Tuesday, April 27, 2010

Numpang Eksis Alias Penumpang Gelap

Seandainya saja di Indonesia ini di adakan sebuah program "Londho masuk desa" seperti layaknya ABRI masuk desa-nya Pak Harto jaman dulu itu, maka cerita ini tidak akan ada. Karena secara pasti masyarakat di desa atau di kampung tidak akan lagi melihat bahwa londho yang main ke kampung itu aneh dan langka. Namun saat ini, selama program londho masuk kampung belum ada, kita masih bisa mengambil keuntungan, khususnya aku dan beberapa temanku maksudku.

Beberapa waktu yang lalu, aku dan beberapa orang teman melakukan sebuah perjalanan yang sangat berkesan. Aku yang memiliki rute perjalanan sendiri, bergabung dengan mereka yang juga memiliki rute perjalanan sendiri. Kami menghabiskan separuh dari perjalanan bersama2. Salah satu dari mereka adalah seorang londho dari Holland yang sedang menjalani program intership dari Universitas Wageningen ke Indonesia.

Rute perjalanan kami, bertemu di sebuah kota yang terkenal dengan reog dan satenya, Ponorogo. Disana, kami menghadiri acara akad nikah teman kami. Si londho pun ikut serta dalam acara itu. Keluarga dari teman kami yang menikah sedikit kaget melihat ada londho yang menghadiri pernikahan anak mereka. Suasana bangga sudah pasti menyeruak di tengah2 mereka. Terlebih lagi ketika acara di helat di masjid, hingga semakin banyak tetangga temanku yang melihat londho itu.

Salah satu kerabat dari temanku yang menikah itu (lebih tepatnya budenya), terlihat tidak bisa tidak meluapkan keheranan dan rasa senangnya. Beliau menanyakan pada kami hal ikhwal datangnya si londho itu. Lengkap dengan pertanyaan apakah si londho ini bisa berbicara bahasa Indonesia atau tidak, bicara pakai bahasa apa saja, dll.

Sepanjang acara pemotretan atau sessi photo2, si budhe itu tidak mau jauh2 dari si londho. Bahkan beliau mengatakan pada kami untuk mengambil photonya berdua dengan si londho.
"Mbok aku di photo berdua sama londhonya... Kalau udah nanti mau aku cetak yang besar, terus mau aku tunjukin ke anak cucuku di rumah sana..." hwekekekekekeeee

Inilah yang kami sebut penumpang gelap alias numpang eksis. Dekat2 dengan londho, jadi berasa ikut bersinar bukan budhe??? hahhahaha

Tetapi ternyata itu bukanlah akhir dari kisah para penumpang gelap ini. Aku, dan juga teman2 yang lainnya pun ikut merasakan menjadi penumpang gelap dan numpang eksis sama si londho. Hal itu pastinya karena kami banyak melakukan perjalanan ke kampung2 setelahnya. Si londho selalu duduk di bangku depan mobil avanza hitam itu, di samping driver andalan kami. Bukan apa2, hanya karena memikirkan keselamatan lututnya yang lebih panjang. :)

Sepanjang jalan, kami menyuruh atau memaksa si londho untuk mengucapkan salam pada ibu2 atau bapak2 yang sedang berjalan di pinggir jalan. Bahkan pada segerombolan anak2 TK yang sedang berkumpul di sebuah halaman.
"Monggo.....mari.... monggo.... monggo....." kata si londho.

Orang2 yang di sapa tentu saja terkejut dan bengong sebentar, kemudian tersenyum. Ada juga yang sempat membalas "monggo....". Sedangkan untuk anak2 TK itu, mereka langsung heboh sureboh dan berteriak2 ke arah mobil kami. Kami yang berada di mobil (selain si londho) jadi ikut2an senang karena merasa di perhatikan. Inilah salah satu hal yang kami sebut dengan penumpang gelap yang numpang eksis. hahahahhaa

Ketika rute perjalanan berbelok ke arah rumahku, kami berhenti di kota kecamatan untuk membeli logistik makan malam. Maklum, di kampungku nanti takutnya kami akan kesulitan mendapatkan makanan untuk makan malam, karena jauh dari kota.

Saat itu aku dan Ubo berjalan untuk membeli ayam bakar. Eeehh... si londho ikut2an berjalan. Aku dan ubopun berjalan pelan sambil membahas perihal numpang eksis ini.
"Bo, tau nggak enaknya jalan di kampung deket2 bule?"Tanyaku
"Kenapa emang?" tanya ubo balik
"Di kampung kan jarang2 ada bule, mangkanya kalau ada bule dateng, pasti pada di liatin. Jadi kita bisa numpang eksis kalau berjalan bareng bule."
"Hahahaa.... berasa keren ya?" kata ubo
"Hahahaa.... iya.... Pasti banyak yang mikir...wah... ada bule, temennya mereka itu ya.." kataku
"Mangkanya kita jalannya deket2 ama si bule aja yoo...biar numpang eksis.."
Aku dan ubo pun tertawa ngakak sepanjang jalan, sedangkan si londho hanya melihat kami dengan terheran2.. :P

Ingat slogan sebuah kontes kecantikan yang melibatkan wanita2 (yang katanya) cantik di Indonesia ini? Intinya samalah dengan kami yang menjadi penumpang gelap yang numpang eksis ini.....
"Semua mata.... tertuju padamu...."

hwahahahhahahahahhahahahahahahahhahahhahahahahhahahahahahhhhahaha ^_^

(Sok) Jadi Wartawan Infotainment ????

Dunia ini luas, meskipun kita sering menggunakan ungkapan dunia ini tak selebar daun kelor. Dunia yang luas ini memang sudah di desain oleh Tuhan jauh sebelum manusia di ciptakan. Kenapa bumi di buat luas dan bulat, mungkin karena Tuhan tahu bahwa manusia ini sangat beragam, sangat beraneka rupa, dan juga karena Tuhan ingin agar kita saling terhubung. We are connected... (Kayak tema sebuah festival ajah...)

Manusia, adalah makhluk paling ajaib yang di ciptakan oleh Tuhan. Manusia yang berjuta-juta itu, diciptakan dengan detail yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Betapa hebat arsitek dan pekerja seni yang di miliki oleh Tuhan bukan? Tidak ada satupun manusia yang sama persis dengan manusia yang lainnya.

Detail fisik atau hardware-nya mungkin saja sama atau persis. Tetapi bagaimana dengan detail non fisik atau software-nya? Itulah yang sering berbeda dan menjadi pembeda yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Kalau menurut ibunya Khan dalam pelem "my name is Khan", hanya ada 2 jenis manusia di dunia ini. Yaitu orang yang berbuat baik, dan orang yang berbuat tidak baik. Tidak ada lagi pembeda yang lainnya. Tidak suku, agama, ras atau warna kulit, ataupun golongan apapun. Tidak. Hanya ada orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat tidak baik.

Tuhan memberikan banyak sekali kelebihan2 pada manusia daripada makhluk yang lain. Pikiran, perasaan, dan akal budi. Itu yang sejak aku SD sudah di tanamkan oleh guruku. Dengan pikiran kita bisa menjadi pintar, cerdas, pandai, dan membuat perubahan yang dahsyat pada dunia. Sebut saja Albert Einstein dengan teori E.Em.Ce.Kuadrat-nya, beserta jajaran penemu2 yang lainnya.

Dengan perasaan, kita bisa menjadi orang yang peduli, empati, saling menyayangi, dan juga bisa membuat perubahan yang tak kalah dahsyat di dunia. Sebut sama Lady Diana, Mother Teressa, dan deretan orang2 pengasih dan penyayang yang lainnya.

Dengan akal budi, kita bisa memperoleh banyak teman. Kita bisa melihat, mengenal, berbuat baik, dan menjalin hubungan sebanyak dan sebaik mungkin dengan orang lain. Akal budi akan sangat berhubungan erat dengan etika. Sepanjang akal budi di gunakan, mungkin tidak akan ada anak yang menyiksa atau membunuh orang tuanya, tidak juga teman mengkhianati atau mencederai temannya.

Hidup, berteman baik, bersahabat dekat, dan berkeluarga yang hangat. Adalah sedikit keinginanku yang dengan keras aku usahakan. Mungkin aku sering merasa bahwa aku bukanlah orang yang sempurna. Aku dan juga kita hanyalah manusia biasa. Apa yang bisa kita banggakan sebagai manusia? Selain hubungan baik dan indah antar sesama....

Puji syukur pada Tuhan yang telah meletakkan dan mendekatkan, serta mengenalkan aku pada banyaaaaakkkk sekali orang2 baik di sekitarku. Baik yang sudah lama bertemu, berteman, bersaudara, ataupun yang baru saja bertemu dan saling tolong menolong. Banyak sekali orang2 baik yang telah membantuku untuk semakin mengerti arti penting sebuah hubungan baik antar sesama.

Masalah iman, amal, dan lain2nya yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan, bukanlah sesuatu yang perlu di bahas, di bicarakan, ataupun di pamerkan pada orang lain. Toh yang menilai tetaplah Tuhan. Tetapi selagi kita masih hidup di bumi, hanya hubungan baik antar sesama itulah yang bisa kita banggakan.

Beberapa waktu ini, hal yang sudah dari lama di kasak-kusuk-kan orang2 itu, terbuka sudah. Beberapa muka manis yang memang manis itu, mulai berusaha mengeluarkan bisa-nya. Hanya perlu waktu beberapa detik untuk bisa mengetahui bahwa semua yang manis itu ternyata berdalih. hahahhahhaha

Itulah mengapa aku selalu berusaha untuk menghindari pertanyaan2 yang mengarah pada "dimana atau sama siapa atau sejak kapan", Untunglah tidak lengkap dengan "Lagi ngapain". Karena aku tahu pertanyaan2 itu bukanlah terlontar atau di lontarkan untuk wujud rasa simpati pada teman. Namun lebih pada menyelidiki dan membuktikan. Layaknya wartawan impoten, eh bukan... wartawan infotainment maksudku. hwekekekeke

Peta penyebaran informasinya-pun juga sudah aku pegang berdasarkan analisis beberapa waktu yang lalu. halaaaahhh.... Sehingga dari jauh hari aku sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Namun yang namanya wartawan infotainment, ya pasti saja akan terus melaju dan mencari tahu ataupun mencari tempe.

Maaf ya ibu2 wartawan infotainment yang mau berperan jadi detektif conan.... Saya sudah terbiasa menjadi artis... Jadi tolong donk, liput kami....hihihihhihihi.....

Inti dari pembahasan tentang fenomena "wartawan infotainment yang bergaya detektif conan" pagi ini adalah, bahwa kita hidup sebagai manusia memang serba sulit. Kita yang sudah berusaha hidup dengan cara baik dan berteman baikpun, masih saja di nilai tidak baik sama orang lain (yang mungkin tidak lebih baik dari kita). hahahahhhahahha...

Jadi intinya ya .... "Enjoy Ajah"

Untuk dia, dan juga mereka yang ingin lebih banyak tahu, mari2 sini.... kita ngobrol saja...biar kesannya lebih dekat, erat, dan bersahabat. Tidak perlu menyamar sebagai malaikat, wartawan, atau malah detektif.... Bicara saja baik2... kan kita (katanya) berteman.... Daripada kalian habis energi untuk meraba2 dan menerawang, atau malah perlu jasa Mama Lorentz? :p

Just quick note for you : " I Know What You did Last Night......"

Gambar dari sini dan sini

Sunday, April 25, 2010

So Scared

Ada beberapa hal yang bisa di bagi. Namun setelah dipikir2, terkadang lebih banyak hal yang tidak bisa di bagi kepada siapapun. Meskipun kepada orang yang paling dekat dengan kita sekalipun.

Seseorang pernah berkata padaku,
"Kalau memang kamu mau mengambil kuliah di sana, ambil saja.... Jangan mengkhawatirkan aku, karena aku pasti akan baik2 saja di sini."

Dan akupun pergi.....

Dalam proses seiring berjalannya waktu, orang itu kembali berkata,
"Cepatlah selesai kuliah, selagi aku masih hidup...."

Dan semangat untuk menyelesaikan tugas itupun terbang melayang entah kemana. Di pendam dalam sedalam2nya, hingga tidak ada lagi niat untuk menyelesaikan. Ketakutan justru menjadi bayangan yang semakin mengikat dan menghantui. Ketakutan akan sebuah kehilangan. Ketakutan yang sejatinya tidak beralasan. Namun ketakutan itu tumbuh subur dan menjalar, hingga akhirnya kenyataan dan peraturan dunia menuntut agar semua diselesaikan. Satu ketakutan terlewatkan dengan cara yang lain, dan apa yang ditakutkan tidak terjadi.....

Bumi terus berputar, dan waktu terus berlalu. Muncul lagi sebuah perkataan dari orang itu,
"Cepatlah menikah, selagi aku masih hidup. Takutnya nanti aku sudah tidak berumur panjang lagi......"

Menguap kembali keinginan untuk itu. Semakin lama, keinginan itu semakin jauh, menjauh, mengabur, dan nyaris menghilang. Keinginan itu sembunyi dan enggan menampakkan diri. Sesering apapaun di panggil, sekeras apapun di minta, keinginan itu masih saja bersembunyi.

Semua karena ketakutan....
Ketakutan akan sebuah kehilangan....
Mungkin dengan tidak menyegerakan apa yang dia inginkan, akan membuatnya berumur semakin panjang. Sehingga tidak perlu ada perpisahan.

I love you, I love you, I love you ...
You are the most beautiful gift that given by god to me
...
May god give health happiness and longevity for you ...
You are the greatest woman I ever knew ...

Gambar dari sini dan sini

Saturday, April 24, 2010

Yes, I'm a photocopied of my father

Sore ini, aku tidak sengaja memencet remote menuju satu stasiun TV swasta. Disana kulihat ada sebuah film dari hollywood yang baru saja mulai. Awalnya aku hanya ingin melihat siapa screenplay dari film itu. Namun rupanya aku jadi tertarik dengan cerita film itu.


Film yang menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga di peternakan kuda. Dimana sang ayah sangat menginginkan anak lelakinya dapat meneruskan usaha peternakan itu setelah selesai sekolah, padahal sang anak lelaki ingin melanjutkan sekolah. Sang ayah juga menginginkan putrinya untuk bisa sekolah setinggi2nya di sekolah swasta terkenal di kota, padahal si anak perempuan ingin berada di peternakan. Ketika liburan tiba, putri keluarga itu (namanya Katy) pulang berlibur ke rumah. Berkumpul dengan ayah, ibu, dan kakak kesayangannya (namanya Edward).

Malam pertama Katy di rumah, dia menyelinap keluar rumah dan masuk ke istal tempat beberapa kuda berada. Dia mengambil satu kuda dan menaikinya untuk jalan2. Dia berdiam di sebuah pohon tumbang di tepi jurang untuk merenungi dan memikirkan bagaimana cara memberitahu ayahnya bahwa nilainya buruk di sekolahan. Selain nilainya buruk, dia tidak mengerjakan essay ketika ujian. Karenanya, pihak sekolah mengirimkan fax pemberitahuan ke rumahnya.

Ketika dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya dan pulang ke rumah, di tengah jalan dia melihat ada singa. Kudanya langsung memberontak dan Katy pun terjatuh dan terguling ke tanah yang lebih rendah. Kudanya kabur dan pulang ke peternakan, sedangkan Katy masih di kejar singa itu. Tiba2, ada seekor kuda liar yang datang dan mengusir singa itu. Katy terselamatkan oleh kuda liar itu, yang kemudian membuatnya jatuh cinta dan ingin memeliharanya.

Keesokan harinya, Katy masuk ke hutan kembali untuk mencari kuda liar itu. Ketika akhirnya dia menemukan kuda itu, dia langsung memasangkan tali kekang ke kuda liar itu, namun kuda itu terkejut dan berlari sehingga dia ikut terjungkal. Kuda liar itu terus berlari, dan menuju padang penggembalaan kuda ayahnya. Padahal saat itu ayah Katy bersama dengan kakak dan para pekerja sedang berusaha menggiring kuda2 mereka ke peternakan. Kedatangan kuda liar yang mendadak, membuat kuda2 itu terkejut dan ikut berlarian mengikuti kuda liar itu.

Ayah Katy mengejar kuda liar itu dan menangkapnya, kemudian membawanya ke peternakan untuk di jual keesokan harinya pada temannya yang membutuhkan kuda liar. Katy merasa bahwa dia bisa memiliki dan merawat kuda liar itu. Namun ayahnya melarang dia untuk dekat2 dengan kuda liar itu. Alhasil, setiap malam Katy menyelinap keluar dan mendekati kuda liar itu secara bertahap, hingga akhirnya dia bisa menaikinya. Kuda liar itu di berinya nama Flicka.

Namun upaya sembunyi2 itu di ketahui oleh ayah Katy, dan ayah Katy pun marah. Akhirnya Flicka di serahkan pada teman ayah Katy yang menginginkan. Katy merasa tidak rela dan mulai membenci ayahnya.

Edward yang pandai dan mendapatkan beasiswa ingin sekali bisa melanjutkan sekolahnya, namun dia takut untuk menyampaikan kepada ayahnya. Dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa. Karena melihat ayahnya berbuat tidak adil pada adiknya, Katy, maka diapun menyampaikan keinginannya dan juga rasa tidak sukanya pada ayahnya yang otoriter. Sayangnya ayah mereka tidak peduli.

Ibu mereka, mengerti benar bagaimana Katy ingin tinggal di peternakan, dan Edward ingin melanjutkan sekolah. Ibunya mencoba berbicara kepada ayahnya. Satu kalimat yang membuatku tersentak dan mellow adalah kalimat yang di katakan oleh ibu Katy kepada ayah Katy,
"Sampai kapan kamu akan menyadari dan menerima kenyataan bahwa Katy itu sama persis denganmu? Sadarilah bahwa dia adalah kamu."

Untuk mendapatkan kembali kuda itu, Katy dan Edward mengikuti sebuah kontes menunggang kuda di kota, dimana Katy memilih Flicka. Akhirnya dia mampu menjinakkan Flicka yang sedang memberontak dan membawanya kabur dari arena kontes. Mereka berdua lari ke hutan dekat peternakan. Sayangnya, ketika hari sudah gelap datanglah singa. Flicka yang ingin melindungi Katy di serang oleh singa itu hingga terluka parah. Katy yang berhujan2an, sakit dan terjatuh di dekat Flicka hingga ayahnya menemukannya.

Katy sakit selama berhari2, Flicka yang tadinya akan di tembak mati oleh ayah Katy akhirnya justru di bawa pulang dan di rawat hingga sembuh oleh ayah Katy. Edward merasa sangat menyesal telah mengijinkan Katy ikut kontes sehingga semua menjadi kacau. Ketika Katy sakit, ayahnya menemukan essay tulisan Katy mengenai peternakannya, mengetiknya, dan kemudian mengirimkannya ke sekolahan Katy sehingga Katy bisa lolos ujian.

Akhirnya Katy sembuh dan merasa senang sekali ketika mengetahui Flicka baik2 saja dan dia di ijinkan merawatnya. Selain itu, Katy tidak perlu lagi kembali ke sekolahan itu. Edward-pun memutuskan untuk mengambil beasiswa kuliah yang di dapatnya, dan Katy meneruskan peternakan mereka bersama ayah dan ibunya.

******

Jujur aku menangis ketika menonton film ini tadi sore. Sampai2 menimbulkan keheranan dan tandatanya pada beberapa orang di sekitarku. Aku larut dalam cerita film itu, hingga akhirnya aku tidak bisa menahan air mataku. hiks...hiks.... mellow sekali bukan?

Garis besar cerita film itu sama dengan garis besar ceritaku. Ayah yang tumbuh dan berjuang dengan keras karena tempaan kehidupan, Istri yang tegar dan selalu mendukung suaminya untuk semua keputusan, Dua orang anak yang sangat berbeda sifat. Completelly same with me... :P
Katy adalah aku. Aku yang suka memberontak, dan selalu bersilang pendapat dengan ayahku. Anak dan ayah yang tidak pernah bisa sepakat dalam banyak hal. Aura pemberontakan selalu merebak ketika sedang membahas sesuatu. Jika berbicara masalah keinginan, maka akan sangat jarang sekali terjadi kesepakatan atau persetujuan. Semua keinginan akan bisa kulaksanakan, jika aku berani melawan dan memberontak. Itu duluuuuu.... :)

Sekarang? mungkin tinggal setengahnya saja. Karena aku sudah mulai mengerem, mengendalikan diri, dan berusaha untuk mengerti kondisi. Tidak ada yang bisa di paksa untuk berubah, dan memang tidak perlu ada yang berubah. Karena di dalam keluargaku, tidak pernah ada sejarah yang berubah. Hukum yang berlaku tetaplah Dia adalah yang terbenar. :P

Saat ini, aku cenderung menghindari apa yang biasa dinamakan dengan konflik. Kalau berhubungan dekat itu memancing konflik, maka aku akan mundur beberapa langkah hingga jarak di antara kami tidak memungkinkan munculnya konflik. Jika intensitas berpotensi menimbulkan konflik, maka aku akan menurunkan derajat keseringan, agar jumlahnya cukup untuk mendekatkan namun tetap aman dari terjadinya konflik. Aku hanya berusaha mengontrol dan mengendalikan diri saja.

Kalau di film itu, Edward akhirnya berhasil mengungkapkan apa yang telah lama di pendam dalam hatinya, sayangnya dalam ceritaku itu tidak berjalan. Menurut pendapatku, kakakku gagal sampai pada titik itu. Dia baru mencapai setengah dari semua proses, tersandung, dan jatuh berguling2. Sulit untuknya bangkit dan berjalan tegap kembali. Tapi aku tetap berharap suatu saat nanti, dia bisa berjalan tegap kembali, berdampingan dengan ayah kami. Setegap tentara militer yang sedang latihan baris-berbaris mungkin. :p

Yang paling membuat aku tersentak adalah ketika melihat perjuangan ibu Katy dalam melindungi anak2nya, namun tetap mendukung suaminya. Bertindak sebagai penengah yang aku tahu sangat berat dan tidak mudah. Kalau dalam film itu ibu Katy seolah2 di bantu oleh Tuhan melalui sakitnya Katy (sehingga ayah dan kakaknya Katy lebih terbuka), mungkin dalam ceritaku Tuhan membantu ibuku dengan memberikannya sakit. Sakit yang menuntutnya banyak2 beristirahat. Dia ibuku.... Wanita terhebat yang aku kenal dan aku miliki. Everlasting...

Meskipun itu hanyalah sebuah cerita film, namun aku bisa merasakan betapa tidak enaknya berperan sebagai Katy. Mungkin juga tidak enak sekali untuk berperan sebagai ayah Katy. Mereka adalah ayah-anak yang gen-nya mengalir kuat dalam darah masing2. Gen yang menciptakan kemiripan dan kesamaan sifat. Kesamaan sifat yang selalu di coba untuk di ingkari.

Semakin kita mengingkari kesamaan yang ada dalam hubungan darah ayah-anak ini, maka kesamaan itu akan semakin nampak. Berat rasanya harus berhenti sejenak, merenung, mengerti, menyadari, dan mengakui bahwa kesamaan itu ada. Karenanya kita lebih mudah untuk mengambil sikap mengingkari dan mengacuhkan kesamaan itu. Sampai pada suatu titik, egoisme kita akan di banting habis oleh kondisi yang telah di atur oleh Tuhan. Saat itu, hanya akan ada sedikit sekali pilihan. Di antaranya adalah pasrah dan mengakui kesamaan itu sehingga semua bisa berjalan beriringan, ataukah mundur dan menghindari terjadinya friksi2 yang lain.

Sepertinya aku memilih langkah yang terakhir. Langkah yang tidak bisa di banggakan pada apapun atau pada siapapun. Langkahku sendiri.... Aku menjalani semua dengan caraku, meskipun aku berjanji untuk tidak membuatnya lebih kecewa dari kecewa yang sudah pernah di rasakannya. Jauh di dalam sana, aku berharap bahwa suatu saat beliau akan berkata padaku "Just go and be responsible with everything that you loved to do". Meskipun saat ini aku sudah melakukannya, tapi ketika beliau mengatakannya padaku, aku akan langsung menjawab dengan sepenuh hati, "Yes, i will"

I love you all..... All of you.... I love you so much....

Wanita Memang Luar Biasa

Hari ini aku membaca sebuah artikel yang masih juga seputaran facebook dan facebook. Entah kenapa aku selalu tertarik dengan analisis atau sekedar perhatian pada status2 facebook yang di buat oleh orang2 itu. Unik, dan bisa menunjukkan siapa, bagaimana, dan seperti apa mereka membawa diri dalam kemajuan teknologi. :)

Hayoooo..... apakah kalian pernah melakukan "kejahatan2" seperti ini??? Mulailah berhati2 dalam menjalin pertemanan di dunia maya melalui situs bernama facebook ini. Kalau saran dari aku sih, jangan mau menerima permintaan pertemanan dari orang yang tidak kita kenal. Atau juga menerima pertemanan dari seseorang hanya karena mutual friend-nya banyak.Bisa jadi salah satu dari mereka adalah pengintai atau mata2 yang sedang berusaha memantau kalian dari jauh... hehehehe..

Tapi semua kembali pada kita semua sih... Tidak ada larangan atau aturan yang mengharuskan kita berbuat begini atau begitu pada account facebook kita. Just be aware ajah yoooo... ^_^

"Kejahatan" yang Dilakukan Wanita di Facebook

VIVAnews - Banyak hal yang bisa Anda lakukan di Facebook. Tidak hanya sebagai wadah bersosialisasi, situs jejaring ini juga bisa dijadikan tempat untuk memantau dan memengaruhi orang lain.

Menurut beberapa pria, seperti yang dikutip dari foxnews.com, wanita bisa memanfaatkan Facebook, tidak hanya dalam hal positif, tapi juga hal negatif. Salah satunya jika terkait masalah hubungan dengan lawan jenis.

Berikut opini beberapa pria yang membeberkan hal mengejutkan yang bisa dilakukan wanita di Facebook.

1. Membuat profil palsu untuk menguntit mantan pacar

Hal satu ini mungkin tampak sedikit ekstrem. Tapi, banyak wanita sengaja membuat profil palsu untuk bisa memantau mantan pacar tanpa diketahui pasangannya. Daripada menelepon atau mengirimkan sms, sekadar menulis "Apa kabar?" di wall Facebook, cara ini memang lebih aman.

2. Memanipulasi penampilan

Menurut pria, tidak sedikit wanita yang sering memasang foto di Facebook untuk menampilkan citra diri yang tidak sesuai realitas. Dalam foto-foto mungkin ingin terlihat lebih seksi dan berani atau sebaliknya, dan berlawanan dengan kenyataan. Hati-hati, hal ini bisa menjadi bumerang buat wanita.

3. Menulis status berlebihan dan provokatif

Status di Facebook bisa dibaca siapa saja dan banyak wanita yang mengggunakannya untuk tujuan provokasi atau pamer. Bagi pria, hal yang paling menyebalkan adalah "curhat", soal kehidupan pribadi di status. Menurut pria, lebih baik berbicara langsung daripada mengumbarnya di

Facebook, karena kesannya seperti mengharap belas kasihan. Selain itu, pamer soal kelebihan atau tempat yang didatangi dan langsung memasangnya di status.

4. Memasang foto ambigu

Status sudah berhubungan dengan seseorang, tetapi dalam beberapa foto terlihat mesra dengan pria lain. Hal ini seperti ingin "membakar" rasa cemburu pasangan dengan cara kekanakan. Foto ambigu itu juga menurut pria, sengaja untuk membuat orang lain mempertanyakan hubungannya, dan

memberikan perhatian padanya.

5. Status hubungan palsu

Beberapa wanita lajang banyak memasang status hubungan dengan "in a relationship". Hal ini dilakukan untuk menghindari reaksi "kasihan" orang atas statusnya yang masih lajang. Hal ini menurut pria, sangat tidak masuk akal, karena justru status tersebut menghambatnya mendapat

pasangan.

Apakah Anda juga melakukan hal sama? Hati-hati, menurut opini pria, kebiasaan ini bisa menjadi bumerang bagi wanita! (umi).

Sumber artikel dari sini

Thursday, April 22, 2010

Hukum Aksi-Reaksi

Hari ini, aku ikut serta dalam sebuah acara ceremonial untuk memperingati Hari Bumi. Namun setelah aku datang kesana, aku kurang merasa bahwa itu adalah peringatan untuk Hari Bumi. Acara itu lebih terasa sebagai acara berkumpul, bergembira, dan ajang silaturahmi outdoor dengan para mahasiswa.

Awalnya, kegiatan yang di suguhkan adalah fun game dan aksi bersih. Secara umum atau keseluruhan sih, acara boleh di bilang berjalan dengan lancar. Namun, jika di perhatikan secara detail, ada hal2 yang kurang mendapatkan perhatian. Hal itu menyebabkan berjalannya acara juga kurang maksimal. Itu saja.

Salah satu hal yang kurang di perhatikan adalah tipikal dasar mahasiswa di kampus yang berslogan pertanian itu. Menurutku yang juga salah satu alumninya, tipikal dasar mahasiswa di kampus itu (yang aku tahu adalah sekitaran angkatanku ke bawah. Nggak tau juga kalau yang angkatan terdahulu) adalah suka jual mahal. Entah kenapa, sikap jual mahal itu melekat erat pada sebagian besar anak2 muda ini. :P

Contohnya untuk hari ini saja. Ada beberapa permainan dan kegiatan yang di sediakan di seputaran danau. Tetapi ketika aku datang (telat banget boo....siang gitu lho...hahaha), suasana koq sunyi sepi.... hanya ada panitia saja. Sedangkan orang berlalu lalang di jalanan, hanya menengok, memandang heran, dan berlalu begitu saja. Beberapa orang aku liat sama seperti itu. Memandang dengan penuh rasa penasaran, tetapi tidak mendekat dan pergi begitu saja.

Akupun bergabung dengan beberapa panitia yang duduk di bawah pohon teduh. Ku perhatikan sekeliling, dan aku mulai mengerti mengapa dan kenapa. Di bawah sana, di danau, beberapa panitia asyik bermain perahu karet. Di atas sana, di bagian operator flying fox, beberapa anak stand by. Di atas sini, di bawah pohon, beberapa anak duduk dan bermalas2an asyik dengan aktivitas masing2. Dan di depan sana, di jalan yang melewati kantin, beberapa orang berlalu lalang dan memandang heran pada sekelompok anak yang bermain2 perahu di danau.

See.... Tidak ada korelasinya kan? Semua dengan kesibukan dan keasyikan masing2. Tidak ada usaha dan upaya untuk membuat mereka saling terhubung. Salah satu dari panitia yang posisinya sama seperti aku, meminta aku untuk membantu menggaet orang2 yang lewat agar mau bergabung bersama kami. Naaahh.... itulah kunci yang aku maksud....

Mereka ini (panitia) mengadakan acara di tempat umum, dan menggunakan fasilitas2 unik adalah untuk menggalang dan mengajak massa agar bergabung kan? Tetapi bagaimana massa dapat bergabung kalau tidak ada daya dan upaya untuk mengajak mereka? Well..... Mungkin karena "mendadak", "tidak terfikir", atau sekedar "PJ nya malas melakukan". hehehehhe.... Selalu banyak excuse untuk hal2 seperti itu sepertinya, dulupun aku pernah mengalaminya. :P

Beruntunglah urat malu yang sudah putus ketika masih menjadi anggota aktif ini belum kembali tersambung. Akupun berusaha melancarkan jurus rayuan maut untuk orang2 yang lewat dan lalu lalang di sekitarnya. PPfffiiuhhh.... Laksana Toa' berjalan saja... hahahhaha

Beberapa orang tertarik dan akhirnya mau mencoba flying fox melintasi danau itu. Setelah melihat ada beberapa orang yang mencoba, akhirnya beberapa orang yang lain ikut mencoba. Begitulah.... cukup banyak juga orang2 yang mencoba flying fox melintasi danau itu, sehingga tidak sia2 peralatan di pasang. :)

Beberapa waktu kemudian, baru di sadari bahwa operator flying fox hanya satu orang dan tidak ada penggantinya. Dan belakangan juga baru di ketahui bahwa operator itu bukanlah dari panitia. Oh my....... Bagaimana bisa? itu kan berhubungan dengan nyawa dan keselamatan orang. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu karena pemakaian alat yang keliru? Bagus sekali bukan? ck..ck...ck...

Panitia rupanya mulai bermalas2an untuk memberikan service pada klien yang ingin mencoba flying fox. Ketika di suruh menggantikan operator yang lama, gerutuan dan alasan mulai di lontarkan. Akhirnya, melalui ketua panitia, agenda flying fox di hentikan sementara sampai ada panitia yang mau mengoperasikannya. Ppfiiuhhh....ppffiiiuuhhh.....

hal2 itu seringkali terjadi dalam sebuah acara yang persiapannya kurang maksimal. Mungkin pembagian tugas kurang jelas, sehingga terjadi saling mengandalkan dan lain sebagainya. Selain itu, aku melihat panitia ini lebih asyik bermain sendiri, sehingga kurang memperhatikan peserta atau mahasiswa biasa yang ingin mencoba ikut serta.

Hubungan aksi reaksi sebenarnya sangat penting dalam acara seperti ini, menurutku. Kalau panitia bersikap ramah, mengundang, melayani, dan memberikan pelayanan yang memuaskan, maka acara akan berjalan sempurna. Namun ketika panitia asyik dengan diri mereka sendiri dan kurang bersahabat dengan mahasiswa biasa, maka acara akan menjadi sepi dan kurang attractive. Dengan sendirinya, kegiatan hanya akan berjalan satu pihak saja.

Apapun dan bagaimanapun acara seremonial hari ini berlangsung, semua tetap merupakan hasil kerja keras dari beberapa orang. Terima kasih sudah mengundangku untuk acara kalian yang cukup meriah ini. Semoga lain kali masih ada acara seperti itu lagi, dan tentunya dengan persiapan yang lebih matang dan maksimal lagi. Glad to having all of you friend... :)

Selamat hari bumi, semoga bumiku, bumimu, dan bumi kita ini selalu di berkahi damai, aman, tentram, dan panjang umur oleh Tuhan. Amin.

Wednesday, April 21, 2010

Akhirnya Dia Berada di Tangan yang Tepat

PPfffiiiuuuhhh......

Januari 2009, Aku masih berkeyakinan untuk tidak ikut acara ceremonial yang bertujuan untuk pamer itu. Wisuda. Ajang pamer pada orang tua dan juga orang lain bahwa anaknya sudah lulus. Sukur2 dengan nilai tinggi atau dengan predikat Suma Cumlaude. *Bukan nyinyir karena predikatku nggak cumlaude lho ya...* :P

Saat itu teman2 ku sudah sibuk fitting, atau bahkan sibuk uji coba rias dengan baju kebayanya yang glamor2 dan blink2. Aku? dengan senang hati memperhatikan dan memberikan penilaian pada riasan dan penampilan mereka.
Kenapa aku tidak ingin ikut wisuda? Karena ibuku tidak akan pernah melihatku bersalaman, menerima ijazah, dan di kalungkan medali kelulusan itu. Ibuku sudah mendeklarasikan diri tidak akan menghadiri acara wisudaku. Jadi, untuk apa aku ikut acara itu?

Tidak ada acara benci ataupun marah pada ibuku yang tidak mau melihatku berdandan dan berdiri menyanyikan lagu Hymne kampusku, sambil menegakkan muka karena bangga. Tidak ada rasa kecewa karena aku tidak bisa berfoto layaknya teman2ku yang lain menggunakan background rak buku. Tidak ada penyesalan untuk semua itu. Aku lebih memilih tidak ikut wisuda.

Ibuku bukan tidak ingin menghadiri acara wisudaku. Ibuku bukan tidak ingin melihat anaknya berjalan menghampiri dekan dan pejabat2 di kampus untuk menjemput bukti kelulusannya. Ibuku bukan tidak ingin berbagi kebanggaan denganku, dengan ayahku, dengan teman2ku, dan juga dengan keluarga2 temanku. Dia hanya ingin hidup lebih lama lagi.... Dia tidak ingin kesehatannya dimakan oleh lamanya perjalanan menuju Kota Bogor.

Yaaa.... Ibuku sayang... Ibuku malang... Pekerja keras yang selalu berusaha membuat anaknya bahagia, senang, tidak berbeda dengan yang lainnya. Harus melewati hari tuanya dengan separuh anggota badan yang normal. Semua karena aku, kakakku, dan ayahku yang manja.

Hampir 11 tahun berlalu setelah kejadian itu, tapi aku masih ingat bagaimana beliau hanya menatapku lemah tak berdaya di ranjang ruang ICU rumah sakit itu. Beliau tidak mengerti akan apa yang telah terjadi, sebagaimana juga aku. Semua berjalan begitu saja. Serangan struk telah membuatnya melemah.

Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk membuat ibuku beristirahat dari semua aktivitas yang sebelumnya membuatnya lelah. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk membuat ibuku tidak lagi memaksakan dirinya untuk selalu bekerja keras. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk mulai membangunkan aku yang selama ini terlena. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkanku bahwa aku harus lebih bertanggung jawab atas diriku dan keluargaku. Itu adalah cara Tuhan.... Thanks God... You always bless me and my family.

Setelah lebih dari 6 tahun beliau bergelut dengan pengobatan medis dan alternatif, beliau meminta semuanya berhenti. Beliau meminta kami untuk berhenti mengkhawatirkannya. Beliau meminta kami (aku, kakak, dan ayahku) untuk menjalani hidup kami seperti sedia kala. Tidak perlu lagi terlalu fokus pada beliau. Beliau sudah merasa capek dan lelah untuk semua perjalanan yang harus di tempuh demi pengobatan2 itu. Beliau hanya ingin hidup tenang, pikiran netral, dan menikmati hari2nya di rumah. Perjalanan2 itu membuat beliau merasa umurnya berkurang setengah karena selalu di ikuti dengan pusing, sakit, dan tertekan.

Karena itu pulalah beliau meyakinkan aku bahwa beliau tidak akan datang ke acara wisudaku. Jadi aku selalu berkata pada teman2 ku yang bertanya tentang wisuda "Aku nggak ikut wisuda. Karena Ibuku tidak akan datang. Jadi untuk siapa aku wisuda?" kataku.

Tetapi, kira2 2 minggu sebelum acara wisuda di gelar, Bapakku berkata bahwa sebaiknya aku tetap ikut acara wisuda itu. Bapak yang akan datang kesana. Karena bujukan dari beberapa orang teman pula, tiba2 aku memutuskan untuk ikut acara wisuda. Padahal, aku masih belum mendaftar, belum mengurus banyak hal, dan belum juga mempersiapkan pakaian wisuda yang namanya kebaya.

Maka dengan secepat kilat, aku menyelesaikan semuanya. Beruntunglah dewi fortuna masih berpihak padaku yang malas ini. Semuanya bisa selesai dan teratasi. Meskipun Bapakku harus rela melihat anaknya yang lalai ini menyanyi dengan sekencang2nya di layar TV yang di sediakan kampus. Ya....bapakku harus duduk di luar ruangan gedung GWW. Beruntung acara wisuda di kampus pertanian ini dilakukan 2 kali. Sehingga ayahku hanya perlu duduk di luar sebentar saja. Selebihnya, beliau bisa duduk di jajaran kursi paling depan di fakultas. :)

Untuk masalah yang terakhir (Kebaya) akhirnya aku putuskan pergi bersama dengan salah satu temanku ke Jakarta. Supaya lebih banyak pilihan. Kami berputar2 di wilayah yang menyediakan banyak pilihan kebaya cantik dan unik. Kami memilih, memilah, dan mencoba2 beberapa macam dan di beberapa tempat. Setelah melalui adegan "dilecehkan", kamipun menemukan kebaya yang klik dengan kami. Kami sama2 klik dengan model dan warna kebaya itu. Alhamdulillah....:)

Kebaya itu ukurannya sedikit lebih besar dari aku, mungkin karena aku kurus (hahahaha). Sehingga akan memerlukan sedikit sentuhan dari penjahit untuk menyesuaikan ukurannya. Karena terlanjur jatuh cinta pada warna dan modelnya, akupun tetap membelinya. Cukup sebanding dengan apa yang aku keluarkan untuk bisa memilikinya. :p

Sayang di sayang, setelah aku mencoba mencari penjahit yang bisa membantuku menyesuaikan ukuran kebaya itu dengan badanku, hasilnya nihil. Tidak ada satu penjahitpun (yang aku temui), yang sanggup mengecilkan kebaya itu dalam waktu satu mingguan. Kebayaku memang sedikit rumit karena pembuatannya eksklusif. Akhirnya, kebaya itu tidak jadi aku pakai sebagai kostum wisudaku, dan tersimpan manis dalam tumpukan baju2ku. hiks...hiks...

Dan hari ini, April 2010.....
Aku baru saja pulang dari tempat penjahit hasil rekomendasi dari beberapa temanku. Mereka bilang, penjahit itu memang banyak mengerjakan pesanan kebaya, dan hasilnya pun cukup bagus. Semoga saja, amin.

Tadi, sewaktu aku menunjukkan kebayaku pada penjahit itu, dia tidak begitu saja menerimanya. Bahkan terkesan dia frustasi dengan struktur jahitan kebayaku itu. Dia mengatakan bahwa dia tidak sanggup mengerjakan kebayaku itu. Oh tidaaaaakkk..... Don't say like that bradah.

Aku berusaha membujuk dan merayu dia dengan rayuan mautku. :P
"Wah, mbak, kalau yang kayak gini susah sekali. Saya nggak bisa mbak.."Katanya
"Yah mas....masa sih nggak bisa? coba di liat lagi...pasti bisa deh.." bujukku.
"Ini beda mbak...soalnya jahitan payetnya di bungkus di dalam kamisolnya. Lihat nih...bagian dalamnya bersih kan...nggak ada jahitannya..." katanya lagi.

"Lho, ini nggak bisa asal di jahit terus di potong gitu ya?" tanyaku.
"ya engga lah... ini kalau cuma gitu doank sih pasti bisa. tapi kebaya mbak ini ribet. Mbak cari penjahit lain aja ya..." katanya.
"Yah mas...masa sih nggak bisa...pasti bisa deh...bisa ya..." kataku dengan wajah memelas. :P
"Kalau saya dalam keadaan santai sih mungkin bisa. Tapi sebulan ini saya penuh banget pesanannya mbak..." katanya. Akupun tersenyum semanis2nya.
"Nggak harus selesai sebulan koq mas.... Memang mau di pakai sih...tapi bukan mau dipake buru2...ya..ya..ya.."Kataku masih dengan meyakinkan.

Masnya nampaknya bingung juga harus beralasan yang bagaimana untuk menghindari pekerjaan yang cukup berat itu. Namun akhirnya dia menjawab "Ya udah kalau gitu. Tapi lama ya..." katanya. Akupun mengiyakan. :)

Akupun melakukan ukur badan. Sambil tetap mencuri2 tanya, kira2 lama pengerjaan kebayaku itu berapa hari. Masnya sedikit bingung, berfikir, dan akhirnya menjawab "Nanti pertengahan Mei deh di lihat ya..." Katanya. Alhamdulillah....Semoga saja sebelum tanggal 11 kebaya itu sudah bisa selesai. Rencananya, aku akan memakai kebaya itu tanggal 12 Mei soalnya. Wish me Luck guys...^_^

Akhirnya, setelah menganggur selama lebih dari setahun, kebayaku itu berada di tangan yang tepat. Semoga saja benar2 tangan yang tepat, sehingga bisa menjadikannya pas seukuran dengan badanku. Aku sangat ingin bisa memakai kebaya pilihanku itu. Semoga dia sekarang ini benar2 berada di tangan yang tepat. Amin

Kapan Berkonde Lagi ?

Lirik Lagu Nasional "Ibu Kita Kartini"

Karangan / Ciptaan : W.R. Supratman

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu
Se-Indonesia

Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

---

Note :
Indonesian old patriotic song



Hari ini, tanggal 21 April lagi. Seperti tanggal 21 April tahun lalu, dan tahun lalunya lagi, selalu terjadi suasana yang berbeda di rumah ini. Kesibukan tambahan dalam mempersiapkan sebuah perayaan tahunan untuk Ibu Kita Kartini. Setiap Hari Kartini, maka di sekolah2 akan di adakan perayaan dengan pentas, lomba baju daerah, dan lain2.

Tema di rumah ini, tahun lalu menggunakan baju dayak. Sedangkan tahun ini baju Padang. Lucu sekali. Baju adat Padang yang berwarna biru, lengkap dengan selop, penutup kepala, dan juga selendang yang lucu. Semangadh Kartini sedang di alirkan dalam udara disekelilingku.

Namun sayang, seperti tahun2 sebelumnya juga, si bocah yang seharusnya memakai baju adat itu melakukan pemberontakan kecil. Menolak untuk menggunakan baju adat itu, dan menolak ikut tampil dalam acara perayaan. Tetapi semangadh Kartini yang menggebu2 dalam diri si Ibu, membuatnya tak kenal menyerah pada penolakan anaknya. Rencananya, baju adat akan tetap di bawa ke tempat perayaan. Siapa tahu, seperti tahun lalu, si bocah akhirnya mau memakai baju adat itu setelah melihat teman2nya pakai juga. :P

Semangadh Kartini yang menggebu2 dalam diri si Ibu pula yang membuatnya kreatif. Kreatif demi tidak ingin melihat anaknya kecewa. Setiap perlombaan pasti ada pemenang dan hadiah. Tahun kemarin sih pas banget menang, jadi hadiahnya dobel. Tapi untuk menghindari kekecewaan kalau hari ini tidak menang lomba, si Ibu menyediakan lagi kado untuk anaknya. Indah banget yaaa. Kartini2 jaman sekarang memang hebat dan keren ... Hiks.... terharu... :)

Hari Kartini.....
Membuatku rindu masa2 dimana aku dan juga teman2ku bergaya centil dengan baju kebaya dan baju adat yang lainnya. Aku terakhir ikut terlibat dalam perayaan Hari Kartini, ketika di SMU. Waktu itu, perayaan di sekolahku meriah sekali. Ada perlombaan masak antar siswa, antar guru laki2, antar guru perempuan, dan puncaknya adalah lomba pasangan serasi.

Tapi waktu SMU itu aku tidak berkonde. Hanya cukup menggunakan kain dan kebaya saja. Karena aku ikut sebagai panitia, dan waktu untuk bersiap2 sangat sempit. Selesai persiapan sudah subuh hari, pulang ke kosan, dan berganti kostum. Wuiiihhh.... Mana sempat konde2an. hehehehe

Kalau aku tidak salah ingat, terakhir aku menggunakan konde adalah beberapa bulan yang lalu ketika ada saudara sepupuku menikah. Aku memang sudah mempersiapkan diri untuk berkonde saat itu, demi sebuah foto. :P

Setelah selesai dengan konde2an dan photo2an, aku segera memangkas habis rambutku. Hahahaha..... Selamat tinggal konde2an, sepertinya aku tidak akan bisa memakaimu lagi. (Tapi semoga saja masih bisa) hahahaha.... Niat koq setengah2. :P

Sampai Sekolah Dasar, aku masih rajin berkonde2 ria. Kebanyakan adalah saat berperan sebagai domas atau patah dalam sebuah resepsi perkawinan. Selain itu, juga ketika aku pentas menari. Kan sebelum badan mulai melar begini, aku hobby sekali menari. hwekekekke

Sekarang, aku tiba2 merasa kangen untuk bisa berkonde lagi. Kangen dengan rasa sakit di kepala ketika tukang salonnya menarik2 dan menyasak rambut. Kangen pada rasa bergelayutan yang di timbulkan oleh konde yang nangkring di belakang kepala. Kangen rasa frustasi ketika melepas dan menghilangkan efek sasakan yang menyiksa. Suatu hal biasa yang cukup membuatku kangen.... Kangeeeeennnnn..... ^_^

Biarlah... Tidak apa2 aku sekarang tidak berkonde. Saat ini, di seantero indonesia pasti banyak sekali anak2 kecil yang lincah, lucu, imut, dan menggemaskan yang sedang berkonde dan berlenggak-lenggok di atas catwalk untuk memperingati Hari Kartini.

Kartini, salah satu wanita yang hebat di Indonesia. Salah satu wanita yang berjasa sangat banyak untuk negri ini, di samping juga wanita2 yang lainnya di masa itu. Semangadh Kartini selalu dan senantiasa dijaga hingga saat ini. Semoga semangadh Kartini masih dan akan selalu mengalir dan merebak di hati setiap anak2 dan setiap orang di bumi ini, harum dan mewangi.

Kartini adalah salah satu wanita hebat dari wanita2 yang lainnya, yang mewakili wanita2 di Indonesia, dan di muka bumi. Wanita....wanita....dan wanita.... Berbanggalah kita yang telah terlahir sebagai wanita, Karena wanita adalah luarrrrrrr biassaaaaa.....^_*

Selamat Hari Kartini untuk semuanya.....!!!!

Monday, April 19, 2010

Tanggap Darurat

Beberapa hari ini, tepatnya 2 hari ini, aku melewati acara sarapan pagi sambil bercengkerama dengan temanku. Inisialnya I.J.A.H. Karena sudah 2 malam ini dia menginap di rumah ini. Kami sarapan sambil membicarakan banyak hal. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Namun rujukannya adalah sebuah kota yang bernama Yogyakarta.

Kami sering bertemu, dan sering juga melewatkan waktu bersama. Namun selalu dan selalu saja, tidak pernah kehabisan bahan untuk bercerita. Sampai2 membuat beberapa orang bertanya2 mengenai apa saja yang kami bicarakan setiap bertemu.

Jadi, apa yang kami bicarakan 2 pagi belakangan ini? Kami hanya membicarakan hal2 yang sudah kami bicarakan berpuluh2 kali. Kami mengulang dan mengulang cerita itu, dengan gaya, dengan sudut pandang, dan dengan intonasi yang berbeda saja. Topiknya masih saja sama. Tapi tolong jangan bilang kalau kami ini tidak kreatif yaaaa....:)

Kenapa berjudul tanggap darurat? Karena kami (lebih tepatnya si I.j.a.h) memiliki masalah dengan persiapan, perencanaan, managemen (tempat, waktu, dan faktor lingkungan) dan antisipasi terhadap sesuatu. Kami sedang sharing tentang bagaimana pentingnya sebuah managemen akan hal2 itu. Kalau kita bisa me-manage dengan baik hal2 itu, maka aku bisa pastikan bahwa tidak akan ada masalah dalam setiap hal yang kita lakukan.

Belakangan ini dia mendapat masalah karena sebelum melakukan sesuatu hal, dia tidak memikirkan kemungkinan2 yang bisa dan mungkin terjadi. Hasilnya ya memang banyak hal yang terjadi kan? :p

Aku sendiri sendiri selalu berusaha mengendalikan diri dengan jurus andalan itu. Dan aku menyimpulkan bahwa apa yang bisa aku nikmati sampai saat ini adalah akibat dari itu semua. Aku hanya sekedar menjalankan prinsip tanggap darurat saja.

Tanggap darurat yang aku maksud adalah menyadari sejak dini hal2 yang bisa membuat kondisi menjadi gawat dan darurat. hehehehe

Jaman sekarang ini, banyak hal2 kecil yang bisa membuat suasana menjadi gawat dan meningkat menjadi darurat. Hal remeh temeh yang kemudian menyusahkan kita. Hal sepele yang kemudian membebani langkah kita selanjutnya.

Bersyukur dan berterimakasihlah pada penemu analisis SWOT yang sering di gunakan oleh orang2 pintar di luaran sana. :p

Ayo kawan, kita harus bisa menggunakan prinsip tanggap darurat ini dalam segala hal yang akan kita lakukan. Smangadh yaaaa ^_*

Saturday, April 17, 2010

Pengen (Suka) Membaca Buku (Lagi)

Beberapa waktu ini aku sering sekali memandangi beberapa buku ceritaku yang kutumpuk di samping laptop. Mereka bertengger manis disitu, diam tanpa bergerak ataupun di gerakkan. Sudah cukup lama aku tidak membuka2 mereka atau sekedar melihat2 kembali isinya. Ya... belakangan ini aku jarang sekali membaca.

Beberapa buku yang sudah aku beli di awal tahun ini pun baru beberapa aku baca. Masih ada satu lagi yang belum ku sentuh. Entah kenapa nafsu membacaku berkurang belakangan ini. Dan itu berbanding lurus dengan menurunnya nafsuku untuk menulis. tidddaaakkk..... :P

Ayo....semangadh wilis... Jangan biarkan rasa malas menggelayutimu untuk kembali membaca. Meskipun hanya sekedar membaca di kamar mandi. Cukuplah... :)

Ya, aku ingat bahwa buku Negri 5 menaraku bisa selesai bulan lalu karena selalu menemaniku di kamar mandi. Sambil duduk menunggu proses pembuangan, aku menyelesaikannya. Lumayan, daripada nganggur atau melamun. hahahahaha

Aku sekarang sedang menunggu buku yang aku beli melalui toko buku online. Buku itu adalah seri terakhir dari The Chronicles of Ancient Darkness series. Judulnya Oath Breaker. Dulu aku pikir buku Michele Paver itu hanya akan sampai pada buku ke empat, tapi rupanya sampai buku kelima. Entahlah kalau memang masih bertambah lagi. It's okay... Aku sudah cukup bersahabat dengan Torak, Renn, Serigala, Klan2 yang tinggal di hutan, dan lain2nya itu.

Mari kita kembalikan budaya membaca... Karena kata orang jaman dulu, buku itu adalah jendela dunia... halaaaaahhh....^_^

Thursday, April 15, 2010

Hanya Ingin Sedikit Mellow

Aku, Dirimu, dan Dirinya

Artist: Kahitna

Tak ada
Yang harus kita sesali
Semua indah
Yang pernah kita alami

Meskipun terbatas
Dan tak mungkin
Terikat janji abadi

Aku dirimu dirinya
Tak akan pernah mengerti
Tentang suratan

Aku dirimu dirinya
Tak resah bila sadari
Cinta takkan salah

Andai waktu bisa kita putar kembali
Jalinan cerita mungkin tak begini

Meskipun terbatas
Saling pandang
Dan tak akan lebih lagi

***

Hari ini mendadak aku jadi sedikit mellow. Tiba2 aku ingin bekerja sambil mendengarkan musik. Maka akupun memasang headset dan memutar beberapa musik dalam negri. Setelah beberapa kali play dan pause (karena aku memang kurang suka mendengarkan musik dalam waktu yang lama, aku sampai pada lagu lama yang dinyanyikan oleh Kahitna.

Judulnya antara aku, kau dan dirinya. Entah kenapa aku berniat mencari dan meng-copy lirik lagunya. Dan akhirnya its done. aku meng-copy liriknya di sini. Mellow....mellow.....

Kembali lagi cerita lama itu keluar. Sepertinya cerita lama itu telah melengkapi dirinya dengan pelampung permanen. Sehingga semakin dalam aku berusaha untuk menguburnya, maka semakin kuat pula dia menekan dan mucul keluar. Muncul lagi, dan muncul lagi. :P

Sudahlah..... jangan dipaksakan untuk menghilangkan atau membumihanguskan semua yang bernama cerita lama. Karena cerita lama bisa saja kita jadikan sebagai cerita lama. Biarkan menjadi cerita lama yang tersimpan dalam kotak. Hanya saja, untuk satu cerita lama ini, aku harus menyimpannya di kotak pandora. hahhahahhaa

Baiklah, tidak apa2 juga sepertinya kalau aku sekedar bersalam sapa pada cerita lama itu sekarang. Ketika tiba2 dia menyeruak kembali ke permukaan, dan membuat waktuku berjalan terasa sangat lambat, hari ini. Apa kabar kamu disana? Aku tahu dan aku yakin kamu baik2 saja. Tetaplah baik2 saja, agar aku bisa merasa luar biasa baik. :)

Meskipun sedikit sedih karena aku tak lagi bisa melihatmu, tapi rupanya menyenangkan pula selalu merasa penasaran. Curiosity killed the cat.... ^_^

Dan untuk apa yang pernah ada, akan selalu teringat melalui lagu Drive yang judulnya Melepasmu. :P

tak mungkin menyalahkan waktu
tak mungkin menyalahkan keadaan
kau datang di saat membutuhkanmu
dari masalah hidupku bersamanya

reff:
semakin ku menyayangimu
semakin ku harus melepasmu dari hidupku
tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
kita tak mungkin trus bersama

satu saat nanti kau kan dapatkan
seorang yang akan dampingi hidupmu
biarkan ini menjadi kenangan
dua hati yang tak pernah menyatu

repeat reff

maafkan aku yang membiarkanmu
masuk ke dalam hidupku ini
maafkan aku yang harus melepasmu
walau ku tak ingin

***

Aku tidak pernah menyesali semua yang berlalu dalam hidup ini. Semua selalu terasa indah karena aku menjalaninya dengan sadar sepenuh hati. Aku menjalaninya dengan keyakinan bahwa aku pasti bisa melewati ini. Begitu pula saat2 itu. Tapi aku tahu pasti kenapa semua begitu singkat. Ya, aku bisa memastikan kenapa semua serba kilat. Biarkan saja.

Cukup untuk hari ini, waktu untuk mengangkat cerita lama. Mungkin suatu saat, ketika dia menyeruak kembali, aku akan menemukan kembali lagu yang lainnya. Hanya satu pesanku yang selalu saja ku kirimkan untuknya,

"We must always be happy, wherever we are...."

^_^

Akibat Sinetron

Beberapa hari yang lalu, aku ikut mengantarkan mbak-nya Damai pulang kerumah. Si mbak yang sakit itu ternyata masih biyungen atau masih ingin dekat dengan ibunya ketika sakit. Padahal sekedar meriang. Tapi yang namanya biyungen, ya memang tidak ada jalan lain selain di antarkan pulang. :)

Setelah menempuh perjalanan panjang, berliku, dan penuh rintangan (lebay*mode on), akhirnya kami sampai di penghujung jalan aspal. Rumahnya si mbak ini memang benar2 di ujung jalan (kayak judul pelem jadul yaa).

Aku yang berasal dari kampung, yang menurut temanku (inisialnya U.B.O) adalah small-small village, jadi merasa bersyukur. Rupanya kampungku belumlah the smallest village in Indonesia tercinta ini. hahahhaa

Kembali pada kampungnya si mbak. Setelah parkir mobil di ujung jalan itu, kamipun beramai2 berjalan kaki melewati jalanan kecil menuju rumah mbak. Kata si londho, berasa balik lagi ke rumahku di Cangkringan sana. :P

Kami di sambut baik oleh keluarganya mbak, bahkan di suguhi rengginan dan kerupuk telo (singkong). Karena sudah lama tidak bertemu dengan kerupuk telo, akupun dengan lahap menghabiskan beberapa (hingga akhirnya di bungkus dan di bawa pulang). hahaha

Setelah ngobrol kesana kemari, si Ibu menyampaikan rasa was2nya dalam melepas si mbak pergi bekerja ke kota (halah.... Kota Bogor). Beliau rupanya mengalami trauma setelah melihat banyaknya sinetron2 di tipi yang menceritakan kekerasan antara majikan dan pembantu. Beliau takut kalau2 anak gadisnya di siksa oleh majikannya seperti di tipi2. ehhehee

Mungkin setelah melihat seperti apa majikannya si mbak, si ibu mulai berfikir terbalik. Kalau majikannya seperti ini, bisa jadi majikannya yang di siksa pembantu ya? hehehhee... just kidding meeeennn.... :P

Intinya, rupanya pertunjukan tipi yang bernama sinetron di Indonesia ini memang sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran2 orang2, terutama orang awam. Mereka yang tidak memiliki wawasan luas, tidak memiliki pengetahuan tentang kota yang cukup, hanya mengandalkan tayangan di tipi sebagai referensi kehidupan kota. Padahal seperti kita semua tahu, sinetron adalah dusta. Sinetron adalah rekayasa. Sinetron adalah drama pertunjukan. Dan sinetron sama dengan lebay. *ngumpet di bawah meja takut di timpuk mbak luvie*. hehehehhe.

Mungkin, ibunya mbak itu hanya salah satu dari sekian banyak orang tua di kampung yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap nasib anak2nya yang ingin bekerja. Mungkin juga alasan itu yang pada akhirnya membuat mereka melarang anak2 mereka bekerja ke kota. Dan alasan itu pula yang membuat anak2 mereka hanya berkutat di kampung mereka, dan akhirnya banyak memilih untuk melakukan pernikahan dini. Di kampung, nggak kerja, nggak punya aktivitas, nggak punya penghasilan, mau apa lagi selain menikah? dan secara tidak langsung itu pula yang mengakibatkan mereka punya banyak anak. Tidak banyak yang di lakukan di kampung, jadi ngapain lagi? bikin anak laaaah.... Mana kampungnya juga berada di ketinggian yang cukup dingin. hehehehehhe

Ketika pulang dari rumah di mbak, aku berfikir (dan dari dulu juga aku sudah tahu sih) jika dan hanya jika atau seandainya aku berada di kampung sana, maka akupun akan seperti itu. Teringat betapa seringnya ibu dan bapakku mempertanyakan hal2 yang mirip2 dengan kejadian2 di tipi, apakah benar ada yang begini, apa benar ada yang begitu, dll. Pfffiiiuuhhh.....

Untunglah aku masih selalu di berikan jurus ngeles, merayu, dan berargumentasi kepada kedua orang tuaku sayang itu. Sehingga aku akhirnya bisa melancong ke sini, ke Bogor, dan belum berniat pulang kampung sampai sekarang ini. :P

I love you ibu and bapak.... i love both of you so much...
There's nothing I can give to you....
Except the promise that,
I will always take care myself and always be fine

Wednesday, April 14, 2010

Mbah Priok, Damailah Engkau Disana

Kemarin dan hari ini, hampir semua media massa heboh dalam memberitakan perang di daerah Tanjung Priok. Perang yang terjadi di dalam negriku tercinta Indonesia bagian Jakarta Utara. Perang antara satpol PP+Satpol anti huru-hara melawan ahli waris dan santri dari Mbah Priok, yang kemudian berkembang menjadi perang antara satpol pp+Satpol anti huru-hara melawan masyarakat luas.

Bentrok yang membesar menjadi perang itu terus berlanjut dari pagi, siang, hingga petang. Tanpa ada yang tahu kapan semua akan berakhir, dan akan berakhir seperti apa. Hanya Tuhan yang tahu nampaknya. Semua mencoba bertahan dan menyerang secara bergantian. Korban mulai berjatuhan dari masing2 pihak, namun justru semakin mengobarkan semangat "perjuangan" mereka.

Awalnya (ketika bentrok baru di mulai) aku merasa sedikit lega. Kenapa? karena setidaknya ada lagi berita yang berhasil meredam berita yang sebelumnya. Beritanya pak Jayus dan mbak Diva akhirnya harus sedikit bergeser ratingnya. Meskipun masih saja Insert Investigasi menampilkan mbak Diva and the gank. Pffiuuhhh.... Namun ketika bentrok berubah menjadi perang, perasaanku berubah menjadi miris.

Warga yang mengaku dirinya sebagai ahli waris dan para santri Mbah Priok terus bertahan dan siap perang sampai mati. Until the last blood.... Lengkap dengan senjatanya masing2. Begitu juga Satpol PP, polisi dan kawan2nya, siap berjuang sampai ada perintah mundur. hahahaa.... Jadi siapa sebenarnya yang bisa menghentikan peperangan ini? ck..ck..ck...

Pagi ini aku membaca berita di Korang Nasional, dan di sana di tuliskan bahwa sebenarnya Mbah Priok sudah di pindahkan ke salah satu TPU di Jakarta sana. Namun setelah kisah panjang perjanjian2 dan kesepakatan2 yang di hiasi dengan surat2 keputusan, ahli waris ingin (dan memang) membangun kembali makan Mbah Priok. (Kata pihak PT. Pelindo) mereka membangunnya tanpa ijin. Dan ketika PT. Pelindo and partner ingin memperluas wilayah pembongkaran peti kemasnya, terjadilah bentrok berdarah ini.

Terlepas dari itu semua (karena aku juga pusing dan cuma bisa miris), aku sih hanya ingin berkata, "Mbah Priok, berbahagialah engkau disana. Semoga engkau tenang dan damai di sisi-Nya..... Dan bantu para umat manusia ini untuk bisa saling menahan diri."

Jadi, intinya yaaaa pengendalian diri tho.... :P

Tuesday, April 13, 2010

Londone Ngerokok Meneh

Rokok

Banyak yang suka, tapi banyak juga yang nggak suka. Bagi yang suka, pasti di bilang merokok itu enak, membuat tentram, membuat santai, membuat hangat, membuat semangat, atau sumber inspirasi. Terkadang, mereka mengatakan bahwa orang yang tidak merokok itu nggak keren. Atau ada juga yang mengungkapkan alasan bahwa dengan merokok, mereka sudah ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama kalangan petani tembakau. Pokok'e, "bar mangan ora udud eneg.... " katanya. hahaha

Tetapi, banya juga yang tidak suka atau justru membencinya. Bagi mereka yang tidak suka, pasti dibilang rokok itu mengganggu kesehatan, bisa menyebabkan kanker, mengganggu orang yang ada di sekitarnya, membuang2 uang, membakar uang, dll. Terkadang mereka mencibir orang2 yang merokok. Pokoknya, merokok itu merugikan. hehehe

Aku? dimana posisiku ketika harus membahas tentang rokok? Entahlah.... netral saja nampaknya. Aku memang tidak suka rokok, meskipun aku pernah juga merokok. Aku tidak menjadikan rokok sebagai hobi, atau malah sebuah kebanggaan yang bisa digunakan untuk pamer. Tidak.

Tetapi, aku juga tidak membenci rokok. Aku tumbuh dan besar bersama dengan asap rokok, karena ayahku adalah perokok handal dari jaman beliau muda. Dan kakakku menyusul kemudian ketika dia menginjak bangku SMP. Di rumahku juga tidak pernah ada larangan yang bisa berlaku tanpa ACC dari ayahku, sehingga nampaknya tidak akan pernah ada larangan untuk merokok. :P

Belakangan ini di Indonesia masalah rokok menjadi masalah besar yang di perbesar dan semakin di perbesar saja. Rokok di haramkan. Artinya yang merokok akan berdosa. Mulai banyak pro dan kontra yang muncul menanggapi keputusan itu. Beberapa demo ataupun penggalangan massa melalui jejaring sosial mulai bermunculan.

Para pro-rokok yang memiliki satu visi dengan petani tembakau, buruh pabrik rokok, dan sebangsanya mengklaim bahwa peng-haraman rokok itu tidak bisa di tolerir. Akan menyebabkan banyak sekali kerugian kepada banyak pihak dan bla..bla..bla..

Para kontra-rokok semakin bahu-membahu menunjukkan bukti2 betapa rokok itu merugikan, menggalang massa dan lain sebagainya. Seru, heboh, gonjang-ganjing, dan semakin liar. hahahaha.....

Menurutku sih, memang tidak wajib kita meng-haramkan rokok. Sejauh para perokok bisa merokok dengan lebih bijaksana (halah..). Misalnya saja mbok yao kebiasaan merokok di tempat umum (yang belum tentu orang2nya suka merokok) itu di kurangi dan dihilangkan. Merokoklah pada tenpat yang telah di sediakan. Atau merokoklah pada tempat yang tidak akan di komplain atau (minimal) di cibir dan di pelototin orang.

Dan yang paling penting, jangan sampai deh merokok di tempat yang ada anak kecilnya. Kasian lho.... Mereka kan belum bisa protes. Kalau merokok didekat ibu2 atau emak2 sih, paling juga di timpuk konde kalau memang tidak mempan dengan pelototan. :P

Aku tidak bermaksud apa2 lho ketika menulis ini. Hanya saja aku sedikit tergelitik ketika tiba2 si londho yang belakangan ini eksis di rumah ini, mendadak dangdut jadi perokok (lagi). Padahal ketika dia datang, dia mengatakan sudah berhenti merokok dan belum ingin merokok lagi. Tapi sekarang, rupanya dia sudah kembali jago dan ahli dalam merokok.

Ketika secara iseng aku tanyakan padanya "Ngopo koq kowe mutuske ngrokok meneh le?" dia menjawab "Lha jarene F***N nek kanggo peneliti, ngrokok kui salah sijining perkoro sik paling penting di lakoni" hahahaha..... Bahaya nih si Tukirin... Sudah berhasil memberikan bad influence pada si londho. :P

ck..ck..ck..ck..

Sunday, April 11, 2010

Diam, dan Biarkan Semua Berlalu

Pernah nggak sih kalian merasa kurang atau bahkan tidak sreg dengan situasi di sekeliling kalian, pada suatu saat? Sepertinya aku bisa yakin berkata, pasti kalian semua pernah merasakannya. Karena aku sering sekali merasakan hal itu. Dan karena aku adalah manusia pada umumnya, maka aku simpulkan bahwa manusia di luar sana juga merasakan hal yang sama.

Aku hanya ingin berkata bahwa terkadang aku tidak suka dengan sesuatu. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku tidak bisa dan tidak mau menghindarinya. Aku mencari cara sendiri untuk menjadikannya sebagai teman keseharian.

Ketika lingkungan di sekitarku mulai tidak sesuai dengan kondisi atau suasana hatiku, aku hanya akan diam. Diam, tersenyum, dan sedikit berjalan2 sekedar ke kamar mandi atau ke halaman. Aku hanya akan berusaha melihat suatu benda (selain laptopku) yang bisa ku tertawakan tanpa protes. That's enough....

Simpel bukan? tidak perlu lagi beradu otot ataupun urat. Tidak perlu berbalas kata sampai urat2 di leher berloncatan. Cukup diam, tersenyum, dan sedikit meluruskan punggung. Setelah itu, semua akan kembali baik2 saja.

Tapi tidak selalu semua membaik setelah aku melakukan trik itu. Terkadang, muncul juga sifat membandel dari suasana hati yang kurang baik. Apa yang aku lakukan?? Baca buku cerita yang aku punya saja. Terkadang bisa membuat semua netral kembali. Tapi nggak selalu juga...hehehe

Selalu saja ada saat dimana suasana hati yang sedang kurang baik itu lolos dan bertahan. Jurus maut yang bisa aku lakukan sebagai pamungkas adalah......T.I.D.U.R.... hahahhaa... jitu sekali pokoknya. :P

Aku yakin suatu saat suasana hati yang kurang baik itu akan lolos lagi dari jurus pamungkasku itu. Mungkin suatu saat nanti, ketika bangun tidur, aku masih saja merasa "not on the good mood". Tapi aku juga yakin, ketika saat itu tiba, aku sudah bisa menemukan satu cara yang lebih jitu lagi. Aku akan selalu memikirkan cara untuk mengatasi si "suasana hati yang tidak bagus" itu.....

Dunia memang penuh dengan hal2 yang aneh, luar biasa, lebay, biasa saja, norak, dan lain2. Apa salah? ya enggak donk.... Semua memang sudah indah dan sempurna pada tempatnya. Toh enggak enak buat aku bukan berarti enggak enak juga buat orang lain kan? Jadi, nggak perlu memusingkan pihak lain yang bernama "dunia selain kita" itu yaaaa..... :P

Tenangkan diriku, dirimu, diri kalian, dan diri mereka. Maka dunia ini akan ikut tenang, aman, damai, toto tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi.... hehehhe

Karenaaaa..... "We must always be happy, wherever we are"
Hahahhaa..... okay..okay..... ^_^

Saturday, April 10, 2010

Menggunung Kembali Setelah 2 Tahun Cuti

Tanpa rencana, akhirnya aku melewati liburan paskah di puncak gunung lagi. Setelah lama sekali aku tidak melakukan perjalanan yang panjang, akhirnya aku melakukannya lagi. Gunung Ciremai ditambah dengan rayuan maut dari L-271 membuatku turut serta melangkah. Perjalanan panjang, setelah cuti yang cukup panjang pula.

2 tahun sudah aku tidak bersusah2 ria berjalan di jalanan terjal yang penuh bebatuan. 2 tahun pula aku tidak merasakan segarnya udara pegunungan dengan berbagai macam vegetasinya. Dan aku kembali.... Dan puji tuhan bahwa ternyata aku masih mampu. Syukur alhamdulillah aku masih bisa turun dengan berlari, tidak merayap. :)

Karena aku adalah korban rayuan maut, maka akupun mencoba peruntungan dengan rayuan mautku. Rasanya kurang pas jika jauh2 ke Cirebon hanya berdua saja. Terlebih lagi saat itu ada L-269 yang mau mengantarkan kami sampai Stasiun Senen. Akupun mengeluarkan jurus maut untuk merayunya agar tidak hanya mengantar sampai stasiun, tetapi langsung saja ke Ciremai. Dengan sedikit suapan dan tambahan rayuan dari L-271, akhirnya dia tergoda. yeah... we are the win.... :P

Setelah adegan konyol di stasiun dan sekitarnya, kamipun melaju dengan Bis menuju kota Cirebon. Setelah eyel-eyelan sama kondektur, turun di tempat yang salah, bertemu dengan 2 anak muda sedang mencari ibunya yang baru saja kena rampok, dan duduk2 manis di sebuah tugu yang bertuliskan "berhati besar" pada pagi buta, akhirnya kami dijemput dengan selamat ke Universitas Swaganti. Thanks to Gunati's welcome party team... hahaha

Tiba di Cirebon, rasanya kurang pas juga kalau tidak langsung berburu makanan khasnya, Nasi Jamblang. Karenanya, setelah cukup beramah-tamah dan istirahat sebentar, kamipun langsung memaksa tuan rumah untuk mengantarkan kami berburu nasi jamblang. Kami menyebutnya Nge-Jam. Oleh teman baru kami yang bernama "Busix", kami di antarkan ke sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menjual nasi jamblang. Dan untuk membuat orang percaya bahwa kami sudah makan nasi jamblang, maka kami berfoto2 ria di depannya. Nggak lucu kan kalau sepulangnya dari Cirebon, kami di bilang hanya mendongeng karena tidak ada bukti otentik? hahaha

Sayangnya, di warung yang pertama itu, persediaan nasinya sudah habis. Padahal lauk pauknya masih banyak sekali, dan perut kami (L-268 dan L-271) masih belum berasa "nendang". Akhirnya kami melaju menuju warung selanjutnya. Nge-Jam yang kedua. Maklum, kami kan sedang dalam masa pertumbuhan, karenanya membutuhkan banyak asupan makanan bergizi. :P

Dari hasil obrolan bersama penjual nasi jamblang yang pertama, aku mendapatkan beberapa informasi yang menjawab rasa penasaranku. Yang pertama adalah kenapa di sebut nasi jamblang. *menurut si ibu* Jamblang adalah nama sebuah wilayah, dimana banyak sekali penduduknya yang membuat nasi bungkus daun jati ini. Karenanya, nasinya di sebut nasi Jamblang. Lebih karena merujuk pada nama wilayah asalnya. Kemudian yang kedua, adalah kenapa di bungkus daun Jati. Apakah karena di Cirebon banyak perkebunan jati, atau untuk menghormati Sunan Gunung Jati?? Rupanya *menurut si ibu* di Cirebon tidak ada perkebunan jati. Daun jati yang di gunakan ini kebanyakan di datangkan dari Tasik Malaya. Kemungkinan jaman dahulu kala memang banyak perkebunan jati di Cirebon, tetapi sekarang tidak lagi. :)

Puas nge-Jam, kamipun beranjak menuju pasar tradisional di kota Cirebon untuk membeli logistik pendakian. Kami memasuki pasar dan memulai dengan coba2 "cengdem" tanpa membeli. (semoga mas2 yang jualan nggak dendam sama kita ya dip). heehehe

Kemudian kami memulai belanja bumbu, sayur, dll. Pasarnya rupanya memang pasar banget. Becek, wangi semerbak dimana2. Berasa lama sekali aku nggak masuk pasar tradisional. :P

Setelah selesai belanja di pasar, kamipun melanjutkan perburuan ke pasar modern. hahaha.... tanggung banget yaks... Scara masih juga belanja di pasar modern, lebih banyak lagi jumlah rupiahnya. ck..ck..ck...

Akhirnya, semua urusan perbelanjaan selesai, kamipun kembali lagi ke kampus untuk packing. Perjalanan kali itu penuh dengan tragedi yang berhubungan erat dengan becak. Kami semua hampir tabrakan dengan becak. Semua adalah antara motor dan becak. Becak...becak... (hahaha.... pokoknya yang salah becak-nya kan). :P

Setelah semua persiapan lengkap dan masuk semua ke dalam tas kami, kamipun berangkat menuju Kuningan dengan naik motor. Cukup banyak personil yang mengantar kami (ge-er dah...). Kami berhenti di rumah Wak Nana yang sudah menjadi rekanan teman2 Gunati. Bercanda, dan bercanda terus sampai mabok... :)

Karena teman2 Gunati sudah kenal baik dengan wak nana dan pihak TeEnGeCir, maka kami hanya perlu membeli 3 tiket, bukan 6. Lumayan... Satu tiket seharga Rp. 6500. Masih murah dan semoga akan selalu murah... Kamipun berpisah dengan rombongan pengantar. Kami mendaki ber-6, dengan 3 orang anak Gunati. Masih bocah2... hahahaha

Sampai di simpang jalan beton terakhir, ada tulisan Taman Nasional Gunung Ciremai. Karenanya kami berfoto dulu untuk di persembahkan pada L-270 yang tidak bisa ikut karena Kondangan. Mulai dari sana, kami akan menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan pemandangan di kanan dan kiri adalah kebun sayur. Ini mengingatkan ku pada jalur pendakian gunung gede yang melalui gunung putri. Hanya saja, kebun sayur di jalur palutungan ini sedikit sekali. :P

Selayaknya ketika masih di darat, sepanjang perjalanan kamipun selalu di iringi canda tawa (pada awalnya). Namun stamina memang tidak bisa di tipu dan di bohongi. Semakin lama, suara atau canda tawa itu kian berkurang dan lama2 menghilang. Seiring dengan berpindahnya posisi kedua tangan yang awalnya bergerak bebas menuju pinggang. Dengan berkacak pinggang, memang perjalanan sedikit lebih ringan. Tentu saja harus tahan dengan celetukan2 dari para bocah2 itu "kenapa perutnya nek? kenapa pinggangnya nek?" hehehhe

Jalur yang kami lalui sebenarnya tidak begitu sulit. Tergolong mudah malah. Hanya saja karena waktu terburu malam, maka langkah kami sedikit lambat (bukan berarti kalau siang jadi cepat juga sih). Kami berjalan perlahan namun pasti, hingga tidak menyadari bahwa kami telah berjalan selama 50 menit tanpa berhenti. Kamipun memutuskan untuk beristirahat sejenak di padang ilalang (romantis kaaannn).

Menurut informasi dari teman2 Gunati, kami akan sampai di pos Cigowong (yang ada sungainya) sekitar 2 jam perjalanan. Dan rupanya kami adalah rombongan tepat waktu. Pas sekali dengan waktu perkiraan, kami sampai di Pos Cigowong setelah menempuh 2 jam perjalanan. Di pos ini kami bertemu dengan 3 rombongan lain. 1 rombongan bersiap2 melanjutkan perjalanan, sedangkan 2 rombongan lain menyiapkan tenda untuk nge-camp di tempat itu. Kami? kami hanya mengagendakan untuk berhenti sebentar, memasak mie dan kopi, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

The next destination adalah Pos Pangguyangan Badak (PB) yang akan kami gunakan sebagai tempat menginap malam itu. Antara Pos Cigowong dan Pos PB, ada sebuah pos kecil yang bernama Pos Kuta. Dan seperti pada perjalanan awal, kami masih juga menjadi rombongan tepat waktu. :P

Kami tiba di Pos PB ketika waktu baru menunjukkan pukul setengah sepuluh. Masih cukup sore sebenarnya. Tetapi karena kami tidak begitu mengenal jalur2 Ciremai ini, maka kami menuruti saja petunjuk teman2 Gunati untuk nge-camp di Pos PB. Saat itu di Pos PB telah ada 2 rombongan pula. 1 rombongan sudah sepi karena nampaknya penghuninya sudah lelap dalam tidurnya, Sedangkan yang 1 rombongan masih menyiapkan tenda. Kami mengambil posisi di antara kedua rombongan itu. Si Bocah2 itu langsung sibuk dengan pembagian tugas masing2, sedangkan kami para wanita2 segera sibuk menyiapkan diri untuk tidur. hahahhaa

Pagi hari, kami dibangunkan oleh amukan yang mengguncang tenda. Amukan bocah2 yang sudah bosan membangunkan para ibu2 dengan suara. Rupanya, para bocah2 andalan kami ini sudah siap dengan sarapan lengkap dengan kopi hangat di depan kami. Dan para ibu2 yang mendadak menjadi pemalas ini mulai merangkak keluar dan mencari sumber kehangatan yang bisa di masukkan kedalam perut kami. Indahnya dunia ini.... :)

Agenda sarapan berjalan dengan lancar, dan kemudian di lanjutkan dengan packing tentunya. Dan perjalananpun di lanjutkan... Masih dengan tepat waktu pastinya. Boleh kan bangga2 sedikit... :p

Seperti narsis'ers2 yang lain, kamipun senantiasa mengabadikan diri berfoto di semua pos yang ada di sepanjang perjalanan. Namanya juga para dedengkot klub Akademi Cinta Gaya, jadi ya bawaannya gaayaaaaa...terus...

Namun ada satu penyakit yang aku derita yang mendadak dangdut kambuh dalam perjalananku kali ini. Jiwa narsisnya sedikit nge-drop. Sepertinya ada yang kurang dalam perjalanan ini, sehingga aku tidak dalam kondisi sangat bernafsu untuk foto2. Sebenarnya aku tahu mengapa, namun sudahlah..kita lupakan saja. Karenanya, aku menitipkan kameraku kepada si Dewo, dengan sedikit pesan agar mengambil foto kami sesukanya, dan tanpa menuntut untuk sebentar2 di foto.....

Sempat terjadi sedikit perdebatan di tengah2 perjalanan mengenai tradisi meninggalkan barang di tengah jalan selama pendakian ke puncak. Untuk kami para ibu2 darmawanita Lawalata, meninggalkan barang di tengah perjalanan, mengamankan dengan baik, dan mengambilnya lagi ketika sudah turun nanti adalah hal yang biasa. Alasannya adalah hemat energi dan efisiensi.

Namun rupanya untuk teman2 dari Gunati yang bersama kami, itu adalah hal yang belum pernah di lakukan. Sedikit sulit juga meyakinkan mereka bahwa hal itu perlu dan layak di lakukan. Pada akhirnya, tetap saja para darmawanita Lawalata ini yang berhasil membujuk mereka. Jadilah 2 daypack saja yang dibawa. Daypack inti yang berisi semangka sebagai bukti dedikasi komandan 269 kepada perjalanan ini. hahahhaa

Semakin mendekati pertigaan Apuy-Palutungan, kami mendenga suara2 di sebelah kiri. Suara2 itu berasal dari para pendaki yang mendaki melalui jalur Apuy, di punggungan yang berbeda. Dari peta dan juga keterangan dari banyak orang yang sudah pernah ke Ciremai, memang kami akan bertemu di pertigaan Apuy-Palutungan sebelum beberapa pos menuju puncak. Nampaknya pertigaan itu sudah dekat di depan kami.

Ketika kami sampai di pertigaan Apuy-Palutungan, kami bertemu dengan beberapa kelompok pendaki yang sedang beristirahat. Memang sih, pertigaan itu menyediakan tempat yang luas dan nyaman untuk beristirahat. Kami bertemu dengan seorang pendaki yang sangat mirip dengan teman kami di Lawalata, dan kami langsung memanggilnya dengan nama teman kami. J-cheng.

Di pertigaan itu, kami kembali harus merasakan yang namanya menjadi center of public. Dan ingatan kamipun melayang ke beberapa waktu yang lalu, ketika kami sedang dalam perjalanan touring motor ke Citarik untuk Rafting. Mirip banget. Dimana ketika kami sedang sibuk berfoto2 ria, kemudian beberapa orang mulai mendekat dan minta photo bareng. Selain minta foto bareng, beberapa orang juga mengambil photo kami. Dasar jiwa narsis sudah mendarah daging, maka kamipun dengan senang hati melayani permintaan sessi photo dari mereka dengan berbagai gaya. hahahahhaa..... aneh...aneh...

Beberapa waktu berlalu, sessi photo sudah selesai, rasa lelah sudah berkurang, dan semangat sudah mulai kembali, kamipun melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah dari pertigaan, kami berhenti lagi karena memenemukan sebuah prasasti yang di gunakan untuk mengenang seseorang. Seseorang yang telah meninggal di Gunung Ciremai dalam sebuah acara, beberapa waktu lalu. Kami membaca tulisan yang di torehkan di atas batu itu, dimana ada nama dan umur almarhum. Yang membuat kami termenung adalah umurnya. Lahir tahun 1991 dan wafat pada tahun 2007, yang berarti wafat dalam usia 16 tahun. Too young to die bukan?

Dalam hati aku hanya berkata "Semoga tidak ada lagi anak2 muda yang meninggal di gunung manapun di dunia ini... Semoga engkau tenang di Sana dik... Kami akan selalu mencoba menjaga diri, agar selalu bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat... Rest in peace brother..." Sedikit kesedihan menyentil hatiku ketika kami berjalan kembali. Tapi ya sudahlah..... namanya juga takdir. :0

Perjalanan setelah pertigaan Apuy-Palutungan mulai berupa tanjakan2 nyata. Kamipun mulai setia dengan gigi 1 pada kaki kami. Kami juga selalu saling mengingatkan sesama untuk tidak boros dalam menggunakan gigi selama berjalan. Si bocah2 itu selalu rajin mengingatkan kami dengan teriakan2 pelan "Nek, Tante, Emak, jangan lupa.... gigi satu ya...." hahahahaha.... baiklah anak muda... :p

Di sepanjang jalur, semakin banyak pohon edelweis yang tumbuh. Namun sayang, rupanya belum tiba saatnya mekar. Jadi kami hanya menemukan beberapa pohon yang sedang kuncup. Sayang sekali, namun tidak mengurangi keindahan perjalanan kami yang really2 slow, but really2 sure.... :)

Semakin mendekati puncak, jalur yang kami lewati semakin dan semakin berbatu. Semakin terjal, namun melegakan. Yaa... kami lega karena akhirnya tanda2 puncak sudah dekat sudah semakin terasa. hehehhee.... Inilah yang namanya semangat tinggi untuk beristirahat dengan segera, disamping dorongan untuk sesegera mungkin makan semangka. Sluruuupppp....sluruppppp.... ^_*

Setelah memanjat, memilih jalan, dan bergelantungan di akar2 yang ada di jalur bebatuan sebelum puncak, kamipun sampai pada salah satu sisi puncak Gunung Ciremai. Awan sudah turun dan sempurna menutupi kawah. Tentu saja begitu, karena kami tiba di puncak sudah lewat tengah hari. Padahal waktu yang tepat untuk bisa menikmati kawah dan puncak gunung adalah pagi sampai menjelang siang. Tapi.... its okay... Nggak papa... toh waktu yang kami miliki memang tidak banyak. :)

Aku dan 269 sampai lebih dulu di puncak, dan menunggu 271 untuk berfoto bersama. Setelah 271 sampai, kamipun berfoto di bibir kawah. Sayang sekali, triangulasi puncak Ciremai ada di sisi lain kawah ini. Sehingga kami tidak bisa berfoto disana. Terlalu malas untuk menempuh perjalanan dengan kabut tebal seperti itu.
Maka kamipun iklas dan rela berfoto di salah satu rambu2 yang mengingatkan para pendaki agar tidak terpeleset. Untuk orang yang pernah mendaki Gunung Ciremai, pasti tahu bahwa kami ini sedang berfoto di salah satu sisi kawah Gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Sisi yang di tempuh melalui jalur Apuy dan Palutungan.

Namun, lain lagi cerita untuk orang2 yang belum pernah naik gunung itu dan tidak membaca ceritaku pada bagian ini. Mungkin mereka akan mengira kami sedang berfoto di depan sebuah kamar mandi/toilet. Maklum... yang biasanya ada rambu2 "awas kepleset" kan di toilet umum. Terlebih lagi background kami putih seputih dinding. Pengumuman, "Itu kabut di atas kawah boooo..." hahahahha

Akhirnya, tiba saatnya bagi kami untuk membuka perbekalan yang sudah menggoda sedari kami memulai perjalanan. Semangka.... hahahaaaa....

Kamipun mulai mencari tempat yang nyaman untuk berpesta. Lebih tepatnya mengikuti dan berusaha mendekati medan magnet yang muncul tiba2 di tengah kabut. Untukku dan 269, kami menyadari betul kenapa dan mengapa kami tiba2 bergerak ke tempat itu, tempat yang terlindung dari badai yang mulai datang. Karena ada medan magnet itu. hahahaha

Entahlah apakah 271 dan para pendekar kami menyadarinya. Yang penting pesta semangka terus berlangsung khidmat. Rupanya, kami tidak membawa banyak bekal. Mungkin karena kami saling mengandalkan ketika mempersiapkan bekal sebelum menimbun perbekalan kami yang lain dengan tumpukan rumput. Maka dari itu, kami hanya menghabiskan makanan yang kami bawa (yang sedikit) itu.

Pendaki yang lain mulai muncul satu persatu, hingga akhirnya suasana puncak meramai. Tapi tetap saja, kabut yang turun dengan cepat membuat suasana tetap dingin dan semakin dingin. Kamipun berbagi bekal dan saling bercanda tawa. Medan magnet pun bergeser dan melebar. :)

Aku lupa darimana saja asal para pendaki itu. Aku hanya ingat bahwa di antara mereka ada yang berasal dari Bandung, Kuningan, dan daerah sekitarnya. Jakarta juga ada dink....

Dari sekian pendaki, ada satu orang yang sangat nge-fans padaku. Ups.... tepatnya nge-fans kepada jaket merah kesayanganku. Windbreaker yang memang aku sangat sukai. Dia adalah mas2 yang berjaket kuning. Dari pertama dia melihatku muncul perlahan2 di belakangnya, dia sudah memperlihatkan ketertarikannya pada (jaket) ku.

Dia menyebutkan dengan detail tipe dan merek jaketku, dan membuat aku bingung karena tidak mengerti. Aku baru mengerti ketika dia menjelaskan padaku kekaguman dan keingin-punyaan-nya terhadap (jaket)ku. :p
"Adduuhh.. aku pengen banget lho punya jaket itu. Lebih2 yang warna biru. kereeenn " katanya

Hehehe.... jadi kepengen geer. Si mas itu rupanya mempunyai benda yang membuat kami, darmawanita Lawalata ter-ngiler2 untuk memakainya berfoto. Yaakk.... Topi kuning yang bertengger mesra di kepalaku. Membutuhkan waktu yang lama dan jurus2 maut untuk merayu masnya agar mau meminjamkan topinya pada kami. Mungkin tampang2 kami memang tampak seperti perampok sejati, sehingga dia tidak bisa merasa yakin bahwa kami akan mengembalikan topinya.

Aku bahkan sempat menggunakan jurus barter padanya. Aku menawarkan padanya untuk meminjamkan jaketku agar dia bisa berfoto menggunakan jaketku. Tapi kami juga harus mendapatkan topinya untuk kami pinjam. Dan rayuan itupun gagal. Akhirnya, kamipun pasrah dan mengganti jurus dengan jurus cuap2 beybeh alias ngobrol bersama ngalor-ngidul. Ujung2nya, kami mendapatkan topi itu, dan bergiliran melakukan photo session dengannya. :)

Semakin lama, kabut semakin tebal dan badai nampaknya datang dengan cepat. Suara bergemuruh mulai membuat kami yakin untuk bergegas berkemas. Untungnya, kami masih sempat ingat bahwa kami belum melakukan photo bersama dengan para Gunati'ers. Karenanya, dengan sedikit menggigil, kami melakukan beberapa jepret photo. Alhamdulillah.... :)

Inilah tim pendakian Gunung Ciremai antara 3 anggota darmawanita Lawalata-IPB dan 3 anggota muda Gunati-Unswagati. Kami menyebut pendakian ini sebagai pendakian Laguna. hahahha.... Kami adalah 3 wanita dari generasi yang berbeda, di temani oleh 3 anak2 muda dari generasi yang lebih berbeda lagi. Tapi disini, di Puncak Gunung Ciremai ini, kami selayaknya sama.... Sebagai Anak muda... Karena kami kan memang masih muda kinyis2... hehehehhe

Kemudian, kami dan juga teman2 yang lain segera turun sebelum badai menutupi jalan kami. Selain itu juga kami harus segera turun sebelum badai membuat jalanan yang lewati menjadi licin. Akan sangat berbahaya nantinya jika jalanan terjal itu licin. Tidak licin saja sudah sulit, apalagi licin? :)

Perjalanan turun berjalan dengan lancar kemudian. Barang2 kami juga aman, sehingga mungkin bisa digunakan sebagai referensi bagi temen2 Gunati dalam pendakian selanjutnya. Setelah melewati sebuah perdebatan mengenai tempat menginap, dan juga melihat bagaimana kemampuan peralatan kami, maka kamipun kembali menginap di tempat yang sama dengan tempat menginap di malam pertama.

Pagi harinya, kami baru melanjutkan perjalanan menuju perkampungan. Begitulah cerita perjalanan kami dalam rangka menemani 271 melewati liburan. Perjalananku menggunung setelah sekian lama (2 tahun lebih) istirahat dari acara gunung-gunungan. Rupanya aku masih bisa melewati perjalanan panjang. Syukur alhamdulillah aku masih turun dengan berlari, dan bukan me-ngesot. ^_*

Terimakasih untuk teman2 dari Mapala Gunati untuk semua bantuan yang telah di berikan sehingga kami bertiga bisa tertawa bersama di Sini. Dewo, Alfor, dan Kuya.... Kalian telah memanjakan kami yang biasanya mandiri ini.... hahahhaha. Temen2 yang lain, yang sudah mengantar jemput, membuatkan sarapan, menemani ngobrol dan lain2. Thanks for everything... :)


269 dan 271, terima kasih untuk kembali mengajakku bergabung menggunung. Semoga untuk perjalanan selanjutnya, kita bisa bersama2 dengan 270. ^_^