Wednesday, February 9, 2022

22Feb09 - Di Ubud KuBer ATV

Kuber ATV

Setelah tinggal selama 3 bulan di Bali tahun lalu dalam situasi pandemi, di kepulangan kami kali ini kami ingin merasakan juga berkegiatan seperti wisatawan pada umumnya. Biar kek orang-orang, kalau bahasa gaulnya. Akhirnya kami mencoba kegiatan ber-ATV. 

Banyak sekali penyedia layanan kegiatan ber-ATV di Bali. Rata-rata mereka di kawasan Ubud, di mana masih banyak medan yang sesuai dengan jenis aktifitas ini. Kami memilih penyedia layanan yang bernama KUBER ATV. Bukan dari browsing atau dari info mana-mana hingga kami memilih penyedia layanan ini. Sesimple "yang kemaren di pake Medi" saja. hahaha. Saya kan kalau sedang rajin bisa sangat rajin mencari, tetapi kalau sedang malas ya malas sekali. 

Harganya lumayan, tetapi mendengar cerita Medi tentang medan yang akan kami tempuh dengan ATV ini, sepertinya menjanjikan. Perlu dibuktikan yekaaan :-)

Oh iya, jujurly, ini adalah kali pertama saya naik ATV. Kalau Mas Bojo dan Mbak K sih sudah sering. Saya grogi sekali saat tiba di tempat ATV. Saya langsung bilang pada pemandu kami bahwa saya belum pernah naik ATV. Untung mas nya baik dan pintar menenangkan hati. Katanya, "Nggak papa kak, nanti setelah selesai dari sini, pasti langsung canggih main ATV." katanya. Saya sih memang senang menjadi korban iklan, jadi percaya saja :-p

Karena kami hanya datang bertiga, kami digabungkan dengan 1 rombongan keluarga besar lain dengan dua orang pemandu. Mereka sekitar 7 orang kalau saya tidak salah ingat. Beberapa diantaranya juga sepertinya sama dengan saya, belum pernah naik ATV. Atau mungkin belum pernah naik ATV dengan jalur yang se-mantul jalurnya KUBER ATV. hahahaa.

Ada 2 jalur yang menjadi target kami hari itu. Rute pertama adalah berangkat dari Base Camp, menyusuri jalan desa, menyeberang jalan besar, menyusuri saluran irigasi, menyusuri sawah, masuk ke jalur kebun, kembali menyusuri sawah, saluran irigasi, menyeberang jalan besar, menyusuri jalan desa dan kembali lagi ke depan base camp tanpa berhenti, dan lanjut ke jalur kedua.

Saya mau cerita dulu mengenai pengalaman di jalur pertama. Seperti yang saya bilang, bahwa ini adalah kali pertama saya mengendarai ATV. Suami saya bilang, "santai aja, ini matic. Tinggal gas - rem - gas - rem." Iya memang betul tinggal gas dan rem, tetapi dia tidak mengatakan bahwa mengarahkan stang agar lurus, atau agar nurut saat akan berbelok di jalan sempit itu, tidak semudah mengendarai motor matic. Hasilnya, saya hampir masuk ke sawah, dan hampir nyungsruk ke saluran irigasi. Bersyukur saya masih bisa mengendalikan ATV saya, walau dengan susah payah. Sehingga saya tidak perlu mengalami kejadian-kejadian yang tidak diinginkan itu. 

Nasib yang kurang beruntung dialami satu anggota rombongan kami dari keluarga sebelah. Salah satu pengendara ATV nya, perempuan, benar-benar bablas masuk ke sawah. Untung sawahnya kering dan sedang tidak ditanami padi. Saya dan Mas Bojo saling menatap dengan senyum simpul, saling membaca pikiran masing-masing. Pikiran saya bilang, "Ya Allah, untung bukan saya.", sedangkan Mas Bojo tersenyum dan berfikir "untung bukan maneh..." So sweet kan? :-p

Jalur kebun yang pertama

Lanjut ke jalur kedua, di mana kami bergerak ke sisi sebelah kanan base camp. Setelah menyusuri jalan sempit dari beton, kami semua berhenti menunggu semua rombongan untuk bergerak bersama-sama. Ternyata oh ternyata, jalanannya turun hampir 45 derajat. Karenanya kami harus bergerak rapat dari ATV ke ATV. Paling depan adalah ATV pemandunya yang dengan sangat cakap memandu kami, sekaligus menjadi ganjalan bagi ATV di belakangnya. 

Kami bergerak berentetan hingga tiba di jalan yang cukup landai, tetapi rupanya hanya sebentar-sebentar kami menemui jalan landai. Gustiii... Lengan rasanya seperti berteriak minta tolong sangking kerasnya dia bekerja memencet rem dan mengendalikan stang ATV agar tetap di jalannya. 

Sebetulnya saya merasa ngeri sekali, dan hampir menyerah. Tapi kok malu sama anak wedhok yang justru berteriak-teriak kegirangan di boncengan bapaknya. Dengan was-was saya mengikuti arus ke manapun pemandu kami membawa. Tentunya dengan mulut komat-kamit dan hati banyak berdoa. 

Ternyata di ujung bawah jalanan curam itu, kami mengendarai ATV kami dengan menyusuri sungai yang airnya jernih. Duuuh, semua takut yang tadinya saya rasakan, langsung hilang berganti dengan bahagia. Karena sungainya adalah sungai alami, jadi bebatuan di sana juga tidak teratur. Membuat kami berjuang semakin keras untuk maju. Namun, rupanya sungai jernih itu bukanlah satu-satunya medan indah yang harus kami lalui. 

Kami masuk Goa saudara-saudara. Goa yang merupakan jalur air sungai itu juga. Konon katanya Kuber ATV adalah salah satu pioner usaha ATV yang menemukan jalur air di bawah goa ini. Mereka kemudian melebarkan jalan airnya agar bisa di lalui ATV. Wow... Luar biasa bukan? Di dalam goa itu, rasanya jalur semakin tak menentu. Gelap, dinding baru di atas kepala, bebatuan menonjol tak beraturan di bawah roda ATV, dan suara menggerung-nggerung yang memekakkan telinga, membuat adrenalin kami terpacu keras. Hingga saat cahaya ujung goa terlihat, perasaan lega membuncah di dada. We made it guys!!!

Jalur kedua, masuk Goa
Dari mulut goa, kami masih kembali menyusuri jalur sungai dan juga jalur sempit yang diapit tebing tanah cukup tinggi. Kami tidak bisa menebak ke mana kami akan pergi, dan apa yang ada di depan kami selanjutnya. Karenanya, saat akhirnya kami melewati aliran air terjun dengan ATV, kami semua tertawa ceria dengan wajah-wajah cerah. Aaahhh... Luar biasa sekali memang pengalaman Ber ATV-an dengan KUBER ATV ini. Kami semua berhenti di jalur selepas air terjun untuk berfoto dengan rombongan sendiri. Setelah foto orang dan air terjun selesai, pemandu kami meletakkan satu ATV di depan air terjun untuk properti berfoto. Yeayyy!!! Untung saya kami tidak mengiyakan saat ditawari dokumentasi komplit dari awal sampai akhir dari mereka, karena harganya luar biasa mahal untuk ukuran keluarga kecil. Toh kita juga di kasih kesempatan foto di lokasi premium nya. Yekaaan :-)

Spot favorit, Air Terjun

Setelah bersenang-senang di air terjun, kami semua kembali ke tempat kami meninggalkan ATV kami. Dan bayangan yang cukup horor muncul di pelupuk mata saya. Kalau tadi turunannya setajam itu, bagaimana sekarang tanjakannya? Buru-buru saya mengenyahkan bayangan-bayangan seram, dan menguatkan tekat untuk bisa pulang dengan selamat. Karenanya, tanjakan curam yang berkelok-kelok itu saya jalani dengan sepenuh hati. Jika saat turun kami harus menempel dari satu ATV ke ATV, maka kebalikan dengan perjalanan pulang yang menanjak ini. Kami harus melakukannya sendiri-sendiri, satu-persatu. Wohooo...

While we're here

Setibanya kembali di base camp dengan selamat, dan menghabiskan beberapa menit untuk bersenang-senang di kubangan dengan saling balapan dan semprot-semprotan air lumpur dengan roda ATV, kami membersihkan diri di kamar mandi yang telah disiapkan. Lalu kami makan siang di resto dengan voucher makan yang merupakan satu kesatuan dengan harga tiket yang kami bayar. Lumayaaan... 

Setelah dari Kuber ATV, kami tidak langsung pulang ke Ngetis. Kami memilih untuk meluncur dan menghabiskan hari di Pantai Melasti. Salah satu pantai idola dan favorit kami. 

Saat Matahari Masih Terik

Saat Air Laut Surut


Monday, February 7, 2022

22Feb07 - Bersepeda Sepanjang Sanur

Hari ke tiga di Bali, adalah hari di mana Mas Bojo menyusul kami. Rencananya belio mau naik Bis Sarbagita dari Bandara ke Sanur. Awalnya saya berfikir Bis Sarbagita bisa berhenti di sekitar perempatan MCD, sehingga kami nanti bisa makan pagi bersama di Nasi Campur Men Weti. Karenanya, saya dan K meluncur dengan sepeda motor sewaan dan parkir di Pantai Sindhu.

Setelah diskusi (yaelah diskusi sama nak kicik) dengan K, akhirnya kami sepakat untuk menunggu ayahnya sambil sepedaan menyusuri pantai Sanur. Kami menyewa sepeda yang ada dudukan anak di belakangnya seharga 40ribu untuk 2-3 jam. Kami menggowes santai ke arah Mak Beng, lanjut ke Arah Pantai Matahari Terbit. Karena hari libur, jadi pantai sangatlah ramai, termasuk di jalur sepeda. Sehingga di beberapa titik kami ber sidak-siduk dengan orang dan sepeda lain. 

Jalur sepeda di Pantai Sanur memang sangat tertata dengan baik. Hanya saja masih sering bercampur dengan pejalan kaki sehingga terkadang perjalanan tersendat. Bersepeda, menikmati udara pantai, angin semilir, hangatnya sinar matahari, dan ditambah lagi dengan sesi haha hihi bersama Nak Wedhok, membuat waktu berjalan menyenangkan. Quality time sekali bagi saya. 

Setelah tiba di Pantai Matahari Terbit, kami putar balik dan kembali ke titik awal. Saya lelah dan K juga mulai bosan, akhirnya kami kembalikan sepedanya, dan berjalan kaki. Beli es krim di mamang es, jalan kaki sambil ngobrol haha hihi. Rupanya Ayahnya K sudah mendarat tetapi lama baru mendapatkan bis. K sudah lapar, begitupun saya. Akhirnya kami makan duluan di Nasi Campur Men Weti. 
Hingga makanan kami habis, Mas Bojo belum kunjung tiba, karena jalur Bis Sarbagita ternyata berputar-putar lama. Rencana berubah, akhirnya kami mengganti titik temu. Alih-alih di Pantai Sindu, kami bergeser ke Pantai Matahari Terbit. Persisnya di Warung Laisan. Salah satu tempat makan favorit kami juga. Nanti saya ceritakan di unggahan lainnya ya. 

Sunday, February 6, 2022

22Feb06 - Daily Baguette

Salah satu tempat sarapan kesukaan kami di Area Sanur adalah Daily Baguette. Lokasinya di ujung Jl. Danau Tamblingan, dekat dengan persimpangan yang ke Pantai Duyung. Tempat ini buka pagi sekali, dan menyediakan pastry mini. Dari segi ukuran dan harga, pastry mini lebih menyenangkan untuk saya. Emak-emak mode on yekaaan... Kalau K beda lagi. Makanan favoritnya adalah Panini dengan topping dan isi yang sesukanya sendiri. Aaahhh, rasanya belum pernah kami kembali ke Sanur tanpa sarapan di Daily Baguette ini. Pelayan di sana ramah-ramah sekali. K pernah bilang ke saya saat saya mengemukakan perasaan saya mengenai para pelayan yang ramah itu, dia bilang "memang mereka ramah sekali, bahkan dengan Lion juga mereka ramah ngajakin ngobrol." Baiquelah mbak...


Saturday, February 5, 2022

22Feb05 - Men Weti

Makanan andalan, Nasi Campur Men Weti

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata ini, teman saya mengenalkan pada makanan khas Bali ini. Dan sejak saat itu pula, saya jatuh cinta padanya (nasi campurnya, bukan pada teman saya). Jadi, rasanya tidak pernah saya melakukan perjalanan ke Bali, tanpa makan di Nasi Campur Men Weti walau sekali. Meskipun saat ada meeting kantor di hotel, pasti ada masanya saya melewatkan sarapan bersama dan kabur ke Nasi Campur Men Weti ini. 

Nasi Campur yang saya kenal adalah yang terletak di Sanur, tepatnya di Pantai Sindu. Perempatan McD kalau orang bilang. Bukan jam 7.30. Biasanya sebelum buka saya sudah nangkring di depan warung, demi mendapat antrian awal. Maklum ya, kalau sudah mulai siang, antrian nya bisa mengular. 
Nasi campur Men Weti ini mungkin saja sama dengan nasi campur lain di tempat lainnya. Namun, bagi lidah saya dan Mas Bojo, tetap nasi Men Weti yang ada di hati. Rasanya itu passs sekali. Mungkin karena di racik dengan tangan, di emek-emek, di cuwel-cuwel gitu ya, jadi makin nikmat. Hahaha. Saya sempat mencicipi Nasi Campur Warung Adi, Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku, Nasi Mak Juwel, dan Nasi Campur di beberapa tempat lain di Bali. Namun lagi-lagi hanya ke Nasi Campur Men Weti kami kembali... Enaaakkk...


Yang paling saya suka dari nasi campur Men Weti ini adalah sambal goreng dan kulit ayamnya. Sambel gorengnya itu selalu bikin keringetan dan huhah huhah. Kerupuk kulitnya krispi kriuk-kriuk banget gitu. Buat hiburan kalau sudah mulai kepedasan. Nikmat deh ih... 

Secara harga, Nasi Campur Men Weti memang terhitung mahal. Seingat saya, dulu pertama kali saya makan Nasi Campur Men Weti itu harganya masih 15-20 ribuan. Sekarang satu porsi biasa harganya 30ribu rupiah. Untuk porsi anak, yang artinya tidak pakai sambal, harganya 20rb rupiah. Saya pernah mencuri dengan orang bertanya apakah bisa membeli seharga 15rb, jawabannya adalah bisa jika dibungkus. Kalau makan di tempat, tidak bisa. Saya? Heheehe. Seperti yang saya bilang bahwa saya mencintai sambal goreng dan kulit, jadi pesanan saya selalu berbunyi "Mbok, saya dibungkus 3. 2 extra sambal dan ekstra kulit, yang satu untuk anak". Dan bayarnya 100rb. Pada akhirnya Mas Bojo selalu menghibahkan sambal gorengnya pada saya, jadi kebahagiaan saya terasa sempurna... #eeeaaa

Oh iya. Saat saya beli Nasi Campur Men Weti untuk di bungkus beberapa waktu kemarin, saya mendapat informasi baru. Sepertinya ada warung Nasi Campur Men Weti yang lain, entah di mana. Dan mungkin (ini baru temuan sekilas ya, alias gosip) keberadaan warung nasi campur Men Weti yang lain itu, tidak baik-baik saja di mata Qarung men Weti Sanur. Karena waktu saya sedang mengantri, si mbok yang melayani saya sedang berbicara dengan seseorang di ponsel yang dia apit diantara kepala dan pundaknya. Dia bilang:
"... Kalau pesan di Ojek Online, pilih yang ada Sanur nya. Kalau nggak pakai Sanur, KaWe!!!" Saya kasih 3 tanda penthung karena waktu itu memang si mbok rada nge-gas ngomongnya. Hahahaha

Seperti itu yaaa... 
Bagi kalian yang datang ke Bali, seandainya ke daerah Sanur, jangan lupa di coba Nasi Campur Men Weti di Jl. Pantai Sindhu. Perempatan MCD lurusss ke arah pantai. Nanti kalau ada warung makan di kanan jalan yang ramai orang duduk-duduk atau berdiri menganteri, itulah warungnya. Biasanya belum sampai tengah hari nasinya sudah habis dan tutup. Selamat mencoba! :-)

Friday, February 4, 2022

22Feb04 - Kanoing di Sanur

Hari kedua di Bali, hanya berdua dengan K, dan saya cuti kerja. Santaaaiii... 

Kami hanya berenang-renang syantiek di Ngetis, menunggu matahari yang garang meredup sedikit. 

Sorenya, saya dan K memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai yang paling dekat dengan Ngetis, yaitu Pantai Semawang. Sesampainya di Panyai Semawang, rupanya kami disambut dengan pemandangan baru. Tidak ada lagi warung-warung di jajaran pantai. Tinggalah tenda dan kursi pantai berjajar, serta proyek pembangunan jalan untuk jalur sepeda yang sedang berjalan. Oh iya, sepertinya sedang ada pembangunan cafe juga. 

K dan saya memilih untuk bermain-main di sekitar Pantai Semawang saja. K mengajak saya main kano, saya menyetujuinya. Ide bagus Mbak K! New experience yekaaan... 

Hanya dengan biaya sewa Rp. 30.000 rupiah saja, kami bisa menggunakan kano sepuasnya. Sampai matahari tenggelam, kami masih asik bermain-main dengan kano. 

Time well spent!

Thursday, February 3, 2022

22Feb03 - Gathering & Surfing di Kuta

Setelah Ria & Kiara pulang, K dan saya memutuskan untuk leyeh-leyeh. Dari WAG, kakak saya semata wayang mengunggah photo bersama penari Bali. Sontak saya kirimkan pesan ke WA pribadinya. 

Rupanya beliau sedang wisata bersama dengan para perangkat desa, Desa Glagaharjo. Saya beritahukan padanya bahwa saya dan K juga sedang di Bali. Setelah mendiskusikan jadwal masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Kuta. Dengan motor sewaan saya, kami berdua meluncur ke Kuta dan bertemu dengan rombongan Pakde nya K. 

Saya kenal beberapa dari rombongannya, sehingga sempat bersapa ria sebentar. Sembari berbincang dengan kakak saya, K rupanya Tertarik dengan kegiatan surfing yang sedang di lakukan beberapa anak. Agar bisa ngobrol dengan leluasa bersama kakak saya, K saya daftarkan untuk latihan surfing ala-ala bersama dengan bapak-bapak yang ada di situ. Dengan biaya Rp. 100.000 saja, untuk satu hingga dua jam lumayan lah ya. 

Lumayan memberi rasa percaya diri pada K untuk berani main surfing. Dan emaknya bisa berfakta ria bersama pakdenya... Hahahaha

Menjelang petang, kami mengantarkan Pakde nya K ke hotel tempat rombongan menginap. Banyak agenda mereka, jadi ketemuannya cuma saat itu saja. :-)

Wednesday, February 2, 2022

22Feb02 - Tim Penjemput Kesayangan

Beberapa hari sebelum berangkat, saya mulai colak-colek kanan-kiri, menyapa teman-teman yang (mungkin sedang berada) tinggal di Bali. Salah satunya adalah Ria, Mommie nya Kiara. Beberapa lainnya sudah punya agenda lain di luar Bali pada saat saya berada di Bali nanti, jadi belum berjodoh. Saya menanyakan kiranya ada yang dirindukan oleh Ria dari Bogor, dia bilang oncom. Kekekee. Baiquelah, cuss order lontong oncom ke Bu Erna untuk di bawa di hari keberangkatan. 

Saat tiba waktu berangkat, Ria menanyakan bagaimana kami akan ke Sanur setelah tiba di bandara Ngurah Rai nantinya, dan rencana saya adalah ingin mencoba bis umum. Namun Ria menawarkan untuk menjemput kami di Bandara. Setelah meyakinkan bahwa kami tidak merepotkan, akhirnya saya setuju dijemput Ria dan Kiara. Yuhuuu... Senangnyaaa... 

Hari yang di nanti tiba. Saya dan K diantar Mas Bojo ke bandara subuh hari karena penerbangan kami juga pagi. Rasanya sudah lama sekali kami tidak bepergian dengan pesawat berdua. Menyenangkan!


Kami bersantai menunggu di ruang tunggu setelah sarapan di tempat pilihan K. Ternyata kami gegar budaya. Salah ruang tunggu, dan baru sadar kalau keliru setelah waktunya mepet sekali. Berdua kami berlarian ke gate yang benar, rupanya kami belum beruntung. Gate nya di pindah ke gate lain. Kembali kami berdua lari tunggang langgang ke gate yang baru. Rupanya check in time sudah selesai, pesawat hampir berangkat. Kami di minta langsung berjalan ke pesawat. 

Emak masih sempat cekrek-cekrek sambil lari. Lumayan, sejarah yekaaan. Hahaha



Setelah selesai dengan urusan bagasi, kami keluar dan berjalan ke tempat mobil jemputan. Saya ingat mobil Ria berwarna merah. Karenanya, saya bilang pada K untuk mencari mobil merah dengan pandangan matanya. 

B(unda): "Mobil Kiara Merah kan ya?"

K: "Biru atau apa gitu deh"

B: "Masak sih? Merah ah"

K: "Eh iya, ya? Merah kayaknya" 

Kami melongok ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak melihat tanda-tanda mobil Ria. Akhirnya saya menelpon Ria. Ternyata mobilnya terhalang mobil travel sehingga tidak terlihat dari tempat kami berdiri. K & K bertemu lagi, terlihat senang sekali. Begitupun dengan emak-emaknya. 

Kami meluncur ke Warung Laisan untuk makan siang bersama. Warung kesukaan kami, warung seafood andalan. Hehehe


Setelah makan siang dan haha hihi, Ria mengantarkan kami ke Ngetis. 

Welcome Home! :-)


Tuesday, February 1, 2022

Selamat Datang, February 2022

Bulan sudah berganti menjadi February 2022. Kemana saja January 2022 kemarin? Pppfffiiiuuuhhh...  Like a flash!

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, bahwasannya di pertengahan Januari 2022 kemarin, diputuskan bahwa akan ada meeting luring dari kantor, di Bali. 

Obrolan setelah keluar keputusan dari kantor lah yang kemudian menjadi nganu... hahaha (as always)

(S) aya: "Akhirnya kantor berani meeting offline awal Febuari" kata saya pada Mas Bojo

(B)ojo: "Di mana? Kapan?"

S: "Di Bali, Minggu pertama Febuari" 

B: "Semua ke Bali?" 

S: "Enggak, cuma Aku, Bu SS, Mbak AF, Mbak PW aja"

B: "Tanggal berapa?"

S: "Meeting tanggal 2-3, tapi aku mau kerja dari sana tanggal 4, dan aku pulang Minggu" (mesem-mesem)

B: "Ha? Lama amat? Ngapain? K?" Terkedjoet.

S: "Iya, kan namanya pulang, itu ya jangan sebentar. Mumpung udah di sana, siapa tahu bisa ngadem sedikit. K sama kamu lah di rumah... Kecuali kalau kalian mau ikut... K kan baru sekolah offline Senen nya setelah aku pulang" mulai menghembuskan ratjoen.


......  (Bojo terdiam seolah berfikir"

B: "Aku tuh ke Puncak Senin sampai Rabu. Kamis harus ke Cianjur, pulang baru Sabtu. Gini aja... Kamu sama K berangkat Minggu, aku anterin ke bandara. Aku beresin kerjaan dulu di sini, ngurusin orang-orang yang mau pulang. Terus aku nyusul Hari Selasa" Katanya. Dalam hati saya berjingkrak-jingkrak. 

S: "Kenapa kamu nggak berangkat bareng aja Minggu? Di urusin dari sana aja?" 

B: "Nggak bisa. Tiket, antigen, dan lain-lain itu ribet mereka nanti kalau nggak ditongkrongin" 

S: "Senin udah bisa kalik berangkat? Jadi kan pas Imlek kita bisa jalan-jalan?" tetep keukeuh. 

B: "Lihat nanti deh. Tapi kayaknya Selasa. Soalnya orang terakhir itu pulang Senin malam" 

Baiquelah, telah diputuskan. 


Rasanya senang sekali mendengar Mas Bojo menyetujui untuk nyusul. Karena dalam hati saya, memang pengen dia dan K ikutan saja. Toh K baru masuk sekolah offline minggu depannya karena dia termasuk nomer absen besar. Lumayan lah ya satu minggu pulang kampung. Ihirrr... 

Nah, 

Karena #30haribercerita telah usai di January 2022 kemarin, dan akun instagram telah kembali di vakumkan sebelum di un-install nanti akhir February 2022, sepertinya saya akan bergeser platform. Bagaimana jika di Bulan February ini, acara bercerita pindah ke mari? 

Saya ingin bisa menceritakan betapa akhirnya saya senang sekali menemukan kenyamanan kami di Bali. Banyak cerita dari #thejourneyofkeluargaumang tahun lalu yang masih sebatas tersimpan di galeri foto hingga kini. Saya musti mulai menggali lagi satu persatu. Rasanya cukup layak bagi mereka untuk menghuni blog ini. Suatu saat, saya akan mengajak K untuk sama-sama jatuh cinta pada kenangan kami itu, di sini. 

Tidak ada janji untuk selalu mengunggah cerita dari hari ke hari, namun niat untuk bercerita ini cukup tinggi rasanya. Let see yaaa


Feb, 2022