Wednesday, February 17, 2010

Obrolan di Pagi Hari Dengan Orang Sastra

Pagi ini, aku bangun cukup pagi, langsung mandi (tumben nih) dan bergerak menuju gekcko studio. Temanku yang dari Bengkulu mengatakan bahwa dia akan pulang ke Bengkulu hari ini, jadi aku ingin mengucapkan selamat jalan terlebih dahulu. Ketika melewati pasar kaget yang dekat dengan masjid, aku melihat ada gandhos atau yang orang sering bilang gemblong. Aku membeli beberapa gandos/gemblong dan juga arem2. Cukuplah untuk sarapan anak2 itu, pikirku.

Sampai di gecko, aku hanya melihat Mas Akbar yang sedang membaca Koran di ruang tamu. Setelah bersalam sapa, akupun menuju ruang TV tempat temanku tidur. Anak itu masih tertidur lelap. Ya sudahlah, kembali lagi aku ke ruang tamu dan ngobrol dengan Mas Akbar. Scara beliau memang orang yang suka mengobrol dan berbagi cerita dengan orang lain (hehehhe….jadi ingat sewaktu Birgitte dari Austria ikut rombongan kami ke festifal film STOS, 2010).

Dan benar saja. Kami duduk dan bercengkerama mengenai hal2 ringan, sampai menjurus hal yang berat. Pada awalnya aku hanya menanyakan apakah Jali sudah masuk kerja, dan rupanya belum karena masih dalam masa cuti. Namun beberapa hari sebelumnya, Jali dan istrinya pernah datang ke kantor sewaktu sedang mencari rumah kontrakan. Hhmmm…senangnya yang sudah menikah ya..mulai menyusun rencana menyewa rumah, membeli perlengkapan, dan lain-lain.

Obrolan berganti dengan perjalanan menuju acara pernikahan Jali di Situbondo yang di selingi acara wisata ke Jembatan Suramadu. Agenda mampir ke Solo mereka batalkan karena banyak personel (aku, melly, mbak tita) yang tidak jadi ikut sehingga supir pengganti bisa di ajak serta. Tidak perlu ada pergantian supir di Solo katanya.

Kemudian pembicaraan beralih pada Jogja dan bencara merapi. Beliau bertanya padaku, apakah keluargaku mengungsi atau tidak ketika ada bencara gunung meletus. Aku sampaikan padanya bahwa untuk letusan yang terbaru kemarin keluargaku sempat mengungsi karena menghindari awan panas. Kemudian kami membicarakan kejadian2 seputar meletusnya gunung merapi, termasuk juga kedatangan makhluk yang penggambaran wujudnya serupa dengan Nyi Roro Kidul, serta tentang Kesultanan Jogja.

Pagi hari yang produktif dan berisi obrolan yang bermakna dengan Mas Akbar. Beliau yang memang jurusan sastra UGM semakin bersemangat berdiskusi mengenai sejarah2 leluhur dan per-sastraan. Kami membicarakan bagaimana peradaban manusia ini semakin gamang, apakah semakin maju atau justru semakin mundur. Jika di bilang maju, sepertinya tidak juga. Karena manusia jaman dahulu (yang memang secara penampilan tidak mewah seperti sekarang) sudah bisa merancang suatu hal yang luar biasa. Beberapa diantaranya adalah Candi Borobudur dan juga letak Kraton Yogyakarta.


Candi Borobudur masuk ke dalam kategori 7 keajaiban dunia. Kenapa? Karena candi megah itu di buat pada masa berabad2 yang lalu, dimana teknologi masih belum di kenal. Masyarakat tanpa pendidikan formal yang membangunnya. Tanpa harus membuat gambar2 teknik atau rancangan ekonomi teknik, candi itu di susun dengan tenaga manusia dan dapat berdiri megah hingga saat ini. Belum lagi torehan2 yang sarat makna pada sisi2 candinya.


Untuk kraton Yogya, kami membahas mengenai perencanaan yang sangat strategis. Entah pada masa itu memang telah di lakukan perkiraan (baik semedi atau metode cari wangsit yang lain) yang sangat matang, atau kita yang hidup di jaman sekarang saja yang berusaha mencari benang merah perencanaannya. Yang jelas, penempatan kraton yang berada di satu garis lurus dengan puncak merapi dan pantai selatan tempat keberadaan Nyi Roro Kidul adalah sebuah karya yang tidak bisa di pandang sebelah mata (menurut Mas Akbar yang orang sastra lho ya…).

Menurut mitos yang di pelajari beliau, Raja Yogyakarta (pada masa itu) memilih lokasi keraton baru (setelah pisah dengan Kraton Solo dengan Perjanjian Gianti-nya) di Yogyakarta dengan perhitungan tertentu. Masih menurut mitos juga, bahwa Raja Yogyakarta (pada masa itu) menempatkan Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan dan seorang Patih di Gunung Merapi sebagai penjaga keraton.

Masih banyak lagi hal yang aku dan Mas Akbar obrol-kan pagi ini. Tidak jauh dari sejarah kemanusiaan dan sastra, serta adat istiadat. Satu hal yang aku suka adalah beliau mengingatkan kembali salah satu materi pelajaran yang dulu aku pernah dapat di sekolah. Yaitu mengapa orang jawa (suku jawa dan sunda tepatnya), kalau mempersilahkan orang untuk makan atau untuk melakukan sesuatu selalu dengan posisi tangan kanan yang sama. Yaitu tangan mengepal dan ibu jari pada posisi menunjuk ke arah orang yang di persilahkan. Dulu sekali aku pernah mendapatkan pelajaran tentang budi pekerti, termasuk dengan pelajaran ini tetapi aku sudah lupa. Dan tadi pagi, aku menjadi ingat kembali.


Rupanya, penggunaan posisi itu juga ada sebab musababnya. Menurut filosofinya, posisi empat jari di lipat ke dalam dan ibu jari posisi menunjuk itu sarat makna yang menunjukkan bagaimana sifat orang jawa. Ibu jari yang menunjuk itu berarti bahwa kami berusaha memberikan apa yang terbaik dari yang kami punya. Sedangkan ke empat jari yang di lipat berarti kami masih selalu memiliki cadangan/persediaan untuk kami sendiri. Jadi intinya, kami selaku orang jawa selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada orang lain, tetapi tidak dengan mengorbankan diri sendiri. Hehehhehe….

Begitulah….obrolan pagi kami berakhir ketika temanku yang dari Bengkulu bangun dari tidurnya. Obrolanku berganti dengannya. Thanks to Mas Akbar for the sharing information. Nice to talk to you in this morning…. ^_^


No comments: