Showing posts with label luka. Show all posts
Showing posts with label luka. Show all posts

Sunday, December 27, 2009

Semua Tertinggal di Stasiun Pasar Minggu

Beberapa hari ini adalah waktu dimana semua orang menyusun dan menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Berkumpul bersama untuk menghabiskan liburan, merayakan natal, dan menyambut tahun baru 2010 yang diharapkan menjadi tahun yang gemilang. Ya….akhir tahun ini ada cukup banyak waktu untuk liburan. Libur natal yang bisa dilanjutkan dengan libur tahun baru. Bagaimana dengan aku?


Awal liburan aku jalani dengan sebuah kepahitan. Pahit dan cukup sakit. Luka kembali tertoreh di atas luka lama yang belum juga mengering. Hinaan, hujatan, dan sikap merendahkan itu muncul kembali dari seorang yang lemah lembut dan penyayang. Entah apa yang menjadi pemicunya. Aku hanya bisa bilang “akulah yang telah memicu semuanya”. Sikap tak peduli dan acuh menjadi kelanjutan episodenya. Betapa tidak terasa ketiadaanku di sampingnya di dalam sebuah gerbong kereta Jakarta Bogor.


Aku menghabiskan waktu di sore itu sendirian di stasiun Pasar Minggu, menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke tempat asal kami datang. Aku hanya bisa melihat ke ujung batas kemampuanku melihat, untuk sekedar mengalihkan mataku dari sebuah pandangan kosong. Aku melihat ke arah kereta dari keberangkatanku. Hanya satu yang tersirat di benakku saat itu “tiga jam yang lalu, semua masih terasa normal”. Dan segurat senyum tipis ku sungginggkan dari bibirku, senyuman miris yang di iringi dengan merebaknya suatu zat cair di kedua mataku. Bergegas akupun mengalihkan pandanganku ke atap peron stasiun. Bukan pada tempatnya wilis…..kataku dalam hati.


Satu kereta berhenti di depanku, kuacuhkan saja. Ibu yang duduk di sampingku mulai berdiri dan berkata “dik, mau naik yang ini?” dan akupun menjawab dengan sebuah senyum yang entah wajar atau tidak “terima kasih bu, saya nanti saja. Silakan ibu duluan. Hati2 ya bu..”. dan kereta itu berlalu membawa si ibu dan ratusan orang yang lainnya. Aku kembali melihat pantat kereta yang semakin menjauh dari stasiun itu. Kupandangi saja sampai dia benar2 tidak terlihat. Setelah dia menghilang dan aku merasa yakin dia tidak akan bergerak mundur, ku alihkan pandanganku kea rah yang berlawanan.


Seorang ibu yang lain mengisi bangku kosong di sampingku. Sambil tersenyum, aku bertanya “ ke bogor bu?” dan si ibu dengan ramah menjawab “iya mbak…baru lewat ya keretanya? Penuh bukan?” dan akupun berkata “iya bu, penuh sesak. Sampai di atas2 juga penuh”. Kulanjutkan acara mengamati rel, kereta api yang bergantian masuk stasiun, dan juga calon2 penumpang di sekitar tempatku duduk. Ramai…penuh dengan orang yang sedang menunggu. Menunggu kereta yang entah kapan datangnya, dan entah dapat membawa mereka atau tidak.


Di seberang rel sana, di bangku yang cukup tersinari lampu, kulihat dua orang muda-mudi seumuran SMU sedang berpacaran. Tangan si cowok memeluk mesra pinggang si cewek dan si cewek duduk menghadap kea rah cowoknya. Mereka bercanda, bercengkerama, dan juga saling menyentuh…romantic, tapi terlalu berani…. Peduli amat dengan orang2 di sekitar (termasuk aku), mereka terus bermanja2an dan saling bergelayutan. Entah kenapa terasa ada yang sakit didalam sini (kusentuh dadaku perlahan). Sakit…dan bergetar…. (bukan mupeng tapi ya…hahaha).


Tiga atau empat jam yang lalu aku menuruni pintu kereta dan menjejakkan kakiku di lantai ini dengan masih tertawa dan tersenyum. Karena aku tidak sendiri. Aku datang beramai2, yaitu dengan dia, dengan harapan, dengan keceriaan, dengan doa, dan dengan impian. Tapi sayang….sekarang aku hanya sendiri, paling2 berdua dengan sepi. Dia dan semuanya pergi begitu saja tanpa menengok ke belakang, dimana aku masih memilih untuk duduk diam. Sakit….


Sebuah kereta yang padat hingga ke atap kembali lewat, dan akupun masih membiarkannya dengan acuh. Si ibu yang duduk di sampingku bergerak berdiri untuk bergabung dengan para penumpang yang lain, tetapi tidak dengan aku. “saya mau pulang sekarang saja mbak, saya sudah tidak tahan. Terlalu malam dan lelah” katanya. “iya bu, lebih baik ibu pulang saja. Angin malam semakin kencang” kataku. Dan diapun tenggelam dalam penuh sesaknya pintu kereta. Aku? Masih saja duduk dan terdiam.


Para calon penumpang datang, peron penuh, kereta lewat, dan peron kembali kosong. Beberapa kali rutinitas itu berjalan, namun aku tetap di tempat yang sama. Duduk, diam, hanya sesekali menengokkan kepala ke arah tertentu. Menunggu. Apa yang sebenarnya aku tunggu? Entahlah….


Sepertinya aku hanya menunggu sampai saat di mana semua penat, sesak, pedih, dan gerah itu luruh di perons stasiun itu. Aku tidak ingin membawanya pulang lagi ke tempatku tinggal, karena hanya akan membuat kotor dan membuat keadaan semakin buruk. Setelah semuanya luruh dan aku kembali merasa ringan tanpa beban, akupun berjalan memasuki pintu kereta yang telah terbuka menyambutku. Meskipun semua sudah kulepaskan di peron stasiun itu, rupanya ada setitik sedih yang masih bergelayut mesra di pundakku. Kubiarkan saja dia menemani perjalanan pulangku.


Monday, November 30, 2009

Lagu Lama yang Kusuka

Ketika sedang asyik browsing, tiba2 terlintas di benakku untuk bernyanyi. Nyanyian lama yang dulu kerap kali di gunakan sebagai soundtrack film televisi atau sinetron. Sinetron pendek yang tayang satu jam setiap petang hari. Filmya bagus, dan masuk salah satu favoritku. Namun saying, aku tidak berhasil menemukan judul film itu di dalam memoriku.

Beruntung sekali, berkat bantuan asisten bersama yang selalu tau “google”, aku berhasil menemukan lirik lagunya. Masalah nada, aku masih ingat, jadi masih bisa menyanyikan. Rupanya, lagu ini judulnya Zikir, aku piker lembayung senja atau senja-senja apa…gitu. Dan ini dia liriknya :

Zikir

Munsyid : Choosy Pratama Inc.
http://liriknasyid.com

Lembayung merona

Mengantar senja

Menyibak tirai malam

Pupuslah semua

Harap impian

Layu tiada berkembang

Reff :

Berzikir kusebut

Namamu Allah

Kuatkanku tempuh jalan-Mu

Izinkanlah aku

Merengkuh bahagia

Walaupun sebentar saja

Andaikan kudapat

Menarik waktu

Kubung jauh deritaku

Mungkin ini semua

Sudah suratan

Sampai ajal menjelang

Thursday, July 9, 2009

Waktu Membuktikan Bahwa Perbedaan Itu Kian Nyata

Jika semalam ini adalah 7 tahun yang lalu, maka aku yakin bahwa aku akan menangis deras dan mengunci diri di kamar 2 x 2 meterku. Jika semalam ini adalah 9 tahun yang lalu, maka aku yakin bahwa aku akan berteriak-teriak marah di lereng jurang dekat rumahku. Jika semalam ini adalah 12 tahun yang lalu, maka aku yakin bahwa aku akan maju, mengambil ancang-ancang, dan melemparkan bogem mentahku ke muka mereka, sambil berteriak meneriakkan apa yang membuat aku terluka.


Tepi…..semalam ini adalah bagian dari saat ini. Semua terjadi, pada waktu sekarang. Bukan 7, 9, ataupun 12 tahun yang lalu. Saat ini terjadi, dan aku hanya diam, tersenyum, melihat kearah lain, pulang, menulis, dan berusaha untuk melupakannya. Setelah malam ini, aku tak boleh, tak perlu, dan tak ingin berteriak, memukul, ataupun menangis.


Aku hanyalah seorang anak dari kampong yang berusaha menjadi “sesuatu” yang mendekati harapan orangtuaku. Karenanya, aku dibawa dan memohon untuk dibawa oleh arus kehidupan hingga mengalir sampai saat ini disini. Banyak hal yang terbawa olehku dalam arus perjalanan hidupku ini.


Apa yang aku alami dulu, beberapa waktu yang lalu, kemarin, dan hari ini, hanyalah salah satu dari sekian banyaknya hal yang harus aku simpan dalam memori kecilku. Semakin lama, memori ini semakin padat dan padat, namun takkan pernah penuh hingga waktuku berhenti.

Aku berusaha untuk berteman, adakah yang salah dengan itu??? aku berusaha meningkatkan pertemanan menjadi persaudaraan, adakah yang keliru dengan itu??? ya…memang aku keliru. Aku keliru karena itu adalah suatu hal yang berlebihan. Disini tidaklah sama dengan di kampong. Disini, sangat jauh berbeda dengan di kampong. Orang-orangnya pun berbeda, apalagi kesenangan dll nya.


Waktu itu, aku sempat merasa sangat bahagia karena bisa berpikir bahwa aku memiliki mereka sebagai teman, sahabat, saudara, dan keluargaku di rantau ini. Tetapi semuanya menjadi hilang ketika aku disadarkan oleh mereka bahwa aku ini bukanlah siapa2.


Dari puisi khahlil Gibran “Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang”. Saat itu, satu diantara mereka mengatakan sesuatu padaku, sudah kumaafkan, tetapi tak mampu aku lupakan sampai saat ini. Sakit…..


Setelah itu, dua yang lain diantara merekapun melakukan hal yang sama padaku. Mengatakan dan bersikap jauh daripada beberapa jam sebelumnya. Sakit….


Setelah itu, aku dilupakan untuk sesuatu yang biasa kami lakukan bersama. Semua orang, melihat kearah lain ketika aku datang dari satu sisi. Semua orang tidak melihat dan tidak mendengar teriakanku yang bahkan mampu membangunkan sekumpulan kerbau pemalas di kandang. Ataukan mungkin, suara dan ragaku yang menjadi semu??? Sakit….


Beberapa waktu kemudian, aku kembali dipertemukan dengan beberapa bagian dari mereka. Masih sama dengan sebelumnya, dan aku biarkan saja. Aku mual dengan basa-basi yang hanya digunakan untuk memperjelas raut terganggunya dia. Sedikit sakit…..


Beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang dengan dia yang berbeda…..tetapi sama saja…..Sedikit sakit…..


Semalam ini….diawali dengan keharmonisan, keceriaan dari semua orang, tak terkecuali aku. Walaupun dari awal aku sudah merasakan ada yang lain dari pandangan dan penerimaanku, tetapi aku tidak ingin merasakannya. Semua kubiarkan berjalan begitu saja, sampai pada akhirnya mereka tak lagi bisa menahan diri dan menanyakan padaku, lebih tepatnya memperjelas anggapan mereka padaku.


Salah satu dari mereka bertanya : “Kamu sekarang tinggal ……. Ya???” karena aku tidak mengira bahwa aka nada pertanyaan seperti itu, maka aku hanya menjawab : “Mungkin, kadang-kadang iya, kadang-kadang enggak.” Untuk mengurangi rasa ketidaknyamananku, akupun bertanya kembali padanya : “emangnya kenapa ya???” dan seperti yang sudah aku duga, dia akan menjawab : “nggak papa…” katanya sambal mengangkat bahu…Klasik….


Satu lagi terjadi, pengingkaran atau ketidak terimaan jika ada aku. Hahahaha….. seseorang, berbicara tentangku ketika aku melihat ke arah yang lain, tetapi bukan berarti aku tak bisa mendengar, bukan berarti aku tak bisa melihat, dan bukan berarti aku tak bisa merasakan. Seseorang yang lain menanyakan apakah berita itu sudah sampai pada semua orang yang hadir, tetapi dengan sigap, orang pertama mengatakan bahwa dia sudah menyampaikan pada orang yang menurut dia perlu diberitahukan. See….


Akhir dari semua hingar bingar dan gemerlapnya lampu ruangan 3x3 meter itu, adalah sesungging senyuman dariku. Inilah perbedaan itu…..sebagaimana luka kecil yang menganga…..semua itu nyata adanya…