Monday, December 22, 2025

I Wannabe A Microwave

Liburan... 

Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi menjadi suasana baru, yang konon katanya bisa menjadi penyembuh. Entah penyembuh apa, mungkin banyak yang di hari biasa merasa sakit, sehingga dengan mencari penyembuh saat libur, maka mereka akan sembuh dan siap kembali menghadapi rutinitas saat libur tlah usai. 

Begitupun dengan keluarga Nala ini, tak luput dengan rencana untuk mengadakan pergerakan. Namun, dikarenakan akhir tahun ini adalah masa di mana K harus mendaftar ke SMP, belum mendapat satupun kabar dari dua calon sekolah yang kami coba daftarkan, maka Emak tidak terlalu bernafsu untuk bergerak. 

Long short story, maka si Bapak yang bergerak naik Gunung Rinjani, si Anak akan di cemplungkan kembali ke Barak masa kini, dan Emak tetap menjadi kuli yang Qerja Bagai Quda. Hahaha....

Dan begitulah yang terjadi. Hingga saat tulisan ini di tulis, si Bapak baru turun dari Puncak Rinjani, si Anak baru pulang dari Barak 2 hari, dan Emak masih menjadi Kuli. 

Jujurly, hati emak ini rasanya penuh sekali setelah menjemput K dari Camp. Penuh karena bangga dan bahagia sama anak sendiri boleh kan ya? hehehehehe. Bahkan untuk merasa bangga pada anak sendiri aja, kadang saya merasa malu. Ah, katanya trauma masa kecil. Mbuhlah. Kita mulai dari sekarang deh kalau gitu :-p

Jadi ceritanya, sewaktu menjemput K ke Rumah Perubahan, kan ada sesi berbagi bersama orang tua, psikolog yang mendampingi camp, dan juga Prof RK. Sebagai pembuka acara, kami diperlihatkan video pendek mengenai aktifitas anak-anak selama 3 hari 2 malam di SDC. 

Saat muncul K di video, dan dia memegang mic, menyebutkan sesuatu (saya tidak terlalu dengar), saat itu Prof RK melihat ke arah video dan berbalik ke arah orang tua sambil bertanya, "Ini anak siapa?" Saya mengangkat tangan. Dan Prof RK mengacungkan jempolnya. 

Mungkin bagi orang lain hal ini terasa remeh. Tapi bagi emak mellow yang satu ini, it means the world. Hilang sudah lelah marah dan murka yang pernah terjadi di antara anak dan emak, langsung diputihkan saat itu juga. Hahahhahaa

Setelah itu, acara diskusi dengan menyenangkan, kalau kata anak sekarang, berdaging semua. Psikolog yang dipanggil Coach Ivana berbagi banyak hal, lalu Prof RK juga menyambung dengan insight yang sedikit banyak terasa seperti tamparan kecil di muka ini. Eheeemmmm... 

Coach Ivana mengatakan bahwa mereka sudah sering mengadakan camp ini untuk para executif, pekerja, CEO, dll. Dan beliau meyakinkan kami bahwa core ide untuk menyelesaikan masalah yang sama yang di miliki oleh para executif dll itu, tidak berbeda dengan yang keluar dari kepala anak2 kami. Jadi kami didorong untuk melanjutkan misi mengetok cangkang telur anak-anak kami, dan tidak mematikan setiap ide kreatif yang mereka utarakan. 

Coach Ivana menyebutkan bahwa bahkan ada anak yang mengatakan kalau Ia ingin menjadi Microwave. Kami semua ikut tertawa. Cita-cita unik, menandakan bahwa anak itu memiliki kepercayaan diri tinggi dan merasa aman untuk bisa mengatakan apapun yang ada dikepalanya, tanpa takut dihakimi orang lain, katanya. Saat itu saya berfikir, "Wow, kece juga anak itu". 

Lalu kami masuk di sesi diskusi, tanya jawab yang cair dan lagi-lagi berdaging. Setiap ada parents bertanya, coach Ivana akan menjawab, dan Prof RK akan menambahkan insight nya. Saya rasa, parents yang hadir di situ, sama-sama merasa cukup kenyang setelah acara selesai. Hahaha. 

Kemudian kami berfoto bersama, dan berfoto sendiri-sendiri dengan Prof RK bagi yang mau. Ya saya maulah tentunya. hahahaha. Dan lagi2 saat itu, Prof RK bilang pada saya, "Anak ibu hebat,". Terima kasih Prof, semoga dia bisa terus belajar untuk menjadi good driver, tanpa lupa caranya menjadi good passenger. Pengalaman 3 hari 2 malam di Rumah Perubahan ini, saya yakin akan menjadi bekal penting untuk memperkuat fondasi dirinya. Aamiin. 

Saat akhirnya saya bertemu dengan K di depan lobby kamar mereka menginap, K seperti biasa tak sabar berbagi cerita. Saya yang juga mendapat beberapa teman baru, kami bertukar nomor dan mengucapkan salam perpisahan. Sembari menunggu taksi online, kami berjalan ke arah Kafe Breezy, di mana Prof RK sedang melakukan foto bersama dengan beberapa parents. Tentu saja kami bergegas mengantri. Ya why noootttt... hahahahhaa

Mendengar cerita dari K, saya merasakan keseruan yang mereka alami. Dan karena saya sudah mendengarkan paparan dari Coach Ivana dan Prof RK, maka saya bisa melihat gambaran besar dari apa yang mereka lakukan, tujuan, serta harapan yang ingin disampaikan oleh SDC. Di situlah tugas saya untuk menjejalkan yang perlu di jejalkan, dengan cara semulus mungkin. kekekekekeke

Malamnya, saat kami menonton TV, saya teringat dengan cerita Coach Ivana tentang anak yang bilang kalau dia mau jadi Microwave. Tiba-tiba, K bilang "Jadi Bunda tahu donk kalau aku mau jadi Microwave?". Apalah yang bisa saya lakukan, selain daripada ngakak dan bilang, "Jadi kamu yang mau jadi Microwave? Ok, that's good." 

Untuk teman-teman yang memiliki anak usia sekolah, saya rasa cukup sepadan jika mau menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya, untuk mendaftarkan mereka ke Self Driving Camp ini. Memberikan pengalaman baru untuk anak, sukur-sukur banyak yang nempel di hati mereka. :-)

#SelfDrivingCamp

#RumahPerubahan

#HolidayActivity

Saturday, December 6, 2025

Again, It's Just A Thing lho Mbak

Dari Sini

Bulan November, bisa-bisa diusulkan sebagai bulan tumbler nasional, gara-gara se-Indonesia Raya membicarakan sebuah merek tumbler, dan ke-nganu-an yang punyanya. 

Saat saya membaca berita tentang beliau itu, saya jadi teringat cerita tentang kisah anak wedhok dan "her thing is only thing"-nya. Dan ternyata, saya pernah tuliskan di sini (asik banget nggak sih? hahahaha). Baca di sini tulisannya. 

Di satu sisi saya ikut prihatin dengan mbyak dan mas nya yang kemudian populer melalui jalur drama di negara ini. Tetapi juga jangan salahkan netizen dengan segenap kelihaian jemarinya, karena memang mbyaknya juga agak laen saya rasa. Komentar saya kala itu adalah, "Duh mbak, kalah sama anak saya kayaknya. Anak saya aja tahu kalau terlalu mendewakan barang, itu nggak ada gunanya." 

Memiliki barang yang kita rasa bagus dan "sesuatu" itu adalah hak masing-masing orang, beserta segala kemampuannya. Tapiiii, sepertinya kita semua perlu mulai mengukur, sebatas apa kita mampu merelakan sesuatu. Jadi, saat terjadi sesuatu pada benda atau hal tersebut, tidak perlu berlarut sakit hati, kecewa, marah, apalagi tantrum yang merugikan orang lain. 

Misalkan begini: 

Kita beli saja sesuatu yang kita mampu. Mampu di sini bukan berarti harus cash ya. Cash ya lebih bagus, tapi kredit juga tidak apa-apa, selama kita sudah punya budget untuk membayarnya. Ini banyak terjadi pada jama'ah gaji bulanan seperti saya. 

Nah, kalau kita beli sesuatu yang mampu kita beli, lalu putuskan, apakah benda ini ingin kita koleksi, atau ingin kita gunakan untuk keseharian. 

Jika untuk koleksi, maka sebaiknya di simpan saja di rumah/lemari, dan kalau harus dibawa/dipakai, sesekali saja saat ada acara yang tidak terlalu banyak orang. Jadi aman dari ancaman. 

Jika kita membeli karena ingin menggunakan, maka masukkan ke dalam kepala mantra saya ini, "It's just a thing, can be broke, and can be lost." Serta masukkan juga pemikiran bahwa saat kita keluar dari ruang pribadi kita, maka jutaan alasan bisa terjadi untuk melukai, mengganggu, atau merusak apa yang kita punya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Makanya, "it's just a thing, can be broke, can be lost". 

Saat mendengar ini dari mulut saya, salah satu teman berkomentar, "Udah kek sultan aja." Tentu segera saya sambar dengan mengiyakan, "Oh iya, kita harus punya itu mental sultan. Bedakan mental sultan dengan gaya sultan ya. Yang kita harus punya, itu Mental Sultan. Jadi tidak terlalu pokil, dan tidak perlu merana saat ada barang rusak/hilang. Karena bisa segera menghibur diri, ya udah nanti kalau punya uang beli lagi." Dengan begitu, kita tidak akan tantrum membabi buta, yang bisa merugikan kehidupan orang lain. Seperti yang viral-viral itu... 

Oh iya, satu lagi pikiran (kalau yang ini rada julit kayaknya ya) setelah mendengar kasus mbyak dan mas nya itu, "Ini kalau mereka punya anak dan sekolah, kayaknya mereka bakalan beliin alat sekolah yang viral setiap kenaikan kelas juga itu. Terus kalau barangnya lecet kesenggol temennya, mereka bakal tuntut orang tua atau sekalian." Kalian mikir gitu juga nggak? Jangan-jangan saya aja yang julita. hahahahha

Begitu sih kira-kira.

#TumblerViral

#Things

#ThingIsJustAThing