Monday, February 8, 2010

Aku hanya ingin bercerita tentang asal muasal makhluk mungil yang bernama Mocan


Dia terlahir dari sebuah hubungan gelap sepertinya. Kenapa hubungan gelap? Karena kedua orangtuanya tidak terikat dalam sebuah ikatan perkawinan ataupun pernikahan. Kedua orang tuanya bertemu, tanpa perduli dengan perasaan atau emosi, yang ada hanyalah nafsu. Sebuah cerita pendek, sebagai kronologi kejadian yang berakibat munculnya si makhluk mungil bernama Mocan.

***

Siang itu, si momo berjalan sendirian di tepi pantai. Dia berjalan menyusuri lekukan pasir dan garis batas air laut yang memanjang hingga ke teluk. Dia berjalan menekuri setiap lubang Jingking yang muncul manakala ombak kembali ke laut. Diam, sendiri, menikmati alunan music merdu yang paling abadi yaitu ombak dan angin laut.

Dia tidak sedang bersedih, tidak sedang berduka, tidak sedang kecewa, tidak sedang marah, meskipun tidak juga sedang bahagia. Dia hanya berusaha menikmati apa yang dia miliki saat itu. Kesendirian yang menenteramkan, dan kesenyapan yang menyejukkan. Dia hanya sedang berusaha untuk merenungi perjalanan panjang yang telah di lewatinya selama hidup. Hanya sekedar untuk mengukur kemampuan dan juga guna mengevaluasi dirinya. Pikirannya tenang, setenang gelombang yang berayun perlahan di depan sana.

***

Di waktu yang sama, tempat yang berbeda. Si Candil sedang bergembira bersama teman2nya. Dia berada di antara kerumunan teman yang selama ini selalu bersama2 dengan dia. Kemanapun dia pergi, tak akan jauh dari teman2nya itu. Mereka laksana koloni lebah yang senantiasa berdengung dan menonjolkan keberadaannya ketika sedang bersama2. Mereka bermain2 dan bercanda tawa.

Dia terlihat lebih mencolok dari yang lainnya, namun sulit untuk di katakan apa penyebabnya. Dia bersifat angkuh, tapi terkadang juga lebih perduli daripada yang lainnya. Dia berwawasan luas, dan bervisi jelas untuk hidupnya.

***

Mereka adalah dua makhluk yang tidak saling kenal. Berasal dari dunia yang berbeda. Kelas yang berbeda. Adat istiadat yang berbeda. Belum pernah bertemu, dan tidak pernah bermimpi untuk bertemu. Mereka adalah orang asing.

***


Suatu hari, mereka di pertemukan oleh takdir. Takdir yang menggariskan sebuah pertemuan tak sengaja, namun penuh makna dan nuansa. Takdir yang menggiring keduanya kedalam jurang yang tak kasat mata. Hingga keduanya nyaris terjerumus ke dalam jurang dalam tersebut. Suratan takdir memang takkan pernah bisa dibaca, atau di prediksi. Sekuat apapun kita menentang dan berusaha menghindar, kita tak akan berdaya. Meskipun pada akhirnya banyak yang menyalahkan takdir,

Kemungkinan karena mereka tidak menjalani takdirnya dengan penuh kesadaran. Berbeda dengan Momo dan Candil. Yang berjalan di atas pilihan garis takdinya dengan kesadaran penuh. Sehingga manakala mereka nyaris terjerumus ke dalam jurang, tidak ada kata sesal. Bahkan mereka tersenyum lebar menghadapi kisah indah yang mereka jalani.

Suratan takdir itu di sampaikan oleh alam kepada mereka berdua dengan sebuah pertemuan. Mereka bertemu di jalanan yang penuh sesak dengan orang yang sedang berpesta pora. Setiap orang berpesta pora menikmati cerahnya siang, indahnya malam, dinginnya pagi, dan sejuknya petang. Setiap orang, tak terkecuali mereka berdua. Mereka ikut menikmati nyanyian dan kegembiraan yang ada di sekitar mereka. Bahagia….bahagia….bahagia…

Tiba2, Momo terdesak dan semakin terdesak oleh kerumunan teman2 Candil yang memang terlalu bersemangat dalam menikmati pesta. Semakin lama, dia terdesak, terdorong, dan akhirnya terpental ke samping. Dia merasa bahwa dia mendarat pada sesuatu. Dan ketika dia menoleh ke belakang, rupanya Candil adalah korban pentalan dia. Mereka hanya saling melihat, tanpa berkata satu patah katapun. Beberapa waktu berlalu dengan saling lihat dan saling tatap. Kemudian mereka saling melemparkan senyuman.

Momo segera bangkit berdiri dan membetulkan posisi berdirinya. Sedangkan Candil, berjalan menuju kelompok teman2nya. Kuasa takdir dan suratan nasib, membawa mereka dalam pertemuan selanjutnya. Ketika saatnya semua beristirahat. Masih juga akibat terpental dari teman2 Candil, Momo mendarat pada Candil. Mereka akhirnya memutuskan untuk bersama di sebuah sudut. Entah apa yang menuntun mereka pada jalan itu. Kalau di ingat bahwa mereka baru bertemu, tidak saling kenal, dan tanpa ada rasa. Mereka berdua menghabiskan waktu di sudut itu berdua.

Tak perduli dengan riuh rendah lingkungan di sekitar mereka, tak perduli dengan perayaan yang belum berakhir, tak perduli dengan pesta pora yang menyemarakkan sekeliling mereka. Mereka berdua menganggap itu sebagai music pengiring kebersamaan mereka.

Sambil bersenang2 di sudut itu, mereka nampak bercanda, berdiskusi, berbincang2, dan saling tertawa. Mereka membicarakan betapa gilanya mereka. Dan mereka mengetahui dan saling menyadari apa yang sedang mereka lakukan, serta apa yangbisa terjadi. Mereka hanya ingin bersenang2 saja. Menikmati apa yang ada di depan mata, tanpa merugikan pihak lainnya. Itu lah pemikiran menurut mereka…

Melodi di mainkan seiring dengan nyanyian sekeliling mereka. Bergema, dan bergaung di angkasa. Semilir angin melenakan dan memanjakan mereka berdua. Tidak terganggu, tidak tergoda, tidak merasa janggal, berjalan begitu saja.

Setelah semua berlalu, Candil kembali berkumpul bersama temannya. Mereka semua pergi, kembali ke tempat asal mereka. Momo diam, mengamati bayangan mereka yang semakin menjauh. Sedikit senyum tersembul dari mukanya. Tiba2 Candil membalikkan badan, dan tersenyum padanya. Bahkan, ketika teman2nya tidak melihat, Candil memberikan tanda perpisahan dengan gerakan badannya. Dan Momo pun tersenyum semakin lebar. Diapun berbalik dan melenggang dengan senyuman masih menggantung di bibirnya.

***

Dia memandangi makhluk mungil yang ada di depannya dengan diam. Diam, tanpa kata, dan dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Beberapa waktu berlalu dilewatinya dengan memandangi dan memandanginya. Sampai kemudian sebuah sentuhan ringan menyentuh kulitnya. Makhluk mungil itu menggerakkan tangan dan menyentuhnya. Dan diapun tersadarkan bahwa sedari tadi dia melamun. Sentuhan tangan makhluk mungil itu membangunkannya dari lamunan dan membawanya kembali ke dunia nyata.

Dia tersenyum lebar melihat ke arah makhluk mungil itu. Melihat makhluk itu, pikirannya melayang lagi ke beberapa waktu sebelumnya. Waktu dimana hiruk pikuk kota semarak dengan sebuah perayaan. Melayang kembali ke sebuah sudut yang cukup terlindung, namun tak lepas dari irama2 kota. Melayang kembali ke sesosok tubuh yang selalu hangat dalam ingatannya. Candil.

Ya…. Ingatannya melayang kepada Candil yang waktu itu pernah menghabiskan beberapa waktu dengannya di sebuah sudut perayaan. Makhluk mungil di depannya ini muncul akibat perbuatannya dengan Candil waktu itu. Makhluk mungil ini hadir di dunia melalui hubungan singkat yang indahnya dengan Candil. Dia tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Bahkan, dia bersyukur bisa di berikan anugrah makhluk mungil ini sebagai kenang2an dari Candil. Makhluk mungil itu yang akan terus menghubungkan getaran2nya pada Candil.

Tiba2, makhluk mungil itu bersuara…. “Mieeaaaawwwww…….”

Diapun tersenyum semakin lebar. Di berinya nama kepada makhluk mungil itu “Mocan”. Momo dan Candil. Selamat datang di dunia Mocan….terima kasih sudah hadir di dunia sebagai tanda mata dari dia yang selalu menempati salah satu sisi terdalam dariku. Kata Momo. Diapun membalas suara anaknya… “Mieeeaaawwwww……”

***

Note :
Thanks to Mocan's step mother ~Dewi Nurna~ in Probolinggo
I trust to you to caring and loving my son
I really wish I could meet him someday

And also thanks to auntie Eka,
Which has brought me his picture

For my son....Mocan...
Be a good child for your family present
I know you are a goody2 boy
I want you to grow freely as your father
And I also want you to grow strong like your mother

I really miss you my son....
And i also really miss your father... ^_*

I always pray for the best for you both


No comments: