Aku perlu kembali menyatu dengan rutinitas sehari2 ini, kalau memang aku masih ingin bisa berekspresi. Sudah lama aku terbiasa dengan semua ini, sehingga tanpa sadar aku tak lagi bisa dipisahkan. Ketika aku terpisah jauh, maka aku tidak lagi mampu mengaitkan satu persatu kata menjadi kalimat yang enak dan layak di baca.
Akhirnya justru banyak hal berlalu begitu saja, tanpa sedikitpun tersisa sebagai torehan tulisan dimanapun. Hanya ada di otak dan di hati. Siapa yang bisa ikut merasakannya? Tidak satupun orang pastinya.
AKu harus secepatnya mengembalikan semua jalinan benang di kepalaku agar kembali normal. Aku sangat membutuhkannya untuk kembali menyusuri jalanan setapak menuju mimpiku. Aku selalu dan akan terus meyakinkan diri bahwa ketika aku tidak sanggup menorehkan kata, itu hanyalah karena aku sedang tersesat. Aku akan segera berbalik dan mencari jalan setapak yang seharusnya aku lalui.
Jalan itu hanya jalan setapak. Jalan setapak yang masih bertahan di tengah makin maraknya jalan bebas hambatan dan jalan layang. Dia tetap ada dan akan selalu ada. Terkadang dia Nampak mengecil hingga tinggal berupa satu bambu yang melintang sebagai penghubung jalan yang putus. Namun segera setelah itu akan kembali menjadi jalan setapak.
Tak jarang juga dia Nampak semakin melebar selebar jalan raya. Namun aku tidak boleh lantas bergirang diri dengannya. Aku hanya perlu jalan setapak, karenanya aku akan tetap menggunakannya sebagai jalan setapak. Jika jalanan sedang melebar, aku hanya akan berhenti dan duduk disana sejenak. Mensyukuri kesempatan yang senantiasa di berikan oleh-Nya.
Aku akan tetap berusaha meniti jalan setapak, menuju tempat yang sudah lama kutahu sedang menungguku. Dia menunggu untuk bisa ku sentuh, ku pegang, dan kupeluk. Sudah sekian lama aku menitipkannya pada-Nya. Sudah saatnya aku berusaha meraih, mengambil, dan bertanggung jawab sepenuhnya.
Kalaupun aku tahu sekarang ini mereka aman di tangan yang tepat, aman di pelukan yang hangat, tapi itu bukan untuk selamanya. Aku akan meraih dan mengambilnya agar bisa kupeluk sendiri. Terima kasih Tuhan, untuk kesediaan-Mu memeluk semua mimpi2ku yang sudah sekian lama kutitipkan dan semakin kutambah saja. Terima kasih untuk tetap membuat mereka aman di pelukan-Mu. Terima kasih untuk tetap menjaganya sampai suatu saat nanti aku bisa mengambilnya darimu.
No comments:
Post a Comment