Beberapa hari yang lalu, aku ikut mengantarkan mbak-nya Damai pulang kerumah. Si mbak yang sakit itu ternyata masih biyungen atau masih ingin dekat dengan ibunya ketika sakit. Padahal sekedar meriang. Tapi yang namanya biyungen, ya memang tidak ada jalan lain selain di antarkan pulang. :)Setelah menempuh perjalanan panjang, berliku, dan penuh rintangan (lebay*mode on), akhirnya kami sampai di penghujung jalan aspal. Rumahnya si mbak ini memang benar2 di ujung jalan (kayak judul pelem jadul yaa).
Aku yang berasal dari kampung, yang menurut temanku (inisialnya U.B.O) adalah small-small village, jadi merasa bersyukur. Rupanya kampungku belumlah the smallest village in Indonesia tercinta ini. hahahhaa
Kembali pada kampungnya si mbak. Setelah parkir mobil di ujung jalan itu, kamipun beramai2 berjalan kaki melewati jalanan kecil menuju rumah mbak. Kata si londho, berasa balik lagi ke rumahku di Cangkringan sana. :P
Kami di sambut baik oleh keluarganya mbak, bahkan di suguhi rengginan dan kerupuk telo (singkong). Karena sudah lama tidak bertemu dengan kerupuk telo, akupun dengan lahap menghabiskan beberapa (hingga akhirnya di bungkus dan di bawa pulang). hahaha
Setelah ngobrol kesana kemari, si Ibu menyampaikan rasa was2nya dalam melepas si mbak pergi bekerja ke kota (halah.... Kota Bogor). Beliau rupanya mengalami trauma setelah melihat banyaknya sinetron2 di tipi yang menceritakan kekerasan antara majikan dan pembantu. Beliau takut kalau2 anak gadisnya di siksa oleh majikannya seperti di tipi2. ehhehee
Mungkin setelah melihat seperti apa majikannya si mbak, si ibu mulai berfikir terbalik. Kalau majikannya seperti ini, bisa jadi majikannya yang di siksa pembantu ya? hehehhee... just kidding meeeennn.... :P
Intinya, rupanya pertunjukan tipi yang bernama sinetron di Indonesia ini memang sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran2 orang2, terutama orang awam. Mereka yang tidak memiliki wawasan luas, tidak memiliki pengetahuan tentang kota yang cukup, hanya mengandalkan tayangan di tipi sebagai referensi kehidupan kota. Padahal seperti kita semua tahu, sinetron adalah dusta. Sinetron adalah rekayasa. Sinetron adalah drama pertunjukan. Dan sinetron sama dengan lebay. *ngumpet di bawah meja takut di timpuk mbak luvie*. hehehehhe.

Mungkin, ibunya mbak itu hanya salah satu dari sekian banyak orang tua di kampung yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap nasib anak2nya yang ingin bekerja. Mungkin juga alasan itu yang pada akhirnya membuat mereka melarang anak2 mereka bekerja ke kota. Dan alasan itu pula yang membuat anak2 mereka hanya berkutat di kampung mereka, dan akhirnya banyak memilih untuk melakukan pernikahan dini. Di kampung, nggak kerja, nggak punya aktivitas, nggak punya penghasilan, mau apa lagi selain menikah? dan secara tidak langsung itu pula yang mengakibatkan mereka punya banyak anak. Tidak banyak yang di lakukan di kampung, jadi ngapain lagi? bikin anak laaaah.... Mana kampungnya juga berada di ketinggian yang cukup dingin. hehehehehhe
Ketika pulang dari rumah di mbak, aku berfikir (dan dari dulu juga aku sudah tahu sih) jika dan hanya jika atau seandainya aku berada di kampung sana, maka akupun akan seperti itu. Teringat betapa seringnya ibu dan bapakku mempertanyakan hal2 yang mirip2 dengan kejadian2 di tipi, apakah benar ada yang begini, apa benar ada yang begitu, dll. Pfffiiiuuhhh.....
Untunglah aku masih selalu di berikan jurus ngeles, merayu, dan berargumentasi kepada kedua orang tuaku sayang itu. Sehingga aku akhirnya bisa melancong ke sini, ke Bogor, dan belum berniat pulang kampung sampai sekarang ini. :P
I love you ibu and bapak.... i love both of you so much...
There's nothing I can give to you....
Except the promise that,
I will always take care myself and always be fine
No comments:
Post a Comment