Wednesday, October 20, 2021

Ketika Hati Memilih Menjadi Peduli


Sudah 2 tahun rupanya... 2 tahun lalu, bertemu dengan 2 orang baik hati yang bahkan nama pun tak sempat kita saling tahu... I just knew they're living in Pisa. Their big heart and thoughtful, kept me warm all the way Europe to home, till now... Wish you both well!!! T H A N K Y O U!!! #JacketRescuer 🥰🥰🥰


***

Mungkin bagi beberapa orang, ini terasa lebay. Hanya karena bertemu irang yang mengembalikan jaket saja, sampai harus dikoar-koar, digembar-gembor, atau dibuat status dan postingan...

Benar. Saya memang lebay, dan senang melebay-lebaykan kisah ini.

Karena, di jaman di mana orang semakin apatis, anti sosial, acuh, dan sedikit peduli dengan orang lain, ternyata masih ada mereka. Yang dengan hatinya, bersusah payah menanyakan pada awak pesawat daerah tujuan saya, bersabar mencari dan menunggu saya selama lebih dari satu jam di gate saya (saat saya di pintu lain sedang berburu waktu bersama awak darat airlines saya), dan tersenyum lebar saat akhirnya saya berjalan lunglai mendekat.

Saya akan selalu mengingat momen itu, semoga selamanya.

Dari mereka, saya yang terkadang mulai menumpul nuraninya, berusaha mencoba untuk mengasah lagi nurani itu, sedikit demi sedikit. Di saat saya merasa ragu untuk berbuat sesuatu untuk orang lain di tempat asing ataupun tidak asing, untuk orang asing maupun orang yang saya kenal, maka saya mengingat mereka. Dua orang anak muda yang sangat asing, yang bahkan keberadaannya di samping saya selama penerbangan, saya acuhkan karena mata saya memilih lengket dan terpejam, yang tersenyum lega karena berhasil menemukan saya. Sehingga saya memilih untuk melakukan sesuatu juga...

Belakangan saya membaca sebuah artikel mengenai seorang perempuan, di perkosa di gerbong kereta. Sedih sekali membaca beritanya. Dan yang lebih menyedihkan adalah karena dia tidak sendirian saat perbuatan keji itu dilakukan padanya. Ada beberapa orang lain yang berada di gerbong yang sama, mengetahui bahwa dia sedang di perkosa, tetapi memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Hati saya menangis membaca artikel-artikel itu. Dan kembali, ingatan saya melayang kepada dua orang baik hati dari Pisa. Bersyukur saya pernah di pertemukan dengan mereka.

Bagaimana bisa mereka yang berada di gerbong yang sama, mengacuhkan orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan? Mungkin mereka memiliki alasan dan pertimbangan sendiri. Namun, tetap tidak habis pikir bagaimana itu bisa terjadi.

Saya selalu berfikir, jika saja saat itu dua orang baik itu memilih untuk acuh saat melihat jaket saya tertinggal, sangat wajar. Atau jika mereka memilih mengambil jaket saya, dan memberikan kepada awak pesawat, bisa juga dan itupun sudah membuat mereka menjadi orang baik. Atau bahkan jika mereka memilih menjadi orang jahat, mengambil jaket saya dan membawanya pulang karena di tempat mereka tinggal, udara juga sangat dingin? Sangat bisa.

Tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Mereka memilih untuk menggunakan nuraninya, membawa jaket saya, mencari arah tujuan saya, menunggu saya sekian lama, dan dengan senyum penuh kelegaan menyerahkan jaket saya. Jaket yang memang sangat saya butuhkan untuk melanjutkan perjalanan panjang saya. Karena hati mereka tergerak, maka saya bisa merasa hangat sepanjang perjalanan. Dan karena hati mereka tergerak, saya terhindar dari amukan massa si pemilik jaket (baca: salmul). Karena mereka...

Dunia membutuhkan lebih banyak orang-orang seperti mereka. Orang yang lebih memilih untuk menjadi baik. Orang yang dengan tulus hati memikirkan orang lain. Orang yang may bersusah karena mereka tahu jika mereka acuh, akan ada yang lebih susah lagi hidupnya. Dunia membutuhkan orang baik seperti mereka, lebih banyak lagi.

Lagi dan lagi, saya bersyukur kepada Allah SWT, karena dipertemukan dengan mereka. Mereka bukan hanya sekedar penyelamat jaket dan juga diri saya. Namun, mereka adalah pahlawan pembangkit nurani bagi saya. Di saat saya ragu, saya akan mengingat mereka.

Ya Allah, keterbatasanku sebagai manusia yang banyak alpa, membuatku bahkan tak menanyakan nama mereka. Pun tak terpikir menanyakan email ataupun cara untuk menghubungi mereka. Tetapi, melalui tanganmu alu yakin tidak ada yang tidak mungkin. Jaga mereka, berikan kelancaran dalam setiap rencana dan upaya mereka. Mudahkanlah urusan mereka, sebagaimana mereka memudahkan urusanku dan orang lain. Jika menurut-Mu kami seharusnya bertemu kembali, maka akan terjadi.

Terima kasih, dua hati baik dari Pisa...
You warm my heart,
All the way Doha to Europe to home...
Till now and then...
I wish you well,
Thank you!!!

#BigHeart
#GoodPeopleFromPisa
#ChooseToBeGood
#Doha
#QatarAirlines

No comments: