Hari ini, aku baru mendapatkan sebuah update berita dari salah satu rumah singgahku.
berita mengenai kambuhnya penyakit orang, yang nampaknya pernah DO dari penanganan psikiater. Sungguh sebuah cerita memilukan karena orang itu bukanlah orang idiot, bukan orang yang tidak berpendidikan. Bahkan saat inipun dia sedang menjalankan studi masternya....wuih...memprihatinkan....
Salah satu anggota keluarga kami (mbak X) sedang berbahagia karena kembali mendapatkan amanah dari Tuhan untuk merawat dan mendidik kembali seorang bayi. ya...mengandung. Anak kedua tepatnya. Anak pertamanya sudah duduk di kelas 2 SD (si Y) Sungguh berbahagia nampaknya dapat merasakan pergerakan2 sang jabang bayi, meskipun harus hidup jauh dari suaminya, yang berada di Pulau Sumatera.
Namun, di tengah kebahagiaannya itu, mbak x harus merasakan kesedihan sekaligus. Si X harus dirawat di rumah sakit karena di deteksi terkena penyakit demam berdarah (DB) setelah sebelumnya terjadi salah deteksi (disangka thypus) oleh dokter. Si X harus di rawat di sebuah kamar di lantai 3, sebuah rumah sakit ibu dan anak di Bogor.
Si Ibu (mbak X) yang sedang mengandungpun tidak ada pilihan lain selain menemani dan menunggui salah satu buah hatinya itu. Sayangnya, semua terjadi begitu tiba-tiba dan tidak terkontrol oleh saudara2 kami yang lain. Sehingga tidak ada saudara kami yang lain yang bisa menemani dan membawakan keperluannya di hari pertama masuk rumah sakit.
***
Selain berisikan dengan penghuni yang sama2 telah menganggap diri masing2 sebagai teman dan saudara, rumah singgah kami juga berisi dengan satu orang yang bergabung kesana hampir bersamaan denganku. Dia (Si Z) sedang menyelesaikan kuliahnya untuk jenjang S2 di sebuah perguruan tinggi negri di bogor juga.
Dia adalah orang yang berbeda. Entah kenapa, dari mula bergabung di rumah singgah kami (kata penghuni lama) dia sudah tidak bisa dekat dengan para penghuni lama. Begitu aku masuk kesanapun, begitu pula yang aku rasakan. Sulit untuk bisa bergaul dan bergabung dengannya. Dalam setiap pembicaraan, dia selalu menempatkan dirinya di atas awang. Mungkin hal itu yang membuat teman2ku merasakan kesulitan yang sama.
Pada awalnya dia memang tidak menyulitkan orang lain, hanya sekedar merasa lebih penting dari yang lain. Sehingga kamipun tidak merasa di rugikan dan merasa biasa saja. Tetapi, lama kelamaan rupanya tiba pula saatnya dimana gesekan2 mulai muncul karenanya. Semakin lama, semakin banyak kasus yang timbul karena keangkuhan dan ke aroganan dia, yang membuat hampir semua penghuni lebih memilih menghindari dia.
***
Dan update yang baru aku dengan hari ini adalah benturan antara banyak pihak dengan si Z yang berlaku semakin menjadi2 dan semakin ngelunjak. Entah ada angin apa, hingga orang itu bisa berbuat begitu lancang dan tidak menggunakan hati nuraninya sebagai seorang teman, ataupun juga seorang manusia.
Ketika Mbak X sedang menunggui si Y di rumah sakit, suami Mbak X (Mas A) menelpon ke rumah singgah kami. Dengan harapan ingin meminta tolong kepada teman serumahnya, yang mungkin di anggap paling mungkin untuk menolong istri dan anaknya karena dia ada di tempat yang jauh.
Rupanya ketidak beruntungan memang telah di gariskan oleh yang berkuasa atas alam ini, sehingga ketika telpon berdering, si Z lah yang mengangkatnya.
Mas A : "Selamat siang mbak...saya suaminya X. Sekarang Z sedang di rawat di rumah sakit H karena sakit DBD. Tolong ya mbak...tolong bantu istri saya karena dia kan sedang mengandung. tolong catat rumah sakit dan kamarnya. siapa tahu mbak bisa kesana."
si Y : "Oh, maaf saya tidak bisa menolong anda..."
Mas A : " Mbak, tolong sekali mbak...Istri saya kan sekarang sedang hamil. Tolong sekali mbak. Mungkin istri saya memang tidak gaul dengan teman2 rumahnya, mungkin istri saya memang tidak ramah. Tapi tolong lah mbak... Dia kan sedang hamil, tolong bantu dia menjaga Z.."
Suami mbak X sampai memohon2 untuk bisa mendapatkan pertolongan demi istri dan anak pertamanya. Namun Z tetap tidak mau menolong, bahkan dia sampai menjelek2an mbak X di depan suaminya. oh my god...
Si Y : "Maaf, saya tidak bisa menolong anda. Istri anda jutek sama saya, jadi saya tidak kenal sama dia. Saya tidak berteman dengannya. Kalau mau minta tolong, sama yang lain saja..nih..."
Dengan kasarnya si Y menyerahkan telponnya kepada rekan kami yang lain yang saat itu ada di rumah. Untungnya, di rumah itu tidak ada lagi orang yang berhati batu seperti dia. Jadi, oleh teman yang satu itu, segera di perhatikan permintaan dari suami mbak X. Dan akhirnya, beberapa teman yang memang bisa menemani mbak X dan bergantian menjaga Z segera meluncur ke rumah sakit itu.
Mengherankan..... Bagaimana bisa dia yang mengaku seorang muslimah, dan bahkan pernah mengaku sebagai anak ketua adat (belum di kroscek keabsahan datanya) bisa sedemikian teganya. Dia tega berkata begitu kepada orang yang benar2 membutuhkan pertolongan. Tega mengabaikan permohonan seorang lelaki (yg sering gengsi memohon sama org lain apalagi cewek). Dan dia tega melakukan itu pada teman satu rumahnya sendiri.
Sungguh mengherankan dan sulit di bayangkan bagaimana dia bisa menjalani kehidupan yang seperti itu. Masih muda, belum menikah, sedang bersekolah, masih panjang perjalanan hidupnya, namun tidak memiliki hubungan sosial yang baik dengan orang2 di sekitarnya. Bagaimana dia sanggup bertahan di lingkungan yang semakin keras ini tanpa adanya teman, sahabat dan saudara?
Hidup di perantauan sangatlah berat apabila kita tidak bisa membawa diri dan mencari teman sebanyak2nya. Memang dia sering berkata dengan semua keangkuhannya bahwa dia akan tetap bisa hidup dengan caranya sendiri. Dia memang tidak suka dengan orang yang bla..bla...bla....Tapi? come on gals.... This is live....realita...fakta...bahwa kita butuh teman. Kalau dia memang menggunakan otaknya dengan baik, seharusnya dia ingat bagaimana sengsaranya ketika dia sakit dan tak ada seorangpun yang memperhatikan dia, menolong dia, ataupun memanjakan dia. Bahkan saat itupun dia protes tentang itu. Kenapa tak ada seorangpun yang memperhatikan dia....hahahha...jadi tertawa miris aku di buatnya...
Selidik punya selidik, rupanya dia pindah dari rumah singgahnya yang dulu dengan meninggalkan kasus yang tak kalah mencengangkan. Hal2 yang akan membuat kita berdecak kagum manakala membayangkannya. Dan ternyata juga, dia menceritakan kepada salah seorang penghuni rumah singgah kami bahwa dulu dia sering berobat ke psikiater. hhhaaahhh?????
Dalam bercandaanku dengan teman2 tadi siang, kami membuat kesimpulan konyol bahwa mungkin saja dia korban DO (Drop Out) dari pengobatannya di psikiater dulu. Sehingga sakitnya belum sembuh secara total. Lebih parah lagi kesimpulan konyol yang di buat oleh salah satu teman kami si I. Dia berkata kemungkinan psikiater nya nggak sanggup menanganinya dan bahkan ikut menjadi stress dan frustasi gara2 penyakit si Y yang sedemikian parahnya. hahahha
Entahlah...Rasa emosiku terpancing ketika mendengar semua kisah itu. Dan kembali miris ketika melihat kondisi mbak X yang sedang hamil hanya sendirian menunggui Z di rumah sakit. Semoga semua orang mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah masing2 lakukan dalam kehidupannya. Yang baik dan yang buruk akan selalu di perhitungkan dengan adil seadil-adilnya... Cepat sembuh ya Z....
Satu pertanyaan yang masih dan selalu terngiang2 dalam benakku :
"Bagaimana bisa dia menjalani hidupnya seperti itu????"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Sepertinya, belakangan ini aku di paksa untuk bersahabat dan sekaligus bermusuhan dengan beberapa hal baru. Beberapa hal yang beraneka rupa ...
-
Saya selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan alam beserta isinya secara menyeluruh... Tidak terpisah-pisah, dan tidak tanpa alasan... Saya ...
-
Liburan... Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi ...
1 comment:
mba lu ke balik antara si Z dan si Y. coba de lu baca lagiu,hehehe/...
Post a Comment