Monday, December 22, 2025

I Wannabe A Microwave

Liburan... 

Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi menjadi suasana baru, yang konon katanya bisa menjadi penyembuh. Entah penyembuh apa, mungkin banyak yang di hari biasa merasa sakit, sehingga dengan mencari penyembuh saat libur, maka mereka akan sembuh dan siap kembali menghadapi rutinitas saat libur tlah usai. 

Begitupun dengan keluarga Nala ini, tak luput dengan rencana untuk mengadakan pergerakan. Namun, dikarenakan akhir tahun ini adalah masa di mana K harus mendaftar ke SMP, belum mendapat satupun kabar dari dua calon sekolah yang kami coba daftarkan, maka Emak tidak terlalu bernafsu untuk bergerak. 

Long short story, maka si Bapak yang bergerak naik Gunung Rinjani, si Anak akan di cemplungkan kembali ke Barak masa kini, dan Emak tetap menjadi kuli yang Qerja Bagai Quda. Hahaha....

Dan begitulah yang terjadi. Hingga saat tulisan ini di tulis, si Bapak baru turun dari Puncak Rinjani, si Anak baru pulang dari Barak 2 hari, dan Emak masih menjadi Kuli. 

Jujurly, hati emak ini rasanya penuh sekali setelah menjemput K dari Camp. Penuh karena bangga dan bahagia sama anak sendiri boleh kan ya? hehehehehe. Bahkan untuk merasa bangga pada anak sendiri aja, kadang saya merasa malu. Ah, katanya trauma masa kecil. Mbuhlah. Kita mulai dari sekarang deh kalau gitu :-p

Jadi ceritanya, sewaktu menjemput K ke Rumah Perubahan, kan ada sesi berbagi bersama orang tua, psikolog yang mendampingi camp, dan juga Prof RK. Sebagai pembuka acara, kami diperlihatkan video pendek mengenai aktifitas anak-anak selama 3 hari 2 malam di SDC. 

Saat muncul K di video, dan dia memegang mic, menyebutkan sesuatu (saya tidak terlalu dengar), saat itu Prof RK melihat ke arah video dan berbalik ke arah orang tua sambil bertanya, "Ini anak siapa?" Saya mengangkat tangan. Dan Prof RK mengacungkan jempolnya. 

Mungkin bagi orang lain hal ini terasa remeh. Tapi bagi emak mellow yang satu ini, it means the world. Hilang sudah lelah marah dan murka yang pernah terjadi di antara anak dan emak, langsung diputihkan saat itu juga. Hahahhahaa

Setelah itu, acara diskusi dengan menyenangkan, kalau kata anak sekarang, berdaging semua. Psikolog yang dipanggil Coach Ivana berbagi banyak hal, lalu Prof RK juga menyambung dengan insight yang sedikit banyak terasa seperti tamparan kecil di muka ini. Eheeemmmm... 

Coach Ivana mengatakan bahwa mereka sudah sering mengadakan camp ini untuk para executif, pekerja, CEO, dll. Dan beliau meyakinkan kami bahwa core ide untuk menyelesaikan masalah yang sama yang di miliki oleh para executif dll itu, tidak berbeda dengan yang keluar dari kepala anak2 kami. Jadi kami didorong untuk melanjutkan misi mengetok cangkang telur anak-anak kami, dan tidak mematikan setiap ide kreatif yang mereka utarakan. 

Coach Ivana menyebutkan bahwa bahkan ada anak yang mengatakan kalau Ia ingin menjadi Microwave. Kami semua ikut tertawa. Cita-cita unik, menandakan bahwa anak itu memiliki kepercayaan diri tinggi dan merasa aman untuk bisa mengatakan apapun yang ada dikepalanya, tanpa takut dihakimi orang lain, katanya. Saat itu saya berfikir, "Wow, kece juga anak itu". 

Lalu kami masuk di sesi diskusi, tanya jawab yang cair dan lagi-lagi berdaging. Setiap ada parents bertanya, coach Ivana akan menjawab, dan Prof RK akan menambahkan insight nya. Saya rasa, parents yang hadir di situ, sama-sama merasa cukup kenyang setelah acara selesai. Hahaha. 

Kemudian kami berfoto bersama, dan berfoto sendiri-sendiri dengan Prof RK bagi yang mau. Ya saya maulah tentunya. hahahaha. Dan lagi2 saat itu, Prof RK bilang pada saya, "Anak ibu hebat,". Terima kasih Prof, semoga dia bisa terus belajar untuk menjadi good driver, tanpa lupa caranya menjadi good passenger. Pengalaman 3 hari 2 malam di Rumah Perubahan ini, saya yakin akan menjadi bekal penting untuk memperkuat fondasi dirinya. Aamiin. 

Saat akhirnya saya bertemu dengan K di depan lobby kamar mereka menginap, K seperti biasa tak sabar berbagi cerita. Saya yang juga mendapat beberapa teman baru, kami bertukar nomor dan mengucapkan salam perpisahan. Sembari menunggu taksi online, kami berjalan ke arah Kafe Breezy, di mana Prof RK sedang melakukan foto bersama dengan beberapa parents. Tentu saja kami bergegas mengantri. Ya why noootttt... hahahahhaa

Mendengar cerita dari K, saya merasakan keseruan yang mereka alami. Dan karena saya sudah mendengarkan paparan dari Coach Ivana dan Prof RK, maka saya bisa melihat gambaran besar dari apa yang mereka lakukan, tujuan, serta harapan yang ingin disampaikan oleh SDC. Di situlah tugas saya untuk menjejalkan yang perlu di jejalkan, dengan cara semulus mungkin. kekekekekeke

Malamnya, saat kami menonton TV, saya teringat dengan cerita Coach Ivana tentang anak yang bilang kalau dia mau jadi Microwave. Tiba-tiba, K bilang "Jadi Bunda tahu donk kalau aku mau jadi Microwave?". Apalah yang bisa saya lakukan, selain daripada ngakak dan bilang, "Jadi kamu yang mau jadi Microwave? Ok, that's good." 

Untuk teman-teman yang memiliki anak usia sekolah, saya rasa cukup sepadan jika mau menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya, untuk mendaftarkan mereka ke Self Driving Camp ini. Memberikan pengalaman baru untuk anak, sukur-sukur banyak yang nempel di hati mereka. :-)

#SelfDrivingCamp

#RumahPerubahan

#HolidayActivity

Saturday, December 6, 2025

Again, It's Just A Thing lho Mbak

Dari Sini

Bulan November, bisa-bisa diusulkan sebagai bulan tumbler nasional, gara-gara se-Indonesia Raya membicarakan sebuah merek tumbler, dan ke-nganu-an yang punyanya. 

Saat saya membaca berita tentang beliau itu, saya jadi teringat cerita tentang kisah anak wedhok dan "her thing is only thing"-nya. Dan ternyata, saya pernah tuliskan di sini (asik banget nggak sih? hahahaha). Baca di sini tulisannya. 

Di satu sisi saya ikut prihatin dengan mbyak dan mas nya yang kemudian populer melalui jalur drama di negara ini. Tetapi juga jangan salahkan netizen dengan segenap kelihaian jemarinya, karena memang mbyaknya juga agak laen saya rasa. Komentar saya kala itu adalah, "Duh mbak, kalah sama anak saya kayaknya. Anak saya aja tahu kalau terlalu mendewakan barang, itu nggak ada gunanya." 

Memiliki barang yang kita rasa bagus dan "sesuatu" itu adalah hak masing-masing orang, beserta segala kemampuannya. Tapiiii, sepertinya kita semua perlu mulai mengukur, sebatas apa kita mampu merelakan sesuatu. Jadi, saat terjadi sesuatu pada benda atau hal tersebut, tidak perlu berlarut sakit hati, kecewa, marah, apalagi tantrum yang merugikan orang lain. 

Misalkan begini: 

Kita beli saja sesuatu yang kita mampu. Mampu di sini bukan berarti harus cash ya. Cash ya lebih bagus, tapi kredit juga tidak apa-apa, selama kita sudah punya budget untuk membayarnya. Ini banyak terjadi pada jama'ah gaji bulanan seperti saya. 

Nah, kalau kita beli sesuatu yang mampu kita beli, lalu putuskan, apakah benda ini ingin kita koleksi, atau ingin kita gunakan untuk keseharian. 

Jika untuk koleksi, maka sebaiknya di simpan saja di rumah/lemari, dan kalau harus dibawa/dipakai, sesekali saja saat ada acara yang tidak terlalu banyak orang. Jadi aman dari ancaman. 

Jika kita membeli karena ingin menggunakan, maka masukkan ke dalam kepala mantra saya ini, "It's just a thing, can be broke, and can be lost." Serta masukkan juga pemikiran bahwa saat kita keluar dari ruang pribadi kita, maka jutaan alasan bisa terjadi untuk melukai, mengganggu, atau merusak apa yang kita punya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Makanya, "it's just a thing, can be broke, can be lost". 

Saat mendengar ini dari mulut saya, salah satu teman berkomentar, "Udah kek sultan aja." Tentu segera saya sambar dengan mengiyakan, "Oh iya, kita harus punya itu mental sultan. Bedakan mental sultan dengan gaya sultan ya. Yang kita harus punya, itu Mental Sultan. Jadi tidak terlalu pokil, dan tidak perlu merana saat ada barang rusak/hilang. Karena bisa segera menghibur diri, ya udah nanti kalau punya uang beli lagi." Dengan begitu, kita tidak akan tantrum membabi buta, yang bisa merugikan kehidupan orang lain. Seperti yang viral-viral itu... 

Oh iya, satu lagi pikiran (kalau yang ini rada julit kayaknya ya) setelah mendengar kasus mbyak dan mas nya itu, "Ini kalau mereka punya anak dan sekolah, kayaknya mereka bakalan beliin alat sekolah yang viral setiap kenaikan kelas juga itu. Terus kalau barangnya lecet kesenggol temennya, mereka bakal tuntut orang tua atau sekalian." Kalian mikir gitu juga nggak? Jangan-jangan saya aja yang julita. hahahahha

Begitu sih kira-kira.

#TumblerViral

#Things

#ThingIsJustAThing


 

Saturday, August 23, 2025

This Is A Way


If you ask, this is my way to appreciate myself.

I appreciate myself for being me, keep being me, and trying to be better me day by day...

I feel it is not always easy...

Sometimes I feel it's far from what I capable to achieve... But it's okay... 

Me has been and still trying... Me still enjoying the process... And Me not regretting anything... Just keep her sanity... It's okay...

While Me can not counting on people, at least Me can count on herself, manage her priority and expectation, and started to accept the acknowledment, from me and others... It's a good start... Keep going...

If this thing can make Me more appreciate life, then leave her be...

The only one that probably Me thinks next should be better is, maybe next time Me should bring her Daughter and husband. Even if they say they don't want it, Drag them. Hahaha

Have a great weekend, Me, You, Her, Him, Them... And everyone of you! 

Love, 

Me


#PagelaranSabangMerauke

#HikayatNusantara

#TheIndonesianBroadway

Friday, August 15, 2025

It's Just a Thing

Pernah dengar nggak anak-anak kecil yang sudah sangat paham merek, brand, barang mahal, dll gitu? Bahkan dulu sewaktu K masih TK, pernah juga ada issue di kelasnya mengenaik sebuah brand. Ceritanya begini: 

Ibu dari Temennya K (Sebut saja MF): "Momies, apakah di kelas anak-anak benar ada geng yang hanya berteman dengan anak-anak yang pakai sepatu merek S*******s?"

Mama lain langsung penasaran: "Gimana maksudnya mam?" 

MF: "Iya, ini tadi anak saya cerita ke neneknya kalau dia mau dibeliin sepatu merek S, karena kalau nggak pake sepatu itu, nggak diajak main sama temen-temennya. Kalau iya, rasanya blablabla...." Panjang lah pokoknya, aku lupa tepatnya.  

MM: "Barusan saya tanya anak saya, katanya nggak main geng kok mam. Cuma yang pake sepatu samaan, terus bilang kita samaan ya... Gitu aja." 

Saat duduk santai dengan suami, saya ceritakan kejadian itu.  

Saya: "Menurut kamu, gimana kejadiannya itu?" 

Suami: "Paling juga bercandaan." kata beliau singkat.

Saya" "Kalau menurut penerawanganku ya, begini kejadiannya. Anak-anak itu lagi main. Terus beberapa anak udah tahu merek, terus bilang "eh kita sama ya sepatunya. Eh kamu juga sama. Eh si itu juga. Kita tim S! terus ada F datang, pengen ikut main, anak lain bilang "Kamu kok sepatunya nggak S? nggak samaan kita." gitu kali ya. Bukan karena main geng." 

Suami: Iya paling juga gitu. 

Jaman itu, memang sepatu S itu belum seperti sekarang yang menjamur dan mbladrah di mana-mana. 

Lalu ada lagi beberapa waktu (kayaknya setiap ajaran baru dink ya?) lalu, di linimasa terjadi kehebohan tentang tas merek S*****e yang ditulisi nama oleh gurunya. Sontak saja para netijen +62 bersabda macam-macam. Yang menarik diantara perdebatan itu adalah masalah terselip debat mengenai Barang Ori dan Barang KW. Yang berpegang pada Ori, ya udah tahu lah pasti karena uangnya ada. Tapi yang berpegang pada Barang KW, saya kurang sependapat dengan alasannya. Katanya "ya diukur dengan kemampuan donk. Kalau uangnya belum cukup beli yang Ori, ya nggak papa beli KW. Daripada Ori tapi ngutang atau nyicil." Lah buuuukkk... Kalau menurut saya sih mending Ori tapi nyicil daripada KW. hehee

*** 

Dari dua fenominil kecil itu, saya mencoba untuk menerapkan pada K, bahwa barang itu hanyalah barang. It's just a thing. Nggak peduli mahal atau murah, yang penting fungsinya. Tapiiiii, kita tidak boleh beli yang KW. Daripada beli yang KW, lebih baik kita pakai merek lokal saja, harganya terjangkau, kualitas juga tidak semua jelek. 

Untuk K, saya juga belikan beberapa barang yang suka bikin netijen bersabda itu, tapiiiii ada syaratnya. Seperti: 1) Sedang ada alokasi uangnya (baik cash maupun kredit, tidak masalah. Yang penting budgetnya ada); 2) Sedang ada tante2 kesayangan yang beredar di tempat barang2 itu diproduksi, sehingga bisa dapet a) barang lebih murah, atau b) barang yang unik dan tidak dijual di dalam negri. Nah, kalau kedua syarat itu terpenuhi, ya boleh saja beli barang rada mahal. Karena tidak bisa dipungkiri, barang yang lumayan mahal itu, memang lebih kuat juga sih bahannya. Asal digunakan sewajarnya (Catatan ini akan menjadi penting di cerita saya nanti). 

K punya sendal C****s ori, hadiah dia puasa penuh tahun lalu. Hasil negosiasi kita, boleh beli barang yang lebih mahal daripada biasanya, asal dengan kerja keras kamu sendiri. Seperti sendal ini, kamu boleh beli, asal dengan uang tabungan kamu sendiri, atau hadiah yang kamu relakan untuk beli. Deal. 

Tapi, K punya sepatu sekolah 120ribuan, beli di toko teman. Ketika teman saya posting di WA status jualannya, saya perlihatkan kepada K. Ternyata dia tertarik sekali dengan sepatunya, untuk sepatu sekolah dan sepatu main, hitam dan biru. Dia tidak masalah meskipun sepatu itu tidak bermerek, dan murah meriah. Deal! Komentarnya cuma satu "Untung logonya bukan logo N**e ya bunda, hampir mirip tapi beda. Jadi kan bukan KW nya N**e" hahahahahaa. Benaaarrrr... :-p

***

Yang tadi adalah cerita indah mengenai bagaimana anak itu sebetulnya nggak terlalu peduli dengan barang bermerek, asal kita juga nggak menanamkan bibitnya, apalagi merawatnya hari ke hari. 

Sekarang, adalah cerita bagian pahitnya. 

Masih ingat kan tadi di awal saya bilang ke K bahwa "Thing is just a thing" jadi nggak perlu sweat on a thing. Gitulah pokoknya. Ternyata, ajaran ini menjadi bumerang (nggak buruk-buruk juga sih) buat saya. 

Begini ceritanya: 

Cerita pertama: 

Adalah tentang sebuah tumbler termos keluaran dari merek yang bikin tantrum netijen setiap tahun ajaran baru itu. Kala itu, Tante Salmul kesayangan jalan-jalan ke Australia. Jadi mamak ini tergelitik juga untuk cek cek web nganu itu. Eeeeh, ndilalah ada 1 set backpack, tumbler termos, tempat pensil, dan lunch bag yang harganya jauuuuuhhhh di bawah harga di sini. Nggak sampe separonya gitu lah kalau dijomlah-jamleh. Dan temanya juga belom pernah lihat di sini (mungkin karena saya nggak main ke jakarta juga hahaha). 

Di hari pertama K sekolah setelah naik kelas, dia dengan bahagianya berangkat dengan semua yang baru-baru itu. Namanya bocil ya, kalau sekolah di hari pertama, pakai barang-barang baru hasil back to school shopping tuh, rasanya lebih PD gitu jalannya. hahahaha. Emaknya cuma berdoa, "semoga di kelas baru, ketemu teman-teman yang baik, dapet guru yang baik, dan sekolahnya lancar. Aamiin". 

Udah kan ya, kita menjalani hari sesuai fungsinya, hingga tiba waktunya menjemput si anak wedhok ke sekolah. Begitu dia melihat emaknya dari kejauhan, sambil tertawa-tawa dia mendekati emaknya dan berkata, "Bunda, jangan marah ya. Tumblernya tadi di lapangan kan aku tarok di pinggir. Kena bola basket yang dilempar teman. Terus pecah kepalanya.," Ngeeeekkkkkkk... 

Saya melihat-lihat kepala tumbler yang pecah dan nampak tak bakal bisa ditolong itu dengan kepala wesewesewesewedsdsfesfngeroi tmjeribnre. Lalu suara pelan K membuat saya kembali ke dunia nyata, "Kan kata bunda, it's just a thing. Jadi nggak papa kalau rusak nggak sengaja kan?" hahahaha. Baeklaaaahhhhh. "Iya, it's just a thing. Nggak jodoh aja kamu sama tumblernya, sehari aja nggak sampe kalian bersama." Dan kami tertawa2 sambil naik motor. K tidak tahu bahwa hati emaknya ini tertawa sembari menangis. :-p

Cerita yang kedua: 

Masih seputar botol minum juga ini. Botol minum yang dia beli untuk menghadiahi dirinya sendiri saat naik ke kelas 6. Botol montok bulet ginuk-ginuk yang saya juga naksir itu. hahhaa. Masih rada better sih ini, karena bukan hari pertama, tapi mungkin sekitar 1 minggulah. 

Pulang sekolah, saat saya jemput K di sekolah, dia laporan lagi, "Bunda, jangan marah ya. Tadi aku tarok botol minumku di meja kan. Tapi kayaknya terlalu pinggir. Terus J lewat, nggak sengaja botolnya kena J terus jatoh. Tapi kan it's just a thing, dan J nggak sengaja. Dia juga sudah minta maaf. Jadi nggak papa ya bunda." Lalu dia menunjukkan pada saya, salah satu bagian pantat botolnya penyok. Hahahaha. Hadeuuuuhhhhlah. Emak cuma bilang, "Ya udah, it's just a thing. Lain kali kalau narok botol minum, jangan terlalu pinggir ya." 

***

Dilemma ya sebetulnya. Saya nggak pengen juga sebetulnya ini bocah jadi menggampangkan barang-barang miliknya, tapi saya juga nggak pengen dia terlalu fokus dengan harga, uang, mahal murah, merek dan nggak merek, dll nya. Tapi ya begitu jadinya. 

Ada satu temannya yang saya cukup dekat dengannya. Suatu saat kami semobil ramai-ramai dengan teman2 K yang lain membicarakan masalah les yang sekarang rasanya kurang kondusif karena semakin banyak murid yang les bersama mereka. Mereka merasa lebih sulit konsentrasi karena anak-anak barunya sering berisik melebihi mereka yang (menganggap dirinya) senior. Tiba-tiba anak ini bilang "Padahal kan kita bayar ke tante itu nggak murah loh. Sebulan itu 500ribu lebih bayarnya. Masak kayak gitu". Katanya. Saya bilang padanya, "ya udah kalau gitu kalian kan udah lebih senior, jadi harus lebih bisa mandiri. Baca lebih banyak lagi biar lebih ngerti."

Di lain hari, saat K dan teman-temannya menginap di rumah, pas bersamaan saat saya harus belanja bulanan ke Day by Day supermarket, mereka semua mau ikut. Akhirnya saya jatah setiap anak boleh 1 makanan dan 1 minuman. Hebohnya sudah seperti game jaman dulu yang cepet-cepetan menghabiskan uang di supermarket itu loh. hahhaa. Saat membayar di kasir, si anak itu diam di samping saya, sedangkan teman-temannya berbincang seru tak jauh dari situ. Saya tanya, "Kamu ngapain? nggak ikutan temen-temen kamu?" Dia bilang, "Aku mau tahu habis berapa tante belanjanya." hahahhaa. Saya usir dia untuk bergabung dengan teman-temannya. "Kalian itu masih pre-teen, nggak usah pusing mikirin duit. Nanti aja kalau udah kerja baru mikir duit duit." Dia tertawa. 

Beberapa kali saya dengar dia menanyakan atau mengomentari baju/jaket K seperti, "Ini merek ini ya K? Aku tahu ini harganya kan segitu.." Dan lain-lainnya. 

Itu yang saya coba hindari untuk K. Thing is just a thing. Mahal murah itu bukan masalah, yang penting fungsi. 

Udahlah itu aja ngemeng hari ini. Tumben-tumben badan meriang kehujanan malah jadi bisa ngemeng di mari. :-p


Thursday, May 1, 2025

Angin Semilir Yang Merubah Arah Navigasi Kapal

Tahun ini, K naik ke kelas 6.

Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekolah online di kelas 1." atau, "Seperti baru kemarin masuk sekolah offline di kelas 3." atau juga, "kayak baru sehari di kelas 5 ya." dan sebagainya. 

Kenyataannya, sekarang anaknya kelas 6, tahun depan SMP. 

Untuk beberapa teman, mungkin masih ingat bagaimana yakinnya saya bahwa K akan bersekolah di tempat yang sama dari TK B sampai nanti lulus SMA. Ternyata, keyakinan itu beberapa bulan terakhir ini, terjadi goyangan oleh angin semilir. Dari yang awalnya hanya ada Plan A, kini muncul pilihan Plan B. Kenapa? 

Begini ceritanya... (elaaah)

Oh iya, kenapa sih dulu hanya ada Plan A? ya karena anaknya pun sudah yaqueen mau lanjut SMP di tempat yang sama, karena dia mengincar Ipad nya. Memang kalau sekolah di SMP ini, setiap anak wajib pakai Ipad. Dahlah nggak usah bahas kenapa, kok iya, dll nya. Udah kenyang denger dari mamak-mamak seperjuangan soalnya. haha. 

Karena anak sudah oke mantep paten dan yaqueen, ya Emak ini pun bahagia doooonk. Oke, visi misi kita sama mbak. Lanjoutkeun. 

Nggak tahu bagaimana awal juntrungan obrolan Bapake dan Anake, tetiba muncul diskusi kurang lebih begini: 

Bapake: "K, sekolah di tempat lain aja... Nggak usah di situ lagi?" (Emake denger santai aja, ini obrolan ringan biasa)

Anake: "Ih, Ayah! kan aku udah nunggu-nunggu buat ganti Ipad baru. Ipadku sudah jadul sekali, nggak bisa diupdate apa-apa!" Anake nge-gas kalau topik ini di angkat. 

Bapake: "Kalau cuma Ipad aja sih, Ayah beliin lah. Kamu sekolah di mana juga nanti ayah bisa beliin." Emake mulai berjengit, gawat ini.

Anake: "Bener? Serius? Nggak bohong?" Anake menyambut gayung bapake sambil menuntut dengan mata melotot.

Bapake: "Iya bener. Ayok mau ke mana?" Bapake nantangin.

Anake: "Bunda, ayo kita pindah sekolah aja. Aku nggak betah juga di sini. Mau sekolah di tempat lain aja." Anake ketularan semangat bapake. 

Emake melotot gantian ke bapake, dan merasa harus mengintervensi obrolan absurd ini. 

Emake: "Nggak papa sih kalau mau pindah. Tapi kalau mau pindah, pindah tinggal sekalian. Kalau cuma pindah sekolah, Bunda nggak mau. Sekolah di sini yang kayak sekolah kamu nggak banyak. Kalau masih sama2 aja, ngapain pindah? Kalau yang lebih bagus, muahalllll shayyyy." Emake tetap berusaha menjadi emak demokratis yang akomodatif. 

Bapake: "Ke B aja apa?" Muncul sedikit binar di mata Emake. 

Anake: "Ayok!!!!" Ternyata mata anaknya bukan berbinar lagi, tapi hampir meloncat mendengar ide Bapake. 

Emake: "Beneran? Kalau kalian berdua beneran sepakat, ayok aja kita coba. Mumpung tahun depan masuk SMP, ya sekarang waktunya memang kalau mau berpikir cari sekolah lain." Emaknya ketularan semangat. 

Singkat kata, Emake menanyakan beberapa kali tingkat kemantapan bapak beranak itu hingga beberapa kali, dan memutuskan untuk mengendapkan ide impulsif itu beberapa hari hingga adrenaline rush berkurang. 

*** 

Beberapa hari kemudian, di saat semua orang kembali bersantai di sofa di depan TV, diskusi terbuka mengenai kemungkinan sekolah di tempat lain, dimulai kembali oleh Emake. 

Emake: "Jadi gimana, lanjut enggak nih usahanya? Kalau kalian masih merasa perlu dan mau, Bunda musti mulai action ini." 

Ternyata Bapak-beranak masih yaqueen dengan jawaban mereka. Maka Emake pun memulai kembali perjalanan mencari informasi, bertanya sana-sini, berselancar kanan-kiri, hingga terkumpul beberapa literasi yang cukup mumpuni. 

Langkah kedua adalah menghubungi secara langsung pihak-pihak terkait dari calon-calon sekolah yang sepertinya memiliki peluang untuk dipilih, untuk mendapatkan informasi dasar yang valid. 

Langkah ketiga, adalah menghubungi teman yang mengenal situasi dan menanyakan beberapa pertanyaan basic printril seperlunya. 

Saat data sudah cukup mewakili, maka Emake maju ke Bapake untuk melaporkan situasi dan kondisi yang mungkin akan kami hadapi jika benar memilih langkah ini. Lengkap dengan proyeksi finansial, dan rekomendasi pilihan pertama agar Bapake mudah mengerti dan membayangkan sendiri. Di luar perkiraan BMKG, bapake ACC dan Ok-Ok saja ternyata. Bhaequelaaahhh!!!

Maka dikeluarkanlah Pakta Keluarga Umang kepada Anake:

"Ok. Mbak K, Ayah dan Bunda setuju untuk kita mencoba membuat rencana pilihan sekolah SMP kamu. Tapiii, kita hanya akan memasang target 1 sekolah saja. Kalau memang menurut Tuhan kita layak untuk menjalani rencana ini, maka kita akan berhasil. Jadi, if you really want to move and get into that school, then you prepare yourself. If you want that much, you'll try harder. Gimana, ok?" 

Dan seperti biasa, Anake menjawab, "Oke"

Seperti itu...


Saturday, January 4, 2025

Merayakan Tahun Baru 2025

 Mumpung masih hangat dari tagihan, dan nyecroll photonya belum terlalu jauh di galery, sebaiknya diceritakan saja di sini. Ini adalah cerita Keluarga Umang ini di libur pergantian Tahun Baru 2024 ke 2025 kemarin. 

Bapake K sudah lama mengemukakan niat untuk menyusuri jalur selatan yang ke arah barat, dengan tujuan menggenapi langkah di jalur selatan Pulau Jawa. Kan dari ujung Banyuwangi hingga Sukabumi sudah dilakukan, tinggal yang Sukabumi-Banten yang belum terjadi. Baru sampai Pantai Sepang aja waktu ikut pelantikan teman-teman Lawalata. 

Karenanya, saat Bapake K ngajakin tahun baruan di Banten tapi berangkatnya nyusur selatan, dengan senang hati juga saya menyetujui. Walaupun sedikit syulit meyakinkan dan mengajak K untuk setuju dengan rencana ini karena dia mulai seperti Ibuk yang mabok mobil, tapi akhirnya dia mau juga. Saya dan Bapake K hargai sekali usaha K dalam hal ini, dan kami merasa salut sekali pada anak gadis ini. Sepanjang jalan dia mabok, pusing, mual, tidur dan mengeluh. Tapi ya tetap menikmati perjalanan tanpa menyulitkan. Saat waktunya istirahat, dia minum teh panas dan menunggu muntah. Setelah muntah, dia makan mie. Lanjut perjalanan lagi, sampai akhirnya berhenti makan siang dia menunggu muntah. Saat tidak berhasil muntah, dia minum air kelapa dan mau dipijit sampai kentut-kentut, dan kami jalan lagi. Begitu saja terus, sampai akhirnya tiba di penginapan. Luar biasa Mbak K, We really appreciate your effort! Thank you for your understanding :-)

Ini adalah sebuah warung makan biasa di pinggir jalan, di puncak Bukit Habibi, Sukabumi. 

Seperti yang direncakan, kami makan siang di Bukit Habibi. Kami jatuh cinta pada warung pinggir jalan dengan pemandangan yang luar biasa cantik ini. Sudah beberapa kali kami duduk di kursi ini, memandangi pemandangan yang sama juga, tapi tetap ingin lagi dan lagi. Makanannya sih nasi ayam goreng lengkap dengan lalapan dan sambalnya saja seperti biasa, ditambah dengan minum sebutir kelapa muda. Tapi, dengan pemandangan yang ciamik itu, saya bisa menganggap diri saya berada di mana saja. Di Bali, di Lombok, di Danau Toba, bebas merdeka kan? :-p

Bersantai hingga matahari terbenam dengan lari, loncat, dan koprol di pantai

Setelah beristirahat di penginapan di daerah Sawarna, kami bersantai di Pantai Goa Langir. Tak jauh dari Little Hula-Hula homestay tempat kami menginap, pantai ini membuat kami rindu Bali. Hamparan pasir lembut yang luas sekali, memberi kenyamanan di mata dan hati, hanya dengan duduk berlama-lama di situ. K sibuk lari-larian, koprol kayang di pantai. Saya dan bapake duduk sambil ketawa ketiwi menikmati suasana. 

Mandi di Geyser Cisolok

Perjalanan Keluarga Umang ini, tak akan bisa lepas dari perjalanan mencari tempat-tempat yang out of the box. Jadi ingat kenangan saat kami di Bali, secara random kami melakukan perjalanan ke Bali Utara, daerah Singaraja hanya untuk mandi air panas. Begitu juga dengan perjalanan kali ini. Bapake membawa kami ke Pemandian Air Panas namanya Geyser Cisolok di Sukabumi. Beruntung sekali suasana tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Katanya orang-orang pada takut dengan berita longsor Ciletuh dan Banjir Pelabuhan Ratu beberapa hari sebelumnya, sehingga pariwisata di Libur Nataru itu sepi sekali. Memang sih, kami pun merasa sedikit aneh saat melihat sepanjang Pantai Pelabuhan Ratu hingga ke Sawarna pengunjungnya sedikit sekali. 

Malam Tahun Baruan dengan Kembang Api

Ada cerita lucu di malam tahun baru kemarin. Saya dan Bapake K selama ini memang sudah malas merayakan tahun baru, atau ikut keramaian yang merayakan. Sudah beberapa tahun pergantian tahun baru, kami hanya tidur saja. Selama ini, baik-baik saja. K pun juga begitu, tidak melakukan apa-apa saat tahun baru. Tapi, ada yang lain dengan tahun baru ini. 

Mungkin karena ini adalah tahun baru pertama sejak K menggunakan HP, dan berkomunikasi intens dengan teman-temannya. Jadi, saat ada temannya yang berbagi foto atau cerita tahun baruan, dan dia melihat keluarganya berleleran tidur, dia sedih dan menangis. Sekitar jam 10, dia menangis pada Bapake, bilang bahwa sedih karena teman2nya merayakan tahun baru dengan seru, sedangkan kami hanya tidur. Akhirnya kami semua termasuk tante2, sepupu, serta kakek-neneknya bangun semua. Ayahnya pergi membeli kembang api, Om-nya pergi membeli martabak. Untuk membuka mata para orang tua ini, ngemil martabak adalah pilihan yang bagus. Tengah malam, kami menemani K menyalakan kembang api di depan rumah. 

Sampai kembali ke Bogor, saya dan Bapake masih suka ketawa kalau ingat cerita ini. 

Mengawali Tahun Baru 2025 dengan Mandi di Citaman

Hari pertama di Tahun Baru 2025, kami pergi ke Pemandian Umum yang berasal dari Sumber Mata Air Pegunungan, yang tak jauh dari rumah Bapake. Namanya Pemandian Air Citaman. Airnya jernih, dingin, dan udaranya sejuk. Ada 3 kolam besar di Citaman, dengan kedalaman yang berbeda-beda. Banyak warung di sekitaran kolam, yang membuat saya mager untuk nyemplung ke kolam dan memilih untuk ngemil syantiek saja di warung. 

Semoga Tahun 2025 Better semuanya!

Tahun 2024 adalah tahun di mana saya banyak melarikan diri dan menyembunyikan pikiran melalui hobby. Menulis dan Merajut. Banyak pelajaran yang menjadi catatan saya untuk tahun ini. Mudah-mudahan Tuhan Allah SWT memberikan kesehatan untuk saya, keluarga, dan orang-orang terkasih di sekitar saya, memberikan kelancaran untuk semua rencana dan usaha kami semua, serta mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kami semua. Aamiin. 

Friday, January 3, 2025

Sayang Sudah Bayar Domainnya

Sudah masuk Bulan January 2025 saja tahu-tahu ya. Selamat Tahun Baru 2025, teman-teman!

Sumber dari sini

Kemarin saya mendapatkan tagihan dari penyedia domain dari blog ini, untuk memperpanjang masa service nya periode 2025-2026. Ada keragu-raguan dalam hati saya sebetulnya, antara melanjutkan atau tidak. Malam melanjutkan karena entah kenapa saraf kreatif bagian menulis saya rasanya mandeg dan mentok sekali di 2024 kemarin. Jadi kepikiran, "ah, ngapain sih bayar-bayar kalau nggak dipakai?". Tapi di satu sisi, ada juga pikiran, "kok sayang ya kalau nggak dibayar, webnya nggak bisa dibuka lagi, tulisan-tulisan yang receh itu bakalan hilang juga. Meskipun receh, tapi kan mereka itu receh-receh yang saling melengkapi dan menambal sulam luka di hatiku ini." Haiyaaaahhhh.... 

Jadi, ya sudah saya bayar saja. Demi semua perjalanan yang telah terlewati, demi rangkaian titik yang berdempetan membentuk garis kehidupan ini, demi ketiadaan tulisan yang menandakan banyaknya riuh ramai di hati dan pikiran, dan demi niat untuk menjadi lebih baik di masa depan. Demi-kian sehingga alamat blog ini akan tetap ada, kini dan untuk ke depannya. :-)

Selamat datang Tahun 2025, 

Seberapa banyak kisah yang bisa tertoreh di tahun ini, adalah rahasia yang hanya kita dan Tuhan yang tahu. Yang penting Semangadh-nya dulu yekaaan... :-)

Thursday, August 8, 2024

Tidak Hari Ini, Mungkin Besok

Hari ini akhirnya datang... 

Selama ini aku selalu bisa mengatasi rasa resah dan gelisah saat mendengar berita apapun, menyaring dan menyisakan rasa yang "biasa saja". 

Not today. 

Aku rasa, sudah ada akhir dari apa yang terjadi hari ini. Tapi mungkin jangan dibilang dulu atau you're gonna jinx it.

Kenapa kali ini berbeda?

Karena ibaratnya Pohon Durian Berkaki Tiga, hanya tinggal 1 kaki yang mulai keropos, dan dua kaki yang tinggal setengahnya berfungsi. Apa yang bisa diharapkan? Apakah Aku masih bisa berharap bisa panen Durian? Mungkin. 

Di sela kegamangan dan ketidak pastian ini, aku paksa secuil kemungkinan untuk tinggal. Menjadi penenang, penopang, atau mungkin penghalang agar pohon ini tidak tumbang. Selalu ada kemungkinan. Mungkin semua akan baik-baik saja. Mungkin. 

Jika tiba saatnya nanti aku sampai di ujung lorong, aku akan kembali ke sini. Menceritakan bagaimana serunya perjalanan menyusuri lorong gelap lembab penuh tetesan dan rembesan air yang menciptakan lumut lebat. Seru pastinya. 

Seperti seseorang pernah berkata, 'Mereka hanyalah ikan yang berenang di lautan",

Kali ini aku akan berkata, "Ini hanyalah satu cerita yang harus kita tulis agar bisa dibaca pada waktunya". 

Tidak ada Semangadh hari ini, mungkin besok

Tidak ada Rasa Aman hari ini, mungkin besok

Yang tidak ada hari ini, mungkin besok ada


Jayadewata, 8-8-2024

Monday, July 29, 2024

Terima Kasih Sudah Datang

 Hari ini adalah pertambahan umur saya untuk yang ke sekian kali. Orang bilang Ulang Tahun. 

Memang benar sih, kita mengulangi lagi dari tahun ke tahun, rutinitas yang sama. 

Untuk beberapa orang, ada yang mendapatkan kejutan di tengah malam, ada yang mendapatkan telpon, ada yang mendapatkan pesan, ada yang mendapatkan kue, ada yang meniup lilin, ada yang mendapat hadiah, and so on and so forth. 

Alhamdulillah, tahun ini begitupun dengan saya. 

Saya masih selalu merasa sangat-sangat beruntung memiliki dan mendapatkan perhatian yang berlimpah dari berbagai penjuru. Terlebih tentunya dari Anak Wedhok yang sangat berkebalikan dengan Ayah dan Bundanya itu. Anak Wedhok yang selalu menganggap ulang tahun adalah Big Deal! hahaa

Di tengah kesibukan dan kemalasannya menggambar, tahun ini dia kembali membuat saya terharu dengan satu lembar gambar yang belum diwarnainya. Katanya dia terlalu lelah untuk mewarnai, jadi polos saja. Tak apa nduk, polos atau berwarna, gambaranmu tetap menghangatkan hati Bunda. Thank you for always being you, being a thoughtful girl that always make birthday as a big deal, covering your parents part. hahahaha. Untuk urusan birthday, you always have our back, which is great! :-)

Thank you Dear K
Thank you, Dear K!

Mas Bojo in the other hand...

Beliau ada perjalanan ke luar kota, dan harus meninggalkan rumah pukul 2 dinihari. Seperti biasa, beliau tidak ingin membuat saya bangun terlalu dini, sehingga setelah dadah-dadah di pintu dengan setengah melek, saya langsung kembali ke kamar dan tidur. Beliau melesat bersama Satria Baja Hitam Mang Didi yang kalau naik motor selalu Pancal Mubal. 

Sekitar pukul 4 pagi, saya bangun karena bunyi telpon, tetapi juga karena sudah waktunya rutinitas pagi. Rupanya Mas Bojo menelpon dari Bandara Soetta, mengucapkan doanya untuk yang berulang tahun. Kami tertawa karena ternyata beliau lupa. haha 

Untuk semua pesan di ponsel, ucapan, pelukan, dan juga kiriman makanan/minuman dari teman-teman, terima kasih! Semoga kalian selalu dilimpahi kesehatan dan kelancaran serta kemudahan dalam mengarungi hari demi hari di kehidupan ini. Aamiin. 

Kali ini, saya berjuang menyelesaikan hadiah untuk diri saya sendiri. Saat hadiah ini selesai dan saya coba dengan bangga, saya merasa puas sekali. Saya semakin merasa bahagia dan merasa bahwa hidup ini terasa kembali indah, just the way it is... I love myself better! :-)

Happy Birthday, WJ!
This cute top is totally remarkable birthday present,
for you :-p

Satu hal yang ingin saya torehkan sebagai kenangan di sini adalah hal yang terjadi di sepertiga malam dini hari tadi. Di sekitar waktu Mas Bojo berangkat. 

Ibuk datang. 

Saya tahu, mungkin kalian akan bilang "halah, cuma mimpi". Which is true, and doesn't matter. 

Apakah itu mimpi ataukah bukan mimpi, tidak masalah bagi saya. Bisa melihat secara utuh fisik Ibuk adalah hal yang jauh lebih penting untuk saya. Kalau bisa saya gambarkan di sini, situasi yang saya alami saat bertemu Ibuk, seperti ini: 

Saya berada di satu ruangan, sepertinya sedang ada acara karena saya melihat saudara dan kerabat saya juga ada di situ. Saya masuk dan melihat Ibuk duduk di kursi, mengenakan baju coklat lengan panjang dan kerudung putih, seperti yang biasa beliau kenakan sehari-hari. Saya mendekat dan menyalami tangan kanannya. 

Tangan kanannya menyambut uluran tangan saya, dan saya menciumnya. Saya heran, tangannya lembut sekali. Seolah lenyap begitu saja semua kapal dan keringnya tangan Ibuk saat di dunia, yang diakibatkan oleh gagang sabit, cangkul, sapu, dan lainnya. Saya mendongak melihat ke arah muka Ibuk, saya lebih tercengang lagi. Wajah Ibuk terlihat sangat bersih, mulus, dan bersinar. Tak ada lagi kerutan yang diguratkan oleh kejamnya kehidupannya selama ini. Ibuk tersenyum dan tertawa melihat saya dan mempersilahkan orang-orang untuk masuk dengan ramahnya, seperti biasanya. 

Saya yang masih terkagum-kagum dengan raut glowing Ibuk, menarik siapa saja yang lewat di samping saya, dan berkata "Iki jiwiten aku, jiwiten aku iki. Tenan ora iki. Opo ngimpi? Jiwiten iki lho tanganku!

Berkali-kali, berulang kali, dan beberapa saudara yang lewat tertawa sembari mencubiti tangan saya, dan rasanya saya merasakan sakit. Di antara percaya dan tidak percaya, maka saya memilih percaya. Ibuk datang menemui saya. Akhirnya saya menggunakan waktu itu untuk bercerita seperti biasa. Bercengkerama sebagaimana kami selalu melakukannya saat beliau masih ada di dunia. 

Sampai akhirnya Ibuk tiduran di kasur, saya mendekatkan kepala saya ke kepala beliau, menatap dekat matanya, dan berkata "Buk, maaf yang buk kalau aku belum bisa nyenengin Ibuk, belum bisa bikin bangga Ibuk..." 

Ibuk hanya menatap saya, tersenyum, dan beberapa butir air mata menetes di pipinya. Beliau mengusap kepala saya. 

Seperti itu saja, dan saya kembali ke dunia nyata dengan perasaan berbeda. Seperti ada yang mengangkat tas yang selama ini tidak meninggalkan punggung saya. Saya merasa bahagia, hati saya penuh dan hangat. Saya bahagia melihat Ibuk yang tertawa dengan kulit yang glowing. Ibuk, Ibuk cantik sekali. 

Sorenya, setelah saya selesai dengan urusan pekerjaan dan antar jemput K, setelah rebahan di kursi seperti biasa, saya mengirimkan pesan pada Mas Aris, kakak saya. Saya bertanya padanya apakah Ibuk pernah mengunjunginya, ternyata belum. Saat mendengar cerita saya, Mas Aris, sekarang sih saya lebih sering memanggilnya Pakde Aris, bilang, "Aku iri. Padahal aku yang pengen ketemu Ibuk". Sabar ya Pakde, akan ada waktumu nanti didatengi Ibuk. 

Pakde Aris bilang, katanya jika hal seperti itu terjadi di antara pukul 00.00-03.00 dini hari, mungkin bukan sekedar mimpi. Mungkin Ibuk ingin menunjukkan bahwa beliau memang sudah baik-baik di tempat terbaik. Wallahualam. 

Ibuk, terima kasih sudah datang. Alfatihah untukmu, Ibuk!

Ternyata benar, aku rindu. 


Bogor, 29 Juli 2024

#Ibuk

#FamilyVisit

#BirthdayPresent

#Selflove

#SoLongIbuk

Tuesday, July 16, 2024

Hanya Untuk Bilang Hi!

 Iya, kali ini aku datang hanya untuk bilang Hi!

Dunia nyata sedang sibuk, tak ada bandwith untuk menengok dunia maya. Bahkan untuk bilang Hi! saja, rasanya perlu beberapa kali helaan nafas panjang. 

Hi!

Hope you okay.

Sometimes I am not, 

But it's okay.

Like the drakor say, 

It's okay not to be okay.

So, 

For now...

Hi!

Thursday, March 21, 2024

She Got 100 Point from Me

Sepulang sekolah, seperti biasa K sibuk mengeluarkan kertas-kertas hasil ulangan yang dibagikan. Saat melihat nilai Pelajaran Agama, ternyata turun cukup banyak dari nilai sebelum-sebelumnya. 

Saya: "Wah, tumben ini nilai agama segini? Biasanya kamu di atas 90 bukan?" 
K: "Itu bukan 80 lho bunda, tapi 76 yang betul." Dia melihat kertas yang saya pegang dan melanjutkan, "oh iya, yang itu yang betul."
Saya: "Kenapa, susah ya soalnya? Kurang ya belajarnya?" 
K: "Nggak tau deh... Tadi yang itu aku dibetulin. Terus paa lihat punya Div, dia jawabannya sama tapi disalahin. Jadi aku bilang Pak Andre."
Saya: "Ooo... Kamu bilang apa?"
K: "Ya aku bilang - Pak, ini saya harusnya salah. Tapi ini belum di salahin - terus Pak Andre bilang - Terima kasih ya atas kejujurannya- gitu." 

Saya letakkan kertas jawaban dan saya peluk K dengan erat. 
Saya: "Great. Kamu dapet nilai 100 dari Bunda. That is the most important above everything. The honesty. Keep it up, ok?" 

Sekian. 

Tuesday, March 7, 2023

Mengenang Ibuk Melalui Siniar SMK - Kematian

Memasuki Bulan Februry - Maret, selalu membawa suasana sendu bagi saya. Karena bulan-bulan ini di tahun 2019 lalu adalah keadaan yang sangat tidak bisa dilupakan. Saat kami harus kehilangan Ibuk untuk selama-lamanya. 

Luka yang menganga akibat kehilangan beliau, belum juga kering sempurna hingga saat ini. Masih banyak ganjalan-ganjalan yang mengganggu nafasku terkadang. Namun hidup terus berjalan bagi yang ditinggalkan. Jadi, ya jalani saja... 

Bersyukur saya pernah mengabadikan semua perasaan ke dalam cerita ini. Podcast SMK memberi wadah bagi saya menyimpan kenangan pada Ibuk. 

Barangkali ada yang ingin menyimak, monggo di sini ya...

Podcast Kematian - by Wilis J

Makasih!

Tuesday, February 28, 2023

Siniar SMK - Dusun Fiksi Febuari 2023

 Sekedar ingin berbagi di sini, barangkali ada yang ingin mendengarkan suara merdu sumbang saya di Siniar SMK yang legendary itu. hahahaa

Bulan Febuari 2023 adalah giliran Dusun Fiksi dari Komunitas Semut Merah Kaizen yang unjuk gigi dalam tantangan paling spektakulernya Tim Siniar SMK #365HariBersuara. 

Dan seperti biasa mbak sis ini juga nggak mau ketinggalan, ikut mendaftar buat numpang nampang yekaaan. 

Karya terbaru saya yang terbit bersama dengan team Antologi Sastra Anak, judulnya Rapundress, ikut mejeng di Siniar SMK. Lumayan lah pokoknya. 

Kalau ada yang berminat mendengarkan, atau ketinggalan pas waktu tayangnya bulan ini, bisa di simak di sini yaaa...

Rapundress by Wilis J

Makasih!


Tuesday, February 14, 2023

Saat Anak 9 tahun Valentin-an

Hello February!


Kata orang, Febuari adalah bulan penuh cinta, serba pink-pink, serba manis semanis coklat. Banyak di antara kita yang ikut merayakan Hari Valentine dengan berbagai cara, sesuai dengan kesenangannya masing-masing. 

Saya sendiri, tidak merayakan Valentine, dan tidak ikut memakai baju pink atau memberi/menerima coklat. Bukan karena anti, lebih karena nggak punya waktu dan nggak punya duit buat dialokasikan ke sana. hahahahaa. 

Tetapi saya selalu ikut berbahagia menikmati keriuh-ramaian Bulan Februari. Senang melihat di minimarket banyak dipajang coklat dengan tema Valentine, melihat orang membeli coklat-coklat itu, dan melihat orang mendapatkan buket-buket cantik dari kesayangan masing-masing. Dan yang paling seru menurut saya dan suami adalah saat melihat di pinggir-pinggir jalan, anak-anak sekolah (terutama laki-laki), membawa setangkai mawar merah. Saya dan suami sering tertawa karena menskenariokan bagaimana mereka akan memberikan setangkai bunga itu pada orang yang mereka sayangi. Mungkin Ibu, mungkin juga kekasih hati. Menghangatkan hati bukan? 

Tahun ini, selain dari cerita-cerita yang berulang dari tahun ke tahun di atas, saya ketambahan cerita yang 'close to home' banget. Siapa lagi kalau bukan gendhuk cah ayu adol gendruk ra payu semata wayang yang sedang berusia 9 tahun itu. Tahu kan siapa?

Tahun ini K melewati Hari Valentine di kelas 3. Sekitar 2 minggu yang lalu, di tengah obrolan random kami, dia tiba-tiba berkata:

K: "Bunda, Hari Valentine itu kapan ya?" tanyanya.

Saya: "14 Febuary. Pas ulang tahunnya Tante Lucy," kata saya.

K: "Oh, okay." Saya curiga dengan tanggapan pendeknya, karena seringnya mengandung perkataan yang tidak diucapkan. 

Saya: "Kenapa?" saya penasaran yekan.

K: "I think I'm gonna confess my feelings," jawabannya yang diucapkan dengan kalimat lempeng tanpa ekspresi tambahan, membuat saya hampir menanggapi dengan lebay. Tapi saya tahan.

Saya: "Wow. To who?" Dalam hati saya sudah terngakak-ngakak, tapi berusaha memasang tampang lempeng juga.

K: "I am not gonna tell you. Nanti Bunda kebanyakan tanya-tanya kalau aku bilangin." Serius, dia bilang begini juga dengan ekspresi yang sangat lempeng. 

Saya: "Bukannya kita janji untuk selalu berbagi cerita apapun itu?" pancing saya masih penasaran.

K: "Soalnya nanti Bunda itu jadinya nanya terus kalau aku bilangin. Tapi nggak papa sih sebenernya. Aku tuh punya banyak temen cowok. Kalau Bunda tahu yang satu, aku tinggal ganti aja." Di sini saya tak lagi bisa memasang tampang lempeng. Jadi saya tertawa ngakak beneran.

Saya: "Okay. Go for it, K!" hanya itu yang bisa saya katakan, sebagai ikhtiar menjadi Ibu yang Cool. 

Untuk sejenak saya tidak menanyai K lagi tentang obrolan kami saat itu. Saya berlagak itu hanya obrolan biasa yang tidak terlalu membuat saya kepo. Walaupun sebetulnya saya sudah muncrat-muncrat ke ayahnya, dan juga ke beberapa teman. Saya butuh teman untuk mentertawai kepolosan anak-anak kecil jaman now ini. 

Minggu lalu, saat kami sedang berkendara di atas motor, secara iseng saya tanyai K:

Saya: "So, K about the boy that you want to confess to. Is he from school, or from the course?" 

K: "School." 

Saya: "Okay." Sependek itu pertanyaan dan jawaban emak dan anak ini. 

Beberapa hari kemudian, saya bertanya lagi saat kami bersiap tidur:

Saya: "Mbak, is there any plan for Valentine? Related to your mission to confess your feelings?" 

K: "I think it'll be coklat, candy, notes, and talk." Fineeeee... Banyak ya siiiiissss... hahahaha

2 hari kemarin, K minta diantarkan ke minimarket di depan komplek untuk membeli coklat. Saya diam tidak bertanya karena sudah tahu rencananya dengan Valentine's day. Dia membeli coklat yang berisi 2 dalam 1 kemasan. Saat di rumah, baru saya tanya:

Saya: "K, kamu mau kasih 2 ke temen kamu?" 

K: "Enggak, 1 aja." 

Saya: "Oh, yang 1 buat ayah atau bunda ya?" 

K: "Enggak donk, buat aku. Kan aku suka coklat." Saya dan ayahnya hanya berpandangan sambil mesam-mesem. Memang K adalah pelahap coklat, jadi walaupun pesona Hari Valentine cukup membuatnya tergerak memberi temannya, tetapi tidak tergerak berbagi dengan Ayah atau Bundanya. Efffaaaiiiineee mbaaak :-p

Hari ini, pulang sekolah K menceritakan bahwa teman-temannya juga berbagi coklat kepada teman lain dan juga gurunya. Saat saya tanya kenapa dia tidak memberi gurunya coklat, dia menjawab bahwa dia tidak terpikirkan. Sepertinya pikirannya hanya kepada temannya yang ingin dia beri coklat saja. Menurut cerita K, proses dia memberi coklat tidak berjalan selancar rencananya, karena akhirnya hanya coklat saja yang dia berikan, tanpa permen, tanpa ucapan ataupun notes seperti yang sudah dia bayangkan. Sepertinya dia grogi, karena katanya teman-temannya sempat menyorakinya. That's the fun part, mbak! :-p

Untuk beberapa orang, mungkin mendukung anaknya untuk memaknai Hari Valentine, dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Bagi saya dan juga suami, rasanya perlu. Bukan untuk membuat anak meyakini hal-hal diluar ajaran agama kita, melainkan agar mereka tumbuh organik dalam merespon hal yang terjadi dilingkungannya. Saya tidak mengenalkan dia tentang Hari Valentine, dia mengenalnya melalui teman-teman dan iklan yang dia temui di berbagai tempat. Saat dia bertanya mengenai Valentine, saya jelaskan bagaimana tradisi Valentine masuk ke dalam kehidupan kita. 

Saya dan suami menggunakan lirik lagu 'The Night" nya Avicii sebagai gambaran kehidupan, mencangkoknya untuk kami mengenalkan dunia nyata pada anak kami. Bagian favorit kami adalah: 

"He said, - One day, you'll leave this world behind... So live a life you will remember..."

Mbak K, live your life!

Love, 

Bunda & Ayah

Friday, January 6, 2023

The Things You Can See Only When You Slow Down

Kali ini saya ingin menceritakan betapa senangnya saya saat melihat kalender masih menunjukkan angka 6. Artinya, Bulan Januari 2023 belum habis separuh, dan saya sudah masuk ke Buku Ke-2 saya. Ini di luar buku cerita yang saya bacakan untuk K tentunya ya. Yuhuuu... Coba setiap bulan bisa istikomah begini, pasti rekor tahunan membaca saya bisa semakin baik. Bismillah aja dulu yekan... :-p

Buku yang kedua ini adalah buku dari Haemin Sunim yang judulnya The Things You Can See Only When You Slow Down. 



Buku ini sudah ada di wishlist bacaan saya di Google Playbook dari lama sekali. Namun, baru akhir tahun kemarin saya beli. Karena ada diskon besar-besaran pastinya. ahhahaa. Monmaklum ya emak-emak banyak nganunya ini memamng nganu lah pokoknya. 

Buku ini sebetulnya adalah kumpulan tulisan-tulisan pendek yang Haemin Sunim tulis di media sosialnya. Karena banyak yang suka, akhirnya dibukukan. Setelah membaca beberapa halaman, saya jatuh cinta. Tidak hanya pada tulisannya yang ringan, penuh isi, dan penuh ajaran bagus, tetapi saya juga jatuh cinta pada gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalamnya. 



Gambar-gambar nya sederhana, menenangkan, penuh makna, tapi masih tetap menghibur menurut saya. Satu aura dengan tulisannya. Memberikan rasa nyaman. Konon pembuat ilustrasinya adalah Younacheol Lee. Kapan-kapan saya mau kepoin juga beliau. Siapa tahu lebih banyak lagi gambar-gambar ciamiknya. 

Oh iya, kenapa sih saya bisa mendarat di buku ini, hingga akhirnya suka sekali? 

Jadi, beberapa tahun terakhir ini saya memang merasa betapa waktu berlalu sangat cepat. Cepat sekali malahan. Sehingga saya sering sekali keteteran menuntaskan tanggung jawab atau target-target saya. Pada akhirnya, saya akan selalu merasa "haduh, belum sempet ini itu udah akhir tahun lagi", dan sebagainya. Saya paham betul bahwa waktu kita didunia itu sama saja 24 jam dalam 1 hari. Yang tidak sama adalah kegiatan yang kita lakukan, kecepatan badan kita menjalankan, serta kecepatan pikiran kita merencanakan. dan memikirkan. 

Saat waktu berlalu begitu cepat, saya mengerti bahwa semua itu terjadi karena aktifitas saya yang banyak melakukan kegiatan rutin dan perpindahan ke banyak tempat dalam satu hari. Sehingga tak terasa hari sudah petang atau malam saat saya mengistirahatkan badan di rumah. Keesokan harinya, semua berulang, lagi, dan terus-terusan. 

Saya banyak membaca artikel dan mencari tahu bagaimana cara agar kita tidak terlalu termakan oleh rutinitas harian ini. Setidaknya, meskipun kegiatannya banyak berpindah-pindah, tetapi hati dan pikiran kita tidak menjadi lelah ataupun merasa kehilangan waktu. 

Saat mencari itulah saya mendarat di buku ini. Menurut banyak artikel yang saya baca, buku ini layak dibaca saat kita merasa terlalu sibuk. Buku ini diyakini dapat membantu kita lebih rileks dan membumi. Nanti saya bagikan lebih lanjut mengenai isinya ya. Sekarang lebih kepada latarbelakang kenapa saya membaca buki ini dulu saja. :-)

Meskipun anak saya bilang kalau saya tetap biasa saja walaupun senang membaca buku, bukan berarti saya harus berhenti membaca buku kan.  hahaha. Jadi yuks kita mulai lagi baca-baca buku. Lumayan buat mengisi waktu, kalau sedang jenuh dengan drakor ^_^



Saturday, December 31, 2022

Last Day of The Year 2022

Fffiiiuuuhhh... Hari terakhir di Tahun 2022 gaesss... 

Tidak terasa ya waktu di Tahun 2022 ini terasa sangat cepat berlalu. Kalau teman saya bilang, 2022 ini pak pik puk banget. Kalau saya bilang, 2022 ini waktu saya terlalu lahap dimakan oleh rutinitas. Sehingga seolah hari berganti hanya dalam kedipan mata. 

Kali ini saya belum ingin berbagi mengenai resolusi apa yang sukses dicapai di Tahun 2022, atau harapan untuk 2023, atau list-list yang lain yang biasanya saya buat sebelum tahun berganti. Nanti saya buat postingan sendiri untuk itu. 

Saya hanya ingin mengunggah beberapa kegiatan yang kami jalani menuju penghujung tahun ini saja dulu ya. Tidak banyak, tetapi cukup membuat segar semangat menyambut tahun berganti. 

Diantaranya adalah: 

1. Movie days. Maklum ya, setelah kembali dari Banten, kami praktis tidak kemana-mana. Di sekitar rumah saja. Saya jadi memindahkan bibit cabai dan kenari Maluku saya ke polibag, serta mengerjakan dollhouse nya K. Walaupun Dollhouse nya belum selesai sempurna, tetapi sudah bisa digunakan. Lumayan. 

Selebihnya, kami bertiga bermarathon menonton acara TV. Bergantian acara favorit kami bertiga, kadang rebutan karena tidak mau mengalah (ini sih K sama bapaknya aja). :-)

2. Saya memenuhi janji saya untuk membelikan K komik Saint Seiya yang belakangan ini sedang Ia gandrungi. Setelah komiknya tiba, dia senang sekali. Selain dari komiknya, ada juga 3 buku Enid blyton hasil jastipan BBW saya juga datang. Ahhhh senangnya. 2023 reading activity should be better than 2022 yesss mbak :-)

3. Drakor & diamond Painting. Seperti emak-emak jaman now, Drakor tetap nomer sathuuuu yekaaan. Di akhir tahun ini saya nonton School 2013, karena ada Kim Wo Bin. Hahahahha

Nah, sambil nonton drakor, seperti biasa tangan saya tidak bisa diam. Mulai dari main game, merajut, hingga akhirnya ingat kalau masih punya 1 diamond painting dari Mr. D*Y tahun kemarin yang belum di kerjakan. Saya kerjakan hingga selesai. Aseeekkk... 

Yuks siapa yang mau adopsi karya mini dan sederhana ini. Gratissss... Beli frame sendiri tapi ya 30x30 cm. :-)

Friday, December 30, 2022

The Culture of Looking Perfect

Sebelum mulai menuliskan apa yang ingin saya tuliskan, saya perlu menggaris bawahi beberapa hal. Yang pertama adalah, saya menulis ini tidak karena perasaan saya terhadap sikap orang lain pada saya. Yang kedua, saya menulis ini bukan berarti saya tidak suka terhadap kebiasaan/orang yang melakukan hal-hal terkait. Dan yang ketiga, saya menulis ini hanya karena saat ini saya sedang membaca buku "Raising A Screen-Smart Kid" - nya Julianna Miner. Dan kebetulan ada beberapa bab yang membuat saya ingin menulis di sini. Beberapa hal yang tidak saya unggah di sini, saya simpan di catatan agar suatu saat saya perlu, mudah mencarinya. Begitu yaaa :-)

Membaca buku ini sekarang-sekarang (tanggal 30 Desember 2022), memiliki cerita tersendiri. Rasanya otak saya tidak cepat memuat informasi, banyak godaan untuk tidak melanjutkan, terlebih lagi karena K tiba-tiba demam seharian. Namun, rasa penasaran tetap menyeret saya tertatih untuk maju. Bhaiquelaaah... 

Nah, bagian yang ingin saya bagi kali ini adalah bagian yang ada di tangkapan layar di bawah ini:

Tidak bisa di pungkiri, saat kita berfoto baik sendiri maupun bersama teman, hal pertama yang kita lakukan setelah selesai adalah mereview foto yang diambil. Sayapun demikian. Beberapa pertanyaan bisa jadi kemudian mengikuti, seperti: 
- Bagaimana hasilnya? Bagus nggak?
- Bagaimana penampakanku? 
- Aku kelihatan gendut nggak? 
- Apakah perutku kelihatan besar? 
- Apakah mataku merem?
- Apakah aku kelihatan pendek? 
- Aku keliatan masih muda kan? 

And the list go on and go on....

Semua itu wajar kok saudara-saudara, bahkan banyak penelitian dan juga buku/jurnalnya. :-)

Untuk saya sendiri, seringkali pertanyaan berhenti di pertanyaan pertama saja. Gimana? Bagus? Namun kadang saat teman-teman mulai membahas pertanyaan yang lain, saya ikut menyimak sambil senyum-senyum. Kadang saya juga bilang "eh buset, gw gendut banget ya". Tapi, bukan berarti saya tidak rela atau bahkan menolak kenyataan hingga ingin fotonya di delete saja. Saya juga tidak pernah mempermasalahkan orang mau upload foto (yang ada sayanya) manapun dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu saya sempat merasa geli ketika suatu waktu berfoto bersama dengan teman, setelah beberapa kali take foto, teman saya bilang "gw tutupin perut lo pake ini ya" katanya. 

Saya tertawa dan bilang "santai aja, gw nggak masalah kok perut keliatan gendut..." Namun, mungkin untuk beberapa orang, ada perut menonjol itu membuat pemandangan kurang nyaman. Which is normal juga. Seperti itu. 

Hubungan dengan buku ini, saya sedikit concern mengenai Culture Of Looking Perfect ini, sebetulnya lebih ke anak saya nantinya. Saat nanti dia mengenal media sosial, bukan tidak mungkin diapun akan mengalami hal yang sama. Fokus pada penampakan, untuk diperlihatkan kepada khalayak online. Tidak apa-apa sih. Hanya saja kalau bisa, saya ingin membuatnya sedikit kurang fokus pada hal tersebut. Mungkin saja nanti ada teman-temannya yang kemudian minder atau tidak nyaman hanya karena hal yang kurang prinsipil? Kan sayang sekali. Tapi ya nanti semua itu kembali pada diri K sih. Saya hanya bisa berharap sambil sedikit banyak membisikkan mantra-mantra padanya, berharap bisa mujarab pada masanya. Aamiin :-)

Saya tidak antipati pada media sosial. Hanya saja, karena alasan tahu diri sendiri - yang sering kehilangan kendali kalau sudah mulai memainkan jari ke atas ke bawah melihat-lihat keseruan dunia maya -, saya memilih untuk sangat membatasi penggunaannya. Saya tidak meng-install media sosial di ponsel saya, kecuali saat saya mengikuti acara-acara tertentu, atau saat saya ingin membagikan karya tulisan saya. Saya juga sangat jarang sekali masuk ke media sosial melalui browser laptop/ponsel, hanya jika perlu melakukan sesuatu yang mendesak saja. 

Satu kutipan dari tulisan di atas yang sangat seirama dengan prinsis saya dalam ber-media sosial adalah "What you choose to share about yourself on your social media feeds, says a lot about what matters to you." 

Suatu saat, mungkin itu juga yang akan saya tanamkan pada anak saya, jika waktunya tiba. :-)

Selamat menyambut Tahun Baru 2023, temans!!! 

Tuesday, December 27, 2022

To The Most West of West Java

Karena liburan Natal & Tahun Baru kali ini kami tidak membuat rencana ke mana-mana, maka saya nurut saja saat Mas Bojo mengajak pulang ke Banten. Akhirnya, sekalian saja kami main ke lahannya temen kantor yang letaknya berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon. 

Berada di pelosok Ujung Kulon, tidak menjadi masalah saat kami pergi bersama dengan keluarga Banten. Adek ipar dan istrinya adalah guru sekolah negri, begitu pula tante-tante dari suami yang juga pengawas sekolah. Mereka punya banyak rekanan di kawasan itu. Belum lagi mantan anak2 asuh mertua yang dulu belajar di pondok pesantren di dekat rumah dan menjadi langganan nasi uduknya. Masih terasa dekat hingga saat ini. 

Dan akhirnya hari ini kami sampai ke Taman Jaya. Cuaca sedang tidak mendukung untuk camping ataupun menyeberang ke Pulau Peucang, sehingga kami hanya berniat untuk pulang hari saja. 

Setelah silaturahmi ke rumah teman adek ipar dan juga kerabat mertua, kami melipir ke lahan nya Mbak G yang terletak di pinggir pantai. Asik sekali lokasinya. Kami bersantai bakar2 ikan asin yang diberi oleh kerabat mertua, dan makan bersama bekal dari rumah. 

Oh iya, tadi kami melihat ada banyak ibu-ibu dan anak kecil berkumpul di pantai di kejauhan. Saya penasaran akhirnya berjalan mendekati mereka diikuti Mas Bojo dan K. Rupanya mereka sedang mengumpulkan haremis atau kerang kecil-kecil gitu. Saya dan K ikut mengorek-ngorek, rupanya tak mudah. Pengalaman yang menyenangkan ya K!

Lalu kami bersilaturahmi dengan teman Mbak G yang mengelola lahannya selama ini. Kapan2 kami akan kembali dan camping di situ. 

Jalanan menuju Taman Jaya ini mantab sekali. Mengingatkan saya saat masih di Kampung di Lereng Merapi. Berlubang dengan air banjir ke jalanan. Seru deh... 

Pulangnya kami mampir di Baso Ikan Sumur, langganan setiap ke daerah sana. K sampai nambah. Hahaha

Monday, December 26, 2022

Namiko 2022 Concert Performance

Hari Sabtu, 17 Desember 2022. Adalah hari yang sibuk untuk saya. Diantara nganu dan nganu, ina dan inu, ita dan itu, ada Performance Namiko Tahun 2022. Seperti biasa, di Botani Square Mall.

Saya fokus untuk menceritakan acara performance K saja ya...

Seperti biasa, sebagai acara tahunan dari tempat les Gambar Manga dan Piano Kiran, kembali Kiran tampil di Botani Square. Karena alasan ina dan inu, saya minta agar K tampil pertama di sessi nya, dan dikabulkan. Resikonya, penontonnya belum banyak sehingga dia merasa yang tepuk tangan untuknya hanya sedikit sekali. Sedih dia. Hehehe

Karena K ikut les gambar dan piano, maka ada gambar yang dipajang di layar, dan juga penampilan piano bersama Kak Hansen. Seperti biasa. Kali ini K memainkan lagu ABC Song. Lancar kok, alhamdulillah. 

Udah itu aja ya, saya unggah video dan fotonya saja untuk mewakili... :-) 

It's about Comparison of Teacher, Ayah, & Bunda Raging

Cuacanya benar-benar mendukung kegiatan meditasi pant*t ya, alias mager. Kalau magernya sendirian, biasanya paling enak kalau main game atau nonton drakor yekaaan... 

Nah, kalau magernya bareng sama anak wedhok, saya yuh nggak bisa mingkem. Penasaran sama banyak hal sampai kadang membuat dia erosi jiwa dan bilang "udah deh bunda. Stop asking me question!" Hahahaha. Ya BundaPiaraAkanDaku ini kan suka kepo mbak sis... Maklumi ya. :-p

Saya mau sharing hasil mager bersama anak wedhok yang terbaru boleh yaaa. Sayang kalau hilang atau lupa. (karepmu) 😅

Saya: "K, kenapa anak-anak itu, lebih takut sama guru dibandingkan ayah atau bundanya?" 
Nak Wedhok: "Karena kalau teacher' raging (guru murka) itu kayak bisa sampai ke surga gitu. Kalau Ayah's raging kayak sampai tempat paling tinggi pesawat jet terbang. Nah, kalau Bunda's raging itu kayak sampai di atas pohon gitu lah... "  (Setelah itu K buru-buru bilang, "tapi Bunda don't get the idea to rage higher to the heaven ya

Mungkin kesimpulannya adalah, guru sangat jarang murka tetapi kalau sampai murka bisa mengerikan. Ayah kalau murka sesekali aja, tapi serem juga. Bunda keseringan murka, jadi ya biasa aja. Bhaiquelaaahhh... 

Pertanyaan saya yang kedua kepadanya,
Saya: "Sekarang pertanyaannya ini. Menurut kamu sebagai anak, kenapa anak cenderung membantah perintah orang tua tetapi menurut sama perintah gurunya. 
Nak Wedhok: Karena, kalau dirumah tuh kita kan punya feeling that we will long life together kan. Jadi kita masih bisa do it later. Kalau di sekolah itu kan cuma sebentar, on that certain period. Jadi ya kita harus do, can not wait.
Saya: "Jadi, menurut kamu apa yang orang tua harus lakukan untuk mengatasi itu? Maunya kalian anak-anak tuh gimana biar kalian bisa lebih nurut sama orang tua?" 
Nak wedhok: "Orang tua itu harus kasih time period. Like you can say -10 menit lagi ya- gitu." 
Saya: "Iya juga ya..." 

Hahahha. Begitulah mager berfaedah kami berdua. Semoga bisa bermanfaat, buat saya tentunya. :-)

#CelotehAnak