
Film yang menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga di peternakan kuda. Dimana sang ayah sangat menginginkan anak lelakinya dapat meneruskan usaha peternakan itu setelah selesai sekolah, padahal sang anak lelaki ingin melanjutkan sekolah. Sang ayah juga menginginkan putrinya untuk bisa sekolah setinggi2nya di sekolah swasta terkenal di kota, padahal si anak perempuan ingin berada di peternakan. Ketika liburan tiba, putri keluarga itu (namanya Katy) pulang berlibur ke rumah. Berkumpul dengan ayah, ibu, dan kakak kesayangannya (namanya Edward).
Malam pertama Katy di rumah, dia menyelinap keluar rumah dan masuk ke istal tempat beberapa kuda berada. Dia mengambil satu kuda dan menaikinya untuk jalan2. Dia berdiam di sebuah pohon tumbang di tepi jurang untuk merenungi dan memikirkan bagaimana cara memberitahu ayahnya bahwa nilainya buruk di sekolahan. Selain nilainya buruk, dia tidak mengerjakan essay ketika ujian. Karenanya, pihak sekolah mengirimkan fax pemberitahuan ke rumahnya.
Ketika dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya dan pulang ke rumah, di tengah jalan dia melihat ada singa. Kudanya langsung memberontak dan Katy pun terjatuh dan terguling ke tanah yang lebih rendah. Kudanya kabur dan pulang ke peternakan, sedangkan Katy masih di kejar singa itu. Tiba2, ada seekor kuda liar yang datang dan mengusir singa itu. Katy terselamatkan oleh kuda liar itu, yang kemudian membuatnya jatuh cinta dan ingin memeliharanya.Keesokan harinya, Katy masuk ke hutan kembali untuk mencari kuda liar itu. Ketika akhirnya dia menemukan kuda itu, dia langsung memasangkan tali kekang ke kuda liar itu, namun kuda itu terkejut dan berlari sehingga dia ikut terjungkal. Kuda liar itu terus berlari, dan menuju padang penggembalaan kuda ayahnya. Padahal saat itu ayah Katy bersama dengan kakak dan para pekerja sedang berusaha menggiring kuda2 mereka ke peternakan. Kedatangan kuda liar yang mendadak, membuat kuda2 itu terkejut dan ikut berlarian mengikuti kuda liar itu.
Ayah Katy mengejar kuda liar itu dan menangkapnya, kemudian membawanya ke peternakan untuk di jual keesokan harinya pada temannya yang membutuhkan kuda liar. Katy merasa bahwa dia bisa memiliki dan merawat kuda liar itu. Namun ayahnya melarang dia untuk dekat2 dengan kuda liar itu. Alhasil, setiap malam Katy menyelinap keluar dan mendekati kuda liar itu secara bertahap, hingga akhirnya dia bisa menaikinya. Kuda liar itu di berinya nama Flicka.
Namun upaya sembunyi2 itu di ketahui oleh ayah Katy, dan ayah Katy pun marah. Akhirnya Flicka di serahkan pada teman ayah Katy yang menginginkan. Katy merasa tidak rela dan mulai membenci ayahnya.Edward yang pandai dan mendapatkan beasiswa ingin sekali bisa melanjutkan sekolahnya, namun dia takut untuk menyampaikan kepada ayahnya. Dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa. Karena melihat ayahnya berbuat tidak adil pada adiknya, Katy, maka diapun menyampaikan keinginannya dan juga rasa tidak sukanya pada ayahnya yang otoriter. Sayangnya ayah mereka tidak peduli.
Ibu mereka, mengerti benar bagaimana Katy ingin tinggal di peternakan, dan Edward ingin melanjutkan sekolah. Ibunya mencoba berbicara kepada ayahnya. Satu kalimat yang membuatku tersentak dan mellow adalah kalimat yang di katakan oleh ibu Katy kepada ayah Katy,
"Sampai kapan kamu akan menyadari dan menerima kenyataan bahwa Katy itu sama persis denganmu? Sadarilah bahwa dia adalah kamu."
Untuk mendapatkan kembali kuda itu, Katy dan Edward mengikuti sebuah kontes menunggang kuda di kota, dimana Katy memilih Flicka. Akhirnya dia mampu menjinakkan Flicka yang sedang memberontak dan membawanya kabur dari arena kontes. Mereka berdua lari ke hutan dekat peternakan. Sayangnya, ketika hari sudah gelap datanglah singa. Flicka yang ingin melindungi Katy di serang oleh singa itu hingga terluka parah. Katy yang berhujan2an, sakit dan terjatuh di dekat Flicka hingga ayahnya menemukannya.Katy sakit selama berhari2, Flicka yang tadinya akan di tembak mati oleh ayah Katy akhirnya justru di bawa pulang dan di rawat hingga sembuh oleh ayah Katy. Edward merasa sangat menyesal telah mengijinkan Katy ikut kontes sehingga semua menjadi kacau. Ketika Katy sakit, ayahnya menemukan essay tulisan Katy mengenai peternakannya, mengetiknya, dan kemudian mengirimkannya ke sekolahan Katy sehingga Katy bisa lolos ujian.
Akhirnya Katy sembuh dan merasa senang sekali ketika mengetahui Flicka baik2 saja dan dia di ijinkan merawatnya. Selain itu, Katy tidak perlu lagi kembali ke sekolahan itu. Edward-pun memutuskan untuk mengambil beasiswa kuliah yang di dapatnya, dan Katy meneruskan peternakan mereka bersama ayah dan ibunya.
******
Jujur aku menangis ketika menonton film ini tadi sore. Sampai2 menimbulkan keheranan dan tandatanya pada beberapa orang di sekitarku. Aku larut dalam cerita film itu, hingga akhirnya aku tidak bisa menahan air mataku. hiks...hiks.... mellow sekali bukan?
Garis besar cerita film itu sama dengan garis besar ceritaku. Ayah yang tumbuh dan berjuang dengan keras karena tempaan kehidupan, Istri yang tegar dan selalu mendukung suaminya untuk semua keputusan, Dua orang anak yang sangat berbeda sifat. Completelly same with me... :P

Katy adalah aku. Aku yang suka memberontak, dan selalu bersilang pendapat dengan ayahku. Anak dan ayah yang tidak pernah bisa sepakat dalam banyak hal. Aura pemberontakan selalu merebak ketika sedang membahas sesuatu. Jika berbicara masalah keinginan, maka akan sangat jarang sekali terjadi kesepakatan atau persetujuan. Semua keinginan akan bisa kulaksanakan, jika aku berani melawan dan memberontak. Itu duluuuuu.... :)
Sekarang? mungkin tinggal setengahnya saja. Karena aku sudah mulai mengerem, mengendalikan diri, dan berusaha untuk mengerti kondisi. Tidak ada yang bisa di paksa untuk berubah, dan memang tidak perlu ada yang berubah. Karena di dalam keluargaku, tidak pernah ada sejarah yang berubah. Hukum yang berlaku tetaplah Dia adalah yang terbenar. :P
Saat ini, aku cenderung menghindari apa yang biasa dinamakan dengan konflik. Kalau berhubungan dekat itu memancing konflik, maka aku akan mundur beberapa langkah hingga jarak di antara kami tidak memungkinkan munculnya konflik. Jika intensitas berpotensi menimbulkan konflik, maka aku akan menurunkan derajat keseringan, agar jumlahnya cukup untuk mendekatkan namun tetap aman dari terjadinya konflik. Aku hanya berusaha mengontrol dan mengendalikan diri saja.
Kalau di film itu, Edward akhirnya berhasil mengungkapkan apa yang telah lama di pendam dalam hatinya, sayangnya dalam ceritaku itu tidak berjalan. Menurut pendapatku, kakakku gagal sampai pada titik itu. Dia baru mencapai setengah dari semua proses, tersandung, dan jatuh berguling2. Sulit untuknya bangkit dan berjalan tegap kembali. Tapi aku tetap berharap suatu saat nanti, dia bisa berjalan tegap kembali, berdampingan dengan ayah kami. Setegap tentara militer yang sedang latihan baris-berbaris mungkin. :p
Yang paling membuat aku tersentak adalah ketika melihat perjuangan ibu Katy dalam melindungi anak2nya, namun tetap mendukung suaminya. Bertindak sebagai penengah yang aku tahu sangat berat dan tidak mudah. Kalau dalam film itu ibu Katy seolah2 di bantu oleh Tuhan melalui sakitnya Katy (sehingga ayah dan kakaknya Katy lebih terbuka), mungkin dalam ceritaku Tuhan membantu ibuku dengan memberikannya sakit. Sakit yang menuntutnya banyak2 beristirahat. Dia ibuku.... Wanita terhebat yang aku kenal dan aku miliki. Everlasting...
Meskipun itu hanyalah sebuah cerita film, namun aku bisa merasakan betapa tidak enaknya berperan sebagai Katy. Mungkin juga tidak enak sekali untuk berperan sebagai ayah Katy. Mereka adalah ayah-anak yang gen-nya mengalir kuat dalam darah masing2. Gen yang menciptakan kemiripan dan kesamaan sifat. Kesamaan sifat yang selalu di coba untuk di ingkari.
Sekarang? mungkin tinggal setengahnya saja. Karena aku sudah mulai mengerem, mengendalikan diri, dan berusaha untuk mengerti kondisi. Tidak ada yang bisa di paksa untuk berubah, dan memang tidak perlu ada yang berubah. Karena di dalam keluargaku, tidak pernah ada sejarah yang berubah. Hukum yang berlaku tetaplah Dia adalah yang terbenar. :P
Saat ini, aku cenderung menghindari apa yang biasa dinamakan dengan konflik. Kalau berhubungan dekat itu memancing konflik, maka aku akan mundur beberapa langkah hingga jarak di antara kami tidak memungkinkan munculnya konflik. Jika intensitas berpotensi menimbulkan konflik, maka aku akan menurunkan derajat keseringan, agar jumlahnya cukup untuk mendekatkan namun tetap aman dari terjadinya konflik. Aku hanya berusaha mengontrol dan mengendalikan diri saja.
Kalau di film itu, Edward akhirnya berhasil mengungkapkan apa yang telah lama di pendam dalam hatinya, sayangnya dalam ceritaku itu tidak berjalan. Menurut pendapatku, kakakku gagal sampai pada titik itu. Dia baru mencapai setengah dari semua proses, tersandung, dan jatuh berguling2. Sulit untuknya bangkit dan berjalan tegap kembali. Tapi aku tetap berharap suatu saat nanti, dia bisa berjalan tegap kembali, berdampingan dengan ayah kami. Setegap tentara militer yang sedang latihan baris-berbaris mungkin. :p
Yang paling membuat aku tersentak adalah ketika melihat perjuangan ibu Katy dalam melindungi anak2nya, namun tetap mendukung suaminya. Bertindak sebagai penengah yang aku tahu sangat berat dan tidak mudah. Kalau dalam film itu ibu Katy seolah2 di bantu oleh Tuhan melalui sakitnya Katy (sehingga ayah dan kakaknya Katy lebih terbuka), mungkin dalam ceritaku Tuhan membantu ibuku dengan memberikannya sakit. Sakit yang menuntutnya banyak2 beristirahat. Dia ibuku.... Wanita terhebat yang aku kenal dan aku miliki. Everlasting...
Meskipun itu hanyalah sebuah cerita film, namun aku bisa merasakan betapa tidak enaknya berperan sebagai Katy. Mungkin juga tidak enak sekali untuk berperan sebagai ayah Katy. Mereka adalah ayah-anak yang gen-nya mengalir kuat dalam darah masing2. Gen yang menciptakan kemiripan dan kesamaan sifat. Kesamaan sifat yang selalu di coba untuk di ingkari.
Semakin kita mengingkari kesamaan yang ada
dalam hubungan darah ayah-anak ini, maka kesamaan itu akan semakin nampak. Berat rasanya harus berhenti sejenak, merenung, mengerti, menyadari, dan mengakui bahwa kesamaan itu ada. Karenanya kita lebih mudah untuk mengambil sikap mengingkari dan mengacuhkan kesamaan itu. Sampai pada suatu titik, egoisme kita akan di banting habis oleh kondisi yang telah di atur oleh Tuhan. Saat itu, hanya akan ada sedikit sekali pilihan. Di antaranya adalah pasrah dan mengakui kesamaan itu sehingga semua bisa berjalan beriringan, ataukah mundur dan menghindari terjadinya friksi2 yang lain.
dalam hubungan darah ayah-anak ini, maka kesamaan itu akan semakin nampak. Berat rasanya harus berhenti sejenak, merenung, mengerti, menyadari, dan mengakui bahwa kesamaan itu ada. Karenanya kita lebih mudah untuk mengambil sikap mengingkari dan mengacuhkan kesamaan itu. Sampai pada suatu titik, egoisme kita akan di banting habis oleh kondisi yang telah di atur oleh Tuhan. Saat itu, hanya akan ada sedikit sekali pilihan. Di antaranya adalah pasrah dan mengakui kesamaan itu sehingga semua bisa berjalan beriringan, ataukah mundur dan menghindari terjadinya friksi2 yang lain.Sepertinya aku memilih langkah yang terakhir. Langkah yang tidak bisa di banggakan pada apapun atau pada siapapun. Langkahku sendiri.... Aku menjalani semua dengan caraku, meskipun aku berjanji untuk tidak membuatnya lebih kecewa dari kecewa yang sudah pernah di rasakannya. Jauh di dalam sana, aku berharap bahwa suatu saat beliau akan berkata padaku "Just go and be responsible with everything that you loved to do". Meskipun saat ini aku sudah melakukannya, tapi ketika beliau mengatakannya padaku, aku akan langsung menjawab dengan sepenuh hati, "Yes, i will"
I love you all..... All of you.... I love you so much....
I love you all..... All of you.... I love you so much....
No comments:
Post a Comment