Januari 2009, Aku masih berkeyakinan untuk tidak ikut acara ceremonial yang bertujuan untuk pamer itu. Wisuda. Ajang pamer pada orang tua dan juga orang lain bahwa anaknya sudah lulus. Sukur2 dengan nilai tinggi atau dengan predikat Suma Cumlaude. *Bukan nyinyir karena predikatku nggak cumlaude lho ya...* :P
Saat itu teman2 ku sudah sibuk fitting, atau bahkan sibuk uji coba rias dengan baju kebayanya yang glamor2 dan blink2. Aku? dengan senang hati memperhatikan dan memberikan penilaian pada riasan dan penampilan mereka.
Kenapa aku tidak ingin ikut wisuda? Karena ibuku tidak akan pernah melihatku bersalaman, menerima ijazah, dan di kalungkan medali kelulusan itu. Ibuku sudah mendeklarasikan diri tidak akan menghadiri acara wisudaku. Jadi, untuk apa aku ikut acara itu?Tidak ada acara benci ataupun marah pada ibuku yang tidak mau melihatku berdandan dan berdiri menyanyikan lagu Hymne kampusku, sambil menegakkan muka karena bangga. Tidak ada rasa kecewa karena aku tidak bisa berfoto layaknya teman2ku yang lain menggunakan background rak buku. Tidak ada penyesalan untuk semua itu. Aku lebih memilih tidak ikut wisuda.
Ibuku bukan tidak ingin menghadiri acara wisudaku. Ibuku bukan tidak ingin melihat anaknya berjalan menghampiri dekan dan pejabat2 di kampus untuk menjemput bukti kelulusannya. Ibuku bukan tidak ingin berbagi kebanggaan denganku, dengan ayahku, dengan teman2ku, dan juga dengan keluarga2 temanku. Dia hanya ingin hidup lebih lama lagi.... Dia tidak ingin kesehatannya dimakan oleh lamanya perjalanan menuju Kota Bogor.
Yaaa.... Ibuku sayang... Ibuku malang... Pekerja keras yang selalu berusaha membuat anaknya bahagia, senang, tidak berbeda dengan yang lainnya. Harus melewati hari tuanya dengan separuh anggota badan yang normal. Semua karena aku, kakakku, dan ayahku yang manja.Hampir 11 tahun berlalu setelah kejadian itu, tapi aku masih ingat bagaimana beliau hanya menatapku lemah tak berdaya di ranjang ruang ICU rumah sakit itu. Beliau tidak mengerti akan apa yang telah terjadi, sebagaimana juga aku. Semua berjalan begitu saja. Serangan struk telah membuatnya melemah.
Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk membuat ibuku beristirahat dari semua aktivitas yang sebelumnya membuatnya lelah. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk membuat ibuku tidak lagi memaksakan dirinya untuk selalu bekerja keras. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk mulai membangunkan aku yang selama ini terlena. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkanku bahwa aku harus lebih bertanggung jawab atas diriku dan keluargaku. Itu adalah cara Tuhan.... Thanks God... You always bless me and my family.
Setelah lebih dari 6 tahun beliau bergelut dengan pengobatan medis dan alternatif, beliau meminta semuanya berhenti. Beliau meminta kami untuk berhenti mengkhawatirkannya. Beliau meminta kami (aku, kakak, dan ayahku) untuk menjalani hidup kami seperti sedia kala. Tidak perlu lagi terlalu fokus pada beliau. Beliau sudah merasa capek dan lelah untuk semua perjalanan yang harus di tempuh demi pengobatan2 itu. Beliau hanya ingin hidup tenang, pikiran netral, dan menikmati hari2nya di rumah. Perjalanan2 itu membuat beliau merasa umurnya berkurang setengah karena selalu di ikuti dengan pusing, sakit, dan tertekan.
Karena itu pulalah beliau meyakinkan aku bahwa beliau tidak akan datang ke acara wisudaku. Jadi aku selalu berkata pada teman2 ku yang bertanya tentang wisuda "Aku nggak ikut wisuda. Karena Ibuku tidak akan datang. Jadi untuk siapa aku wisuda?" kataku.
Tetapi, kira2 2 minggu sebelum acara wisuda di gelar, Bapakku berkata bahwa sebaiknya aku tetap ikut acara wisuda itu. Bapak yang akan datang kesana. Karena bujukan dari beberapa orang teman pula, tiba2 aku memutuskan untuk ikut acara wisuda. Padahal, aku masih belum mendaftar, belum mengurus banyak hal, dan belum juga mempersiapkan pakaian wisuda yang namanya kebaya.
Maka dengan secepat kilat, aku menyelesaikan semuanya. Beruntunglah dewi fortuna masih berpihak padaku yang malas ini. Semuanya bisa selesai dan teratasi. Meskipun Bapakku harus rela melihat anaknya yang lalai ini menyanyi dengan sekencang2nya di layar TV yang di sediakan kampus. Ya....bapakku harus duduk di luar ruangan gedung GWW. Beruntung acara wisuda di kampus pertanian ini dilakukan 2 kali. Sehingga ayahku hanya perlu duduk di luar sebentar saja. Selebihnya, beliau bisa duduk di jajaran kursi paling depan di fakultas. :)
Untuk masalah yang terakhir (Kebaya) akhirnya aku putuskan pergi bersama dengan salah satu temanku ke Jakarta. Supaya lebih banyak pilihan. Kami berputar2 di wilayah yang menyediakan banyak pilihan kebaya cantik dan unik. Kami memilih, memilah, dan mencoba2 beberapa macam dan di beberapa tempat. Setelah melalui adegan "dilecehkan", kamipun menemukan kebaya yang klik dengan kami. Kami sama2 klik dengan model dan warna kebaya itu. Alhamdulillah....:)
Kebaya itu ukurannya sedikit lebih besar dari aku, mungkin karena aku kurus (hahahaha). Sehingga akan memerlukan sedikit sentuhan dari penjahit untuk menyesuaikan ukurannya. Karena terlanjur jatuh cinta pada warna dan modelnya, akupun tetap membelinya. Cukup sebanding dengan apa yang aku keluarkan untuk bisa memilikinya. :p
Sayang di sayang, setelah aku mencoba mencari penjahit yang bisa membantuku menyesuaikan ukuran kebaya itu dengan badanku, hasilnya nihil. Tidak ada satu penjahitpun (yang aku temui), yang sanggup mengecilkan kebaya itu dalam waktu satu mingguan. Kebayaku memang sedikit rumit karena pembuatannya eksklusif. Akhirnya, kebaya itu tidak jadi aku pakai sebagai kostum wisudaku, dan tersimpan manis dalam tumpukan baju2ku. hiks...hiks...
Dan hari ini, April 2010.....
Aku baru saja pulang dari tempat penjahit hasil rekomendasi dari beberapa temanku. Mereka bilang, penjahit itu memang banyak mengerjakan pesanan kebaya, dan hasilnya pun cukup bagus. Semoga saja, amin.
Tadi, sewaktu aku menunjukkan kebayaku pada penjahit itu, dia tidak
begitu saja menerimanya. Bahkan terkesan dia frustasi dengan struktur jahitan kebayaku itu. Dia mengatakan bahwa dia tidak sanggup mengerjakan kebayaku itu. Oh tidaaaaakkk..... Don't say like that bradah.Aku berusaha membujuk dan merayu dia dengan rayuan mautku. :P
"Wah, mbak, kalau yang kayak gini susah sekali. Saya nggak bisa mbak.."Katanya
"Yah mas....masa sih nggak bisa? coba di liat lagi...pasti bisa deh.." bujukku.
"Ini beda mbak...soalnya jahitan payetnya di bungkus di dalam kamisolnya. Lihat nih...bagian dalamnya bersih kan...nggak ada jahitannya..." katanya lagi.
"Lho, ini nggak bisa asal di jahit terus di potong gitu ya?" tanyaku.
"ya engga lah... ini kalau cuma gitu doank sih pasti bisa. tapi kebaya mbak ini ribet. Mbak cari penjahit lain aja ya..." katanya.
"Yah mas...masa sih nggak bisa...pasti bisa deh...bisa ya..." kataku dengan wajah memelas. :P
"Kalau saya dalam keadaan santai sih mungkin bisa. Tapi sebulan ini saya penuh banget pesanannya mbak..." katanya. Akupun tersenyum semanis2nya.
"Nggak harus selesai sebulan koq mas.... Memang mau di pakai sih...tapi bukan mau dipake buru2...ya..ya..ya.."Kataku masih dengan meyakinkan.
Masnya nampaknya bingung juga harus beralasan yang bagaimana untuk menghindari pekerjaan yang cukup berat itu. Namun akhirnya dia menjawab "Ya udah kalau gitu. Tapi lama ya..." katanya. Akupun mengiyakan. :)
Akupun melakukan ukur badan. Sambil tetap mencuri2 tanya, kira2 lama pengerjaan kebayaku itu berapa hari. Masnya sedikit bingung, berfikir, dan akhirnya menjawab "Nanti pertengahan Mei deh di lihat ya..." Katanya. Alhamdulillah....Semoga saja sebelum tanggal 11 kebaya itu sudah bisa selesai. Rencananya, aku akan memakai kebaya itu tanggal 12 Mei soalnya. Wish me Luck guys...^_^
Akhirnya, setelah menganggur selama lebih dari setahun, kebayaku itu berada di tangan yang tepat. Semoga saja benar2 tangan yang tepat, sehingga bisa menjadikannya pas seukuran dengan badanku. Aku sangat ingin bisa memakai kebaya pilihanku itu. Semoga dia sekarang ini benar2 berada di tangan yang tepat. Amin
No comments:
Post a Comment