Tuesday, October 18, 2022

Dilemma Orang Tua dan Les Anak

 Hari ini, di tempat saya numpang kerja sembari menunggu K les, saya memperhatikan sekeliling. Saya melihat seorang ibu dan anak perempuannya (kalau saya tidak salah tafsir, mungkin usia preschool). 

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, hanya terlihat mata sekilas lalu saja. Namun, setelah beberapa saat, mereka berdua menyita perhatian saya. Nampaknya si anak tidak mau berangkat les, dan ibunya kesal. Si anak, sebut saja namanya Lili, dan si Ibu, sebut saja namanya Mami. Lili menatap Mami dengan sedih, Mami berjalan menjauh sambil menunjuk-nunjuk arah tempat les anak saya (ini dan juga back pack yang digunakan Lili yang membuat saya berasumsi bahwa dia les di tempat K les). Beberapa kali Lili mengulurkan kedua tangannya kepada Mami, Mami berjalan semakin jauh sambil mengatakan sesuatu pada pak satpam yang berjaga di pintu. 

Lili berjalan mendekati Mami, mami mengibaskan tangannya sambil berkata sesuatu, Lili menangis. Mungkin karena kesal, Mami berjalan keluar area lobby. Lili berlari mengejar Mami. Mami mendorong Lili dan menunjuk serta mengatakan sesuatu pada Pak Satpam lagi. Saat Mami berjalan menjauh, Lili berlari menyusulnya. Mereka berdua akhirnya pergi ke tempat parkir mobil. Dari tempat saya duduk, hanya terlihat kaki mereka saja. Mungkin mereka sedang beradu argumen atau saling merayu. Lalu mereka menghilang ke belakang mobil, hingga saya tidak bisa lagi melihatnya. Dan saya meluncur ke sini. 

Melihat Lili dengan kedua tangan terulur, saya berfikir bahwa uluran tangannya mengharapkan balasan pelukan dari Mami. Tapi Mami tidak memberikannya pelukan. Mami berjalan menjauhinya. Saya merasa sedih untuk Lili. Dan mendadak saya ingin memeluk anak saya. Saya berjanji akan segera memeluknya erat saat selesai les nanti. 

Saat ini sudah pukul 2.30 WIB. Mungkin Lili sedang tidak mood untuk les, atau Lili lelah dari sekolah, atau memang Lili ngeyel dan tidak ingin berangkat les. Mungkin Mami tadi terkena macet, mungkin Mami lelah karena tidak fit, mungkin Mami ada urusan lain hingga harus buru-buru, mungkin Mami memang tidak ingin Lili membolos les. Semua hal bisa terjadi, dan hal itu banyak dialami oleh para keluarga. 

Saya ingin berjanji pada diri ini, untuk sebisa mungkin tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mami, tetapi saya juga sadar mungkin beberapa kali saya melakukannya pada K juga. Meskipun bukan karena Les. Biasanya sih karena K merengek meminta untuk dibelikan sesuatu atau ngambek karena bad mood. Membuat saya juga melakukan aksi 'berjalan menjauh' seperti Mami. Duh Tuhan, maafkanlah saya. 

Les, atau pelajaran tambahan. 

Adalah suatu dilemma untuk kebanyakan keluarga, termasuk saya juga. Mengikutkan anak ke lembaga les atau pelajaran tambahan, artinya meminta komitmen dari anak kita, dan juga kita sendiri. Kalau orang tua menetapkan standar output dari kegiatan-kegiatan tersebuat, beban yang hadir diantara kedua pihak (orang tua dan anak) akan menjadi lebih besar juga. 

K termasuk banyak les nya, hingga memancing komentar dari teman-teman saya "K padet banget sih les nya? Kasian amat". Karena memang kenyataannya begitu, ya saya tidak bisa mengelak dan hanya bisa bilang "Iya, padet banget. Gw juga sampai bingung mau gemana". Dua les yang dia jalani adalah hasil dari pandemi, tetapi sekarang syulit di akhiri. hahahaha

Setiap akan berangkat Les, saya selalu menanyakan pada K "Hari ini kita les nganu ya... " Atau "Nanti pulang sekolah langsung berangkat les nganu ya". Sejauh ini, protes yang dilakukan K hanyalah "Tanganku ini lemes banget bunda. Di sekolah nulis terus. Nanti les Piano sama Gambar, jari-jari aku kayaknya nggak kuat lagi". Karena les piano dan gambarnya jatuh di Hari Selasa, di mana jadwal sekolahnya memang padat karena ada olah raga dan pramuka bersamaan. Selama ini, saya menyemangatinya masih sebatas "Sekarang kamu istirahat dulu aja. Nanti kita kan masih ada waktu makan siang, bisa sambil istirahat melemaskan jari. Kamu mau makan siang apa sekarang?'. Rayuannya sebatas sogokan makan, alhamdulillah masih berjalan. 

Selama ini saya menggunakan keyakinan bahwa selagi anak masih semangat berangkat les, masih tidak merasa terpaksa atau tertekan, maka saya akan ikutkan dia les. Harapan saya adalah tidak perlu ada kejadian seperti Lili & Mami tadi di antara kami berdua. Saya tidak ingin les menjadi tambahan bahan untuk kami bertengkar. Saat ini saja sudah cukup banyak bahan untuk kami perdebatkan. Hahahaha

Yang sabar ya ibu-ibu, jika anaknya sedang tidak mood les, tidak apa-apa. Mungkin karena dia fokus sekali belajar di sekolah, sehingga energinya habis dan ingin beristirahat dulu di rumah. Untuk anak-anak yang semangat ya. Les bukan berarti harus stress kok. Banyak teman, kegiatan dan juga hal menyenangkan yang bisa kalian lakukan bersama. Mengurangi beberapa jam waktu untuk dimarahi Ayah-Bunda atau Mama-Papa yekaaan :-)






No comments: