Tuesday, September 6, 2022

Today is K's 1st Bad Day at School

Hari ini, saya ingin menceritakan cerita anak saya, K, saat saya menjemputnya di sekolah tadi siang dan juga malam ini saat dia bersiap tidur. 

Seperti biasa, saya menunggu giliran dipanggil untuk mengambil K dari wali kelasnya. Saya melihat K yang berada di baris ke-3,  menatap saya dengan sayu. Kelelahan sepertinya, pikir saya. 

Setelah nama K di sebut, saya bergerak maju menggandeng tangannya. Saat itu dia langsung menubruk saya, dan menangis. Saya tunggu sejenak sebelum menanyakan kenapa dia menangis. Rupanya, ada kejadian tidak menyenangkan di kelasnya tadi. Katanya, temannya yang bernama A menjepit tangannya di meja. Saya menenangkan dan mengajaknya berjalan keluar dari Hall sekolah menuju pinggiran lapangan basket. 

Setelah duduk dengan nyaman, saya minta dia yang masih terus menangis menceritakan apa yang terjadi, dan meluncurlah cerita dari bibir mungilnya. 

Saya: "Jadi apa yang terjadi mbak?"

K: "Jadi, tadi kan aku lagi main sama temen-temen aku. Terus aku bercanda ambil penggaris A gitu kan, tapi aku kembalikan kok bunda. Tapi A langsung pegang tangan aku gini (dia peragakan dengan tangan) terus tanganku di tindih pakai tangannya gini di meja. Sakit banget bunda. Tadi warnanya sampai biru gitu" katanya. 

S: "Ya ampun, sakit banget ya? Coba telapaknya diginiin, bisa nggak?" tanya saya sambil memperagakan buka tutup telapak tangan. 

K: "Bisa tapi masih sedikit sakit" katanya lagi. 

S: "Duh, kasihan kamu mbak. Nggak papa, yang penting sekarang udah nggak terlalu sakit ya?"

K: "Terus ada lagi bunda. Dia blaming aku mencuri penggarisnya gitu. Padahal kan udah aku balikin. Malah dia blaming aku mencuri." Tangisnya semakin deras, membuat saya ikut bersedih merasakan patah hatinya K dibilang pencuri. Duh, anakku yang halus hatinya... 

S: "I am sorry to hear that. Bunda tahu kamu nggak bakal mencuri kok. Dan kan sudah dikembalikan. It's okay. Jangan sedih lagi ya. Temen-temen kamu lihat nggak pas kejadian itu?" tanya saya. 

K: "Lihat. Terus WP yang temennya A aja, jadi males main sama A gitu." Katanya lagi. 

S: "Tuh kan, berarti kamu nggak usah sedih lagi. Karena temen kamu juga tahu kan kalau kamu anak baik, dan A berbuat tidak baik sama kamu. Nanti Tuhan yang kasih teguran sama dia ya." Kata saya. 

Akhirnya K berhenti menangis dan bisa tersenyum lagi. Meskipun mengalami hari yang panjang, melelahkan (Pelajaran Olahraga dan Ekskul Pramuka di hari yang sama), dan juga patah hati, K masih mau berangkat les. Sebagai hiburan, dia makan siang di salah satu restoran cepat saji yang terkenal dengan burger nya. Good Job K!

*** 

Tadi sore, K mengulangi kembali cerita sedihnya pada ayahnya. Dari suaranya, dia tidak lagi sesedih tadi siang, bisa menceritakan pengalamannya dengan tertawa-tawa. 

Sebelum tidur, seperti biasa dia minta dibacakan cerita dan berdoa bersama. Saat berdoa, sepertinya K kembali merasa kesal dan marah saat saya minta dia mengikuti kalimat saya setelah berdoa Bismika Allahumma Ahya Wabismika Wa'ammut. 

S: "..... Ya Allah, saya maafkan A... " hening... K tidak mau mengikuti saya. Saya ulang beberapa kali, K tetap tidak mau mengikuti saya. 

S: "K, kalau misalkan A minta maaf sama kamu, dan kamu memaafkan dia, point dia 1, point dia juga 1. Kalau A nggak minta maaf tapi kamu memaafkan, itu dia nggak dapet point, tapi kamu dapet point. Malaikat di pundak kanan kamu mencatat itu. Jadi nanti Tuhan mudah untuk memutuskan, konsekuensi apa yang layak A dapetin" 

K tetap tidak mau berdoa untuk memaafkan A. Akhirnya saya ganti kalimatnya,

S: "Ya Allah... Saya maafkan semua teman yang berbuat tidak baik pada saya hari ini. Semoga saya bisa tidur dengan hati yang lebih damai malam ini. Aamiin." K mengikuti doanya, dan Ia pun tidur. 

Saya mengerti perasaan K hari ini. Semoga besok, hari-hari di sekolahnya lebih lancar, ringan, dan menyenangkan untuknya. Aamiin. 

No comments: