Tuesday, February 9, 2010

Si Biru Yang Berenang-renang


Hari ini kembali lagi aku di beri kesempatan mengikuti sebuah pertemuan penting. Pertemuan dengan orang2 penting tepatnya. Membicarakan si makhluk berwarna biru yang gemar melayang terbang di dasar laut. Rajungan. Nama keren yang di kenal di dunia adalah Blue Swimming Crab.

Kenapa di panggil blue? Karena badannya berwarna biru, dengan motif batik alami yang menyelimuti seluruh cangkangnya. Kenapa di panggil swimming ? karena dia memang bergerak dengan berenang. Meskipun hanya pada kedalaman tertentu. Dia memiliki sirip atau selaput di sela2 jarinya.

Dia tidak cukup popular di Negara ini, bahkan untuk kalangan penggemar seafood. Entah mengapa. Padahal, di luar negri sana, makhluk ini menjadi favorit sekali. Indonesia menjadi Negara pengekspor terbesar ketiga untuk produk ini. Wowww… luar biasa bukan? Mungkin orang yang tidak tahu akan terkejut, terlebih lagi jika di lihat berapa dollar angka yang di terima Indonesia tiap tahun atas jasa makhluk ini. Bahkan si empunya kawasan laut alias DKP saja di buat tercengang dengan data2 ini.

Si rajungan ini semakin hari semakin terancam saja kelestariannya. Kalau dulu mungkin indonesia bisa mengekspor rajunangan dengan ukuran colossal atau jumbo (ukuran daging yang bessuuaaarrr), sekarang ini ukuran tersebut sudah jarang bisa ditemui. Jumlahnya yang besar2 semakin menurun. Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa penangkapan rajungan sudah melewati ambang atau biasa di bilang overfishing.

Tapi tadi dalam pertemuan yang melibatkan Dekan dan juga Kepala Departemen FPIK IPB, Ada seorang bapak yang ahli dalam bidang rajungan mengatakan bahwa hal itu belum tentu terjadi. Menurut pendapat beliau, rajungan memiliki musim bertelur pada Bulan Juni. Rajungan yang sedang bertelur, cenderung bergerak menuju tepian laut, sehingga jika para nelayan menangkap di laut dan hasil tangkapannya sedikit, bukan berarti overfishing. Kemudian pemerintah atau NGO mengadakan seminar pada Bulan Agustus atau September dengan data dari bulan sebelumnnya itu. Maka terlihat bahwa produksi rajungan menipis.

Begitu kata beliau. Sedikit merasa aneh dengan pendapat si bapak itu. Karena dari data tangkapan yang diperoleh dari beberapa perusahaan pemain besar untuk Rajungan Indonesia, memang mengindikasikan dari bulan ke bulan hasil tangkapannya menurun. Tapi ya sudahlah…nanti kita cek lagi. Semoga saja memang tidak ada kelebihan tangkap, sehingga rajungan tetap lestari.

Pertemuan hari ini adalah untuk membahas kemungkinan2 di adakannya penelitian yang berhubungan dengan rajungan. Kenapa rajungan perlu di teliti lebih lanjut?

Yang pertama adalah karena Indonesia menjadi penghasil rajungan terbesar ke tiga di dunia, yang masuk pasar amerika.

Yang kedua adalah karena adanya indikasi kelebihan tangkap untuk rajungan ini.

Yang ketiga adalah karena kita ingin agar anak cucu kita nanti di tahun2 yang akan datang tetap dapat merasakan nikmatnya daging rajungan. Bukan hanya sekedar mendengar cerita bahwa “Dahulu kala, pernah ada satu seafood yang rasanya enak sekali, namanya rajungan”.


No comments: