Friday, January 23, 2009

Sebut Saja Namanya Bunga....

“Di sebelah mana kami masih bisa bangga?”

Sebut saja namanya “Bunga” (bukan nama sebenarnya, hanya lebih kepada kesan agar seperti acara2 diradio jaman dulu_red)

Bunga adalah seorang murid dari sekolah tinggi yang terkenal dengan para alumni yang banyak berkhianat terhadap identitas almamaternya. Bunga yang bertubuh subur makmur, juga merupakan penumpang dari mobil sebelum cerita ini (baca:mobil itu supirnya satu, kalau banyak malah bikin runyam). Hari kemaren (kamis_red), aku mendengar keluh kesahnya tentang sikap seseorang yang menurutnya kurang layak sebagai seorang penumpang mobil yang sama.

Begini ceritanya (menurut Bunga_red) :

Bunga yang masih termasuk baru bergabung dengan penumpang mobil itu, di “wulang” pelajaran oleh salah satu penumpang lama mobil itu juga. Sebagai seorang penumpang yang baru, maka sudah sewajarnya kalau dia masih aktif dan bersemangat dalam melakukan banyak hal seputar kegiatan penumpang mobil itu. Sayangnya, hal tersebut membuat dia ketinggalan beberapa jam belajarnya bersama dengan penumpang lama itu. Hal tersebut rupanya membuat Bunga terganjal untuk ikut ujian akhir. Maka, menghadaplah Bunga ke hadirat si penumpang lama. Setelah beberapa kali mendatangi tempat penumpang lama itu, Bunga baru bisa bertemu.

Berikut ini adalah cuplikan obrolan antara Bunga dengan penumpang lama itu :

Bunga (B) : Selamat siang pak

Penumpang Lama (PL) : selamat siang, ada apa?

B : Nama saya Bunga pak (untung tidak mengenalkan diri dengan :sebut saja nama saya Bunga. Hehehe)

PL : iya, kenapa?

B : saya ingin mengurus masalah absensi pak

PL : kenapa?

B : iya pak, waktu itu saya tidak bisa ikut belajar karena sedang ada kegiatan pak. Dan saya pernah lupa tidak mengisi absen. Jadi saya tidak mengisi absen 3 kali.

PL : kenapa kamu ikut kegiatan itu?

B : karena saya penumpang mobil yang baik pak

PL : orang tuamu bagaimana??

Bla…bla…bla….

(akhirnya si penumpang lama itu memberikan ceramah, wejangan, atau siraman rohani kepada Bunga tentang hal-hal yang kurang substansial)

B : iya pak, jadi bagaimana pak? Apakah saya masih bisa ikut ujian?

PL : saya nggak tahu

B : kalau UTS bisa pak?

PL : bisa

B : kalau UAS-nya pak?

PL : saya bilang saya nggak tahu…lha wong absennya juga bukan di saya

B : terus gimana pak?

Tiba-tiba si penumpang lama mengeluarkan pertanyaan yang tidak nyambung dengan masalah yang sedang dihadapi Bunga

PL : Kamu termasuk anggota penumpang mobil itu ya?

B : iya pak

PL : kamu tahu nggak kalau saya juga penumpang mobil itu?

B : tahu pak

PL : saya ini sekarang sudah tidak menyukai lagi mobil dan penumpang2nya itu.

B : oh ya pak? Baik pak terima kasih

Bunga langsung meninggalkan ruangan dengan perasaan yang tidak nyaman. Dalam hatinya dia merasa bahwa orang ini sangat tidak mencerminkan seorang penumpang mobil yang dia naiki juga. Sikapnya terlalu sombong dan aneh untuk seorang penumpang mobil. Tetapi Bunga menjadi maklum karena beberapa waktu ini, dia sudah banyak melihat penumpang2 lain yang bersikap sama. Termasuk dengan penumpang2 lama yang berusaha menjadi supir lagi.

Melihat kenyataan bahwa para penumpang lama sudah tidak bisa membuat penumpang baru merasa segan, timbul satu perasaan dihati bunga bahwa memang kebanggaan akan cantik, molek, anggun, kokoh, dan berjayanya mobil yang dia sayangi itu telah runtuh. Menyusutlah kebanggaan yang selama ini dia pupuk. Layulah kuncup2 cinta yang selama ini dia semikan didalam hati.

Kebanggaan seperti apa yang tersisa saat ini?? Beruntunglah kami masih mampu membangun kekeluargaan yang cukup erat di antara kami yang masih searah dan sejalan. Kami semua masih bisa tersenyum bersama di tingginya gunung, dalamnya goa, ramainya mall, serunya café, sederhananya warteg, dll.

Kebersamaan….

Thursday, January 22, 2009

Mobil Itu Supirnya Satu, Kalau Banyak Malah Bikin Runyam

Pelajaran Kedua Hari Ini

“Mobil Itu Supirnya Satu, Kalau Supirnya Banyak Malah Bikin Runyam”

Anggap saja kami sedang naik mobil gede banget….

Malam ini aku kembali bertemu dengan supir mobil yang selama ini aku dan teman-teman tumpangi. Mobil yang berjalan mengarah pada satu tujuan. Tujuan yang sangat jelas tertulis dipapan pengumuman, dan selalu diteriakkan oleh teman-teman kami ketika ada diantara kami yang mulai lupa. Mobil yang tak pernah penuh dengan penumpang, bahkan ketika dia selalu menaikkan penumpang tanpa mengeluarkannya.

Kembali pada supir kami….

Malam ini aku bertemu dengan dia ketika aku mengantarkan titipan buah dari salah satu penumpang lama mobil kami, yang baru dibawanya dari pulau sebrang. Ketika aku dating, supir kami sedang asyiknya bermain game seperti beberapa hari ini.

Beberapa obrolan kami lakukan, termasuk tentang kondisi mobil kami saat ini. Kata dia, mobil kami sekarang ini sedang sakit. Layak untuk dimasukkan ke bengkel. Kalau ibaratnya manusia, layak dibawa kerumah sakit. Kami yang ada diruangan yang sama malah jadi bingung, dan akhirnya bertanya kepadanya mengenai maksud dari perkataannya. Ya, kata supir kami, mobil kami sedang sakit karena para penumpangnya sudah banyak yang ingin menjadi supir. Kebanyakan dari penumpang mobil kami, saling berlomba, saling menunjukkan kehebatannya untuk dapat menjadi supir mobil kami. Padahal sudah jelas bahwa kami mempercayakan setir mobil kami kepadanya seorang.

Dia juga mengatakan bahwa awalnya kita semua sangat menghormati, menghargai, dan menyegani para penumpang yang terlebih dahulu memasuki mobil ini dan menempatkan diri selaku penumpang yang baik. Namun belakangan ini kami semua merasa bahwa memang ada pergeseran nilai tersebut. Mungkin karena seperti apa yang dibilang oleh supir kami tadi, yaitu karena semua ingin menjadi supir, maka mobil ini justru menuju kehancuran dan sakit.

Satu kalimat yang membuatku tersentak adalah ketika dengan tegas supirku mengatakan : “gila ya, mereka(pera penumpang lama_red) sekarang sudah tidak mendapatkan rasa simpati dari kita lagi. Kita sudah kehilangan rasa simpati dan respect kita sama mereka”

Bagi yang mengenal supir kami, maka kalimat sepanjang itu adalah mukjizat, karena bisa keluar dengan lancar dari mulutnya. Wouw…..

Dan yang tak kalah mencengangkan sekaligus memberikan aku semangat adalah ketika dia kembali berkata : “kalau mobil itu, dimana-mana yang nyetir Cuma satu. Kalau mereka mau, suruh daftar jadi kernet ajah…”

Hahahaha……boleh juga tuh. Tidak sedikit koq satu mobil sampai punya 3-4 kernet….

Mantap pak sopir…..smangadh ya….


Air Mengalir Sampai Jauh

Pelajaran Pertama Hari Ini

“Air Mengaliiirrrr……Sampai Jaaaauuuuhhhh….”

Kenapa air sebegitu pentingnya dalam hidup manusia?

Wueleh…pastinya kalau pertanyaan itu dipertanyakan kepada orang-orang yang kita temui, pasti jawaban yang beragamlah yang akan kita dapati. Setiap orang akan mengungkapkan jawaban yang berbeda, meskipun ada kemungkinan juga mereka menjawab dengan hal yang sama. (ya…scara kan guru SD biasanya menjelaskan hal2 yg seragam dari sabang sampai merauke. Dan ingatan waktu SD biasanya masih saja melekat dalam ingatan kita. BIASANYA lho…)

Kembali ke air…

Aku bukan ingin membahas tentang air yang berhubungan dengan perubahan iklim dunia, banjir, privatisasi, atau yang berat-berat lainnya. Ini hanyalah kisah tentang hari-hariku bersama dengan si makhluk bernama air. Jadi, kita tidak perlu mengkernyitkan dahi dan memonyongkan mulut ketika membaca ini. (kepedean_red).

Jam 06.00 wib aku mulai membuka mata (meskipun merupakan anugerah jika aku bisa seminggu penuh aja bangun jam segini). Yang pertama aku lakukan adalah mengucek-ucek mataku hingga berair. Terkadang ditambah dengan mengusap air yang sempat mengalir disamping mulut (iler_red). Setelah puas dengan air yang menempel, maka aku akan berjalan ke kamar mandi yang pasti lantainya berair karena memang belum di desain sbg kamar mandi kering. Lalu aku akan menggunakan air di bak untuk cuci muka, serta membersihkan sisa-sisa buang air.(hhiiii…). Kadang-kadang kalau mood-nya lagi bagus, aku langsung mengguyur badan dengan bergayung-gayung air alias mandi.

Keluar dari kamar mandi, aku lalu berjalan kedapur dan mengambil gelas untuk membuat the/kopi. Eh, gelasnya masih berair yang berarti si teteh pasti baru selesai mencucinya. Yo wis….

Segelas air the atau air kopi kemudian memasuki perutk u yang masih polos ini.

Puas dengan kopi dan sedikit gossip yang dibawakan pembawa acara favorit, aku kembali membaca-baca artikel dilayar kompie. Sejam dua jam masih ok, paling diselingi dengan membuang air atau membuat air minuman. Lama-lama, mataku pasti mulai berair karena kelamaan melototin layar kompie. Istirahat lagi sambil nonton berita di TV tentang banjir air di Jakarta. Wuih….tabah ya saudara-saudaraku di Jakarta, Kalimantan, pekalongan, dll….air yang banyak, malah membuat kalian susah.

Siang hari, waktunya makan. Menu andalanku jika di kampus adalah nasi seperempat, ikan bandeng yang dimasak pake air bumbu, sayur yang pake kuah, tempe goreng(sayangnya goreng pake minyak, bukan air_red). Kalau sedang di geko, menu andalanku adalah mie ayam diruko yang baru dengan air yang melimpah. Pastinya masih harus ditambah air minum donk….

Bogor, Bogor, Bogor…..

Belakangan ini, nampaknya matahari kalah tender sama hujan. Jadinya hujan lebih eksis menampakkan dirinya dengan tumpahan airnya. Dengan ditmani gemericik air hujan itu, aku kembali memelototi kompie dan membaca beberapa artikel dengan kecepatan super lambat. Mata berair kembali, istirahat, balik lagi, begitulah seterusnya.

Malam hari, waktunya minum air putih…(gila, kurang bgt asupan air putih kedalam tubuhku ini). Sambil makan malam, biasanya aku pesan air minum dari sari-sari buah(sebut saja namanya juice_red). Sebelum tidur cuci muka pake air. Dan kebersamaanku dengan air akan dimulai kembali esok paginya.

Eit, jangan lupa lho….

Ini hanya yang berhubungan langsung dengan aku. Padahal behind the scene nya juga banyak banget lho. Kayak ada tukang warung nganterin gallon isi air, ada ibu-ibu nyiram bunga pake air, ada bapak-bapak yang nyuci mobil pake air, dan masih banyak hal lagi yang membuat kita berhubungan dengan air.

Tapi kalau menurut simbah “…….”, aku ini nggak cocok hidup di air. Jadinya ya tetep hidup di darat dan sebisa mungkin mengurangi hubungan dengan air. Salah satunya ya jangan terlalu sering mandi (hahahaha…..intinya ini sih)

Alesannya sih hemat air, padahal males juga

Wednesday, January 21, 2009

Intinya adalah : Pengendalian Diri

Pelajaran Pertama Hari Ini

Intinya adalah : Pengendalian Diri

Satu hal remeh temeh yang hari ini muncul dikepalaku. Remeh temeh karena bukan menyangkut perang Israel-palestina, bukan tentang banjir Jakarta, bukan tentang harga-harga yang naik-naik tapi nggak turun-turun, bukan juga tentang artis selebrity Indonesia, apalagi tentang politik, ekonomi, dan budaya (hehehe…kayak slogan apa gitu).

Kenapa hal ini sedikit banyak mengusikku ditengah ke-lieuran-ku membaca artikel2 berbahasa dewa? Karena aku sedang memulai banyak hal. Memulai kesadarn untuk selalu mempertimbangkan, memikirkan, menimbang, dan menganalisa sesuatu. Apakah sesuatu itu akan menyinggung, mengusik, mengganggu, atau malah melukai orang-orang yang ada disekitarku. Hahaha….(intronya kayak nyeremin nggak sih)

Simple sih….

Beberapa jam terakhir, aku cukup menerima beberapa pesan/email dan mengirimkan beberapa pesan juga. Setelah selesai mengirimkan email terakhir yang aku tujukan ke beberapa orang, aku baru menyadari beberapa hal. (hehehe….kebanyakan pakai kata beberapa kayaknya).

Aku baru sadar kalau ada perbedaan yang sangat nyata dalam cara orang bertukar pesan. Dan yang membuatku miris adalah : ternyata aku masih harus banyak belajar bagaimana etika ber-pesan-ria lewat pesan elektronik.

Karena penasaran, aku membuka kembali beberapa pesan dari teman-temanku.

Kembali aku tersenyum miris, sambil geleng2 kepala tentunya.

Bahasaku jauh dari yang namanya indah, bagus, atau apalah yang menunjukkan etika.

Maaf untuk teman-teman yang menerima pesan dariku mulai tadi dan terhitung mundur ke waktu-waktu sebelumnya.

Sedikit pelajaran yang dapat aku petakan :

1. Kalau orang-orang banyak menanyakan kabarku dulu sebelum ke inti persoalan, aku malah langsung aja ke inti, tanpa mengingat dan men-cek n ricek bar-kabari teman-temanku. (dasar nggak peka aja lu wil)

2. Kalau orang mengirimkan pesan yang berisi nasehat, penyemangat, dll, jarang aku buka. Malah nggak jarang juga langsung aku archive, bahkan pernah juga ku delet. (hehehe…)

3. Dll aja deh….(kecil2 koq)

Selain dalam hal pesan-pesanan, aku juga sedang berusaha untuk menahan dan memilah tulisan-tulisan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (dapur orang katanya_RM 2009).

hehehe

Hayoo…..smangadh untuk perbaikan…

Kalau kata si ibu di sebelahku yang “namanya tak boleh disebut”, saat ini aku sedang dalam masa P*********N. katanya lagi : “Well come to de Club”

Tuesday, January 20, 2009

Ketika Tiga Helaian Benang Kusut Tak Teruraikan,Semoga Yang Tak Lekang Oleh Waktu Tetap Tersisa Sebagai Senjata

Ketika dalam kepala ini terlalu banyak hal yang berebutan tempat untuk disusun dan dirangkai, maka semua menjadi tak terungkapkan. Ketika mulut memaksa untuk mengucapkan sesuatu, maka yang keluar hanyalah tetesan air mata.

(Saung Calobak, 2009)

Harus mulai dari mana, dari apa, dan dari siapa aku menyusun semua lembaran yang kusut dan terserak didalam kepalaku ini. Agar menjadi rapid an tertata bagaikan jajaran file di lemari secretariat. Apakah dengan diam aku bisa menghilangkan kebingungan, kegalauan, dan kegundahan hati ini? Tetapi kenapa dalam diam, aku semakin merasa bingung?

Aku masih ingat benar sewaktu SMU, kalimat ini pernah tertuang dalam diary merah jambuku. “kebingunganku membuat aku diam, tetapi dalam diam aku semakin merasa bingung”. Ku hanya berusaha untuk mengendapkan gumpalan kusut ini dalam kawah rasaku, dan akan ku urai satu demi satu sesuai dengan kemampuanku mencerna setiap lembarnya. Hingga yang kusut itu dapat berurai menjadi lembaran benang, dan berujung pada selembar kain yang bermotif warna warni.

Saat ini, aku masih belum dapat mengurai benang kusut itu menjadi helaian benang yang terurai sempurna. Namun, aku sudah bisa membaca dengan jelas pola kekusutan benang ini. Beberapa hal yang sangat berbeda, bercampur menjadi satu, saling membelit, dan saling menggumpal hingga nampak sebagai kekacauan. Hal yang berbeda, namun berujung pada satu hal yang tak lekang oleh waktu, kasih sayang dan kekeluargaan.

Pertalian darah memang menjadi sangat rumit dan kompleks ketika dihubungkan dengan hati, emosi, dan dunia luar. Namun pertalian darah adalah pertalian darah, dan akan tetap pertalian darah hingga akhir hayat. Ketika salah seorang dari keluarga yang bertalian darah itu salah, hati kita pasti merasa sakit, emosi kita akan bangkit dan memanas, dan dunia luar akan menjadi pelarian yang paling sempurna untuk berpaling dan melarikan diri.

Sakit di hati yang hanya sebuah gumpalan darah itu membuat seluruh badan menjadi ikut sakit. Entah dimana letak penjelasan ilmiahnya. Sakit itu meluruhkan kepercayaan, menimbulkan keengganan dan kecurigaan. Sakit itu menciptakan jarak yang berupa selaput tipis yang bersifat elastic dan permeable. Tipis memang, tapi bukan berarti mudah ditembus. Bisa ditembus air mungkin, tapi belum tentu bisa ditembus pedang.

Emosi yang bangkit dan memanas hanyalah sebuah respon dari kekalutan hati dan pikiran. Dia hanyalah bentuk dan penampakan dari proses penguraian benang kusut itu. Namun emosi dapat menjadi tak terkontrol dan merugikan ketika penguraian benang kusut itu dilakukan/terbentur pada cara yang keliru. Dampak dari emosi itu bisa lebih besar dari pemicu emosi itu sendiri, ketika kemelencengan terjadi sedikit demi sedikit. Layaknya koordinat yang melenceng 1%, lama-lama menjadi semakin besar dan jauh.

Dunia luar sangatlah luas, beragam, penuh dengan pilihan, dan mampu menerima segala bentuk pelarian. Dia menawarkan keindahan, kebebasan, tetapi juga kepahitan dan kekerasan hidup. Ketika kita merasa sakit dengan apa yang ada dalam llingkungan kita, kita cenderung memilih dunia luar untuk melarikan diri dan menghindar. Memang menjadi kebebasan kita, namun hanya sesaat dan untuk itu saja. Selanjutnya? Apa yang dapat memperbaiki kita? Kecil sekali kemungkinan kita dapat diluar.

Hanya kita yang dapat memperbaiki kita, hanya kita yang dapat menentukan tujuan kita. Kita bisa menghindar, namun hanya sementara. Kita harus menghadapi apa yang ada didepan kita, itulah yang sekarang sedang aku pelajari dan usahakan. Tidak lari dan tidak menghindar. Berlebihan ketika aku katakana aku sedang mengalami serangan dari beberapa arah, tapi tidak apa-apa. Itu hanyalah sekedar penyemangat dan pemberi keyakinanku agar aku merasa tidak bisa lari kemana-mana.

Persaudaraan adalah sebuah hal yang serupa tapi tak sama dengan pertalian darah. Jika pertalian darah adalah hubunganku dengan orang-orang yang memiliki sumber gen sama dari nenek moyang kami, maka persaudaraan dapat lebih luas dari itu. Tanpa ada kesamaan gen, semua orang bisa saja bersaudara. Jika kita merasa dekat, jika kita merasa nyaman, jika kita merasa saying, jika kita merasa saling menghormati dan menghargai, maka kita berhak mengatakan sebagai saudara.

Dalam persaudaraan juga pasti bisa terjadi masalah, selayaknyalah orang dalam berkeluarga. Persaudaraan dapat menggantikan keluarga ketika kita terpisahkan oleh jarak dan waktu. Aku sedang berusaha untuk menjaga persaudaraan ini agar tidak terpecahkan oleh apapun. Mungkin lebih tepat jika aku berkata bahwa aku sedang berusaha untuk tidak melepaskan diri dari persaudaraan ini. Aku sedang berusaha meyakini bahwa saudarakupun bersikap seperti itu. Aku sedang meyakinkan diriku untuk tidak melarikan diri dan meninggalkan saudaraku yang lain.

Yang saat ini belum bisa aku hilangkan adalah keterkaitan emosiku dalam mensikapi apa yang terjadi ini. Ketika pertalian darah sedang bermasalah, maka aku berada didekat saudara-saudaraku. Tetapi ketika saudarakupun sedang mendapat masalah, maka aku juga tetap akan disini. Hanya saja tumpang tindih itu yang rupanya belum mampu aku kendalikan. Letupan emosi seringkali mengiringi setiap tindak-tandukku. Memungkinkan saudaraku yang lain terganggu. Mohon maaf untuk itu. Tapi aku akan selalu memperbaiki diri dan belajar. Karena itu aku masih disini saat ini. Untuk ikut belajar bersama dan semakin memperbaiki diri.

Dia yang namanya tak boleh disebut adalah orang yang ter….untukku. semua ter….aku tujukan padanya. Kami berjalan hingga saat ini bersama lebih dari sekedar teman, sahabat, ataupun saudara. Kami adalah keluarga. Tapi kenapa tetap tidak bisa aku satukan dengan dua hal diatas? Karena memang ini adalah suatu hal yang berbeda. Menurut penilaianku, inilah yang menjadi sedikit rumit.

Dia adalah yang terdekat denganku saat ini. Karena antara keluarga talian darahku terpisahkan jarak dan waktu. Dia adalah orang yang terbaik bagiku saat ini, karena memang hanya dia yang bisa mengerti aku sepenuhnya, melebihi orang-orang yang bertalian darah denganku. Dia adalah orang yang teristimewa untukku. Setiap hal mengenainya adalah menarik bagiku. Setiap hal yang dia lakukan selalu membuatku terkesan.

Banyak hal yang telah kami lalui, banyak hal yang pernah kami alami. Empat tahun juga bukan waktu yang bisa kami abaikan begitu saja. Berat jika kami harus kehilangan apa yang selama ini ada. Tapi berat juga untukku jika ini harus diteruskan. Perjuangan ini rasanya harus diakhiri. Kalau memang dengan aku menyerah semua menjadi lebih baik, aku akan melakukan dengan senang hati.

Entah kenapa ada yang kurang tepat antara kami. Ada sesuatu yang samar tetapi jelas adanya. Sesuatu yang samar itu menurutku adalah sebuah ruang. Ruang yang penuh dengan hal-hal kecil, nyata, penting, terabaikan, dan mengganggu. Aku melihat jelas ruang yang Nampak samar itu, namun dia tidak.

Beberapa pertanyaan yang ada dikepalaku saat ini untuk dia, apakah kita masih akan berjuang lagi? Masihkah kita akan mencoba lagi? Saat ini aku berfikir untuk menjawab tidak, karena waktu terus berlalu. Ini hanya akan menjadikan kita orang yang semakin tidak jelas yang menjalin hubungan tidak jelas juga. Pertanyaanku lagi adalah mampukah aku melepaskan ini semua? Dan kapan kiranya aku bisa berjalan beriringan lagi dengannya dengan status yang berbeda tapi dalam suasana yang sama? Ketika aku mengatakan bahwa “ya, aku baik-baik saja”.

The next plan yang sudah aku petakan saat ini barulah beberapa hal saja, tetapi cukup untuk membuat otak dan hati ini beristirahat sejenak. Untuk pertalian darah tak ada jalan keluar selain aku pulang, duduk diatara mereka semua. Maka itulah yang aku akan lakukan minggu depan. Masalah bagaimana kedepannya dan ujung dari masalahnya, bisa aku pikirkan nanti. Itu saja.

Untuk saudara-saudaraku, saat ini masalah telah selangkah lebih maju. Bisa dibilang bahwa saat ini kita menang. Istirahatlah kita dulu, baru nanti kita bisa pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan. Yang terpenting adalah kita selalu ada disini bersama dan berkumpul. Indah ya…

Untuk dia yang ter….aku masih belum bisa menentukan seperti apa karena nampaknya diapun belum ingin melakukan apapun. Tetapi aku juga tidak akan membiarkannya terlalu lama. Semua akan kulakukan sendiri jika dia tidak ingin melakukannya. Aku tidak mau ketidak jelasan dan ketidak tegasan ini membuat kita sama-sama terbebani. Everything will be fine…

Kekusutan ini akan terus aku urai hingga akhirnya aku bisa tersenyum lega…..

*******