Saturday, December 6, 2025

Again, It's Just A Thing lho Mbak

Dari Sini

Bulan November, bisa-bisa diusulkan sebagai bulan tumbler nasional, gara-gara se-Indonesia Raya membicarakan sebuah merek tumbler, dan ke-nganu-an yang punyanya. 

Saat saya membaca berita tentang beliau itu, saya jadi teringat cerita tentang kisah anak wedhok dan "her thing is only thing"-nya. Dan ternyata, saya pernah tuliskan di sini (asik banget nggak sih? hahahaha). Baca di sini tulisannya. 

Di satu sisi saya ikut prihatin dengan mbyak dan mas nya yang kemudian populer melalui jalur drama di negara ini. Tetapi juga jangan salahkan netizen dengan segenap kelihaian jemarinya, karena memang mbyaknya juga agak laen saya rasa. Komentar saya kala itu adalah, "Duh mbak, kalah sama anak saya kayaknya. Anak saya aja tahu kalau terlalu mendewakan barang, itu nggak ada gunanya." 

Memiliki barang yang kita rasa bagus dan "sesuatu" itu adalah hak masing-masing orang, beserta segala kemampuannya. Tapiiii, sepertinya kita semua perlu mulai mengukur, sebatas apa kita mampu merelakan sesuatu. Jadi, saat terjadi sesuatu pada benda atau hal tersebut, tidak perlu berlarut sakit hati, kecewa, marah, apalagi tantrum yang merugikan orang lain. 

Misalkan begini: 

Kita beli saja sesuatu yang kita mampu. Mampu di sini bukan berarti harus cash ya. Cash ya lebih bagus, tapi kredit juga tidak apa-apa, selama kita sudah punya budget untuk membayarnya. Ini banyak terjadi pada jama'ah gaji bulanan seperti saya. 

Nah, kalau kita beli sesuatu yang mampu kita beli, lalu putuskan, apakah benda ini ingin kita koleksi, atau ingin kita gunakan untuk keseharian. 

Jika untuk koleksi, maka sebaiknya di simpan saja di rumah/lemari, dan kalau harus dibawa/dipakai, sesekali saja saat ada acara yang tidak terlalu banyak orang. Jadi aman dari ancaman. 

Jika kita membeli karena ingin menggunakan, maka masukkan ke dalam kepala mantra saya ini, "It's just a thing, can be broke, and can be lost." Serta masukkan juga pemikiran bahwa saat kita keluar dari ruang pribadi kita, maka jutaan alasan bisa terjadi untuk melukai, mengganggu, atau merusak apa yang kita punya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Makanya, "it's just a thing, can be broke, can be lost". 

Saat mendengar ini dari mulut saya, salah satu teman berkomentar, "Udah kek sultan aja." Tentu segera saya sambar dengan mengiyakan, "Oh iya, kita harus punya itu mental sultan. Bedakan mental sultan dengan gaya sultan ya. Yang kita harus punya, itu Mental Sultan. Jadi tidak terlalu pokil, dan tidak perlu merana saat ada barang rusak/hilang. Karena bisa segera menghibur diri, ya udah nanti kalau punya uang beli lagi." Dengan begitu, kita tidak akan tantrum membabi buta, yang bisa merugikan kehidupan orang lain. Seperti yang viral-viral itu... 

Oh iya, satu lagi pikiran (kalau yang ini rada julit kayaknya ya) setelah mendengar kasus mbyak dan mas nya itu, "Ini kalau mereka punya anak dan sekolah, kayaknya mereka bakalan beliin alat sekolah yang viral setiap kenaikan kelas juga itu. Terus kalau barangnya lecet kesenggol temennya, mereka bakal tuntut orang tua atau sekalian." Kalian mikir gitu juga nggak? Jangan-jangan saya aja yang julita. hahahahha

Begitu sih kira-kira.

#TumblerViral

#Things

#ThingIsJustAThing


 

No comments: