January School From Home - Writing Challenge #Day3
Whatsapp Group PJJ: "Besok, Rabu 13 January 2021 materi PJJ adalah Matematika"
Selasa malam menjelang tidur:
Saya: "Mbak K, besok kita sekolahnya belajar Matematika"
K: "Asik, I love Matematika" Katanya.
Saya: "I know. Jadi besok kita kerjasama yang baik ya sekolahnya biar lanca, selesai cepat, dan semua happy. Ok?" Kata saya dengan yakin, untuk meyakinkan diri sendiri.
Rabu, 13 January 2021
06.00 WIB
Saya: "K, Ayok bangun kan mau sekolah"
K: "Sebentar Bunda... Aku masih ngantuk bangettt...."
Setelah berkali-kali dibangunkan dan mendapat jawaban yang sama, akhirnya dia bangun jam 06.40 WIB.
06.45 WIB
Saya: "K, ayok kita sarapan dulu terus mandi. Udah mau masuk ini sekolahnya" Kata saya.
K: "Sebentar Bunda... Aku kan baru banguuun.."
Setelah berkali-kali diajak, baru berhasil bersiap jam 07.40 WIB.
08.00 WIB
Saya: "K, Ayok kita mulai sekolah. Matematika. Sudah terlambat ini kita" Kata saya.
K: "Iyaaa... Sabaaarrr..."
Saya: "Berdoa dulu yuk..."
K: "!@##$$%%^" Berdoa dengan nada tidak jelas.
Saya: "Yang betul berdoanya biar Tuhan mudah mengabulkan" Kata saya mulai pasang kuda-kuda, K berdoa dengan benar.
Saya: "Kita belajar dari Power Point nya dulu ya... Baru nanti menonton video nya biar lebih mengerti... Sekarang kita belajar penempatan bilangan, penjumlahan bersusun. Penempatan bilangan itu..." Belum selesai saya menjelaskan, K menyahut...
K: " Iyaaa... Aku udah tahu. Ini gampil. Aku udah belajar di TK" Katanya
Saya: "Kita belajar lagi biar lebih mengerti ya"
K:" Ish, Bunda nih... Aku udah tahuuu.... Lanjut aja" Saya mulai menghela nafas sedikit lebih banyak.
Saya: "Ya udah, bener ya udah bisa. Kalau gitu kita belajar penjumlahan bersusun saja. Nih, bentuknya begini.... Yang ini, kan angkanya 16. Berarti 1 puluhan ditambah 6 satuan. Yang ini angkanya 3, berarti 3 satuan. 6 ditambah 3 sama dengan 9, ditulis dibawahnya. Yang angka 1 puluhan... " Lagi-lagi, belum selesai saya menjelaskan, K memotong kalimat saya...
K: "Haduh bunda, I don't understand banget itu apa... I can not think..." Nafas saya 3 detik lebih panjang dari biasanya.
Saya: "Ya udah kalau gitu nonton video nya Bu Guru saja. Siapa tahu kamu jadi lebih paham" Saya putarkan video yang disiapkan oleh ibu guru nya, dan dia nampak menyimak.
Saat video tutorial nya selesai, sampailah dihalaman yang memuat halaman tugas yang harus dikerjakan.
Saya: "Sudah selesai kan? Yuk kita kerjakan tugasnya" Saya menyiapkan bukunya.
K: "Aku kok mulai ngantuk lagi ya bunda" Katanya sambil menguap.
Saya: "Nanti malam tidurnya jangan malam lagi. Tidur sore lagi biar pagi semangat"
K: "Aku memang nggak semangat kalau sekolah" Otak saya sudah mulai menghangat.
Saya: "Nih, yang halaman pertama gampil banget. Kamu pasti bisa" Kata saya menunjukkan halaman buku yang dimaksud.
K: "Iya, ini sih gampang banget. Easy peasy lemon squeesy" Katanya sambil mengerjakan.
Saya duduk di sofa dibelakang kursi K, dan memilih untuk merajut. Jaga-jaga kalau ternyata butuh pengalihan.
K: "Kalau aku bilang ping ping... Berarti I need help ya Bunda... Jadi Bunda kesini" Kata K. Saya tertawa dan mengiyakan.
K: "Ping ping" Katanya
Saya: "I am coming"
K: "Ini banyak banget gambarnya. Kalau aku tambahkan semuanya ini sama ini sama ini, udah banyak banget aku menghitungnya..." Katanya.
Saya: "Ya kan nggak disuruh menghitung semua. Mana sekarang yang belum bisa? Eh udah semua yang ini. Ok kita ke halaman selanjutnya ya... "
K: "Sebentar Bunda, aku mau ambil minum dulu" K beranjak ke dapur dan saya menyiapkan halaman selanjutnya.
Lamat-lamat saya mendengar suara ayahnya K ngobrol dengan K.
Ayah: "Sudah selesai sekolahnya?" Tanya Ayahnya
K: "Belum, aku mau ambil minum dulu" Suara K.
Ayah: "Ambil minum kok malah tiduran di kursi?" Suara Ayahnya. Saya yang mendengar, langsung keluar.
Saya: "Katanya ambil minum, kok malah tiduran?"
K: "Iiih... Ayah nih spoiler. Aku nggak mau belajar lagi kalau ayah spoiler gitu..."
Dan drama pertama pagi ini (kalau yang sebelumnya masih belum termasuk drama), dimulai. K ngambek dan lari ke balkon sambil bilang bahwa dia tidak mau belajar lagi karena ayahnya spoiler.
Baiquelah... Setelah beberapa menit berlalu hanya untuk membujuk anak wedhok, akhirnya dia mau duduk manis kembali untuk sekolah.
Saya: "Yuk kerjain yang ini. Ini tadi yang bunda jelasin itu. Tulis dulu berapa puluhan dan berapa satuan, baru ditulis angka hasilnya" Kata saya kemudian merajut untuk mengurai emosi yang mulai bangkit.
K (baru selesai 1 nomer): "Aduh bunda... Aku headache banget ini... Bentar aku minum dulu..."
Dia ke dapur untuk minum (menolak membawa cangkirnya ke tempat sekolah), dan kembali duduk meneruskan pekerjaannya. Setelah beberapa nomor selesai, dia kembali lagi berkata.
K: "Bunda, aku beneran headache ini sekarang. Kenapa ya?" Tanyanya.
Saya: "Karena kemarin-kemarin otaknya kebanyakan istirahat. Sekarang diajakin mikir jadi terasa sedikit sakit. Bunda juga kalau lagi banyak pekerjaan begitu. Yuk lanjutin masih banyak ini tugasnya" Kata saya.
K: "Sebentar, aku stretching dulu ya... Mungkin nanti headache aku hilang" Dan dia bergerak-gerak pemanasan kecil, baru kemudian melanjutkan tugasnya.
Saya: "K, kalau kamu ngerjainnya banyak selingan begitu, malah nggak selesai-selesai lho. Jadi lama"
K: "Bunda ini nggak sabaran banget. Sabar donk Bunda. Coba saja Bunda yang ngerjain. Memang nya dulu Bunda juga mengerjakan begini?"
Emosi yang sempat mereda dengan rajutan, kembali terusik. Namun seolah mendapat angin segar untuk memompa semangat K, saya mulai bernostalgia.
Saya: "Iya donk... Dulu tuh ya, Bunda kalau ada tugas begini, semangat banget ngerjainnya. Pengen cepet selesai karena kalau sudah selesai, kan tinggal main nggak mikir tugas lagi. Terus kalau ada buku begini, Bunda seneng banget, karena bisa buat latihan sendiri" Kata saya panjang lebar.
K: "Pameeerrr... Sombooong... Bunda ini senengannya pamer deh" Bah! Gimana ini ceritanya. Saya diam.
Dan beberapa obrolan/diskusi/perdebatan/drama diatas, berulang dan berulang beberapa kali. Hingga akhirnya tugasnya benar-benar selesai.
Hari ini saya cukup senang, karena ternyata sambil merajut, saya bisa meredam emosi yang kemarin sempat meledak-ledak hingga saya nyaris menangis.
***
Dear Covid, please hear my voice from deep down of my heart.
You are so mean
You make million people suffer.
Suffer from the lost of loved one, suffer from being isolated with very limited access, suffer for having double triple job in the same time as Mother/Wife, worker, teacher, and many other things.
Please, go away. Aamiin
#DramaSFH #DramaPJJ #WhenMomBecomeAnEnemy

No comments:
Post a Comment