Friday, December 30, 2022

The Culture of Looking Perfect

Sebelum mulai menuliskan apa yang ingin saya tuliskan, saya perlu menggaris bawahi beberapa hal. Yang pertama adalah, saya menulis ini tidak karena perasaan saya terhadap sikap orang lain pada saya. Yang kedua, saya menulis ini bukan berarti saya tidak suka terhadap kebiasaan/orang yang melakukan hal-hal terkait. Dan yang ketiga, saya menulis ini hanya karena saat ini saya sedang membaca buku "Raising A Screen-Smart Kid" - nya Julianna Miner. Dan kebetulan ada beberapa bab yang membuat saya ingin menulis di sini. Beberapa hal yang tidak saya unggah di sini, saya simpan di catatan agar suatu saat saya perlu, mudah mencarinya. Begitu yaaa :-)

Membaca buku ini sekarang-sekarang (tanggal 30 Desember 2022), memiliki cerita tersendiri. Rasanya otak saya tidak cepat memuat informasi, banyak godaan untuk tidak melanjutkan, terlebih lagi karena K tiba-tiba demam seharian. Namun, rasa penasaran tetap menyeret saya tertatih untuk maju. Bhaiquelaaah... 

Nah, bagian yang ingin saya bagi kali ini adalah bagian yang ada di tangkapan layar di bawah ini:

Tidak bisa di pungkiri, saat kita berfoto baik sendiri maupun bersama teman, hal pertama yang kita lakukan setelah selesai adalah mereview foto yang diambil. Sayapun demikian. Beberapa pertanyaan bisa jadi kemudian mengikuti, seperti: 
- Bagaimana hasilnya? Bagus nggak?
- Bagaimana penampakanku? 
- Aku kelihatan gendut nggak? 
- Apakah perutku kelihatan besar? 
- Apakah mataku merem?
- Apakah aku kelihatan pendek? 
- Aku keliatan masih muda kan? 

And the list go on and go on....

Semua itu wajar kok saudara-saudara, bahkan banyak penelitian dan juga buku/jurnalnya. :-)

Untuk saya sendiri, seringkali pertanyaan berhenti di pertanyaan pertama saja. Gimana? Bagus? Namun kadang saat teman-teman mulai membahas pertanyaan yang lain, saya ikut menyimak sambil senyum-senyum. Kadang saya juga bilang "eh buset, gw gendut banget ya". Tapi, bukan berarti saya tidak rela atau bahkan menolak kenyataan hingga ingin fotonya di delete saja. Saya juga tidak pernah mempermasalahkan orang mau upload foto (yang ada sayanya) manapun dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu saya sempat merasa geli ketika suatu waktu berfoto bersama dengan teman, setelah beberapa kali take foto, teman saya bilang "gw tutupin perut lo pake ini ya" katanya. 

Saya tertawa dan bilang "santai aja, gw nggak masalah kok perut keliatan gendut..." Namun, mungkin untuk beberapa orang, ada perut menonjol itu membuat pemandangan kurang nyaman. Which is normal juga. Seperti itu. 

Hubungan dengan buku ini, saya sedikit concern mengenai Culture Of Looking Perfect ini, sebetulnya lebih ke anak saya nantinya. Saat nanti dia mengenal media sosial, bukan tidak mungkin diapun akan mengalami hal yang sama. Fokus pada penampakan, untuk diperlihatkan kepada khalayak online. Tidak apa-apa sih. Hanya saja kalau bisa, saya ingin membuatnya sedikit kurang fokus pada hal tersebut. Mungkin saja nanti ada teman-temannya yang kemudian minder atau tidak nyaman hanya karena hal yang kurang prinsipil? Kan sayang sekali. Tapi ya nanti semua itu kembali pada diri K sih. Saya hanya bisa berharap sambil sedikit banyak membisikkan mantra-mantra padanya, berharap bisa mujarab pada masanya. Aamiin :-)

Saya tidak antipati pada media sosial. Hanya saja, karena alasan tahu diri sendiri - yang sering kehilangan kendali kalau sudah mulai memainkan jari ke atas ke bawah melihat-lihat keseruan dunia maya -, saya memilih untuk sangat membatasi penggunaannya. Saya tidak meng-install media sosial di ponsel saya, kecuali saat saya mengikuti acara-acara tertentu, atau saat saya ingin membagikan karya tulisan saya. Saya juga sangat jarang sekali masuk ke media sosial melalui browser laptop/ponsel, hanya jika perlu melakukan sesuatu yang mendesak saja. 

Satu kutipan dari tulisan di atas yang sangat seirama dengan prinsis saya dalam ber-media sosial adalah "What you choose to share about yourself on your social media feeds, says a lot about what matters to you." 

Suatu saat, mungkin itu juga yang akan saya tanamkan pada anak saya, jika waktunya tiba. :-)

Selamat menyambut Tahun Baru 2023, temans!!! 

No comments: