Showing posts with label Sakit. Show all posts
Showing posts with label Sakit. Show all posts

Monday, December 21, 2009

Berjalan Mundur Untuk Bisa Maju dengan Semangat Baru


Majuuu....Jalan....!!!!

Sebuah aba2 yang sering kita dengar mulai dari kecil hingga saat ini. Banyak di ucapkan ketika kita sedang mengikuti upacara bendera atau baris berbaris. Sebuah aba2 agar kita melangkahkan kaki ke depan selangkah demi selangkah. ya....aba2 agar kita berjalan maju...

Saat ini, aku sedang berusaha untuk tetap berjalan juga....Hanya saja, aku sedang mencoba berjalan mundur. Berjalan mundur dengan harapan dapat lebih bersemangat dan dapat menemukan angin baru untuk bergerak maju. Semangat baru, energi baru, niat baru, dan hasil yang baru pula.

Rupanya, 5 tahun sudah aku bergerak maju dengan cepat, secepat geraknya sang waktu. Maju terus, melihat ke depan, dan berusaha mengejar sekelebat bayangan yang timbul tenggelam. Aku berjalan bahkan berlari untuk mengejar bayang2 semu itu. Berlari...dan Berlari...

Tanpa kusadari, aku telah melupakan hakikat perjalananku sendiri. aku tidak menikmati apa yang ada di sekitarku. Aku tidak pula mempersiapkan bekal untuk perjalananku ini. Semua tidak pernah aku pikirkan hingga beberapa waktu belakangan ini. Ternyata aku terlalu cepat berlari....Banyak hal yang tertinggal di belakang, dan banyak pula hal yang aku lewati begitu saja.

Beberapa waktu yang lalu, aku menghentikan langkahku tiba2. Aku berhenti, dan diam. Aku diam untuk beberapa lama di suatu titik. Diam...dan berpikir. Aku berusaha merenungi mengapa perjalanan yang telah aku tempuh sekian lama ini terasa ada yang kurang. Serasa ada yang terlupakan dan terlewatkan. Aku diam untuk beberapa lama di titik itu. Kubiarkan orang di sekitarku bertanya2 dengan kediamanku itu. Kubiarkan orang2 di sekitarku terpana dan curiga dengan kediamanku itu. Karena aku memang hanya ingin diam...dan berpikir...

Setelah aku memilih dan melakukan aksi diam beberapa waktu, aku memutuskan untuk mengambil sikap saat itu juga. Aku memutuskan untuk kembali melangkahkan kakiku, dengan keyakinanku yang baru. Aku melangkahkan kakiku untuk menambal kisah yang berlubang, dan untuk mengisi ruang yang kosong. Dan yang pasti, aku kembali melangkah untuk menuju sesuatu yang lebih besar, lebih nyata, dan memang seharusnya....

Aku melangkahkan kakiku kembali, namun tidak lagi ke depan. Saat ini, aku memilih untuk melangkah mundur. Jauh memang untuk bisa mengulang dan melakukan upaya tambal sulam, namun setidaknya aku telah mengusahakannya. Aku yakin bahwa Tuhan ada dimana2 dan akan memberikan petunjuk padaku, kapan dan bagaimana aku harus memulai melangkah maju lagi. Suatu saat nanti....

Membuat langkah mundur bukan berarti buruk. Hanya berusaha melepaskan diri dari sikap naif saja. Melihat realita, dan melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai seorang saudara seiman dan saudara se umat manusia.

Tidak ada yang salah atas keharusan langkah mundur ini. Hanya saja, banyak sekali pelajaran yang seharusnya bisa aku petik, agar tidak terulang lagi suatu saat kelak. Semoga saja, ini adalah kali pertama dan sekaligus terakhir untukku harus berjalan mundur. Karena sesungguhnya semua ini menyakitkan dan meninggalkan torehan luka yang cukup dalam....

Thursday, December 17, 2009

Manusia DO dari Psikiater

Hari ini, aku baru mendapatkan sebuah update berita dari salah satu rumah singgahku.
berita mengenai kambuhnya penyakit orang, yang nampaknya pernah DO dari penanganan psikiater. Sungguh sebuah cerita memilukan karena orang itu bukanlah orang idiot, bukan orang yang tidak berpendidikan. Bahkan saat inipun dia sedang menjalankan studi masternya....wuih...memprihatinkan....

Salah satu anggota keluarga kami (mbak X) sedang berbahagia karena kembali mendapatkan amanah dari Tuhan untuk merawat dan mendidik kembali seorang bayi. ya...mengandung. Anak kedua tepatnya. Anak pertamanya sudah duduk di kelas 2 SD (si Y) Sungguh berbahagia nampaknya dapat merasakan pergerakan2 sang jabang bayi, meskipun harus hidup jauh dari suaminya, yang berada di Pulau Sumatera.

Namun, di tengah kebahagiaannya itu, mbak x harus merasakan kesedihan sekaligus. Si X harus dirawat di rumah sakit karena di deteksi terkena penyakit demam berdarah (DB) setelah sebelumnya terjadi salah deteksi (disangka thypus) oleh dokter. Si X harus di rawat di sebuah kamar di lantai 3, sebuah rumah sakit ibu dan anak di Bogor.

Si Ibu (mbak X) yang sedang mengandungpun tidak ada pilihan lain selain menemani dan menunggui salah satu buah hatinya itu. Sayangnya, semua terjadi begitu tiba-tiba dan tidak terkontrol oleh saudara2 kami yang lain. Sehingga tidak ada saudara kami yang lain yang bisa menemani dan membawakan keperluannya di hari pertama masuk rumah sakit.

***

Selain berisikan dengan penghuni yang sama2 telah menganggap diri masing2 sebagai teman dan saudara, rumah singgah kami juga berisi dengan satu orang yang bergabung kesana hampir bersamaan denganku. Dia (Si Z) sedang menyelesaikan kuliahnya untuk jenjang S2 di sebuah perguruan tinggi negri di bogor juga.

Dia adalah orang yang berbeda. Entah kenapa, dari mula bergabung di rumah singgah kami (kata penghuni lama) dia sudah tidak bisa dekat dengan para penghuni lama. Begitu aku masuk kesanapun, begitu pula yang aku rasakan. Sulit untuk bisa bergaul dan bergabung dengannya. Dalam setiap pembicaraan, dia selalu menempatkan dirinya di atas awang. Mungkin hal itu yang membuat teman2ku merasakan kesulitan yang sama.

Pada awalnya dia memang tidak menyulitkan orang lain, hanya sekedar merasa lebih penting dari yang lain. Sehingga kamipun tidak merasa di rugikan dan merasa biasa saja. Tetapi, lama kelamaan rupanya tiba pula saatnya dimana gesekan2 mulai muncul karenanya. Semakin lama, semakin banyak kasus yang timbul karena keangkuhan dan ke aroganan dia, yang membuat hampir semua penghuni lebih memilih menghindari dia.

***

Dan update yang baru aku dengan hari ini adalah benturan antara banyak pihak dengan si Z yang berlaku semakin menjadi2 dan semakin ngelunjak. Entah ada angin apa, hingga orang itu bisa berbuat begitu lancang dan tidak menggunakan hati nuraninya sebagai seorang teman, ataupun juga seorang manusia.

Ketika Mbak X sedang menunggui si Y di rumah sakit, suami Mbak X (Mas A) menelpon ke rumah singgah kami. Dengan harapan ingin meminta tolong kepada teman serumahnya, yang mungkin di anggap paling mungkin untuk menolong istri dan anaknya karena dia ada di tempat yang jauh.
Rupanya ketidak beruntungan memang telah di gariskan oleh yang berkuasa atas alam ini, sehingga ketika telpon berdering, si Z lah yang mengangkatnya.

Mas A : "Selamat siang mbak...saya suaminya X. Sekarang Z sedang di rawat di rumah sakit H karena sakit DBD. Tolong ya mbak...tolong bantu istri saya karena dia kan sedang mengandung. tolong catat rumah sakit dan kamarnya. siapa tahu mbak bisa kesana."

si Y : "Oh, maaf saya tidak bisa menolong anda..."

Mas A : " Mbak, tolong sekali mbak...Istri saya kan sekarang sedang hamil. Tolong sekali mbak. Mungkin istri saya memang tidak gaul dengan teman2 rumahnya, mungkin istri saya memang tidak ramah. Tapi tolong lah mbak... Dia kan sedang hamil, tolong bantu dia menjaga Z.."

Suami mbak X sampai memohon2 untuk bisa mendapatkan pertolongan demi istri dan anak pertamanya. Namun Z tetap tidak mau menolong, bahkan dia sampai menjelek2an mbak X di depan suaminya. oh my god...

Si Y : "Maaf, saya tidak bisa menolong anda. Istri anda jutek sama saya, jadi saya tidak kenal sama dia. Saya tidak berteman dengannya. Kalau mau minta tolong, sama yang lain saja..nih..."

Dengan kasarnya si Y menyerahkan telponnya kepada rekan kami yang lain yang saat itu ada di rumah. Untungnya, di rumah itu tidak ada lagi orang yang berhati batu seperti dia. Jadi, oleh teman yang satu itu, segera di perhatikan permintaan dari suami mbak X. Dan akhirnya, beberapa teman yang memang bisa menemani mbak X dan bergantian menjaga Z segera meluncur ke rumah sakit itu.

Mengherankan..... Bagaimana bisa dia yang mengaku seorang muslimah, dan bahkan pernah mengaku sebagai anak ketua adat (belum di kroscek keabsahan datanya) bisa sedemikian teganya. Dia tega berkata begitu kepada orang yang benar2 membutuhkan pertolongan. Tega mengabaikan permohonan seorang lelaki (yg sering gengsi memohon sama org lain apalagi cewek). Dan dia tega melakukan itu pada teman satu rumahnya sendiri.

Sungguh mengherankan dan sulit di bayangkan bagaimana dia bisa menjalani kehidupan yang seperti itu. Masih muda, belum menikah, sedang bersekolah, masih panjang perjalanan hidupnya, namun tidak memiliki hubungan sosial yang baik dengan orang2 di sekitarnya. Bagaimana dia sanggup bertahan di lingkungan yang semakin keras ini tanpa adanya teman, sahabat dan saudara?

Hidup di perantauan sangatlah berat apabila kita tidak bisa membawa diri dan mencari teman sebanyak2nya. Memang dia sering berkata dengan semua keangkuhannya bahwa dia akan tetap bisa hidup dengan caranya sendiri. Dia memang tidak suka dengan orang yang bla..bla...bla....Tapi? come on gals.... This is live....realita...fakta...bahwa kita butuh teman. Kalau dia memang menggunakan otaknya dengan baik, seharusnya dia ingat bagaimana sengsaranya ketika dia sakit dan tak ada seorangpun yang memperhatikan dia, menolong dia, ataupun memanjakan dia. Bahkan saat itupun dia protes tentang itu. Kenapa tak ada seorangpun yang memperhatikan dia....hahahha...jadi tertawa miris aku di buatnya...

Selidik punya selidik, rupanya dia pindah dari rumah singgahnya yang dulu dengan meninggalkan kasus yang tak kalah mencengangkan. Hal2 yang akan membuat kita berdecak kagum manakala membayangkannya. Dan ternyata juga, dia menceritakan kepada salah seorang penghuni rumah singgah kami bahwa dulu dia sering berobat ke psikiater. hhhaaahhh?????

Dalam bercandaanku dengan teman2 tadi siang, kami membuat kesimpulan konyol bahwa mungkin saja dia korban DO (Drop Out) dari pengobatannya di psikiater dulu. Sehingga sakitnya belum sembuh secara total. Lebih parah lagi kesimpulan konyol yang di buat oleh salah satu teman kami si I. Dia berkata kemungkinan psikiater nya nggak sanggup menanganinya dan bahkan ikut menjadi stress dan frustasi gara2 penyakit si Y yang sedemikian parahnya. hahahha

Entahlah...Rasa emosiku terpancing ketika mendengar semua kisah itu. Dan kembali miris ketika melihat kondisi mbak X yang sedang hamil hanya sendirian menunggui Z di rumah sakit. Semoga semua orang mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah masing2 lakukan dalam kehidupannya. Yang baik dan yang buruk akan selalu di perhitungkan dengan adil seadil-adilnya... Cepat sembuh ya Z....

Satu pertanyaan yang masih dan selalu terngiang2 dalam benakku :
"Bagaimana bisa dia menjalani hidupnya seperti itu????"

Friday, June 26, 2009

Buka Matamu Lebar-Lebar

Ketika itu aku bicara tentang luka. Luka kecil tetapi nyata. Luka yang menganga.
Kemarin, aku kembali merasakan detak keberadaan luka itu.
Untuk hal yang sama, untuk orang yang sama, dan untuk lingkungan yang sama.
Sebenarnya, sejak saat “hal itu” terjadi, aku selalu enggan melangkah menuju tempat itu.
Tempat dimana aku terlalu berlebih dalam berharap.
Tempat dimana aku terlalu pede dalam bersikap.
Tempat dimana semua orang bersikap lain.
Tempat dimana jarak selalu ada.

Ketika kemarin kakiku kembali menginjak wilayah itu,
Aku harus bertemu dengannya yang pernah melukaiku.
Dia berlaku seolah tak ada aku, aku biarkan saja.
Saat aku kembali harus menginjak wilayah itu, kali ini dari sisi yang berbeda.
Dengan terpaksa dia harus melihatku, menyapaku.
Dan akupun menyapanya seperti biasa.

Jarak itu ada, jarak itu terasa, sebagaimana aku merasakan adanya luka itu.
Dia mengeluarkan pertanyaan retorik kepadaku.
Namanya saja pertanyaan retorik, maka tak ada kewajibanku untuk menjawabnya.
Dan semua itu juga hanyalah basa-basi yang basi menurutku.
Kutinggalkan semua itu begitu saja.
Karena aku tak ingin lebih jauh terperosok dalam jurang.

Kalau memang mereka layak di awan, biarkan aku ada di tanah.
Jikalah mereka yang layak di tanah, biarkan aku ada di sudut saja.
Sebuah pelajaran besar untukku, yang selalu menyukai hal-hal yang berlebihan.
“kurangilah semua yang lebih itu, jadikan semua menjadi biasa-biasa saja”


Semakin ingin ku tutup mata,
Maka semakin kubuka mata ini lebar-lebar.
Karena aku tak ingin lari dari kenyataan…

Friday, April 24, 2009

Mobil ini sudah terbiasa sakit

Kembali pada masalah mobil, dan mobil ku sayang. Mobil ini sepertinya sudah terbiasa sakit, bahkan sepertinya sudah sangat menikmati rasa sakit itu. kecenderungannya, saat ini bukan hanya telah mampu menikmati rasa sakit itu, namun telah menganggap bahwa sakit itu adalah bagian dari dirinya.

Dahulu kala, ketika hama penyakit, borok dan pengganggu dari luar datang untuk yang pertama kali dan kedua kalinya, mobil itu meronta dan berusaha melepaskan diri. Dia menganggap bahwa semua penyakit itu aadalah ancaman. Dia berteriak ke kanan dan kekiri untuk mencari dan meminta bantuan. Sampai dengan penyakit itu pergipun, rasa sakit dan penderitaan itu masih membekas di dalam hati mobil ini. Sampai ada niat untuk memberontak dan memboikot saja para penyakit itu agar tidak berani lagi mendekatinya. Sungguh suatu semangat yang luar biasa dan meledak-ledak. Semangat yang mampu mempengaruhi sekitarnya, karena memang itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup mobil itu kedepannya.


Setelah wabah penyakit yang pertama berlalu, kondisi mobil ini membaik dan semakin stabil. Diapun mulai beraktivitas seperti sedia kala. Dia juga mulai merancang dan menyusun rencana-rencana perjalanan jauh menaklukkan dunia. Jiwa mudanya kembali berkobar dan membara.

Namun malang tak dapat ditolak, dan untung tak dapat di raih. Beberapa waktu terakhir ini, si mobil ini mengalami penyakit yang beruntun. Memang tidak bersamaan, tetapi beruntun dan tanpa henti. Sembuh penyakit yang satu, maka muncul penyakit yang lain. Baru beberapa hari sembuh, penyakit lain sudah membayangi. Sungguh malang nasib mobil ini belakangan ini.

Setelah runtutan penyakit ini menghilang, seakan muncul ketidakpercayaan diri terhadap jiwa mobil ini. Pernah muncul satu opsi, apakah perlu kita ruwat/mandi kembangkan sang supir karena mobilnya selalu bermasalah ??? atau dia perlu membuang kolornya ke pantai selatan agar semua kesialan ini berlalu dan selesai??? Entahlah….tak ada yang punya solusi pasti untuk 6 penyakit yang beruntun menimpa mobil ini.

Yang terbaru dan aku yakin bukan yang terakhir, adalah kambuhnya penyakit lama mobil ini. Penyakit yang gejalanya muncul pada saat penyakit pertama menyerang, rupanya kembali lagi mendatangi tubuh mobil ini. Penyakit yang datang dari lingkungan dekat si mobil yang memberikan efek merasa terintimidasi dan dipaksa untuk bergerak. Mobil ini merasa ada yang berusaha menggerakkan dia, padahal sebenarnya dia tidak ingin bergerak demikian. Penyakit yang datang pelan-pelan, tidak berbau/seolah-olah menyamarkan bau, dan datang dengan santun. Sayangnya, saat ini si mobil tidak begitu merasakan bahwa dia sedang dalam ancaman suatu penyakit. Mungkin karena terlalu sering terjangkit penyakit, maka rasa peka itu semakin berkurang. Karenanya, dia tak lagi merasakan ini sebagai ancaman yang berbahaya. Parahnya, saat ini, ketika penyakit itu mengarahkannya untuk bergerak kekanan, dia justru menganggap bahwa dia memang seharusnya kekanan. Ketika penyakit itu mengarahkannya ke sungai, maka dia menganggap bahwa memang dia seharusnya ke sungai. Saat penyakit menggerakkannya ke gedung, maka dia menganggap bahwa memang seharusnya dia kegedung.

Bagaimana nasibnya mobil ini kedepan??? Entahlah…semakin tidak ada kejelasan dan samar-samar.

Thursday, January 22, 2009

Mobil Itu Supirnya Satu, Kalau Banyak Malah Bikin Runyam

Pelajaran Kedua Hari Ini

“Mobil Itu Supirnya Satu, Kalau Supirnya Banyak Malah Bikin Runyam”

Anggap saja kami sedang naik mobil gede banget….

Malam ini aku kembali bertemu dengan supir mobil yang selama ini aku dan teman-teman tumpangi. Mobil yang berjalan mengarah pada satu tujuan. Tujuan yang sangat jelas tertulis dipapan pengumuman, dan selalu diteriakkan oleh teman-teman kami ketika ada diantara kami yang mulai lupa. Mobil yang tak pernah penuh dengan penumpang, bahkan ketika dia selalu menaikkan penumpang tanpa mengeluarkannya.

Kembali pada supir kami….

Malam ini aku bertemu dengan dia ketika aku mengantarkan titipan buah dari salah satu penumpang lama mobil kami, yang baru dibawanya dari pulau sebrang. Ketika aku dating, supir kami sedang asyiknya bermain game seperti beberapa hari ini.

Beberapa obrolan kami lakukan, termasuk tentang kondisi mobil kami saat ini. Kata dia, mobil kami sekarang ini sedang sakit. Layak untuk dimasukkan ke bengkel. Kalau ibaratnya manusia, layak dibawa kerumah sakit. Kami yang ada diruangan yang sama malah jadi bingung, dan akhirnya bertanya kepadanya mengenai maksud dari perkataannya. Ya, kata supir kami, mobil kami sedang sakit karena para penumpangnya sudah banyak yang ingin menjadi supir. Kebanyakan dari penumpang mobil kami, saling berlomba, saling menunjukkan kehebatannya untuk dapat menjadi supir mobil kami. Padahal sudah jelas bahwa kami mempercayakan setir mobil kami kepadanya seorang.

Dia juga mengatakan bahwa awalnya kita semua sangat menghormati, menghargai, dan menyegani para penumpang yang terlebih dahulu memasuki mobil ini dan menempatkan diri selaku penumpang yang baik. Namun belakangan ini kami semua merasa bahwa memang ada pergeseran nilai tersebut. Mungkin karena seperti apa yang dibilang oleh supir kami tadi, yaitu karena semua ingin menjadi supir, maka mobil ini justru menuju kehancuran dan sakit.

Satu kalimat yang membuatku tersentak adalah ketika dengan tegas supirku mengatakan : “gila ya, mereka(pera penumpang lama_red) sekarang sudah tidak mendapatkan rasa simpati dari kita lagi. Kita sudah kehilangan rasa simpati dan respect kita sama mereka”

Bagi yang mengenal supir kami, maka kalimat sepanjang itu adalah mukjizat, karena bisa keluar dengan lancar dari mulutnya. Wouw…..

Dan yang tak kalah mencengangkan sekaligus memberikan aku semangat adalah ketika dia kembali berkata : “kalau mobil itu, dimana-mana yang nyetir Cuma satu. Kalau mereka mau, suruh daftar jadi kernet ajah…”

Hahahaha……boleh juga tuh. Tidak sedikit koq satu mobil sampai punya 3-4 kernet….

Mantap pak sopir…..smangadh ya….