Tuesday, September 13, 2022

Hari Rekonsiliasi

Today is the Day!

Hari Rekonsiliasi bagi dua anak manusia yang baru mulai belajar mengenai nilai-nilai Compassion. Lucu juga kalau saya perhatikan bagaimana anak-anak mensikapi dunia dan masalahnya. 

Hari ini, karena ada pengumuman akan ada Demo, maka sekolahan di pulangkan lebih cepat. Meskipun waktu belajar menjadi lebih pendek, tapi saya tetap keukeuh ingin menjemput K. Ayahnya yang juga ingin menjemput akhirnya mengalah, setelah saya katakan bahwa saya penasaran dengan cerita dari K hari ini. Kalau ayahnya yang jemput, pasti tidak ditanya-tanya cerita hari ini. 

Akhirnya seperti biasa, setelah di panggil namanya, saya gandeng anak saya sambil bertanya pertanyaan standar: 

S: "Gimana hari ini? menyenangkan?" tanya saya. 

K: "Lumayan. Nggak ada Pramuka ya?" tanyanya balik. 

S: "Iya, nggak ada. Katanya mau ada demo, jadi pulang cepet dan nggak ada pramuka." Kami berjalan menuju pintu keluar. 

Di dekat pintu keluar, saya melihat murid yang sedang memakai jaket, dibantu oleh ibunya. Saat kami mendekat, anak itu melambaikan tangan dan memanggil nama K. K membalas lambaian tangannya dan menyebut namanya. A. 

Saya yang masih sedikit terkejut, jadi kehilangan kata-kata. Terlebih karena posisi saya sudah di pintu keluar, jadi tanggung kalau mau berbicara lebih banyak. Jadi saya hanya bisa bilang, "Eeeh, halooo temannya K. Kami duluan yaaa..." Saya mengangguk ke arah ibunya A. 

Di luar, sembari berjalan ke arah parkiran motor, saya kepo mania seperti biasa. 

S: "Jadi gimana tadi?" tanya saya.

K: "Tadi tuh kita cuma cepet gitu bunda. Aku cuma bilang - A, ya udah deh daripada kamu dimarahin mama kamu terus, dan aku disuruh maaf-maafin kamu terus sama Bunda aku, kita maafan aja deh- terus dia diem aja tapi ngulurin tangan salaman gitu. Ya udah kita salaman." Ceritanya nyerucus membuat saya tersenyum lebar. 

S: "Waaah... Itu bagus sekali. Syukurlah kalau kalian sudah baikan dan berteman lagi sekarang. Besok-besok udah bisa main bareng lagi kan," kata saya. 

K: "Terus bunda, kalau girls itu kadang suka lucu memang ya." Katanya. 

S: "Kenapa lucu memangnya?" tanya saya heran. 

K: "Iya, tadi SMT kan lihat aku sama A salaman, terus kayaknya dia ngomong sesuatu sama ABL, tapi aku nggak denger dia bilang apa. Tangannya kayak nunjuk ke aku sama A gitu." Ujarnya. 

S: "Ooo... Iya memang kadang girls itu unik. Kalau Bunda tebak, mungkin SMT bilang ke ABL -Eh, lihat itu. K sama A udah baikan sekarang- gitu mungkin ya?" tanya saya.

K: "Mungkin. Bisa jadi." Pungkas K. 

Saya lega mendengar cerita K. Saya juga merasa bangga dengan anak-anak ini. Ke depan, masih banyak yang akan anak saya dan juga anak-anak lain pelajari, baik itu disadari ataupun tidak. 

Dari kisahnya K selama satu mingguan ini, saya belajar banyak darinya. Saya belajar bagaimana menjadi orang tua saat anaknya mendapatkan masalah. Mungkin cara yang saya ambil bukanlah yang terbaik atau terideal. Namun, semua cara itu adalah cara yang saya dan anak saya percaya adalah yang terbaik yang dapat kami lakukan. Dengan bantuan Allah SWT, maka tidak ada yang tidak mungkin. Tidak apa-apa memilih cara yang bukan yang terbaik, selama kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT bersama kita, maka semua akan baik-baik saja. Aamiin

Monday, September 12, 2022

Bocah Mungil Yang Iseng

Halooo... Had a good weekend? Great!!!

Saya kepengen sharing lagi cerita hari ini. Tidak ada lagi drama, tidak ada lagi incident, tidak ada lagi gesekan anak-anak. Yang ada tinggalah keisengan si anak wedhok. Eeerrr... Duh Mbak, kamu nyontoh siapa itu siiih... ~_~

Jadi, seperti biasa saat namanya di panggil, saya ke depan mengambilnya dan bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?"

K: "Fun..."

S: "Nggak ada tragedy? Nggak ada insiden? Nothing whatsoever?"

K: "Enggak... Cuma, tadi kan A deketin aku terus bilang -K, kamu harus maafin aku pokoknya- Terus aku tanya, - Kamu dimarahin mama kamu ya?- Dia bilang iya. Terus aku bilang lagi - Nggak mau ah kalau minta maafnya maksa gitu- gitu aja, terus aku pergi." Kisahnya. 

S: "ooo... Tapi setelah itu kamu maafin dia kan? Sekarang udah maafan?" tanya saya. 

K: "Ya belum lah. Kan dia maksa minta maafnya. Aku males kalau dia maksa gitu." jawabnya. 

Hadeuuuhh... Memang sih ya, kalau di rumah, antara saya, ayahnya, dan K, kalau cara minta maafnya memaksa, kami segan menerima dan memberi maaf. Kami akan menunggu sampai yang minta maaf, benar-benar terlihat minta maaf. Tapi kan berbeda rumah, berbeda tata cara minta maaf mbak'eee... Batin saya. 

Setelah K mengulangi beberapa kali lagu Tanah Air untuk keperluan PTS Seni Musik Hari Kamis nanti, saya mulai mengajak K berbicara lagi. 

S: "Mbak, Bunda rasa, A sudah cukup mendapat pelajaran. Sudah di tegur wali kelas, sudah dimarahi mamanya. Jadi sudah saatnya kamu memaafkan dia juga. Kan dia sudah minta maaf, jadi dia pasti sudah banyak belajar dan mengerti," kata saya. 

K: "Iya," jawabnya pendek.

S: "Gimana kalau besok, kamu datangi A, dan bilang -Setelah aku pikir lagi, ya sudah kita maafan aja. Aku maafin kamu. Tapi jangan diulangi lagi ya, kan waktu pelajaran BK sudah diajarin untuk nggak gitu. Dan lain kali kalau mau minta maaf, jangan maksa. Tapi bilang maafin aku yaaa... gitu." Usul saya. 

K: "Iya deh..." 

Dua anak sudah banyak belajar tentang nilai pertemanan dua minggu ini. Semoga besok, anak wedhok ini bisa benar-benar berjiwa besar dan mengulurkan tangannya untuk memaafkan temannya. Aamiin :-)

Selain daripada itu, hari ini dia menceritakan pengalamannya mengenai umur dan ukuran badan. K bercerita kalau teman-temannya menyangka dia berumur 6 atau 7 tahun karena badannya mungil. K bilang dia tidak suka dibilang mungil. Saya bilang dibilang mungil itu bagus. Saya saya kepengen di bilang lebih muda dari umur sebenarnya, 27 tahun gitu. ahhahahaa #curhat :-p

Sunday, September 11, 2022

Mengisi Kembali Baterai Energi

Namanya manusia yang menjalankan kegiatan rutin setiap Senin - Jum'at, maka akhir pekan adalah surga dunia. 

Hari Senin hingga Jum'at, acapkali menjadi hari-hari yang berlalu seperti petir. Datang dengan cepat, cukup memberikan kejutan, tapi lekas berlalu begitu saja tanpa meninggalkan tanda. Kecuali jika petirnya berhasil menyambar sesuatu, maka bukan tidak mungkin ada efek lain setelahnya. 

Begitu pula dengan saya. Hari Senin - Jum'at adalah hari di mana kemampuan untuk berpindah tempat baik fisik maupun fikiran diperlukan dalam kecepatan tinggi. Jam sekian sampai sekian, melakukan ini, jam sekian sampai sekian di sini, dan seterusnya. Jeda yang saya punya memiliki jendela waktu yang tidak banyak. Jam 8 malam hingga 4 pagi. Cukup sebetulnya untuk ukuran orang dewasa. Kalau itu hanya digunakan untuk tidur saja. Tapi kan saya juga perlu me time seperti nonton, menyeruput kopi dengan santai alih-alih menenggaknya seperti arak, atau sekedar membaca buku dengan fokus hingga alur ceritanya tidak porak poranda. Maka waktu tidur mungkin hanya tersisa dari pukul 10.30 - 3.30 pagi.  

Jadi, saya sekarang tidak berbeda dengan tante salmul kesayangan, yang kalau akhir pekan hanya punya dua pilihan, mager sepenuhnya atau pergi sejauh-jauhnya. Hahahaha

Berhubung Pakne sedang jalan-jalan cantik ke Dieng bersama dengan geng ladies nya, jadi Hari Sabtu kemarin K dan saya menghabiskan waktu bersama dengan halan-halan ke Mr.D*Y. Mbak Sis sudah punya list panjang karena (merasa kalau saya berhutang banyak padanya, dan ) dia memiliki piutang pada saya. Eeerrr

Long short story, K mendapatkan beberapa yang dia mau (beberapa lainnya tidak saya approved karena kebanyakan) dan kami pulang ke rumah. Sore harinya, bersama dengan tetangga kanan kiri depan belakang dan juga tetangga yang biasa kumpul makan-makan, kami makan Cuangki di rumah kami. Alhamdulillah ramai. Sudah lama tidak berkumpul bersama mereka, jadi lumayan membuat alasan untuk bertemu :-)

Hari ini, K dan saya bersama dengan 2 orang tetangga dan 1 anaknya, kami menjajal nongkrong di pinggir Danau Situgede. Menikmati area yang telah di rombak menjadi tempat yang jauh lebih baik daripada sebelum pandemi. Sekarang sudah ada jogging track yang lebar mengitari danau, dan ada kafe baru juga. Jogging track keren, kafe not so much. Kami datang jam 7.45, memesan es coklat, es kopi, dan kopi panas, serta cemilan-cemilan. Lebih dari setengah jam (atau hampir sejam ya) kami menunggu, baru es coklat, es kopi dan cemilan yang datang. Setelah menunggu lama lagi, pelayannya baru datang dan memberi tahu bahwa mungkin kopi panasnya baru bisa siap sekitar 20 menit lagi. Eheeemmm

Akhirnya teman saya mengusulkan untuk diganti dengan es kopi dengan harga yang sama. Fineee... 

Rupanya lama lagi juga pesanan ini datang. Akhirnya saya mendekati kasir (kalem kok, nggak pakai tanduk) dan berkata, 

Saya: "Mbak, yang tadi katanya mau di ganti es kopi mana ya? Saya sudah mau setengah hari lho di sini, belum turun juga. Kalau tadi saya dapet kopi panas, sekarang sudah bisa jadi es kopi juga..." 

Mbaknya: "Oh iya ini kak, sedang di seal. Maaf ya kak lama." Dua cup es kopi di letakkan di depan saya, dan saya ambil keduanya dan bersiap pergi. 

Masnya: "Oh, nggak dianter aja kak?" 

Saya: "Nggak usah mas, nanti lama lagi saya nunggunya." Saya tersenyum. 

Jadi, kami malah mendapatkan ide untuk kembali ke area danau kapan-kapan, tapi piknik saja di area hutannya. Nggak usah di kafe. Bawa kopi dari rumah sajaaa :-)

It's a Very Well Spent Weekend, tetep ^_^











Friday, September 9, 2022

Titik Baik Mulai Nampak

 Jadiii... (eeeaaa, penasaran kaaan gimana hari ini?)

Hari ini, Saya yang bertugas mengantar dan menjemput K dikarenakan ada janji temu dengan 2 orang teman 1 grup WAG yang syulit sekali untuk ketemuan. Tadi malam tiba-tiba MedMed nulis di WAG "Ini kapan kita teh mau ngopi-ngopi gitu ketemuan? Jangan sampai kita ketemuannya nanti 2023 pas nonton Indonesia Master doank nih!" 

Saya dan FefFef tertawa membenarkan. Long short story, jadilah kami janjian dadakan harus jadi pagi ini. Berkumpul di tempat yang rupanya sudah buka dari jam 7. Enak banget kan buat emak-emak drive thru kayak kita-kita ini. Hahahaha. 

Setelah mengantar K sampai depan lobby, saya duduk dulu di pos. Menyadari bahwa ponsel saya tertinggal di rumah. Ya sudah lah ya, mau gimana. Saat akan meninggalkan lingkungan sekolah, tiba-tiba mama nya teman K datang dan kami ngobrol dulu. Long short story, tanpa ditanya, beliau bercerita mengenai cerita yang disampaikan anaknya, I. Beliau bilang I bercerita, kalau ada teman laki-laki mereka di kelas yang mencubiti K, tetapi K diam saja dan tidak ingin lapor. Saya tersenyum dan mengatakan bahwa saya merasa lega. Lega karena ternyata ada saksi mata yang melihat perlakuan kurang baik teman K kepadanya. Kamipun bertukar cerita mengenai pengalaman anak-anak di sekolah. 

I juga mengalami keisengan temannya, dan Mama I rupanya sudah lebih dulu bercerita kepada wali kelasnya. Saya jadi merasa sedikit lebih baik lagi karena ada teman seperjuangan. heheheee. 

Lalu, saya undur diri untuk bertemu dengan kedua teman saya. Ngeeeeng... Ngeeeng... 

Pertemuan singkat yang cukup menghibur ya man-teman... Coba kita lihat apakah Senin pagi minggu depan kita bisa benar-benar menggebuk kok bersama, atau hanya akan menjadi wacana seperti biasa :-p

*

 Saya seperti biasa menjemput K dengan perasaan penasaran. Ketika namanya di panggil, saya menjemputnya dan segera bertanya,

S: "Gimana hari ini? Fun?" tanya saya. 

K: "Fine..." jawabnya pendek.

S: "No incident, no tragedy, no crumpled paper flying?" tanya saya.

K: "Nggak ada. Oh iya, aku tadi tanya ke A - Mana, kamu nggak gambar babi lagi buat aku? Aku kirain kamu mau gambar aku babi lagi?- gitu," cerita K. Saya heran dengan pertanyaannya dia.

S: "Memangnya kenapa kamu mau dia kasih gambar kamu lagi? Kalau gambarnya nggak baik lagi gimana?" tanya saya.

K: "Kan aku mau tempel di dinding buat kenang-kenangan gitu." Sayapun tertawa mendengar alasan K. Attagirl! 

S: "Terus A gimana pas kamu tanya gitu?" emak kepo yekaaan.

K: "Dia kayak mikir bingung gitu, terus tanya aku - "Emangnya kamu mau?- gitu. Aku bilang aja mau. Terus dia bilang -Tapi kamu jangan bilang-bilang Pak Ridwan lagi ya-." pungkasnya. 

S: "Tuh kaaan bener, kalau kamu keep nice to him, dia akhirnya jadi bingung kenapa dia nggak baik sama kamu kan?" kata saya. Dalam hati saya bersyukur, sepertinya Pak R sudah menegur A dan A tidak ingin lagi berbuat yang tidak baik pada K. Legaaa kaaan, emak :-)

Kemudian, saya menceritakan pada K mengenai kejadian yang menimpa I, temannya. 

K: "Aku juga gitu bunda...," Katanya. 

S: "Tangan kamu digituin juga?" tanya saya penasaran. 

K: "Iya, sampai sakit gitu," katanya.

S: "Kamu lapor Pak R nggak?" 

K: "Enggak. Karena kan aku masih bisa tahan rasa sakitnya gitu." 

S: "Eeehhh... Nggak boleh dooonk. Kalau kamu mulai sakit, harus lapor sama wali kelas. Takutnya kalau kamu menahan sakit, ternyata tangan patah gimana? Memangnya kamu ngapain sampai digituin?" 

K: "Kan dia challenge aku bunda. Nantangin aku?" emaknya mulai mencium aroma-aroma sesuatu. 

S: "Coba sini praktekin sama bunda, gimana kalian pas lagi kejadian!" pinta saya. K maju dan mengambil tangan saya, lalu menggenggam telapak tangan saya dan menindihnya di meja. Sayapun tertawa menyadari bahwa misteri tragedi jepit tangan hari pertama terpecahkan. 

K: "Mbak, itu sih namanya kalian adu panco! Kalau kata orang jawa, itu namanya engkol. Itu kan consent kalian berdua, jadi bukan attack. Beda sama yang kamu di dorong kemaren itu." Kata saya. 

Saat saya tanya alasan kenapa dia mau di ajak adu panco dengan A, K menjawab bahwa dia ingin mencoba dirinya sendiri. Apakah bisa menahan A yang badannya besar, lebih tua, suka nakal, dan ketua kelas itu. Kemudian saya menjelaskan bagaimana membedakan serangan dan permainan semacam tantangan adu panco. Saya anjurkan K untuk tidak lagi menerima tantangan fisik dengan teman, terlebih dari yang jelas-jelas ukuran badannya lebih besar. Berbahaya. 

Fffiiiuuuhhh... Akhirnya hari ini tak ada drama di antara kita ya kakak... :-p

Have a good weekend, teman-teman!!!

Thursday, September 8, 2022

3rd Bad Day at School

Hari ini, saya menjemput K dengan H2C. Penasaran juga sih alias kepo ala emak-emak. hehehe

Setelah anaknya muncul di pintu dan namanya dipanggil oleh wali kelasnya, saya menjemputnya dan langsung bertanya seperti biasa. 

S: "Hai, gimana hari ini? Fun?" Dia tertawa dan menggandeng saya. Kamipun berjalan menuju pintu keluar hall. 

K: "Today is funny lho bunda..., " katanya. Saya penasaran. Hmmm... Sounds good, right? 

Karena hari ini hujan cukup lebat, saya mengajak K untuk duduk lesehan di depan Hall dulu sembari mendengarkan ceritanya. 

S: "Kita di sini dulu aja. Kamu cerita dulu. Kan setelah kamu cerita, nanti bunda perlu mikir apa jadi ke wali kelas kamu atau enggak." Kata saya. 

K: "Jadi, tadi kan aku jalan di kelas. Terus A berdiri di depanku gitu. Dia bilang - Hey K! Item jelek! Ngapain kamu? - gitu, terus dia dorong aku sampe aku mundur gitu," ceritanya. Saya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Lagi-lagi ya bocah itu, hahaha. 

S: "Terus kamu ngapain?" 

K: "Ya aku diem aja pergi. Terus dia gambar sesuatu gitu kan. Habis itu dia crumple terus di lempar ke aku gitu. Pas aku buka ada gambar babi nya. Terus ada tulisannya K = B**i G****l gitu. Aku sobek2 aja kertasnya, aku buang di tempat sampah." Ceritanya. 

S: "Lhooo, jangan di sobek donk. Lain kali kalau dia bikin sesuatu lagi, masukin aja ke tas ya biar bunda bisa lihat," saya kepo, hahahha. 

K: "Ini ada nih satu lagi (dia mengeluarkan dua gumpalan kertas dari kantongnya dan saya mengambil salah satu yang menggelinding) jangan yang itu, itu aku yang bikin." Katanya. 

S: "Lho kamu bikin juga? Sama jeleknya jangan2 kayak bikinan dia?" tanya saya.

K: "Tapi itu cuma buat aku aja kok. Karena kan aku kesel jadi need to draw it," hmm, make sense kata saya dalam hati. 

S: "Apa itu tulisannya?" Saya melihat gambar yang telah di uwel-uwel itu dan geleng-geleng kepala. Sebuah gambar Babi, dengan tulisan "K = Jeruk Babi"

Saya bilang kepada K bahwa kami perlu menghadap wali kelas, karena sudah 3 hari berturut-turut A melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Apalagi sudah pakai mendorong. Saya khawatir kalau kontak fisik seperti itu dibiarkan, akan semakin menjadi. 

Maka kami berdua mencari wali kelasnya, dan duduk bertiga saling curhat. Kenapa saling curhat? Karena pada akhir sesi konsultasi saya, si bapak gantian curhat mengenai anak-anak yang ikut pelajaran tambahan. Heuheuheu.

Intinya, saya merasa lega telah menyampaikan uneg-uneg dan kekhawatiran saya, dan berharap wali kelas bisa menyelipkan lebih banyak nilai-nilai pertemanan pada anak-anak. 

Dalam perjalanan pulang, di atas motor seperti biasa, saya ngobrol dengan K. Kadang harus berteriak-teriak untuk mengalahkan suara hujan. 

S: "Bunda masih berfikir kalau A itu sebetulnya pengen main aja sama K, jadi dia caper gitu. Cuma dia nggak tau harus bagaimana, jadi dia choose to be bad boy aja." Kata saya.

K: "Maybe...," dia sepertinya mengedikkan bahunya. 

S: "Kan kayak di Petualangan Sherina itu, Sherina sama Saddam kan juga gitu. Awalnya berantem melulu, lama-lama berteman. Kamu nyanyiin lagu Sherina aja kalau gitu ke A, yang - Dia pikir, dia yang paling hebat...-" kata saya. 

K: "Itu dulu aku udah nyanyi buat J Bunda." Katanya. 

S: "Lho, memangnya J juga nakalin kamu?" Saya kaget.

K: "Dulu. Sekarang udah temenan sama aku." Katanya. 

S: "Banyak amat yang nakalin kamu?" saya kepo.

K: "Dulu bunda, sekarang nggak lagi. Dulu pas aku nyanyi gitu ke J, dia ketawa terus bilang -Memangnya dia ayam jago?- gitu." Kamipun tertawa. 

S: "Tapi you see the point right? At the end, everything will be just fine, you all will be good friend. Seperti yang di film Sherina itu. Meskipun sekarang you feel hurt, tapi nggak papa. It will be fine." Saya berusaha menghibur K dan saya sendiri. Mengaminkan kalimat saya sendiri dengan keras di hati. 

K: "Iya."

S: "Nanti kalau A bikin gambar lagi pakai jeruk babi, kamu bilang aja -Kamu tuh mau nulis Jeruk Bali ya A? Kalau jeruk bali aku tau, kalau jeruk babi aku nggak tau. Pasti dia kesel." K tertawa terbahak-bahak di jok belakang saya.

K: "Pasti bunda dulu di bully juga ya pas sekolah?" giliran saya yang tertawa. 

S: "Haha, iya. Kayaknya kalau kita pengen biasa-biasa aja di sekolah, malah suka kena bully gitu ya. Oh iya K, bunda mau tanya. Kalau A berbuat tidak baik gitu, ada temennya nggak sih? Atau dia sendirian aja?" tanya saya.

K: " Ada. Si E. Kan bunda tau kan, kayak di film-film juga kalau ada bad boy, pasti ada helper nya gitu kan. Nah E itu helpernya A," kata K. 

S: "Atau kamu ngomong aja kali mbak sama A, Hey A, kamu tuh kenapa sih? Mau temenan sama aku? Kalau mau temenan jangan gitu. Kalau dia bilang nggak mau temenan, kamu bilang aja, kalau nggak mau temenan juga jangan kayak gitu. Pokoknya jangan kayak gitu aja." 

K tertawa mendengar saran absurd saya. 

Rasa penasaran saya terobati, dan sisa perjalanan kami habiskan dengan bercandaan mengenai film Petualangan Sherina dan kejadian yang menimpa K. Saya menggoda K bahwa jika nanti saya bertemu dengan A dan K, saya akan meminta mereka berdua berfoto dengan gaya Sherina dan Saddam di film itu. Untuk kenang-kenangan kalau sudah besar nanti. 

It still beautiful day, isn't it K? :-)



Wednesday, September 7, 2022

2nd Bad Day at School of K

Well, what can I say... Selain daripada sebuah disclaimer bahwa "Tulisan ini adalah berdasarkan satu sisi anak saya, belum di konfirmasi dengan pihak lain".

Rupanya, hari ini masih menjadi bad day untuk K di sekolah. Walaupun tanpa ada air mata lagi, karena K sudah lebih siap dan kuat hatinya. Tapi saya sedih dan hampir menangis mendengarnya. Maklum bendungan air mata saya ini suka ambrol kalau mendengar sesuatu yang sensitif. 

Begini cerita K saat saya menjemputnya di sekolah: 

S: "Gimana hari ini?" Pertanyaan standar saya setiap kali menjemputnya di Hall. 

K: "Hari ini even worst bunda..." Heee??? Saya deg-degan mendengarnya, tetapi berusaha untuk tidak kelihatan kaget. 

S: "What is the story?" 

K: " Tapi bunda don't say a word sebelum aku finish cerita. ok? Not a word." Yaelah, bikin emak makin was-was aja. 

S: "Iyaaa... Janji," jawab saya.

K: "Jadi, tadi A ngomong sama aku gini - Heh kamu anak m*s**m, ngapain kamu di sini? Ini kan tempat anak K***t*n sama K***l*k doank- gitu coba bunda." Saya yang mendengar cerita K, benar-benar sedih. 

Hal ini sudah saya duga akan terjadi, tetapi saya tidak menyangka secepat ini dia bertemu dengan teman yang 'begini'. Saya perhatikan raut wajah K saat dia bercerita, hati saya menghangat karena dia tidak sedih ataupun tertekan. Dia bercerita dengan ceria. 

S: "Masak sih dia ngomong gitu? Kok mean sekali temen kamu?" Saya sambil sedikit tertawa menutupi kesal di hati. 

K: "Terus dia bilang lagi gini, coba K kamu ngaca. Eh jangan deh nanti kacanya pecah. Soalnya wajah kamu kan jelek banget." Kekagetan saya belum berhenti.

S: "Hah? Beneran dia bilang gitu?" 

K: "Iya."

S: "Kamu bilang Pak R nggak?" tanya saya.

K: "Enggak." Katanya. 

S: "Terus pas dia bilang kayak gitu, kamu gimana? Aku dance floss aja di depan dia sambil bilang oke... oke... gitu"

S: "Kok gitu ya A..." kata saya. 

K: "Tapi bunda... The funny thing is... Kan tadi hasil ulangan Bahasa Indonesia dibagiin. Aku nilainya nggak remed sih, tapi passs banget sama KKM (eeeaaa... pembuukaan yang ciamik). Tapiii, A nilainya berapa coba? 31 donk. Kayaknya Tuhan menegur dia karena kemarin dia mean sama aku ya bunda," saya terkekeh mendengar kata-katanya dan mengangguk-angguk saja. 

S: "Tapi so sad juga ya ada temen kamu yang masih ngebeda-bedain teman karena agama. Poor A...," kata saya. 

K: "Kok poor A? kenapa bunda kasihan sama dia?" tanyanya nge-gas.

S: "Ya maksudnya berarti dia nggak open minded gitu. Sama hatinya juga nggak terbuka. Kan kasihan. Dia perlu bimbingan lebih dari orang tua atau gurunya." Kata saya.

K: "Padahal kan di pelajaran BK susternya udah ngasih tau. Kayaknya A nggak dengerin susternya pas BK. Jadi kayak gitu." Sungutnya. 

S: "Iya, makanya kasihan dia ya... Nggak papa deh. Kan kamu sudah maafkan tadi malam. Nanti malam pas berdoa kamu maafkan juga aja. Biar Tuhan kasih jalan ke A untuk jadi lebih baik." kata saya. 

Kamipun berkendara motor menuju salah satu resto makanan cepat saji sebelum ke tempat K les. Hari ini, pilihannya berbeda dengan yang kemarin, tapi yang lokasinya di seberangnya. Makan ayam goreng. Eeeaaa. 

Sungguh hari ini hati saya pun masih gemassshhh... Rencanya, kalau besok masih ada kejadian lagi dengan anak yang sama, maka saya akan mengambil tindakan dengan memberitahu wali kelasnya. Supaya beliau lebih memantau anak tersebut, jika saja ada yang perlu dikhawatirkan. 

Life is not always rainbows and butterflies ya Mbak K... But it's still sad to know that you have to start this early year :-)

Tuesday, September 6, 2022

Today is K's 1st Bad Day at School

Hari ini, saya ingin menceritakan cerita anak saya, K, saat saya menjemputnya di sekolah tadi siang dan juga malam ini saat dia bersiap tidur. 

Seperti biasa, saya menunggu giliran dipanggil untuk mengambil K dari wali kelasnya. Saya melihat K yang berada di baris ke-3,  menatap saya dengan sayu. Kelelahan sepertinya, pikir saya. 

Setelah nama K di sebut, saya bergerak maju menggandeng tangannya. Saat itu dia langsung menubruk saya, dan menangis. Saya tunggu sejenak sebelum menanyakan kenapa dia menangis. Rupanya, ada kejadian tidak menyenangkan di kelasnya tadi. Katanya, temannya yang bernama A menjepit tangannya di meja. Saya menenangkan dan mengajaknya berjalan keluar dari Hall sekolah menuju pinggiran lapangan basket. 

Setelah duduk dengan nyaman, saya minta dia yang masih terus menangis menceritakan apa yang terjadi, dan meluncurlah cerita dari bibir mungilnya. 

Saya: "Jadi apa yang terjadi mbak?"

K: "Jadi, tadi kan aku lagi main sama temen-temen aku. Terus aku bercanda ambil penggaris A gitu kan, tapi aku kembalikan kok bunda. Tapi A langsung pegang tangan aku gini (dia peragakan dengan tangan) terus tanganku di tindih pakai tangannya gini di meja. Sakit banget bunda. Tadi warnanya sampai biru gitu" katanya. 

S: "Ya ampun, sakit banget ya? Coba telapaknya diginiin, bisa nggak?" tanya saya sambil memperagakan buka tutup telapak tangan. 

K: "Bisa tapi masih sedikit sakit" katanya lagi. 

S: "Duh, kasihan kamu mbak. Nggak papa, yang penting sekarang udah nggak terlalu sakit ya?"

K: "Terus ada lagi bunda. Dia blaming aku mencuri penggarisnya gitu. Padahal kan udah aku balikin. Malah dia blaming aku mencuri." Tangisnya semakin deras, membuat saya ikut bersedih merasakan patah hatinya K dibilang pencuri. Duh, anakku yang halus hatinya... 

S: "I am sorry to hear that. Bunda tahu kamu nggak bakal mencuri kok. Dan kan sudah dikembalikan. It's okay. Jangan sedih lagi ya. Temen-temen kamu lihat nggak pas kejadian itu?" tanya saya. 

K: "Lihat. Terus WP yang temennya A aja, jadi males main sama A gitu." Katanya lagi. 

S: "Tuh kan, berarti kamu nggak usah sedih lagi. Karena temen kamu juga tahu kan kalau kamu anak baik, dan A berbuat tidak baik sama kamu. Nanti Tuhan yang kasih teguran sama dia ya." Kata saya. 

Akhirnya K berhenti menangis dan bisa tersenyum lagi. Meskipun mengalami hari yang panjang, melelahkan (Pelajaran Olahraga dan Ekskul Pramuka di hari yang sama), dan juga patah hati, K masih mau berangkat les. Sebagai hiburan, dia makan siang di salah satu restoran cepat saji yang terkenal dengan burger nya. Good Job K!

*** 

Tadi sore, K mengulangi kembali cerita sedihnya pada ayahnya. Dari suaranya, dia tidak lagi sesedih tadi siang, bisa menceritakan pengalamannya dengan tertawa-tawa. 

Sebelum tidur, seperti biasa dia minta dibacakan cerita dan berdoa bersama. Saat berdoa, sepertinya K kembali merasa kesal dan marah saat saya minta dia mengikuti kalimat saya setelah berdoa Bismika Allahumma Ahya Wabismika Wa'ammut. 

S: "..... Ya Allah, saya maafkan A... " hening... K tidak mau mengikuti saya. Saya ulang beberapa kali, K tetap tidak mau mengikuti saya. 

S: "K, kalau misalkan A minta maaf sama kamu, dan kamu memaafkan dia, point dia 1, point dia juga 1. Kalau A nggak minta maaf tapi kamu memaafkan, itu dia nggak dapet point, tapi kamu dapet point. Malaikat di pundak kanan kamu mencatat itu. Jadi nanti Tuhan mudah untuk memutuskan, konsekuensi apa yang layak A dapetin" 

K tetap tidak mau berdoa untuk memaafkan A. Akhirnya saya ganti kalimatnya,

S: "Ya Allah... Saya maafkan semua teman yang berbuat tidak baik pada saya hari ini. Semoga saya bisa tidur dengan hati yang lebih damai malam ini. Aamiin." K mengikuti doanya, dan Ia pun tidur. 

Saya mengerti perasaan K hari ini. Semoga besok, hari-hari di sekolahnya lebih lancar, ringan, dan menyenangkan untuknya. Aamiin.