan kebiasaan yang baru, yang banyak berbeda dengan tahun lalu.

Tahun lalu, kami masih di kontrakan, dengan tetangga dekat yang banyak sekali. Kamipun sibuk bagi-bagi jadwal buka sahur satpam, buka bersama, bazar, dan lain-lain. Tahun ini, kami di rumah sendiri, dengan tetangga dekat sedikit sekali, lebih banyak tetangga jauh. Kami masih mengatur jadwal buka sahur satpam juga. Hanya saja sekarang semua jadwal sudah ditentukan oleh PJ Ramadhan. Lebih simpel sih...

Beberapa hal baru masih perlu aku evaluasi. Sepertinya aku sedikit kesulitan menerima hal-hal baru ini. Maaf kalau jadi sedikit ngomel-ngomel disini. hahahahaa. Saya lapar... padahal puasa belum mulai #eh.

Satu hal yang berbeda dan aku sedikit tidak mengerti logika alasannya adalah sekarang untuk jatah buka dan sahur petugas keamanan, tidak boleh diberikan dalam bentuk uang. Waktu aku iseng bertanya kenapa begitu, katanya alasannya adalah jika diberikan dalam bentuk uang, takutnya uangnya dibelikan rokok, bukan untuk makanan berbuka. Hmm.... Entahlah. Alasan yang sedikit aneh memaksa menurutku. Menurutku yang penganut hal-hal simple yang memudahkan hidup ini, untuk apapun uang itu mereka peruntukkan, adalah hak mereka. Kita yang memberi asal dengan niat ikhlas, sudah cukup. Tapi berhubung saya newbie disini, jadi saya menurut saja. Sambil pusing mencari cara bagaimana menyediakan makanan untuk para petugas keamanan ini. Maklum, nggak bisa masak.... :-p

Oh iya, satu hal lagi yang sedikit membuat hatiku gundah gulana gimana gitu. Berawal dari share informasi dari seorang tetangga di group WA komplek, mengenai daftar rumah makan yang buka selama Ramadhan. Kurang lebih begini obrolannya:

Ibu A: "Berikut adalah daftar rumah makan yang masih buka selama Bulan Ramadhan.........."
Ibu B: "Masih banyak yang buka ya.... (emoticon mendengus)"
Ibu C: "Iya mba... semoga yang punya warung makan masuk neraka. hihihihi...."
Ibu B: "Yang masak, yang jual, yang promosiin, yang beli, yang kerja di wartegnya,,, semoga diberi hidayah. Kirain hanya yang cepat saji saja yang buka saat ramadhan...malahan banyak warteg"

Dan akupun sedikit speechless.... WOW... dengan sok alim akupun menulis:
"Ya nggak papa buka asal ditutupi kain jendelanya kali ya mbak... dan bu .... Kan yang non muslim nggak puasa masih perlu makan. Kasihan mereka kalau semua tutup... (Ikon apa ya yang senyum terus nyengir dan keluar air mata kanan kiri itu lho)"

Eh, rupanya masih juga belum terima beliau2... Keluarlah contoh mulia dari si ibu yang katanya selalu berusaha menghormati keluarganya yang puasa dengan sembunyi2 kalau makan. Menyarankan untuk yang tidak puasa untuk lebih menghormati yang puasa dengan membawa bekal dari rumah. Dan ibu yang satunya berargumentasi bahwa yang kebanyakan makan adalah orang muslim seperti tukang becak, tukang ojeg, dll....

Jujur, saya tidak bisa menangkap logika yang sedang digulirkan. Jadi bingung saya... hehehe

Sepertinya si ibu B lebih setuju jika restoran cepat saji boleh buka tetapi warteg harus tutup. Apakah lebih baik orang kaya yang sudah punya restoran cepat saji saja yang bisa berlebaran dengan uang yang mereka kumpulkan selama bulan puasa, sedangkan pemilik warteg tidak usah mendapatkan penghasilan selama bulan puasa? Karena apa?

Kalau nanti ibu nya dibilang lebih mendukung kapitalis juga pasti nggak mau kaaannn....#kedipkedip.

Beliau menyontohkan betapa mulia beliau dengan sembunyi2 makan ketika keluarganya sedang puasa. Jadi kalau wartegnya di tutup gorden, terus yang makan disitu nggak kelihatan sama yang lain, bukannya itu hampir sama dengan usaha sembunyi2 yang ibu lakukan? Apakah tidak sama? Tunjukkan pada saya bu... saya mungkin tersesat.... :-p

Jika mayoritas yang makan di warteg adalah orang muslim seperti tukang becak, tukang ojeg, dll, terus kenapa? Tukang becak, tukang ojeg, dll itu adalah tumpuan keluarga yang sedang berusaha mencari rizky Allah agar bisa punya uang saku untuk mudik, atau untuk membelikan baju baru anaknya. Mereka bekerja, mereka tidak puasa, mereka merasa lapar, jadi mereka makan di warteg. Bagian mana yang salahkah? Apakah karena warteg buka jadi mereka merasa lapar? Sepertinya bukan... Apakah karena mereka muslim tukang ojeg dan tukang becak jadi tidak boleh makan di warteg? Menurut saya bukan juga...

Kalau boleh saya katakan, jika memang ibu mau sedikit adil terhadap keadaan, mungkin jalan yang bisa ibu lakukan adalah berbicara pada tukang ojeg dan tukang becak "Pak, bapak kenapa nggak puasa? Kan bapak muslim?"

Nah, jika ibu mau melakukan itu, menurut saya itu adalah tindakan yang benar. Karena dengan begitu ibu tidak melanggar apa2. Tidak memutus jalan rizky tukang warteg beserta dengan pekerjanya, tidak mengutuk mereka masuk neraka, tidak melanggar hak asasi manusia, karena ibu sekedar bertanya. Nanti ibu akan tahu jawabannya dari bapak2 pencari rizky halal itu. Tapi ibu juga tidak boleh langsung marah dan menarik urat tinggi ketika mereka bilang tidak puasa karena satu dan lain hal. Menurut paham sederhana saya, yang perlu di ingat adalah Puasa itu hubungan antara Manusia dengan Tuhan - Nya. Itu lebih kepada ujian tingkat keimanan dan ketaqwaan kita  kepada Tuhan kita. Disiplin menjalankan puasa, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tanpa ada polisi yang akan menangkap/mencambuk kita, bukan hal yang mudah bukan? Nah, biarkan itu menjadi hubungan dan komunikasi kita masing2 kepada Tuhan kita.

Seperti yang Ustadzah siapa waktu itu yang kita undang untuk memberikan materi pada waktu pengajian rutin bulanan itu lho bu... Kan kata beliau, tugas kita sebagai manusia itu, selain menjalankan semua perintah-Nya, juga menjauhi larangan-Nya. Memutus jalan rizky orang lain, itu adalah sesuatu yang di larang. Memaksakan kehendak dan keyakinan kita pada orang lain juga salah satu larangan-Nya. Apalagi mengutuk orang agar masuk neraka. Naudzubillahimindzalik bu... Saya sih malah takut kalau nanti kita ketemu di neraka kalau gitu.... Naudzubillahimindzalik.... Jangan sampai ya bu...

Akan lebih indah jika kita mulai memutar jari telunjuk kita. Dari yang awalnya menunjuk kepada orang, diputar menjadi kearah kita. Daripada bilang "Kalian pemilik warteg, kami sedang puasa nih. Jadi kalian lebih baik tutup saja", sepertinya akan lebih baik kalau kita bilang "Saya sedang puasa, jadi kalau ada warteg buka, saya tidak mau nengok. Takut tergoda sama tempe gorengnya...". Katanya kalau kita berpuasa dengan godaan besar, dan semakin besar kita bisa menahan diri dari godaan, maka pahala kita akan semakin besar. Lumayan kan bu....?

Begitu ya Ibu-ibu... Selamat menjalankan ibadah puasa. Mudah-mudahan puasa kita lancar, diterima Tuhan, dan kehidupan bersaudara kita di dunia juga tidak terganggu. Aamiin.

Thursday, June 11, 2015

Bukan Pencari Nafkah

Mendadak pengen cerita tentang kisah si Fulan dan si Abdul...

Photo Bapak Penjual Tahu dari Sini

Ceritanya si Fulan ini adalah seorang laki-laki, beristri dan beranak. Dia orang yang cerdik pandai berpengalaman dan pintar bicara. Setiap orang yang berbicara dengannya, akan mudah terhanyut kedalam ceritanya.

Dia menjalani hidup dengan sangat indahnya. Istri cantik, anak pintar, dan keluarga bahagia. Dia tidak pula harus menjadi tulang punggung keluarga, karenanya hidupnya pun semakin mudah dan indah. Dia bisa melakukan segala hal yang bisa membuat orang lain berdecak kagum atau sedikit banyak iri padanya. Setiap tindakan dan keputusannya adalah atas nama nya sendiri. Tidak ada keluarga yang harus di jadikan beban, karena ada orang lain yang sudah bertanggung jawab akan hal itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan wahai Fulan...

Si Abdul beda ceritanya...
Abdul adalah seorang laki-laki yang juga beristri dan beranak. Dia orang yang biasa saja, tidak suka menonjolkan apa yang dia bisa. Dan dia menjalani hidup dengan biasa. Dia adalah tulang punggung keluarga, sehingga dia merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya. Karenanya, dalam setiap langkahnya, selalu ada keluarga di belakang nya. Setiap keputusan adalah atas nama keluarga. Terpujilah engkau Abdul...

Ceritanya, pada suatu hari si Fulan dan si Abdul bertemu di sebuah ruangan, untuk membicarakan Sapi.

Fulan: Punya siapa sapi ini?
Abdul: Punya kita. Kita yang membeli dan memeliharanya.
Fulan: Apa yang sapi ini berikan pada kita?
Abdul: Kita membeli dan memeliharanya sekian lama, maka dia adalah bagian dari keluarga kita.
Fulan: Macam apa itu... Kalau dia tidak bisa memberikan apapun pada kita, untuk apa kita pelihara dia? Kita jual saja. Atau kita sembelih untuk makan.
Abdul: Tega sekali engkau wahai Fulan. Sapi ini adalah bagian dari kita. Kita tidak bisa menghilangkannya begitu saja. Kita harus terus memeliharanya.
Fulan: Hidup ini adalah untung dan rugi. Kalau tidak memberi untung, hanya akan merugikan.
Abdul: Aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku.... Setega itukah engkau merebutnya?
Fulan: Aku bisa mengganti sapi ini dengan sapi yang lebih baik. Bahkan kalau perlu engkau juga bisa kugantikan dengan yang lainnya....
Abdul: Aku punya keluarga, yang harus kuhidupi dan harus kuperhatikan. Aku masih membutuhkan susu sapi ini.
Fulan: Itu bukan urusanku. Itu urusanmu sendiri.
Abdul: Baiklah... Terserah saja apa maumu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Toh engkau memang tidak tahu rasanya bertanggung jawab pada keluarga. Kau tidak mengenal rasa susah menanggung beban keluarga. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menghidupi keluarga. Percuma saja aku menentangmu. Hatimu tidak hidup kawan...

Dan Abdul pun berpisah dengan Fulan saat itu dengan segudang rasa kecewa. Fulan yang memang tidak mengetahui bagaimana rasanya menjadi tumpuan hidup keluarga, tidak merasakan kegalauan Abdul. Sedangkan Abdul merasa satu beban bertambah di pundaknya.

Begitulah kisah si Fulan dan si Abdul kali ini.

Sebagai pelajaran, bahwa laki-laki ditakdirkan agar menjadi pencari nafkah untuk keluarga, agar dia bisa merasa bertanggung jawab lebih. Tidak hanya bertanggung jawab pada keluarganya sendiri, tetapi juga kepada orang-orang yang berkeluarga. Agar dia tidak bersikap sewenang-wenang dan sembrono. Kasihan orang-orang seperti Fulan. Tidak memiliki hati seluas pencari nafkah, dan tidak memiliki empati sedalam pencari nafkah. Karena dia tidak pernah merasakan sulitnya kehidupan menempa para pencari nafkah keluarga.

Untuk semua pencari nafkah bagi keluarga di luar sana, mudah2an Tuhan senantiasa melapangkan rizky kalian, melonggarkan jalan kalian, dan melancarkan setiap rencana kalian. Serta di jauhkan dari orang-orang seperti Fulan. :-p

Tuesday, June 9, 2015

Etika Berkomunikasi

Rencana sih mau nyetor tulisan di sumurdapurkasur. Tapi gegara kemarin komputer gegar otak, dan nggak nemu lagi email dari admin yang satunya lagi, jadilah aku tidak bisa login ke blog. Padahal lagi semangadh2 nya nulis ini. Ya sudahlah... sepertinya saya lapar jadi nyarinya nggak bener. Sementara tulis sini aja dulu nggak papa.

Ceritanya adalah...

Pagi ini aku dan mas bojo sedang asyik berbincang dan berdiskusi mengenai salah satu etika bekerja dan berhubungan dengan orang lain. #gaya bener

Kami sepakat dan sependapat bahwa bagaimana etika kita dalam bekerja dan berhubungan dengan orang, sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita bekerja dan dengan siapa kita bekerja.

Salah satu contoh kecilnya adalah dalam berkomunikasi. Komunikasi disini bisa saja melalui berbagai macam media. Bisa by handphone, email, atau semua moda komunikasi.

Pengalaman yang sama yang mas bojo dan aku alami adalah: Sering sekali orang yang kita kirimi berita, tidak merespon dengan baik berita yang kita kirimkan. Arti merespon dengan baik disini bukan berarti mendukung atau tidak mendukung, atau semacamnya. Tetapi ini hanya pada apakah mereka membacanya saja, membaca dan memberi tahu/tanda bahwa mereka sudah membacanya, tidak membacanya, atau mereka tidak menerimanya?

Kapi sepakat bahwa kebanyakan dari orang, mereka hanya membaca saja tanpa memberi tahu/tanda bahwa mereka telah membaca berita itu. Sebagai gampangnya, misalkan kita menggunakan aplikasi WhatsApp atau BBM, maka pesan kita hanya di read saja. Jadi kita tahu bahwa orang itu sudah membaca, namun tidak ingin memberi tahu/memberi tanda pada kita bahwa mereka telah membacanya. Lain halnya dengan email. Susah mengetahui apakah pesan kita sudah terbaca atau belum.

Terkadang aku heran dengan hal ini. Kenapa ya orang bisa mengacuhkan begitu saja pesan yang masuk dari orang lain? Padahal kan mudah saja memberi tahu/tanda kalau kita sudah membaca pesannya. Misalkan saja kalau di WA atau BBM dengan menjawab OK misalkan? atau kalau malas bilang OK, bisa dengan salah satu emoticon yang ada. Atau kalau memang tidak bahagia dengan pesan yang diterima, bilang saja kalau tidak suka dengan pesannya. Lha kan setidaknya si pengirim jadi tahu bahwa kita tidak suka dengan pesannya.

Email juga begitu sepertinya. Banyak yang suka menahan email sebagai hiasan inbox nya. Untuk apa? Entahlah. Jika saja si penerima email memberikan tanggapan meskipun hanya sekedar "saya sedang sibuk, akan saya baca nanti" atau bahkan mungkin "saya tidak tertarik" begitu pun juga boleh. Setidaknya orang yang mengirim tau bahwa email kita sampai ditangan mereka. Entahlah... Mungkin mereka belum pernah bertemu dengan Bu Sa** (bosku). hahahaha.

Oh iya... Ada lagi satu fenomena yang acapkali terjadi dan aku alami. Ketika janjian untuk bertemu. Yang paling membuat aku heran seheran2nya adalah, ketika orang sudah berjanji untuk bertemu, tetapi sampai dengan bertahun2 kemudian tidak ada satu katapun terucap perihal janjian itu. Hahaha... #miris.

Maksudku begini...
Beberapa kali aku alami juga. Kami berjanji untuk bertemu disuatu tempat pada suatu masa. Sampai dengan H-1 adem ayem tidak ada pembatalan, jadi tidak salah kan kalau kita berasumsi bahwa pertemuan tetap dilakukan? Hari H pun tiba. Sampai pada jam yang telah di janjikan, tidak ada kabar pembatalan. Ok. mungkin mereka terlambat. Kan memang sulit hidup menjadi orang tepat waktu diantara orang2 yang tidak tepat waktu (hahahhaa). Satu jam berlalu, seperti pacarku kalau janjian suka telat sejam. Dua jam berlalu, seperti saudaraku kalau telat 2 jam. 3 jam, 4 jam, sehari, dua hari, dan seterusnya sampai mungkin bertahun2 setelahnya. Hahahahhaa...

Yang mengherankan adalah:
Seberapa sulitnya mengatakan bahwa "Su, sorry ya pertemuan batal. Gw gak nafsu ketemu elu", misalkan. Atau "Njing, males ah ketemu elu. Nggak menaril". Atau bisa juga "Aduuh... maaf yaaaa... aku tiba2 begini2 dan begitu2... mendadak ini itu.... si ini itu si itu ini....". Toh contoh pesan2 itu bisa saja dituliskan beberapa hari sebelum Hari H, beberapa menit sebelum Hari H, atau bahkan pun ketika sudah terlambat dari waktu yang di janjikan. Ya sudahlah.... mungkin mereka juga lapar. :-p

Mungkin orang2 yang terbiasa melakukan hal2 tersebut diatas memang tidak terbiasa berada/berhubungan dengan orang tepat waktu, atau orang yang punya jadwal aktivitas harian. Jadi menurut mereka, santai ajalah membuat orang menunggu atau menghabiskan waktu mereka buat nunggu. Toh mereka yang ditunggu juga begitu. Hahaha... sungguh miris terkadang kalau memikirkan hal ini. Terkadang itu membuat malas untuk kembali berjanji temu. Biasanya kalau sudah pernah berpengalaman buruk seperti itu, dan di undang lagi untuk bertemu, aku hanya bisa bilang "ya, mudah2an nggak ada halangan dan bisa sambil mengagendakan acara kesana". Jadi kalaupun janji temu batal lagi, aku tidak akan merasa rugi. Kan cuma agenda sampingan saja. hahahhaa #licik

Apakah aku dulu begitu? Entahlah.... Sudah lupa. Tapi kalau mas bojo mengakui bahwa dulu dia pernah berada pada masa seperti itu. Tetapi karena mendapat dorongan dari teman kerjanya, maka perlahan dia tidak lagi begitu. Mudah2an semakin baik kedepannya ya mas bojo... :-)

Aku ingat sekali pernah ngobrol dengan teman kerjaku dulu mengenai hal ini. Temanku itu berkata:
Kalau saya, kalau ngasih kerjaan ke orang, lebih senang kalau diberitahu bisa atau enggaknya, terus dikerjain. Meskipun salah, tidak apa2. Daripada tidak dikerjakan atau diam saja. Kalau dikasih tau bisa atau tidak, terus dikerjakan tapi salah, kan mudah. Saya tinggal bilang untuk kerjakan ulang. Tapi kalau didiamkan saja atau tidak dikerjakan, kan saya jadi tidak tahu juga harus bagaimana. Marah atau apa?

Sampai sekarang, kata2 itu selalu aku pegang sebagai dasar bekerja. Thanks Mbak Am***a. :-)

Ayo teman2... Kalau ada yang mendapatkan pesan dari orang lain baik di sms, wa, bbm, line, email, atau apapun itu jenis nya, luangkan lah waktu beberapa detik untuk membalasnya. Biarkan orang yang mengirim merasa senang, karena membuat orang merasa senang kan mendapat pahala kan ya?

Dan belajar menempatkan diri di posisi orang lain juga baik. Keren nya sih katanya "always put yourself in other shoes" gitu... :-p

Kalau dari postingannya #dagelan yang aku baca hari ini, ada satu yang menarik dan cocok untuk tulisan ini. Bunyinya:
The Raid Dua emang sadis sih...
Tapi...
Di Read Doang jauh lebih sadis...

Salam Damai dan Saling Menghargai! Aamiin :-p

Wednesday, June 3, 2015

Merasa Malu Sendiri

Jadi ceritanya weekend kemarin kami Keluarga Nala ini jalan-jalan ke curug lagi. Tapi kali ini arahnya beda, bukan ke arah Gunung Bunder, tetapi ke arah Puncak sana. Nama Curug nya Curug Cilember. Cerita perjalanannya nanti aku post di sumurdapurkasur aja ya... Udah lama nggak nyetorrr... Semangat setor nya ikut neng Safi pelatihan. hahahaha #ngeles

Yang mau aku ceritain disini sih lebih ke pengalaman spiritual pribadi yang aku rasakan ketika melihat sesuatu. Sedih, terharu, dan ujungnya adalah malu. Lebih ujung lagi adalah aku kekenyangan. Haiyah...

Gambar dari sini
Jadi lagi, ceritanya waktu itu kami tiba pas banget pas waktunya makan siang. Ya udah, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu diwarung sebelum bergerak ke air terjun. Kata anak-anak mapala kan logika nggak jalan tanpa logistik. :-p

Akhirnya kami masuk ke sebuah warung yang dulu waktu pacaran kami datangi juga. Memesan gado-gado dan es jeruk untuk si Ayah, dan Mie telur sama Jeruk panas buat si Bunda. Buat Denok K? Dia kan pasti minta mie telor nya bunda bawa bekel komplit, jadi nggak dipesenin.

Ditengah keasyikan kami menunggu makanan, makanan datang, dan akhirnya menyantap makanan, terlihat seorang bapak sepuh yang terseok-seok mengangkut 4 kardus air mineral. Rupanya si bapak menyetor air mineral ke warung itu. Akupun bertanya pada si Ayah, "Itu si Bapak bawa dari bawah yah?" dan di jawab "Iya". Terbayang aku yang hanya membawa back pack isi baju ganti dan bekal sambil nenteng tas perbekalan saja sudah engap nya iyyuhh ampun, dan si bapak itu membawa 4 kardus air mineral?

Setelah meletakkan bawaan nya, Bapak itu beristirahat sambil kipas-kipas menggunakan topinya... Tak lama es jeruk dihidangkan oleh Ibu Warung. Dan kemudian menyusul Mie Telor.

Dengan sudut mataku, kuperhatikan si bapak. Aku jadi ingat bapak ku di kampung. Memang sih bapak ku di kampung tidak harus memanggul kardus air mineral, tetapi aku tahu beliau juga memanggul banyak beban.

Saat aku asyik memperhatikan si bapak, Denok K mulai bosan dan minta jalan-jalan. Karena si Ayah menyudahi makannya ditengah jalan karena gado-gadonya kepedesan sudah cukup kenyang, maka Ayah dan Denok K berjalan meninggalkanku dengan mie telor tanpa telor telornya habis sama Denok K yang ngepul-ngepul.

Gado-gado Ayah sih menggoda, tapi kan aku sedang program mengurangi makan. Eits... tapi koq ketika sudut mataku kembali melihat si Bapak yang duduk menikmati mie nya, aku jadi malu. Aku malu punya pikiran untuk membiarkan gado-gado itu terlantar. Aku malu sempat merasa acuh pada makanan yang kami pesan. Dan malu ku semakin bertumpuk mengingat berapa banyak makanan yang kami sisakan ketika makan.

Kenapa tiba-tiba aku jadi malu?
Entahlah... Mendadak begitu saja rasa malu itu datang. Mungkin saya sedang insyaf. Aku merasa malu karena si Bapak yang sudah sepuh itu, masih bekerja sedemikian kerasnya. Untuk apa? pasti untuk menghidupi keluarga, dan memenuhi kebutuhan mereka. Bapak yang sudah sepuh itu masih bekerja dengan kerasnya untuk bisa membuat keluarganya bahagia dan berkecukupan. Sedikit banyak rejekinya adalah hasil dari perasan keringatnya.

Sedangkan aku? kami? yang muda yang belum banyak pengalaman ini, masih belajar hidup, masih belajar bekerja, masih belajar berkeluarga, tapi sudah menyia-nyiakan rejeki yang diberikan Tuhan melalui makanan. Mungkin si Bapak itu sering melihat anak berkelakuan seperti aku, dan apa komentarnya ya? Mungkin "anak-anak muda jaman sekarang, kurang menghargai usaha" atau yang lainnya? Entahlah...

Mungkin jika bapak ku melihat juga akan merasa malu? Anaknya tidak bisa menghargai rejeki yang didapatnya dengan cukup mudah, sedangkan orang lain mengusahakannya dengan susah payah? Mungkin saja....

Yang jelas perjumpaan tidak langsungku dengan si bapak ini benar-benar membuatku merasa malu. Mudah-mudahan aku dan keluargaku bisa menjauhi kebiasaan buruk itu. Mudah-mudahan kami semua bisa menjaga perasaan Bapak dan semua bapak di dunia agar tidak merasa malu dan sedih karena tingkah anak-anaknya.

Anakku, mudah-mudahan suatu saat, dimanapun kamu berada, kamu selalu membawa kami, Ayah dan Bundamu dalam setiap langkah dan semangadhmu. Sehingga bisa menjadi batas kebaikan yang bisa kamu andalkan setiap waktu. Sehingga kamu tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya akan membuat keluargamu malu.

Cerita ini hanya satu dari ribuan cerita yang ingin aku ceritakan padamu nak... Karena kami mencintaimu dan ingin bersamamu selamanya baik didunia maupun di kehidupan setelah dunia. Letakkan orang tuamu di setiap langkahmu... :-)

Monday, June 1, 2015

Salah Satu Kesuksesan di Mataku

Hari ini melihat di media sosial-nya seorang mentalist Indonesia, inisialnya D e d y C. Dia memposting satu video karya anaknya yang masih berusia 8 tahun (iya kan ya?) yang berisi curahan hati sang anak.

Aku tersentuh dan sangat tertarik dengan behind the scene cerita itu. Ini dia videonya....


Yang menarik menurutku adalah kisah panjang yang terjadi diantara kedua manusia dewasa yang disebut mom and dad dan si pembuat cerita, yaitu si anak. Iya... Karya yang begitu baik, begitu indah, dan begitu bermakna yang dibuat oleh seorang anak yang umurnya belum genap 9 tahun itu, tidak akan terjadi tanpa sesuatu yang luar biasa di antara mereka.

Mungkin di dunia yang fana dan banyak orang yang masih berpikiran "cuma gw dan kepercayaan gw yang paling bener ini", akan banyak yang kontra dengan isi dan niat si anak dalam membuat cerita ini. Seperti banyak komentar yang ada di bawah video itu langsung, ataupun di medsos nya si ayah.

Kebanyakan akan bilang 'setiap perceraian akan selalu mengorbankan anak'. "orang tua egois karena bercerai dan mengorbankan anak". Atau banyak komentar lain yang serupa tapi tak sama. Mungkin memang ada yang benar... Namun tidak 100% benar menurutku.

Meskipun begitu, aku tidak mau juga kalau harus melewati tahap itu. Naudzubillahimindzalik... Mudah2an Tuhan melindungi ku dan keluargaku dan memberikan kebahagiaan dalam keluarga ini. Aamiin.

Kembali ke cerita si anak. Si anak dalam ceritanya menyatakan bahwa dia merasa bahagia melihat mom & dad nya berpisah, karena itu membuat dia tidak harus melihat mereka bertengkar. Mungkin juga membuat dia tidak lagi melihat ibunya menangis. Karena jujur deh buat yang para anak, melihat ibunya menangis adalah hal yang sangat menyiksa kita bukan? Aku sih iya... Sampai pernah terfikir bahwa siapapun yang membuat ibuku menangis lagi, harus beradu pedang sama aku. hahaha....#alay.

Mungkin saja itu adalah jalan indah dan nyata dan terbaik yang diambil oleh Dedy, Kalina, dan Azka. Dan kelebihannya lagi adalah mereka berasal dari keluarga berada, jadi mau beli rumah yang deketan dan tetap liburan bareng kemana-mana ya tetap bisa. Eits, bukan itu pointnya... hehehe

Menurut pendapat goblok ku, mereka begitu dan akhirnya memilih untuk begitu, adalah hasil dari kedewasaan mereka dalam berhubungan. Cieeh, sok tau. Ya keleus....

Bayangkan...

Suami istri berantem, damai, berantem lagi, damai lagi, berantem lagi dan lagi sampai lupa cara damai. Biasanya apa endingnya? Cerai kan? Iya...

Apa bedanya sama Dedy dan Kalina? Mereka toh juga berantem melulu seperti digambarkan anaknya. Bedanya kemudian mereka (mungkin) diam, menarik nafas panjang, menatap (photo) si anak, dan saling berbicara secara dewasa. Mereka menarik diri dari pertengkaran mereka yang entah apalah itu sebabnya, kemudian meletakkan anak mereka ditengah2 mereka. Apa yang mau kita lakukan demi anak kita? Dan (mungkin) mereka memutuskan untuk lebih baik berpisah secara baik-baik.

Nah, tidak sedikit sebetulnya yang berpisah secara baik-baik begini di kehidupan nyata para artis. Beberapa ada yang memang baik. Beberapa ada yang awalnya baik, tapi menjadi tidak baik ketika sampai pada pembahasan hak asuh anak (yang ujungnya duit), bahkan ada yang katanya pisah baik-baik tapi cuma pas konferensi pers doank. Dibelakang itu kalau diajak ketemu, pasti lebih jago dari bajaj ngelesnya. hehehe... Namanya juga artis. Kenapa harus artis contohnya? Ya karena yang banyak diberitakan detailnya kan para artis... :-p

Aku sempat melihat dan mengingat sekilas ketika Dedy dan Kalina mengumumkan perceraian mereka beberapa tahun lalu. Aku melihat bagaimana Kalina menangis sedih dan dipeluk oleh Dedy, dan Dedy mengatakan bahwa "saya mencintai istri saya, dan saya yakin istri saya mencintai saya dengan sangat. Karena itu kami harus mengambil jalan ini agar tidak lagi saling menyakiti." Kayaknya sih gitu bunyinya.... Atau sedikit banyak deh... Atau mungkin aku lebay. hehehe

Tapi betul... Melihat bagaimana cara mereka menikah, kemudian punya anak, memutuskan untuk berpisah, dan menjalani konsekuensi mereka setelah berpisah dengan adanya anak, patut di acungi jempol. Sampai bisa membuat anaknya tidak merasa kehilangan/broken home karena perpisahan orang tua? Luar biasa. Sampai bisa menyimpulkan sendiri bahwa tidak ada yang berubah dari status anak, dan yang berubah hanya bukan lagi suami dan istri? Another luar biasa.

Hanya satu yang masih membuatku bertanda tanya, karena aku masih merupakan anak perempuan yang lahir di ndeso dan dengan pikiran ndeso yang nggak hilang-hilang. Bagaimana si azka ini nanti melihat 'Pernikahan'? Bagaimana Dedy dan Kalina menyiapkan anaknya pada tahap itu? Ataukah akan sama dengan yang sudah terjadi dengan ayah dan ibunya?

Ini adalah penasaranku yang serius... Tidak main-main... Karena pengalaman orang bisa kita gunakan sebagai lahan belajar yang tak terbatas. Diambil yang baik dan ditinggal yang buruk.

BTW, Great Job Dedy Corbuzer!!!

Monday, May 25, 2015

Bye Speedy, Almost Bye Laptop, and Finally Bye Data too

What a wonderful Weekend!

Akhir pekan kemarin ini, sedikit suram rasanya. Masih edisi lanjutan dari program bye bye speedy yang kemarin, rupanya tak hanya speedy yang membuatku pusing. Ada bagian-bagian lain yang ikut menambah pusing pala ini.

Bye picture taken from here

Entah kenapa pada hari Kamis siang, laptop ini mendadak dangdut mati. Ketika aku mencoba menyalakannya, hanya layar biru yang muncul dengan deretan tulisan yang bahasannya kelas dewa. Satu yang aku mengerti sepertinya bunyinya "Jika masalah ini baru muncul sekali, silakan restart komputer anda. Jika masalah ini sudah berulang kali muncul, maka .... " apaaa gitu katanya. Lupa persisnya. Karena memang seingatku baru sekali terjadi, maka aku merestart nya. Namun kemudian dia tak lagi sekali muncul. Setelah direstart, muncul lagi dan lagi dan lagi....

Saatnya pergi ke Dokter Komputer. Hmmm... Laptop ku perlu general check up sepertinya. Jadi akupun pergi ke tempat service computer di sekitaran kampus dan mas nya bilang akan membantu menganalisa apa yang terjadi. Menurut dia sekitar sejam juga selesai, dan nanti aku akan dikabari.

Sejam kemudian aku cek hp, belum ada sms. Dua jam kemudian, belum juga. 3 jam kemudian, tak ada sms tentang laptopku, akupun menelponnya. Hhmm... Mas nya pun pakai ngeles ini itu ketika aku tanya kenapa nggak jadi sejam selesainya. Nggak papa lah.... Namanya juga bukan hal yang bisa ditebak secara pasti. Si mas nya pun memintaku untuk memberikan external hardisk untuk menyimpan semua data yang ada. Kuberikan external hardisk yang kapasitasnya cukup besar.

Hari itu, proses peng-kopian data ke external hardisk selesai. si mas nya bilang kalau akan memulai mencari masalah yang menjangkiti laptop ku. Kemungkinan adalah windows nya yang crash, atau kemungkinan lain adalah hardisk nya yang error. Aku padamu mas...

Hari Jum'at...

Paginya aku mendatangi kembali tempat service laptopku. Rupanya sudah selesai... ppffiiuuhhh... lega. Komputerku seperti perawan kembali. Bersih sih sih... Tak lupa akupun memesan baterai yang baru karena baterai lama sudah soak parah. Besoknya baru ada baterai nya ceunah...

Sesampai di rumah, akupun langsung menjalankan rutinitas seperti biasa ketika komputer baru pakai. Yaitu kontak Allwyn yang di Bangkok sana untuk mengecek dan mensetting segala rupa yang diperlukan. Maklum, saya kan pengguna saja... hohoho

Seperti biasa Allwyn dengan majic tools nya meng klik sana dan klik sini untuk mengecek dan mensetting segala rupa. Sesekali ketika dia nanya password, aku ketik di layar. Atau ketika harus restart, aku restart dan kemudian kasih dia akses monitoring laptop lagi. Jaman sekarang memang semua-mua bisa dilakukan dengan ongleng...

Data yang berhubungan dengan pekerjaan aku pindahkan ke laptop. Untuk data yang lain, nanti saja lah aku pindahkan. Sekalian dirapikan. Untuk sementara dibuka langsung saja dari external hardisk.

Hari Sabtu...

Baterai sudah ada. Akupun mengambilnya.
Seperti kata mas nya yang jual, lebih baik di charge 8 jam posisi mati. Jadi hari itu agendanya adalah ngecharge baterai sampai setelah magrib.

Malamnya, rencana online untuk mengerjakan satu dan lain hal yang tertunda karena proses perbaikan laptop.

Setelah mengerjakan satu dan lain hal, terpikir untuk membersihkan dan sekaligus mengatur ulang susunan folder untuk data pribadi di external hardisk dan komputer. Malam minggu nggak ada pasangan dan anak sudah tidur lelap, hal apalagi yang lebih cantik selain cleaning up laptop? hahaha...

Pas di buka folder dengan namaku, eng ing eng... Folder couldn't opened. dan bla bla bla lainnya yang aku tidak mengerti... Broken heart... Hatiku patah... Ku keluarkan external hardisk dengan gently dan kumatikan laptop. Sedikit berharap kusisipkan doa agar folder yang error itu bisa di buka di MacB**k suamiku. Beberapa kali kejadian bisa, harapanku pun sedikit nyempil untuk itu...

Hari Minggu pagi - sore...

Tak ada gairah untuk membuka komputer, terlebih lagi external hardisk... Jalan-jalan, meet up with friends, berkebun (lagi).

Hari Minggu malam...

Aku lihat suamiku membuka laptopnya... Kuceritakan apa yang terjadi pada data-dataku, dan diapun mencoba membukanya melalui laptopnya. Hasilnya? kosong melompong... Hmmm... Ok... Numb. Nggak ngerasa apa-apa. Ya sudah... biarkan....

Hari Senin pagi...

Kembali online untuk bekerja, nggak merasa apa-apa dengan ketidak adaan folder itu. Feels nothing. Mungkin memang ada saatnya ketika kita lelah merasa galau (minggu lalu karena berbagai hal), dan kemudian mengalami kehilangan, akhirnya justru perasaan netral yang ada. Hahaha... aneh memang. Tapi sepertinya aku sudah melepas secara ikhlas semua data yang hilang itu. Nanti juga bisa dibuat lagi... simple...

Terbayang sih memang kumpulan cerita, kumpulas link, kumpulan ide, kumpulan gambar, kumpulan obrolan, kumpulan buku, dan kumpulan-kumpulan hal lain yang ada di folder itu. Tapi tidak membuatku stress sama sekali.

Satu hal yang justru membuat suamiku stress, adalah hilangnya kumpulan catatan ID dan password. HAH! Iya betul. Selama ini aku yang punya memori sepanjang 1 mm ini memang mengandalkan semua ID dan password di catatan itu. Dan hari ini, bersama dengan virgin nya laptopku dan hilangnya catatan itu, aku jadi sedikit bingung dan bertanya pada suamiku. Password iniku apa ya? ituku apa ya? yang ini apa? yang itu apa? Maklum, jaman sekarang semua main ID dan password...

Tentu saja suamiku dengan bahagianya mengeluarkan dalil :
Suami: Kamu ini parah sekali... masak password yang begitu bisa lupa? itu kan penting...
Aku: Makanya itu, karena penting aku catat semuanya disitu. Lha sekarang malah ilang?
Suami: Tapi koq bisa lupa sih? Mana bisa orang lupa password yang begituan?
Aku: Lha kamu kan tau sendiri, aku ini lemah mengingat
Suami: Kayak orang amnesia aja
Aku: Soalnya banyak sekali password dan ID yang musti di inget... Banking lah... ATM lah... Email lah... Medsos lah... Belanja onlen lah... Duh, mana inget semuanyaa.... #ngeles
Suami: Kayak aku donk... simpen di note HP...
Aku: Hahahha... nggak salah nyuruh aku nyimpen begituan di HP? Udah lebih dari 5 kali keleus HP ku ilang... Lha kalau ilang lagi? Oh no... tambah perkara aja sibuk blokir sana sini...

Diskusi selesai...

******

Begitulah... Akhir pekan yang sesuatu sekali... Mulai dari Bye bye Speedy, disusul dengan hampir saja bye bye laptop, dan akhirnya bye bye data...


#AbaikanNoteIni:
Jam 11 siang mendadak internet mati.
Aku (by WA): Yah, tet tot... Internet mati...
Suami : Astaga... kamu ini nggak bisa jauh dari aku ya. Ditinggal dikit adaaaa aja masalah...
Aku: Iyaaa... Aku tanpamuuu... Butiran debuuu... #menyanyi

Eeeaaa... Eeeaaa... Eeeaaa...

Thursday, May 21, 2015

Akhir dari Hubungan Kita

Akhirnya aku memutuskan hubunganku dengannya...
Bukan keputusan yang mudah, tetapi memang harus dilakukan. Berjalan bersamanya, banyak suka dan dukanya, tapi sangat menguras emosi jiwa. Dan kadang menambah dosa.

I have to let You go!

Bertahun-tahun sudah kami hidup bersama, memulai semuanya dari hal kecil. Dia sudah banyak sekali memberikan hal-hal baru dan indah bagiku. Banyak hal-hal positif karenanya. Namun, rupanya hatiku tak bisa berdusta. Tekanan demi tekanan, kebohongan demi kebohongan, ketidakjelasan, dan ketidakpedulian itu membuatku muak dan memutuskan untuk meninggalkannya.

Kami sudah bersama, bahkan ketika aku belum bisa memilikinya. Kamipun mulai bersatu disebuah rumah kontrakan mini yang menyenangkan. Lebih dari 2 tahun kami tinggal di rumah kontrakan itu. Naik turun hubungan, suka duka perjalanan, kemarahan, kebencian, namun selalu kembali karena kebutuhan. Begitu terus menerus tiada henti, dan selalu berulang kembali.

Ketika akhirnya kami punya rumah sendiri, harapanku adalah agar hubungan kita lebih harmonis tanpa cela. Tanpa emosi yang menguras energi, tanpa makian-makian baik langsung ataupun dalam hati, dan tanpa hal-hal buruk itu. Yang ada, hubungan kita justru semakin memburuk. Tak pernah ada hari berjalan mulus dalam hubungan kita dirumah baru ini. Hatiku pun bertanya-tanya... Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa harus seperti ini??? Kenapaaaa???

Terlalu banyak janji manismu yang hanya membuatku semakin dan semakin sakit hati...

Sudah sejak lama aku merasakan ketidakcocokan ini. Namun apa daya... Aku tak punya pilihan yang lebih baik dari yang aku jalani ini. Aku sudah berusaha untuk membicarakan hal ini pada banyak orang, pada ahlinya. Namun memang pilihan yang lebih baik belum mau mendekat kearahku. Sedih... sedih sekali... Melihat teman-temanku berbahagia dengan pilihan mereka, kenapa tidak ada pilihan yang lebih baik untukku??? Siapa yang harus kusalahkan????

Puncaknya adalah beberapa waktu lalu. Entah mendapat kekuatan darimana, saat itu juga aku memutuskan untuk menyudahi prahara ini. Mengakhiri hubungan ini adalah jalan satu-satunya yang paling mungkin. Masalah kemudian aku mendapatkan yang lebih baik atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting adalah aku tidak lagi dibuat emosi olehnya, tidak lagi dibuat sakit hati olehnya, tidak lagi dibuat berdosa olehnya, dan energiku bisa aku gunakan untuk yang lainnya.

Iya... Beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan menahun ini. Dan sehari setelah aku putuskan untuk berpisah, akhirnya perpisahan itu terjadilah. Dan hari ini, aku sama sekali tak berhubungan lagi dengannya. Lupakan semua rupiah atau dollar yang sudah kuikhlaskan untuknya. Mudah-mudahan diganti dengan yang jauh lebih besar nantinya. Selamat tinggal... Kalau memang kita jodoh, kita akan berhubungan lagi suatu saat nanti.

Kenapa tiba-tiba aku bisa menguatkan diri dan memutuskan hubunganku dengannya? Iya... dengan sangat menyesal aku harus katakan bahwa ada yang lain. Ada yang lain yang bisa membuatku lebih tenang, lebih damai, dan lebih menerima kenyataan. Ada yang lain yang lebih memberikanku keberlanjutan hubungan, bukan hubungan putus nyambung dan tidak jelas sepertinya. Ada yang lain yang membuatku lebih percaya diri. Ada yang lain yang aku harap bisa semakin baik lagi setelah aku memutuskan bersamanya.

Memang yang lain ini belum sepenuhnya membuatku puas begitu saja. Tapi setidaknya aku mau mencoba. Jika hubungan ini berhasil, maka aku harap hubungan ini bisa selamanya. Namun jika harus kembali gagal ditengah jalan, maka aku akan kembali mengikhlaskannya dan mencoba mencari yang lain lagi. Dunia terus berputar meskipun kita tunduk terpuruk oleh sesuatu. Rugi kan?

Akhirnya tiba saat mengucapkan selamat tinggal...
Selamat tinggal Speedy... Kau tak layak lagi mendampingi hari-hariku... Hubunganku denganmu hanya akan sebatas namamu tertulis di tagihan bulanan ke kantorku untuk dua bulan terakhir. Selebihnya tidak... Router mu pun sudah lenyap dari pandangan, disungsepkan entah kemana oleh suamiku yang sama sebelnya sama kamu. Kami sudah sangat bersabar selama ini, namun kesabaran kami sudah kau habiskan sendiri.

Kalau suatu saat nanti kamu sudah menepati janjimu dengan menggunakan fiber optik dan koneksi cepat sesuai janji dan akad, maka mungkin saja kami kembali. Tapi jika tidak, ya sudahlah... mungkin kita belum berjodoh.

Saat ini kami akan berjuang dengan Bolt.... Mudah-mudahan Tuhan berkati. Bismillahirrohmanirrohim...

PS: Mudah-mudahan tidak ada yang membaca dengan serius cerita ini, karena ini hanya tentang Aku dan Speedy, bukan cerita yang laiinya.. :-)


Monday, May 18, 2015

Begini Mungkin Dulu Ibuku Melewati Beberapa Harinya Denganku

Ya Tuhan...

Mungkin memang tepat jika dibilang Karma akan selalu ada. Tapi karena ini melibatkan anak kecil, maka Karma tidak menjadi kata yang tepat. Mungkin lebih tepat jika dibilang "Cara Tuhan Menunjukkan Bagaimana Perasaan Ibu Dulu Kala?"

Ceritanya, si Denok K sedang dalam masa penyembuhan dari demam 3 hari nya kemarin. Kemarin pagi akhirnya kami bawa dia ke Nenek Salim untuk pijat. Namun tidak seperti setelah pijat kemarin2nya, pulang dari pijat dia masih menolak makan. hiks... Nongkrong di Momo Barn nya kurang berfungsi jika anak malas makan... #alibi

Lanjut ke tadi malam. Entah kenapa Denok K ini malam2 menangis bombay sebentar2. Terus tidur lagi. Nangis lagi, sambil ngigau 'pukul... pukul...' sambil memperagakan tangan di samping kepala siap memukul. Hhhh... Ini adalah teka-teki yang menyelimuti selama beberapa hari ini. Denok K jadi hobi sekali berniat memukul atau benar2 memukul sambil bilang 'pukul...pukul...'. dan belum ketahuan darimana dia mendapatkan itu semua. Selidik ke tetehnya, tidak terkonfirmasi apakah ada temannya yang suka begitu.

Hari ini rupanya berlanjut sesi ehm nya denok K. Kemana2 minta gendong kain... gendong kain... Terus minta sesuatu nggak pake bilang tapi pake nangis. Nah loh... Gimana kita ngerti ndhok... ndhok...

Belum lagi sebangun dia dari boci -yang dengan sukses ditemani bundanya- nya, dia mendadak menangis kejer laksana disiksa. Berpegang pada kamus per-tantrum-an, akupun mencoba tegar dan tak tergoda untuk menyuap nya dengan apapun. Hanya dengan setia menunggui dan memeluk erat. Namun rupanya jurus tangan maju semuanya juga belum berhenti. Pukul, jambak, dan cakar... Duuh... Dapet darimana sih kamu sayangku?

Kalau sudah begini, aku jadi serasa mengingat jauh ke belakang sana, melihat pada Wilis kecil yang adalah mirip dengan Denok K kecil ini. Dulu aku juga sering begini. Menangis tanpa alasan dan tanpa batas sambil melancarkan jurus2 cubitan ke punggung Mas Aris. Duuh... maaf ya Mas Aris ku sayang... Mudah2an dihitung dengan pahala berlipat ganda dari Tuhan YME. Aamiin.

Belum lagi Wilis kecil adalah anak yang uhuk sekali. Seperti halnya ibu-ibu yang lain, jika anaknya menangis dimalam hari, ibuku akan bilang "hussh...cup,..cup... jangan nangis. Itu ada hantu. Kalau nangis terus nanti kamu di bawa pergi hantu". Dan entah darimana aku selalu bilang "Mana hantunya? Aku mau lihat hantu... Aku mau ikut hantu saja...".

Terus kalau susah disuapin, ibuku akan bilang "tuh lihat itu ada pesawat lewat. Ada pak presiden itu. kalau kamu nggak makan, nanti diambil pak presiden...". Dan dengan semangadh aku akan bilang "Aku mau ikut pesawat... Aku mau ikut pak presiden...." Dan ibuku diam dengan tatapan -sebaiknya piring ini kubanting saja-.

Ada juga saat dimana aku mendadak pengen makan, sedangkan ibu dan bapak sedang memerah susu di kandang. Dan dengan lebaynya aku akan duduk lemes didepan rumah sambil menangis sendu tersedu-sedu agar ditanyain orang. hahahaa. How Drama Queen am I?

Ya Allah... Berikanlah kesehatan kepada semua keluargaku tercinta... Limpahkanlah rizky, berkah dan anugerahMu kepada mereka semua. Sekarang aku belajar menjadi mereka kala itu. Dan ternyata itu tidak mudah.

Terima kasih Ibu, Bapak, Mas Aris, Pakdhe Suhar... You raised me so well... Kalian semua menyimpan setiap cakaran dan kebandelanku sepanjang masa. I love you all and God will always bless all of you every single day. Aamiin

Denok K.... Yang pinter... Yang baik... Yang nurut... Yang cerdas... Membanggakan hari Ayah dan Bunda... Besok kita main dengan gembira saja yaaa... Seperti dulu-dulu itu lho... Bangun dengan ceria... Makan yang banyak... Mandi dengan bahagia.... Main yang banyak... Bobok yang pules... Ok?

Kata Denok K: "OoooKeeee"


Tuesday, May 12, 2015

Lepehan - Lepehan Yang Terserak

Ada yang nggak tahu apa itu lepehan? Melepeh? Dilepeh? atau lepeh-lepeh lainnya?

Googling gih...! Pasti banyak artinya. Aku sih males gugling.

Namanya lepehan, itu pasti nggak enak, makanya jangan dimakan lagi. Namanya melepeh, itu bukan perbuatan yang baik, jadi jangan dilakukan didepan orang lain. Namanya dilepeh itu pasti karena nggak enak, tapi coba mikir juga itu yang dilepeh. Pasti yang dilepeh juga nggak enak... Kasihan lah pokoknya...

Kalau bisa jangan deh berhubungan atau melakukan yang lepeh-lepeh gitu... Sama-sama nggak enak. Nggak enak dilihat, dan nggak enak dirasa.

Apalagi abis diangkat-angkat terus dilepeh...

Berdasarkan kajian seseorang, lepeh-lepeh ini bisa menyebabkan penyakit hati. Sulit sekali diobati. Dan konon katanya bisa menjalar kemana-mana. Bahkan menimbulkan kematian.

Untuk yang suka melepeh-lepeh, lebih baik mulai banyak beristighfar.... hahaha. Apa hubungannya? Banyak. Males menjabarkannya.

Untuk yang suka dilepeh-lepeh, yang sabar ya lepehan... Deritamu jadi lepehan.... Hahaha... Makin nggak jelas deh...

Hidup Lepeh!

Friday, May 8, 2015

Last Long Weekend

May Day is a May be Day

Beach and Us are Best Friend...!!!
Whatever.... Weslah ben e wae... Sik penting aku jalan-jalan duyu... Mari kita memantai...
Seperti biasa, anak gunung nemu pantai? Akupun seperti biasa jadi katrok ndesok. Guling-guling rolling-rolling... Nggak peduli dengan photo atau dokumentasi yang ciamik. Pokoke main di Pantaaiiii...

Jadilah oleh-oleh photo miskin cerita ini. Mudah-mudahan masih bisa membuat kalian pengen kesana. hehehe

Perjalanan ke Pantai Sawarna cukup panjang dan melelahkan. Terlebih untuk Denok K (singkatan baru nama Kiraniul gegara emaknya galau). Denok K beberapa kali ber uhuk uhuk minta turun dengan beberapa alasan. Sepertinya dia lelah. Pegel mungkin lebih tepatnya karena sepanjang jalan dia dipangku terus. No space karena penumpangnya padat merayap. Doakan Ayah dan Bunda mu agar tahun depan kita bisa punya mobil baru yang bagus ya nduk... Biar kita nggak perlu desak-desakan lagi... hehehehe #doanya maksa.

Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak di Pantai wisata pertama yang kami temui. Ada saung, ada warung, ada kamar mandi, ada pasir dan pantai... Iyalaah... Piye sih.
Namun sayang, disitu saya harus mendapat kabar sedikit kurang ceria. Tamu bulanan datang pas banget pas nyampe situ. Haduh, main di pantai tapi nggak bisa renang? Ada yang lebih sedih lagi nggak sih? Hiks....

Welcome to Tanjung Layar - Sawarna Beach!
Tapi nggak papa... Yang penting Denok K senang. Dia main pasir dan berendam di air laut. Seneng banget. Nggak mau selesai. hehehe. Yang lainnya sih duduk2 di saung, makan karekdok, makan mie telor, bakar-bakar tiwu telur, haha hihi, Denok K ya haha hihi sendiri di pasir pantai... :-p

Setelah beristirahat cukup lama dan kenyang, akhirnya kami melanjutkan ke penginapan yang sudah di booking bapake Denok K. Kami menginap di penginapan yang lokasinya persis didepan Pantai Goa Langir. Karena mendadak pesannya, jadi tidak sempat mencari yang lebih dekat ke Tanjung Layar. Tapi diakhir acara kami merasa beruntung bisa menginap di penginapan ini. Pantai Goa Langir juga bagus soalnya. hehehe.

Look... I found a treasure... Bungkus Jelly!
Sayangnya kami tidak berfoto didepan vila karena lupa. Benar-benar quality time yang akhirnya mengesampingkan photo session. Secara detail, penginapan kami bisa di baca disini.

Karena kami tiba masih di siang hari, maka kami putuskan untuk mengunjungi Pantai Tanjung Layar terlebih dahulu, baru kemudian besoknya ke Pantai Goa Langir. Denok K, Aku, Umi, dan Hijma naik ojek ke pantai nya, sedangkan Bapake Denok K, Mbak Ocy, Mbak Ulan, Abah, Om Gun, Tante Gina jalan kaki. Lumayan jauh juga dari jalan raya... heuheuheu

Pantai Tanjung Layar sudah layaknya pasar saat kami tiba. Ramai sekali. Ratusan pengunjung memadati area pantai, dan semua dengan kamera/hp ditangan. Wartawan sosmed dimana-mana :-)

Ditengah ratusan orang yang sibuk berphose dan berphoto, aku melihat ada sepasang kekasih bergandengan mesra menembus kerumunan. Yang perempuan dibantu dengan beberapa temannya mengangkat rok nya tinggi2 karena takut basah. Dilihat dari dandanannya, sangat mudah dikenali bahwa mereka hendak melakukan photo Prewed. So sweeettt....

Kamipun melewatkan sore dan petang di Pantai Tanjung Layar yang legendary itu. It was fun!

Menuju petang, kamipun beranjak menuju penginapan untuk membersihkan diri. Kali ini semua orang berjalan kaki, tidak naik ojek. Ternyata tidak terlalu jauh juga sebetulnya... Dan aku juga baru tahu kalau di sekitaran pantai Tanjung Layar itu banyak sekali penginapan yang letaknya didepan jembatan persis. Jadi sangat dekat dengan pantai. Kapan-kapan kalau ada kesempatan boleh dicoba juga itu :-)

Ditengah jalan, rasanya ada yang meneriakkan nama suami di depan sana "A Yudi... A Yudi..." Koq rasanya kenal sama suaranya ya... Aku yang berjalan di belakang celingak celinguk ke arah sumber suara. Rupanya Si Yuli... Hahaha... udah lama nggak ketemu sejak prahara seputar cintanya dulu. Sekarang dia terlihat jauh lebih.... Subur, makmur, bahagia... Rupanya dia serius mengelola usaha Travel Guide nya. Keren Yul...!

Malam harinya Suami dengan kreatif dan cintanya menyusuri jalanan dan menemukan Ikan Bakar yang enaaaaakkkk pake bingiiiitt.... I love you dear... Tau aja bini nya kelaparan. hehee. Malampun ditutup dengan senyum kenyang dan bahagia...

Paginya, seperti yang sudah direncanakan kami berjalan kaki ke Pantai Goa Langir yang pintu gerbangnya tinggal nyebrang dari penginapan kami. Awalnya kami berencana naik mobil kesana, tapi karena mobil sedang dibersihkan abah, iseng2 kami berjalan pelan sampai akhirnya tiba di pantai tanpa terasa.
I want THAT and I will be THAT and I will love THAT!
Ada dua goa yang dijadikan tempat wisata, tepat sebelum kita sampai di Pantai Goa Langir. Aku tidak mencoba masuk karena malas Denok K belum pernah tak ajak masuk gua. Di area pantai sendiri, ada beberapa penginapan ternyata. Yang aku bayangkan, pasti gerah sekali kalau malam dengan perpaduan angin laut dan suasana pantai... hohoho...

Seperti biasa, beberapa warung juga ada disana. Beberapa tenda berdiri ditepi pantai, dengan penghuni yang masih tidur nyenyak. Jadi rindu masa2 itu, masa2 kemping dimanapun kita mau. Soon we will do that again ya dear... #kedipkedip

Denok K bersama dengan ayahnya dan sepupunya bermain-main pasir dan air laut. Akupun menimbrung sesekali sambil menyuapi si denok. Kami tidak berlama-lama dipantai itu karena perjalanan pulang kami masih panjang. Ditambah lagi masih harus mampir kondangan. Hmm...

Setelah selesai bermain air, kamipun kembali ke penginapan, mandi dan packing. Akhirnya cusss kembali. Disepanjang perjalanan pulang, Denok K kembali merasa bosan dan lapar. Trik2 mulai dilancarkannya dengan alasan mau pipis atau mau pup. hehehe.... Sabar ya nak... ;-)

Perjalanan panjang, bersempit2an, berdempet2an, dan berbosan2an, namun sangat menyenangkan. Mudah2an tamu negara (Rosy dan Wulan) menikmati perjalanan mereka dari gunung menuju pantai. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan yaaaa....

Cekidot beberapa photo yang kami ambil ketika berada di Pantai Tanjung Layar dan Pantai Goa Langir... ^_^
Hope You Enjoy this threat trip Mbak Rosy and Mbak Wulan!

We send Big Hi5 from here.... :-)

Let's be Happy Now and Then... Forever and Ever! :-)


Ayah - Anak Hi5

My very fave thing...
Got a big, long, and excited kisses from her











Daddy - Girl talk
Were you two spoken about Mommy?
Mommy - Girl Chat Along the Beach
Let's talk about boy... 

Tuesday, May 5, 2015

Live Laugh Love

Lovely picture taken from here

Live every moment,
Laugh every day,
Love beyond words...



Thursday, April 30, 2015

They Have the Boss

Yes, they have the boss....

Great to knowing that...




I Am Proud to be Born as a Javanese People

Mau nulis banyak tentang ini, tapiiii.... ah sudahlah... :-p

Setidaknya kita tangkap saja idenya, aku yakin suatu saat aku akan tetap ingat kenapa dan bagaimana bisa aku menulis ini. Suatu saat itu, aku pasti akan jatuh cinta lagi pada saat ini, dan aku akan tetap bangga terlahir sebagai anak Jawa, dan masih memegang unggah ungguh Javanese.

Bukan berniat SARA, karena setiap orang pasti punya kebanggaan sendiri pada sukunya, agamanya, bangsanya, golongannya, dll. Mungkin kalau aku lahir dari keluarga Batak juga aku akan bilang I Am Proud to be born as a Batak People. No hard feelings on this matter. Hanya saja aku melihat dikanan dan kiriku mulai banyak teman yang menurutku, ehm... sudahlah. Mungkin mereka sudah pintar dan modern. Mboten nopo-nopo. 

Freedom Picture taken from here


Memang yang namanya adat istiadat, tata krama, tradisi, dan hubungan sosial itu akan terasa sangat membelenggu jika dan hanya jika kita ingin merasa dan menjadi pribadi yang bebas sebebas merpati. Karena hidup ini pilihan, maka kita sendiri yang bisa memilih dan memutuskan mau cara mana yang kita pilih. Sebetulnya dengan catatan kita tahu mengerti dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan kita. Kalau belum bisa menerima konsekuensi nya dengan sadar, tanpa emosi, dan tanpa menyesal, lebih baik tidak usah mendeklarasikan diri sebagai orang yang modern. Belum saatnya... mungkin.

Kalau tidak ingin melihat orang dengan kaca mata unggah ngguh tata krama dan tradisi yang dibawa lahir, yaaa jangan.... ah sudahlah... tidak tega menulisnya. Biarlah... mungkin sedang galau saja. hehehehe. Satu kalimat saja deh ya: Mungkin banyak orang yang tertawa bersamamu ketika kamu bahagia, tapi perlu diingat juga bahwa ada segelintir orang yang berdarah-darah membantumu bisa tertawa... #lebay

Memang benar, orang-orang disekeliling kitalah yang akan membentuk siapa kita. Seiring dengan perubahan orang-orang disekeliling kita juga, maka kita akan berganti rupa. :-p

Mudah-mudahan, anak keturunanku dapat tumbuh dengan cita-cita besar, usaha yang benar, pemikiran yang luas, namun masih berpegang pada tata krama unggah-ungguh dan tradisi yang kami ajarkan. Penyesalan terbesarku adalah jika anak keturunanku tumbuh dengan pikiran sempit, dan tidak tahu tata krama.... Naudzubillahimindzalik...


Wednesday, April 29, 2015

Daun - Daun Berguguran

Daun yang jatuh ke atas air, akan mengalir kemanapun air membawanya pergi... Tapi kenapa dia bisa jatuh, terkadang bisa mengoyak rasa kita... Kepada daun jatuh, teruslah bergerak kesana kemari... Daun yang belum jatuh, hanya menunggu waktu saja...

Picture taken from here



Monday, April 27, 2015

Bukan Apa-Apa

Seperti judulnya, ini bukan apa-apa. Hanya kebetulan membuka beberapa link dan menemukan sesuatu yang bisa dijadikan pengingat diri. Mudah-mudahan berguna untuk orang lain juga. Kalau di medsos yang aku biasa temukan, orang-orang yang kekinian sering memberikan hashtag #noteformyself atau #plakformyself gitu... Padahal mungkin sebetulnya itu untuk orang lain yang mereka kenal....#eh :-p

"Bila kita dongkol dan tak menyukai pemarah, maka berjuanglah sekuat tenaga untuk tak jadi pemarah, karena bila sama-sama pemarah maka kita sama-sama tak disukai.” (Aa Gym)

“Semakin ingin menunjukan diri kita agar diakui, dihormati, maka semakin tertekan, tegang dan melelahkan bathin, dan biasanya makin tak disukai.” (Aa Gym)

“Sikap emosional merupakan ciri belum terampil mengendalikan diri. Bagaimana mungkin dapat mengendalikan orang lain dengan baik, bila diri sendiri kurang terkendali.” (Aa Gym)

“Keberanian untuk mengatakan tak tahu untuk yang tak diketahuinya jauh akan lebih menenangkan dan dihormati daripada selalu ingin kelihatan serba tahu atau sok tahu” (Aa Gym)

Aku bukan penggemar fanatik nya Aa' Gym, tapi kali ini banyak menyunting kalimat beliau. Di ambil dari sini.

Totally agree with those quotes. Dear friend... Let's try to be good and better day by day :-)

New Dream for Future and Better Life

Today, 20 April 2015

I start to be pregnant, again...

Whaaatttttt??? Hamidun??? Lagi??? Anak kedua???

Bukan... tenang...tenang... bukan hamil yang itu. Ini hamil yang lain... hamil hanya perumpamaanku saja. hehehe

Hari ini tiba-tiba aku memulai kehamilan untuk ide bisnis masa depan. Seperti biasa, ide dan ide. Hamil dan hamil tanpa melahirkan. Bukan tanpa melahirkan juga sih. Tapi lebih sering nya keguguran ide. Beberapa ide berhasil lahir ke dunia, namun tidak bertahan lama. Tapi aku tidak menyerah. If there is a will, there is a way :-)

Aku ingat suatu ketika membaca status teman (Ochot bukan ya?) atau buku gitu, lupa tepatnya. Katanya, sebuah mimpi/ide bisa muncul dan hilang kapan saja. Karenanya,  mimpi/ide itu harus cepat ditangkap dalam bentuk tulisan sebelum akhirnya hilang, lenyap tak berbekas dan tak berlanjut.

Baiklah... Aku akan menangkap mimpiku barusan ditulisan ini. Belum banyak yang bisa diceritakan, tapi gambar ini akan selalu bisa mengingatkanku tentang mimpi ini.



Gelap ya gambarnya? Iya gelap banget. Itu gambar sapi... Mudah-mudahan dimata orang juga terlihat sebagai sapi. Bukan hanya di kepala dan mataku. :-p

Sapi ini menyimpang seribu makna dan harapan suci. Entah apakah akan benar-benar membantu terhadap suatu usaha perubahan, atau hanya akan teronggok begitu saja, kalah terhadap ketidakpercayaan. Belakangan ini, semangadhku sedang membuncah, namun seperti biasa. Dia yang tidak terlalu percaya diri dan tidak bisa percaya orang, berusaha menggerogoti semangadh dan cita-citaku. Selalu begitu. Masih berharap akan ada perubahan, tapi entahlah... Mudah-mudahan saja.

Tapi seperti kata pepatah "Seribu jalan menuju Roma"

Friday, April 24, 2015

Mood Drop Se Drop - Drop nya

Beberapa hari terakhir ini, mood ku benar-benar amburadul. Berbagai hal rasanya menggerogoti senyum semangadhku. All gone.

Kalau dirunut sebagai berikut:

Penggerogot mood 1:

Teman 1: Ngapain ketemu ini?
Aku: Urusan dapur
Teman 1: Mbak, si ini pinjem itu?
Aku: Iya. koq lu tau
Teman 1: Soalnya dia pinjem aku juga tapi sampai sekarang belum balih.

Mood turun 1 level

Penggerogot mood 2:

Aku: Iya. tadi ngobrol ama teman 1, katanya ini juga pinjem ke dia sampai sekarang belum kembali.
Mr. X: Tuh kaaann... kamu ini kalau aku nggak ada, rem nya langsung ilang ya? Seenaknya ini itu begini begitu.
Aku: Ya kan tujuan nya baik. Lagian belum tentu begitu juga ke aku.
Mr. X: Duh, kamu ini kadang emang bikin benci banget tapi kadang bikin kangen banget. Ampe M*** aku!

Mood turun 1/2 level

Penggerogot mood 3:

Telpon ke Bank MantabBerdiriSendiri, ke CS yang namanya GN yang janji mau nelpon dari senen nggak nelpon juga,  dan cuma bilang:
Aku: Mbak, saya tunggu kabarnya katanya mau diinfo dari hari senin koq nggak ada berita ya?
GN: iya bu... jadi kemarin sudah berhasil diproses hari senin. Saya lupa tidak nelpon ibu.

Mood turun 1 level

Penggerogot mood 4:

Tengah hari angin kuenceng banget. Dikasih tahu tukang kebunku kalau atap terbuka dan patah. Grusak grusuk bantuin si bapak nindih atap pake balok kayu. Melihat mendung mulai menggelantung, malas mikir nasib rumah kalau hujan.

Mood turun 1/2 level

Penggerogot mood 5:

Baru sadar kalau internet mati dari mulai angin kencang dan tidak kembali membaik karena kabelnya ketarik.

Mood turun 1 level

Penggerogot mood 6:

Sore setelah angin kencang berlalu, mendadak rumah sepi jali. Clingak clinguk kemana gerangan si Dia sama tetehnya. Tengok ke tetangga, eh, nongkrong lagi mereka. Duuh... ini teteh koq makin lama hobi netangga nya makin menjadi... #sideeffectinisich

Mood turun 1/2 level

Penggerogot mood 7:

Ngobrol sama teman yang harus sebaiknya di sensor. Makin suram.

Mood turun 2.5 level

Penggerogot mood 8:

Ganti hari.... level mood masih level terendah di hari sebelumnya.

Subuh hujan deras, dan seperti yang sudah diprediksi kebocoran melanda.

Mood turun 1/2 level

Penggerogot mood 9:

Ada ngobrol rombongan online yang uhuk bikin ketawa nyengir sendiri banget.

Mood turun 1 level

Penggerogot mood 10:

Ada teman bukan ya? yang datang ke rumah karena kebetulan ada undangan makan di tetangga. Tapi lagi nggak mood dan nggak diundang sama yang punya hajat banyak kerjaan jadi nggak bisa ikut.

Mood stabil

#Scroll up ngitung level turun nya si mood

Ada 10 penggerogot mood yang sukses membuat mood turun 8.5 mood

Padahal sedia moodnya cuma 5 10. Lumayan masih sisa -3.5 1.5 buat naik motor keluar cari kado untuk tetangga yang lahiran.


Monday, April 20, 2015

New Blog Collaboration!

Yuhuuu....!

After about a month discussion, finally the Blog Collaboration is born....

Picture taken from here

Iya. Berawal dari sharing sebuah link tentang kepiawaian seseorang menjadi manusia setengah sempurna (kerja iya, cantik iya, pinter iya, kreatif iya, pengatur keuangan dan masa depan handal iya, de el el), berlanjutlah menjadi kepo kedalam, semakin kedalam dan semakin kedalam. Ke dalam blog nya maksudnya. Dan setelah diskusi ngalor ngidul masalah tujuan, target, kelebihan, kekurangan, de el el juga. Dan juga setelah bikin target pertama, setelah lewat dari target pertama, setelah bikin target baru dan akhirnya lewat lagi itu. hahaha... Sungguh... Ini lah the real kolaborasi antara dua orang yang sama-sama pejuang anget-anget tai ayam... Entah bagaimana akhirnya kami sepakat untuk berkolaborasi. Mungkin saat itu kami sedang lapar.... :-p

Pagi ini, Jeng Saphie meng-announce kalau email dan blog sudah di buat. Akhirnya aku dengan semangadh membuat kata pembukanya... Cihuyyy! posting pertama keluar... Mari berdoa dan berharap agar postingan pertama ini tidak akan selamanya sendiri. Dan secepatnya mendapat teman nangkring... :-)

Rasanya seperti mengangkat anak.
Dimana kita mendapatkan amanah baru, untuk dijaga, di rawat setiap hari/setiap minggu, ditengok sesering mungkin, dibelai selama mungkin. Duuh, jadi inget. udah berapa kali aku tidak amanah dan menelantarkan anak-anak angkat semacam ini... ck..ck..ck

Tidak apa-apa... Kita coba dan coba lagi. Mencoba selagi mau, mencoba selagi bisa, dan mencoba selagi gratis. Kalau gagal, anggap saja kesuksesan nya masih tertunda. Kalau berhasil, anggap aja ujian keimanan untuk menjadi konsisten... :-)

Bismillah dulu jangan lupa, agar diberikan kelancaran lisan dan jari, dibukakan hati penghilang rasa malas. Aamiin...