Aku masih bingung dengan bagaimana bisa note2 itu muncul begitu saja di handphoneku tadi pagi, ketika aku bangun tidur. Cepat2 aku baca, pilih mana yang penting, dan menyalinnya ke dalam tulisan. Ini adalah salah satu note yang aku anggap lucu dan mampu membuatku tertawa ngakak dari tadi pagi, sampai2 orang yang di sekitarku merasa aneh.
Bulan menampakkan keperkasaan dan kemolekannya di atas sana. Perkasa dengan lingkaran penuh yang terkesan kokoh menantang. Molek dengan sinarnya yang teduh bagaikan putri yang nampak malu2. Dia kembali menemani perjalanan panjangku untuk kesekian kalinya. Perjalanan panjang dengan harapan kosong, yang telah kutinggalkan di belakang sana. Bulan yang bulat sempurna, memantulkan sisa cahaya yang diserapnya dari matahari. Bulan purnama yang membuat kesendirianku tidak terasa.
Bulan yang seakan sedang memamerkan keindahan tubuhnya, bergerak perlahan mengiringi laju bis yang kugunakan untuk memandanginya. Dia seolah memperhatikan setiap gerak-gerikku di balik kaca jendela yang memisahkan kami. Dia seolah berusaha menyampaikan sesuatu, pesan, dan peringatan bahwa dia berada disana untukku, dan untuk membantuku. Seolah2 dia mengerti kegundahan dan kegelisahanku malam ini.
Akupun berusaha mengerti bahasa isyarat yang di sampaikan oleh sang bulan. Ku coba menceritakan apa yang sedang bergejolak dalam hati dan pikiranku. Kucurahkan semua keluh kesahku dalam diam, melalui tatapan mata kami yang saling bertemu di tengah derunya angin malam. Setelah aku puas menceritakan apa yang mengganjal dan membuatku resah, aku berusaha meminta pertolongan darinya. Siapa tahu dengan pesona dan kekuatan bulan penuhnya, semua bisa menjadi mungkin.
Aku membisikkan beberapa hal untuk bulan. Bisikanku kepada bulan, kusampaikan melalui desiran angin laut di jalur pantura yang cukup membuatku terhanyut. Ku titipkan pertanyaan demi pertanyaan kepada angin laut, untuk di bawanya naik ke tempat bulan berada….
“Bulan…maukah kamu menolongku??” Angin laut yang sepoi2 segera membawa pesanku yang pertama pada bulan. Beberapa saat kemudian, aku melihat bulan menjawabnya dengan senyuman.
Dan akupun mengirimkan utusan kedua. Aku bilang kepada bulan,
“Tahukah kamu saat ini dia sedang apa, dimana dan dengan siapa?” Lagi2 dia tersenyum. Kukirimkan lagi pesan ketigaku.
“Bulan, sampaikan permintaanku padanya ya… aku hanya ingin dia menunjukkan tanda2 bahwa dia baik2 saja. Kalaupun dia tidak mau memikirkan aku. bilang padanya bahwa jika dia baik2 saja, itu sudah sangat cukup bagiku.” Pesan yang cukup panjang untuk sang bulan, yang segera kususul kembali dengan pesan selanjutnya.
“Bulan, buatlah ia memandang pesonamu saat ini barang sekejap. Karena, seandainya dia memandangmu yang sedang dalam kondisi jelita malam ini, maka dia akan tahu bahwa aku sedang bicara padanya. Dia akan dapat merasakan bahwa aku menitipkan berjuta rasa dan asa untuknya melaluimu. Terima kasih bulan” bunyi pesanku yang terakhir.
Dan kini, bulan bersembunyi di balik awan. Semoga ini bukan pertanda bahwa bulan mendapat jawaban pahit darinya untukku. Semoga ini hanya pertanda bahwa bulan sedang menuju ke tempatnya berada. Dan dia…sedang membaca semua pesanku.
We must always be happy, wherever we are. Especially you….Thanks to fullmoon....
Apapun dan bagaimanapun akhir dari semua ceritaku waktu itu, aku merasa "that enough".
Malam itu kamu bekerja sempurna, sesempurnamu sebagai bulan purnama.
Semua pesanku tersampaikan karenamu.
Semoga pada kemunculanmu yang sempurna selanjutnya,
Pesanku yang sama masih bisa tersampaikan padanya.... ^_*


No comments:
Post a Comment