Setelah semalaman aku berputar2 Kota Bogor, menikmati lengangnya malam sendirian hanya dengan si black my lovely motorcycle. Aku bangun terlambat alias kesiangan. Ketika sadar bahwa hari sudah tinggi, aku baru ingat bahwa hari ini adalah jadwal kepulangannya dari trip-nya yang ke sekian. Kali ini dia pergi ke Kalimantan, tepatnya wilayah Palangkaraya dan Banjarmasin.
Singkat cerita, kami sepakat untuk menghabiskan akhir pekan ini dengan mengunjungi tempat favorit kami yang telah lama kami tinggalkan. Gunung Bunder.
Satu cerita aneh bin ajaib yang ingin ku ceritakan di sini dari hasil jalan2 kami hari ini.
Seperti biasa kami naik motor, memilih warung yang nyaman dan tidak terlalu penuh, pesan kopi, mie rebus, dan ngobrol ngalor-ngidul. Sayangnya, warung yang selama ini menjadi langganan kami sedang ramai. Jadi kami memilih warung yang berada tak jauh dari sana.

Seperti biasa juga, banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari hal serius, kurang serius, biasa saja, hingga hal2 yang remeh temeh. Begitulah cara kami menghabiskan waktu. Tidak dengan memenuhi pusat2 perbelanjaan atau juga memadatkan kota yang semakin padat di waktu weekend.
Setelah puas dengan makanan, minuman, dan obrolan, kami mengakhiri diskusi sore kami. Selain itu juga cuaca mulai menandakan akan datangnya hujan lebat, terlihat dari mendung yang semakin menggelayut. Maka kamipun bersiap dan aku beranjak membayar apa saja yang telah kami habiskan sesorean itu.
"Berapa semuanya bu?" Tanyaku pada ibu yang berjualan.
"tigapuluh ribu" Katanya.
HHeeehhh??? tigapuluh ribu? emang kita makan apa ya?? Akupun kembali ke meja tempat kami makan dan melihat siapa tahu ada makanan yang kami makan dengan tidak sadar. Tetapi aku tidak melihat ada makanan aneh yang nyasar ke meja kami. Di meja itu hanya ada :
1. 2 mangkuk bekas mie rebus (biasanya harga Rp. 5000 kalau di tempat yg biasa)
2. 1 Gelas bekas teh manis hangat (paling Rp. 2500)
3. 1 Gelas bekas kopi (Paling Rp. 2500, lha wong kopi sachet)
4. 1 plastik bekas bungkus kerupuk (biasanya Rp. 1000)
Aku mencoba berhitung, takut kalau ternyata kemampuan menghitung cepatku sudah menjadi sedemikian parah. Tetapi beberapa kali aku hitung dan aku gelembungkan harga, tetap saja tidak mencapai tigapuluh ribu rupiah. Apa yang salah ya???
Akhirnya aku kembali ke tempat ibu yang jualan...
"Maaf bu, berapa jumlah semuanya?" tanyaku lagi
"semuanya jadi tigapuluh ribu" katanya
"Mie rebusnya dua berapa bu?" tanyaku
"Mie rebus dua enam belas ribu" katanya
"Teh manis anget berapa bu?" tanyaku lagi
"Teh manis sama kopi ya?" tanyanya
"iya, sama kopi." jawabku
"Tujuh ribu" katanya
"Enambelas ribu di tambah tujuhribu jadinya duapuluhtiga ribu ya" kataku.
"Kalau kerupuk berapa bu?" tanyaku lagi.
"Berapa kerupuknya?" tanyanya
"Satu" jawabku.
"Dua ribu" katanya
"Duapuluhtiga ribu di tambah dua ribu berarti duapuluhlima ribu ya bu?" tanyaku
"Iya" katanya.
Huahh.... berakhirlah sudah obrolan yang menjengkelkan dengan si ibu itu. Aku masih bingung dengan asal muasal tigapuluh ribu nya itu. Beruntunglah macanku belum mengamuk. Biasanya, aku akan menjelma menjadi macan yang siap mengamuk kapan saja. Tapi tadi aku tidak bernafsu melakukan itu. Karena mood-ku memang sedang tidak bagus hari ini.
Mungkin dia (penjual itu) menganggap kami ini para wisatawan yang tidak tahu harga umumnya. Atau mungkin dia menganggap kami ini mau begitu saja di bodohi dengan hitungan2 palsunya. Sebenarnya aku bisa saja menuntut pembenaran dari penggelembungan dana itu (halah, kayak pansus aja ya..). Mana ada teh manis dan kopi di gabung harganya berubah jadi Rp. 7000. Yang bener aja donk madam...:P
Sebenarnya telah terjadi pelanggaran pada mark up harga disini. Tetapi ya sudahlah..namanya juga orang yang berusaha bertahan hidup. Tidak apa2... Mungkin si ibu itu tidak mengerti bahwa sistem pembuatan harga yang seenaknya itu dapat mempengaruhi penilaian kualitas wisata di Indonesia. Mungkin aku yang datang dengan motor plat AB ini di sangka wisatawan dari jauh. :P
Pelajaran yang bisa aku rasakan dari perjalanan kami hari ini adalah :
- Kalau mau makan di tempat itu lagi, lebih baik bertanya harganya dulu sebelum pesan.
- Kalau masih bisa memilih tempat yang lain, sebaiknya aku memilih tempat biasanya saja.
heuheuehueheu.....
Kami ini masyarakat lokal bu...Bukan bule atau londho...^_^
No comments:
Post a Comment