Thursday, November 20, 2014

I Want to Go to Cambridge

Once upon a time (kesan nya tua sekali ya)... Kirania mendapatkan oleh-oleh dari Budhe Dessy yang di belinya di Cambridge. So sweeeettt... Thank you so much budhe...

Oleh-olehnya berupa kaos lengan panjang pake kupluk gitu. Yang paling membuatku senang adalah tulisan yang ada di kaos itu. Disitu tertulis "When I grow up, I want to go to Cambridge".

Kaos itu sebetulnya ukuran 3, dibeli waktu Kirania masih berumur sekian bulan. Dan baru pas dibadan Kirania sekarang ini. Alhamdulillah... Mengurangi jatah beli baju bulan ini :-)

Kembali ke tulisan tentang Cambridge. Duuuh, setiap kali melirik Kirania dan membaca tulisan itu, aku langsung mengucapkan Aamiin banyak2. Mudah2an tulisan yang merupakan doa itu, bisa di kabulkan oleh-Nya. Aamiin lagi.

Aim high dear Kirania... Cambridge, Oxford, Mayo clinic, MIT, UI, IPB, UGM, ISI, Akbid, Home Sweet Home, kemanapun atau dimanapun kamu nantinya, We will always there to catch you... :-)

"When I Grow Up, I Want to Go to Cambridge" T-shirt

Kata orang kan kalau berdoa harus spesifik, agar Tuhan tidak bingung mengabulkannya. Dan agar kita fokus juga mengejarnya. Meskipun masih jauh, tapi tidak ada salahnya di Bismillah-kan sekarang, di Aamiin kan setiap hari, agar di kabulkan pada saatnya nanti. Aamiin lagi :-)

Oh iya, info yang nggak penting banget. Sekarang kami sudah resmi menjadi warga Kota Bogor pemirsa. Soooo whatttt??? Nothing :-p

Monday, November 17, 2014

Sentuhan Maut dari Seorang Ibu

I only kid who playing as a kids....
Hari ini anakku manis sekali. Dia mau main sama tetehnya di garasi. Biasanya, dia maunya sama ibunya saja. Sepertinya dia sudah semakin akrab dan percaya pada tetehnya yang kesekian ini. Cerita panjang seputar per teteh-an. Kisah Klasik Untuk Ujian Iman katanya... :-p

Tak berapa lama anak ku main di garasi, terdengar tangisan tersedu2 anak kecil. Penasaran emak2 ini keluar, mengintiplah aku di jendela. Kubuat lubang dari sisi gorden sekecil2 nya agar tidak nampak oleh pihak yang di intip. Rupanya, tetangga depan. Anaknya yang laki2 menangis tersedu2 duduk dikursi teras, ibunya menghampiri dengan memunggungiku. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan melancarkan aksi cubitan ke anaknya yang sedang menangis. Bertubi2 hingga anakknya nampak kesakitan sekali. Duuuhh....

Entah karena aku sudah punya anak sendiri, atau entah karena aku jadi ingat masa2 itu. Masa ketika ibuku juga sering melancarkan aksi cubit2an. Cubit2an itu judulnya, agar terdengar sedikit manis. Karena pada kenyataannya, ada saja bekas biru yang tertinggal, dan rasa memarnya bertahan sampai cubitan selanjutnya datang. hehehee... Bukan untuk menjelek2an ibuku, karena memang seribu satu alasan beliau melakukannya. Sebagai pelajaran untukku, agar mengambil yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Itu saja :-)

Kembali kepada perasaanku melihat cubit2an itu. Hatiku tiba2 terasa... sriiittt...sriiittt... (sulit menggambarkan hati yang tersayat2). Karena tak tega, akupun keluar. Dalihnya sih bermain dengan anakku sendiri. Sambil hasil sampingannya adalah menghibur si anak yang menangis. Anak yang menangis itu akhirnya digendong oleh ibu2 yang biasa mengasuhnya, sambil terus menangis dan bilang sakit, memegangi pahanya... 

"Cup...cup... kakak... Jangan menangis... main sini aja... " Kataku membahasakan anakku. 

Si anak masih menangis, dan akhirnya di ajak kewarung untuk jajan. Sedih sekali rasanya.... 

Cubit2an adalah salah satu hal yang masuk dalam daftar hitamku. Daftar yang harus di hindari, dijauhi, dan jangan sampai dilakukan. Naudzubillah... 

Mudah2an, dalam perjalananku membantu, menemani, dan mendukung anak2ku tumbuh, tidak ada yang namanya cubit2 lebam dikamus anakku. Aamin...

Bagi anak kecil, yang terlahir tanpa bisa memilih, tanpa bisa mengajukan syarat, dan tanpa bisa menolak, mereka akan merasa bingung dan bertanya2, kenapa gerangan ibunya mencubitinya? Apa yang sudah kulakukan? Aku kan hanya bermain, dan beraktivitas layaknya anak kecil pada umumnya? *mungkin begitu perasaan mereka. 

Lesson Learn :
"Take the good, leave the bad"