Friday, January 29, 2021

Untitled Bad Day

Well, today is just another (bad) day... I Guess

Sepertinya saya PMS. 

Nafsu untuk memamah (bukan biak) manusia memenuhi dada dan kepala. Tapi on the bright side, ini membuat saya menambah deretan dunia khayal saya. Jikalau suatu saat saya kebanjiran uang dan peluang, saya akan mengumpulkan teman-teman yang pintar berbahasa inggris dan ingin mengajar bahasa inggris, ataupun merekrut orang yang ingin mengajar bahasa inggris. Syaratnya cuma satu (selain daripada kemampuan bahasa inggrisnya pastinya), yaitu mengedepankan pelayanan dan memiliki mental melayani. 

Dalam kegemasan saya hari ini, saya semakin memahami ke-masuk akal-an biaya sekolah yang nilainya bisa membuat kita geleng-geleng kepala di jaman now. Apalagi kalau sekolahnya sudah menggunakan tagline "International school" atau "English as a daily language" nya. Kenapa? Karena anak-anak akan mendapatkan pelajaran dan praktek bahasa inggris lebih banyak, dilingkungan yang menyenangkan (setidaknya mostly menyenangkan). Bukan di lingkungan yang kadang terasa diskriminasi atau mengecilkan orang lain, entah dengan pertimbangan apa. 

Long short story, akhirnya K, Saya, dan Mas Bojo memutuskan untuk bergabung dengan sebuah lembaga bahasa inggris yang konon katanya cukup melegenda dengan pengalamannya yang lebih dari 40 tahunan itu. Long story nya sangat long, jadi saya simpan untuk kapan-kapan (kalau mau) ya. 

Sebetulnya saya ingin bercerita panjang lebar mengenai pengalaman yang menggemaskan hari ini, namun saya kok malas membuang lebih banyak energi untuk itu. Tapi saya juga tidak ingin memendam kesal karena PMS hari ini didalam hati. Jadi, saya keluarkan banyak-banyak, namun sedikit saja tulisan disini. Sekedar pengingat mengenai konsekuensi yang pernah kami ambil bersama. Seperti sebuah kata bijak yang berbunyi, "Tidak ada kesalahan, yang ada hanyalah sebuah keputusan dan konsekuensi yang harus kita terima dan jalani". Exactly. 

Obrolan saya hari ini bersama teman yang anaknya ikut kelas bahasa yang sama, namun ditempat yang lain: 

Saya: "Hei, selama ini, komunikasi tentang kelasnya M di situ, pakai apa? WA? lancar?"

Teman 1: "Halo, iya pake WA. Lancar. Selalu dibalas cepet. Aku punya 3 nomer, 3-3 nya selalu fast respond"

Saya : hhh... okay, catet dulu. 


Kemudian saya bertanya pada teman yang anaknya ikut kelas di tempat yang sama dengan K, hanya berbeda level: 

Saya: "Hei, lo komunikasi sama itu, via WA juga? Lancar?" 

Teman 2: "Enggak bangettt... Nggak lancar... bla bla bla bla... Cuma karena gw udah bayar sekaligus aja ini jadi mau nggak mau terus... Bingung mau pindah kemana... Males kalau blah blah blah..." 

Curhatnya lebih panjang dari saya. Catet dulu. 

Sayapun bertanya pada tetangga yang anaknya juga ikut kelas di tempat yang sama, berbeda level juga. 

Saya: "Tante, komunikasi sama itu pake apa? WA? Lancar?"

Teman 3: "Enggak mbak. Nggak lancar blasss. Awalnya saya pikir karena beda level sama murid lain. Maklum yang lain dijemput pake alphard atau mercy. Tapi setelah online kok ya sama aja"

Saya tertawa mendengar alasan tetangga saya. Mas Bojo yang mendengar alasan tetangga saya, mengiyakan karena dia banyak mendengar berita tentang diskriminasi yang terjadi di lembaga itu. Catet lagi. 

Mau tahu obrolan saya dengan mereka? It's be like:

(Ini setelah sebelumnya pernah kejadian juga, pesan tidak dibaca sampai dengan waktunya trial. Ketika selesai trial, Mbak nya bilang "Nanti kalau ada pertanyaan, silakan di WA saja bu". Dan saya langsung menjawab "Oh, ok. Tapi mungkin WA saya kemarin dibaca dulu kali ya mbak?" eeerrr) 

Date: 27 January 2021 - 10 pagi

Saya: Pagi, maaf mau nanya kalau buku les K ready kapan ya?

.

.

.

08.30 malam

Mereka: Baru dibaca dan dibalas, mengatakan bahwa akan mengecek dengan finance.


Date: 29 January 2021 - 1 siang

Saya: Udah ada hasil ngeceknya belum ya? (Sudah malas bermanis-manis rasanya)

Jam 2 siang dibalas (cepet hitungannya ini yekaaan)

Mereka: Siang ibu, bukunya baru ready di hari ini, maaf baru mengabari kembali. Sudah dapat diambil ya mama K. Terima kasih. 

Saya: Ok. Saya kirim gojek. 


Setelah buku tiba, saya melihat benar-benar hanya 2 buah buku tanpa petunjuk apapun. Jadi saya WA lagi mereka. Sangking malasnya basa-basi, saya WA: 

Saya: "Would you mind to give us guidance on how to join the class next week, please? "

Ajaib!!!

Langsung dibuka, langsung dibalas. Amazing, huh? 

Saya: "Nice to hear your quick respond. finally. for once. Thank you. 

Dan ternyata ketika saya log in ke web nya, jadwalnya belum ada. Aaarrrggghhh... Malas banget sebenernya balik lagi nanya. Apbolbu lah ya. Apa boleh buat... 

Saya: "One more question please. When will the schedule of the class available in the website?"

Dan amazingly, langsung dibuka, dan dibalas. 


Well, it is what it is...

Sudah bayar, sudah komitmen ikut kelas selama kurang lebih 4 bulan, jadi ya Suck It Up, Wilis!!! 


Sekian curahan erosi jiwa emak-emak yang lagi PMS ini. You guys have a good weekend! :-)

Monday, January 18, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day6

 January School From Home - Writing Challenge #Day6


Challenge hari ini sebetulnya membuat saya pengen tertawa, tapi juga ikut prihatin. 

Pelajaran pertama adalah pelajaran Agama. 

K: "Bu M***** kalau di video suaranya pelan, halus. Kok kalau google meet jadi galak?" 

Saya: "Bukan galak, tapi suaranya nadanya tinggi aja. Kan nada suara macam-macam. Ada sopran, dll"

Saat tanya jawab, 

K: "Aku kok nggak pernah dipanggil sih? Ibunya nggak suka sama aku jadi aku nggak dipanggil"

Saya: "Bukan nggak suka, tapi muridnya kan banyak. Jadi nggak semua dipanggil" 

Dan beberapa menit kemudian, drama rengekan dan tangisan karena K merasa tidak diperhatikan gurunya berlanjut. 

Saya: "Nggak usah sedih, nanti Bunda tanya Bu T****. Siapa tahu karena ini pelajaran Agama Katolik, jadi cuma yang agamanya Katolik saja yang dipanggil" 

Drama 1 selesai. 

Pelajaran kedua adalah pelajaran Olah Raga, tidak ada drama yang berarti. Good girl! 

Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran BK. Ada guru baru, jadi perkenalan. Karena perkenalan, jadi mic lebih banyak menyala. Seperti biasa, drama per-berisik-an mulai.

K: "Berisik banget bunda, aku nggak denger apa-apa gurunya bilang. Sakit kepalaku... "Dan seterusnya, mantra yang diucapkan K. #eeerrr

Pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris. Ini adalah puncak drama hari ini. Karena K tidak juga disebut namanya. 

K: "Aku itu uselesss banget makanya nggak dipanggil sama gurunya" nangis. 

Saya: "Enggak donk sayang. Bukan useless. Tapi belum aja. Nanti juga dipanggil"

1 menit, 2 menit, 3 menit...

K: "Tuh kan, I am so weak jadi gurunya nggak mau panggil aku" nangis semakin keras, dan saya sedih.

Saya: "K, muridnya kan ada 36 enam, waktunya sedikit banget... Jadi nggak semua anak dipanggil. Terus kan itu belum selesai. Siapa tahu nanti di panggil, jadi harus tetap menyimak penjelasan biar nanti kalau ditanya bisa" 

1 menit, 2 menit, 3 menit 

K: "Aku memang weak banget, useless banget. Gurunya nggak mau manggil aku. Itu D***** dipanggil 2 kali" nangis kejer.

Saya: "Gurunya nggak bikin list ini mungkin ya. Jadi lupa kalau tadi dia udah dipanggil. Tuh dengerin, yang dipanggil kan anak-anak yang nggak nyimak, yang malah main. You're so great in english, jadi gurunya nggak khawatir sama kemampuan nya kamu..." Mulai kehilangan stok penjelasan. 

K: "Tapi kan aku juga mau dipanggil. Aku nggak mau sekolah lagi kalau gitu. Useless banget nggak dipanggil juga" Menghadap jendela.

Saya: "Nanti bunda kasih masukan ke bu guru biar dibikinin abses jadi semua dapet giliran ya... Next time will be better". 

Google meet end. Drama end. 

#Smangadh









Saturday, January 16, 2021

It Is Time To Be Leh Leh Luweh

Hellow... 

Selamat pagiii... Cuma mau berbagi cerita sedikit sih pagi ini. Karena rasanya semangadh sedang muncul, jadi pengen meninggalkan jejak disini. 

Sepertinya, energi perpindahan tahun 2020 ke 2021 memang berbeda ya. Atau hanya saya saja yang merasakannya? 

Rasa optimis, semangadh, lebih legowo, semeleh, dan leh leh luweh beriringan mengiringi hari demi hari yang berganti di tahun yang baru ini. 

Untuk beberapa teman yang sudah tahu, bukan hal yang baru kan kalau saya ngomong tentang rajut merajut. Untuk saya yang berpedoman pada kalimat "Karena Merajut Tak Hanya Untuk Yang Berusia Lanjut" ini, merajut banyak sekali gunanya. Sudah banyak saya ceritakan juga di postingan sebelum-sebelumnya. 

Nah, sudah cukup lama juga sebetulnya saya membuat akun IG jualan untuk barang-barang rajutan saja. Well, sebetulnya bukan khususon untuk jualan sih. Lebih tepatnya untuk pamer alias show room barang yang pernah saya bikin saja. Selama ini saya selalu malu kalau ingin menjual hasil karya saya, karena sepertinya belum ada yang sempurna gitu hasilnya. Jadi kebanyakan barang-barang tersebut jadi hadiah untuk orang-orang tersayang, ataupun untuk doorprize acara saja. Malu bo'! :-)

Namun tahun ini saya tidak ingin malu lagi. Saya terinspirasi dari Kakak Ayunda yang sekarang sedang tinggal di Belanda, dia bekerja, banyak membaca, banyak menulis, banyak merajut, dan membuat toko online untuk produk-produknya. Saya juga jadi ketularan semangadh nya. Semoga segera sehat pulih ya kakak! 

Salah satu manfaat dari medsos walking yang dilakukan sesekali, adalah mencari suntikan semangadh yang kadang stoknya menipis dalam diri. Asal kita mencari pada sudut-sudut yang benar. Jangan malah terjebak pada sudut yang menguras habis semangadh kita yang tinggal digaris merah itu yekaaan :-)

Nah, kembali pada leh leh luweh yang saya rasakan di tahun ini, akhirnya saya dengan bangga memasang nama "kaena.ku" di bio IG saya. Mencatatkan diri saya sebagai owner dari sebuah usaha kecil yang masih berdasar hobi. Tapi saya bangga. Saya merasa senyum saya bertambah satu cm ke kanan dan satu cm kekiri setiap melihat rajutan saya selesai. Entah apakah akan dibeli orang ataukah berakhir untuk hadiah. Doesn't matter. I am owner of my own business line. Yeayyy!!! 

Ini juga salah satu bentuk ikhtiar untuk mengisi waktu dengan hal yang lebih berarti. Wish it goes well yaaa ^_^

Itu saja sih sharing weekend ini. Have a nice and productive weekend dear good people! 

Wednesday, January 13, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day3

January School From Home - Writing Challenge #Day3


Whatsapp Group PJJ: "Besok, Rabu 13 January 2021 materi PJJ adalah Matematika" 


Selasa malam menjelang tidur: 

Saya: "Mbak K, besok kita sekolahnya belajar Matematika"

K: "Asik, I love Matematika" Katanya. 

Saya: "I know. Jadi besok kita kerjasama yang baik ya sekolahnya biar lanca, selesai cepat, dan semua happy. Ok?" Kata saya dengan yakin, untuk meyakinkan diri sendiri.


 Rabu, 13 January 2021

06.00 WIB

Saya: "K, Ayok bangun kan mau sekolah" 

K: "Sebentar Bunda... Aku masih ngantuk bangettt...." 

Setelah berkali-kali dibangunkan dan mendapat jawaban yang sama, akhirnya dia bangun jam 06.40 WIB.


06.45 WIB

Saya: "K, ayok kita sarapan dulu terus mandi. Udah mau masuk ini sekolahnya" Kata saya.

K: "Sebentar Bunda... Aku kan baru banguuun.." 

Setelah berkali-kali diajak, baru berhasil bersiap jam 07.40 WIB.


08.00 WIB

Saya: "K, Ayok kita mulai sekolah. Matematika. Sudah terlambat ini kita" Kata saya.

K: "Iyaaa... Sabaaarrr..." 

Saya: "Berdoa dulu yuk..." 

K: "!@##$$%%^" Berdoa dengan nada tidak jelas.

Saya: "Yang betul berdoanya biar Tuhan mudah mengabulkan" Kata saya mulai pasang kuda-kuda, K berdoa dengan benar. 

Saya: "Kita belajar dari Power Point nya dulu ya... Baru nanti menonton video nya biar lebih mengerti... Sekarang kita belajar penempatan bilangan, penjumlahan bersusun. Penempatan bilangan itu..." Belum selesai saya menjelaskan, K menyahut...

K: " Iyaaa... Aku udah tahu. Ini gampil. Aku udah belajar di TK" Katanya

Saya: "Kita belajar lagi biar lebih mengerti ya"

K:" Ish, Bunda nih... Aku udah tahuuu.... Lanjut aja" Saya mulai menghela nafas sedikit lebih banyak.

Saya: "Ya udah, bener ya udah bisa. Kalau gitu kita belajar penjumlahan bersusun saja. Nih, bentuknya begini.... Yang ini, kan angkanya 16. Berarti 1 puluhan ditambah 6 satuan. Yang ini angkanya 3, berarti 3 satuan. 6 ditambah 3 sama dengan 9, ditulis dibawahnya. Yang angka 1 puluhan... " Lagi-lagi, belum selesai saya menjelaskan, K memotong kalimat saya...

K: "Haduh bunda, I don't understand banget itu apa... I can not think..." Nafas saya 3 detik lebih panjang dari biasanya. 

Saya: "Ya udah kalau gitu nonton video nya Bu Guru saja. Siapa tahu kamu jadi lebih paham" Saya putarkan video yang disiapkan oleh ibu guru nya, dan dia nampak menyimak. 


Saat video tutorial nya selesai, sampailah dihalaman yang memuat halaman tugas yang harus dikerjakan. 

Saya: "Sudah selesai kan? Yuk kita kerjakan tugasnya" Saya menyiapkan bukunya. 

K: "Aku kok mulai ngantuk lagi ya bunda" Katanya sambil menguap. 

Saya: "Nanti malam tidurnya jangan malam lagi. Tidur sore lagi biar pagi semangat" 

K: "Aku memang nggak semangat kalau sekolah" Otak saya sudah mulai menghangat. 

Saya: "Nih, yang halaman pertama gampil banget. Kamu pasti bisa" Kata saya menunjukkan halaman buku yang dimaksud.

K: "Iya, ini sih gampang banget. Easy peasy lemon squeesy" Katanya sambil mengerjakan. 


Saya duduk di sofa dibelakang kursi K, dan memilih untuk merajut. Jaga-jaga kalau ternyata butuh pengalihan. 


K: "Kalau aku bilang ping ping... Berarti I need help ya Bunda... Jadi Bunda kesini" Kata K. Saya tertawa dan mengiyakan. 

K: "Ping ping" Katanya

Saya: "I am coming"

K: "Ini banyak banget gambarnya. Kalau aku tambahkan semuanya ini sama ini sama ini, udah banyak banget aku menghitungnya..." Katanya. 

Saya: "Ya kan nggak disuruh menghitung semua. Mana sekarang yang belum bisa? Eh udah semua yang ini. Ok kita ke halaman selanjutnya ya... " 

K: "Sebentar Bunda, aku mau ambil minum dulu" K beranjak ke dapur dan saya menyiapkan halaman selanjutnya. 

Lamat-lamat saya mendengar suara ayahnya K ngobrol dengan K. 

Ayah: "Sudah selesai sekolahnya?" Tanya Ayahnya

K: "Belum, aku mau ambil minum dulu" Suara K.

Ayah: "Ambil minum kok malah tiduran di kursi?" Suara Ayahnya. Saya yang mendengar, langsung keluar. 

Saya: "Katanya ambil minum, kok malah tiduran?" 

K: "Iiih... Ayah nih spoiler. Aku nggak mau belajar lagi kalau ayah spoiler gitu..." 

Dan drama pertama pagi ini (kalau yang sebelumnya masih belum termasuk drama), dimulai. K ngambek dan lari ke balkon sambil bilang bahwa dia tidak mau belajar lagi karena ayahnya spoiler. 

Baiquelah... Setelah beberapa menit berlalu hanya untuk membujuk anak wedhok, akhirnya dia mau duduk manis kembali untuk sekolah. 

Saya: "Yuk kerjain yang ini. Ini tadi yang bunda jelasin itu. Tulis dulu berapa puluhan dan berapa satuan, baru ditulis angka hasilnya" Kata saya kemudian merajut untuk mengurai emosi yang mulai bangkit. 

K (baru selesai 1 nomer): "Aduh bunda... Aku headache banget ini... Bentar aku minum dulu..." 

Dia ke dapur untuk minum (menolak membawa cangkirnya ke tempat sekolah), dan kembali duduk meneruskan pekerjaannya. Setelah beberapa nomor selesai, dia kembali lagi berkata.

K: "Bunda, aku beneran headache ini sekarang. Kenapa ya?" Tanyanya. 

Saya: "Karena kemarin-kemarin otaknya kebanyakan istirahat. Sekarang diajakin mikir jadi terasa sedikit sakit. Bunda juga kalau lagi banyak pekerjaan begitu. Yuk lanjutin masih banyak ini tugasnya" Kata saya. 

K: "Sebentar, aku stretching dulu ya... Mungkin nanti headache aku hilang" Dan dia bergerak-gerak pemanasan kecil, baru kemudian melanjutkan tugasnya. 

Saya: "K, kalau kamu ngerjainnya banyak selingan begitu, malah nggak selesai-selesai lho. Jadi lama" 

K: "Bunda ini nggak sabaran banget. Sabar donk Bunda. Coba saja Bunda yang ngerjain. Memang nya dulu Bunda juga mengerjakan begini?" 

Emosi yang sempat mereda dengan rajutan, kembali terusik. Namun seolah mendapat angin segar untuk memompa semangat K, saya mulai bernostalgia. 

Saya: "Iya donk... Dulu tuh ya, Bunda kalau ada tugas begini, semangat banget ngerjainnya. Pengen cepet selesai karena kalau sudah selesai, kan tinggal main nggak mikir tugas lagi. Terus kalau ada buku begini, Bunda seneng banget, karena bisa buat latihan sendiri" Kata saya panjang lebar. 

K: "Pameeerrr... Sombooong... Bunda ini senengannya pamer deh" Bah! Gimana ini ceritanya. Saya diam. 

Dan beberapa obrolan/diskusi/perdebatan/drama diatas, berulang dan berulang beberapa kali. Hingga akhirnya tugasnya benar-benar selesai. 

Hari ini saya cukup senang, karena ternyata sambil merajut, saya bisa meredam emosi yang kemarin sempat meledak-ledak hingga saya nyaris menangis. 


*** 


Dear Covid, please hear my voice from deep down of my heart. 

You are so mean

You make million people suffer. 

Suffer from the lost of loved one, suffer from being isolated with very limited access, suffer for having double triple job in the same time as Mother/Wife, worker, teacher, and many other things. 

Please, go away. Aamiin

#DramaSFH #DramaPJJ #WhenMomBecomeAnEnemy

Tuesday, January 12, 2021

Bisa Karena Kepepet, Lama-Lama Jadi Biasa

Kali ini saya hanya ingin berbagi hal kecil (tapi sangat besar untuk saya, Mas Bojo, dan K) yang terjadi minggu lalu. Tepatnya di Mall yang letaknya selangkah di depan perumahan kami. 

Jadi waktu itu, kami sedikit belanja karena ada beberapa kebutuhan yang harus kami beli. Setelah selesai dengan semua barang yang kami perlukan, kami berjalan ke kasir. K ingin membeli cokelat yang bungkusnya berwarna biru (atau ungu deh?) itu, yang mana sekarang diletakkan didalam kaca. Jadi harus menghubungi penjaganya untuk bisa mengambil. 

K: "Bunda, aku mau coklat yang biasa aku beli itu lho" Katanya

Saya: "Boleh, kamu bilang ke mbak nya, nanti diambilin sama mbaknya" Kata saya. 

K: "Bunda aja... Kan Bunda bisa..." 

Beberapa kali K meminta saya untuk mengambilkan, namun saya menolak dan memintanya untuk mencari mbak penjaga. Mas Bojo, seperti biasa. Tidak tahan dengan rengekan anaknya, terus mencoba berjalan ke arah coklat itu. 

Saya: "Ayah, no. Biar K minta ke mbak nya sendiri. Itu nggak bisa kita ambil langsung. Harus sama mbak nya" Kata saya. K marah mengetahui saya melarang ayahnya. 

K: "Bunda kenapa sih? Biasanya kan juga ayah yang ambilin aku. Kenapa sekarang dilarang?" 

Saya: "Karena sudah saatnya kamu belajar untuk berani mbak. You want it, you earn it"

Setelah itu, adegan K berputar-putar dari gang ke gang berjalan cukup lama. Saya sangat memahami perasaannya, dimana dia sangat menginginkan sesuatu, namun juga sangat malu dan tidak berani memanggil penjaganya. Dulu waktu kecil pun, saya seperti dia. Persis. Sering saya menginginkan sesuatu, namun saya terlalu malu untuk bertanya atau meminta. Sehingga jatuhnya hanyalah berupa rengekan, dan berbalas dengan cubitan manjah dari alm ibuk saya tercinta :-)

Saya ingin K lebih baik daripada saya. Dia yang memang termasuk anak yang sedikit pemalu itu, harus mencoba untuk mulai berani. Saya yakin jika sekali ini dia berhasil mengalahkan rasa malunya, kedepan dia tidak akan pernah malu atau takut lagi untuk melakukan hal yang sama. Level PD nya akan meningkat pesat, saya yakin sekali. 

Beberapa kali K kembali kepada saya dan Mas Bojo yang menunggu didekat kasir, namun saya tak bergeming. Ayahnya mulai tidak sabar, namun saya masih bisa meyakinkannya. K berputar-putar tak tentu arah selama beberapa lama lagi. Kami pura-pura tidak melihat. 

K: "Bunda, bunda aja yang bilang mbak nya..." Kata K kembali mendekat pada saya. 

Saya: "Kamu nggak terlalu mau coklat itu?" 

K: "Aku mau bangettt bunda..." 

Saya: "Kalau kamu mau banget, go find mbak nya, bilang kalau kamu mau beli coklat yang didalam kaca. Yuk. Bunda sudah mau bayar ini" Saya mengajak ayahnya berjalan mengantri di kasir. 

Saya dan Mas Bojo mulai mengantri di kasir, sedangkan K kembali lagi berputar-putar mengitari gang yang ada coklatnya. Ketika keranjang kami tepat berada didepan kasir, Mas Bojo mengerling ke arah rak coklat. Saya melirik sedikit dan melihat K bersama dengan mbak penjaga berjalan menuju rak coklat. Saya tersenyum. Saya tahu beberapa saat lagi K akan berlari ke arah kami dengan senyum yang sangat lebar, rasa bangga dan percaya diri yang membubung tinggi. Dan benar saja. 

Dia berlari mendekati kami dengan senyum penuh gigi lebar sekali. Saya memeluknya dan mengatakan bahwa saya sangat bangga menjadi bundanya.

Saya: "Coba lihat dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat pasti ya?" Tanya saya.

K: "Iya, aku deg-degan banget. Tapi aku bisa" Katanya.

Saya: "Tentu saja kamu bisa. Kamu kan hebat" 

Dan acara belanja sore itu, menjadi acara keluarga yang menyenangkan sekali. 

Sunday, January 3, 2021

Happy New Year, 2021!

Selamat Tahun Baru 2021!!!

Meskipun tidak pas tahun berganti banget, tapi ndak masalah lah ya. Better late than never, ceunah. 

Tahun Baru, Semangadh Baru!!! <-- Adalah motto saya tahun ini. Diucapkan dengan menggebu-gebu, dari dalam hati, kalau perlu sambil muncrat. Biar lebih terasa gregetnya. 

Tahun ini, saya tidak banyak membuat resolusi. Tapi saya sangat-sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan saya dan keluarga saya kesehatan dan kesempatan untuk bisa sampai di tahun baru ini. Karena seperti yang kita tahu, bisa melewati Tahun 2020 dengan selamat dan tetap waras saja, sudah merupakan anugerah yang tak terhingga. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?

Tahun 2021 ini saya buka dengan sebuah semangadh untuk mengalahkan diri saya sendiri. Mengalahkan ketakutan, rasa malu, ego, tidak percaya diri, dan juga idealisme dalam diri ini. Hal ini saya ejawantahkan melalui kelahiran buku cerita (novel) saya melalui platform online, Wattpad. Ini adalah ejawantah dari perenungan yang cukup lama, dan tarik ulur. Saya akan menceritakan kisahnya dibawah ini. Mungkin alurnya maju mundur, loncat-loncat, atau mungkin kurang nyambung disana dan disini. Karena masih terlalu banyak rasa yang membuncah di dalam dada ini sampai saat ini. - Lebay

Kisah yang saya beri judul 'Mencari Pelangi di Ujung Senja" ini sebetulnya berawal dari cerita pendek saja. Kalau penulis sekelas Dee Lestari menyebutnya manuscript, saya hanya cukup PD dengan menyebutnya sebagai coret-coretan. Cerita pendek ini sudah sangat lama saya tuliskan, kalau tidak salah sekitar tahun 2008 atau 2009. Saya lupa tepatnya. Cerita pendek yang terinspirasi dari kisah hidup teman saya kala itu. Namun ceritanya berdiam di hard disk saja. 

Sampai tahun 2020 kemarin saya menunjukkannya pada salah seorang teman yang pekerjaannya adalah menulis. Sebut saja namanya E K A. Saya masih ingat saat itu teman saya ini bertanya setelah membaca "Cerita kamu ini, bisa banget dibikin panjang. Kayak masih banyak yang bisa terjadi gitu di balik cerita kamu ini. Coba aja panjangin" Katanya. Dan kebetulan saat itu Gramedia Pustaka Utama sedang membuka kompetisi penulisan novel. Entah bagaimana saya kemudian mengikutkan diri dalam kompetisi itu. Saat itu saya sedang mengambil Sabbatical dari pekerjaan selama 6 minggu. Dan di saat itu, entah bagaimana rasanya ide begitu mudahnya mengalir membersamai perjalanan Siwi menjadi pelangi selepas senja. Hingga akhirnya kisahnya berakhir dengan kata T A M A T yang sangat saya banggakan. 

Awalnya saya dan Eka berniat membedah satu persatu bab yang ada. Saya membedah cerita, dan Eka membedah dari sisi penulisan, EYD, dll. Namun karena dia sibuk, akhirnya saya main hajar bleh semua cerita yang ada dikepala saja. Saya sempat meminta sepupu saya yang berinisial V I F I dan juga teman saya yang berinisial U P I , untuk membaca buku saya. Saya ingin mendapatkan feedback dari orang-orang yang dekat dengan saya terlebih dahulu. Namun sepertinya mereka adalah member #PasukanHalu yang sangat militan, sehingga mereka memuji tulisan saya dan berkata bagus. Vifi bahkan dengan rajin menanyakan pada saya "terusannya mana?" blah. Oh iya, #PasukanHalu itu adalah julukan saya pada teman maupun saudara yang berkenan ikut sedikit halu membaca cerita saya. Member terakhir yang bergabung adalah suami saya, saat dia mau melakukan checking di bagian Bahasa Sunda. hahaha

Pada akhirnya novel saya tidak terpilih, beberapa teman saya lolos. Tapi buat saya, saya sudah lolos terlebih dahulu ketika akhirnya bisa benar-benar punya cerita panjang yang tamat. Aaahhh... Bahagianya itu rasanya teramat sangat manis. Terima kasih untuk Eka yang telah menemukan satu kalimat yang hilang dari saya, yang kemudian memantik semua ini hingga sekarang. Juga terima kasih untuk #PasukanHalu yang dengan kata-kata indah alias sweet lips nya mampu membuat saya semakin halu dan menyelesaikan cerita dengan percaya diri. :-p

Tergambar dipelupuk mata saya, novel saya akan bertengger manis di rak buku saya, dan juga rak buku teman-teman saya. Terbayang saya akan dengan semangat mengiklankan buku saya pada teman-teman melalui medsos, WA, ataupun japri satu-satu. 

Pertengahan tahun 2020 hingga awal tahun 2021 adalah saat-saat yang sangat unik. Pandemi membuat semua keadaan diluar kendali. Anak sekolah di rumah, suami bekerja dari rumah, membuat rytme hidup saya berubah sedemikian drastis. Dari situ juga, banyak pertumbuhan yang saya mungkin kurang sadari. 

Saya berniat untuk mengurangi buku di rak-rak dan box-box, baik yang sudah pernah dibaca, ataupun yang sepertinya tidak akan saya baca. Namun misi ini selalu gagal. Karena setiap saya menurunkan semua buku untuk di pilah, pada akhirnya hampir semua yang menurut saya menarik akan kembali lagi nangkring manis di rak itu. Diam menjadi pajangan, namun enggan untuk direlakan. 

Dua teman saya yang sudah berhasil melewati fase kegalauan memilah buku, justru menawarkan buku-bukunya yang sudah tak memiliki tempat baik dirumahnya maupun dihatinya. Dan saya seperti biasa, dengan senang hati menerimanya. Lah?

Dua hal ini membuat saya berfikir. Jika buku sekelas bukunya Dee Lestari sampai Nora Robert saja bisa orang relakan untuk diberikan ke orang, apakah buku saya yang baru belajar ini akan menjadi pilihan bagi orang untuk mempertahankan? Mempertahankan dalam artian untuk dibaca karena senang, bukan karena rasa tidak enak karena kami berteman. Saya sendiri selama ini sering membeli buku karena "wah, temen bikin buku. Ya udah gw beli juga lah", namun tak harus menunggu tahun berganti, buku-buku tersebut (jika genre nya bukan yang saya senangi) pasti sudah lenyap dari pandangan. 

Selain itu, pengalaman saya dalam memasarkan buku Antologi Cerita Saat Jeda yang ditulis oleh 27 orang alumni Kaizen Semut Merah, yang di Ampu oleh Dee Lestari, juga membuat saya berfikir. Menjual karya sendiri, terlebih lagi buku, ternyata tidak mudah. Saya pernah jumawa bahwa teman-teman saya banyak, dan rata-rata mereka senang membaca. Kalau aku nulis dan cetak buku, mereka pasti belilah. Kan teman. Ternyata Cerita Saat Jeda membuka mata saya, bahwa tidak semudah itu Jendral!

Semangadh menggebu saya sedikit surut, melihat kenyataan bahwa mengajak teman atau saudara untuk membeli buku kita, tak semudah mengajak mereka untuk ngopi atau nongkrong. Meskipun biayanya sama. Meskipun mereka yang kita tahu senang membaca, belum tentu mereka mau membeli buku kita. For whatever reason for sure. :-p

Akhir tahun 2020, karena situasi masih pandemi, pergerakan masih dibatasi, saya banyak menghabiskan waktu dengan melihat-lihat lagi coretan-coretan lama saya. Ternyata, saat saya melakukan itu, muncul pertanyaan di kepala saya. "Aku menulis, untuk mencari uang, dikenal orang atau karena hobby dan menyalurkan isi kepala yang sering jalan-jalan sendiri?". Pertanyaan ini datang berulang-ulang setiap saya menilik kembali coretan saya. 

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti arah keinginan saya. Yang tadinya ingin mencetak buku-buku saya dan menjualnya sendiri, akhirnya saya niatkan untuk melahirkannya melalui platform membaca online. Dan untuk yang pertama (dan sepertinya yang kedua juga) ini, saya menggunakan Wattpad sebagai wadahnya. Tapi saya tidak mengubur keinginan untuk bisa mencetaknya menjadi buku yang bisa dipegang dan dipajang di rak buku, hanya tidak sekarang. Mungkin saat saya sudah punya satu atau dua buku lainnya, saya bisa mencetaknya bersama-sama. 

Dengan melahirkannya melalui platform online ini, hanya mereka yang benar-benar ingin membaca cerita saya lah yang mungkin akan mengikuti kisahnya. Namun tak mengapa. Bukankah itu salah satu tujuan kita menulis? Untuk dibaca, bukan sekedar di pajang, atau bahkan berakhir di tukang loak. 

Dulu, setidaknya sampai dengan awal Tahun 2020, saya masih befikir "mungkin kita bisa mencari uang dari menulis?" Namun kondisi pandemi 2020 membuat saya banyak mengikuti cerita para penulis. Dan akhirnya legowo dengan kenyataan "Kalau belum sebagus Dee Lestari atau Jodi Picoult atau JK Rowling, sebaiknya menulis lebih karena hobby saja" haha. 

Perjalanan di atas, menentukan arah Tahun 2021 untuk saya. Selain meneruskan resolusi turun temurun ini, saya akan work my ass so hard dengan pekerjaan kantor saya sehingga saya tetap bisa mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan saya akan work my ass so hard juga untuk menggunakan waktu luang dengan lebih baik lagi. Mungkin menulis sebanyak-banyaknya, mungkin merajut sebanyak-banyaknya, mungkin belajar sebanyak-banyaknya. Apapun itu, membuat waktu berlalu dengan lebih berisi sehingga hidup kita lebih berarti. 

Selamat Datang 2021, Bring It On!