Wednesday, October 23, 2019

Manage Your Expectation, Babe !


You have your own responsibility to be happy, to make your life happy, to make your body happy, to make your days happy, and to make your end of life happy... 
Only you, yourself, and yours... 
No one else... 


Some people might find the other way around to make their life happy... You should too...

Don't spend too much time to push someone else to understand you. I've tried once and it's a disaster. Hahaha

Just take a deep breath, and let everything  that out of your control out of your body and your mind... 

No need to keep them and eat any space on your mind or body... It's useless... Trust me!

Ok everyone, just be happy!

:-) 

Tuesday, October 22, 2019

Walking Tour Olhào, Portugal

Olhào, Faro mulai terasa seperti kampung halaman Kantor Ikan. Setiap keluar kamar dan berjalan di jalanan, terlihat muka-muka familiar yang kemudian tersenyum bersama, saling sapa, bertanya kabar, kapan sampai, bagaimana perjalanannya, endebleh endeblah...

Meeting tahun ini diawali dengan beberapa berita yang kurang mulus dari berbagai arah seperti, Ananta & Dono pesawatny delayed 2 kali dan mereka harus stayed over night di Singapura untuk 24 jam, Amy pesawatnya di cancel di Boston, dan yang paling buruk adalah Enrique tidak bisa hadir karena kondisi Chile yang semakin parah dengan demo anarki nya. Semoga mereka semua selalu dilindungi oleh-Nya dan selamat serta aman damai dimanapun mereka berada. Aamiin.

Meeting mulai besok untuk sebagian orang, termasuk saya. Hanya beberapa yang mulai meeting untuk donor tertentu hari ini. Karenanya kami bersepakat untuk mengikuti walking tour selama 2 jam. Lumayan mengisi waktu sambil olah raga. Setelah sarapan kami berkumpul di Lobby. Rupanya hanya sebagian orang yang jadi ikut walking tour, sebagian lainnya memilih untuk berjalan sendiri.

Tim Structured tour berpisah dengan Un-structured team. Kami yang Structured team, berjalan menuju lokasi tour guide seperti yang telah disepakati. Kemudian guide kami yang namanya Claudia, membawa kami berputar-putar kota, menunjukkan beberapa spot yang memiliki sejarah khusus bagi Kota Olhào ini. 

Beberapa photo dari kegiatan walking tour today, as below: 
























Antara Madrid dan Faro

[Antara Madrid - Faro, 21 October 2019]







Monday, October 21, 2019

Coffee, Juice, and Good Friend

Love, Live, and Breath :-)


[Madrid, 21 October 2019]

Ditemani segelas kopi dan segelas jus jeruk, bercengkerama mengenai kehidupan, pelajaran, dan management emosi bersama senior.

It's a lovely day, back in Madrid Airport since the last time 2 years ago.

Hala Madrid!!!

Masih Banyak Orang Baik di Luar Sana



[Doha, Around Midnight, 20-21 October 2019]

Jangan pernah takut bepergian sendirian, karena banyak sekali orang baik di luar sana... Juharini,2019

Menjelang tengah malam, disuatu negara dibelahan bumi lain. Ribuan kilometer dari rumah, dari tempat tidur dimana Mbak K dengan lelap tertidur tanpa ibunya. Aku berjalan bergegas menaiki shuttle bus yang akan membawa ke terminal transfer. Waktu transit yang kurang dari 2 jam, membuatku ingin segera tiba diterminal dan bersantai menikmati Malam di Doha, meskipun hanya di bandara saja.

Didalam Bus yang tidak terlalu penuh, kuedarkan pandangan kepada penumpang yang lain. Pandanganku berhenti pada seorang bapak yang hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Pikiranku berkata "buset, kuat banget si bapak. Padahal kan sekarang musim angin. Dingin."

Tetiba badanku membeku, otakku mulai bekerja, dan sedikit kepanikan mulai menyerang. Kulayangkan pandangan keluar jendela sambil merutuk diri sendiri atas kecerobohan yang lagi-lagi harus terjadi. Kutarik nafas panjang beberapa kali, dan kukirimkan pesan kepada suamiku yang sudah terbangun diseberang sana. "Jaketnya Salmul ketinggalan di pesawat". Dan seperti yang sudah kunantikan, rentetan bla bla bla yada yada dia sampaikan. Aku hanya tersenyum miris sambil menarik nafas panjang lagi. Iya. Jaket yang sengaja diantarkan Jeng Salmul kerumah kemarin untuk dibawa terlebih dulu bersamaku, tertinggal di kursi pesawat nomer 17F itu. OMG. Why? Again?

Akhirnya setelah sekitar 20 menit bus berhenti di sebuah terminal. Akupun bergegas menemui petugas yang ada di lantai 1 dan bertanya cara memproses barang yang tertinggal. Petugas memberikan arahan dan akupun mengikutinya. Petugas counter yang baik hati membantu menginfokan pada petugas ground floor untuk mencari. Namun sayang akan memakan waktu 20 menit untuk ke pesawat, dan jikapun ketemu, akan memerlukan another 20 menit lagi untuk membawanya kembali. Kutengok waktu boarding pesawatku selanjutnya, kurang dari 1 jam. Aku bertanya padanya apakah kira-kira cukup waktunya, dan dia bilang it should be okay. Baiquelah... Kita tunggu saja.

Menunggu nasib jaket yang tak jelas nasibnya di Doha


Akupun menunggu dengan harap-harap cemas. Sambil sesekali melihat jam yang terasa berjalan cepat sekali. Aaaahhh... 20 menit kemudian, aku kembali ke counter menanyakan apakah ada jaket biru tertinggal, dan petugas yang namanya Kian itu bilang ada jaket biru tertinggal. Lega pertama. Tinggal menunggu another 20 menit lagi sampai barang datang. Jika jaket itu tidak berhasil kembali padaku saat ini juga, aku harus mengambil lagi di Doha atau di Madrid. Tidak bisa sampai Faro karena aku berganti pesawat di Madrid. Kutunggu lagi dengan cemas karena waktu boarding semakin dekat.

Akhirnya, Mas Kian (yaelah Mas... ) Turun dan mengambilkan barang-barang yang baru diambil dari pesawat. Beberapa orang menampakkan ekspresi lega ketika menerima barang dari Mas Kian. Ketika kulihat jaket biru yang dibawanya, aku diam dan menarik nafas panjang lagi. Setengah menangis dalam hati. Itu bukan jaketku. Long short story, karena ternyata yang ditemukan bukanlah jaketku, Mas Kian memberikan selembar kertas yang berisi alamat email untuk mengclaim lost and found barang. Baiquelah... Mau bagaimana lagi...

Dengan berat hati, aku mengabarkan kabar duka ini kepada Salmul (dan Ijah). Hiks... Sedih sekali... Sangat-sangat sedih...
Dengan lunglai, akupun memasuki jalur antri metal detector untuk menuju gate E21. Ternyata harus nyambung dengan kereta karena lokasi gate ada di ujung. Didalam kereta, pikiranku tidak terlalu penuh. Kurang fokus. Pikiran berseliweran tanpa sempat kutangkap isinya.

Akhirnya akupun semakin pasrah dan melangkah menuju gate E21. Ketika mataku sedang nyalang mencari tulisan E21, aku melihat sepasang bule yang berjalan kearahku. Sekilas aku seperti mengenal sosok mereka. Dan ketika pandanganku bergeser ke arah tangan yang perempuan, aku ternganga. Benar-benar ternganga. Mereka berjalan mendekatiku. "This is yours, right?" Dan aku hanya bisa bilang "Oh My God... Oh My God... Oh My God... ". 

Setelah kami benar-benar dekat, akupun memeluknya. "Yes... Yes... Yes.. this is mine. You know what, I've been waiting for the guy who tried to find it back to the aircraft. Like more than half hour... Oh My God..." Dan dia bilang "Ya... We saw that you left your jacket, and We find that you heading to Madrid, so we're waiting here..." Dan aku masih dengan syoknya, berkali-kali bilang " Oh My God... Yes yes yes... Thank you... Thank you... Thank you so much...". 

Thank You!!!

Sampai pas mereka bilang mau pergi, aku baru bisa menggunakan otakku sedikit dan menanyakan tujuan mereka. Ternyata mereka mau pulang ke Italy, rumahnya didekat Pisa. Akhirnya dengan sedikit terburu-buru aku meminta foto bersama. Dan saking otak kurang berfungsi penuh, aku tidak sempat menanyakan nama atau kontaknya. Duuuhhhhh... Maafkan!!!

Dear you two... ZILLION thanks to both of you!!! I really really really thankful that you're my guys next seat. God must be loved me so much that He sent you next to me, the sloppy one. I am so sorry that we don't have time to do a proper introduction or proper talk. But really do hope you two have a safe flight back home. May God bless both of you always. And if it's possible, maybe He will let us cross our path one way or another in the future... Again, THANK YOU!!!

Note: If both of you somehow find this post, please reach out to me via inbox. I would be more than very happy to re-introduce myself, to talk to you and shared about many more things. And I'd like to thank you again, in a proper way :-)

Ini bukan kali pertama perjalananku terbantu oleh orang-orang baik... Baik yang kenal, dikenalkan kenalan, kenalan dijalan, ataupun yang tidak kenal sama sekali. Beberapa kemudian menjadi teman, beberapa lain tidak sempat berkenalan... Doa yang sama untuk kalian semua...

I always believe, that Karma does exist... Whether good, nor bad...
That's the simple rule of life...

Kalau kata Nonnet, Semesta bekerja dengan caranya sendiri... :-)

#Blessed
#LoveIsOurMission
#flightwithQatar
#JakartaDohabyQatar
#seat17F

Sunday, October 20, 2019

It's A Me and Myself Time


[Gate 1D, Terminal 3 - Soetta Airport]
20 October 2019

Ku hela nafas sedikit lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya berjalan menuju antrian yang panjangnya tak seberapa. Beberapa menit yang lalu, pelukan hangat yang seolah enggak terlepas dari anakku yang masih TK tapi terkadang jauh lebih bijaksana dari aku, perlahan lepas. Rentetan pesan kusampaikan padanya, dan dia hanya membalas dengan anggukan, senyuman, dan ditutup dengan sebuah pesan "Jangan lupa pesanan aku ya Bunda..." Katanya. Aku tersenyum. Anakku, sangat tahu apa yang dia mau. Dan ketika dia mau sesuatu, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk memperolehnya. Termasuk pesanan khusus ketika Bunda nya mau pergi lebih jauh seperti ini. Dia sudah memiliki list pesanan sendiri.

Akupun melangkah keluar dari metal detector yang menghubungkan ruang tunggu dengan area Imigrasi. Bayangan anak dan suami yang melepasku tadi, perlahan mulai memudar. Teriringi doa untuk mereka, agar selamat sampai rumah kembali, dan semua urusan berjalan lancar sampai dengan saatnya kami bertemu lagi, 3 minggu lagi.

Setelah petugas Imigrasi memberikan cap nya, akupun berjalan menuju arah Gate yang tertera di boarding pass ku. 1D. Aku tersenyum dan menarik nafas kembali. Lumayan bisa berjalan beberapa ratus langkah, pikirku menghibur diri. Sambil berjalan menyusuri ruang tunggu demi ruang tunggu, pikirankupun terus berjalan kebelakang. Beberapa minggu terakhir.

Entah kenapa aku tersenyum lagi, sendiri. Flashback kepada waktu, kepada orang, kepada keadaan, dan kepadaku... Inilah saat yang menjadi favoritku. Saat diperjalanan. Saat kembali melihat, merasakan, dan menata serpihan puzzle yang teracak.

Pertama... Gelas kaca yang telah retak, yang pernah dicoba untuk disatukan kembali, ternyata tidak berhasil. Saatnya untukku merelakannya. Pernah ada suatu masa aku memenuhi kepalaku dengan pertanyaan "kenapa, mengapa, bagaimana bisa, apakah mungkin, bisakah, bagaimana jika, yada yada yada...". Pernah aku berada pada masa mengadu pada suamiku "kenapa bisa, bagaimana menurutnya, apakah pendapatnya, yada yada yada...". Dan kini, sepertinya semua sudah terpampang nyata didepan mata. Saatnya melepaskan semua isi kepala yang penuh tanya itu, menghilangkan kerak yang masih tersisa dari sisi hati, dan merelakan semua kenangan menjadi kenangan. Terkadang, kenangan akan lebih terasa manis ketika ia dibiarkan menjadi kenangan dibelakang sana. Sesekali bisa ditengok kembali, manakala hati kembali jatuhcinta pada masa lalu...

Konon katanya, merelakan dan melepaskan sesuatu, bukan berarti kita tidak perduli. Tetapi berhenti memaksa orang untuk perduli pada kita. Itu saja.

Kedua...Memperbaiki niat dan cara untuk berpartisipasi menjaga Bumi agar bertahan sedikit lebih lama. Kembali berfokus pada diri sendiri dan keluarga terdekat, sehingga orang bisa melihat dan meniru. Bukan mendorong orang terlalu keras, sehingga rawan disangka memaksa. Tidak semua orang senang didorong, apalagi dipaksa. Tapi banyak orang yang senang melihat contoh baik dan meniru. Kalau ada yang tetap tidak senang, ya tidak apa-apa. Bukan tugas kita sebagai manusia untuk menyenangkan semua orang. Dan dimana-mana, selalu akan ada orang yang tidak senang. Jadi, kenapa harus terganggu?

Ketiga...Menghadapi jiwa yang sedang rapuh dan banyak tekanan, rupanya bukan hal yang mudah. Sudah harus semakin berhati-hati dalam memilih dan memilah huruf demi huruf yang keluar dari mulut. Melihat sesaat, menimang sekejap, dan mempertimbangkan baik dan buruk sebelum mulai merespon sesuatu. Sudah merupakan kebutuhan. Mulai membiasakan semua pusat dari semua keluaran dari "diri sendiri" adalah wajib. Tidak lagi mengharapkan pemakluman dari orang lain, tapi sebaliknya, harus banyak memaklumi. Kehidupan orang diluar sana, banyak yang jauh lebih berat dan keras daripada kehidupan kita. Dengan banyak bersyukur, maka proses pemakluman akan jauh lebih terasa ringan.

Keempat...Proses tumbuh kedalam... Tidak mudah, namun bukan suatu hal yang mustahil. Bahkan harus dan wajib kita lewati. Terkadang harus diawali dari pertanyaan demi pertanyaan... Penyangkalan demi penyangkalan... Kesedihan demi kesedihan... Namun pada akhirnya, akan datang saat kepasrahan dan penerimaan... Ketika pasrah, nerimo, legowo, semeleh dan yakin pada takdir sudah hadir, Insya Allah proses tumbuh kedalam mulai terjadi... Rasa malu untuk mengangkat tangan pada mereka yang lebih mengerti, sudah berhasil dilenyapkan. Setelah perjalanan panjang ini, akan segera diwujudkan.

Tak terasa, ruangan tunggu yang tadi sepi mulai meramai. Kursi-kursi mulai terisi, udara mulai riuh dengan suara-suara orang berbincang, pengumuman demi pengumuman mulai berkumandang. Kurang dari 15 menit lagi, pesawat yang akan membawaku terbang jauh ke Qatar sana, akan segera dibuka pintunya. Saatnya untukku bersiap dan berdoa.

Semoga perjalananku lancar tanpa kendala. Tiba dengan selamat dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Aamiin.

Oh iya... Selamat kepada Bapak Jokowi dan Bapak Amin Ma'ruf yang hari ini dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Semoga acara lancar, tidak ada insiden dari orang-orang yang ingin negri ini mundur, dan pemerintahan selama 5 tahun kedepan semakin baik. Saya sangat ingin anak cucu saya tumbuh dinegara yang maju dan penuh harapan. Aamiin.

Terima kasih kepada Bapak Jusuf Kalla dan jajaran menteri yang tidak lagi menjabat atas 5 tahun perjuangan yang tidak mudah.

Majulah Indonesia!!!

Thursday, October 10, 2019

Is That You, My Friend?


Hari ini hati saya berduka. Sebetulnya Indonesia juga sedang berduka. Tapi Indonesia jaman now sepertinya sulit dibilang begitu.

Tadi siang, ketika saya sedang khusyuk melolot pada halaman excel report saya yang tak kunjung selesai, Mas Bojo saya tergesa-gesa masuk kamar kerja dan menunjukkan video singkat tentang upaya penyerangan yang dilakukan warga sipil kepada salah seorang Menteri yang sedang berkunjung. Pelakunya berhasil ditangkap, dan korban (yang ternyata ada 2 orang, Pak Mentri dan Pak Polsek) dilarikan ke rumah sakit.

Yang membuat saya terkejut adalah, pasangan yang ditangkap sepertinya satu agama dengan saya jika dilihat dari penampilan saja. Entahlah dari KTP nya. Mereka melakukan upaya pembunuhan ditempat terbuka, didepan anak-anak kecil. Saya sebagai seorang ibu rasanya kepingin melempar cobek beserta ulekannya kemuka pelaku tersebut. Tapi tenang, saya tidak suka anarki.

Apa yang mereka cari? Tenar? Sahid? Konyol? Uang? Entahlah... Semuanya terasa tidak masuk di akal saya. Apakah mereka tidak lagi mampu berfikir? Jika tidak mampu berfikir mengenai malaikat yang ada dipundak kanan kirinya, setidaknya berpikirlah bahwa anak-anak yang melihat aksi kalian akan  merasa trauma. Tapi tidak menutup kemungkinan merrka akan mencoba hal yang sama dimasa depan karena mereka penasaran dengan aksi kalian. Atau memang itu yang disasar pembentuk kalian? Kalau melihat muka polos kalian, sepertinya tindakan itu tidak lahir dari hati kalian sendiri juga. Itu asumsi saya.

Indonesia sedang berduka. Aksi main hakim sendiri, anarki, bar-bar, mulai terjadi. Sudah sepantasnya mereka dihukum seberat-beratnya, ditelusuri sampai ke akar-akarnya, agar semua orang yang berhati dan pikiran busuk seperti itu bisa ditindak seadil-adilnya.

Saya sedih sekali. Melihat NKRI dihina dina dina orang-orang yang berhati buta. Mencabik-cabik gemah ripah loh jinawi yang kita punyai sebagai warisan leluhur dan dan  pahlawan pendahulu kita. Rasanya saya kepingin menabgis. Harus bagaimana kami?

Saya sedih kembali, manakala membaca berita demi berita, tulisan demi tulisan, unggahab demi unggahan, dan obrolan demi obrolan yang berbunyi olokan. Hinaan. Doa-doa jelek. Bahkan tuduhan. Dan yang lebih sedih lagi, jika semua itu datang dari orang-orang yang saya kenal.

Temans...
Kita pernah bermain bersama... Kita semua sama yang adalah manusia. Manusia yang ingin hidup tenang, damai, aman, tenteram, dan bahagia. Mungkin jalan hidup kita tidak sama. Beban ujiam hidup kita pun berbeda takarannya. Tapi saya rasa semua itu bukan dan tidak boleh dijadikan alasan untuk kita mematikan hati nurani dan akal sehat kita. Kita harus tetap mengalahkan ego dan kebencian kita. Kita harus tetap mengedepankan hati nurani. Saya yakin kalian semua orang-orang baik. Jangan sampai hati kalian mengeras seperti batu, karena kalian pupuk kebencian dan kedengkian. Terlebih lagi, jika hati kalian mengeras karena kalian merasa lebih benar daripada yang lainnya. Jangan ya teman... Jangan...

#withlove
#jangankapokmenjadiindonesia
#darikursitungguklinikrayendra

Tuesday, October 8, 2019

Catatan Najwa bersama Maudy Ayunda | Catatan Najwa

Maudy Ayunda...

Saya mulai jatuh cinta pada remaja yang mulai dewasa ini ketika dia bermain di film Perahu Kertas. Mungkin karena saya juga jatuh cinta pada buku perahu kertas itu sendiri. Suaranya ketika menyanyikan soundtrack lagu nya pun, membuat saya jatuh cinta semakin dalam.

Waktu berlalu, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia permedsosan, begitu pula perkembangan Maudy. Hanya sekedar tau bahwa dia kuliah S1 di Oxford University.

Ternyata belakangan sempat membaca berita bahwa dia diserang dilemma untuk memilih kampus guna melanjutkan kuliah di jenjang S2. Kenapa dilemma? Karena dia diterima di Standford (which is one of her dream come true) dan juga Harvard (which she always wanted to go since she was a little girl). Nah loh... Gimana bebh?

Kemudian saya berfikir...
Selain Maudy, sebetulnya ada juga artis lain yang berhasil sekolah diluar negri dengan gemilang. Tapi karena saya sudah pernah jatuh cinta dan masih memelihara cinta ini pada Maudy, saya bahas Maudy saja.

Kembali saya berfikir...
Maudy ini sekolah di Mentari International School, kemudian lanjut SMU di British International School, kemudian kuliah di Oxford University, dan lanjut di Standford University. What a dream nggak sih?

Saya mikir lagi...
Sepertinya memilih sekolah jaman now (maksudnya jaman anak kita kecil begini), memang mau tidak mau didasarkan oleh pilihan "Kita pengen anak kita nanti kemana" deh. Meskipun banyak kemudian dibungkus alasan "Saya sih nggak maksain anak saya harus kemana atau gimana. Suka-suka mereka saja" atau "Saya sih milih sekolah yang nggak mengedepankan akademik" which is totally fine banget yekaaan.

Tapi kalau saya (dan mungkin orang lain jika mau cucur sama tahu) tanya lagi kedalam diri yang paling dalam, memilih sekolah anak saya bukan hanya karena "sekarang". Atau mungkin "sekarang dan after life" nya. Tapi sepertinya saya lebih kepada "sekarang, selama hidupnya, semoga bisa membuat baik pada after life nya karena dia banyak berguna dan memberikan manfaat pada kehidupan di bumi". Aamiin. #Sekalianberdoa

Saya jadi ingat perbincangan saya dengan teman baik saya mengenai pilihan sekolah anak kala itu, yang kurang lebih nya seperti ini:

Dia : "Aku sih ngelihatnya itu teman kita Si C. Dia disekolahkan bapak ibunya di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Tapi sekarang kita lihat dia jadi anak yang tangguh kan. Bisa kuliah di negri. Bisa berhasil dan lo tau sendiri lah gimana dia".
Saya : "Iya sih. Tapi lo kepikiran nggak. Kalau misalkan nih ya, saat itu orang tuanya mau dan mampu menyekolahkan dia di tempat yang lain, yang mungkin seperti banyak sekolah jaman sekarang itu, kemudian dia akan menjadi lebih dahsyat dari sekarang? "
Dia : "Nggak tau ya. Aku sih nggak gitu melihatnya. Aku lebih ke aliran, sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dekat dari rumah, yang kalau perlu anak itu kesekolah naik sepeda aja. Kalau dia kita ajari dengan baik, dia malah bisa menjadi yang terbaik disekolahnya, dan bisa lebih mudah masuk sekolah selanjutnya karena nilainya lebih bagus dari teman-temannya kan?"
Saya : "mmm... Iya sih. Tapi kan kompetisi sehat diantara teman sebaya juga sangat membangun mental anak ya. Kalau misalkan dia menjadi lebih pintar dari teman-temannya terus karena anggaplah teman sekolahnya memang - biasa - aja, kan beda juga dengan kalau dia -biasa aja- diantara teman-temannya yang pintar-pintar kan?"

Dan melihat Maudy (dan teman-teman lainnya yang senasib), membuat saya menguatkan niat dan memperbanyak doa. Bukan karena saya ambisius dengan prestasi anak saya, tapi justru sebaliknya. Karena saya tidak berambisi meskipun penuh mimpi untuk masa depan anak saya. Ahahaha. Jadi, saya tidak berambisi agar anak saya menjadi pintar sekali atau paling pintar atau paling berprestasi (meskipun itu ada di doa saya setiap waktu), terus kemudian mendaftarkan dia ke sekian banyak les tambahan. Tidak Bambang!

Namun saya tetap ingin anak saya bisa melihat peluang, kesempatan, dan masa depan yang terbentang seluas samudra di luar sana. Caranya? Ya saya biarkan dia sekolah disekolah yang (katanya) banyak orang pinternya, agar dia terpacu. Saya kenalkan dan perlihatkan hal-hal positif dan luar biasa yang ditawarkan dunia beserta isinya di luar sana. Saya ajarkan betapa indahnya jika kita bisa memberikan setitik manfaat pada dunia yang mulai renta ini. Serta pastinya saya hembuskan harapan-harapan itu dalam setiap doa agar Allah SWT memeluknya, dan mengabulkannya pada saat Dia rasa paling tepat. Semoga saja semua itu menempel 5 cm didepan jidat anak saya juga. Aamiin.

Tapi ya kembali lagi, orang tua tetap numero uno untuk mengajarkan anaknya cara hidup yang baik.... Bismillah :-)

Jadi, kembali pada kita sebagai orang tua, yang bisa melihat setidaknya setengah meter lebih tinggi daripada anak kita, dan ribuan kali lebih luas daripada anak kita lah yang musti melihat arah... :-)


Monday, October 7, 2019

Is the Half Days Off work?

Jawabannya adalah, Yess, it's work.

Gimana indikatornya? ok, begini ceritanya.

Bulan Ini, Mbak K masuk pagi lagi. Jadi Emak tidak tega kalau dia harus berangkat dengan jemputan, which likely bakalan dijemput jam 5.30 pagi gitu. Akhirnya diputuskan bersama ayahnya bahwa jika masuk pagi, selagi kita masih bisa antar, kita antar saja. Pulangnya baru naik jemputa. Sip, deal, paten.

Pagi ini, Hari Senin. Kelas Mbak K kebagian jadi petugas upacara. Jadi murid-muridnya diminta datang lebih pagi. Dan kamipun tiba sekitar 5 menit lebih pagi dari biasanya (iya, biasanya mepet banget sama bel masuk hahahaa). Mbak K bergabung masuk ke hall bersama teman-temannya, dan emak meluncur cantik ke Lapangan Sempur.

Niatnya mau menambah 1 putaran dari terakhir minggu kemarin, tapi karena pagi kurang minum dan tidak membawa minum, jadi disamakan dulu saja dengan minggu kemarin. Lumayan berkeringat.

Meluncur pulang, kemudian memasak air untuk mandi. Membayangkan berendam air hangat koq jadi bersemangat disepanjang jalan. Sambil menunggu air masak, setel musik, buka email pribadi, kerjakan pekerjaan pribadi. Pas lihat jam, Eh baru Jam 8 pagi ternyata. WoW banget deh...

Ngobrol sebentar dengan tetangga yang sedang jemur bayinya, haha hihi, masuk lagi.

Is it really Monday?

Sepertinya Minggu ini akan menjadi Minggu yang bersemangadh. Bring it on!

#Sekian
#Receh
#Daysoffwork
#JadiSemangadhLagi