Liburan...
Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi menjadi suasana baru, yang konon katanya bisa menjadi penyembuh. Entah penyembuh apa, mungkin banyak yang di hari biasa merasa sakit, sehingga dengan mencari penyembuh saat libur, maka mereka akan sembuh dan siap kembali menghadapi rutinitas saat libur tlah usai.
Begitupun dengan keluarga Nala ini, tak luput dengan rencana untuk mengadakan pergerakan. Namun, dikarenakan akhir tahun ini adalah masa di mana K harus mendaftar ke SMP, belum mendapat satupun kabar dari dua calon sekolah yang kami coba daftarkan, maka Emak tidak terlalu bernafsu untuk bergerak.
Long short story, maka si Bapak yang bergerak naik Gunung Rinjani, si Anak akan di cemplungkan kembali ke Barak masa kini, dan Emak tetap menjadi kuli yang Qerja Bagai Quda. Hahaha....
Dan begitulah yang terjadi. Hingga saat tulisan ini di tulis, si Bapak baru turun dari Puncak Rinjani, si Anak baru pulang dari Barak 2 hari, dan Emak masih menjadi Kuli.
Jujurly, hati emak ini rasanya penuh sekali setelah menjemput K dari Camp. Penuh karena bangga dan bahagia sama anak sendiri boleh kan ya? hehehehehe. Bahkan untuk merasa bangga pada anak sendiri aja, kadang saya merasa malu. Ah, katanya trauma masa kecil. Mbuhlah. Kita mulai dari sekarang deh kalau gitu :-p
Jadi ceritanya, sewaktu menjemput K ke Rumah Perubahan, kan ada sesi berbagi bersama orang tua, psikolog yang mendampingi camp, dan juga Prof RK. Sebagai pembuka acara, kami diperlihatkan video pendek mengenai aktifitas anak-anak selama 3 hari 2 malam di SDC.
Saat muncul K di video, dan dia memegang mic, menyebutkan sesuatu (saya tidak terlalu dengar), saat itu Prof RK melihat ke arah video dan berbalik ke arah orang tua sambil bertanya, "Ini anak siapa?" Saya mengangkat tangan. Dan Prof RK mengacungkan jempolnya.
Mungkin bagi orang lain hal ini terasa remeh. Tapi bagi emak mellow yang satu ini, it means the world. Hilang sudah lelah marah dan murka yang pernah terjadi di antara anak dan emak, langsung diputihkan saat itu juga. Hahahhahaa
Setelah itu, acara diskusi dengan menyenangkan, kalau kata anak sekarang, berdaging semua. Psikolog yang dipanggil Coach Ivana berbagi banyak hal, lalu Prof RK juga menyambung dengan insight yang sedikit banyak terasa seperti tamparan kecil di muka ini. Eheeemmmm...
Coach Ivana mengatakan bahwa mereka sudah sering mengadakan camp ini untuk para executif, pekerja, CEO, dll. Dan beliau meyakinkan kami bahwa core ide untuk menyelesaikan masalah yang sama yang di miliki oleh para executif dll itu, tidak berbeda dengan yang keluar dari kepala anak2 kami. Jadi kami didorong untuk melanjutkan misi mengetok cangkang telur anak-anak kami, dan tidak mematikan setiap ide kreatif yang mereka utarakan.
Coach Ivana menyebutkan bahwa bahkan ada anak yang mengatakan kalau Ia ingin menjadi Microwave. Kami semua ikut tertawa. Cita-cita unik, menandakan bahwa anak itu memiliki kepercayaan diri tinggi dan merasa aman untuk bisa mengatakan apapun yang ada dikepalanya, tanpa takut dihakimi orang lain, katanya. Saat itu saya berfikir, "Wow, kece juga anak itu".
Lalu kami masuk di sesi diskusi, tanya jawab yang cair dan lagi-lagi berdaging. Setiap ada parents bertanya, coach Ivana akan menjawab, dan Prof RK akan menambahkan insight nya. Saya rasa, parents yang hadir di situ, sama-sama merasa cukup kenyang setelah acara selesai. Hahaha.
Kemudian kami berfoto bersama, dan berfoto sendiri-sendiri dengan Prof RK bagi yang mau. Ya saya maulah tentunya. hahahaha. Dan lagi2 saat itu, Prof RK bilang pada saya, "Anak ibu hebat,". Terima kasih Prof, semoga dia bisa terus belajar untuk menjadi good driver, tanpa lupa caranya menjadi good passenger. Pengalaman 3 hari 2 malam di Rumah Perubahan ini, saya yakin akan menjadi bekal penting untuk memperkuat fondasi dirinya. Aamiin.
Saat akhirnya saya bertemu dengan K di depan lobby kamar mereka menginap, K seperti biasa tak sabar berbagi cerita. Saya yang juga mendapat beberapa teman baru, kami bertukar nomor dan mengucapkan salam perpisahan. Sembari menunggu taksi online, kami berjalan ke arah Kafe Breezy, di mana Prof RK sedang melakukan foto bersama dengan beberapa parents. Tentu saja kami bergegas mengantri. Ya why noootttt... hahahahhaa
Mendengar cerita dari K, saya merasakan keseruan yang mereka alami. Dan karena saya sudah mendengarkan paparan dari Coach Ivana dan Prof RK, maka saya bisa melihat gambaran besar dari apa yang mereka lakukan, tujuan, serta harapan yang ingin disampaikan oleh SDC. Di situlah tugas saya untuk menjejalkan yang perlu di jejalkan, dengan cara semulus mungkin. kekekekekeke
Malamnya, saat kami menonton TV, saya teringat dengan cerita Coach Ivana tentang anak yang bilang kalau dia mau jadi Microwave. Tiba-tiba, K bilang "Jadi Bunda tahu donk kalau aku mau jadi Microwave?". Apalah yang bisa saya lakukan, selain daripada ngakak dan bilang, "Jadi kamu yang mau jadi Microwave? Ok, that's good."
Untuk teman-teman yang memiliki anak usia sekolah, saya rasa cukup sepadan jika mau menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya, untuk mendaftarkan mereka ke Self Driving Camp ini. Memberikan pengalaman baru untuk anak, sukur-sukur banyak yang nempel di hati mereka. :-)
#SelfDrivingCamp
#RumahPerubahan
#HolidayActivity

No comments:
Post a Comment