Friday, August 15, 2025

It's Just a Thing

Pernah dengar nggak anak-anak kecil yang sudah sangat paham merek, brand, barang mahal, dll gitu? Bahkan dulu sewaktu K masih TK, pernah juga ada issue di kelasnya mengenaik sebuah brand. Ceritanya begini: 

Ibu dari Temennya K (Sebut saja MF): "Momies, apakah di kelas anak-anak benar ada geng yang hanya berteman dengan anak-anak yang pakai sepatu merek S*******s?"

Mama lain langsung penasaran: "Gimana maksudnya mam?" 

MF: "Iya, ini tadi anak saya cerita ke neneknya kalau dia mau dibeliin sepatu merek S, karena kalau nggak pake sepatu itu, nggak diajak main sama temen-temennya. Kalau iya, rasanya blablabla...." Panjang lah pokoknya, aku lupa tepatnya.  

MM: "Barusan saya tanya anak saya, katanya nggak main geng kok mam. Cuma yang pake sepatu samaan, terus bilang kita samaan ya... Gitu aja." 

Saat duduk santai dengan suami, saya ceritakan kejadian itu.  

Saya: "Menurut kamu, gimana kejadiannya itu?" 

Suami: "Paling juga bercandaan." kata beliau singkat.

Saya" "Kalau menurut penerawanganku ya, begini kejadiannya. Anak-anak itu lagi main. Terus beberapa anak udah tahu merek, terus bilang "eh kita sama ya sepatunya. Eh kamu juga sama. Eh si itu juga. Kita tim S! terus ada F datang, pengen ikut main, anak lain bilang "Kamu kok sepatunya nggak S? nggak samaan kita." gitu kali ya. Bukan karena main geng." 

Suami: Iya paling juga gitu. 

Jaman itu, memang sepatu S itu belum seperti sekarang yang menjamur dan mbladrah di mana-mana. 

Lalu ada lagi beberapa waktu (kayaknya setiap ajaran baru dink ya?) lalu, di linimasa terjadi kehebohan tentang tas merek S*****e yang ditulisi nama oleh gurunya. Sontak saja para netijen +62 bersabda macam-macam. Yang menarik diantara perdebatan itu adalah masalah terselip debat mengenai Barang Ori dan Barang KW. Yang berpegang pada Ori, ya udah tahu lah pasti karena uangnya ada. Tapi yang berpegang pada Barang KW, saya kurang sependapat dengan alasannya. Katanya "ya diukur dengan kemampuan donk. Kalau uangnya belum cukup beli yang Ori, ya nggak papa beli KW. Daripada Ori tapi ngutang atau nyicil." Lah buuuukkk... Kalau menurut saya sih mending Ori tapi nyicil daripada KW. hehee

*** 

Dari dua fenominil kecil itu, saya mencoba untuk menerapkan pada K, bahwa barang itu hanyalah barang. It's just a thing. Nggak peduli mahal atau murah, yang penting fungsinya. Tapiiiii, kita tidak boleh beli yang KW. Daripada beli yang KW, lebih baik kita pakai merek lokal saja, harganya terjangkau, kualitas juga tidak semua jelek. 

Untuk K, saya juga belikan beberapa barang yang suka bikin netijen bersabda itu, tapiiiii ada syaratnya. Seperti: 1) Sedang ada alokasi uangnya (baik cash maupun kredit, tidak masalah. Yang penting budgetnya ada); 2) Sedang ada tante2 kesayangan yang beredar di tempat barang2 itu diproduksi, sehingga bisa dapet a) barang lebih murah, atau b) barang yang unik dan tidak dijual di dalam negri. Nah, kalau kedua syarat itu terpenuhi, ya boleh saja beli barang rada mahal. Karena tidak bisa dipungkiri, barang yang lumayan mahal itu, memang lebih kuat juga sih bahannya. Asal digunakan sewajarnya (Catatan ini akan menjadi penting di cerita saya nanti). 

K punya sendal C****s ori, hadiah dia puasa penuh tahun lalu. Hasil negosiasi kita, boleh beli barang yang lebih mahal daripada biasanya, asal dengan kerja keras kamu sendiri. Seperti sendal ini, kamu boleh beli, asal dengan uang tabungan kamu sendiri, atau hadiah yang kamu relakan untuk beli. Deal. 

Tapi, K punya sepatu sekolah 120ribuan, beli di toko teman. Ketika teman saya posting di WA status jualannya, saya perlihatkan kepada K. Ternyata dia tertarik sekali dengan sepatunya, untuk sepatu sekolah dan sepatu main, hitam dan biru. Dia tidak masalah meskipun sepatu itu tidak bermerek, dan murah meriah. Deal! Komentarnya cuma satu "Untung logonya bukan logo N**e ya bunda, hampir mirip tapi beda. Jadi kan bukan KW nya N**e" hahahahahaa. Benaaarrrr... :-p

***

Yang tadi adalah cerita indah mengenai bagaimana anak itu sebetulnya nggak terlalu peduli dengan barang bermerek, asal kita juga nggak menanamkan bibitnya, apalagi merawatnya hari ke hari. 

Sekarang, adalah cerita bagian pahitnya. 

Masih ingat kan tadi di awal saya bilang ke K bahwa "Thing is just a thing" jadi nggak perlu sweat on a thing. Gitulah pokoknya. Ternyata, ajaran ini menjadi bumerang (nggak buruk-buruk juga sih) buat saya. 

Begini ceritanya: 

Cerita pertama: 

Adalah tentang sebuah tumbler termos keluaran dari merek yang bikin tantrum netijen setiap tahun ajaran baru itu. Kala itu, Tante Salmul kesayangan jalan-jalan ke Australia. Jadi mamak ini tergelitik juga untuk cek cek web nganu itu. Eeeeh, ndilalah ada 1 set backpack, tumbler termos, tempat pensil, dan lunch bag yang harganya jauuuuuhhhh di bawah harga di sini. Nggak sampe separonya gitu lah kalau dijomlah-jamleh. Dan temanya juga belom pernah lihat di sini (mungkin karena saya nggak main ke jakarta juga hahaha). 

Di hari pertama K sekolah setelah naik kelas, dia dengan bahagianya berangkat dengan semua yang baru-baru itu. Namanya bocil ya, kalau sekolah di hari pertama, pakai barang-barang baru hasil back to school shopping tuh, rasanya lebih PD gitu jalannya. hahahaha. Emaknya cuma berdoa, "semoga di kelas baru, ketemu teman-teman yang baik, dapet guru yang baik, dan sekolahnya lancar. Aamiin". 

Udah kan ya, kita menjalani hari sesuai fungsinya, hingga tiba waktunya menjemput si anak wedhok ke sekolah. Begitu dia melihat emaknya dari kejauhan, sambil tertawa-tawa dia mendekati emaknya dan berkata, "Bunda, jangan marah ya. Tumblernya tadi di lapangan kan aku tarok di pinggir. Kena bola basket yang dilempar teman. Terus pecah kepalanya.," Ngeeeekkkkkkk... 

Saya melihat-lihat kepala tumbler yang pecah dan nampak tak bakal bisa ditolong itu dengan kepala wesewesewesewedsdsfesfngeroi tmjeribnre. Lalu suara pelan K membuat saya kembali ke dunia nyata, "Kan kata bunda, it's just a thing. Jadi nggak papa kalau rusak nggak sengaja kan?" hahahaha. Baeklaaaahhhhh. "Iya, it's just a thing. Nggak jodoh aja kamu sama tumblernya, sehari aja nggak sampe kalian bersama." Dan kami tertawa2 sambil naik motor. K tidak tahu bahwa hati emaknya ini tertawa sembari menangis. :-p

Cerita yang kedua: 

Masih seputar botol minum juga ini. Botol minum yang dia beli untuk menghadiahi dirinya sendiri saat naik ke kelas 6. Botol montok bulet ginuk-ginuk yang saya juga naksir itu. hahhaa. Masih rada better sih ini, karena bukan hari pertama, tapi mungkin sekitar 1 minggulah. 

Pulang sekolah, saat saya jemput K di sekolah, dia laporan lagi, "Bunda, jangan marah ya. Tadi aku tarok botol minumku di meja kan. Tapi kayaknya terlalu pinggir. Terus J lewat, nggak sengaja botolnya kena J terus jatoh. Tapi kan it's just a thing, dan J nggak sengaja. Dia juga sudah minta maaf. Jadi nggak papa ya bunda." Lalu dia menunjukkan pada saya, salah satu bagian pantat botolnya penyok. Hahahaha. Hadeuuuuhhhhlah. Emak cuma bilang, "Ya udah, it's just a thing. Lain kali kalau narok botol minum, jangan terlalu pinggir ya." 

***

Dilemma ya sebetulnya. Saya nggak pengen juga sebetulnya ini bocah jadi menggampangkan barang-barang miliknya, tapi saya juga nggak pengen dia terlalu fokus dengan harga, uang, mahal murah, merek dan nggak merek, dll nya. Tapi ya begitu jadinya. 

Ada satu temannya yang saya cukup dekat dengannya. Suatu saat kami semobil ramai-ramai dengan teman2 K yang lain membicarakan masalah les yang sekarang rasanya kurang kondusif karena semakin banyak murid yang les bersama mereka. Mereka merasa lebih sulit konsentrasi karena anak-anak barunya sering berisik melebihi mereka yang (menganggap dirinya) senior. Tiba-tiba anak ini bilang "Padahal kan kita bayar ke tante itu nggak murah loh. Sebulan itu 500ribu lebih bayarnya. Masak kayak gitu". Katanya. Saya bilang padanya, "ya udah kalau gitu kalian kan udah lebih senior, jadi harus lebih bisa mandiri. Baca lebih banyak lagi biar lebih ngerti."

Di lain hari, saat K dan teman-temannya menginap di rumah, pas bersamaan saat saya harus belanja bulanan ke Day by Day supermarket, mereka semua mau ikut. Akhirnya saya jatah setiap anak boleh 1 makanan dan 1 minuman. Hebohnya sudah seperti game jaman dulu yang cepet-cepetan menghabiskan uang di supermarket itu loh. hahhaa. Saat membayar di kasir, si anak itu diam di samping saya, sedangkan teman-temannya berbincang seru tak jauh dari situ. Saya tanya, "Kamu ngapain? nggak ikutan temen-temen kamu?" Dia bilang, "Aku mau tahu habis berapa tante belanjanya." hahahhaa. Saya usir dia untuk bergabung dengan teman-temannya. "Kalian itu masih pre-teen, nggak usah pusing mikirin duit. Nanti aja kalau udah kerja baru mikir duit duit." Dia tertawa. 

Beberapa kali saya dengar dia menanyakan atau mengomentari baju/jaket K seperti, "Ini merek ini ya K? Aku tahu ini harganya kan segitu.." Dan lain-lainnya. 

Itu yang saya coba hindari untuk K. Thing is just a thing. Mahal murah itu bukan masalah, yang penting fungsi. 

Udahlah itu aja ngemeng hari ini. Tumben-tumben badan meriang kehujanan malah jadi bisa ngemeng di mari. :-p


No comments: